
Mobil melaju dengan perlahan, selama perjalanan ini Tiara sama sekali tidak berbicara, bahkan pandangannya selalu fokus ke samping, menatap keluar melalui kaca mobil.
Evan sebenarnya sangat ingin mengajak berbincang-bincang, namun ia takut Tiara tidak mau. Jadi Evan hanya fokus menyetir saja.
"Kak, ini salah jalan deh." Ujar Tiara yang menyadari laju mobil bukan berjalan ke arah rumahnya, raut wajahnya terlihat sedikit panik. Tiara takut Evan tidak hafal dengan jalanan sekitar sini.
"Iya tahu kok." Ujar Evan, ia melirik Tiara sekilas kemudian tersenyum.
Gadis di sampingnya itu sepertinya masih bersedih, mata bengkaknya pun masih belum hilang. Hidungnya yang merah pun terlihat sangat jelas.
Evan membawa Tiara ke sebuah taman bermain, taman tersebut sangat ramai dan selalu banyak pengunjungnya. Evan mengajak Tiara untuk segera turun, mereka tidak lupa membeli beberapa macam makanan dari orang-orang yang berjualan di sekitar pinggiran taman.
Hilir mudik lalu lalang orang memenuhi taman tersebut, Evan menarik tangan Tiara agar mengikutinya, mata Evan melihat ke segeala penjuru arah. Satu bangku taman masih kosong, letaknya lumayan agak jauh dari keramaian.
"Ini ada apaan sih kak? Ramai banget." Tiara menatap Evan heran.
"Emang taman ini tuh ramai banget, pengunjungnya banyak, bahkan banyak juga loh yang menjalin kasih di taman ini. Apalagi kalau ada festival kembang api, seru banget biasanya." Di raihnya tangan Tiara, di usap dengan lembut punggung tangannya.
Tiara segera menarik tangannya, entah mengapa detak jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Sebenarnya Tiara paham akan tindakan Evan, sudah terlihat jelas dari sorot matanya bahwa ia sangat menginginkan dirinya. Namun Tiara masih belum mau untuk menjalin hubungan dengan siapapun, Tiara takut hubungannya kan gagal sepeti sebelumnya.
"Makan nih Snack, ngemil aja dulu sampai hati dan pikiran kamu terasa lebih enak dan rileks." Evan membuka salah satu Snack yang berisi kwaci.
Mereka berdua tampak sibuk dengan snacknya masing-masing, mulutnya sama-sama tidak berhenti mengunyah.
"Lihat deh keatas langit!" Atas perintah Evan, Tiara pun segera menatap langit malam itu. "Bagus banget ya? Di penuhi bintang kerap kerlap kerlip bertaburan, hamparan bintang yang sangat indah. Langit itu luas, kalau malam menjadi gelap. Tapi bulan mampu menyinari bumi yang luas ini, di tambah dengan taburan bintang langit malam malah terlihat jauh lebih cantik. Iya cantik, seperti kamu." Evan masih tersenyum menatap langit malam itu.
Tiara mengerjapkan matanya, apa barusan yang Evan katakan? Cantik? Mengapa Evan mengatakan hal itu? Tidak tahukah Evan bahwa sekarang Tiara merasakan hatinya seperti sedang di tubuh bunga mekar? Ada segelenyar rasa hangat menyusup masuk ke dalam dadanya.
"Kalau mau nangis, ya nangis aja. Beberapa orang biasanya merasa lebih tenang setelah menangis, kesedihan itu perlu di luapkan!" Evan mencoba memeluk Tiara, Tiara sesenggukan menumpahkan seluruh air matanya diatas bahu Evan.
Seketika Tiara teringat bahwa dia sedang di peluk oleh laki-laki yang bukan siapa-siapanya. Dan ternyata Tiara sudah menangis di bahu Evan selama 15 menit. Tiara segera menjauhkan tubuhnya dari Evan. Tiara juga merasa malu kalau sampai ingusnya juga ikutan tumpah di bahu Evan.
"Maaf." Ujar Tiara dengan terisak, suaranya menjadi serak. Sesekali tangannya mengelap sisa-sisa air matanya.
"Tungguin bentar, jangan kabur apalagi kalau sampai menggoda pacar orang, tidak boleh itu!" Evan mencubit pelan hidung yang merah itu, lalu bangkit dan segera berjalan entah menuju kemana.
Tiara mengusap wajahnya gusar, di tatapnya langit malam yang begitu indah dengan kerlap kerlip taburan bintang. Semilir angin malam cukup terasa dingin menusuk tulangnya, rambutnya pun menjadi bergoyang dan berantakan, bahkan beberapa helai rambut itu selalu terjatuh ke bagian depan.
Hiasan lampu berjejer rapi menerangi taman, ditambah lagi cahaya rembulan. Walaupun tidak terlalu terang, tapi pencahayaan di sini juga tidak terlalu remang-remang. Sangat cocok dan pas untuk muda mudi yang sedang kasmaran.
"Cantik banget kan langitnya?" Tiba-tiba Evan muncul kembali, dan duduk di samping Tiara.
"Iya cantik." Ucap Tiara yang masih menatap langit itu.
"Anginnya kencang ya, rambut kamu jadi berantakan, bahkan ada yang menjuntai menghalangi mata." Evan menyelipkan rambut Tiara yang jatuh ke depan menghalangi matanya.
"Iya kak." Ucap Tiara dengan lirih, jujur saja Tiara merasakan ada yang aneh dengan hatinya ketika Evan memperlakukannya dengan sangat perhatian.
"Aku beli ini nih, katanya sih wanita menyukainya. Nggak tahu kalau kamu? Tapi semoga suka deh." Evan tersenyum seraya mengeluarkan dua buah permen kapas berukuran besar.
"Aku suka. Dulu pernah di kasih oleh Kalista, bahkan teman sma ku dulu pernah bilang, bahwa permen kapas itu melekat kepada wanita yang patah hati." Tiara tersenyum, kemudian mulai memakan permen kapas itu.
"Ka Evan mau?" Tawarnya sambil mengambil satu cubit permen kapas itu, lalu memasukannya tanpa permisi ke mulut Evan.
Evan yang sedang disuapi seketika menjadi diam, dan menatap intens manik mata Tiara, begitu juga Tiara. Keduanya saling diam dengan napas tak beraturan.
Tiba-tiba diatas langit ada ledakan kembang api, Tiara langsung mendongakkan kepalanya, menatap ke atas langit. Cahaya berwarna warni menghiasai langit malam, langit yang biasanya gelap kini berubah menjadi sangat indah.
Awalnya Evan kaget dan mengira bahwa malam ini ada festival kembang api, ternyata dirinya salah besar. Kembang api ini di ledakkan atas dasar pernyataan cinta. Loh apa sih? Jadi begini, ternyata di taman itu tuh ada seorang pria yang menyatakan cintanya, si wanita menerimanya. Dan terjadilah ledakan kembang api itu, hanya sebentar, mungkin hanya dua kembang api saja yang di ledakan.
"Wanita suka yang romantis ya? Mau nggak di tembak kaya gitu di taman ini?" Tanya Evan sambil menatap manik mata Tiara.
"Hah apa?" Tiara memicingkan matanya, menatap Evan, Tiara berusaha memastikan bahwa telinganya tidak salah mendengar.
"Nggak tahu apa." Ucap Evan sambil terkekeh, Evan cukup paham untuk saat ini Tiara tidak akan bisa menerima cinta dari siapapun. Kondisi hati dan pikirannya sedang tidak sejalan.
Setelah sekian lama terdiam sambil menatap langit. Tiara tiba-tiba memeluk Evan "Terimakasih kak untuk malam ini, terimakasih sudah membawa aku ke taman ini." Pelukan itu terasa sangat erat, Evan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dia pun membalas pelukan Tiara.
"Yuk pulang!" Evan menarik tangan Tiara, tangan itu sangat dingin. Evan baru menyadari ternyata sedari tadi Tiara kedinginan.
"Kak ish, aku masih betah." Rengek Tiara berusaha melepaskan tangan Evan.
"Ini sudah hampir jam 1 malam, nggak baik loh anak gadis pulang larut malam. Nanti di cap jelek sama tetangga." Evan mengusap lembut rambut Tiara.
"Nanti kapan-kapan kita kesini lagi kok." Imbuhnya lagi. Kali ini Tiara tidak berkomentar, dia mengikuti langkah Evan dari belakang.
Mobil melenggang dengan kecepatan tinggi, karena sudah larut malam jalanan pun kosong melompong. Tiara menyebutkan alamat rumahnya. Tiara hanya menatap jalanan melalui kaca mobil, Evan sesekali melirik Tiara.
"Ra, ada yang mau gue omongin." Ucapan Evan terhenti sejenak, kemudian pikirannya terasa sangat kacau, apakah harus mengungkapkan sekarang? Tapi kayanya momentnya nggak pas, lagian kalau sekarang takut Tiara nolak juga.
Tiara mengibaskan tangannya ke depan muka Evan, sejak Evan berkata ada yang harus di omongin, tapi dirinya malah melamun. "Kak." Akhirnya Tiara menepuk pelan lengan Evan.
"Eh iya apa?" Evan menjawab gelagapan, kemudian dirinya mengalihkan perhatiannya dan fokus menyetir kembali.
"Tadi katanya ada yang mau di omongin?"
Evan terlebih dahulu berkompromi di pikirannya, sambil berusaha menimang-nimang yang akan di ucapkannya. "Ah itu loh, gue minta nomor ponsel lu." Evan memilih melarikan ucapannya dan berdalih meminta nomor ponsel.
Mobil melaju dengan semestinya, sebenarnya ada rasa kecewa di hati Tiara, Tiara berangan-angan bahwa Evan akan menembaknya. Sedangkan Evan masih berusaha menenangkan pikirannya, dia akan mencari moment yang pas untuk mengutarakan perasaannya.
Hingga mobil sampai di halaman depan rumah Tiara, Tiara segera turun dan mengucapkan terimakasih. Evan pun kembali melajukan mobilnya menuju apartment nya.
TIARA (POV)
Pagi-pagi sekali gue sudah rapi, dan akan segera berangkat ke kantor. Rencanya mau membelikan beberapa makanan kesukaan Kalista.
Dengan langkah pasti gue keluar dari taksi online, akan berjalan menghampiri beberapa kedai makanan. Langkah sudah hampir dekat dengan kedai itu, namun ponsel gue berdering. Terdapat satu pesan WhatsApp dari mami. "Mami sama papi mau cerai, papi selingkuh. Sekarang terserah kamu mau tinggal sama mami atau papi, atau mau tinggal di rumah juga silahkan. Rumah itu memang untuk kamu."
__ADS_1
Gue menatap nanar layar ponsel, kata demi kata gue baca. Hati ini terasa sakit, napas terasa sesak, bahkan gue seperti kehilangan udara di rongga napas gue. Air mata tidak henti-hentinya berjatuhan.
Sakit hati!
Menangis tersedu-sedu di jalanan, banyak orang berlalu lalang memperhatikan, ada yang menatap iba, kasian dan penuh simpati. Namun ada juga beberapa orang yang menatap seolah mengejek dan mengabaikan. Mungkin mereka adalah tipe manusia-manusia yang tidak punya hati.
Niat awal membeli makanan untuk Kalista, gue urungkan. Saat ini hati dan pikiran gue sedang tidak sinkron dan menjalar kemana-mana.
Sampai di kantor, pekerjaan yang menumpuk sudah menanti. Sulit rasanya menyelesaikan pekerjaan, dengan kondisi hati yang sedang berantakan. Berkali-kali gue gagal fokus sehingga kerjaan ini terasa tidak kunjung selesai.
Rekan-rekan satu ruangan menatap gue, dan ada beberapa orang dari mereka yang memaksa gue untuk bercerita. Namun gue merasa tidak nyaman untuk menceritakan masalah pribadi pada orang lain, satu-satunya orang yang bisa diajak berbicara dan sangat gue percayai yaitu Kalista. Tapi, gue juga nggak mungkin menceritakannya sekarang, mengingat kondisi Kalista sedang mengandung. Karena Kalista biasanya selalu menemani gue ketika sedang sedih. Menemani gue berteriak-teriak nggak jelas, jalan-jalan tanpa tujuan, dan bahkan menemani gue memejamkan mata sampai tertidur pulas.
Bel istirahat telah berbunyi, mau keluar ruangan tapi rasa malas ini menghampiri. Namun jika gue tidak ke kantin, sudah pasti ban bemo nyariin, apalagi rekan-rekan kerja disini pasti akan memaksa gue untuk curhat.
Langkah kaki ini membawa gue menuju kantin, ban bemo di sertai Kalista tengah terduduk di salah satu bangku kantin.
"Beb muka lu kenapa? Kusut banget kaya baju belum di setrika."
Raut wajah gue terlihat jelas di mata Bima, dia menatap gue penuh curiga. Namun gue masih bisa menyembunyikannya.
Gue yakin Kalista pasti menyadari ada yang tidak beres dengan diri gue, namun seperti itu lah Kalista. Terlihat cuek tidak bertanya, padahal hatinya peduli. Kalista selalu ngertiin perasaan gue, membiarkan gue menceritakannya tanpa paksaan.
Makan siang kali ini terasa hambar, padahal ini jelas di tlaktir oleh sang istri miliarder. Biasanya gue dan bemo akan antusias bila diantara kita ada yang mentlaktir. Namun kali ini berbeda, hanya ban bemo saja yang sangat antusias dan berbahagia.
Gue menghabiskan nasi goreng dengan malas-malasan, lambung gue rasanya tidak lapar. Namun jika gue nggak makan, nanti akan semakin mancing kecurigaan para makhluk di hadapan gue yang selalu merecoki hari-hari gue.
Dari kejauhan terlihat pak Arka berlari-lari kecil menuju bangku yang sedang kita duduki, dia menghampiri istrinya.
"Sayang, ada klien yang mendadak ngajak ketemu. Nggak bisa di wakilkan atau pun di cancel, kamu jangan kemana-mana ya! Pokonya tunggu di kantor ini sampai aku kembali!"
Pak Arka mengusap lembut tangan Kalista, perhatiannya dan rasa sayangnya semakin menunjukan bahwa ia sangat mencintai Kalista.
Beruntung sekali sahabat gue itu sudah mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.
"Tiara, nitip istri saya ya! Nanti kalian berdua nonton drakor atau pesan makan atau apa kek terserah, pokonya kalian berdua tunggu di ruanganku ya."
Akhirnya gue terlepas dari kerjaan, hati ini sedang tidak fokus untuk bekerja. Dan mungkin gue bisa quality time dulu sama sahabat gue.
Perhatian pak Arka pada Kalista sangat jelas dan terlihat nyata, dari sorot matanya dan perlakuannya. Mencium pipi Kalista, puncak kepalanya, dan bahkan mencium perut Kalista yang berisi janinnya itu. Kata 'i love you' di ucapkannya.
Gue manyaksikan hal itu dengan senyuman sinis, iri banget gue sama sahabat gue itu. Seandainya saja ada satu laki-laki yang tulus mencintai dan menyanyi gue seperti pak Arka mencintai Kalista, mungkin gue juga akan berbahagia.
Mungkin itu hanya angan-angan, dan halusinasi yang tinggi. Karena sampai detik ini pun semesta masih belum memberikan gue kebahagiaan. Tuhan adil nggak sih? Pertanyaan ini mungkin nggak pantas, tapi pertanyaan ini sering muncul ketika gue sedang merana. Gue tahu Tuhan pasti punya rencana indah selepas badai ini berlalu.
Untuk pertama kalinya gue masuk ke ruangan CEO, jauh diluar ekspektasi gue. Ternyata ruangan ini jauh lebih luas daripada yang gue bayangin. Di dalamnya sangat rapi dan bersih. Nyaman banget deh pokonya berada di ruangan ini.
Setelah makan cemilan dan nonton drakor. Si sahabat gue yang paling peka sedunia itu langsung memeluk gue, dan tumpahlah bendungan air mata yang sekuat tenaga telah gue tahan. Meluapkan rasa sedih dengan menangis di pundak sahabat, hal itu lah yang sangat nyaman menurut gue.
Lama menangis, bahkan sampai pundak sahabat gue banjir oleh air mata dan ingus yang bercampur. Menangis bisa membuat hati gue sedikit lebih lega.
Ternyata dia numpang kamar mandi, tidak lama kemudian keluar lagi. Nah sekarang ganti deh, giliran gue yang ke kamar mandi. Mencuci muka berharap bengkak dan sembap ini sudah tidak terlihat.
"Minum!"
Laki-laki yang menurut gue tampan ini, menyodorkan sebotol jus mangga. Raut wajahnya cerah, menatap gue dengan senyuman hangat miliknya.
Tidak berselang lama, pak Arka dan asistennya pun kembali. Mengobrol sebentar, lalu Kalista menawarkan gue untuk menginap di rumahnya. Sejujurnya sih sekarang gue memang butuh pundak sahabat gue untuk bersandar menceritakan semua keluh kesah ini, namun gue nggak boleh egois, karena sekarang dia telah menjadi seorang istri, kewajibannya mengurus suami bukan mengurus sahabat hehe.
Dan pada akhirnya gue diantar pulang oleh pak Evan, atas perintah Kalista. Menurut gue dia tuh belum tua, seumuran lah sama pak Arka, jadi gue memutuskan untuk memanggilnya kakak.
Dia membawa gue ke sebuah taman bermain yang ramai di kunjungi orang. Mengajak gue melihat bintang dan cahaya rembulan. Sambil menikmati beberapa Snack dan cemilan yang dia beli.
Tanpa sadar gue juga menangis di pelukannya, dengan sangat sabar dan perlakuan lembutnya, dia berusaha menenangkan gue. Malu sih sebenarnya kenapa gue bisa menangis di pelukannya sih? Duh beg* banget gue!
Evan juga memberikan gue permen kapas, seketika gue jadi berpikir bahwa laki-laki ini sangat romantis. Cahaya bulan, bintang, dan orang-orang yang berlalu lalang di taman ini mampu membuat gue melupakan sejenak kesedihan gue.
Ledakkan kembang api diatas langit, langit nampak indah dengan cahaya warna warni, gue menatap kagum bahkan sampai ingin merekamnya dengan ponsel.
"Wanita suka yang romantis ya? Mau nggak di tembak kaya gitu di taman ini?"
Barusan telinga gue nggak salah dengar kan? Jadi dia bertanya dengan gamblang mengenai hak itu? Gue kaget tapi ada sedikit rasa aneh di hati gue.
"Hah apa?" Gue mencoba berusha untuk bertanya, mencoba memastikan bahwa sesungguhnya telinga gue masih berfungsi dengan normal.
"Nggak tahu apa." Ujarnya sambil terkekeh.
Pupus sudah harapan gue, sepertinya barusan gue tuh terlalu berharap dan berhalusinasi. Gue kira bakal ada yang romantis, ternyata bercandaan saja.
Dia mengajak gue pulang, sebenarnya gue masih betah dan masih mau berlama-lama dengannya. Kalau pulang ke rumah otomatis gue akan kepikiran kembali kata-kata mami.
Mau tak mau gue pun menurut, dan langsung naik ke mobilnya. Gue enggan membuka mulut, dan hanya menatap jalanan saja melalui kaca mobil.
"Ra, ada yang mau gue omongin."
Kalimat itu membuat hati gue sedikit cenat cenut, pikiran gue sibuk mempersiapkan jawaban. Namun ternyata dia hanya meminta nomor ponsel gue, kecewa sih tapi mau bagaimana lagi? Mungkin nomor ponsel salah sebuah awalan.
EVAN ( POV )
Usaha gue buat dekatin Tiara hanya jalan di tempat, sebatas ngobrol-ngobrol saja di kantor Anggara. Ternyata sulit juga mendekati gadis cantik itu? Seperti sengaja membangun dinding kokoh di hatinya.
Namun seorang Evan tidak akan menyerah! Sudah beberapa hari ini nggak ketemu, rasanya gue kangen.
Kangen?
Boleh kangen nggak sih?
Walaupun belum menjadi pacar, namun gue sudah merasakan kangen bila tidak berjumpa dengan Tiara. Gue selalu berdalih ingin bertemu Arka, aslinya cuma mau melihat Tiara.
__ADS_1
Setelah memastikan penampilan gue cukup oke untuk bertemu sang pujaan hati, akhirnya gue berangkat menuju kantor Anggara. Beberapa menit kemudian, mobil yang gue kendarai sudah terparkir di parkiran kantor Anggara.
Gue melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Yah telat gue, jam istirahat sudah berakhir itu artinya gue bisa ketemu Tiara di jam pulang ngantor.
Pulang ngantor?
Yaampun itu masih lama, kalau balik lagi gue juga malas. Yasudah gue memutuskan untuk menghampiri sahabat gue aja, sang CEO di kantor ini.
Begitu gue membuka pintu ruangannya, gue dibuat kaget. Wanita yang sangat ingin gue temui itu sedang menangis di pundak nyonya Arka.
Gue memicingkan mata gue, berharap Kalista memberitahu gue tentang sebenarnya yang terjadi. Kalista hanya memberikan isyarat saja.
Numpang kamar mandi adalah salah satu alasan gue untuk menguping pembicaraan mereka, ternyata dia bersedih bahwa orangtuanya akan bercerai.
Mendengar isakan tangisnya, gue menjadi tidak tega dan sangat ingin memeluk dan menengkannya. Setelah dirasa dia sudah berhenti menangis, gue segera keluar dan menghampirinya.
Menundukkan kepalanya dan mengusap-usap sisa-sisa air matanya. Matanya terlihat sangat bengkak dan sembap. Sepertinya dia juga malu dengan kondisi wajahnya saat ini.
Lalu pamit ke kamar mandi, entah ngapain di kamar mandi? Pipis, cuci muka atau touch up make up mungkin?
Raut wajahnya sudah terlihat biasa saja, gue kasih jus mangga juga dia mau, bahkan sebotol langsung habis. Mungkin tenggorokannya kering kali ya, akibat kelamaan menangis.
Lalu ruangan menjadi ramai, Arka dan Andy telah kembali dari urusan bisnis dengan klien. Karena ini juga sudah masuk jam pulang ngantor. Arka mengajak Kalista pulang.
Kalista menawarkan Tiara agar menginap di rumahnya. Namun dia menolak, mungkin malu atau canggung. Karena suami sahabatnya itu adalah bossnya di tempat kerja.
Tiara di titipkan Kalista ke gue.
Gue?
Jelas sangat antusias. Tujuan gue datang ke kantor ini kan untuk menemui wanita cantik ini. Awalnya dia menolak, tapi tahu lah ya gue, dengan seribu cara bujuk rayu ala-ala gue, akhirnya Tiara mau gue anterin pulang.
Gue tahu di taman sekitar ini selalu ramai dan selalu menjadi destinasi piihan utama para remaja yang menjalin kaish. Gue berinisiatif untuk mengajak nya segi ke taman bermain ini.
"Kak, ini salah jalan deh."
Katanya! Raut wajahnya terlihat panik. Mungkin dia takut di culik, atau mungkin takut di apa-apain sama gue? Please lah sayang, gue bukan tipe cowok brengsek!
Tapi dia menurut saja, gue ajak di duduk di bangku taman. Melihat hamparan bintang kerlap kerlip diatas langit. Gue tawarkan beberapa Snack dan cemilan, dan dia pun mau.
Sampai pada saatnya dia menangis di pelukan gue. Tangisnya tersedu-sedu menggambarkan suasana hatinya yang teramat pedih dan terasa pilu. Gue mencoba menenangkannya sebisa gue.
Masih ingat pertemuan pertama gue dengan Kalista? Saat itu gue sedang patah hati, dan dia pun hatinya sedang gundah atau mungkin patah hati juga.
Saat itu Kalista memakan permen kapas, gue juga di kasih. Katanya permen kapas bisa menghilangkan kesedihannya? Nggak tahu juga sih itu pernyataan siapa? Tapi memang cukup ampuh untuk menengkan suasana hati wanita.
Gue memberikan 2 permen kapas dengan ukuran besar, Tiara menerimanya dan mulai menikmati permen kapas itu.
"Ka Evan mau?"
Sejumput permen kapas itu masuk begitu saja ke mulut gue. Gue terpana dan terpesona, gadis cantik ini menyuapi permen kapas ke dalam mulut gue. Mata kita saling bertemu dan memandang, seketika kita berdua terdiam. Gue sibuk menata debaran jantung gue yang memompa lebih cepat dari biasanya.
Tiba-tiba ada ledakkan kembang api yang mengalihkan pandangan Tiara, dia mendongakkan kepalanya melihat ke atas langit. Langit malam itu begitu nampak cantik dan indah berhiaskan ledakan kembang api yang berwarna warni.
Berasa kena prank! Gue kira ada festival kembang api dadakan, taunya ada yang menyatakan cinta di taman ini.
Senyum kagum dan sumringah terpancar dari wajahnya, melihatnya tersenyum gue pun ikut tersenyum, setidaknya Tiara melupakan sejenak kesedihannya. Ledakan kembang api cukup membuatnya menarik garis bibirnya.
"Wanita suka yang romantis ya? Mau nggak di tembak kaya gitu di taman ini?" Gue iseng coba tanya seperti itu.
"Hah apa?" Ujarnya sambil memicingkan manik matanya.
"Nggak tahu apa." Jawab gue sambil terkekeh.
Tau nggak gimana reaksinya? Wajahnya langsung badmood sekaligus kesal gitu, bukan maksud gue mau mempermainkan hati Tiara, tapi untuk kondisinya saat ini, gue paham banget.
Tiba-tiba dia meluk gue, berterimakasih untuk malam ini. Gue? Ya gue peluk balik lah! Rezeki ini namanya hehe. Kapan lagi kan bisa meluk Tiara?
Karena sudah larut malam, gua ajak dia pulang. Tapi dia nggak mau, dia bilang dia masih betah.
Tapi gue nggak mungkin terus menemaninya, bukannya nggak mau! Tapi dia butuh istirahat dan gue pun sama.
Dia tidak banyak berkomentar, dia hanya menurut dan mengikuti langkah gue sampai masuk ke dalam mobil.
Tidak ada percakapan di dalam mobil, dia sibuk menatap jalanan melalui kaca mobil, sesekali gue meliriknya.
"Ra, ada yang mau gue omongin."
Gue memberanikan diri untuk mengatakan hal itu, namun tiba-tiba gue berpikir bahwa ini momentnya kurang pas, mengingat dia sekarang sedang bersedih. Bisa saja kan gue di tolak! "Nggak gue nggak mau! Gue nggak mau di tolak!" Batin gue mengatakan itu.
Tanpa sadar gue melamunkan hal itu, hingga gue tidak menyadari bahwa Tiara mengibaskan kan tangannya di depan wajah gue. Posisi gue saat itu sedang menyetir, bisa di bayangkan kalau terjadi kecelakaan akibat gue melamun?
"Ah itu loh, gue minta nomor ponsel lu."
Akhirnya kalimat itu yang gue ucapkan. Terlihat jelas raut wajah Tiara sangat kecewa, entah apa yang dia pikirkan, atau mungkin dirinya berharap sesuatu?
Percakapan pun berakhir, gue kembali fokus melajukan mobil menuju alamat yang telah Tiara sebutkan.
----------------------------------🌻🌻
Woyyyyyyyyyyy ah cape ih aku nulis panjang banget, jari tangan bahkan sampai keriting wkwk😂
Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1