SUN FLOWER

SUN FLOWER
HANCURNYA HATI GINA


__ADS_3

Jarak diantara Andy dan Gina sudah tercipta cukup lama, bahkan sampai sekarang pun jarak diantara mereka berdua cukup jauh. Gina sudah mulai merasa bosan dengan kondisi dan situasi seperti ini. Selama putus dengan Andy, Gina sama sekali tidak dekat dengan pria manapun. Gina selalu menolak jika ada pria yang akan mendekatinya, karena Gina masih menaruh harapan besar pada Andy.


Jauh dari lubuk hati terdalam seorang Gina, Gina merasa bodoh, dan kebodohannya ini terlalu fatal. Gina ingin bisa memutar waktu, bahkan Gina sangat ingin menjadi doraemon yang memiliki mesin waktu. Sayangnya ini kehidupan nyata, dimana waktu tidak bisa di putar apalagi di jilat dan di celupin. Ketika Andy bilang dia sudah punya pacar yang bernama Karin, Gina berusaha untuk melupakannya dan berusaha bangkit menata hati dengan orang yang lain, tetapi itu cukup sulit dan Gina tidak sanggup melakukannya.


Sampai detik ini pun Gina sama sekali tidak percaya jika Andy berpacaran dengan wanita yang bernama Karin itu, selama Gina tidak pernah melihat perwujudan Karin di hadapannya, Gina tidak akan percaya begitu saja. Bisa saja kan Andy berbohong hanya untuk memanasi Gina, bisa saja Andy kan Andy berbohong karena sakit hati atas perlakuan Gina waktu itu.


Rencananya Gina hari ini mau mengunjungi Andy di rumahnya. Sebenarnya Gina tidak tahu sih dimana alamat rumah Andy? Gina hanya tahu alamat apartmentnya saja, tetapi apartment itu sekarang sudah menjadi milik orang lain, Andy sudah menjualnya. Hari ini jam sepuluhan Gina mau keberkunjung ke rumah Andy, mau menyampaikan keinginannya untuk balikan. Gina sudah tidak perduli lagi dengan harga dirinya? Keadaan seperti ini justeru membuatnya insecure, takut Andy keburu menikah dengan wanita lain. Sedangkan dirinya memang benar-benar masih mempunyai perasaan pada Andy. Lalu darimana Gina mendapatkan alamat rumah Andy? Mudah saja, Gina kan bekerja sebagai sekretaris, dan Gina mudah mencari data Andy termasuk alamat rumahnya.


"Loh ini weekend loh, tumben banget sudah sibuk di dapur? Biasanya kalau weekend bangunnya siang." Terus mamanya Gina.


Ya, sepagi ini Gina sedang sibuk mengobrak-abrik dapur, berperang melawan minyak panas, sayuran, dan bau amis dari daging ataupun ikan hanya untuk menciptakan masakan yang enak. Gina ingin memasak untuk buah tangan nanti ketika bertamu kerumah Andy. Semoga saja Andy suka, terlebih lagi semoga Andy menerima ajakan balikan dari Gina.


"Gina mau masak buat kak Andy, sekalian Gina mau minta izin mama. Nanti agak siangan Gina mau kerumahnya kak Andy." Ujar Gina dengan pipi yang memerah karena merasa malu akan bertamu kerumah laki-laki.


"Boleh! Tapi kenapa ya Andy kok sudah lama nggak main ke sini? Waktu itu juga anterin kamu pulang tapi nggak mampir, biasanya kan Andy mampir walaupun sebentar, nggak mau nyala mama gitu ya?" Tanya mama Gina.


"Kak Andy tuh emang lagi sibuk banget sama masalah kerjaan, kadang kerjaan juga di bawa kerumahnya." Gina beralibi sambil berbohong, bukan maksud Gina untuk berbohong, tetapi Gina tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya. Kan nggak lucu jika Gina menceritakan semuanya pada mamanta, tapi nanti ujung-ujungnya mereka baikan.


"Maka dari itu anak mama mau nyamperin ke rumahnya dan bawa makanan, takut Andy di rumahnya terlalu sibuk sampai melupakan makan? Benar begitu?" Tanya mama Gina dengan senyum mengembang.


"Betul seratus persen." Gina mengacungkan ibu jarinya.


Gina kembali lagi fokus pada memasaknya. Kemampuan Gina dalam memasak memang tidak terlalu baik, tetapi Gina berusaha untuk menghasilkan masakan yang enak. Gina memasak nasi liwet bakar, ikan asam pedas, capcay, dan tumis kangkung. Makanan sederhana yang hampir semua orang bisa memasaknya, tetapi ini merupakan tantangan terbesar untuk Gina. Kalau sampai Andy nggak suka, keterlaluan banget! Gina memasak ini semuanya dengan mengerahkan semua kemampuannya.


Masakan tersebut Gina masukan ke kotak makanan dan menyusunnya. Setelah itu Gina segera membersihkan badannya dan bersiap-siap. Gina juga merasa senang, karena mamanya telah mengizinkannya. Kalau dulu untuk mendapatkan izin dari mamanya itu sangat sulit, bahkan Gina selalu dilarang bepergian tanpa dirinya.


Khusus untuk hari ini Gina ingin tampil berbeda, Gina telah menyiapkan dress baru untuk di pakai ke rumah Andy. Dress selutut dengan motif angsa kecil, berwarna hitam, berlengan pendek, tetapi dress ini juga masih dalam konteks sopan. Karena ingin tampil cantik dan sempurna, berharap Andy akan terpesona. Gina memoleskan make up tipis di wajahnya, ber-make up tetapi mencoba senatural mungkin. Gina juga mengcurly rambutnya, hanya untuk melengkapi penampilannya saja.


Berdiam diri lama memandangi rak sepatu, Gina bingung apakah harus memakai heels yang akan menunjang tinggi badannya, apakah memakai sneaker putih yang terlihat fashionable, atau justru memakai flatshoes yang simple dan elegan. Setelah merenung, berdiam, dan berpikir cukup lama, pilihan guna jatuh pada sneaker putih.


Senyum merekah terpancar di wajahnya, Gina bahkan masih memperhatikan penampilannya sendiri dari pantulan cermin. Dari pantulan cermin saja sudah terlihat ekspresi sumringah di wajah Gina, Gina yakin hari ini tidak akan menolaknya.


"Cantik benar anak mama." Mama Gina tersenyum sembari memperhatikan anak gadisnya yang sedang menuruni satu persatu anak tangga.


Wajah itu kembali memerah seperti tomat, Gina malu karena penampilannya pun tak luput dari pandangan mamanya. Padahal beberapa bulan ini Gina selalu malas-malasan, Gina hanya bisa produktif ketika ngantor saja.


"Aaaaaaah mama, Gina malu." Ujarnya tetap dengan muka tomatnya.


"Ngapain malu sih nak? Mama senang kok, sekarang anak mama sudah bisa merias wajahnya." Mama Gina tersenyum.


"Iya ma. Yaudah Gina berangkat dulu ya."


"Hati-hati di jalan ya, pulangnya jangan kesorean."


Gina pun berangkat dengan hati yang harap-harap cemas, ada segelintir rasa takut di hatinya. Takut di tolak, takut Andy tidak bisa lagi bersama dengan dirinya, lebih takut lagi jika sosok Karin itu nyata adanya. Jika Karin memang benar pacar Andy, sudah bisa di pastikan Gina akan kalah.


Karena Gina memakai dress dengan rambut yang di tata sedemikian indahnya, Gina memutuskan untuk menggunakan jasa taksi online. Kalau Gina menggunakan celana jeans sih, Gina akan memilih naik ojek online. Karena untuk menghindari kemacetan dan agar cepat sampai.


"Permisi dengan mbak Gina?"


Sapaan sopir taksi online tersebut membutuhkan lamunan Gina.


"Ah iya pak."


Gina pun langsung naik ke taksi online tersebut. Mobil melaju dengan perlahan, tepat ketika sampai di jalan raya macet pun tidak bisa di hindari. Untuk mengusir rasa bosan dan gundah gulana, Gina pun mencoba memainkan ponselnya.


Tetapi justeru di ponsel itu lah Gina merasakan kecemasannya semakin bertambah, Gina melihat salah satu folder foto yang isinya adalah potret kebersamaanya dengan Gina. Bahkan ada beberapa video berdurasi pendek, selama menjalin hubungan dengan Andy, baik Gina maupun Andy memang hampir tidak pernah di memposting kebersamaannya di media sosial. Semua potret kebersamannya hanya tersimpan di galeri ponselnya.


Satu bulir kristal itu terjatuh tanpa di komandu, jarak diantara mereka telah lama tercipta. Memori otak Gina memutar paksa kenangan-kenangan di masa lalu. Kenangan awal mula bertemu, jalan bareng, kerja bareng, makan bareng, shopping dan pergi ke festival jajanan pasar. Semuanya masih Gina ingat dan akan selalu membekas di ingatannya.


"Kangen banget! Kalau kita tidak bisa bersatu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu yang lain. Tetapi aku tidak akan sanggup melihat kamu bersama yang lain." Gina bergumam lirih, manik matanya masih fokus menatap foto tersbeut. Tangannya terangkat mengusap sisa-sisa air mata di pelupuk matanya.


Tangan itu kini merogoh sesuatu di tas sampirnya, Gina mencari benda kecil yang tak lain adalah cermin. Gina bercermin untuk memastikan bahwa matanya tidak terlihat sembap, Gina melihat apakah make-upnya rusak atau tidak?


Mobil telah sampai ke alamat yang Gina tuju. Gina segera turun dan membayar ongkos taksi tersebut. Sebenarnya Gina tidak tahu pasti apakah alamat ini benar alamat rumahnya Andy atau bukan? Gina mendapatkan alamat ini dari Tiara, dan tidak mungkin juga Tiara berbohong. Mungkin Tiara juga mendapatkan alamat ini dari Evan.


Berada di tempat baru yang lumayan cukup asing membuat Gina harus menatap ke segala penjuru arah. Gina tidak tahu dengan jelas si sebelah mana alamat rumah Andy? Gina hanya berjalan mengikuti arah kakinya melangkah. Ini weekend tapi perumahan ini terbilang cukup sepi, biasanya kalau di perumahan yang lain kan kalau weekend kaya gini tuh ramai, ada yang main di taman, nothing, dan lain sebagainya.


Kata Tiara sih rumah Andy nomor 10, jangankan rumah nomor 10, rumah nomor 1 aja Gina tidak tahu dimana? Terus berjalan sembari melirik kanan, Gina memperhatikan setiap rumah itu, apakah itu rumah nomor 10? Tetapi Gina yang celingak-celinguk itu malah seperti orang mencurigakan. Bisa-bisa nanti Gina dianggap maling, atau parahnya akan dianggap akan menculik anak.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Gina menemukan rumah dengan nomor 10. Perumahan ini cukup luas, maka dari itu Gina agak sedikit kesulitan mencari alamat rumah Andy.


Berdiri tepat di depan pintu, Gina mencoba menyiapkan narasi, takutnya nanti Andy to the point bertanya mengenai kedatangannya. Jujur saja, saat ini Gina gemetaran, seluruh tubuhnya terasa menggigil, hatinya di liputi rasa gelisah.

__ADS_1


Mau pencet bel tapi masih ragu. Gina memilih untuk berkaca, memperhatikan penampilannya. Gina juga merapihkan rambutnya yang terlihat agak berantakan, bahkan sekarang di dahinya sudah ada keringatnya.


Ting tong.


Dengan tangan gemetar Gina memencet bel, kakinya tidak bisa diam, rasa gelisah itu semakin kuat. Rumah dalam keadaan sepi, antara tidak ada orang atau mungkin penghuninya masih tidur.


Sudah lima belas menit berlalu, tetapi pintu tak kunjung terbuka. Dan Gina masih sabar berdiri di depan pintu itu.


Ting tong.. Gina pun kembali memencet bel, siapa tahu kali ini Andy akan terbangun dari tidurnya, jika memang sedang tidur.


"Cari siapa?" Ujarnya dengan lembut.


Gina kaget karena mendengar suara perempuan yang bertanya, Gina langsung membalikan badannya. Gina speechless cukup lama, mulutnya menganga. Diambang pintu itu adalah seorang wanita dengan wajah imut, badannya lumayan bagus, tetapi rambutnya sangat acak-acakan, muka bantal masih melekat di wajahnya. Memakai celana pendek, dan baju tang top.


Wanita imut berwajah manis itu baru bangun tidur, mungkin sisa-sisa iler masih menempel di sudut bibirnya. Gina belum menjawab pertanyaan dari wanita tadi, Gina malah menatap wajah wanita itu. Gina menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Hallo, mbak cari siapa?" Wanita itu kembalikan telapak tangannya tepat di depan wajah Gina.


Gina sama sekali tidak bisa berkata-kata, matanya berkaca-kaca, bahkan bulir-bulir bening itu hampir saja terjatuh. Saat ini pikiran Gina di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan, siapa wanita tersebut? Apakah Andy meniduri wanita tersbeut? Mengapa Andy bisa melakukan hal tidak senonoh di rumahnya sendiri? Apakah tetangga di perumahan sini tidak perduli dengan tetangganya sendiri yang mengizinkan wanita yang bukan istrinya menginap di rumahnya? Gina bahkan merasakan sakit di kepalanya.


"Rin, ada siapa?" Tanya seorang pria dari dalam rumah tersebut yang suaranya sangat Gina hafal.


"Bruuuuuuuuukk!" Semua makanan yang di bawa oleh Gina terjatuh di lantai, semua isinya tumpah dan berserakan.


Rin? Apakah wanita yang di hadapan Gina ini adalah Karin yang katanya pacar Andy? Jadi selama ini Andy dan Karin tinggal bareng? Mengapa? Mengapa? Mengapa?


"Ada tamu ya Rin? Kok nggak di izinkan masuk sih?" Andy menghampiri Karin, Andy juga masih menampilkan muka banyaknya, Andy hanya memakai kaos dalam dan celana pendek.


Andy menatap Gina dan memberikan senyuman terbaiknya.


Tanpa kata, tanpa ucapan, tanpa kalimat sedikitpun Gina segera membalikan badannya dan berlari dengan kencang. Gina segera menjauh dari rumah tersbeut.


Gina langsung bisa menarik kesimpulan, mereka berdua beneran pacaran, bahkan hari ini Gina melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Andy dan Karin telah tidur bersama.


Air mata itu sama sekali tidak bisa di bendung, mengalir deras dan membasahi pipinya. Gina terduduk di tepi jalan, dadanya terasa sangat sakit. Sakit sekali bagaikan di tusuk dengan ribuan belati. Ada beberapa orang yang melihat dan menyaksikan seorang wanita yang sedang menangis sedih di tepian jalan, tetapi Gina tidak perduli.


Gina tidak tahu sekarang harus gimana? Gina nggak tahu harus cerita ke siapa? Mau cerita ke Kalista, tetapi Kalista pasti sedang repot mengurus si kecil. Mau cerita ke Risa, tapi Risa kini sudah menikah dengan Riko, mungkin mereka sekarang sedang menikmati hari weekend, mau cerita ke Tiara, tetapi Gina tahu hari ini Tiara akan pergi kencan bersama Evan.


Jujur saja saat ini Gina merasa tidak punya tumpuan, Gina tidak mempunyai sandaran. Gina merasa tidak mungkin harus menceritakan semua ini kepada mamanya. Gina takut mamanya akan merasa sedih, Gina takut mamanya akan jadi kepikiran tentang masa lalunya.


*****


"Bang, wanita itu sapa?" Tanya Karin denga suara cempreng.


Karin sangat penasaran, siapa wanita yang barusan itu? Mengapa dia terlihat kecewa ketika mengetahui Karin yang membuka pintu? Mengapa raut wajahnya terlihat judes kepada Karin? Mengapa dia berkaca-kaca ketika melihat Andy keluar dan menghampiri Karin?


"Dia itu wanita yang Abang cinta." Senyum merekah itu kembali terlihat, bahkan Andy terlihat sangat bahagia.


"Loh barusan berarti dia salah paham, kejar dong jelasin semuanya. Kaka cantik itu pasti kecewa loh." Cerocos Karin.


"Biarin aja! Berikan dia ruang dan waktu untuk berpikir jernih, biarkan dia merasakan apa yang namanya kecewa dan sakit hati. Dia masih perlu belajar banyak hal." Ujar Andy sambil melenggang masuk ke dalam rumah.


"Bang, kok jahat sih? Kasian loh dia nangis tadi sambil lari." Karin masih meminta penjelasan dari Andy, Karin juga merasakan iba dengan wanita tadi.


"Bukan jahat! Justeru dengan sepeti ini Gina bisa melihat kondisi hatinya sendiri, dan Abang bisa lihat dengan jelas apakah di hatinya ada Abang atau tidak? Dengan seperti ini dia akan menyadari semuanya, menyadari tentang arti kecewa, kehilangan, dan bahkan sakit hati." Ujar Andy.


"Kamu nggak akan ngerti Rin, kamu masih kecil, mana paham tentang cinta? Mana ada juga pria yang bakalan jatuh cinta sama si bocil bersuara cempreng." Andy meledek Gina.


Andy meletakan kotak makan tersebut diatas meja makan. Makanan tersebut tidak semuanya tumpah, masih ada yang tersisa di dalam kotak makan itu.


"Masakan Gina emang selalu the best, enak banget, top markotop." Andy merem melek memakan masakan Gina.


Andy begitu antusias memakan makanan tersebut, nasi liwet bakar terasa sangat nikmat, aroma bakarannya sungguh sangat membangkitkan nafsu makan Andy. Ikan asam pedas, capcay dan tumis kangkung juga terasa sangat lezat.


"Jahat banget! Kakak cantik tadi nangis gara-gara abang, tapi Abang malah enak-enakan memakan makanan tersebut. Dasar lu nggak punya hati." Karin merasa sangat geram dengan sikap abangnya yang semena-mena, Karin bahkan menjitak kepala Arka dengan keras.


"Tapi gue ganteng kan Rin?" Andy menaik turunkan alisnya, lalu tersenyum menyeringai.


"Minta alamatnya kak Gina coba? Karin mau jelasin semuanya, Karin juga mau minta maaf." Karin benar-benar serius dengan ucapannya, bahkan Karin menatap Andy dengan tatapan menusuk.


"Karin bisa nggak, nggak usah ikut campur dengan masalah Abang? Abang cuma mau kasih Gina pelajaran aja, ada saatnya Abang akan menjelaskan semuanya. Biarkan Gina merasakan apa yang sudah Abang rasakan." Bentak Andy sambil menggebrak meja. Andy merasa Karin terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya.


Karin tidak bergeming sedikitpun, hanya diam dan menunduk.

__ADS_1


"Sorry Rin, nggak maksud." Andy langsung mengusap lembut puncak kepala Karin, dan menyuruhnya duduk di sampingnya.


"Karin juga bukan mau ikut campur, tapi jujur disini tuh Karin merasa bersalah banget, gara-gara Karin bukain pintu dengan penampilan yang segini adanya, siapa sih yang bakal tetap berpikiran positif? Kakak cantik tadi pasti mengira Karin sudah tidur dengan Abang. Sebagai sesama wanita, Karin juga pasti akan merasakan hal yang sama jika yang Karin alami itu persis seperti tadi." Ujarnya dengan lirih.


"Iya gue paham! Udah deh Rin nih makan dulu, abis itu mandi, terus anterin gue ke suatu tempat."


"Kemana bang?" Jawabnya antusias.


"Nanti juga tahu! Makan dulu nih masakan Gina, enak. Lumayan deh nggak usah beli makanan atau pun masak." Andy tercengir kuda.


"Dih dasar ngirit!!"


Mereka berdua pun sibuk memakan masakan Gina yang sempat tertumpah di lantai. Memakan dengan lahap hingga habis.


*****


Setelah menumpahkan semua air matanya, berteriak dengan bebas dan lantang di sebuah taman yang cukup jauh dari pusat kemaramain. Akhirnya Gina memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Gina terlebih dahulu menghapus sisa-sisa air matanya, men-touch up makenya, dan berusaha menyembunyikan mata sembapnya menggunakan teknik make up.


Setelah di rasa cukup dan tersamarkan, Gina pun segera memesan taksi online. Tidak berselang lama taksi online pun datang, Gina segera masuk dan duduk sambil bersandar. Tangannya itu tak henti-hentinya memijat dahinya yang terasa pusing.


Karena Karin itu ternyata memang benar adanya, akhirnya Gina memutuskan untuk menghapus semua kenangannya dengan Andy. Gina menghapus semua foto dirinya yang sedang bersama Andy, menghapus semua video random yang di record oleh Andy. Gina pun memblokir nomor WhatsApp Andy dan seluruh media sosial Andy. Gina ingin melupakan semua kebersamaanya, Gina akan berusaha tegar dan ikhlas.


"Mbak, sudah sampai." Tegur sang sopir.


Gina mendadak menjadi bisu, tidak menjawab tetapi langsung dan membayar taksi online tersebut. Gina meraup oksigen cukup banyak, mengusap-usap dadanya yang terasa sesak. Serapuh dan sehancur apapun keadaan hatinya sekarang, Gina tidak akan memperlihatkannya pada sang mama.


Syukur Alhamdulillah mamanya Gina tidak ada di ruang tamu, atau pun di ruang tv. Gina bisa bernapas dengan lega, karena kalau ketemu mamanya mungkin mata sembap yang telah disembunyikannya dengan mengunakan make up itu pun bakalan ketahuan. Berjalan pelan seperti mengendap-endap, Gina pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Loh udah pulang sayang? Kok sebentar? Nggak main dulu?"


Mau tidak mau akhirnya Gina pun membalikan badannya, mencoba untuk tersenyum sembari menatap sang mama.


"Iya ma sebentar aja, kak Andy lagi sibuk." Jawabnya senormal mungkin, walaupun Gina menampilakan senyuman manis tetap saja saat ini hatinya sedang menjerit.


Mama Gina terdiam, ada yang aneh dengan anak gadisnya. Biasanya kalau ketemu Andy tidak pernah disingkat ini. Mama Gina juga merasa ada yang beda dengan raut wajah Gina, suaranya juga terdengar berat dan seisjit serak seperti orang yang habis menangis. Mama Gina langsung paham, insting seorang ibu selalu benar.


"Gina." Kali ini mama Gina berkata dengan sangat lembut, tatapan matanya selalu tertuju pada manik mata Gina.


"Iya apa mama?" Gina pun menjawabnya lirih dan di sertai senyuman.


Mama Gina langsung menghampiri Gina, merangkulnya aja menyuruhnya duduk di sofa. Ada yang salah dengan Gina, atau mungkin hubungannya dengan Andy sedang bermasalah. Walau bagaimana pun juga mama Gina pernah muda, pernah kerajaan jatuh cinta dan patah hati. Mama Gina sangat paham, dengan kondisi yang seperti ini seorang perempuan tidak butuh sandaran. Disaat seperti ini perempuan hanya butuh di rangkul, dan bersabar sambil menenangkan hatinya.


Sikap dan perlakuan mama Gina yang lembut membuatnya tidak bisa menahan laju air matanya. Gina menangis terisak dan sesenggukan sambil memeluk sang mama, Gina merasa beban hatinya kali ini terlalu berat. Mama Gina pun memilih untuk menenangkan Gina ketimbang harus mengajukan beberapa pertanyaan. mengusap punggungnya, mengusap puncak kepanya hingga menciumnya.


Tangisnya mulai mereda, Gina segera mengelap sisa-sisa air mata dan ingusnya. Gina mencoba mengusap lembut baju mama Gina yang basah.


"Ma, maafin Gina ya." Ujarnya dengan suara serak ciri khas habis menangis.


"Maaf soal apa sayang?" Tanyanya lembut.


"Gina usah nangis sampai baju mama basah, bukan air mata doang loh ma, itu bercampur ingus."


"Nggak apa-apa, baju buat di cuci dan di ganti."


"Mama nggak mau nanya kenapa Gina nangis?"


"Nggak! Perempuan itu paling nggak sial di tanya kalau hatinya sedang kacau balau. Mama nggak mau nanya, tapi kalau Gina mau cerita sesuatu mama siap jadi pendengar." Tuturnya.


"Ma, sebenarnya Gina sama kak Andy udah putus dari beberapa bulan yang lalu?" Selepas mengatakan itu Gina langsung menundukkan kepalanya.


"Kok bisa putus? Kalian ada masalah apa emangnya?" Mama Gina ini sangat pintar dalam berbicara, bahkan dia bertanya dengan hati-hati.


"Waktu itu Gina lagi kesal, soalnya Andy bohongin Gina. Gina bilang macam-macam dan mungkin perkataan Gina sangat melukai hati kak Andy. Yang minta putus juga Gina, saat itu emang benar-benar lagi emosi dan tersulut amarah. Bahkan Gina sempat merendahkan kak Andy di depan sahabatnya sendiri." Air mata kembali menetes, Gina ingat hari dimana dirinya meminta putus dari Andy.


"Dari situ kita putus! Tapi jujur mah, Gina menyesal. Gina ingin memutar balikan waktu, tetapi itu sangat tidak mungkin. Dari situ diantara juga berdua mulai ada jarak pemisah, seperti ada dinding tebal yang selalu memisahkan kita. Gina yang menyesal ini sempat meminta maaf dan meminta untuk balikan, mungkin saat itu Gina sepeeti seorang wanita yang tidak punya harga diri. Sudah minta putus tapi masih minta balikan.


Bersambung...


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2