SUN FLOWER

SUN FLOWER
DRAMA MALAM PERTAMA


__ADS_3

Acara resepsi telah usai, semua tamu pun sudah pulang. Yang tersisa di hotel hanya ada ibu kost, pak Anggara, Oma Weny, Andy, Evan, dan Riko.


Jarum jam menunjukan angka 23:20 WIB, Kalista mencopot hells nya, kakinya terasa sangat pegal. Masih terduduk di kursi pelaminan, menggandeng tangan Arka dan menyenderkan kepalanya dibahu Arka.


"Gimana bro? Bahagia kah menjadi seorang suami?" Riko menghampiri Arka.


"Sangat bahagia, kini gue punya tanggung jawab untuk menjaga dia dan membahagiakan dia seumur hidupnya." Arka menoleh dan merangkul Kalista yang sedang memejamkan matanya, niat hati ingin mencium puncak kepala Kalista tetapi terhalang oleh mahkota yang melingkar diatas kepalanya.


"Mantap bro!" Andy menepuk punggung Arka, kemudian ikut duduk disamping Arka.


"Kalista kenapa?" Andy melihat Kalista kurang bersemangat dan nampak kelelahan.


"Cape, pegal, dan ngantuk banget." Jawab Kalista lirih, matanya masih terpejam.


"Istirahat sana! Bini lu ngajak tidur tuh!" Ujar Evan.


"Pertama balik lagi ke Indo, hati gue lagi hancur-hancurnya, merana, terpuruk, pokonya gue nggak punya semangat untuk hidup. Tapi saat itu semesta mengizinkan gue untuk bertemu dengan Kalista, lucu aja gitu seorang gadis cantik, mungil, dan masih muda bisa-bisanya menasehati gue, tapi asli banget sih perkataannya dan sikapnya dewasa banget, nggak kelihatan seperti gadis berusia 22 tahun. Awalnya gue sempat bilang ke diri gue sendiri, gadis ini harus jadi milik gue! Tapi ternyata jodohnya sama lu bro, intinya sih lu beruntung banget punya istri seperti berlian. Bahagiain jangan disakitin, gue udah relain Kalista buat lu tuh!" Evan tersenyum mengingat awal-awal bertemu dengan Kalista, hingga kini dirinya merasa hidupnya telah kembali lagi.


"Gaya lu relain, emang Kalista udah di takdir kan untuk menjadi bini gue! Lagian dia tuh gadis penyemangat hidup gue dimasa kecil." Arka menatap Evan dengan wajah jengahnya.


"Udah deh lu jangan cari gara-gara sama pengantin baru." Riko menoyor kepala Evan.


"Istirahat sana, kasian bini lu udah ngantuk! Kita pamit pulang." Ujar Andy.


"Selamat bersenang-senang." Evan menatap Arka dengan senyum seringainya. Kemudian mereka semua pergi meninggalkan hotel.


Arka menatap istrinya, dilihatnya sangat lekat, istrinya nampak sangat kelelahan "Mau di gendong nggak?"


Kalista membuka matanya perlahan, kemudian menatap Arka "Ngapain? Nggak usah ah masih bisa jalan ko. Lagian malu sama pak Anggara, Oma, sama ibu kost."


Tanpa banyak tanya, Arka langsung menggendong Kalista, ala bridal style banget dengan gaun gold dan mahkota yang masih melingkar di kepalanya. Kalista terus saja menggerutu, tetapi sama sekali tidak di hiraukan oleh Arka.


Pak Anggara tersenyum melihat Arka yang sedang berjalan sambil menggendong istrinya. Hari ini hatinya sangat berbahagia, akhirnya anak semata wayangnya menikah. Padahal pak Anggara sempat was-was karena putranya itu pernah mengatakan tidak ingin menikah, karena trauma atas perlakuan mamanya.


"Duh pengantin baru." Ledek pak Anggara, Arka menanggapinya dengan tersenyum. Sedangkan Kalista merasa malu dan membenamkan wajahnya di dada Arka.


"Kalista nggak sabaran yah." Arka tersenyum menggoda menatap manik mata Kalista.


"Loh kok di gendong?" Tanya ibu kost yang baru saja keluar dari toilet.


"Aiiiiih ini besan kaya nggak tahu aja, biasa lah pengantin baru." Oma Weny kini terkekeh bersama ibu kost.


"Ish ibuuuuuuuuuuu, Kaki aku pegal, terus cape banget. Sebenarnya aku juga masih bisa jalan ko, cuma nih suami akunya maksa-maksa." Kalista cemberut.


"Udah-udah jangan ledekin pengantin baru! Udah sana nak bawa istrimu, kasian dia kecapean." Ujar pak Anggara.


Arka langsung saja membawa Kalista ke kamar hotel yang khusus disiapkan untuk mereka, sepasang pengantin baru. Sesampainya di kamar hotel, Arka langsung merebahkan dirinya di ranjang.


Kalista sibuk membongkar koper bajunya, tangannya masih mencari-cari sesuatu di dalam koper tersebut. Arka memperhatikannya, lalu mengernyitkan dahinya, dari tadi istrinya sibuk sekali mencari sesuatu.


Arka menghampiri istrinya, dan duduk disebelahnya. "Nyari apa?"


"Piyama." Kalista sama sekali tidak menoleh, tangannya masih sibuk membongkar isi kopernya. "Nah ketemu." Ditangan Kalista ada piyama berwarna merah marun.


Kalista duduk di depan meja rias, ditangannya terdapat micellar water dan tissue pembersih make up. Kalista membersihkan make up diwajahnya secara perlahan. Arka masih asyik menyaksikan setiap kegiatan yang di lakukan istrinya.


"Bisa bantu aku nggak? Bukain resleting gaunku." Pinta Kalista pada Arka, Arka langsung melorotkan resleting gaun Kalista. Arka terpana menatap punggung Kalista, begitu putih dan bersih. Tangan Arka menyentuh punggung itu secara perlahan, Kalista menyadarinya dan merasa sangat gugup. "Aku ganti baju dulu!" Kalista langsung berlari ke kamar mandi, tetapi agak kesusahan karena gaunnya berekor 5meter. Akhirnya Arka pun membantunya mengangkat ekor gaun pengantin.


Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Kalista keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama yang tadi di carinya. Mukanya telah kembali ke semula, Kalista yang seperti biasanya. Walaupun make up sudah menghilang dari wajahnya, tetap saja Kalista masih terlihat cantik dengan wajah aslinya.


Lalu, kini giliran Arka yang masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya. Arka keluar dari kamar mandi, tetapi istrinya sudah terlelap dalam tidurnya. Arka mengecup kening Kalista, lalu menyelimutinya. Arka pun membaringkan tubuhnya disamping Kalista, lalu Arka pun tertidur.


"Mah, jangan pukul aku ma!"


"Aku sayang mama! Tolong sayangi aku juga!"


Kalista terbangun karena mendengar teriakan Arka, mengerjapkan matanya perlahan. Sebenarnya Kalista merasa kepalanya sakit dan sedikit pusing karena baru tertidur 3 jam. Dilihatnya wajah suaminya, masih teriak-teriak memanggilnya mamanya, dengan wajah gusar.


"Sayang bangun!" Kalista menepuk-nepuk pelan pipi Arka. Arka terbangun dan langsung memeluk Kalista. Pelukan Arka begitu erat, dan sangat lama sekali. Kalista tidak protes, dia pun malah membalas pelukan Arka.

__ADS_1


"Sebentar." Kalista melepaskan pelukan Arka, kemudian mengambil botol minum dari koper bajunya. "Minum dulu." Karena ini di kamar hotel, jadi Kalista hanya memberikan air mineral saja. Sebenarnya bisa saja sih Kalista meminta teh hangat untuk Arka, tetapi Kalista malas turun.


Sudah satu jam semenjak Kalista terbangun karena mimpi buruknya Arka, sekarang Arka masih saja belum terpejam, dirinya selalu memeluk Kalista erat, tetapi mulutnya terkunci rapat, sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Kalista masih setia menemani, Kalista mengusap-usap pelan kepala Arka hingga Arka tertidur, dan Kalista pun tertidur.


Sinar matahari masuk melalui celah gorden, Arka terbangun. Kemudian mengecup pipi kira kanan Kalista. "Seseram apapun mimpi buruknya gue, seberat apapun masalah hidup gue, dan badai seperti apapun yang akan menerjang kehidupan gue, gue bakalan tetap bisa bertahan dan tenang selama lu ada di sisi gue." Arka bergumam dalam hati, kemudian menyelimuti istrinya yang masih asyik terlelap.


Arka masuk ke kamar mandi, dan melakukan ritual mandinya. Setelah selesai langsung ganti baju, dan turun ke bawah. Soalnya pak Anggara dan yang lainnya pasti sudah menunggu.


"Loh kok sendiri, Kalista mana?" Tanya pak Anggara yang tidak melihat kehadiran Kalista.


"Masih tidur." Arka kemudian duduk di dekat pak Anggara.


"Aduh nak, kenapa nggak di bangunin aja. Udah jadi seorang istri masa bangunnya kalah sama suaminya." Protes ibu kost.


"Tidur Kalista keganggu gara-gara Arka, dia baru tidur lagi tadi jam 5 pagi." Kata Arka.


Pak Anggara mengusap-usap punggung Arka seraya berkata "Nggak apa-apa, perlahan istri kamu pasti bakalan bisa menghilangkan mimpi buruk itu." Ucapnya menenangkan Arka.


Arka menatap pak Anggara, kemudian tersenyum "Iya yah, bedai seperti apapun Arka bakalan sanggup melewatinya dan bertahan selama Kalista ada sisi Arka, lagian setelah mimpi buruk itu Arka masih bisa tidur tenang karena sikap dan perlakuan yang Kalista berikan."


Pak Anggara merasa bahagia, karena anaknya sudah menemukan istri yang cocok. Semuanya sarapan dengan menu yang di suguhkan oleh hotel bintang lima tersebut.


"Selesai sarapan, ayah, Oma, sama bu besan akan pulang nak. Kamu pulang kapan." Kata pak Anggara yang masih mengunyah roti selai coklat.


"Duluan aja, Arka nunggu Kalista bangun dulu. Kasian kan dia kecapean." Arka meminum susu yang ada di hadapannya "Oh iya, ibu pulangnya nanti aja bareng Arka sama Kalista."


"Ah nggak, saya akan ikut pulang bareng pak Anggara, sama Oma." Kata ibu kost.


Setelah selesai sarapan, Arka membawakan jatah sarapan Kalista ke kamar. Roti panggang selai strawberry dan segelas susu hangat. Ketika masuk ke kamar, Kalista masih asyik terlelap dalam tidurnya.


Arka duduk di kursi dekat jendela, memainkan ponselnya, untuk mengecek kinerja para karyawannya.


Kalista mengerjapkan matanya perlahan, dilihatnya Arka sedang duduk di dekat jendela. "Udah bangun? Ko nggak bangunin aku?" Kalista masih mengucek kedua bola matanya.


Arka melirik Kalista, kemudian tersenyum simpul. "Nggak tega bangunin istri yang tidurnya terganggu gara-gara aku." Arka mengusap lembut puncak kepala Kalista kemudian menciumnya.


Kalista mengambil ponselnya, kemudian matanya terbelalak, ini sudah jam 11 siang. "Ya ampun aku kesiangan, istri macam apa aku ini." Kalista langsung menyibak selimutnya, panik karena hari sudah siang.


Setelah selesai mandi, Kalista langsung dandan. Kemudian disuapi sarapan oleh Arka, seharusnya sih bukan sarapan tapi makan. Sebelum Kalista bangun Arka sudah packing terlebih dahulu. Koper sudah penuh sama pakaian, dan siap dibawa pulang. Setelah dirasa nggak ada yang ketinggalan, Arka dan Kalista pun pulang ke apart.


Mereka pulang ke apartment Arka, karena Arka tidak mengizinkan Kalista untuk pulang ke apartment nya, padahal kan apartment Kalista berada tepat di depan apartment Arka.


Kalista membuka kulkas di apartment Arka, isinya hanya minuman kemasan dan berbagai macam cemilan. Tidak ada sayuran atau pun buah.


"Mau beli sayuran sama buah? Ayo ke mini market diseberang apartment aja." Ajak Arka yang memperhatikan Kalista membuka kulkas.


"Nggak usah deh, dikulkas ku masih ada sayuran yang bisa dimasak untuk hari ini." Kalista keluar bergegas masuk ke apartnya. Kalista mengambil berbagai macam sayuran yang berada di kulkasnya, dan mengambil apel dan pisang.


Ketika Kalista keluar dari apartnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya. "Kalista...." Kalista menoleh lalu tersenyum, ternyata Rangga yang memanggil.


"Ada apa ga?" Tanya Kalista. Rangga tidak menjawab, matanya malah sibuk memperhatikan Kalista yang pada saat itu hanya mengenakan celana pendek diatas lutut dan kaos putih polos. Dimata Rangga penampilan Kalista yang seperti itu malah terkesan makin cantik dan seksi.


"Ini kado pernikahan kamu." Rangga memberikan goodybag ditangannya.


"My wife, sudah belum.." Arka tidak meneruskan ucapannya, matanya menatap tajam ke arah Rangga. "Ngapain lagi nih bocah sampai datang ke apartment gue." Batin Arka. Arka kini malah memeluk Kalista "Ayo sayang masak, S U A M I mu ini sudah laper banget." Arka sengaja menekankan kata SUAMI, biar Rangga sadar diri bahwa Kalista sudah mempunyai suami.


"Makasih ga, kenapa nggak datang tadi malam." Tanya Kalista.


"Nggak di undang." Rangga tersenyum sinis pada Arka.


"Nggak di undang?" Kalista malah bingung, semua karyawan kantor kan di undang, setahunya.


"Antara nggak di undang atau undangannya nggak sampai kali." Arka mencium pipi Kalista. "Istriku ayo masak." Arka langsung menggandeng Kalista memasuki apart nya.


Rangga yang menyaksikan itu lantas saja membuat hatinya semakin panas terbakar api cemburu. "Lihat aja, lu bakalan bisa jadi milik gue! Gue akan rebut lu dari laki-laki sialan itu!" Rangga mengepalkan tangannya, sambil berlalu pergi dari apart.


"Wow bagus banget, suka." Kalista bercermin sambil menempelkan gaun kado dari Rangga.


"Nggak boleh di pakai!" Perintah Arka tegas.

__ADS_1


"Kenapa?" Kalista menatap Arka bingung.


"Nggak mau nurut kah sama perintah suami?" Arka memutarkan bola matanya jengah, kemudian merebahkan dirinya di sofa. Kalista seketika langsung paham, bahwa Arka cemburu. Diam-diam Kalista tersenyum. Kemudian pergi ke dapur untuk memasak.


Setelah 20 menit sibuk berperang di dapur, akhirnya Kalista selesai masak. Semua masakan sudah tertata rapi diatas meja makan.


"Masakan pertama setelah sah menjadi istri." Kata Kalista yang sedang mengambilkan makanan kedalam piring Arka.


"Terimakasih." Arka tersenyum manis kepada istrinya yang sangat perhatian ini.


Tidak terasa langit sudah gelap, satu hari telah terlewati sebagai pasangan suami istri. Arka dan Kalista kini sedang tiduran sambil menonton tv. Jarum jam menunjukan pukul 22:00.


"Tidur yu, udah malam." Arka langsung mematikan televisi, dan menarik tangan Kalista untuk mengikutinya menuju kamar tidur mereka.


Arka langsung mendorong Kalista hingga terjatuh di kasur, Arka mencium pipi kanan kiri Kalista, kening, dan tak lupa pula mencium lehernya. Arka berbaring diatas tubuh Kalista, untuk meminta haknya sebagai suami.


"Bentar." Tiba-tiba Kalista mendorong tubuh Arka dan berlari ke kamar mandi. Arka masih sabar menunggu Kalista, duduk di tepi ranjang.


"Aku pms, di apart aku nggak ada pembalut. Bisa tolong beliin ....."


"Beli sendiri!" Sengit Arka dengan nada tinggi, kemudian masuk ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi. Arka merasa kesal pada Kalista, disaat gejolak dalam dirinya sudah dalam mode on, Kalista malah pms. Arka merasa tersiksa malam-malam begini harus mandi air dingin.


Kalista terisak seraya berjalan turun dari apart menuju minimarket, "Suami macam apa itu membentak istrinya? Kalau nggak mau beliin ya kan bisa ngomong baik-baik." Kalista terus saja berbicara sendiri, sambil kakinya sibuk menedang apapun yang ia temukan di jalan itu.


Kalista membeli pembalut, lalu balik lagi ke apart. Karena Kalista merasa kesal dan jengkel pada Arka, akhirnya Kalista masuk ke apart miliknya, bukan ke apart Arka.


Jam 08:30 WIB Arka sudah bangun, mengerjapkan matanya kemudian menoleh ke sisi ranjangnya. Tidak ada Kalista disana, seketika Arka menjadi semakin marah pada Kalista.


Arka mandi, setelah mandi langsung pergi meninggalkan apart. Ketika keluar dari apart, Arka melihat lampu di apartment Kalista menyala. Itu artinya Kalista tidur disana, dan sekarang masih belum bangun.


Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, suasana hatinya sedang berantakan. Dirinya merasa Kalista tidak menjadi istri yang baik, yang seharusnya membangunkan suaminya pagi-pagi, dan menyiapkan sarapan. Lah ini malah tidur terpisah.


Evan memperhatikan Arka yang turun dari mobil dengan muka badmoodnya. "Pengantin baru, kusut banget muka lu bro?" Evan lebih memperhatikan wajah Arka.


"Tahu nih, pagi-pagi udah datang aja ke coffee shop gue, mana bininya nggak dibawa pula." Riko kini duduk disebelah Arka.


"Males banget bawa bini." Kalimat Arka sukses membuat Evan dan Riko membelalakkan matanya, melotot kepadanya.


"Kenapa?" Evan sangat penasaran.


"Tadi malam gue kan mau minta hak gue, ena-ena gitu lah! Tiba-tiba dia pms, bayangin cuy gue tersiksa banget harus mandi air dingin malam-malam, eh dia dengan entengnya minta gue beliin pembalut buat dia, ya gue nggak mau lah! Gue suruh dia beli sendiri, udah itu gue tertidur, pas bangun dia nggak ada dikamar gue, boro-boro bangunin dan siapin sarapan buat suami, dia malah tidur di apartment nya. Istri macam apa kaya gitu?" Arka menceritakannya pun dengan penuh emosi.


"Haelah bro! Jadi pasutri belum apa-apa aja udah drama banget." Riko menatap Arka jengah.


"Feeling gue mengatakan, lu ngebentak Kalista karena merasa jengkel nggak dapat jatah? Gue yakin banget lu nyuruh beli pembalut sendiri dengan bentakan nada tinggi?" Kini Evan menatap Arka meminta penjelasan.


"Wajar lah gue emosi, berasa di permainkan banget nggak sih? Gue udah mode on dianya malah pms." Arka berkata tanpa rasa penyesalan sedikit pun.


"Nggak nyangka gue ternyata lu se-beg* itu." Riko langsung menoyor kepala Arka.


"Lu tuh belum pantas menjadi seorang suami! Pms itu memang sudah kodratnya wanita! Disaat lu mau ngelakuin itu, dan tiba-tiba Kalista pms, berarti lu harus sabar, iman lu lagi di uji. Tiba-tiba pms saat itu juga bukan kemauan Kalista." Evan menendang kaki Arka sambil menatapnya jengah.


"Gila kali gue nggak percaya ternyata akal sehat lu kalah sama nafsu. Gini nih kalau orang kelamaan jomblo sekalinya nikah dipikirannya ena-ena mulu!" Imbuhnya lagi.


"Lagian suami macam apa coba yang menceritakan kemarahannya pada istrinya, ingat bro dalam hubungan suami istri masalah sepelik apapun harusnya jangan diceritain ke siapapun, manis pahitnya harus ditelan berdua. Jangan sampai orang lain tahu." Riko menasehati Arka.


"Lagian juga suami macam apa pula yang membiarkan istrinya jam 10:00 malam keluar apart untuk membeli pembalut, harusnya lu beliin! Atau kalau ngga, minimal antar dia lah ke mini market. Tau gini gue aja yang nikah sama Kalista, jadi nyesel kan gue ngebiarin Kalista nikah sama lu!" Kini Evan menunjukan rasa jengkelnya pada Arka.


"Didalam pms, sering kali banyak wanita yang mengalami dismenorea, diwanita wanita merasakan sakit yang luar bisa pada perut bagian bawahnya." Riko memberitahu Arka.


Arka yang dari tadi sibuk mendengarkan kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh Riko dan Evan, kini dirinya merasa bersalah banget pada Kalista. "Apa jangan-jangan Kalista belum bangun, karena pms nya terasa sakit." Arka langsung bangkit mengambil kunci mobilnya.


"Thank you bro, udah nyadarin gue! Keren banget gue punya sahabat kaya kalian." Arka merangkul Evan dan Riko. "Gue balik dulu." Arka langsung berlari ke parkiran.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2