
Kalista sedang duduk santai di sofa, sambil menikmati cemilan. Oma tampak sibuk dengan buku di tangannya.
Hari sudah sore, bahkan sudah hampir gelap, malam akan segera datang. Arka belum pulang, tadi pagi sih bilangnya bakalan pulang telat, bakalan lembur karena lagi banyak kerjaan.
Kalista mengambil ponselnya, lalu mengetikkan beberapa kata, pesan itu ia kirim pada suaminya. 10 menit berlalu, namun suaminya itu masih belum membalas pesannya.
Tiba-tiba hujan sangat deras, langit terbelah berwarna oranye seperti api yang berkobar, itu di sebabkan oleh petir yang sangat menggelegar dan menyala-nyala. Kalista duduk di sofa, kemudian melihat keluar dari balik kaca. Hujan masih deras, namun Arka tak kunjung pulang. Hatinya mulai cemas, duduknya sudah gelisah. Kalista bolak-balik dari ruang tamu menuju ruang makan, sesekali berdiri di depan pintu utama.
"Nggak usah cemas, mungkin Arka masih di kantor. Ini kan hujan deras, biasnya signal suka jelek." Oma menuntun Kalista agar kembali duduk di sofa.
"Nanti juga kalau udah reda Arka bakalan pulang, tenangkan pikiranmu nak." Ucap pak Anggara sambil menyentuh bahu Kalista.
Kalista hanya mengangguk saja, bagaimana mungkin bisa tenang? Hujan deras disertai petir yang menyala-nyala, dan suaminya belum pulang.
"Permisi nyonya, ayam rica-rica yang nyonya mau sudah matang." Ucap salah satu pelayan bagian dapur.
"Makasih ya, nanti saya makan." Ujar Kalista, pandangannya masih saja tidak teralihkan dari kaca yang menembus ke luar rumah.
Oma dan pak Anggara saling pandang, mereka cukup kesulitan menenangkan Kalista. Kalista yang menyadari sedang di tatap oleh Oma dan pak Anggara, kini dirinya memaksakan diri untuk tersenyum. Tujuannya agar Oma dan pak Anggara tidak khawatir padanya.
Setelah menunggu hampir 30 menit, akhirnya terdengar suara klakson mobil dari halaman depan. Kalista langsung berlari dan segera keluar, menghampiri suaminya.
Arka keluar dari dalam mobil, bajunya basah kuyup. Rambutnya berantakan, dan badannya menggigil karena kedinginan.
"Kok basah kuyup?" Kalista mengelap rambut Arka dengan handuk, lalu mengelap badannya.
"Tadi mogok, jadi ku dorong sama pak Jaka." Ucap Arka, mukanya tampak pucat karena kehujanan dan kedinginan.
"Cepat mandi! Istrimu belum makan karena sibuk mencemaskanmu." Kata pak Anggara.
"Kenapa belum makan? Nanti anak kita kelaparan loh." Arka mengusap lembut pipi Kalista.
Kalista segera mengajak Arka untuk masuk, menyuruhnya mandi dengan air hangat. Piyama tidur beserta pakaian dalam suaminya telah Kalista siapkan, semuanya telah tersedia diatas kasur.
Setelah selesai mandi, Arka keluar dan masih menggunakan handuk. Arka memakai pakaiannya di depan Kalista, Arka sih tampak biasa-biasa saja, tapi beda dengan Kalista yang tampak sangat dag dig dug melihat tubuh kekar atletis milik suaminya itu.
Kalista memakaikan baju tebal yang hangat pada tubuh Arka, kemudian mengoleskan minyak kayu putih pada perut dan leher Arka. Sekarang Arka merasa hangat, dan ada aroma segar dari kayu putih.
Sepersekian detik berikutnya Arka memandang wajah istrinya, putih bersih dan terlihat sangat cantik. Sangat cantik? Ya, akhir-akhir ini istrinya terlihat sangat cantik, aura calon seorang ibu memang beda. Arka mengecup kening Kalista. Menggandeng tangan Kalista menuju meja makan, disana Oma dan pak Anggara telah menunggu.
Kalista mengambil makan ke piring Arka, begitu pula ke piring Oma dan pak Anggara. Mereka semua tampak menikmati makan malamnya itu, entah ada apa dengan Kalista? Malam ini Kalista terlihat sangat memanjakan Arka, bahkan Arka makan pun di suapi oleh Kalista.
Oma dan pak Anggara tersenyum melihat menantunya yang sangat memanjakan putranya, pasalnya putranya itu sudah lama tidak membuka hati untuk wanita, dan bahkan pernah berpikiran untuk tidak menikah. Tetapi Allah kirimkan Kalista untuk mendampingi hidupnya, gadis sederhana yang berpendidikan tinggi, mempunyai hati sangat lembut. Tentu saja Oma dan pak Anggara merasa bahagia, akhirnya Arka bisa tersenyum lepas, bisa bergembira dan bahkan tahun ini akan mempunyai anak dari rahim perempuan hebat.
Makan malam telah selesai, mereka semua kembali ke kamarnya masing-masing.
Begitu sampai di kamar, Arka segera merebahkan tubuhnya diatas kasur. Memandang langit-langit kamarnya, kemudian tersenyum melihat istrinya sedang menyodorkan segelas air putih dan tolak angin.
"Minum, takutnya nanti suamiku malah masuk angin." Tanpa banyak bicara, Arka segera meminumnya.
Arka kembali merebahkan tubuhnya di kasur, kini sampai menarik selimut juga. Kalista yang berada di sampingnya hanya memandanginya saja. "Masih dingin ya?" Tanya Kalista. Arka mengangguk seraya tersenyum, namun sayang ukiran senyum itu tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.
Kalista memeluk Arka sangat erat, pria yang tadi sore sangat di cemasksnnya itu sedang berbaring kedinginan dengan wajah pucatnya. Arka mengusap lembut rambut Kalista "Nanti kalau misalkan aku pulang telat lagi, kamu makan duluan ya! Jangan nunggu aku, aku nggak mau loh istri dan anakku kelaparan." Ucap Arka, kini suaranya serak dan sedikit melemah.
Kalista memandang Arka, tatapan Kalista berubah menjadi sendu, suami terkasihnya itu seperti sedang tidak enak badan akibat kehujanan. "Hujan deras dengan petir yang menyala-nyala, suamiku belum pulang dan tidak ada kabar, kamu pikir aku masih bisa makan? Bahkan anak di perutku saja mengerti." Ucap Kalista dengan wajah cemberut.
Arka menatap Kalista gemas, tersenyum hangat. "Terimakasih sudah mencemaskanku, terimakasih sudah menjadi yang pengertian, maaf ya nak kamu makannya jadi terlambat." Usapan pelan dan perlahan di perut Kalista, lalu ada sebuah pergerakan dari si kecil di dalam sana.
Waktu terus berputar, rintik hujan masih terdengar dari luar. Kalista sudah memejamkan matanya lebih dulu, Arka masih setia memandang langit-langit kamar berteman sunyi. Hati dan pikirannya melayang mundur ke waktu tadi sore. Ketika hendak pulang tiba-tiba di jalan ban mobilnya kempes. Arka dan pak Jaka langsung keluar, tapi tepat ketika Arka keluar satu peluru hampir mengenai badannya. Beruntung semesta masih berbaik hati padanya, menyelamatkan hidupnya dengan mendatangkan orang-orang baik yang tadi sore membantu mendorong mobilnya sampai ke bengkel.
Arka tidak mungkin menceritakannya pada Kalista, Kalista sedang mengandung, lagi pula Kalista kan orangnya panikan. Bukan tidak mau Kalista mencemaskannya, namun cemas yang berlebihan tidak baik juga untuk kandungannya. Mata Arka mulai lelah, dia tertidur sambil memeluk istri tercintanya.
Satu jam, dua jam, tiga jam waktu telah terlewati oleh mata terpejam. Kalista menggeliat karena pelukan suaminya terasa panas. Kalista terbangun, kepalanya terasa sakit karena baru tertidur 3 jam. Tidak sengaja siku Kalista mengenai tangan sang suami, tangannya terasa panas. Kalista langsung bangun dan menyentuh dahi suaminya, Arka demam.
Kalista melirik jam dinding, baru pukul 01:00 pagi. Kalista mengambil air es dan handuk kecil untuk mengkompres dahi suaminya. Ini sudah malam, para pelayan pun pasti sedang terlelap, Kalista tidak tega untuk membangunkan salah satu dari pelayan.
Kalista berjalan mengendap-endap menuju dapur, membuat bubur untuk suaminya, lalu mencari obat demam di kotak obat.
"Bangun." Kalista membangunkan Arka dengan tepukan lembut.
Arka mengerjapkan matanya, mengucek kedua bola matanya. Lalu menyentuh dahinya yang terdapat handuk kecil. Arka ingin bangun, namun kepalanya terasa sangat berat dan pusing.
Arka bagaikan anak kecil yang sedang demam, terbaring lemah di ranjang sambil di suapi bubur. Bedanya, kalau anak kecil di suapi oleh mamanya nah yang ini di suapi oleh istrinya. Setelah makan bubur, Arka langsung minum obat.
__ADS_1
"Makasih." Arka menggenggam tangan Kalista dan mencoba tersenyum.
Malam itu Kalista terjaga dari tidurnya, bahkan dirinya menarik kursi ke sebelah ranjang. Menemani Arka yang sedang demam, jika handuk kompresan telah kering dengan sigap Kalista langsung mencelupkan kedalam air es. Itulah yang Kalista lakukan, hingga dirinya tertidur sambil memeluk Arka.
*****
Kini usia kandungan Kalista sudah memasuki 12 minggu atau 3 bulan. Perutnya sudah kelihatan timbul membesar, bahkan banyak sekali yang mengira Kalista hamil 5 bulan. Karena perutnya terlihat lebih besar untuk ukuran orang hamil 3 bulan.
Hari ini Kalista akan periksa kandungan, Arka selalu menemaninya. Sekalian memang ada yang ingin Arka tanyakan, sebenarnya mau di tanyain ketika periksa kandungan yang ke-2 kalinya, namun waktu itu Arka kelupaan.
Kalista mengenakan dress bumil berwarna hijau tosca dengan motif garis-garis, memakai flatshoes hitam, touch up make up natural, dan mengikat rambutnya menjadi satu.
Arka mengenakan stelan kantor, soalnya setelah menemani Kalista periksa kandungan, Arka akan langsung berangkat ke kantor.
"Makan dulu nak." Oma menghentikan langkah Arka dan Kalista.
"Mau?" Arka bertanya pada Kalista, Kalista hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kenapa nggak mau makan neng?" Seru ibu kost. Ibu kost? Ya, semenjak tahu Kalista hamil ibu kost sering menginap di rumah pak Anggara. Arka merasa senang ibu kost sering menginap, karena Oma jadi punya teman untuk mengobrol.
"Mau makan di luar hehe." Kalista memamerkan seluruh deretan giginya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan." Ujar pak Anggara.
Kalista menatap heran, cuma mau ke RS periksa kandungan saja, mengapa harus banyak mobil yang mengantar? Kalista merasa dikawal oleh para body guard.
Kini tatapan Kalista berpindah ke Arka, di tatapnya suaminya itu. Ternyata suaminya cukup peka, dia mengetahui apa yang di pikirkan Kalista. "Aku yang nyuruh, semakin banyak yang menjaga kan semakin bagus, lagian aku takut kamu kenapa-napa hehe." Arka mencoba menjelaskan semampunya, disertai senyuman sambil memijit-mijit pelipisnya. Arka tahu bahwa istrinya tidak akan puas dengan jawabannya barusan, istrinya selalu ingin jawaban yang logis.
"Ini tuh kebanyakan tahu! Kaya mau ngawal presiden aja." Sarkas Kalista.
"Presiden doang mah lewat, ini sih jelas banget mau ngawal nyonya Arka. Si wanita cantik, hebat dan pintar yang sedang mengandung anakku." Arka mencium Kalista sekilas, lalu menyuruhnya masuk ke dalam mobil.
2 mobil melaju lebih dulu, kemudian mobil yang di tumpangi oleh Arka dan kalista melaju, lalu di belakang pun masih ada 3 mobil yang mengikuti. Kalista merasa benar-benar sedang di kawal.
Banyak sekali pertanyaan di benak Kalista, namun ia urungkan untuk bertanya, karena jawaban suaminya selalu sama, yaitu demi keselamatan.
Semenjak mengetahui rencana Marcelino, Arka selalu merasa khawatir akan keselamatan Kalista. Bahkan beberapa waktu lalu diam-diam Arka menyuruh orang untuk memodifikasi seluruh flatshoes milik Kalista. Arka memasang GPS di flatshoes itu, agar Arka dapat memantau keberadaan Kalista. Memang selama ini Kalista selalu berada di dekatnya, tapi kan tidak ada salahnya juga mengantisipasi.
"Hii, are you okey?" Kalista mencolek dagu Arka, selama dalam perjalanan Arka melamun, sibuk dengan pikirannya yang terbagi antara kerjaan dan istrinya.
"Eh ada apaan?" Arka menjawab gelagapan, karena ketahuan melamun.
"Udah sampai loh, ayah nggak mau turun?"
Arka membelalakan matanya, Kalista menyebutnya ayah, sehingga Arka menjadi sumringah. Lalu ia pun turun dan segera menggandeng tangan Kalista. Berjalan menuju ruangan KIA.
Arka dan Kalista langsung masuk begitu saja, tidak ikut mengantri di ruang tunggu. Karena Arka telah memberitahukan dokter Fani, akan periksa kandungan hari ini, jadi dokter Fani telah mengambilkan nomor antriannya jauh sebelum orang-orang yang berada di ruang tunggu itu datang.
Dokter Fani memeriksa kandungan Kalista, menyentuh perut Kalista berkali-kali, pemeriksaan itu berlangsung selama 15 menit. Mulai dari cek tekanan darah dan lain-lain.
"Semuanya nampak normal, janinnya juga sehat dan aktif. Vitamin sama susu bumil jangan sampai nggak di minum." Ujar dokter Fani yang telah selesai memeriksa kandungan Kalista, dan memberikan beberapa butir vitamin tambahan pada Kalista.
"Sebenarnya ada yang pengen saya tanyain dok." Ujar Arka, wajahnya sudah bersemu merah menahan malu, karena pertanyaannya pasti akan di tertawaan oleh dokter Rian.
Dokter Rian memang ada di ruangan ini, hanya untuk mengetahui kondisi kandungan Kalista, karena bagaimana pun Kalista sudah dianggap sebagai adiknya. Dan janin di perut Kalista dianggap keponakannya.
"Tanya aja!" Jawab dokter Fani.
"Sekarang kan usia kandungan istri saya sudah masuk 12 minggu atau 3 bulan. Sudah boleh nggak sih kalau melakukan aktifitas ranjang?" Pertanyaan ambigu yang keluar dari mulut Arka cukup membuat dokter Rian tertawa terbahak-bahak. Dokter Fani menatap Arka dengan senyum meledek.
"Emang selama ini Kalista nggak di sentuh?" Dokter Fani bertanya, tawanya hampir saja meledak, namun ia tahan.
"Nggak, kan katanya nggak boleh di melakukan aktifitas ranjang selama usia kandungannya belum diatas 5 bulan." Ucap Arka datar.
"Hahaha" dokter Rian tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai sakit perut. Dokter Fani pun tak kalah kencangnya mentertawakan Arka.
"Ih ada apaan sih? Kenapa pada ketawa?" Ujar Kalista sambil memperhatikan dokter Rian dan dokter Fani yang tertawa tak henti-hentinya.
Feeling Arka berkata bahwa dirinya sedang di permainkan. "Awas aja kalau gue sampai di permainkan." Batinnya.
Tidak berselang lama, munculah dokter Rey. "Ada apaan? Kok pada ketawa?" Katanya sambil menutup kembali pintu ruangan KIA.
"Ini loh Rey, dia nggak sentuh istrinya dari pas periksa kandungan pertama." Ledek Fani sambil terkekeh.
__ADS_1
"Mau aja lu di bohongin." Dokter Rey pun tak mau kalah, dia pun ikut mentertawakan Arka.
"Boleh kok, tapi pelan-pelan! Jangan sampai janinnya terguncang." Ujar dokter Rey sambil menepuk bahu Arka.
"Hebat banget hampir 2 bulan tahan godaan, punya bini cakep macam ini, seksi pula. Gila nggak sih, gue nggak bisa membayangkan gimana tersiksanya diri lu harus menahan diri." Ucap dokter Rian yang masih saja tertawa.
"Wah parah! Kalian dokter macam apa sih? Sampai ngelanggar kode etik seorang dokter? Becanda? Nggak kaya gini caranya!" Sengit Arka, lalu menggandeng tangan Kalista keluar dari ruangan tersebut.
Wajar saja Arka marah, hampir dua bulan ini dirinya selalu menahan diri agar tidak menyentuh Kalista. Bisa di bayangkan bagaimana dirinya tersiksa harus mandi malam hari? Tanpa Arka sadari dirinya menggandeng tangan Kalista sangat erat dan jalannya pun terburu-buru.
Langkah Kalista tertatih-tatih, Kalista kesulitan mengimbangi langkah Arka, bahkan napasnya sampai ngos-ngosan.
"Perut aku sakit." Kalista meringis, sebenarnya perut Kalista sama sekali tidak sakit, ini hanya akal-akalannya agar Arka segera menghentikan langkahnya.
"Mana yang sakit? Perlu di periksa lagi nggak?" Arka langsung menghentikan langkahnya dan langsung menyentuh perut Kalista.
Kalista menggelengkan kepalanya, napasnya masih tersenggal-senggal. "Jalannya pelan-pelan, aku cape!" Ucap Kalista.
Tanpa banyak omong Arka langsung menggendong Kalista sampai ke dalam mobil. Banyak orang yang memperhatikannya, bahkan sebagian orang menatap iri pada Kalista.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Arka memejamkan matanya. Rasa kesal masih menguasai dirinya.
"Gitu doang masa marah? Ada benarnya juga loh mereka melarang kita melakukan itu, kan kamu tahu sendiri. Kalau urusan ranjang kamu mana paham pelan-pelan." Kalista berbisik di telinga Arka.
"Becandaan mereka nggak lucu! Coba aja kalau mereka bilang boleh asalkan pelan-pelan! Aku juga bakalan nurut dan pelan-pelan!" Arka mendesah pasrah, hampir dua bulan dirinya tidak mendapatkan haknya.
"Harus banget gitu marah-marah? Tenang hati dan pikiranmu, aku milikmu! Kapan pun kamu mau, aku pasti akan memberikannya." Kalista mengecup pelan pipi Arka.
"Tahu nggak? sikap kamu yang seperti tadi malah semakin mendeskripsikan bahwa kamu kehausan! Mas-nya kenapa sih? Ngebet banget ya?" Ledek Kalista sambil terkekeh, mereka masih berbisik-bisik karena ini di dalam mobil, dan ada pak Jaka yang sedang mengemudi. Bahaya dong nanti pak jaka nguping.
"Iya haus banget, punya istri cantik dan menggoda. Yakali harus di anggurin."
Arka menggenggam tangan Kalista, dan Kalista pun menyenderkan kepalanya di bahu Arka. Perjalan dari RS ke kantor lumayan memakan waktu, karena mobil melaju dengan kecepatan rendah atas permintaan Kalista.
Tiba-tiba Kalista melepaskan genggaman tangan Arka, mengeluarkan make up dari dalam tasnya, kemudian men-touch up make up ke wajahnya. Arka mengernyitkan dahinya, pandangan matanya tertuju pada sang istri tercinta.
"Apa ngeliatin? Aku tuh harus tampil cantik di depan semua karyawan kantor. Yakali nyonya Arka tidak cantik!"
"Nyonya Arka selalu terlihat cantik, dengan make up maupun tanpa make up. Aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu, tidak peduli kamu memakai lipstik merah, lipstik pink, maupun tanpa lipstik sekalipun. Yang penting enak aja di jadikan teman tidur." Arka tersenyum menyeringai, lalu mencubit pelan hidung Kalista.
"Gombal dan mesum." Kalista menjulurkan lidahnya pada Arka, mencubit pelan pinggang Arka hingga Arka meringis.
Entah mahkluk apa yang sedang menari-nari di sekitaran kepala Kalista, sehingga Kalista mempunyai ide untuk mengerjai suaminya itu. Kalista menatap Arka dengan senyuman manis, tangannya di tempelkan ke pipi Arka, sehingga pipi Arka terlungkup di tangan Kalista.
Mengusap lembut pipi Arka, memeluknya sebentar. Kemudian jari-jari lentiknya bermain di sekitar dada Arka. Mengusap pelan lalu membuka kancing-kancing kemeja Arka.
Arka menatap heran, namun ada rasa senang juga. Karena sudah lama istrinya tidak memanjakannya, satu hal yang harus kalian tahu! Arka sangat menyukai sentuhan jari-jari lentik milik istrinya di dada bidangnya.
Tiba-tiba Kalista menghentikan aksinya, dan memasukkan kancing itu kembali pada lubangnya. Dengan pandangan mata genit, disertai satu kedipin, Kalista langsung menyenderkan kembali kepalanya.
"Lanjutin dong! Aku suka!" Arka memegang bahu Kalista, kini mereka berhadapan.
Kalista menatap Arka dengan seringai, sepertinya suaminya itu sudah masuk ke mode on. " Pak Jaka Arka mesum nih pak." Ujar Kalista melapor pada pak Jaka.
Pak Jaka tidak berani menanggapinya, dia hanya tersenyum saja sambil fokus mengemudi.
"Kok jadi bilang sama pak Jaka sih?" Arka mencubit pipi istrinya gemas, kalau saja nggak ada pak Jaka mungkin Arka sudah melahap bibir mungil milik istrinya itu.
"Kalau tuan dan nyonya ada yang harus dilakukan? Saya bisa keluar sebentar kok pak." Sontak ucapan pak Jaka membuat senyum seringai Arka muncul.
"Tuh gimana? Ayo!" Arka semakin menggoda istrinya.
"Jalan aja pak! Nggak usah di dengerin suami saya mah!" Ketus Kalista.
Arka malah semakin terkekeh melihat tingkah istrinya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit! Boleh minta vote nggak sih? Yang punya koin atau point boleh lah di sumbangin hehe😂 Terimakasih🤗❤
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1