
"Arrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhh... ********, sialan!!!" Seorang pria tua sedang mengamuk, serbet meja makan di tarik sehingga semua makanannya tumpah berserakan. Pecahan gelas dan piring pun berserakan bercampur dengan makanan tadi.
Para pelayan hanya berdiri dan mengintip dari dapur, mereka semua gemetaran dan takut akan kemarahan tuannya. Pria tua itu menghampiri istrinya yang sedang berdiri di pinggiran meja makan.
"Anak lu si Arka sialan itu mengakuisisi salah satu bisnis gue." Pria tua itu menjambak rambut istrinya, menampar pipi bahkan sampai meninggalkan memar dan lebam di pipi dan sudut mata istrinya.
"Kalau kamu nggak cari gara-gara, Arka nggak bakalan mengakuisisi salah satu bisnis kamu." Ucap istrinya dengan lantang, dia nggak sadar bahwa kondisi suaminya sekarang seperti sedang kerasukan setan.
"Apa lu bilang? Tujuan gue memang untuk menghancurkan mantan suami dan anak lu itu! Haha nggak apa-apa salah satu bisnis gue diakuisisi oleh nya! Tapi gue bakalan rebut kembali! Bukan hanya satu tapi semua perusahaan si Anggara!!" Suaminya itu si pria tua tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Kringggg... Kriiiing...
Ponsel yang berada di saku jas pria tua itu berdering.
"Ya, hallo. Baik segera berkumpul dan atur strategi." Pria tua itu langsung berlari ke keluar rumah dan secepat kilat melajukan mobilnya.
Setelah pria tua itu pergi, para pelayan pun berhamburan menghampiri nyonya nya itu.
"Bu, sebaiknya ibu istirahat saja! Biar saya kompres lebam dan memar di pipi ibu." Tawar salah satu pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Tidak usah, nanti saya bisa kompres sendiri ko. Tolong ya ini semua segera di bereskan." Jawabnya sambil tersenyum miris.
"Baik." Para pelayan pun mulai memberesihkan pecahan kaca yang bercampur dengan makanan.
"Ini ada apa ma? Mama berantem sama ayah." Dino menghampiri mamanya, matanya menangkap pecahan beling berserakan bercampur dengan makanan. Matanya berubah sendu ketika melihat pipi mamanya penuh memar dan lebam.
"Nggak apa-apa, kesalahan kecil aja." Ucap mama dengan memaksakan tersenyum.
"Nggak apa-apa sampai lebam dan memar? Cih dasar... Kdrt aja terus! Dasar bermuka dua, di depan aku ayah merupakan sosok yang sempurna, aslinya? Jelmaan iblis! Belajar ngomong ma, sekiranya kdrt laporkan pada pihak yang berwajib!" Geram Dino, kemudian berlalu meninggalkan mama tirinya itu.
Selama ini suaminya itu memang selalu jaga image di depan putranya sendiri, di depan putranya ia selalu jaga image dan selalu memanjakan istrinya. Tapi, di belakang putranya ia selalu memperlakukan istrinya dengan kasar, dan seringkali melontarkan makian dan kata-kata kasar. Awalnya Dino memang tidak tahu, tapi lama kelamaan ia pun mengetahui tabiat ayahnya. Bahkan Dino seringkali mendapati wajah memar mamanya dan matanya sembap seperti habis menangis.
"Nak, sebenarnya mama pun ingin meninggalkan ayahmu, tanpa sepengetahuan kamu mama diancam, jika mama meninggalkannya maka dia akan membuat mantan suami dan anak mama satu-satunya menderita bahkan sampai akan membunuhnya. Tidak apa-apa mama kuat, asalkan mama tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Dulu mama lebih memilih hidup bersama ayahmu dan meninggalkan suami dan anak mama, mungkin ini karma atas apa yang telah mama lakukan di masalalu." Mama Lisa mengusap air bening yang keluar dari kelopak matanya, seraya memandang punggung Dino yang kian menghilang. dari pandangannya.
"YaAllah lindungilah semua anggota keluarga mantan suamiku, terutama Arka dan Kalista." Gumam mama Lisa sambil berlalu ke kamarnya.
*****
"Ma, Arka berangkat ke kantor! Jangan bangunin Kalista, tunggu saja sampai bangun. Arka lebih tenang melihat Kalista tidur nyenyak daripada harus muntah pagi-pagi." Seru Arka lalu meminum segelas susu yang sudah disiapkan diatas meja.
"Iya nak, Oma nggak akan bangunkan."
"Bu, salad buah harus selalu tersedia ya! Terus nanti kalau istri saya minta dibuatin masakan apapun langsung buatkan saja, selama itu tidak membahayakan kandungannya kalian turutin saja! Nanti tolong siapkan susu bumil, ingat ya susunya Anmum Materna, awas jangan salah! Tapi sebelum minum susu bumil, pastikan terlebih dahulu dia sudah makan kentang. Terus jangan sampai ada genangan air dilantai / lantai licin, jangan biarkan istri saya naik tangga! Kalau misalkan istri saya mau makan buah tolong di kupaskan ya, jangan sampai dia pegang pisau atau benda tajam, saya tidak ingin istri saya terluka. Pokonya kalian perhatikan gerak-gerik istri saya!" Ucap Arka panjang lebar kepada kepala pelayan.
"Baik tuan." Ujar pelayan dengan patuh.
"So sweet banget pak Arka." Ujar salah satu pelayan yang sedang membersihkan Raung tamu dan tidak sengaja mendengar ucapan Atka.
"Nitip istriku ya ma, jangan biarkan dia keluar rumah sendirian! Kalau dia mau apa-apa, langsung kabarin Arka aja." Arka mencium punggung tangan Oma.
Arka menyetir sendiri, karena pak Jaka dia jadikan sopir untuk Kalista. Rencananya hari ini Arka akan mencari sopir baru dan beberapa security baru. Arka merasa akhir-akhir ini seperti ada yang sedang memperhatikannya secara diam-diam.
Arka memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk CEO, kemudian ia masuk dan naik lift menuju ruangannya.
"Widih karyawan gue serius banget kerjanya." Begitu Arka membuka pintu ruangannya, disana Andy sedang berkutat dengan setumpuk dokumen di atas meja.
"Capek banget gue bro! Sumpah deh, gara-gara istri lu hamil, semua kerjaan selalu di kasih ke gue." Protes Andy, tetapi pandangan matanya masih tidak teralihkan dari dokumen.
"Mau resend? Silahkan!" Jawab Arka santai.
"Nggak lah! Sumber rupiah gue ada di sini. Eh itu di meja lu ada surat resend dari Rangga Aditama." Ucap Andy.
"Wow baguslah, langsung di acc saja! Tadinya mau gue pecat, ternyata dia lebih peka. Daripada gangguin bini gue terus." Arka langsung menandatangani pengajuan surat resend itu.
Tok..tok..
"Permisi pak, Jadwal bapak hari ini ada rapat pukul 09:00 WIB, pukul 11:00 WIB makan siang dengan klien. Semua dokumen yang diperlukan untuk rapat telah saya siapkan." Gina memberitahukan perihal kerjaan Arka hari ini.
"Baik." Jawab Arka singkat.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Anggara, wanita cantik baru saja bangun dari tidurnya. Begitu keluar dari kamar, para pelayan segera menyambutnya.
"Nyonya muda, mau makan salad buah?" Tanya kepala pelayan dengan sopan sambil tersenyum.
"Mau bu." Kata Kalista yang langsung duduk di sofa.
Pelayan pun segera membawakan salad buah, Kalista langsung melahapnya sampai habis.
"Silahkan makan ini nyonya." Pelayan pun memberikan sepiring kentang rebus yang telah di habiskan.
"Tidak boleh menolak nyonya, karena ini perintah dari tuan." Pelayan itu pun langsung berbicara ketika Kalista akan membuka mulut.
"Setelah nyonya makan, silahkan di minum susunya." Pelayan itu seperti sedang memerintah Kalista.
"Suami saya memerintah apa lagi ke ibu?" Tanya Kalista penasaran.
"Jadi begini nyonya, ("Bu, salad buah harus selalu tersedia ya! Terus nanti kalau istri saya minta dibuatin masakan apapun langsung buatkan saja, selama itu tidak membahayakan kandungannya kalian turutin saja! Nanti tolong siapkan susu bumil, ingat ya susunya Anmum Materna, awas jangan salah! Tapi sebelum minum susu bumil, pastikan terlebih dahulu dia sudah makan kentang. Terus jangan sampai ada genangan air dilantai / lantai licin, jangan biarkan istri saya naik tangga! Kalau misalkan istri saya mau makan buah tolong di kupaskan ya, jangan sampai dia pegang pisau atau benda tajam, saya tidak ingin istri saya terluka. Pokonya kalian perhatikan gerak-gerik istri saya!) Begitulah nyonya." Ucap kepala pelayan sambil menirukan gaya ucapan Arka.
"Haha ibu lucu banget sih, masa cara bicara ibu bisa mirip gitu ya sama suami saya?" Kalista terkekeh mentertawakan kepala pelayan, "Baiklah, saya akan makan sesuai yang di perintahkan oleh suami saya. Suami saya posesif sekaligus pengertian, kalau nggak nurut bisa bahaya." Ujar Kalista sambil mengunyah kentang rebus.
"Nyonya muda mau dimasakin apa?"
"Nggak ada, nanti saya mau makan di luar aja. Kupasin mangga aja ya bu, sama tolong ambilin snack di kulkas."
Kalista makan buah dan snack sambil menonton kartun, setelah 1 jam menonton Kalista pun merasa bosan. Lalu mengambil ponselnya, ketika sedang asyik bersosial media, tiba-tiba Kalista melihat masakan lobster sambal pedas postingan salah satu akun restoran ternama.
Kalista langsung bergegas ke kamarnya, membersihkan dirinya, ganti baju lalu mengaplikasikan make up tipis ke wajahnya. Mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada suaminya.
*****
Arka memeriksa beberapa dokumen yang di serahkan oleh Andy, banyak sekali dokumen-dokumen yang di tandatangani oleh Arka. Setelah selesai menandatangani sejumlah dokumen, lalu Arka pergi ke ruang rapat. Sekian banyak topik yang di bahas di rapat tersebut, akhirnya rapat pun selesai.
Arka baru saja menyalakan ponselnya, terdapat satu pesan dari istrinya.
My Wife❤
10:15 WIB
Setelah membaca pesan itu Arka tersenyum. Arka melirik arloji yang melingkar di tangannya, waktu menunjukan pukul 10:30 WIB, itu artinya sudah 15 menit Kalista menunggu.
"Gina, laporan hasil rapat simpan di meja kerja saya! Dan tolong cancel makan siang dengan klien, saya ada urusan yang jauh lebih penting dan mendesak." Perintah Arka tegas pada Gina.
"Ndy, handle semua kerjaan kantor."
Arka mengetikkan pesan balasan pada Kalista, kemudian mengambil mobilnya di parkiran khusus. Mobil melaju dengan sangat cepat, Arka takut Kalista merasa kelaparan.
Begitu mobil sampai di kediaman Anggara, Kalista tengah duduk menunggu di kursi depan rumah.
"Maaf, lama." Arka keluar mobil dan langsung menghampiri Kalista.
"Nggak sayang." Jawab Kalista.
"Eh mau kemana?" Oma baru saja sampai rumah, dan melihat menantunya itu sudah rapi.
"Makan lobster." Jawab Kalista antusias.
"Kan bisa sayang masak di rumah, tinggal bilang saja nanti di masakin." Ucap Oma.
"Ah Oma, kaya nggak ngerti orang ngidam aja." Kata Arka.
"Oma darimana?" Tanya Arka penasaran.
"Dari supermarket, dari pasar juga sih ikut belanja sama pelayan."
"Nah loh Oma ternyata nggak bisa di percaya, padahal kan tadi pagi Arka nitipin Kalista ke Oma, omanya malah pergi ke pasar." Cibir Arka dengan senyum kesalnya.
"Eh iya ya." Oma kemudian memijit pelan keningnya.
Arka dan Kalista pamitan pada Oma, dan langsung berangkat menuju restoran yang di tuju. Begitu sampai restoran, Kalista butuh waktu beberapa menit untuk menentukan tempat duduknya. Dan akhirnya Kalista memutuskan untuk duduk di kursi yang menghadap ke taman sekaligus ke jalan raya.
__ADS_1
Tidak berselang lama seorang waiters menghampirinya, Arka dan Kalista langsung memesan makanannya.
"Permisi, boleh bergabung." Tiba-tiba datang seorang pria tua, wanita paruh baya, dan seorang pria yang usianya sekitar 2 tahun di bawah Arka. Orang-orang itu langsung duduk tanpa dipersilahkan oleh Arka maupun Kalista.
Arka menatap mereka dengan tatapan benci, mungkin sekarang di matanya terdapat sinar api yang menyala-nyala. Kalista menyadari itu, digenggamnya tangan Arka dengan sangat erat. Kalista mencoba menyalurkan energinya agar Arka merasa tenang.
"Pesanannya pak bu, silahkan di nikmati." Ucap waiters setelah meletakkan pesanan Arka dan Kalista di atas meja. Lalu dia mencatat pesanan orang-orang yang sekarang sedang duduk di hadapan Arka dan Kalista.
Kalista mengambil segelas jus jeruk. "Minum dulu sayang!" Ucap Kalista dengan sangat genit, berharap Arka membalasnya dengan genit juga.
"Terimakasih sayang." Setelah terdiam beberapa saat, lalu Arka meminum jus jeruk yang di berikan Kalista.
"Lobsternya aku yang kupasin, tunggu sebentar ya istriku yang cantik." Arka mengedipkan sebelah matanya.
Kalista sibuk memperhatikan Arka yang sedang mengupas lobster, Kalista pun berinisiatif untuk memotong-motong steak pesanan Arka.
"Apa kabar bocah kecil yang ingusan? Masih ingat dengan om? Eh salah ya tepatnya ayah Marcelino. Ternyata sekarang sudah besar ya, sudah menjadi jadi seorang suami. Istrinya juga cantik." Ucap pak Marcel sambil tersenyum menyeringai.
"Kasian banget ya masa kecilmu dulu, sering banget di campakkan oleh mamamu, bahkan sampai di pukul. Coba aja dulu ayah kamu tuh punya banyak uang, pasti mamamu yang cantik ini tidak akan meninggalkanmu."
"Seorang laki-laki itu harus banyak uang, nanti kalau kamu kere ditinggalin istri kamu loh, wanita cantik kan sukanya uang."
Arka sama sekali tidak menanggapi ucapan pria tua itu. Ia malah sibuk menyuapi Kalista makan lobster, begitupun dengan Kalista yang sibuk menyuapi Arka makan steak. Arka malah semakin menunjukkan kemesraannya pada Kalista, ia bahkan mencium sekilas bibir Kalista di hadapan mereka.
"Dengerkan aku ya sayang, masalalu itu tidak penting, pahit maupun manis tetap saja masalalu! Yang terpenting adalah masa depanmu, dan aku akan selalu berperan di masa depanmu, tidak peduli bagaimanapun keadaan kamu, aku akan selalu menemanimu bersama anak kita sampai maut memisahkan." Kalista menatap Arka dengan tatapan manja dan lebih cinta.
"Duh istriku, jadi makin sayang kan kalau kaya gini." Arka mencium kening Kalista.
"Ucapan itu seperti angin berlalu, hari ini berkata A, besok bisa saja berkata B." Cibir pria tua itu.
"Dede sayang amit-amit ya jangan sampai punya mulut lebar, nanti kamu kalau sudah lahir ayah ajarin kamu cara berbisnis, biar jadi pembisnis yang hebat seperti ayah yang tidak mudah di jebak dan masuk dalam perangkap. Sehat-sehat ya dede sayang." Arka berbicara sambil mengelus perut Kalista.
"Dedenya senang sampai nendang-nendang gini." Kalista meletakkan kembali tangan Arka, dan Arka pun merasakan tendangan dede bayi di dalam perut.
"Sudah jangan nendang lagi, jangan nakal sayang, kasian dong nanti perut mamanya sakit."
Marcelino semakin geram melihat kemesraan Arka dan Kalista. Sedangkan si wanita paruh baya di sebelahnya memperhatikan Arka dan Kalista dengan senyum tipis menghiasai pipinya. Arka melirik si wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya itu. Mamanya langsung menunduk begitu saja ketika dilirik oleh Arka.
"Sayang, kalau seorang suami memukul istrinya sampai memar dan lebam, sikap apa yang akan kamu ambil?" Perkataan Arka sukses membuat pria tua itu melotot kepadanya.
"Tinggalkan! Karena seorang suami yang benar-benar mencintai istrinya, tidak akan mungkin melakukan kekerasan pada istrinya." Jawab Kalista dengan mantap.
"Kalau suaminya ngancam?" Tanya Arka.
"Lapor pada yang berwajib! Kalaupun kita punya masalalu yang buruk dan menganggap bahwa ini sebuah karma. Itu salah banget! Karena seburuk apapun kita di masalalu kita masih bisa meminta pengampunan baik kepada Tuhan maupun kepada orang yang bersangkutan. Karena di masa depan kita harus bahagia!"
"Pintar istriku." Arka mencubit pelan hidung Kalista.
"Mau nambah nggak?" Imbuhnya lagi.
"Nggak ah udah kenyang." Kalista langsung menyeruput habis segelas jus alpukat.
"Sekarang mau kemana? Atau mau beli apa gitu?"
"Mau ikut ke kantor, biar suami aku makin semangat kerjanya. Support system kamu kan aku dan dede bayi di perut."
"Yaudah ayo sayang, nggak baik berlama-lama disini, banyak energi negatif." Arka langsung menggandeng mesra tangan Kalista keluar dari restoran tersebut.
Hati mama Lisa tiba-tiba menghangat mendengar ucapan Arka dan Kalista, mama Lisa merasa bahwa anak dan menantunya itu sedang memberikan semangat pada dirinya, agar segera keluar dari kungkungan Marcelino.
Sedangkan Dino sekarang baru mengetahui, bahwa Arka adalah anaknya mama Lisa. Dino merasa bahwa ayahnya sedang merencanakan sesuatu.
Selepas kepergian Arka dan Kalista, Marcelino langsung menggebrak meja dan menggertakkan giginya. Emosi dan amarah sedang menguasai dirinya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤