
Kalista merasa kepalanya sangat pusing. Ingatannya kembali melayang pada kejadian 5 tahun silam. Mobil yang terbakar, ayahnya yang meninggal di tempat dan Luna yang tidak sadarkan diri.
"Bruuuuuuuuukk." Kalista jatuh pingsan. Untung saja terjatuhnya ke sofa, jika terjatuh ke lantai mungkin sekarang sudah mengalami pendarahan di kakinya yang terkana pecahan beling, maupun pendarahan di perutnya.
"Kalistaaaaaaaaaaaaa." Oma berteriak histeris sembari berlari menghampiri Kalista yang jatuh pingsan di sofa.
Pak Anggara dan beberapa pelayan pun langsung muncul karena kaget mendengar teriakan Oma yang cukup menggelegar.
Pak Anggara segera memindahkan Kalista ke kamarnya, Oma langsung menghubungi Arka. Beberapa pelayan sibuk membersihkan pecahan gelas yang terjatuh.
Semuanya menjadi panik dan kalang kabut, Oma terus menerus menangis karena merasa kurang bisa memegang amanah yang Arka katakan. Pak Anggara juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba badan Kalista terasa panas, matanya terus menutup.
Nomor Arka mendadak tidak aktif, susah sekali untuk di hubungin. Akhirnya Oma meninggalkan pesan WhatsApp, berharap nanti Arka membacanya.
*****
Arka, Andy, dan sang detektif masih berada di kantor polisi. Banyak sekali yang harus mereka urus gara-gara si Marcelino, Arka juga menyerahkan banyak bukti. Tentu saja Marcelino tidak akan mudah untuk keluar dari jeruji besi, dan sama sekali tidak bisa di tebus oleh uang. Karena terlibat kasus yang sangat banyak, mungkin hukumannya penjara seumur hidup atau mungkin di hukum mati.
"Seharusnya bapak dan bapak asisten istirahat saja, ini semua sudah menjadi tugas saya. Lagipula, bapak telah membayar saya." Ucap sangat detektif yang sedang berjalan beriringan dengan Arka dan Andy.
"Seharusnya sih begitu, gue tinggal terima beres aja. Tapi, pengen terjun langsung aja sih, soalnya ini semua berhubungan dengan orang tuanya istri gue, ini juga merupakan kado terbesar yang bisa gue berikan padanya." Ucap Arka santai.
"Oh begitu."
"Balik kantor kali ya, kasian Gina handle kantor seorang diri." Ujar Andy.
"Oke." Jawab Arka singkat.
"Kita balik kantor! Urus semuanya ya." Perintah Arka. Detektif itu menganggukan kepalanya tanda paham.
Masih ada beberapa hal yang harus di urus, selain juga Marcelino meminta seorang pengacara dan meminta banding. Entahlah bagaimana hasil akhirnya? Arka menyerahkan semuanya kepada detektif suruhannya, dan percaya sepenuhnya pada pihak berwajib.
Arka dan Andy segera melajukan mobilnya menuju kantor. Arka merasa sangat bahagia untuk hari ini, hari besar yang akan membuat istrinya merasa semakin bangga padanya. Yang ada di pikiran Arka sekarang adalah "Kalista pasti bakalan mengucapkan banyak terimakasih untuknya."
"Rencanya Marcelino's Company mau di apain?" Andy bertanya karena penasaran, tetapi pandangannya masih tetap fokus pada jalanan dan tangannya juga masih setia di kemudi setir.
"Mau ganti namanya, toh tadinya juga Daniel's Company kan? Tapi belum tahu juga mau pakai namanya Daniel atau apa? Terserah Kalista saja. Kedepannya mau bergerak di bidang apa juga masih belum ke pikiran sampai situ."
Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Andy, Andy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.
"Perusahaan Marcelino yang satunya lagi?" Setelah beberapa menit tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Andy, lalu akhirnya sebuah pertanyaan kembali meluncur dari bibir itu.
"Hmmmmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Arka saat ini. "Perusahaan Marcelino? Gue nggak menginginkannya, lagi pula itu semua hak Dino. Biarin aja Dino yang mengelolanya, anggap saja sebagai latihan awal. Toh selama ini juga Dino tidak pernah terlibat dalam urusan bisnis ayahnya, jadi ya intinya sih memberikan kepercayaan padanya untuk melangkah di dunia bisnis. Rumah mereka? Biarin saja di tempati mereka, kalau gue ambil juga buat apa?" Arka menjawab sambil sesekali matanya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ambil aja! Lumayan buat gue sama Gina." Celetuk Andy.
"Terus nanti mama gue tinggal di mana? Di rumah bareng sama gue? Nggak mungkin lah! Apa kata ayah gue nanti? Elu kalau mau rumah ya bikin sendiri, kerja banting tulang sampai bisa membangun rumah gedongan bila perlu sampai 50 lantai lah." Tangan Arka menjitak pelan kepala Andy.
"Kerja banting tulang buat bikin rumah sampai 50 lantai. Gila sih, mendingan gue bikin kantor sendiri lah. Rumah atau apa tuh sampai mencakar langit? Gue kalau nikah palingan juga punya anak 2, nanti malah banyak ruangan yang nggak ke pakai, terus nanti ruangan kosong di rumah gue di apain? Di kontrakan atau di sewakan? Ya kaliiiiiiiiii." Jawab Andy, suaranya terdengar jengah.
__ADS_1
"Haha betul tuh! Atau kalau nggak lu jadian asrama perempuan aja." Arka terkekeh tepat ketika mengatakan asrama perempuan.
"Gimana tuh maksudnya?" Andy bertanya karena tidak paham.
"Punya istri banyak, kalau nggak lu pelihara janda aja! Lumayan kan buat penghangat atau biar rumah gedongan lu yang 50 lantai itu ramai dan terisi penuh. Hitung-hitung sedekah aja gitu." Ucap Arka.
"Ogah! Istri cukup satu! Selama ada istri, gue nggak perlu janda! Kalaupun emang mau sedekah, gue lebih milih sedekah ke panti asuhan, anak yatim piatu, atau kaum dhuafa. Mereka lebih berhak sih menurut gue."
"Widih sahabat gue, keren banget bro." Arka menepuk pelan paha Andy.
"Kalista kapan lahiran? Nggak sabar pengen lihat anak lu nih, apakah dingin kaya lu, atau ramah dan cantik kaya istri lu."
"Perkiraan lahir sih akhir bulan ini. Anak gue kembar bro, cewe cowo. Yang pasti cantik mirip bundanya, yang cowo jelas pasti mirip gue lah, ganteng, pintar, berkarisma, kalau soal dingin? Ya nggak apa-apa juga sih, toh gue aja pribadi yang kaya orang gitu 'Dingin' tapi kalau ke istri gue boro-boro bisa dingin. Sempat bertanya ke diri sendiri juga sih gue, kok bisa ya sikap gue berubah 180Β° ketika gue bersama Kalista. Pokonya the best banget istri gue tuh." Sudut bibir Arka selalu terangkat naik ketika sedang membicarakan istrinya.
"Gue nggak setuju kalau anak lu mirip elu.."
"Terus lu setuju anak gue mirip siapa? Mirip lu? Yakali, yang bikinnya aja gue sama istri." Memotong ucapan Andy dan langsung menyaut nyeleneh.
"Gue belum selesai ngomong bro, tuh lidah gatel banget kayanya. Jadi begini, gue lebih setuju kalau anak lu mau cewe ataupun cowo keduanya lebih dominan ke istri lu. Jangan sampai mirip lu deh, tingkah lu tuh, oh my God banget deh pokonya. Dingin, jutek, gengsian, mesum apalagi." Andy memutar matanya jengah, bagaimanapun Andy sangat mengetahui sikap Arka dari jamannya kuliah, sampai ketika Arka diangkat jadi CEO. Andy tahu bagaimana sikap Arka yang terlalu gengsi atau mungkin bisa di katakan munafik, selalu ngomong pedas dan kasar pada Kalista, tapi dalam hati kecilnya dia sangat tertarik pada Kalista.
"Astaga, the real best friends! Sampai paham sedetail itu sikap gue. Gue tahu apa yang barusan ada di kepala lu, pasti lu bilang gue munafik. Sosoan nggak tertarik sama Kalista, tapi pada akhirnya gue luluh juga sama cewe cantik itu." Arka tersenyum menyeringai setelah sukses membaca pikiran Andy, atau jangan-jangan Arka adalah jelmaan cenayang? Bisa tepat gitu ya membaca pikiran Andy.
"That is true! Haha gila banget nggak sih kita? Sama-sama paham mengenai pikiran kita masing-masing." Andy juga tertawa terbahak-bahak, Arka berhasil menebak isi pikirannya, dan dirinya juga benar-benar tahu detail mengenai tingkah laku Arka.
Perjalanan menuju kantor sama sekali tidak terasa, mereka terlalu asyik mengobrol, bercanda tawa gurau. Bahkan Arka sama sekali tidak menyentuh ponselnya, terakhir kali menyentuh ponsel ketika masih berada di kantor polisi. Arka juga merasa bahwa hari ini pekerjaannya cukup banyak, dan lumayan menyita waktu. Padahal Arka sangat ingin sekali menemui Kalista dan menemui mama Lisa dan Dino, lalu menjelaskan semuanya. Walau bagaimanapun Arka merasa harus meminta maaf pada Dino karena sudah menjebloskan ayahnya ke penjara. Arka tahu itu memang pantas untuk Marcelino, namun anak mana sih yang sanggup berkata tidak apa-apa ketika melihat ayahnya di giring pihak berwajib?
Arka juga sempat membaca beberapa berita dari ponselnya, kini hastag #kejutanbesararkauntukistri #arkamengalahkanmarcelino #terungkapidentitasmarcelino menjadi ramai di laman Twitter, dan ada beberapa hastag lain juga. Hampir semua media televisi menanyangkan berita tentang Arka dan Marcelino hari ini, lagi dan lagi Arka kembali menjadi buah bibir masyarakat.
Saham perusaan kembali stabil, dan seperti biasa "Akan ada pelangi, setelah badai berlalu" yes, that right! Arka yang merasakan sakit di punggungnya dan tangannya karena di tabrak oleh orang suruhan Marcelino, Arka yang lumayan cukup pusing beberapa hari yang lalu karena saham perusaan benar-benar anjlok karena ulah Marcelino. Dan kini, saham kembali stabil dan banyak pula investor yang kembali menanam saham, bukan hanya investor lama kali ini investor baru juga malah semakin banyak. Pelangi itu benar-benar datang setelah badai.
Arka benar-benar sibuk hari ini, berkas dan dokumen yang menggunung di meja kerjanya yang memerlukan tanda datangannya. Andy dan Gina juga cukup sibuk, karena Arka benar-benar membagi tugas dengan mereka.
Baru setengah dokumen yang berhasil Arka tandatangani, tapi tangannya sudah mulai pegal. Pandangannya sudah lelah menatap dokumen dan berkas-berkas itu. Arka merentangkan kedua tangannya, berusaha meregangkan otot-ototnya yang kaku. Berjalan ke arah jendela, sesekali manik matanya memandang keluar, hanya memastikan bahwa bumi ini masih berputar pada porosnya. Berusaha menghirup udara dari balik jendelanya, sebenarnya Arka tahu udara di jam-jam segini sudah tercampur polusi.
Tangannya sibuk meraba saku celana dan saku jas. Mencari benda pipih yang biasanya ada di balik saku itu.
"Andy, ponsel gue ketinggalan di mobil ya?" Tanya Arka, tetapi tangannya tetap masih sibuk meraba saku celana dan jasnya.
Andy mengalihkan pandangannya dari komputer yang ada di hadapannya. "Tuh di meja, tadi gue bawain sekalian." Pandangannya kembali fokus pada layar monitor.
Tanpa banyak omong, Arka langsung mengambil benda pipih itu. Sudah hampir dua jam, benda pipih yang bernama ponsel itu berada dalam mode pesawat. Tadi ketika di kantor polisi, Arka sama sekali tidak ingin ada yang menggangu urusannya. Tapi, malah kelupaan sampai sekarang.
Arka mengerutkan keningnya, ada 99 panggilan tidak terjawab, dan ada 248 pesan WhatsApp. Arka sempat bingung, karena biasanya rekan bisnisnya akan menghubunginya ke Gina atau ke nomor kantor. Hanya ada beberapa rekan bisnis yang mempunyai nomor pribadi Arka, itu pun hanya rekan bisnis pria. Kalau rekan bisnis wanita, Arka literally mengarahkan pada Gina atau nomor kantor. Menghindari salah satu upaya pertengkaran rumah tangga, begitulah yang Arka ucapkan.
Begitu Arka cek, ternyata 99 panggilan itu dari Oma dan ayahnya. Merasa tidak enak hati, dan merasa ada yang tidak beres, Arka langsung membaca pesan WhatsApp tersebut.
"Kalista pingsan setelah menonton berita." Arka membulatkan matanya ketika membaca salah satu pesan dari ayahnya. Arka sudah tidak bisa berpikir jernih, dan langsung menyambar kunci mobilnya.
Arka berlari dan langsung masuk ke dalam lift, Arka sudah tidak menghiraukan pertanyaan dari Andy. Arka juga mengabaikan muka Gina yang terlihat bingung. Sekarang yang ada di pikiran Arka hanya Kalista sekarang. Ada rasa takut, cemas, khawatir, dan gelisah. Semuanya bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Bahkan Arka juga mencari jalan alternatif untuk bisa sampai lebih cepat ke rumahnya. Pikirannya kacau dan selalu tertuju ke Kalista. Tidak berselang lama mobil telah sampai di depan kediaman Anggara, bahkan Arka tidak sabar menunggu pak satpam membukakan pintu gerbang. Mobilnya di tinggal begitu saja di depan gerbang, Arka langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Istri aku mana?" Arka berteriak sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Beberapa pelayan langsung menghampiri dan memberitahukan di mana Kalista berada.
"Jangan berisik, istri kamu baru saja tidur." Oma menghentikan langkah Arka, telunjuk Oma menempel di bibirnya, mengisyaratkan agar Arka jangan berisik.
"Kok bisa istri Arka pingsan? Kan Arka sudah bilang, Kalista jangan sampai menonton berita ataupun membaca berita. Arka sudah mewanti-wanti kan sama Oma, sama ayah, dan semua pelayan juga. Harusnya Oma jagain Kalista dong, kan Oma juga tahu Kalista itu sedang mengandung." Arka berbicara sangat cepat tanpa jeda, tapi lebih pantas di bilang menggerutu di banding berbicara.
Pak Anggara langsung menarik Arka untuk duduk di sofa. Memberikan Arka segelas air mineral, karena pak Anggara tahu bagaimana kalutnya Arka sekarang.
"Kita semua juga sudah wanti-wanti, bahkan kita mengumpatkan ponsel Kalista. Tapi, kita kecolongan. Tiba-tiba Kalista pingsan, layar televisi sedang menampilkan berita itu. Kita juga nggak tahu persis kapan Kalista mengambil jus, Kalista pingsan bersama dengan pecahnya gelas jus di tangannya." Pak Anggara menjelaskan secara pelan-pelan.
"Kakinya luka? Atau apanya yang luka? Kandungannya gimana?" Arka berkata gusar, kepanikan semakin terlihat jelas di wajahnya.
"Alhamdulilah nggak ada yang luka, kandungannya juga baik-baik saja. Kalista pingsannya ke sofa, coba kalau pingsannya ke lantai, sudah beda lagi ceritanya. Kita sudah manggil dokter, kalista cuma shock menyaksikan berita tersebut. Tadi pingsannya cukup lama, ketika sadar manik matanya kayanya nyari kamu nak. Kamu malah sudah di hubungi." Ucap Oma.
"Alhamdulilah." Arka menghembuskannya napasnya pelan, tangannya mengusap dadanya.
"Banyak yang harus di urus di kantor kepolisian, di kantor juga lumayan banyak kerjaan. Arka lupa tadi mengaktifkan mode pesawat kelamaan." Arka berkata dengan lirih, kekecewaan menghampirinya.
Arka langsung berjalan masuk ke kamarnya. Istrinya itu sedang tertidur, helaan nafasnya teratur, matanya terlihat bengkak habis menangis. Dengan hati-hati Arka mengecup dahinya, tangannya terus menerus Arka genggam. Arka merasa menyesal karena tidak memberitahukan terlibat dahulu pada Kalista, coba saja kalau Arka memberitahukannya lebih dulu, kejadian ini tidak bakal terjadi. Kejutan besar ini malah membuat Kalista terlihat menderita.
Sudah satu jam lebih Arka menggenggam erat jari jemari Kalista, Arka masih terjaga menunggu Kalista sampai terbangun, Arka tidak ingin ketika Kalista bangun di sampingnya tidak ada siapa-siapa.
Tiba-tiba Arka teringat Andy dan Gina, Arka segera mengabari mereka tentang kepergian Arka yang mendadak. Dan menceritakan semuanya termasuk keadaan Kalista sekarang. Mereka juga mengatakan sore ini akan datang ke rumah untuk menjenguk.
"Aku keingat semuanya, aku ingat ayah dan bunda." Arka kaget setengah mati, karena Arka tidak menyadari Kalista terbangun, Arka masih sibuk mengetikkan beberapa pesan pada Andy. Begitu membuka mata, Kalista langsung terbangun dan segera memeluk Arka dengan sangat erat.
Arka segera menjauhkan ponselnya, dan langsung memeluk Kalista dengan erat juga. Arka berusaha menyalurkan energinya agar Kalista merasa tenang. Kalista terus menerus menangis di pelukan Arka, bahkan air matanya sudah membasahi kemeja yang Arka kenakan. Arka sangat paham dengan kondisi Kalista saat ini, Arka juga bisa merasakan gimana sakit hatinya.
"Maaf." Ujar Arka dengan lirih dan pelan. Tangan Arka masih sibuk mengusap rambut dan punggung Kalista.
Kalista melepaskannya pelukan Arka, punggung tangannya mengusap laju air mata di pipinya. "Ini kan kejutan besar yang kamu maksud? Terimakasih, terimakasih banyak. Ayah sama bunda pasti bangga sama suami aku, suami aku bisa mengadili pelakunya di dunia." Tangisnya kembali pecah, tangannya kembali memeluk Arka dengan erat.
Awalnya Arka sempat was-was takut Kalista menyalahkannya, tapi Kalista malah mengatkan banyak terimakasih padanya.
Menangis dan terus menangis, entah sudah berapa lama? Kali ini Kalista malah kembali tertidur di pelukan Arka. Arka merebahkan badan Kalista dengan sangat hati-hati, takut Kalista terbangun.
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1