SUN FLOWER

SUN FLOWER
PERLENGKAPAN BAYI


__ADS_3

"Gue ke kantor nanti menjelang sore, handle semua pekerjaan kantor." Arka menempelkan ponsel di telinganya. Tangannya sibuk menyingkap gorden kamarnya.


"Kok menjelang sore? Ada apaan sih? Atau mau kemana gitu?" Tanya Andy di sebrang telepon.


"Kepo lu!" Arka mendelikkan matanya jengah.


"Gue mau belanja kebutuhan bayi! Tapi nggak tahu lama atau nggak nya, nanti kalau misalkan jam 14:00 WIB gue belum datang juga, berarti gue nggak ke kantor." Imbuhnya lagi.


"Emang sebanyak apa sih kebutuhan bayi? Harus berjam-jam gitu ya?" Ucapnya dari sebrang telepon itu terdengar sangat penasaran.


"Percuma lu nanya, lu nggak bakal paham! Kebutuhannya tuh banyak banget, mulai dari popok, baju, celana, belum lagi gendongan bayi, stroller, banyak deh udah di list sama bini gue."


"Handle semua kerjaan kantor!" Arka langsung memutus sambungan telepon itu, tanpa memberikan waktu untuk Andy berbicara.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Munculah sesosok wanita cantik mengenakan piyama yang sudah hampir nggak muat karena terhalang perut buncit. Wajahnya tetap cantik walau tanpa polesan make up sedikit pun. Di kepalanya melilit satu buah handuk yang di gunakan untuk melilit rambutnya agar cepat kering.


"Telponan sama siapa?" Tanyanya seraya berjalan menuju lemari, mengambil dress rumahan berwarna grey.


"Sama mantan terindah." Jawab Arka sekenanya, Arka memperhatikan ekspresi wajah Kalista dan sangat ingin mengerjai istrinya itu.


Tetapi Kalista malah terkekeh, ekspresinya tidak seperti apa yang Arka inginkan. "Lucu ya mantan terindah, emangnya di penjara boleh telponan dengan bebas dan santai? Kalau mau berbohong pintar sedikit dong pak suami." Cibir Kalista yang baru selesai mengenakan pakaiannya.


"Duh istriku pintarnya kebangetan." Arka berjalan mendekat. Memeluk Kalista, lalu mencium tenguknya.


Rutinitas setelah menikah adalah Arka selalu membantu mengeringkan rambut Kalista. Tapi kalau sempat saja sih, soalnya terkadang Arka harus berangkat ngantor pagi-pagi, atau Kalista sengaja bangun siang. Kalista tidak memintanya, namun ini inisiatif Arka sendiri.


Arka sedang membantu mengeringkan rambut, Kalista sendiri malah sibuk merias wajahnya. Kirain cuma pas hamil trimester pertama saja Kalista jadi hobi dandan, taunya sekarang sudah usia 7 bulan saja Kalista masih sering banget memoles wajahnya, bersolek di depan cermin mempercantik wajahnya padahal aslinya saja memang sudah cantik.


"Udah cantik banget kok." Mata Arka tertuju pada pantulan cermin yang memperlihatkan Kalista sedang memoleskan eyeshadow berwarna nude.


"Yuk sarapan dulu." Ajak Arka langsung menggandeng tangan Kalista menuju meja makan.


"Tapi nanti makan di luar ya!" Pintanya, Kalista merajuk manja pada Arka.


"Iya." Di iyain aja dulu, biar nggak bawel. Urusan sama cewe kadang meribetkan. Menurut kalian Kalista gimana? Dewasa nggak? Dewasa ya, tapi kadang masih ada sisi dalam dirinya yang masih terlihat kekanakan. Arka sih mewajarkan, karena secara usia pun Kalista memang baru berusia 22 tahun.


Sudah beberapa minggu ini Kalista mengeluarkan sifat manjanya. Sarapan pun harus Arka yang mengambilkan nasi goreng ke piringnya, belum lagi nanti minta telur mata sapi dan sosis bakar buatan Arka. Seharusnya kan seorang istri melayani suami, bukan suami melayani istri. Tapi, lagi dan lagi Arka tidak mempermasalahkan, rasa sayang dan cintanya pada Kalista begitu besar. Lagi pula Arka menurutinya, karena takut bayi kembarnya ngeces nanti.


"Nggak ngantor nak?" Tanya pak Anggara yang baru saja menghabiskan nasi goreng di piringnya.


"Nggak yah, mau beli segala kebutuhan bayi. Tapi kalau keburu sih nanti sorean mau ke kantor." Ucapan Arka terdengar tidak jelas, karena mulutnya penuh dengan nasi goreng.


"Oma mau ikut boleh nggak?" Mata Oma berbinar, ada cahaya hangat dari sorot matanya. Oma sudah menantikan cicit kesayangannya sejak lama, maka dari itu Oma ingin sekali menemani Kalista dan Arka berbelanja kebutuhan bayi.


"Boleh." Jawab Kalista singkat. Manik matanya sibuk menatap nasi goreng plus telor mata sapi.


"Hari ini izin cuti saja, tidak usah ke kantor. Jagain dua wanita ini, ayah nitip loh jangan sampai ada yang terluka sedikitpun."


"Siap."


Lalu pak Anggara pamit terlebih dahulu, ada rekan bisnisnya yang sudah menunggunya.


Oma pergi ke kamar, berbenah diri karena mau ikut berbelanja.


"Kamar bayi kan sudah jadi, mau lihat nggak." Tawar Arka.


"Mau."


Lalu Arka menuntun Kalista menaiki tangga, kamar bayi mereka terletak di lantai dua. Tepat bersebelahan dengan kamar Arka. Arka sengaja memilih kamar itu, karena dekat dengan kamarnya. Jadi nanti ketika mereka terbangun tengah malam, akan kedengaran suaranya. Lagi pula kamar itu biasanya kosong, hanya di isi oleh beberapa barang punya Arka.


"Lihat nih keren banget loh kamarnya." Arka bersiap membuka pintu kamar.


Manik mata Kalista berbinar melihat kamar untuk bayi kembarnya itu. Ukuran kamar ini begitu besar, apalagi yang menempatinya cuma bayi. Di sisi sebalah kanan di cat perpaduan warna mint dan pink, di sisi kiri di cat perpaduan abu dan putih.


"Kok beda gini sih?" Alisnya mengernyit, dan bertanya pada Arka. Satu ruangan kenapa harus berbeda cat.


Arka tersenyum, kemudian mengelus perut Kalista. "Di perut ini ada dua bayi berbeda jenis kelamin, nggak mungkin dong yang laki-laki di kasih warna pink. Maka dari itu harus di bedakan." Mengecup sebentar perut itu kemudian tersenyum seraya mendongakkan kepalanya.


"Mereka kan masih bayi, jadi kamarnya satu untuk berdua. Kalau di pisah-pisah nanti kamu kerepotan sayang. Lagipula kalau mereka sudah besar kan kamarnya bakalan di pisah, mereka pun bisa milih ingin cat warna apa? Atau memakai tema apa untuk kamarnya? Pokonya nanti gede dikit aja bakalan repot deh ngurusin dua bocah kembar ini." Imbuhnya lagi, Arka berusaha mencoba menjelaskan semuanya pada Kalista.


"Hmmmmm iya juga sih." Kalista menghembuskan napas pelan. "Apa nggak kegedean nih kamar?" Tanyanya lagi, manik matanya menatap setiap sudut di kamar ini.


"Justru menurut aku ini kurang gede! Kan nanti diisi box tidur, lemari, segala macam mainan, dan lain sebagainya." Ucap Arka sambil mengusap pelan pipi Kalista.


"Menurutku ini masih kegedean!" Dipikiran Kalista ini tetap kegedean, kamar super luas begini cuma diisiin box tidur, lemari, sama mainan doang? Tetap saja masih banyak ruang tersisa.


"Nggak sayang, kan nanti aku mau bikinin tempat bermain juga disini." Ucap Arka.


Klek, suara pintu terbuka. Munculah wajah Oma di sana. "Wah bagus nih kamarnya." Oma menatap semua sudut kamar dengan mata berbinar.


"Iya dong, ide Arka nih. Arka juga loh yang pilih warnanya." Arka berbicara dengan sedikit menyombongkan dirinya.


"Gitu aja sombong! Udah ah ayo berangkat." Kalista menarik tangan Arka.


"Gendong aku di tangganya bisa nggak?" Kalista merajuk manja sambil mengalungkan tangannya di leher Arka.


"Nggak mau berat, kamu gendut." Arka melepaskan tangan Kalista dari lehernya.


"Menyebalkan." Wajahnya itu berubah masam, bibirnya manyun. Kemudian menyeret langkahnya dengan sangat cepat mendahului Arka.


Arka hanya tersenyum melihatnya, Oma malah menggeleng-gelengkan kepalanya.


Arka bergerak maju, dan memeluk Kalista dari belakang. "Aku memang nggak mau gendong kamu di tangga, karena itu berbahaya. Kalau sampai terjatuh gimana coba? Membayangkannya saja aku tak sanggup, apalagi harus kehilangan si kembar dan kamu, nanti separuh jiwaku menghilang." Menjelaskan dengan sangat lembut.


Kalista berpikir sejenak, memang benar apa yang di katakan suaminya itu. Menggendong dirinya di tangga? Termasuk dalam kategori membahayakan nyawa. "Tetap saja kamu menyebalkan." Menepis tangan Arka yang melingkar di perutnya, Kalista merasa sebal karena di katakan gendut.


"Aku menyebalkan kaya gimana sih?"


"Pikir sendiri!"

__ADS_1


Arka tersenyum miring, kemudian mencolek dagu Kalista seraya menggodanya. "Marah karena di bilang gendut? Ibu hamil kan memang gendut, lantas mau di bilang apa? Kurus gitu kaya papan triplek?" Tanyanya dengan tawa renyah.


Arka emang hobi banget sih mengerjai istrinya, sudah tahu semenjak hamil istrinya sensitif banget. Mudah ngambek dan cemburu.


"Manyun aja terus, kaya Donal bebek. Apa jangan-jangan minta di cium nih? Wah mantap nih, durasinya mau berapa menit? Jangan lama-lama ya nanti bibir kamu dower." Alih-alih bukannya meminta maaf, Arka malah semakin meledek Kalista.


"Malesin!"


Berjalan dengan sangat cepat, kemduain masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Biasanya Kalista selalu duduk di sebelah Arka. Namun kali ini Kalista lebih memilih duduk di sebelah Oma. Arka yang menyetir, memang bisanya juga seperti ini. Hanya urusan pekerjaan saja Arka menggunakan supir.


*****


Masuk ke sebuah pusat perbelanjaan yang khusus menjual perlengkapan bayi. Mulai dari popok, baju, celana. Dan bahkan box tidur, stroller, tempat makan bayi, dan lain sebagainya.


Karena ini khusus untuk bayi, jadi pengunjungnya pun rata-rata para bumil dan mama muda yang baru melahirkan. Pusat perbelanjaan ini cukup besar dan megah, bahkan sangat ramai sekali.


"Kita mau nyari apa dulu nih?" Tanya Arka, karena Arka bingung harus membeli apa terlebih dahulu, dan bahkan dia nggak punya list akan beli apa saja.


Kalista berdecak sebal, suaminya itu apa sama sekali tidak ada niatan untuk Googling perihal apa saja kebutuhan bayi? Dasar pria hanya tahu menabur benihnya saja! Kalista semakin malas menanggapi Arka, persoalan tadi di rumah juga belum meminta maaf.


"Ya ampun nak, kamu kan sudah mau menjadi ayah. Jangan sampai kamu nggak tahu apa saja yang di butuhkan oleh bayi menjelang lahir." Oma menjewer telinga Arka pelan.


"Iya-iya! Sekarang gini deh Oma sama istriku beli semua kebutuhan untuk si bayi cantik, dan aku akan membeli semua kebutuhan si bayi jagoan." Arka mencoba mengatur, atau dalam kata lain sih mencoba membagi tugas.


Langkah Arka semakin menjauh, Kalista memperhatikannya. Menatap punggung lebar yang kini semakin menghilang. Ada rasa takut dan cemas menyusup di dada Kalista, Arka hari ini berpakaian sederhana. Kaos hitam polos, dan celana pendek, bahkan alas kakinya hanya sandal jepit biasa. Tapi emang dasar wajahnya udah cakep dari lahir, dengan pakaian kaya gitu saja ketampanannya nggak luntur. Bahkan pakaian itu terlihat mewah hanya karena melekat di badan Arka. Yang membuat Kalista takut adalah, takut Arka di godain wanita lain, apalagi spg-spg disini pakaiannya serba minim, bodynya ramping.


"Nak." Oma menepuk pundak Kalista.


"Ah iya Oma." Kalista beejingkat kaget, karena dia melamun dan memikirkan Arka.


"Ayo mau beli apa dulu?" Ajak Oma.


Kalista dan Oma langsung memilah dan memilih baju untuk bayi. Kalista benar-benar detail banget dalam memilih baju, selain memilih bahan yang nyaman, Kalista juga memperhatikan jahitannya. Tentunya Kalista mencari baju yang gampang menyerap keringat. Sempat bingung juga memilih motif dan warnanya, akhirnya pilihan Kalista jatuh pada baju lengan pendek dengan motif bunga-bunga kecil berwarna pink, dan baju lengan panjang berwarna kuning polos. Kalista mengambil masing-maisng 2 lusin baju dengan ukuran S.


Kalau untuk celana pendek dan panjangnya Oma yang memilihkan. Karena Oma juga ingin berpartisipasi dalam memilih perlengkapan bayi, Oma tentunya tidak hanya ikut untuk menemani saja. Oma juga mengambil 2 lusin celana panjang dan celana pendek.


Sekarang Kalista beralih menuju toko yang menjual selimut bayi. Kalista memilih selimut berbulu yang sangat lembut berwarna pink motif hellokitty, dan berwarna navy bermotif ikan paus. Kalista sengaja mengambil dua, karena Kalista tidak yakin Arka akan membelinya. Arka tahu apa sih? Entah Arka yang emang nggak tahu, atau mungkin Kalista yang terlalu meremehkan? Entahlah!


Kalista benar-benar calon ibu yang mendetail, dan tahu segala hal mengenai perlengkapan bayi. Tangannya sangat cekatan dalam memilih semua perlengkapan, bahkan Kalista selalu mempertimbangkan jenis dan bahannya.


Selanjutnya Kalista membeli perlengkapan mandi. Mulai dari shampo, sabun bayi, baby oil, handuk, Kalista juga mengambil ember khusus untuk memandikan bayi, dan juga waslap yang berguna untuk membasuh badan bayi ketika demam atau setelah mengompol. Selain perlengkapan mandi, Kalista juga mengambil bedak, parfum bayi, dan minyak telon.


Sementara itu Arka masuk ke beberapa toko dan mengambil baju dalam jumlah banyak. Tetapi, sama sekali tidak memperhatikan ukuran dan bahannya. Arka hanya mengambilnya random, asalkan warna nya agak sedikit gelap.


"Permisi, bapak Arka CEO perusaan Anggara ya?" Seorang wanita cantik menepuk bahu Arka yang sedang mengambil satu set baju tidur bayi.


Arka berbalik badan, lalu manik matanya menangkap satu sosok wanita yang tidak asing. Pakaiannya selalu minim, dan menampilkan setiap lekuk tubuhnya, wanita ini juga selalu mengenakan baju dengan belahan dada rendah.


"Ibu Angel direktur Arta Wijaya." Arka berkata dengan tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Eh tunggu dulu deh, ada apa dengan para SPG itu? Mereka langsung berbisik-bisik dan menatap Arka kagum dan takjub. Awalnya mereka nggak ngeuh bahwa yang sedang memilih baju bayi ini adalah bapak Arka yang beberapa waktu lalu namanya sempat menjadi topik utama di akun gosip maupun di berita televisi. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa seorang CEO ternama berbelanja baju bayi dengan pakaian yang sangat sederhana, bahkan memakai sandal jepit.


"Hehe iya, nemenin istri. Lagian kan ini tanggung jawab berdua, pas bikin aja berdua, masa beli bajunya sendirian aja." Arka bercanda sambil terkekeh.


"Wah bagus dong! Suami idaman nih kaya gini mah." Ucap Angel sambil tersenyum.


"Bisa aja nih bu Angel. Btw kok ada di sini? Ngapain?" Tanya Arka penasaran, karena pusat perbelanjaan ini khusus menjual perlengkapan bayi. Sedangkan Arka tahu Angel belum menikah.


"Nyari perlengkapan bayi, buat anak gue lah." Katanya, nada suaranya sedikit sombong. Namun wajah ramahnya masih terlihat di sana.


"Becanda aja nih bu, gue nanya serius loh ini." Ujar Arka.


"Mau dong di seriusan sama CEO tampan." Angel mengedipkan sebelah matanya. Namun, Arka dapat melihat bahwa itu bukan kedipan genit angel seperti waktu lalu.


"Gue kesini nyari kado, teman gue lahiran." Imbuhnya lagi sambil mengambil beberapa baju bayi.


"Oh gitu."


"Lu kapan nikah ngel?" Tanya Arka.


"Secepatnya!" Kemudian Angel mengangkat tangannya "Gue udah di ikat, alhamdulilah akhirnya ada yang mau sama wanita genit kaya gue." Angel terkekeh mentertawakan kelakuannya dulu pada Arka. Bukan semata-mata karena angel genit, namun waktu itu Angel benar-benar jatuh cinta pada Arka.


"Bentar lagi sold out nih! Undang gue ya."


"Pastinya! Gue juga ngundang bayi di perut istri lu."


Arka bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Angel telah berubah. Angel yang selalu genit itu telah lenyap, Angel yang sekarang lebih kalem dan ramah.


Dari kejauhan Kalista menatap Arka geram, Kalista memperhatikan gestur tubuh Arka saat berbicara dengan Angel. Mereka berdua nampak sangat akrab, bahkan sesekali keduanya tertawa kecil. Wajah Angel terlihat sangat sumringah, pasti dia senang banget ketemu Arka.


Oma mengikuti langkah Kalista dari belakang, "Waduh pasti bakalan ada perang nih." Batin Oma dengan cemas dan was-was.


"Udah dapat?" Kalista bertanya dengan ketus, wajahnya terlihat sangat masam dan di tekuk.


"Gila-gila galak banget nih bumil." Angel tersenyum.


"Hi, apa kabar ibu sekretaris pribadi bapak Arka. Masih ingat gue nggak?" Imbuhnya lagi, tangannya terulur mengajak Kalista berjabat tangan.


Kalista menerima uluran tangan itu, berjabat tangan dengan Angel. "Gue istrinya Arka." Ucap nya dengan tegas dan penuh penekanan. "Ingat dong, ibu Angel direktur Arta Wijaya kan? Itu loh yang ngajak ketemu dan makan di sebuah restoran mewah. Pakaiannya kurang bahan, godain suami saya pula, anda genit sekali, atau lebih tepatnya kegatelan kali ya." Bibir mungil itu tanpa kontrol sedikit pun malah asyik mencibir dan meledek Angel, Kalista kalau cemburu mode jahatnya keluar.


Arka menggelengkan kepalanya, berusaha berbicara dengan Kalista menggunakan bahasa isyarat. Tiba-tiba Oma paham, sepertinya memang pernah terjadi sesuatu diantara mereka bertiga.


"Menjijikan ya? Gue juga jijik terhadap kelakuan gue beberapa waktu lalu." Angel tersenyum mengingat hari dimana kejadian itu terjadi.


Kalista mendekat pada Arka, kemudian memeluknya dengan sangat kencang. Tapi masih terhalang oleh perut buncit itu. Kalista berusaha bermesraan dengan Arka di hadapan Angel. Mencium pipi Arka, lalu mengendus-endus wangi harum dada bidang Arka.


Angel melihatnya tidak kuat menahan tawa. "Dari sekretaris pribadi kemudian menjadi istri pribadi." Angel terkekeh, saat ini juga rasanya Angel sangat ingin mengerjai ibu hamil ini.


"Lalu, masalahnya dimana?" Kalista memutarkan bola matanya jengah, bahkan bibirnya mencebik seiringin dengusannya yang di lontarkannya.

__ADS_1


"Nggak masalah sih, tapi curiga nih gue. Lu pakai pelet apa? Manjur banget tuh, jaran goyang? Atau celupin bulu ketek di kopinya dia?" Benar-benar cari ribut nih Angel.


"Gue nggak pakai pelet, wajar aja gue bisa jadi istrinya Arka! Gue cantik, makanya Arka jatuh cinta sama gue." Nada suaranya meninggi, bahkan terdengar seperti berteriak.


"Gue juga cantik, body ramping, plusnya gue seksi." Angel menggerakan tubuhnya dengan aura yang sangat seksi.


"Gue kesini cuma nyari kado sih, kebetulan pak Arka ini sangat baik hati sekali, mau membantu gue nyari kado. Pilihannya bagus banget, gue suka warnanya." Ucap Angel yang semakin memanasi Kalista.


"Insting gue sih kayanya Arka nggak mungkin mau deh nemenin gue nyari kado, tapi Alhamdulillah dia baik banget dan mengiyakan bantu gue nyari kado, ketika beberapa hari yang lalu gue telepon." Imbuhnya lagi.


Oh my God Angel, benar-benar kebangetan banget nggak sih? Ngerjain sih ngerjain? Tapi kalau kaya gini caranya sih bisa memancing percikan api pertengkaran rumah tangga Arka dan Kalista dong.


Arka menatap Angel dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ya ampun ngel, becanda lu kelewatan. Bisa-bisa nanti malam gue nggak dapat jatah." Batin Arka meronta-ronta.


Kalista semakin naik pitam. Setiap diksi yang keluar dari mulut Angel cukup membuat emosinya tersulut. Tangannya mengepal, bahkan wajahnya terlihat garang.


"Sebagai sesama wanita, lu seharusnya sadar diri bahwa Arka sudah beristri! Statusnya sebagai suami! Nggak punya otak banget sih godain suami orang, apa nggak laku ya? Lu mau jadi pelakor hah? Nih gue buang suami gue!" Tangan yang tadinya melingkar di pinggang Arka pun kini mengendur, lalu Kalista mendorong Arka dengan sangat kasar.


"Terimakasih! Dengan senang hati gue memungut CEO tampan ini." Angel menarik pergelangan tangan Arka.


Oma yang melihatnya hanya tersenyum saja. Hanya dengan mengamati ekspresi wajah Angel saja Oma sudah tahu. Angel sedang mengerjai Kalista, lagipula mana ada seorang pelakor berani-beraninya berkata gamblang di pusat perbelanjaan pula.


Bola mata Kalista memanas, bahkan sekarang berkaca-kaca. Kalista merasa kecewa pada Arka. Ketika Kalista meminta di temani membeli perlengkapan bayi, Arka mengiyakan begitu semangat. Tahunya dia juga punya janji dengan Angel, bahkan sebelumnya sudah telponan. Apa yang mereka bicarakan? Nggak mungkin cuma nyari kado doang kan? Berbagai macam spekulasi berputar dan menari-nari di benak Kalista.


"Jangan nangis dong." Arka berusaha menahan laju air mata di pipi Kalista.


"Jangan sentuh aku!" Kalista berteriak histeris sambil menangis, bahkan ada beberapa pengunjung yang memperhatikannya. Dan juga menepis tangan Arka dari pipinya.


Angel sampai melongo melihat Kalista menangis, sama sekali tidak menyangka dan bahkan ini sangat-sangat di luar dugaan. Niatnya yang hanya iseng mengerjai Kalista, ternyata malah berakibat fatal. Ternyata bumil sangat sensitif.


"Sorry, gue becanda loh. Gue kesini buat nyari kado, itu pun gue sendiri yang nyari. Cuma kebetulan disini gue ketemu Arka, nggak ada salahnya kan menyapa? Lagipula kan Arka itu rekan bisnis gue. Btw gue nggak pernah telponan sama suami lu kok, tenang aja! Gue juga nggak mau jadi pelakor." Angel menjelaskan semuanya, tangannya mengusap-usap pipi Kalista.


"Maaf ya! Gue nggak bermaksud membuat bumil cantik ini marah bahkan sampai nangis di tempat umum. Btw gue udah tunangan, tinggal hitungan bulan gue akan resmi menyandang status sebagai istri." Angel menunjukan cincin yang tersemat di jari manisnya.


Kalista langsung speechless, kemudian mengusap sisa-sisa air matanya. Lalu tiba-tiba memeluk Angel. "Sorry ya gue udah marah-marah."


"Nggak apa-apa kali, lagian kan salah gue sosoan ngerjain dan godain suami orang." Angel pun memeluk Kalista.


"Btw, sekarang gue tahu deh ternyata cinta lu pada Arka sangat dalam ya! Jagain bini cantik lu nih." Imbuhnya lagi sambil memandang Arka.


"Pastinya!" Jawab Arka mantap.


"Maaf ya bu, saya sudah membuat keributan dengan memancing emosi menantunya ibu." Angel mencium punggung tangan Oma. Saking asyiknya mengerjai Kalista, Angel sampai nggak sadar bahwa ternyata ada Oma juga disini yang memperhatikan kejadian barusan.


"Ohiya, gue pamit pulang duluan ya! Calon suami katanya udah ada di parkiran basement." Ucap Angel sambil membaca pesan yang tertera di layar ponselnya.


"Cie cemburu." Arka mencolek dagu Kalista.


"Iya lah cemburu! Suami main gila sama perempuan lain." Ketus Kalista yang sebenarnya tidak terima di kerjain, karena Arka juga ikut andil dengan tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Kan cuma becandaan, main gilanya cukup sama istri saja! Biar sah di mata hukum dan agama! Lagi pula kalau sama istri mah enak, mau setiap hari juga nggak apa-apa, mau di kamar, di dapur, di sofa, di mana aja deh intinya sih enak aja." Ucapan Arka mulai menjurus pada hal-hal intim.


"Mana bisa di dapur, yang ada nanti kepergok Oma atau ayah." Kalista cengengesan lalu tersenyum menyeringai.


"Oke deal! Nanti kita di apartment aja sayang, biar nggak dan yang ganggu." Arka mencium kening Kalista, lalu membisikan sesuatu di telinga Kalista.


"Dasar anak muda, dua sejoli yang sedang menjalin cinta. Sampai lupa deh ini lagi berada di mana?" Oma mengerucutkan bibirnya.


"Hehe Oma cemburu, makanya cari Opa dong! Biar bisa diajak bercinta." Ledek Arka pada omanya.


"No no no! Oma sudah tua, ngapain sih nikah lagi? Bikin malu aja." Ucap Oma.


"Btw, suamiku dapat apa saja untuk perlengkapan si jagoan." Tanya Kalista.


Arka mengangkat setumpuk baju yang telah di pilihnya. Kalista melihatnya, dahinya terlipat dalam beberapa saat. Kemudian memutarkan bola matanya jengah. "Ini kan bahan Polyester, terus yang ini bahannya nylon. Ini tuh bahannya nggak cocok buat bayi, nanti yang ada bayi kita malah nggak nyaman." Kalista mengembalikan kembali pada tempatnya baju yang telah Arka ambil.


"Aku nggak tahu hehe!" Arka malah tersenyum kikuk.


Kemudian mereka kembali menjelajahi setiap toko di pusat perbelanjaan ini. Membeli semua perlengkapan yang di butuhkan oleh si kembar. Kemudian Kalista membeli dua set box tempat tidur bayi, gendongan, stroller yang khusus untuk bayi kembar, tisu basah dan tisu kering khusus bayi. Kalista juga mengambil beberapa cardigan dan jaket, topi, bando, kaos kaki dan sarung tangan masing-masing 2 lusin. Tangan Kalista sangat aktif dan lincah, kini tangan itu mengambil botol susu, pompa payudara, bra menyusui dan bahkan bantalan payudara.


"Udah semua sayang?" Tanya Arka yang sebenarnya sudah lelah berada di pusat perbelanjaan ini.


"Hmm udah kayanya." Jawab Kalista sambil memperhatikan semua barang-barang yang sudah diambilnya


"Popok? Kayanya kamu kelupaan deh nak." Ucap Oma.


"Aduh ya ampun, lupa aku." Kalista menepuk jidatnya pelan, dan merutuki kebodohannya.


Kalista berjalan ke toko yang menjual popok bayi, mengambil beberapa diaper, dan lebih banyak mengambil popok kain. Oma dan Arka mengernyitkan dahinya, seharusnya Kalista mengambil diaper dengan jumlah banyak, bukan popok kain yang banyak.


"Kok ngambil diaper sedikit? Harusnya banyak dong! Diaper kan praktis, sekali pakai langsung buang. Jadi nggak repot sama cucian yang menumpuk, belum lagi nanti ngejemurnya." Tanya Arka, dan pertanyaan itu juga mewakili pertanyaan Oma.


"Diaper memang praktis, tapi kita juga harus perhatiin bayi kita juga dong! Terlalu sering menggunakan diaper bisa menimbulkan ruam di pantat bayi, hal ini diakibatkan oleh bahan diaper itu sendiri yang bersifat lembab. Aku juga mau menggunakan diaper, tapi nggak bakalan sering. Namun seiring dengan adanya peraturan konversi alam, kita juga harus mempertimbangkan dampak dari sampah diaper itu sendiri." Ucap kalista sambil mengambil beberapa popok kain dengan motif yang berbeda-beda.


"Sebaliknya kalau popok kain memang agak ribet dan merepotkan. Tetapi kabar baiknya kalau popok kain ini tidak menimbulkan ruam kulit, dan nggak bersampah." Imbuhnya lagi.


"Gini nih kalau punya istri berpendidikan, pintar! Dan si baby kembar juga pasti akan sehebat mama dan ayahnya." Ucap Oma seraya tersenyum manis menatap Kalista.


"Pintar banget sih istriku." Arka mencium puncak kepala Kalista.


Begitu sampai di kasir, Kalista dan Arka menjadi pusat perhatian semua pengunjung. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian? Perlengkapan bayi yang mereka beli jumlahnya sangat fantastis, bahkan perlu beberapa mobil bak untuk mengantarkan pesanan tersebut. Total harganya saja selangit, Kalista bahkan sampai melotot dan menganga. Untuk semua ini Arka merogoh kocek sangat dalam.


Arka memberikan alamat rumahnya, agar nanti petugas yang mengantar belanjaannya tidak nyasar. Setalah itu Arka langsung keluar dari pusat perbelanjaan ini, dan akan menuju restoran yang Kalista mau. Namun, ada beberapa orang yang meminta foto bersama, beberapa waktu belakangan ini memang wajah Arka selalu muncul dan menghiasi televisi Indonesia.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2