
Untuk hari ini Arka sengaja tidak berangkat ke kantor. Arka menyiapkan sendirian sebuah kejutan kecil untuk istrinya tercinta. Tidak sendirian juga sih, untuk dekorasi di bantu oleh beberapa pelayan. Tapi khusus makanan, Arka menyiapkannya sendiri.
Dari pagi buta Arka sudah bergelut di dapur apartmentnya, matahari saja kalah oleh semangat Arka. Kemarin sore begitu jam ngantor selesai, Arka langsung berbelanja di supermarket. Belanja bahan-bahan kue, sayuran, ikan, buah dan lain sebagainya.
Wajahnya cemong oleh debu-debu terigu yang menempel di wajahnya. Arka berusaha membuat cake ulang tahun buatannya sendiri, hasil dari jerih payah tangannya. Untuk cake ulang tahun, Arka memilih black forest, walaupun Arka tahu black forest buatannya tidak akan seenak buatan Kalista.
Beberapa alat rekaman terpasang di dapur itu, Arka sengaja merekamnya karena ingin membuat dokumentasi. Baru kali ini dirinya terjun ke dapur, dan membuat kue. Walaupun resepnya masih nyontek di google, dan prakteknya masih lihat di tutorial YouTube.
Arka juga membuat beberapa Cup cake strawberry, karena hari ini Arka juga mengundang beberapa sahabatnya dan beberapa teman dekat Kalista.
Tidak sampai di situ saja, Arka juga memasak beberapa makanan yang simple dan sederhana. Hari ini perayaan ulang tahun istrinya, di rayakan secara sederhana. Bukannya tidak mampu mengajak dinner di restoran mewah bintang lima, tapi justru perayaan yang seperti ini lah yang sekiranya bakalan terkesan dan selalu di kenang oleh istrinya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam, akhirnya selesai juga pertempuran antara Arka dengan tepung, cokelat, strawberry, sayuran, dan berbagai macam bahan makanan lainnya.
"Finally, semoga kamu suka sayang." Arka tersenyum ke arah kamera, kedua ibu jarinya terangkat sempurna.
Kali ini Arka pergi ke apartment Kalista, memastikan apakah semuanya sudah siap atau belum? Apakah dekorasinya sama seperti yang ada di benaknya atau tidak?
Btw, tempat perayaan ulang tahun sederhana ini diadakan di apartment nya Kalista.
Begitu Arka membuka pintu, deretan bunga matahari yang masih segar itu telah menghiasai apartment Kalista. Para pelayan sedang sibuk menata meja makan.
Langkah kaki Arka membawanya menuju kamar, kamar Kalista telah berubah menjadi kamar pengantin seperti di hotel-hotel bintang lima. Ada beberapa lilin-lilin kecil yang menghiasi sekeliling kamar itu membentuk angka dua puluh tiga. Satu buket bunga matahari dengan ukuran sangat besar tergeletak begitu saja diatas ranjang. Kamar ini dihias oleh Arka, hanya saja ada beberapa bagian yang kelihatannya kurang rapi, sehingga satu atau dua orang pelayan turun tangan membantunya. Arka juga tidak keberatan mendengarkan beberapa saran dari para pelayan itu.
"Wah bagus nih." Pak Anggara menatap kagum pada setiap sudut apartment Kalista.
"Iya dong! Ini semua kan ide Arka." Arka mengedipkan sebelah matanya.
"Ide sih ide, Oma sampai nggak enak hatinya mendiamkan Kalista. Barusan saja ketika kita akan berangkat kesini, Oma masih pura-pura cuek. Oma nggak bisa kalau kaya gini lama-lama." Oma menggerutu sambil menoyor pelan kepala Arka.
"Jangankan Oma, Arka saja sampai tersiksa, batin dan jiwa raga. Mana sudah seminggu pula nih nggak meluk Kalista kalau lagi tidur." Arka cengengesan.
"Biarin aja lah! Sekali-kali kan kaya gini, ini tuh surprise ma." Imbuhnya lagi.
"Oh iya, kalian silahkan menunggu di apartment Arka. Kalau disini berbahaya, nanti takut rusak dekorasinya." Arka langsung mendorong punggung ayah dan omanya menuju apartmentnya.
Tidak berselang lama datang Tiara bersama Evan, mereka berdua menenteng paper bag yang ukurannya lumayan besar. Sudah bisa di tebak, pastinya kado khusus untuk Kalista. Arka langsung mempersilahkan mereka untuk menunggu di apartment miliknya.
Setelah itu, Andy dan Riko datang bersama. Mereka juga sama membawa buah tangan untuk Kalista.
"Sini dulu bentar, ada yang mau gue bicarakan penting!" Andy mencengkram pergelangan tangan Arka, dan menyeretnya ke luar dari apartment.
"Ada apaan?" Arka juga menjadi panik.
"Sudah dua hari, saham perusahaan tiba-tiba turun dengan sangat drastis, kalau kaya gini terus nilai saham kita bakalan anjlok. Atau mungkin beberapa bulan kedepan akan bangkrut." Wajah Andy snagat kalut, ada beberapa ketakutan di sana.
"Oh itu! Santai bro! 3 hari kemudian juga bakalan terungkap!" Ucap Arka santai, lalu berjalan kembali menuju apartmentnya.
"Elu udah tahu ternyata, gila gue panik banget bro! Ada apaan sih yang sebenarnya? Kasih tahu gue lah!" Andy merengek ingin di beri tahu, namun Arka menolak.
"Lihat saja nanti! Intinya sih ini merupakan kejutan terbesar untuk istri gue." Jawab Arka.
"Hah apa hubungan dengan Kalista? Kok gue jadi mendadak beg* gini ya? Gue nggak paham." Mulut Andy masih beecerocos ria.
"Elu mau tahu?"
"Banget!"
"Yasudah tunggu nanti 3 hari kedepan!"
"Kelamaan."
"Ya sabar lah!"
"Oke siap!" Andy pun memilih untuk menunggu kejutan apa yang di maksud oleh Arka. Karena Andy tahu ini kejutan untuk Kalista, mana mungkin dirinya di beri tahu terlebih dahulu.
Tidak hanya para sahabat Arka, Arka juga mengundang Bima dan Bimo. Walau bagaimanapun mereka berdua merupakan laki-laki yang paling dekat dengan Kalista.
"Duh lupa gue belum lilin." Arka menyambar kunci mobilnya dan langsung berlari ke luar apartment.
"Hati-hati!" Ujar Oma. Namun suara Oma sudah tidak terdengar karena Arka berlari sangat kencang.
Arka pergi ke sebuah toko pelengkapan ulang tahun, bukan hanya membeli lilin Arka juga membeli beberapa aksesoris lainnya.
Setelah mendapatkan apa yang di cari, Arka segera melajukan mobilnya kembali ke apartmentnya. Jalanan cukup lenggang dan sepi.
Bruuuuuuuuukk! Suara dentingan sangat keras.
Mobil yang berada tepat di belakang mobil Arka, sengaja menabraknya. Mobil Arka oleng dan menghancurkan pembatas jalan. Tidak hanya itu, mobil Arka juga kembali menambatkan sebuah pohon besar di tepi jalan.
Mobil yang Arka kendarai penyok, bahkan sampai berasap. Merasa ada yang tidak beres dengan mobilnya, Arka sekuat tenaga menendang keras pintu mobil dan buru-buru keluar menyelamatkan dirinya.
Tidak lama setelah itu, mobil Arka hangus terbakar. Dengan suasana dan keadaan sangat genting seperti ini, Arka mencoba berpikir jernih.
Sengaja di tabrak? Pelakunya hanya ada satu! Dan insting Arka tertuju pada orang itu! Arka sempat mencari beberapa kamera cctv yang berada di jalan itu, semuanya tidak berfungsi alias sudah di sabotase.
"Kejadian yang sama dengan cara yang sama? Cih dasar bodoh! Brengsek! Keparat! Tunggu saja gue balas semuanya." Teriak Arka frustasi dan menendang-nendang rumput di tepi jalan.
Arka buru-buru memesan taksi online. Arka tidak ingin rencananya yang di persiapkan untuk istrinya ini gagal hanya gara-gara si brengsek itu menambatkan mobilnya.
Punggungnya terluka, di tangannya juga terdapat beberapa luka tergores pecahan kaca. Namun Arka sama sekali tidak memperdulikannya, apapun yang terjadi, perayaan ulang tahun Kalista harus berjalan lancar.
"Arka ada apa?" Oma berteriak kaget sekaligus panik melihat kondisi Arka yang sangat berantakan, punggung dan tantangannya mengeluarkan darah segar.
"Kecelakaan kecil." Jawab Arka santai, sambil meletakkan bungkusan yang bersisi aksesoris ulang tahun.
"Mobil mana?" Tanya pak Anggara.
"Terbakar di tepi jalan."
"Arka?" Kali ini nada suara pak Anggara meninggi, keadaan genting kaya gini tapi Arka malah menanggapinya dengan sangat santai.
"Ada mobil yang sengaja nabrak Arka, mobil Arka oleng dan terlempar ke tepi jalan, bukan cuma itu mobil Arka juga sempat menabrak pohon besar. Arka sudah periksa kamera cctv di jalan itu, tapi semuanya tidak berfungsi. Intinya sih semua ini telah di rencanakan, bahkan cctv saja sudah di setting." Arka berusaha menjelaskan agar Oma dan ayahnya tidak banyak tanya, dan tidak perlu mengkhawatirkannya.
"Tapi tenang aja, Arka tahu kok siapa pelakunya. Namun sekarang, Arka lebih fokus pada acara perayaan ulang tahun Kalista. Jangan ada yang kasih tahu tentang apa yang Arka alami barusan, Kalista orangnya panikan dan Arka takut Kalista kepikiran, takut dia stress dan berimbas pada janinnya." Imbuhnya lagi.
"Siapa pelakunya?" Tanya pak Anggara, wajahnya sudah berubah menjadi sangat geram.
"Ayah akan tahu beberapa hari kemudian, intinya kalian tenang dulu."
"Mendingan obati luka Arka yang di punggung deh, ini terasa sangat perih. Darahnya terus menerus merembas dan mengalir." Arka meringis menahan perih.
Pak Anggara langsung mengambil kotak obat. Pak Anggara sih nyuruhnya Arka di bawa saja ke rumah sakit. Namun Arka menolak, karena ini sudah sore dan waktunya semakin mepet. Lagipula, Arka takut Kalista merasa khawatir.
Oma dengan sangat telaten dan hati-hati sekali, mengoleskan obat pencuci luka agar tidak infeksi, kemudian mengoleskan obat merah, lalu di tutup menggunakan perban. Lukanya nggak parah sih, cuma darahnya tidak berhenti mengalir.
"Beneran nih di obati gini aja? Ke rumah sakit aja, takut lukanya infeksi nanti gimana?" Oma masih membujuk Arka agar mau mengikuti perintahnya, Oma takut terjadi masalah serius pada luka di punggung Arka.
"Nggak usah! Nanti aja! Sekarang mending semuanya siap-siap. Arka juga mau ganti baju dulu." Ujar Arka, beringsut bangun dan berjalan menuju kamarnya.
Di kamar itu tergantung satu pakaian yang sudah dari jauh-jauh hari Arka pesan. Jas berwarna hitam dengan kemeja warna hitam juga, di saku jas tersebut terdapat sebuah bunga matahari yang masih kecil, mungkin baru akan mekar setelah kuncup. Celananya pun berwarna hitam.
Arka memakai jas itu, kemudian mengenakan dasi yang senada dengan warna jasnya. Menata rambutnya sangat rapi, lalu menyemprotkan parfum miliknya yang selalu Kalista sukai. Malam ini Arka akan tampil sempurna.
*****
Tok.. tok.. tok..
__ADS_1
"Permisi non." Ujar bibi yang barusan mengetuk pintu, di tangannya ada sebuah goddy bag.
"Iya ada apa bi?" Kalista berbalik badan dan menatap bibi.
Kondisi kamar Kalista saat ini sangat berantakan, semenjak membaca surat dari Arka dan beberapa surat ucapan happy birthday dari yang lain, dan Arka akan mengajaknya keluar sore ini. Kalista langsung mencari baju yang kira-kira cocok untuk di kenakannya. Namun sayang, semua bajunya hampir tidak muat karena perutnya buncit, yang muat hanya beberapa daster, dan dress rumahan yang sering Kalista gunakan.
"Ini dari tuan Arka." Bibi meletakkan goddy bag itu di kasur Kalista. "Saya pamit keluar ya non." Imbuhnya lagi sambil tersenyum ramah.
Goddy bag itu telah Arka siapkan, dan di simpan di kamar si kembar. Arka juga telah berpesan kepada pelayan untuk memberikan goddy bag ini ketika waktunya sudah tepat.
Selepas peninggalan bibi, Kalista terlebih dahulu mengamati goddy bag itu. Kira-kira apa ya isinya? Ukuran goddy bagnya nggak besar tetapi nggak kecil juga, kalau pun kado kira-kira isinya apa ya?
Tanpa membuang waktu dengan pikiran yang sangat membuatnya penasaran, jari jemari lentik milik Kalista itu segera membuka goddy bag itu.
Setelah terbuka, mata Kalista terbelalak dan terperangah. Dress berwarna hitam dengan desain yang elegan dan sangat cantik, dan ada satu buah flatshoes berwarna berwarna silver.
Kalista mengambil secarik kertas kecil, lalu membacanya. "Pasti kamu nggak punya dress yang muat di badan kamu, suruh siapa kamu gendutan!." Kalista tersenyum membaca note itu. Suaminya ini yang dulunya di kantor selalu bersikap dingin, ternyata bisa sedikit romantis juga. Tapi masa iya Arka bilang Kalista gendutan, padahal Kalista di bikin gendut oleh ulahnya sendiri.
Dengan secepat kilat Kalista masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya. Kemudian keluar dari kamar mandi, dan langsung mengenakan dress tersebut.
Dress yang sangat cantik melekat indah di tubuhnya. Dress yang panjangnya hanya sebatas betis, dengan aksen kelopak bunga-bunga bunga berwarna hitam, dan manik-manik mutiara hitam menghiasi dress tersebut dengan sempurna.
Kalista meminta bantuan pelayan untuk mengeringkan rambutnya. Kemudian Kalista menata rambutnya, mengcurly rambut bagian bawahnya agar terlihat bergelombang dan lebih hidup.
Kini Kalista mencoba bertempur dengan alat-alat make up. Pakai skincare terlebih dahulu, kemudian Kalista memakai BB cream dan mengaplikasikannya menggunakan spons telur. Kalista tidak menggunakan concealer, karena wajah Kalista sudah lumayan mulus. Langsung mengunci BB cream tersebut menggunakan loose powder, membaurkan eyeshadow berwarna peach yang sanagt pigmented. Memoleskan blush on berwarna peach, mengisi alisnya asal. Memakai eyeliner tetapi tidak membuat wink di ujungnya, terakhir Kalista memakai lipcream berwarna nude dengan merah marun, seperti biasa Kalista lebih suka menggunakan ombre lips.
Penampilannya kini sudah sangat terlihat cantik sempurna. Berkali-kali Kalista menatap dan memperhatikannya dirinya melalui pantulan cermin rias. Semuanya tampak sempurna tanpa kurang suatu apapun. Bahkan dress ini sangat cantik membalut tubuhnya, walaupun dengan kondisi perut buncit.
Sekarang Kalista sedang duduk manis di kamarnya, menunggu seseorang yang Arka tugaskan untuk menjemputnya. Baru kali ini Kalista merasa hatinya berdegup tidak karuan. Perasaanya campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena bisa merayakan ulang tahunnya bareng suami tercinta, tetapi sedih karena sudah tidak bisa merayakan ulang tahun bareng ayah dan bundanya.
Ting.. tong..
Terdengar suara bell dari luar, Kalista semakin dag dig dug, itu pas orang suruhan Arka telah datang menjemputnya.
Kalista bergegas keluar dari kamarnya, tetapi begitu membuka pintu, bibi telah berdiri di depan pintu dan bersiap akan mengetuk pintu.
"Permisi non, orang yang akan menjemput non telah datang."
"Iya bi." Jawab Kalista dengan senyum merekah. Kalista tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Benar dengan ibu Kalista?" Tanya seorang pria tinggi tegap dengan pakaian serba hitam, di hidungnya bahkan bertengger sebuah kacamata hitam.
Kalista menatapnya dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Seorang pria dengan perawakan tinggi besar, entah mengapa Kalista melihatnya ngeri. Ada rasa takut yang menjalar di seluruh tubuhnya, insting Kalista mengatakan tidak mungkin Arka menyuruh orang seperti ini untuk menjemputnya.
"Ayo bu, saya sudah tidak ada waktu lagi." Ucapnya tegas, tangan kekarnya segera menarik pergelangan tangan Kalista.
Apa katanya barusan? Saya sudah tidak ada waktu lagi? Pria itu juga menarik tangan Kalista dengan sangat kasar.
Ini tidak benar! Arka tidak mungkin menggunakan jasa orang seperti ini. Orang yang Arka perintahkan pasti akan menghormatinya, dan memperlakukannya dengan lembut. Lagi pula orang suruhan Arka pastinya akan mengatakan "Waktunya sudah mepet!" Bukan "Saya sudah tidak ada waktu lagi." Apa-apaan tidak ada waktu lagi, jelas-jelas dia kerja dan di bayar sesuai jam yang telah di tentukan.
Kalista takut, dan merasa bingung. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Di rumah ini hanya aja dirinya dan satu orang pelayan. Di depan sana ada pak satpam, dan beberapa tukang kebun. Tapi, Jika Kalista memanggil pak satpam ataupun tukang kebun, takutnya orang berperawakan besar ini malah melukai dirinya.
"Jika benar, anda di perintah oleh suami saya untuk menjemput saya. Tolong tunjukan surat perintahnya!" Ucap Kalista tegas.
Sedangkan bibi pelayan yang ada d sebelah Kalista malah menatap Kalista dengan penuh tanda tanya!
"Ibu Kalista! Suami anda memerintahkan saya untuk menjemput ibu! Ayo cepat bu saya sudah tidak ada waktu untuk berlama-lama di sini." Ucapnya tak kalah tegas. Tangannya malah semakin mencekal pergelangan tangan Kalista.
"Tolong tunjukan surat perintahnya! Minimal telepon suami saya dulu lah, biar saya percaya!" Ujar Kalista. Kalista terus menerus mengulur waktu hingga orang yang benar-benar di tugaskan oleh Arka datang menjemputnya.
Bibi pelayan dengan perlahan dapat mengerti dengan suasana ini, pasti ada yang tidak beres sekarang. Dia mengendap-endap pergi ke dapur dan mengambil pisau untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang di inginkan.
Bibi juga langsung menelpon Arka dari telepon rumah. Meminta ciri-ciri orang yang akan menjemput Kalista. Dan benar saja ini tidak beres, Arka mengatakan yang akan menjemput Kalista adalah beberapa orang yang badannya tegap atletis, tetapi tetap memakai pakaian formal dan bahkan sangat rapi. Bibi langsung menutup telepon tanpa mengatakan permasalahan yang sedang Kalista hadapi.
"Non." Bibi berlari ke arah pintu utama, napasnya ngos-ngosan.
Dengan bahasa isyarat bibi memberitahukan Kalista bahwa orang yang sekarang berada di hadapan Kalista bukan orang suruhan Arka. Bibi juga memperlihatkan pisau yang di tangannya.
Kalista panik dan rasanya sangat ingin menangis. Tapi ada yang bisa di lakukannya sekarang? Ketika pikiran Kalista dengan berkecamuk. Tiba-tiba datang sebuah mobil, turunlah dua orang Tegap atletis dengan berpakaian formal.
"Selamat sore, saya ditugaskan bapak Arka untuk menjemput ibu Kalista." Ucapnya sangat ramah, senyum merekah menghiasai pipinya.
Orang suruhan Arka hanya ada dua orang, sebenarnya mereka adalah detektif yang selalu Arka sewa. Mengapa Arka menyuruh detektif untuk menjemput Kalista? Entahlah, yang pasti Arka merasa nyaman jika Kalista bersama mereka.
Barulah Kalista dan bibi bisa bernapas lega. Ketegangan itu perlahan menghilang, sepersekian detik Kalista menatap bibi tiba-tiba orang tinggi tegap berperawakan besar yang menggunakan pakaian serba hitam itu telah lenyap dari hadapannya.
"Orangnya kabur non." Bibi celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar, wajahnya terlihat sangat geram.
"Biarin aja bi, toh ada cctv ini kan. Nanti biar suami saya yang bereskan semuanya." Ucap Kalista sambilan tersenyum.
"Oh iya, taro gih pisaunya! Jangan maenin pisau bi serem tahu." Kalista tertawa cekikikan sambil mengusap lembut bahu bibi pelayan.
"Lah si non, ini kan jaga-jaga non. Bibi juga sama paniknya kaya non." Ujar bibi sambil tertawa.
"Nah kalau yang ini memang benar suruhan bapak Arka non." Imbuhnya lagi.
"Eh bibi kok tahu?"
"Iya dong tahu, kan sekalian ke dapur ngambil pisau bibi sempat nelpon tuan, bertanya mengenai ciri-ciri orang yang akan menjemput non."
"Jadi suami saya tahu kejadian barusan?" Tanya Kalista dengan wajah cemas.
"Tidak non! Karena bibi langsung menutup teleponnya."
"Syukurlah." Kalista mengusap dadanya seraya membuang napas panjangnya. "Kalau suami saya tahu, dia bakalan panik kaya cacing kepanasan." Ucap Kalista lagi.
"Ya sudah non, ini sudah sangat sore, silahkan non segera berangkat." Bibi mempersilahkan Kalista untuk segera berangkat.
Kedua orang suruhan Arka itu langsung mempersilahkan Kalista masuk ke dalam mobil. Kedua orang ini pula sangat sopan, ketika Kalista masih berbincang-bincang dengan bibi mereka dengan sangat tenang menunggunya, tanpa berani mengganggunya, jauh berbeda orang-orang seram tadi.
Kalista masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil melaju dengan sangat perlahan, bukan perlahan sih ini lebih tepatnya kecepatannya sangat lamban.
"Kok laju mobilnya sangat lamban?" Tanya Kalista.
"Bapak Arka menyuruh saya mengendarai dengan kecepatan paling rendah, bapak Arka juga berpesan apapun keinginan ibu sama sekali tidak boleh kami turuti, karena bapak Arka sangat mengkhawatirkan kondisi ibu beserta janin di perut ibu." Jawabnya sangat sopan santun.
Mendengar jawaban seperti itu, Kalista sama sekali tidak berkomentar. Malahan hati kecilnya tersenyum bahagia, suaminya itu sangat memperhatikannya dengan detail.
Kalista menatap bingung melalui jendela mobil, apa-apaan ini? Kenapa laju mobil membawanya ke daerah apartmentnya? Padahal Kalista sudah menerka-nerka, bahwa sore ini Arka akan mengajaknya dinner romantis. Di bawah cahaya kerlap-kerlip lampu berwarna-warni, di hiasi bunga-bunga, dan memberikan satu buket berukuran besar kesukaannya.
"Kok kesini? Salah jalan nggak?" Tanya Kalista, berharap orang yang sedang mengemudi ini menjawab salah jalan.
"Tidak bu." Jawabnya masih dengan sopan.
Tapi sepertinya itu hanya menjadi sebuah angan-angannya saja. Toh sekarang buktinya, Arka hanya membawanya ke apartment. Apalagi kalau bukan untuk mengulang rasa yang pernah terlukis di malam pertama. Hati Kalista sedikit kecewa, dasar suaminya mesum. Tidak bisakah ia melupakan hal-hal mesum itu sejenak? Ini adalah hari ulang tahunnya! Semua wanita menginginkan sebuah kejutan dengan berbagai macam buket bunga dan kado-kado yang isinya rahasia.
"Sudah sampai bu." Salah satu dari pria itu membukakan pintu, dan mempersilahkan Kalista untuk segera turun dari dalam mobil.
Kalista terperangah, karena selama perjalan ini Kalista menghabiskan waktu untuk melamun.
Kakinya segara melangkah mengikuti arahan orang suruhan Arka. Kalista berjalan dengan gontai, kekecewaan di hatinya membuatnya tidak merasakan semangat sedikitpun. Hingga sampai lah kini Kalista sudah berdiri di depan pintu apartmentnya.
"Silahkan buka pintunya bu." Ujar orang suruhan Arka itu.
Kalisat terdiam sejenak, apa-apaan ini sama sekali tidak ada yang berbeda. Didalam sana juga tampak hening, tidak ada suara musik mengalun ataupun lampu kerlap-kerlip, karena Kalista melihat dari ventilasi udara bahwa apartmentnya gelap gulita. Malahan Kalista merasa takut dan was-was.
"Bu, silahkan masuk." Suara orang itu kembali membuyarkan lamunan Kalista.
__ADS_1
"Saya harus masuk ke sini? Tapi di dalam gelap gulita. Saya takut." Ucap Kalista dengan suara sedikit berat.
"Silahkan masuk bu, jangan takut." Ucapnya ramah, orang yang satu membuka pintu, dan yang satunya lagi mendorong pelan badan Kalista.
Ketika Kalista sudah masuk kedalam apartment itu. Pintu tiba-tiba di tutup dari luar, Kalista kaget dan hampir berteriak. Tapi tiba-tiba..
Satu lampu menyorot padanya dan satu lampu lagi menyorot seorang laki-laki dewasa dengan stelan jas silver dengan kemeja merah marun sedang duduk sambil memainkan piano di sudut ruang tamu apartment ini.
🎶Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu
Disetiap langkahku
Kaukan s'lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna, sempurna...
Kau genggam tanganku
Saat diriku lemah dan terjatuh
Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku.
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Kau adalah darahku (darahku)
Kau adalah jantungku (jantungku)
Kau adalah hidupku (hidupku)
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna, sempurna...🎶🎶🎶
Kalista speechless dan mematung di tempatnya berdiri. Mulutnya terkunci, sama sekali tidak bisa berkata-kata. Air matanya meleleh begitu saja.
Didepan sana suaminya itu baru saja selesai menyanyikan sebuah lagu Sempurna dari Sebuah band Andra and The Backbone. Walaupun suaranya tidak merdu atau bahkan terkesan fals, namun pesan, kesan dan makna dari lagu tersebut tersampaikan dan begitu menyentuh hati Kalista.
"Lagu tersebut khusus ku nyanyikan untukmu, istriku tersayang. Kau begitu sempurna, kamu bukan hanya sempurna tapi kamu adalah duniaku. Duniaku tidak akan berwarna tanpa hadirnya dirimu. Istriku sayangku, terimakasih sudah mau menjadi pendamping hidupku disegala suasana, hatiku tidak akan sehangat sekarang tanpa ada hadirnya dirimu. Hari ini tepat 23 tahun usiamu, di usia yang baru ini semoga kamu semakin dewasa, hidupnya selalu di berkahi oleh Allah SWT. Semakin dewasa semoga semakin sayang sama aku. Rasa terimakasihku ini tidak akan pernah bisa kejabarkan lewat kata-kata, intinya hidupku banyak berubah ketika bertemu denganmu, terimakasih sudah mau menjadi istriku, terimakasih sudah mau mengandung dua bocah kembar yang masih meringkuk indah di perutmu. Sayang, terkadang lidahku kelu untuk mengatakan semua hal tentang dirimu, begitu banyak kesan manis dan baik yang tercipta oleh dirimu. Sayang, happy birthday. I love you now and forever!❤" Arka mengucapkan ucapannya panjang lebar diiringi oleh musik piano.
Kalista tetap mematung di tempatnya. Air matanya terus meleleh membasahi pipinya. Kemudian ada satu tangan mengulurkan 1 tangkai mawar merah, lalu memeluknya dan mencium pipinya.
"Happy birthday sayang." Ucap Oma sambil terus memeluk Kalista.
Tidak hanya Oma, setelah itu pak Anggara yang menghampirinya dan memberikan satu tangkai bunga mawar putih, lalu mengucapkan selamat ulang tahun, memberikan beberapa do'a dan harapannya.
Tangkai mawar itu terus bertambah, mawar merah dan putih. Yang memberikannya pun bergantian, Oma, pak Anggara, Evan, Andy, Riko, Tiara, Gina, Bima dan Bimo. Di tangan Kalista terdapat 9 tangkai mawar, lalu tibalah Arka yang menghampiri Kalista dan membawa 14 tangkai bunga mawar merah dan putih.
Arka mengambil 9 tangkai mawar yang sedang di genggam Kalista, lalu menggabungkannya dengan 14 tangkai mawar di tangannya. Arka lalu mengikat bagian bawah tangkai mawar tersebut dengan seutas pita berwarna merah. Sehingga tangkai mawar itu menjadi sebuah buket dengan isi bunga 23 mawar merah dan putih.
Kenapa hanya 23 tangkai mawar? Karena 23 merupakan angka resmi usia Kalista hari ini.
Arka memeluknya sangat erat, kemudian mencium dahi Kalista. Kalista merespon pelukan Arka, dan memeluknya juga sangat erat. Namun, tangan Kalista itu tepat berada di punggung Arka yang terluka, dengan tetap tersenyum Arka berusaha menahan rasa sakit yang kini sedang dirasakannya di punggungnya.
"Terimakasih." Ucap Kalista sambil berusaha menahan laju air matanya.
"Maaf, hanya perayaan yang sedeehana." Ujar Arka dengan wajah menyendu.
"Biarin, yang penting aku merasa happy dan sangat bahagia." Ujar Kalista sambil menggenggam erat tangan Arka, tangan sebelahnya memegang buket bunga mawar.
Tidak sampai situ saja, sekarang di televisi sedang menayangkan Arka yang sedang sibuk bergelut di dapur. Keringatnya terus membanjiri dahinya, Arka dengan sangat kaku berusaha membuat cake blackforest, wajahnya cemong terkena suhu terigu, cokelat dan bahan-bahan kue lainnya. Arka juga mencoba membuat beberapa cupcake, jauh berbeda dengan blackforest, cupcake yang Arka buat gagal terus, pertama bantet, kedua rasanya aneh, ketiga gosong, dan finally ke empat lumayan lah walaupun rasanya tidak tahu akan seperti apa?
Arka juga mencoba memasak untuk hidangan dinner party ini. Dia begitu telaten mencuci bayam, mencuci jagung, kangkung dan lain sebagainya. Arka mencoba memasak sayur bayam dicampur dengan jagung, memasak cah kangkung, membuat sambal balado, dan yang terakhir Kalista sempat tertawa melihat suaminya yang begitu ketakutan ketika menggoreng ikan, minyak meletup-letup mengenai tangannya. Arka juga begitu maju mundur ketika membuat telor ceplok.
"Kalau menggoreng ikan, apinya kecilin terus wajannya tutup. Jadi minyak panasnya nggak kena tangan kamu." Ucap Kalista sambil menatap manik mata Arka.
"Aku nggak tahu! Semoga semua yang aku masak kamu suka ya sayang." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
Kalista kembali memeluk Arka, dan mencium pipi Arka.
"Tiup lilin dulu dong." Teriak pak Anggara.
"Lupa." Arka terkekeh kemudian mengambil blackforest dengan topping strawberry dari lemari es.
Satu buah blackforest berukuran besar, berada di tangan Arka. Lilin berwarna merah dengan angka 23 menghiasi kue tersebut. Semua orang yang berada di apartment ini menyanyikan lagu ulang tahun dengan riang gembira. Kalista meniup lilin, tetapi sebelumnya sudah make a wish terlebih dahulu.
Lampu langsung menyala. Ruangan ini menjadi terang benderang. Manik mata Kalista semakin melebar sempurna melihat sekeliling apartment yang dulu di tempati lelahnya kini sudah berubah menjadi sebuah taman bunga. Dekorasi bunga menghiasi ruangan ini, dari meja makan sampai dinding juga semuanya di sponsori oleh bunga-bunga. Kalista bahkan tidak menyadari ada karpet merah dari pintu masuk hingga ke tempat Arka bermain piano tadi.
Kalista semakin kagum dan kembali memeluk Arka sangat erat. Ulang tahun yang menurut Arka hanya sederhana, tali menurutnya ini sangat mewah dan berharga.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1