SUN FLOWER

SUN FLOWER
SIAPA KARIN?


__ADS_3

Ketika mendengar suara petir yang menggelegar, sebenarnya Andy sudah hampir sampai di apartmentnya. Andy keluar sebentar dari mobil, melihat langit yang menghitam karena mendung dan mungkin sebenyar lagi akan turun hujan deras.


Andy masuk kembaki kedalam mobil, putar balik dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Andy sangat yakin, pasti Gina masih berada di depan gerbang kantor.


Pikiran Andy melayang, Andy takut Gina kenapa-kenapa? Andy takut jika Gina sendirian di depan gerbang, apalagi kalau mendung kaya gini ojek online suka nolak orderan, taksi online juga sama.


Benar dugaan Andy, Gina masih berada di gerbang kantor. Wajahnya terlihat panik, gusar, dan cemas. Sesekali manik matanya menengadah menatap langit yang terlihat mengerikan. Hujan telah turun dan langsung membesar, gerbang sudah di tutup karena memang tidak ada karyawan yang lembur.


"Masuk!" Andy menurunkan sedikit kaca mobilnya.


Wajah Gina terlihat sembap seperti habis menangis, dadanya naik turun seiring dengan napasnya yang tidak teratur.


"Ngapain? Sana pulang aja!" Ketus Gina dengan sikap cueknya.


"Mau sampai kapan disini? Emang kamu tahu kapan hujannya bakal reda? Yakin nggak bakalan ada ojol atau taksi online yang mau nganterin kamu sampai ke rumah? Mereka juga pada malas hujan deras kaya gini mah, mendingan tidur di rumah." Ujar Arka.


"Gampang! Jalan kaki aja!" Jawab Gina sambil mendelikkan mata jengahnya.


"Oke! Dasar keras kepala!"


Andy langsung memutar balik mobilnya, Andy menganggap Gina sangat keras kepala dan egois. Dengan perlahan Andy menyalakan mesin mobilnya, dan bersiap akan melaju.


"Kak." Teriak Gina dengan sangat lantang, tetapi suaranya hampir tidak terdengar karena hujan deras.


Andy pura-pura tidak mendengar, dan langsung melajukan mobilnya dengan perlahan. Gina sedikit berlari dan mengetuk kaca mobil Andy.


"Ngapain?" Sebelah alis Andy terangkat sempurna, Andy pura-pura tidak mengerti dengan tindakan yang Gina lakukan.


"Tolong anterin pulang, please!" Gina mengiba dengan wajah sendunya.


Andy mengangguk, dan Gina langsung membuka pintu mobil. Masuk dan duduk di sebelah Andy. Hujan semakin deras, petir terdengar sangat menggelegar dan cukup mengerikan.


"Kenapa balik lagi? Khawatir kan sama aku? Kalau masih cinta bilang aja, nggak usah sok gengsi deh!" Celetuk Gina dengan bibir mencebik, bahkan Gina menatap Andy dengan tatapan meremehkan.


"Iya khawatir! Kasian anak kucing ketakutan didepan gerbang, eh benar aja kan tadi anak kucingnya nangis. Sekedar nolongin anak kucing kan berpahala." Sambil terus berfokus pada kemudi setir, Andy berusaha menanggapi ocehan Gina dengan tetap tenang.


Anak kucing?


Jadi Andy menggapai Gina adalah anak kucing? Ya ampun, nggak salah tuh? Mungkin sebentar lagi Gina akan bertanduk karena merasa marah di samakan dengan anak kucing.


"Jadi kamu anggap aku anak kucing ka? Ya kali ada anak kucing secantik aku." Sombongnya Gina, Gina menjawab seperti itu semata-mata untuk meredam emosinya. Nggak baik juga kan kalau Gina emosi, sedangkan dirinya sedang numpang di mobil Andy.


"Masih cantikkan gadis yang tinggal tepat di depan apartment gue." Rencananya Andy akan membuat Gina merasa kesal, jengkel, dan cemburu.


"Sumpah nggak nanya! Emang kamu tampan? Please deh ngaca! Cewe cantik juga maunya materi, emang kamu punya apa?"


Andy melepaskan tangannya dari kemudi setir. Mematikan mesin mobilnya agar tidak menyala, dengan kepala yang mendidih Andy mencoba menatap Gina dengan tatapan mata menusuk dan mematikan. Andy tahu dirinya tidak berlimpah materi seperti Arka, Evan dan Riko. Tetapi Andy juga sakit hati jika terus di olok-olok mengenai materi.


"Lu boleh nggak suka sama gue gin, tapi please deh nggak usah bahas materi. Karena tanpa lu katakan juga, gue udah tahu gue emang nggak punya banyak materi. Tolak ukur kebahagian emang bisa di nilai dari materi?" Teriak Andy pada Gina, bahkan saking kesalnya Andy juga sampai memukul kemudi stir.


Andy melipat kedua tangannya tepat di atas kemudi setir, kemudian membenamkan wajahnya. Mobil memang sedang menepi, karena hujan terlalu deras dan Andy merasa tidak ingin melajukan mobilnya sekarang. Lebih baik menunggu hujan sampai reda, ketimbang melanjutkan jalan dengan hujan deras yang tiada henti mengguyur bumi disertai petir yang menyala-nyala.


Keduanya saling terdiam dengan pikirannya masing-masing. Yang terdengar hanya guyuran air hujan, langit sudah hampir gelap, pertanda malam akan segera datang. Gina cukup sadar dengan ucapannya, maka dari itu ia kembali berpikir ulang. Jika Gina terus-terusan membuat Andy tersinggung, lalu kapan mereka akan kembali baikan?


"Membenamkan wajahnya atau beneran tertidur sih? Kok posisinya gitu terus, nggak gerak nggak berubah juga? Duh jadi ngeri gue." Ujar Gina dalam hatinya, manik mata Gina masih terus menerus menatap Andy dengan lekat.


Andy masih asyik dengan posisinya, dan sama sekali tidak ada niatan untuk merubah posisinya itu. Sedangkan Gina yang sudah mulai bosan, apalagi sekarang dirinya merasa takut karena jalanan ini gelap dan tertutupi kabut, dan Andy masih belum bergeming dari posisinya. Gina mencoba membunuh waktu untuk meredam rasa takutnya, membuka situs belanja online tetapi tidak ada signal, akhirnya Gina mencoba bermain game saja.


Tiba-tiba ponsel Andy yang ada di saku jasnya berbunyi.


"Ada yang nelpon tuh." Gina berusaha memberitahukan Andy, barangkali Andy tidak mendengar. Bukan cuma memberitahukan, Gina juga menepuk-nepuk punggung Andy.


"Kak, ada yang nelpon." Imbuhnya lagi. Tetapi Andy masih belum menggubris ucapan Gina.


Karena ponsel Andy terus menerus berbunyi, Gina memutuskan untuk mengambil ponsel itu, siapa tahu saja itu panggilan mendesak atau panggilan penting.


Hal yang pertama Gina lihat dari ponsel itu adalah "Karin", nama yang tertera di layar pinsel.


Karin?


Siapa Karin?


"Siapa yang nelpon?" Tanya Andy sambil mengerjapkan bola matanya, matanya agak memerah dan masih terdapat rasa kantuk di sana.


"Siapa K A R I N ?" Tanya Gina dengan penuh penekanan, sorotan matanya tajam, menatap manik mata Andy dengan tatapan sangat menusuk.


Andy memutar matanya jengah, tetapi sebenarnya dalam hati Andy bersorak gembira, sepertinya sampai saat ini Gina masih menaruh hati padanya.


"Ah kepo!" Andy langsung merampas ponselnya dari tangan Gina.


"Hallo, sor...,"


"Ih Abang lama banget sih jawabnya, Karin kangen banget tahu." Suara di sebrang telepon itu terdengar nyaring dan sangat lucu.


Suara yang sangat cempreng dengan intonasi yang sangat enak di dengar, ketambah bawelnya Karin. Lihat saja, Andy belum sempat menyelesaikan kalimatnya, karin lebih dulu memotong ucapannya.


Tepat ketika Karin bilang kangen, manik mata Gina membulat sempurna. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.


"Abang lagi di jalan sayang, di sini hujan deras, signalnya juga jelek. Jangan marah-marah deh, mukamu jelek kalau cemberut, apalagi kalau bibirmu manyun, kembar banget sama bebek." Ledek Andy sambil terkekeh geli.


Gina merasa muak mendengar celotehan Andy yang begitu akrab bersama wanita yang senang menelponnya yang bernama Karin.


"Siapa Karin?" Tanya Gina dengan tegas, sekarang kedua telapak tangan Gina menangkup di pipi Andy.


"Please deh gin kecelin suara lu! Nanti pacar gue marah kalau tahu sekarang gue lagi bersama wanita lain." Andy melepaskan kedua telapak tangan Gina yang menangkup di pipinya.


Nanti pacar gue marah!


Nanti pacar gue marah!


Nanti pacar gue marah!


Nanti pacar gue marah!


Nanti pacar gue marah!

__ADS_1


Kata-kata itu terus menerus terngiang-ngiang di telinga Gina, bahkan kata-kata itu juga berhasil menguasai pikirannya.


Gina sekarang lebih memilih diam, ternyata Andy sudah punya pacar. Secepat itu kah Andy berhasil melupakan Gina?


"Abang lagi sama cewe? Siapa? Jelasin!" Wanita yang bernama Karin di sebrang telepon itu terdengar marah-marah.


"Lagi sama teman kantor, tadi ada meeting. Sekarang malah kejebak macet, mana hujan deras banget. Jangan marah dong, Abang nggak selingkuh sayang." Andy menjelaskan selembut mungkin agar Karin tidak cemburu, dan Karin dapat memahami semuanya.


"Nggak bohong?"


"Nggak sayang!"


"Bujuk aku biar nggak marah!"


"Hmmm, mau di bujuk ternyata! Weekend jalan yuk, ngemall, shopping, nyari makan, atau apa kek gitu?"


"Nggak mau! Aku tuh bosan ngemall."


"Yaudah beli make up deh!"


"Nggak mau juga! Make up ku sudah banyak banget, kan Setipa bukan kamu beliin terus sayang. Mendingan nanti weekend kita naik gunung aja, kali-kali kita lihat pemandangan alam, jangan berkutat terus dengan hiruk pikuknya asap kendaraan di ibu kota."


"Wow, ide bagus tuh. Yaudah weekend kita naik gunung ya sambil ngecamp."


"Sambil ngecamp ya? Hmmm, izin dulu ya kamu sama ibu."


"Siap sayang, ibu pasti ngizinin kok, karena kamu perginya sama laki-laki yang bertanggung jawab."


"Iya sayang! Aaaaaaah nggak sabar banget nunggu weekend, pasti seru banget deh menikmati sunset dan menantikan sunrise bersama laki-laki yang aku sayang, yang aku cinta seumur hidupku selama napas ini masih berhembus."


"Aiiiiih pacar siapa sih ini? Kok so sweet banget?"


"Pacar Abang lah!"


"Hehe iya sayang, ibu apa kabar?"


"Alhamdulilah ibu sehat, kapan mau kesini? Tengokin ibu lah, ibu udah kangen banget sama Abang."


"Secepatnya! Makanya do'akan Abang sehat terus, biar Abang kerja terus, sampai punya uang tanpa limit, biar bisa rutin tengokin ibu."


"Iya Abang pastinya! Oh iya, kemarin aku lihat channel keluarin koleksi tas terbarunya."


"Terus?"


"Beliin! Atau kalau nggak transfer aja uangnya, nanti Karin beli sendiri."


"Mau beli berapa?"


"Satu aja cukup! Karin kan bukan wanita matre hehe."


"Yakin cukup?"


"Yakin!"


"Nggak usah deh, ibu usianya juga sudah setengah abad, ibu nggak perlu gaya-gayaan, yang terpenting ibu bisa mendidik anak-anaknya dengan benar."


"Itu benar sayang, yaudah nanti chat saja ya berapa nominalnya? Biar sekalian Abang transfer untuk ibu juga."


"Oke, makasih Abang. Karin sama ibu sayang Abang."


"Btw, Abang nggak malu nih sayang-sayangan sama Karin? Padahal di sebrang Abang ada teman kantor Abang." Imbuhnya lagi.


"Nggak dong! Ini kan di luar jam kerja, lagian kamu harus tahu ya Rin sayang. Teman kantor Abang ini wanita cantik, pacarnya super tampan dan super super tajir. Tapi dia mah orangnya kalem, no content deh pokonya!"


"Cantik? Cantikan mana sama Karin?"


Gina menoleh pada Andy, Gina ingin sekali mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Andy.


"Cantikan ibu Karin lah!" Jawab Andy sambil tertawa kencang, Andy dari tadi telponan sama Karin sambil men - loud speaker agar suaranya Karin terdengar jelas oelh Gina.


"Abang jahat!"


"Tapi Abang sayang Karin!"


"Udah dulu deh! Kuping Karin pegel juga dengar suara abang. Sekarang lanjut chatting deh, sekalian Karin mau kasih rincian nominal tas terbarunya channel."


"Oke sayang." Ujar Andy.


Benar saja, telah memutuskan sambungan telepon kini Andy dan Karin malah asyik chattingan. Entah apa yang mereka bahas, tetapi dari tadi Andy sama sekali tidak berhenti tertawa.


Sepertinya Karin itu sosok wanita yang humoris, Andy yang selalu serius saja kini bisa menjadi sosok laki-laki yang hangat dan banyak tertawa.


Bahkan sekarang Andy sampai memegangi perutnya, Andy merasa semuanya cukup menggelikan. Andy terus tertawa sambil memijit dahinya, Gina sampai tak habis pikir sama Andy.


"Dasar orang gila! Stress!" Celetuk Gina smabil memalingkan wajahnya ke samping, berusaha mengalihkan pandangannya dengan menatap jalanan yang basah karena hujan masih terus mengguyurnya.


"Siapa?" Tanya Andy pura-pura tidak tahu untuk siapa umpatan itu Gina tujukan.


"Kamu!"


"Ya ampun Gina, kaya nggak tahu aja orang lagi kasmaran. Abisnya Karin itu lucu, imut, dan humoris."


"Buat apa lucu tali matre! Tingkah kaya anak kecil gitu di pacarin, jangan-jangan Karin itu seorang wanita yang masih di bawah umur."


"Betul! Karin itu usianya baru 16 tahun, kelas 3 SMA. Wajahnya aja masih loli-loli gitu, lucu deh pokonya ngegemasin gitu."


"Pintar banget, masih kecil udah matre! Yang macarin fiks sih beg* banget!"


"Beg*? Haha biarin deh, justeru pacaran itu memang seharusnya sama wanita yang masih muda, seger gitu. Hubungan kaya gini bisa di katakan sebuah hubungan investasi, investasi hari tua! Ketika gue sudah tua, istri gue masih muda, masih cantik, masih fresh. Duh bahagianya nanti ketika hari tua."


"Seriusan pacaran sama remaja 16 tahun."


"Kamu nggak percaya gin?"


"Nggak! Kok bisa sih? Mendingan aku dong! Jelas udah dewasa, jelas udah bisa diajak serius ke jenjang pernikahan."

__ADS_1


"Kamu memang dewasa, tapi kamu masih labil! Emosinya seiring tidak terkontrol, tetapi kami juga sering banget memojokkan aku soal materi. Awalnya aku sih fine-fine aja, tapi lama kelamaan kalau kaya gitu terus aku malah bosan, aku capek, aku lelah, aku merasa tidak di hargai sebagai sekarang pria." Ucap Andy sambil menatap manik mata Gina.


"Walaupun Karin masih 16 tahun, dan masih duduk di bangku SMA. Tapi menurutku karin itu cukup dewasa, baik dari sikap maupun sifat. Dia juga tahu bagaimana caranya membuatku yang jelek hancur berantakan itu bisa kembali lagi menjadi good mood. Kamu jangan salah, beberapa bulan selepas Karin lulus SMA, Karin berusia 17 tahun. Dan Karin sudah siap di lamar, Karin sudah siap menjadi istri maupun menjadi ibu dari anak-anakku nanti."


"Mending di pikir-pikir lagi deh! Dia masih 17 tahun, dan aku yakin sikap dia nggak sedewasa aku. Kamu harus ingat, dia itu matre! Please buka mata, buka hati, jangan beg*! Sekarang dia cuma minta tas, mungkin besok minta sepatu sport keluaran terbaru, besoknya lagi minta motor, besoknya lagi mobil, lalu minta apartment, terus minta rumah, terus minta istana. Apa kamu sanggup?"


"Kamu nggak usah nasihati aku gin, karena aku yang tahu dengan jelas luar dalamnya Karin itu kaya gimana? Aku sayang Karin smapai kapan pun, dan aku akan selalu membahagiakannya walaupun nyawa aku harus jadi taruhannya. Bagi aku Karin adalah segalanya, Karin bisa menjadi teman curhat, teman aku berkeluh kesah atas kerasnya dunia. Karin memang tidak sedewasa kamu, tapi kamu juga harus ingat gin, kamu dan Karin itu tidak sama! Kalian berbeda dari segala sudut apapun, kalian berdua sangat bertolak belakang."


Jleb, apa yang barusan di katakan oleh Andy sangat-sangat menusuk hati Gina. Andy seperti meremukkan hati Gina, bahkan Andy terkesan membanding-bandingkan Gina dengan wanita yang bernama Karin itu.


"Secinta itu sama Karin sampai-sampai kamu begitu cepat melupakan aku."


"Sayang aku ke Karin nggak bisa di ukur dengan apapun, bahkan aku dan Karin itu tidak akan terpisahkan. Kecuali, maut yang memisahkan. Seperti yang aku katakan tadi, Karin itu adalah segalanya. Aku bukan cuma sayang Karin, aku juga susah banget sama ibunya Karin. Hormat dan baktimu pada ibunya Karin itu sangat besar."


"Secantik apa sih Karin? Sampai kamu cinta mati sama dia."


"Suatu saat aku bakal kenalin Karin ke kamu. Gina, kamu harus tahu. Cantik itu relatif dan tidak mutlak, kecantikan akan luntur seiring berjalannya waktu, kecantikan itu akan mengkerut ketika wanita sudah memasuki usia 55 tahun keatas. Kalau menurutku cantik itu nggak penting, yang penting akhlak yang baik."


"Kak, aku tuh masih sayang dan masih cinta sama kamu." Suara Gina terdengar gemetaran, di bola matanya terdapat genangan air yang sekali berkedip saja pasti akan terjatuh.


"Kamu terlalu egois dan keras kepala, sikap kamu yang tidak bisa menghargai aku lah yang membuat aku pergi meninggalkanmu. Sebenarnya bukan aku yang pergi meninggalkan kamu gin, tapi kamu sendiri lah yang mendorong aku untuk pergi, kamu sendiri kan yang putusin aku telat di hadapan sahabat-sahabat aku. Bisa di bayangkan dong bagaimana malunya? Apalagi aku ini sampai jadi bahan ledekan sahabat-sahabat aku. Kamu boleh sayang sama aku, aku nggak larang sama sekali. Tapi, soal hati. Aku lebih memilih Karin, kamu kalah start sama Karin."


"Kenal Karin sudah berapa lama?" Tanya Gina, punggung tangannya sibuk menghalangi laju bola-bola kristal yang berjatuhan dari kelopak matanya.


"Sudah lama banget! Jauh sebelum aku kenal kamu." Jawab Andy datar, sebenarnya Andy tidka tega melihat Gina yang menangis di hadapannya, tetapi apa daya? Andy juga sama sekali tidak berbuat apa-apa.


"Terus kenapa baru sekarang kalian menjalin kasih? Apa jangan-jangan sebenarnya Karin itu hanya pelarian saja? Sebenarnya kamu masih suka kan sama aku?"


"Mungkin memang benar, Karin itu sebuah paduan, tali Karin juga merupakan pengakhiran. Suka? Tolong lupakan kata-kata yang cukup membuat hatiku berbunga-bunga itu, susah payah aku melupakan kamu gin, sekarang kamu malah berusaha membuat pertahanan hatiku goyah kembali."


"Aku cemburu! Aku sakit hati! Selama ini aku selalu berharap hubunganku dan kamu bisa kembali seperti semula, tiga bulan ini aku selalu menantikanmu kak. Please, sekali lagi kasih aku kesempatan. Tolong buka hati kamu lagi untuk aku kak? Aku mohon." Gina benar-benar mengiba, suaranya sangat mengiris hati diiringi dengan air matanya yang terus menerus berjatuhan tiada henti.


"Aku tahu kamu masih cinta sama aku! Dan aku juga masih cinta sama kamu kak, kita balikan ya? Kita sama-sama lagi seperti dulu." Imbuhnya lagi.


"Aku janji aku akan bersikap lebih baik lagi, aku akan lebih dewasa dari sebelumnya, dan aku juga akan berusaha menjadi wanita apa yang kamu inginkan kak."


"Gina, dengerin aku! Aku tidak membutuhkan wanita yang seperti aku inginkan, aku hanya mencintai wanita yang menyangi dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, aku selalu mencintai wanita dengan apa adanya."


"Yaudah kita baikan ya, aku mohon." Kini Gina menggenggam erat jari jemari Andy. Gina sangat merindukan jari jemari itu, jari jemari yang selalu menyelipkan beberapa healing rambutnya ketika mereka masih menjalin kasih.


"Sekarang aku punya Karin! Dan aku telah berjanji pada ibunya akan selalu membahagiakan Karin."


"Putusin Karin! Karin itu masih muda, cita-citanya masih panjang, biarkan dia mengenyam pendidikan dengan benar, biarkan dia berkarir, dan biarkan dia mengejar cita-citanya. Ibunya Karin akan lebih bahagia ketika anaknya bisa kuliah, dan benar-benar mengejar apa yang dia impikan."


"Menikah bukan berarti semua yang dia impikan pupus begitu saja. Setelah menikah aku akan mengizinkan Karin untuk bisa merasakan bangku perkuliahan, bukan cuma mengizinkan tentunya membiayai juga. Aku tidak membatasi Karin mengenai apapun, pergaulan juga Karin berhak memilih dan menentukannya sendiri, apapun yang dia lakukan aku dukung 100%, asalkan semuanya masih dalam batas wajar saja positif. Tentunya setang menikah, Karin harus punya anak dulu, setelah itu baru deh mulai kuliah."


"Terus siapa yang ngurus anak?"


"Kan bisa pakai jasa baby sitter."


"Karakter anak bakal terbentuk sesuai dengan siapa ia di asuh, kamu nggak khawatir baby sitter ngajarin anak kamu yang nggak baik? Dalam segala aspek pun, anak itu lebih baik tumbuh kembang dengan mamanya. Contohnya kaya Kalista dalam merawat Nathan dan Nayla."


"Benar juga apa yang kamu katakan! Yaudah nanti aku suruh Karin rawat anakku aja."


"Karin itu masih kecil, rahimnya jangan di paksa untuk menyimpan si jabang bayi."


"Ya biarin aja! Usianya boleh muda, tapi aku yakin kok organ reproduksinya sudah berkembang dengan baik sebagimana mestinya."


"Kamu di cekokin apa sih sama Karin? Sampai-sampai kamu begitu kukuh dan bertekuk lutut sama dia? Kamu sadar nggak sih dengan apa yang kamu katakan? Jelas-jelas aku ini lebih unggul daripada Karin."


"Nah, ini gin yang bikin aku nggak suka sama kamu. Kamu itu terlalu keras kepala!"


"Yaudah sih bairin aja! Toh keras kepalanya aku juga nggak bakal ngeroptin kamu kan? Mendingan sana deh nikah sama si bocil Karin, si kecil-kecil cabe rawit yang matre, belum nikah aja udah minta ini itu, gimana kalau sudah nikah? Kamu harus sadar, dia cuma anggap kamu ATM berjalan. Setalah uang kamu habis dia pasti akan pergi meninggalkan kamu, dan mencari pria lain lagi yang lebih kaya dari kamu."


"Selain keras kepala dan egois, ternyata kamu juga punya cita-cita buat jadi cenayang ya gin?"


"Kalau iya kenapa? Masalah?"


"Kamu ngasih dia ini itu uang dari mana? Uang tabungan buat nikah? Nikahnya nggak jadi, yang ada uangnya malah habis tidak berguna. Apa kamu sanggup membiayai wanita matre seperti Karin? Palingan kamu juga hanya bertahan beberapa bulan saja, karena kamu juga kelabakan soal uang kan?"


Lagi dan lagi Gina menyinggung Andy perihal uang dan materi, Andy merasa begitu jengkel dan kesal. Dengan kepala yang mendidih akhirnya Andy langsung tancap gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata seperti orang yang kesurupan.


"Awwwwwww, pelan-pelan dong bawa mobilnya." Gina meringis sakit karena kepalanya kepentok kaca mobil, ketika mobil menepi Gina melepaskan seat beltnya. Dan ketika Andy melajukan mobilnya secara tiba-tiba, Gina belum sempat memakai kembali seat beltnya.


Sepanjang perjalanan Gina masih terus menerus mengoceh, padahal Andy sama sekali tidak menanggapinya. Hujan masih deras, belum ada tanda-tanda kapan hujan akan reda. Arloji yang melingjar di pergelangan tangan Andy menunjukan pukul 18:30 WIB.


Mobil telah sampai di halaman depan rumah Gina, Gian bersiap akan turun, tetapi Andy mencengkal pergelangan tangannya.


"Jangan dulu keluar, telepon dulu mama, suruh bawakan payung! Jangan ujan-ujanan, kepala kamu gampang pusing." Ujar Andy yang masih perhatian, tetapi tetap saja nada bicaranya tetap dingin.


Gina menoleh, senyum merekah terukir jelas di bibirnya. "Terimakasih sudah perhatian, dan terimakasih juga sudah mengingat hal kecil tentangku kak. Aku tahu sebenarnya Kaka masih mencintaiku kan?" Tanya Gina dengan pedenya.


"Hatiku masih terbuka untukmu sampai kapanpun, tetapi jika kamu emang benar-benar memilih Karin, ya aku bisa apa? Nggak mungkin kan aku pepet kamu pakai mantra-mantra dukun? Jaman sudah canggih, dan aku nggak main pelet." Gina kembali tersenyum.


"Tapi, sekarang aku sudah tidak peduli dengan air hujan yang masih mengguyur bumi dengan deras itu. Aku nggak peduli dengan kesehatanku, aku nggak peduli kamu memang besok aku akan sakit. Karena pernyataan darimu beberapa menit yang lalu itu cukup membuat hatiku sakit, hatiku luluh lantak berantakan, hancur berkeping-keping." Ujar Gina dengan air mata yang Kemabli meleleh.


Gina turun dari mobil, air hujan langsung membasahi seluruh tubuhnya. Gina mengetuk kaca mobil Andy. Andy pun menurunkan kaca mobilnya. "Hati-hati di jalan, terimakasih sudah nganterin aku pulang." Ujar Gina, bibirnya tersenyum, tetapi Andy juga tahu mata Gina sedang menangis, hanya saja tidak terlihat karena bercampur dengan air hujan.


"Loh, kamu kok hujan-hujanan sayang? Nanti kamu sakit." Mama Gina keluar dari rumah dan langsung mengambilkan handuk. Raut wajah sekarang ibu yang sangat khawatir melihat anaknya basah kuyup.


"Tadi mama dengar suara mobil, kamu diantar Andy? Sekarang Andy mana? Kok nggak mampir? Kamu juga kok nggak telepon mama minta bawain payung?" Mamanya Gina memberikan pernyataan yang beruntun.


"Ma, Gina capek. Gina pusing banget, Gina pengen istirahat."


"Kalian bertengkar?" Maaf Gina berusaha menyelidiki, raut wajah Gina pun tidak berhenti di tatapnya.


"Lebih dari itu..." Ujar Gina yang langsung masuk kedalam rumahnya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2