SUN FLOWER

SUN FLOWER
DRESS UNTUK PARTY


__ADS_3

DRESS UNTUK PARTY


Mobil baru saja berhenti tepat di depan gedung pencakar langit, Kalista keluar dari mobil sambil membawa rantang berisi makanan. Hari ini Kalista memasak udang asam pedas, ayam goreng kecap, dan sponge cake strawberry untuk makanan penutupnya. Tidak lupa Kalista juga membawa teh hijau, karena akhir-akhir ini Arka suka banget minum teh hijau di banding kopi.


Dari awal Kalista melangkahkan kaki di lobby kantor, resepsionis dan para karyawan lainnya menyapanya dengan ramah. Bahkan ada beberapa karyawan yang sengaja menghampirinya untuk mengajaknya bercakap-cakap.


Kalista masuk ke lift khusus CEO, senyum mengembang masih terpancar di wajahnya. Kalista berpikir pasti suaminya itu akan sangat senang di bawakan makan siang olehnya. Kalista juga sudah chat via WhatsApp, memastikan bahwa Arka ada di kantor dan tidak terlalu sibuk.


Ketika keluar dari lift, para karyawan di lantai 5 pun sama halnya dengan para karyawan lainnya, mereka menyapa dan menyambut hangat Kalista.


"Selamat siang bu." Sapa Gina dengan ramah.


"Siang." Kalista pun menanggapinya dengan ramah juga.


Kalista langsung saja membuka pintu ruangan Arka, namun sayang di dalam ruangan itu tidak ada Arka ataupun Andy. Kalista menatap sekeliling ruangan, dahinya berkerut.


"Suami saya kemana gin?" Kalista keluar lagi dari ruangan itu, lalu menghampiri Gina.


"Pak Arka tadi pergi keluar sama pak Andy, nggak tahu mau kemana? Kelihatannya sih buru-buru banget." Jawab Gina dengan sejujurnya, karena baik Arka maupun Andy keduanya pun tidak memberitahukan tentang kepergiaannya.


"Hmmmm." Kalista langsung saja mengeluarkan ponselnya, dan mencari kontak yang akan di hubunginya.


"Hallo, kamu dimana sayang?" Tanya Kalista seraya menempelkan ponselnya ke telinga.


"Aku di kantor, ada apa sayang?" Jawab Arka di sebrang telepon.


"Oh gitu." Tut..Tut.. Kalista pun langsung mematikan ponselnya. Wajahnya yang tadinya cerah kini telah berubah menjadi masam.


Kantor?


Suaminya itu berbohong, tidak tahu saja Arka, bahwa sekarang Kalista berada di kantor.


Gina yang berada di kursi kerjanya pun, langsung menautkan alisnya. "Wah pasti ada perang dunia 3 nih?" Batin Gina, karena tadi ketika Kalista menelepon Arka, suaranya di loud speaker, sehingga Gina mendengar perihal kebohongan Arka.


"Mungkin ada pekerjaan yang penting bu." Gina mencoba menenangkan Kalista. "Lebih baik nanti di omongin baik-baik dulu bu." Imbuhnya lagi.


Kalista berpaling menatap Gina, senyum itu muncul kembali. "Takut ada perang ya gin? Tenang aja pasti bakalan terjadi kok." Ucap Kalista, senyum sinis telah muncul menghiasai wajahnya.


"Ya ampun bumil, seram kali ekspresinya." Gina mengatur deru napasnya seraya mengusap-usap pelan dadanya.


Langkah kaki itu pun kembali masuk ke ruangan Arka. Kalista lebih memilih menunggu di kamar, dan bermain ponsel. Lama kelamaan Kalista pun merasa bosan, lalu akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin kantor.


Ketika Kalista sedang berjalan, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar. Nomor tidak di kenal terpampang di layar ponselnya. "Panggilan masuk? Nomor siapa sih?" Kalista berbicara sendiri, manik matanya terus saja memperhatikan nomor asing tersebut.


"Hall__" belum sempat Kalista meneruskan ucapannya, seseorang di sebrang telepon malah lebih dulu berbicara.


"Hallo Kalista, bagaimana soal penculikan itu? Gue punya videonya loh, video Rangga meng__"


"Krakkkkk." Kalista membanting ponselnya, emosinya memuncak. Sebutir air bening lolos dari pelupuk matanya. Susah payah Kalista mencoba melupakan kejadian itu, sekarang seseorang malah mengungkitnya kembali.


"Bagaimana kalau nanti videonya di unggah? Satu Indonesia menontonnya?" Batin Kalista terus saja menyebutkan itu, itu lah yang Kalista takutkan, yang hancur bukan hanya namanya, tetapi nama suaminya juga, ironisnya perusahaan Anggara pun pasti kena imbasnya.


"Kenapa?" Tiara mengusap lembut aliran air mata di pipi Kalista. Tiara membantu Kalista untuk berdiri, karena ketika Kalista membanting ponselnya, Kalista langsung berjongkok sambil menutup kedua telinganya.


Bima dan Bimo pun menghampiri, lalu memungut ponsel Kalista yang layarnya telah pecah karena di banting ke tembok. Beberapa karyawan dari tadi hanya memperhatikan saja dari kejauhan, satupun diantara mereka tidak ada yang berani mendekati istri dari bossnya itu.


"Duduk." Bima menarik satu kursi untuk di duduki Kalista. Tadi Tiara dan ban bemo langsung membawa Kalista ke kantin.


Tiara memesan teh hangat untuk Kalista, Kalista pun meminumnya. Namun mulutnya masih terkunci rapat.


"Bisa cerita nggak?" Bimo memulai percakapan diantara mereka. Wajahnya harap-harap cemas menatap Kalista.


"Apanya?" Jawab Kalista datar.


"Itu tadi lu kenapa? Maen banting-banting ponsel?" Tiara memicingkan matanya, dahinya berkerut sambil menatap tajam ke arah Kalista.


"Ponsel mahal loh beb, daripada di banting padahal mendingan kasih aja ke gue." Celetuk Bima.


"Mulut lu ya! Nggak bisa bedain mana serius mana bercanda." Bimo menoyor kepala Bima, padahal di bawah meja Tiara lebih dulu telah menendang kaki Bima.


"Sorry, sorry." Jawab Bimo sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Gue nggak apa-apa." Jawab Kalista dengan santainya.


"Gue serius!" Tiara semakin menajamkan penglihatannya.


"Iya-iya, gue lagi ada sedikit masalah, tapi gue nggak bisa cerita sama kalian sekarang, gue rasa masalah ini harus di diskusikan terlebih dahulu pada suami gue." Kalista pun memandang nanar gelas teh di tangannya.

__ADS_1


"Oke gue paham. Semoga masalahnya cepat kelar." Suara Tiara mulai melembut, tangannya mengusap-usap punggung Kalista.


"Pasti cepat kelar lah, suaminya kan keren dan selalu siap siaga." Ucap Bima sambil terkekeh.


"Betul, suami gue akan selalu melindungi gue." Jawab Kalista dengan sombongnya.


"Udah deh udah, sekarang kita pesan makan. Gue laper." Ujar Bimo sambil melihat-lihat buku menu di meja tersebut.


"Gue nggak pesan, gue tadi kesini bawain makan siang buat suami gue, sekalian gue juga mau makan bareng sama pak suami."


"Enak banget ya kalau punya istri, suami kerja di bawain makan siang. Jadi pengen nikah." Bima menarik turunkan sebelah alisnya.


"Nikah dong! Nikah itu masih banyak enak-enak yang lainnya." Ujar Kalista.


"Btw, tabungan udah banyak belum? Gedung mahal bro." Celetuk Bimo sambil menepuk bahu Bima.


"Nah itu dia masalahnya." Ujarnya.


Kemudian mereka semua pun melanjutkan makannya, sambil mengobrol apapun tanpa kehabisan ide. Bahkan Kalista pun tertawa dan tersenyum, sejenak melupakan soal telepon dari nomor asing tadi.


Tidak terasa satu jam sudah mereka berada di kantin, bell telah berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat telah usai. Mereka semua kembali lagi pada rutinitasnya, sedangkan Kalista berjalan menuju ruangan Arka.


"Sayang? Kok datang nggak bilang-bilang?" Arka yang tadinya sedang duduk di sofa, kini langsung berdiri dan menyambut kedatangan istrinya. Sebenarnya Arka cukup kaget ketika ada seseorang yang membuka pintunya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Darimana?" Ketus Kalista, wajahnya telah berubah menjadi mode galak.


"Darimana apanya? Kan aku sudah bilang, aku ada di kantor sayang, aku nggak kemana-mana." Arka berkilah.


"Yakin? Aku serius nih!" Ketus Kalista lagi.


"Swear deh." Jawab Arka.


"Kamu kan udah gede, udah dewasa, udah mau jadi ayah, tahu kan kalau bohong itu dosa? Pakai segala swear lagi." Kalista menjawil pelan telinga Arka.


"Awwwww." Arka meringis kesakitan. "Iya-iya tahu kalau bohong itu dosa." Jawabnya pasrah.


Arka menatap Kalista, kemudian manik matanya menangkap rantang yang berada di mejanya. Arka baru ngeh, ternyata rantang itu sudah berada di mejanya sejak dirinya kembali dari urusannya itu, itu berarti Kalista telah berada di kantor sejak tadi.


"Maaf." Arka langsung membawa Kalista untuk duduk di sofa. "Aku lagi ada urusan, tapi nggak bisa bilang sekarang ke kamu, tapi suatu saat nanti pasti akan aku jelaskan semuanya." Ujar Arka sambil menatap Kalista.


"Something, tapi nanti aku bakalan jelasin ke kamu semuanya sayang." Arka menyelipkan rambut Kalista ke telinganya.


"Jangan-jangan kamu selingkuh!" Tuduh Kalista. "Andy jelaskan pada saya urusan apa yang Arka lakukan di luar kantor barusan!" Kini Kalista menatap Andy, manik mata Kalista telah berubah menjadi bola api yang menyeramkan.


"Kalau mau ribut silahkan saja! Saya yang nggak berkepentingan lebih baik undur diri sejenak." Andy langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Di balik pintu ruangan itu, Andy langsung mengusap-usap dadanya.


"Ada perang ya pak?" Ujar Gina penasaran, Gina pun memperhatikan tingkah laku Andy ketika keluar dari ruangan itu.


"Iya." Jawab Andy dengan napas ngos-ngosan.


Di dalam ruangan itu, Kalista masih terus saja memaksa Arka untuk menceritakan tentang urusannya itu, dan Arka pun semakin menutup rapat mulutnya. Arka merasa ini belum saatnya untuk memberitahukan Kalista.


Dan pada akhirnya Kalista merasa capek berdebat, Kalista mengalah dan lebih memilih diam untuk tidak menanyakan itu lagi.


"Maaf." Arka memeluk Kalista.


Kalista?


Tentu saja masih kesal, wajahnya kusut dan tidak ada respon untuk pelukan Arka.


"Ayo makan! Aku laper." Arka langsung bergegas membuka rantang.


"Makan aja sendiri, aku debat sama kamu aja udah kenyang." Ketus Kalista, biasalah wanita kalau marah memang lama redanya.


Sesudah itu tidak ada percakapan apapun diantara mereka, Arka sibuk makan sedangkan Kalista hanya menatapnya saja. Sekarang ini pikiran Kalista isinya negatif semua, Kalista takut ada sesuatu hal besar yang sedang di sembunyikan oleh suaminya.


Walaupun mulut Arka tidak berhenti mengunyah, namun sesekali diliriknya istrinya itu. Wajahnya masih saja kecut dan masam.


"Kalau kamu nggak mau makan ya nggak apa-apa, tapi bayi di perut kamu itu butuh makan. Kasian nggak sih anakku kelaparan?" Arka menyuapi sesendok makanan ke mulut Kalista.


Mau tak mau Kalista pun memakannya, walaupun sebenarnya Kalista memang sangat lapar. Arka menyuapi Kalista makan sampai makanan di rantang itu habis tidak tersisa.


"Ponsel kamu kenapa sayang?" Arka yang sedang sibuk merapikan rantang, tiba-tiba matanya melihat layar ponsel Kalista yang retak.


"Aku nggak mau pakai ponsel itu lagi! Aku mau ganti nomor! Aku nggak mau diteror atau pun di ancam." Kalista menyodorkan ponselnya pada Arka.

__ADS_1


Arka mengerutkan dahinya, matanya masih tetap menatap Kalista. "Siapa yang ngancam?" Tangannya langsung mengambil alih ponsel itu.


"Lihat aja disitu, nomor yang nggak di kenal." Ujar Kalista.


"Yasudah nggak apa-apa, nanti sore ganti ponsel baru." Arka mengusap pelan rambut Kalista, kemudian memeluknya sekilas.


"Oh iya, sekarang kita ke butik ya! Nyari baju buat ke weddingnya dokter Rian."


Arka pun langsung membawa Kalista keluar dari kantor. Sopir telah menunggunya tepat di depan gedung. Selama dalam perjalanan tangan Arka sama sekali tidak lepas dari tangan Kalista. Dalam duduknya Arka merasa gelisah, siapakah yang mencoba mengancam istrinya? Pertanyaan ini terus menerus menari-nari di benaknya.


Jarak dari kantor menuju butik ternyata hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Arka segera menuntun Kalista masuk ke butik tersebut. Butik ini merupakan butik yang sangat terkenal dan profesional, dan merupakan butik langganan Arka juga.


Semua karyawan butik tersebut sangat antusias menyambut kedatangan Arka dan Kalista. Seorang miliarder bersama istri cantiknya.


Seorang wanita cantik dan pria yang sedikit berlenggak-lenggok layaknya perempuan menghampiri Arka.


"Ada yang bisa di bantu tuan?" Tanya desainer wanita, suaranya terdengar ramah.


"Carikan dress yang cocok untuk istri saya tercinta untuk acara akad dan wedding party, tentunya couple ya!" Ujar Arka.


"Tenang aja, ekye carikan yang cakep untuk si cantik, capcyus cyn." Desainer pria itu langsung menarik tangan Kalista.


"Hati-hati, istri saya sedang mengandung." Sarkas Arka. Arka tidak suka cara desainer pria itu memperlakukan Kalista.


"Tuan silahkan untuk menunggu terlebih dahulu."


Arka duduk di sofa tempat untuk para tamu menunggu, desainer wanita itu pun pergi menyusul desainer pria. Karena tidak ada kesibukkan Arka pun menyempatkan untuk membaca majalah yang tersedia di meja.


"Bagus nggak?" Kalista keluar dari ruang ganti, balutan kebaya dusty pink dengan Payet bunga dan mutiara tampak cantik melekat di tubuh Kalista, walaupun dengan keadaan perut buncit.


Arka terperangah, manik matanya menatap takjub pada istrinya. "Cantik banget, ini buat acara akad apa resepsi?" Arka menghampiri Kalista, memutar-mutar tubuh istrinya, lalu mengecup pipinya.


"Ini untuk akad, setelan senada untuk tuan, apakah mau di coba sekarang?" Desainer wanita itu menawarkan Arka untuk mencoba kemeja dan jas yang senada dengan Kalista.


"Tidak usah! Selama stelan saya couple dengan istri saya, berarti itu bagus." Ucap Arka.


Kedua desainer itu pun kembali membawa Kalista masuk ke ruangan yang penuh dengan dress. Kalista melihat-melihat semua dress rancangan mereka, semuanya terlihat cantik dan sangat bagus. Desainer itu sibuk memilihkan dress untuk Kalista, sampai ada beberapa dress yang di bawanya ke ruang ganti.


Kalista keluar dengan memakai dress putih yang tampak seksi. Dress tanpa bahu, dengan menampilkan lekuk tubuh sempurna, belahan dada rendah, dan di samping dress tersebut belah sampai paha.


"Nggak suka! Ganti!" Belum sempat Kalista berbicara, Arka sudah mendahuluinya.


Dengan langkah pelan tapi pasti, Kalista pun kembali lagi ke ruang ganti.


"Bagaimana dengan yang ini?" Tanya Kalista. Kali ini Kalista memakai dress ungu dengan punggung terbuka, dan bagian pinggang pun nampak ter-ekpose.


Arka menatapnya tanpa berkedip, istrinya itu sangat cantik, seksi, dan erotis. "Jelek banget, ganti!" Ketusnya.


Helaan napas pasrah keluar begitu saja dari mulut Kalista. Sebenarnya Kalista tampak sangat cantik dengan dress putih maupun dress ungu yang di kenakannya barusan. Hanya saja dress-dress tersebut terlalu seksi dan sangat mengekpose tubuh Kalista, dan Arka tidak suka jika tubuh istrinya terlihat oleh pria selain dirinya.


"Ini setuju kan?" Kalista keluar lagi dengan memakai dress berwarna merah marun, tanpa lengan, panjangnya sampai mata kaki, aksen manik-manik dan mutiara bertebaran di area pinggang dan perut buncitnya. Payet bunga dan kupu-kupu berada tepat di area dada.


Arka benar-benar di buat takjub, matanya memandang Kalista tanpa berkedip satu detik pun, Kalista yang sedang berdiri di hadapannya itu terlihat sangat-sangat cantik, bak putri di negeri dongeng.


Setelah mendapatkan dress yang sesuai keinginan, Arka pun segera menyelesaikan transaksi pembayaran. Tepat ketika Arka dan Kalista akan keluar dari butik tersebut. Tiba-tiba seorang pria dan wanita yang usianya setengah baya masuk ke butik.


"Arka, apa kabar?" Sapanya sok ramah, siapa lagi pria tersebut kalau bukan Marcelino.


Arka menatapnya dengan jengah, ucapannya sama sekali tidak Arka pedulikan. Arka malah semakin fokus pada Kalista, genggaman Arka pada tangan Kalista semakin erat.


"Kalista apa kabar? Trauma tidak pasca penculikan? Katanya sampai ada vi__"


"Plaaaaak!" Satu tamparan mendarat tepat di pipi Marcelino. "Tutup mulut sampah lu!" Arka berkata dengan emosi yang sudah memuncak.


Langkah kaki Arka semakin cepat menghindari Marcelino, tangan Kalista pun di genggamnya sangat erat.


"Maafin aku sayang." Arka menatap nanar pada Kalista, Arka sangat takut kalau Kalista sampai trauma kembali, atau menjadi beban pikiran buat Kalista.


"Aku baik-baik saja! Tenangkan hati dan pikiranmu!" Ujar Kalista seraya memeluk Arka.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2