SUN FLOWER

SUN FLOWER
HARI PERNYATAAN CINTA


__ADS_3

HARI PERNYATAAN CINTA


"Gue udah lihat jelas banget, masih di bilang salah paham? Ta lu kan wanita, harusnya sesama wanita lu ngertiin perasaan gue dong." Hardik Tiara.


"Terus menurut lu itu kapan terjadinya?" Tanya Andy yang sudah mulai jengah, begitu-begitu juga ternyata Andy care banget sama perasaan Evan.


"Tadi malam!" Ucap Tiara pelan.


"Oh tadi malam, berarti lu wanita liarnya." Andy tersenyum mengejek.


"Mulut lu tuh ya di saring dulu! Jadi maksudnya gue gitu wanita liarnya? Nggak mungkin banget." Tiara sangat kesal pada setiap kalimat yang keluar dari mulut Andy. Lebih kesal lagi karena di katakan wanita liar.


"Iyalah elu! Semalaman Evan jagain lu di apartment ini. Kalau bukan lu yaudah siapa wanita liarnya?" Andy berdecak sebal, wanita yang bernama Tiara ini benar-benar keras kepala dan susah di bilanginnya.


"Karena gue tidur, bisa saja kan dia keluar cari wanita lain? Emang dasar ya cowok tuh pada kegatelan!" Suaranya meninggi, Tiara pun tidak mau kalah dengan membantah semua argumen yang di lontarkan oleh Andy.


"Dasar wanita keras kepala!" Cibir Andy dengan nada malas, berdebat dengan makhluk yang bernama wanita memang super ribet dan bikin kepala pusing empat puluh delapan keliling.


"Emang ada wanita yang kepalanya lembek? Dasar bodoh! Otak lu di mana sih? Taro di dengkul?" Tiara juga mencibir balik.


Arka dan kalista sudah hampir tidak kuat menahan tawa, Andy dan Tiara sedang berdebat. Keduanya sama-sama keras kepala, dan tidak ada yang mau mengalah.


"Emang siapa yang bilang ada wanita berkepala lembek? Kalau bodoh sendirian aja ya mbak jangan ngajak-ngajak gue!" Ketus Andy, lagi-lagi manik matanya memutar dengan sangat jengah.


"Jadi begini ya mbak Tiara yang sangat keras kepala.."


"Elu tuh..." Tiara dengan sangat emosional sekali menyela ucapan Andy.


"Jangan dulu nyela! Wanita itu kodratnya harus nurut sama suami, benar begitu bukan? Nah mumpung belum bersuami, makanya belajar jadi pendengar yang baik dulu ya!" Cibir Evan dengan tersenyum miring.


"Tadi malam kita pergi club malam, cuma mau nongkrong doang, nggak pesan wine sama sekali! Kita cuma pesan jus. Disana kita lihat lu lagi asyik banget joget-joget geleng-geleng kepala kiri kanan cowo-cowo brengsek lagi godain lu. Apalagi si botak berjuang keras buat menjamah tubuh lu, terus Evan nolongin lu. Dia hajar habis-habisan si botak keparat itu sampai tepar di lantai, bahkan sampai ada beberapa orang yang merekam aksi kejadian baku hantam tersebut." Ucapannya terjeda, Andy perlu mengatur deru napasnya yang sangat memburu.


"Evan bawa lu keluar dari club malam itu, tapi Evan bingung harus bawa lu kemana? Ke apartmentnya dia? Nggak mungkin bisa-bisa nanti di grebek warga, dianggap melakukan kumpul kebo atau tindakan mesum. Akhirnya lu di bawa ke apartment Arka, tapi nggak tahu kenapa dia membawa lu pindah ke apartment Kalista? Mungkin apartment Kalista lebih rapi dan bersih." Imbuhnya lagi, Andy meneguk air mineral hingga tandas, karena merasa tenggorokannya sangat kering.


"Terus apalagi?" Kini Tiara juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi tadi malam pada dirinya.


"Terus lu nuduh dia main gila dengan cewe liar. Lu bayangin dong Tiara, kita berdua bawa lu keluar dari tempat penuh dosa itu sudah larut malam banget, dalam kurun waktu sesempit itu apakah masih sempat mencari wanita liar?" Manik mata Andy menatap Tiara dengan tatapan sangat intens dan menusuk.


"Cowo itu nafsunya gede! Kalau pun iya Evan lagi pengen banget sentuhan seorang wanita, ngapain juga dia cari wanita liar. Di kamar ini ada elu yang kondisinya sedang mabuk, nggak sadar dong lu! Bisa aja kan Evan ambil kesempatan buat nidurin lu. Gue pribadi sih salut sama Evan, dia sudah berusaha menjaga kesucian lu dan sudah bertarung juga dengan setan-setan yang membisiki telinganya. Nggak mudah loh seorang pria menahan hawa nafsunya, apalagi cuma berduaan doang, apalagi lu nya lagi di bawah pengaruh minuman alkohol." Kalimatnya sangat panjang lebar kali tinggi. Biar lebih jelas dan terperinci, biar Tiara segera sadar, barang kali minuman alkohol masih mempengaruhi otaknya.


Speechless untuk beberapa saat, semua yang di katakan Andy barang kali benar dan masuk akal. Namun Tiara masih memikirkan bekas gigitan di leher Evan, kalau bukan di gigit cewe liar terus di gigit siapa dong? Vampir? Nggak mungkin Banget!


"Terus kenapa gue di bawa kesini? Dia kan tahu alamat rumah gue." Tiara masih berusaha menyangkal dan membantah semua penjelasan Andy.


"Karena dia nggak mau merusak imagenya! Kalau tadi malam Evan nganterin lu pulang ke rumah lu, dalam keadaan lu lagi mabuk, apa kata orang tua lu? Apa kata tetangga lu? Selain Evan yang akan di curigai, elu juga secara tidak langsung akan di cap cewe nggak benar! Pikir dong T I A R A !"


"Orang tua gue nggak ada!"


"Mana Evan tahu kalau orang tua lu nggak ada! Lagi pula, Evan tuh suka sama lu, makanya dia takut orang tua lu nggak ngasih restu kalau tadi malam Evan anterin lu pulang ke kediaman lu."


"Lalu, apa kata orang tua gue perihal gue yang tadi malam tidak pulang ke rumah? Dan malah di bawa ke sini oleh Evan, hanya berdua doang loh? Nggak salah nih, apa kata tetangga apartment disekitar sini?" Ucapannya itu sangat nyeleneh dan enteng banget.


"Ngapain mikirin kata orang tua lu sih, orang tua lu kan nggak tahu! Harusnya lu ber-terimakasih sama Evan karena telah nolongin lu dari jerat tipu daya si botak, dan menjamin keselamatan elu sampai elu tidur nyaman disini, pagi-pagi lu juga di kasih sarapan kan?" Andy mengusap wajahnya kasar, ternyata memang benar wanita punya mulutnya lebih dari satu, atau mungkin memang lima seperti yang orang katakan. Perdebatan ini sangat memakan waktu dan menghabiskan sebagian tenaga.


"Si botak sampai tepar, mungkin pingsan. Kondisinya penuh luka lebam, pelipisnya berdarah, perutnya mungkin sudah sangat lembek karena telah menjadi samsaknya si Evan. Di club malam itu juga ada cctv, kalau sampai ini di usut dan jadi kasus, tahu dong apa yang akan terjadi? Evan bakal mendekam dan membusuk di penjara! Untungnya gue ngeh dan langsung menghancurkan semua rekaman cctv, maupun rekaman di ponsel." Imbuhnya lagi.


"Ngapain di hancurkan? Gue curiga deh jangan-jangan Evan yang cari gara-gara duluan. Kalau memang Evan nggak bersalah, ngapain takut? Santai aja kali, kan bisa minta rekaman cctv yang pas si botak berusaha menjamah tubuh gue." Tiara masih setia menyangkal setiap kalimat yang Andy lontarkan. Luar biasa memang gadis ini tuh sangat sulit untuk di jinakkan.


"Elu tuh cocok banget sama Evan! Kalian berdua mengajukan pertanyaan yang sama!" Cibir Andy dengan senyum miring, senyum yang penuh ledekan.


"Di hajar sampai babak belur, sampai tepar, sampai penuh luka lebam dan berdarah, lu pikir dia akan diam aja? Dia bakal lapor ke polisi. Lalu, apa dia punya bukti? Dia bakal meminta rekaman cctv itu dan membayarnya dengan sangat mahal. Selanjutnya dia bakal menyabotase rekaman itu seolah-olah dirinya hanya korban dan tidak bersalah. Lalu Evan jadi kambing hitam, dan membusuk di penjara."


sampai kapan sih perdebatan ini berakhir. Andy sebenarnya tidak ada waktu hanya untuk menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Tiara. Ini juga sudah masuk jam kantor, seharusnya dia sedang sibuk bergelut dengan berbagai macam berkas dan dokumen bersama Arka.


Eh iya, ya ampun lupa di ruangan ini juga masih ada Arka dan Kalista? Kenapa mereka hanya diam saja sih? Enak banget ya jadi penonton dan pendengar, kenapa nggak ikut nimbrung aja sih?


"Suruh siapa dia ngehajar orang sampai tepar dan terkapar?" Tanya Tiara tanpa rasa bersalah sedikitpun, bingung juga gue sama pikirannya Tiara. Usia sudah masuk dewasa tapi pikirannya kaya bocah belasan tahun.


"Lu upgrade dulu deh otak lu! Biar setara dan selevel sama pikiran gue, jujur ya lama-lama gue cape juga ngomong sampai mulut dan tenggorokan gue kering tapi lu nya nggak paham-paham." Terpancar kilatan amarah di sorot matanya.


"Ya lu pikir aja, kalau tadi malam si botak brengsek keparat nggak di hajar sampai tepar, sudah bisa di pastikan tadi lagi lu terbangun berada di hotel dan tubuh lu telah di nodai. Lu udah nggak suci, dan mungkin Evan juga hilang respect sama lu!"


Andy merasa tidak habis pikir dengan Tiara. Apakah otak Tiara selemot itu untuk mencerna semua hal yang telah Andy jelaskan? Andy saja kesal dan jengkel, apalagi Evan yang semua usahanya tidak di hargai. Padahal Evan hanya ingin yang terbaik untuk Tiara.


"Intinya sih Tiara masih cemburu karena tanda kissmark di leher Evan kan? Yuk mari kita lihat rekaman cctv di apartment ini." Setelah menghabiskan beberapa menit detik dan sekon barulah Arka mencoba mengasih solusi untuk mengakhiri perdebatan ini.


"Eh emang ada cctv di apartment ini?" Tanya Tiara bingung.


"Ada! Gue yang pasang, jauh sebelum gue nikah sama Kalista. Karena gue ingin memantau semua gerak-geriknya, dan terlebih lagi gue takut kalista membawa pria lain masuk ke apartment ini." Arka tercengir kuda.


"Hey! Mulut anda tuh ngomong sembrono! Mana mungkin aku seperti itu." Cubitan kecil mendarat di pinggang Arka, Arka meringis pelan.


Ruang monitor ada di dekat balkon. Kenapa di dekat balkon? Entahlah, Arka yang masang jadi hanya dia yang tahu alasannya.


Andy langsung menunjukan rekaman cctv. Tapi sebelum itu Andy menunjukan terlebih dahulu rekaman cctv yang berada di apartment Arka. Wajah lelah Evan dan Andy yang baru saja sampai di apartment itu, Evan dengan langkah yang tertatih-tatih memapah Tiara. Orang mabuk itu jalannya sempoyongan dan menjadi berat, jadi wajar Evan memapah nya sampai tertatih-tatih.


Wajah Andy juga terpampang di layar monitor, dan beberapa kalimat percakapannya pun terdengar sangat jelas. Andy menasehati Evan untuk segala hal.


Merasa apartment Arka kurang nyaman karena sedikit berantakan dan kurang rapi, akhirnya Evan memutuskan untuk membawa pindah tubuh wanita lemah itu ke apartment yang berada tepat di depannya, apartment yang duku di huni oleh Kalista.


Setelah merebahkan tubuh Tiara di ranjang milik Kalista. Evan rupanya membuka lemari Kalista dan mengambil satu baju piyama. Cukup lama Evan terdiam dan memandang gadis yang tengah terkapar itu, baju piyama yang sedang di genggamnya itu di lepaskan dan dia memilih duduk di kursi dekat meja rias. Pikirannya seperti sedang mempertimbangkan sesuatu, hingga pada akhirnya tangannya itu meraih salah satu novel koleksi Kalista, mungkin Evan mencoba membunuh waktu dengan membaca novel.


Sekarang di layar monitor dengan memperlihatkan Tiara yang tiba-tiba bangkit, menghampiri Evan dan memeluknya dengan sangat erat. Tubuhnya sangat lincah dan nafsunya sangat menggebu-gebu. Tiara juga menciumi leher Evan, lebih tepatnya sih menggigitnya.


Tiara melotot menyaksikan itu semua, ternyata memang benar wanita liarnya itu adalah dirinya sendiri. Tubuhnya menegang dan bola matanya merasa panas. Apa-apaan ini? Kenapa dirinya bisa seperti itu? Kenapa dirinya sangat gila, sangat menginginkan sentuhan Evan?


Evan mengecup bibirnya sekilas, namun Tiara juga tidak mau kalah dan tidak mau melepaskan bibir Evan. Dia menjejalkan lidahnya kedalam mulut Evan, lidah mereka menyatu dan menari-nari di dalam mulut, kegiatan bertukar air liur itu terasa sangat nikmat. Awalnya hanya kecupan tapi lama-lama malah menjadi pagutan hot.


"Ada apa dengan diri gue? Apa gue kerasukan setan pelank*r? Kok gue bisa seliar dan semesum itu?" Batin Tiara, tangannya memukul-mukul kepalanya.


Manik mata itu membulat sempurna, meronta-ronta seperti ingin keluar dari bola mata itu. Mulut Tiara menganga ketika menyaksikan dirinya begitu nakal naik ke tubuh Evan, posisi yang pernah Tiara lihat di blue film. Evan di bawah dan dirinya diatas tubuh Evan. Evan berada dalam Kungkungan tubuh Tiara, Tiara benar-benar menguasai tubuh Evan. Bagaikan seorang wanita malam yang sangat haus akan kenikmatan dan sentuhan laki-laki.


"STOP! udah gue nggak sanggup." Dengan napas memburu dan ngos-ngosan, Tiara meminta rekaman cctv itu berhenti di putar.


Tiara sangat kaget ketika tangan indahnya turun dan menyentuh bagian sensitif Evan. Ini gila, dan ini sangat memalukan. Bagaimana nanti ketika dirinya bertemu Evan? Sekarang saja rasanya sudah mati kutu tidak berani menatap Arka, Kalista, dan Andy.


"Tanggung lihat dulu deh sampai selesai." Ucap Andy datar, karena Andy juga merasa penasaran apa sih yang terjadi tadi malam pada mereka?


Evan sudah dalam mode on, namun otak dan pikirannya masih sadar. Evan mendorong Tiara agar segera menyudahi kegiatan yang bisa menjerumuskannya tersebut. Berlari membawa Tiara ke kamar mandi dan mendudukkannya di bath up.


Jangan kalian pikir Arka menaruh cctv di kamar mandi! Untung saja Evan tidak menutup pintu kamar mandi itu, sehingga kegiatan di kamar mandi pun masih tertangkap kamera cctv. Guyuran air shower itu membuat Tiara lebih tenang, gairahnya yang sedang menggebu-gebu pun perlahan menghilang. Bahkan matanya sepertinya sudah tidak kuat menahan kantuk.


Evan mengerang frustasi sambil menonjok tembok, kemudian beralih menatap Tiara yang sudah lemas dan sama sekali tidak mempunyai energi. Sempat bingung dan ragu juga bagaimana cara menggantikan baju Tiara? Dia yang gantikan? Bisa saja! Namun bisikin setan yang dahsyat bisa membuatnya khilaf. Tapi, kalau nggak di ganti nanti Tiara masuk angin karena bajunya telah basah kuyup.


Setelah berpikir maju mundur seribu bulan purnama akhirnya Evan memutuskan untuk menggantikan baju Tiara dengan piyama Kalista. Evan harus menelan saliva nya karena melihat tubuh mulus seorang gadis tanpa tertutup sehelai benang pun. Bahkan Evan pun merasakan sesuatu miliknya berontak, terasa sakit dan membuat celananya sakit.


Terlihat jelas dari raut wajahnya, Evan sangat berusaha menormalkan segalanya. Tubuh mulus dengan lekukan yang sangat indah nan sempurna itu terpampang nyata di hadapannya. Bukannya hanya memakaikan piyama saja, Evan juga harus memakaikan pakaian dalam. Benda berbentuk kacamata dengan cup bulat empuk itu ada di tangan Evan, Evan memakaikannya pada dua gundukan daging sintal yang menempel di tubuh Tiara.


Setelahnya Evan menyelimuti tubuh Tiara, berusaha mengatur bantal senyaman mungkin agar leher Tiara tidak merasa sakit. Kemudian dia masuk ke kamar mandi dengan durasi yang cukup lama, mungkin sekitar tiga puluh menit.


Evan memutuskan untuk tidur di sofa. Malam itu benar-benar tidak ada yang terjadi selain Tiara yang menyerang Evan lebih dulu.


"Pasti ada yang di skip nih?" Ucap Tiara, namun manik matanya tidak mampu walaupun hanya untuk menatap Kalista seorang.


"Apanya yang di skip sih ra? Lu kan udah lihat barusan." Kalista pun mulai jengkel pada Tiara


"Kenapa Evan ganti baju? Gue curiga nih! Antara dia main gila dengan perempuan lain atau gue yang di nodai sama dia?" Lirihnya pelan, namun masih terdengar oleh Andy, Arka dan Kalista.


"Astaga!" Andy benar-benar frustasi dan mungkin bisa gila jika terus-terusan berbicara dengan Tiara.


"Evan ganti baju, karena lu muntah di bajunya. Yakali Evan kaga ganti baju, bau muntahan isi perut lu." Andy bangkit dan berjalan masuk hingga mendudukan dirinya di sofa.


Tiara mengerjapkan, matanya membulat sempurna, bibirnya melongo. Kali ini ucapan Andy sangat menohok dan sukses membuat dirinya kaget setengah mati.


"Dengerin gue ra! Kalau gue belum selesai ngomong elu jangan nyela. Menurut sudut pandang gue sebagai wanita yang sudah menikah dan bersuami, seorang laki-laki itu susah menahan gejolak birahinya jika disuguhi pemandangan tubuh mulus wanita tanpa sehelai benangpun. Gue aja kaget sekaligus salut banget sama Evan, dia lebih memilih menuntaskannya sendiri dibanding menjamah tubuh lu yang terkapar di ranjang." Kalimatnya terjeda, Kalista memasok dan mengisi oksigen terlibat dahulu.


"Bukannya gue tuh sok tahu! Tapi gue emang tahu karena suami gue pernah kaya gitu. Bayangin dong tengah malam dia rela mandi air dingin hanya untuk meredam gairahnya. Dia juga sama sekali tidak menodai elu, kan elu liat sendiri di rekaman cctv elu kan yang nyerang duluan?" Imbuhnya lagi sambil berusaha menjelaskan agar Tiara paham.


"Tapi masa iya gue kaya gitu? Kok gue seakan-akan haus banget sentuhan, gue nggak kaya gitu ta. Elu kenal gue nggak sih?" Bantah Tiara dengan suara yang sedikit lebih tinggi, wajar sih Tiara berbicara seperti itu karena dirinya sangat malu melihat rekaman cctv ketika dia menyerang Evan dengan sangat buas.


Menarik napas panjang kemudian membuangnya dengan kasar. Jari-jarinya terselip diantara rambut di kepalanya. "Karena elu kena pengaruh obat perangsang." Jawab Arka jengah.


"Gue nggak mungkin minum obat perangsang? Gue masih normal, dan gue bukan wanita malam." Teriak Tiara tidak setuju dengan ucapan Arka, seolah-olah dirinya memang sudah mengonsumsi obat perangsang.


"Elu pulang ngantor datang ke club malam, pesan wine, mabuk, joget-joget dan di godain para pria hidung belang. T I A R A asal lu tahu ya, puncak kemarahan Evan meningkat karena si botak maksa lu buat minum. Dan akhirnya lu minum di gelas yang disodorkannya, gue juga lihat lu minum sedikit. Gue tahu betul gimana senyum sumringahnya si botak ketika lihat lu minum, dan gue yakin bahwa si botak keparat itu telah mencampurkan obat perangsang di minuman itu." Jelas Evan.


"Sekarang lu bayangin deh, kalau Evan nggak nolongin lu dan membawa lu pergi dari tempat hiburan itu, sudah bisa di pastikan sekarang lu sudah tidak perawan, sudah di nodai, sudah tidak suci lagi, bahkan mungkin sekarang lu sedang berada di mode stress karena merasa hidup lu telah hancur lebur. Harusnya lu ber-terimakasih pada Evan, nah elu malah melukai hati kecilnya." Begitulah yang Andy ucapakan.


"Sekarang terserah elu deh! Gue juga udah cakep koar-koar terus dari tadi tapi sama sekali nggak masuk di otak elu. Evan bukan pria yang seperti ada di pikiran lu." Imbuhnya lagi, Andy mengambil ponsel dan menekan-nekan layar ponselnya.


Tiara mulai memikirkan semua penjelasan Andy, mencoba mencerna setiap kalimatnya yang masuk melalui telinga, dan mencoba menelaah semuanya. Tentang pernyataan yang dikatakan Andy, tentang pernyataan menurut sudut pandang Kalista. Rekaman cctv sudah jelas memperlihatkan semuanya, Tiara mencoba berpikir jernih dengan kepala dingin dan hati yang tenang.


"Minta alamat apartment Evan dong." Satu kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya.


"Mau ngapain sih?." Ketus Andy, Arka langsung membekap mulut Andy. Dengan kondisi Andy sekarang, Arka tahu pasti Andy akan melontarkan kata-kata menohok.


"Alamatnya apartemennya di jalan XXXX." Ucap Arka.


"Kira-kira kak Evan suka makanan apa ya?" Tanya Tiara dengan wajah yang merah merona.

__ADS_1


"Sekarang mau nyogok pakai makanan? Katanya punya rasa tapi samasekali nggak tahu hal-hal kecil tentang Evan? Kamu jatuh cinta karena apa sih? Lihat tampangnya?" Bibir Andy mencebik, ledekannya sangat menohok ke hati Tiara.


Tiara langsung memfokuskan pandangannya pada Evan, merasa sangat jengkel dengan statementnya. Rasa yang di punya Tiara datangnya murni dari hati, bukan dari tampang semata. Fisik itu nomor sekian, yang paling penting ada hati, sikap, sifat, perlakuan, etika etiket, babat bibit bobotnya!


"Perbaiki komunikasi diantara elu dan Evan. Pintar-pintar membujuk hati seorang pria yang sedang marah deh, kalau stuck ide kan lu bisa tanya Mbah Google." Kalista mengusap lembut rambut Tiara


"Lain kali kalau ada masalah curhat sama gue ya! Ada masalah pergi ke club malam, bukannya nyelesain masalah yang ada juga malah nambahin masalah. Ingat ra, mabuk-mabukan sama sekali tidak menyelesaikan masalah!" Ucap Kalista.


Arka tersenyum menyaksikan istrinya memberikan beberapa petuah pada sahabatnya. Istrinya itu memang selalu mengagumkan dan membuatnya selalu merasa bahagia.


"Udah siang nih! Jam ngantor udah mulai dari tadi." Arka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Gue udah suruh Gina buat nge-handle semuanya kok." Ujar Andy.


"Bagus!"


"Mau ikut ke kantor atau pulang?" Tanya Arka sambil melirik Kalista.


"Ikut ke kantor deh! Nggak bakalan ganggu kamu kok, aku mau rebahan sekalian nonton drakor aja." Ucap Kalista sambil memamerkan deretan giginya.


"Oke!"


"Gue nebeng ya! Mobil gue di parkiran kantor, kemarin sore gue nyari makan sama Evan, dan numpang juga di mobil Evan. Tadi pagi kesini bawa mobil Evan, dan mobilnya udah di bawa pulang juga sama Evan."


"Iya nyamuk!" Jawab Kalista dan Arka bersamaan sambil meledek Andy.


"Pak Arka, pak Andy terimakasih ya."


"Terimakasih ya ta, gue pinjam dulu apartment lu sampai sore deh. Kepala gue pusing banget gue perlu tidur." Tiara memeluk Kalista sekilas.


"Iya, pakai aja! Berjuang ya demi baikan sama Evan." Kalista mengedipkan sebelah matanya. Dan Tiara langsung mengacungkan jempolnya.


*****


Tiara mengerjapkan matanya, waktu menunjukan pukul 14:00 WIB. Sudah berapa jam iya tertidur? Pusing di kepalanya juga sudah berkurang.


Karena sudah punya niat akan datang ke apartment Evan dan meminta maaf, Tiara pun sibuk menelusuri beberapa artikel di google. Mulai dari cara meminta maaf yang formal, hingga cara meminta maaf dengan cara konyol pun di bacanya.


Tiara bingung harus memilih meminta maaf pakai cara yang mana? Mau membelikan Evan makanan tapi nggak tahu Evan suka makan apa? Mau membelikan kue juga nggak tahu Evan sukanya kue apa?


"Arrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhh gue kok sebodoh itu sih, cara meminta maaf yang baik dan benar saja gue nggak tahu." Mengerang frustasi, tangannya terselip diantara rambutnya.


Lama berpikir namun tidak ada hasil, kalau tidak bergerak waktu akan semakin sore. Tiara membersihkan badan terlebih dahulu, setelah selesai membersihkan badan pun Tiara kembali bingung, mau pakai baju apa? Terlebih lagi dia memang tidak membawa baju.


Mau pakai baju Kalista namun tidak berani, selain tidak sopan malu juga sih sama pak Arka. Tapi nggak ada pilihan lain, Taira mengambil rok rempel pendek motif kotak-kotak berwarna mocca dan memakai baju crop putih polos, itu loh baju Korea yang Kalista beli di mall waktu sedang ngemall bareng Tiara, ban bemo dan Rangga. Eh sorry, si cunguk Rangga jangan dibawa-bawa!


Mengaplikasikan make up natural di wajahnya, serta mengcurly rambut bagian bawahnya. Tiara juga meminjam sneakers putih milik Kalista.


Tiara menatap wajahnya melalui pantulan cermin, wajahnya sudah oke! Penampilannya juga oke! Tas kecil tersampid di bahunya. Sebelum benar-benar keluar dari apartment Kalista, Tiara pun kembali bercermin.


Btw Tiara sudah meminta izin Kalista melalui chat via WhatsApp, meminta izin pinjam bajunya, dan meminta sedikit make up-nya.


Taksi online sudah menunggu di depan gerbang apartment, Tiara langsung masuk dan menyebutkan alamat dimana apartment Evan berada.


Saking sibuknya berpikir bagaimana cara ngomongnya nanti, Tiara bahkan sampai kelupaan untuk membelikan buah tangan untuk Evan. Sekarang taksi malah sudah sampai di depan gedung apartment yang Evan tempati.


Setelah membayar ongkos taksi, Tiara keluar dan langsung masuk menuju lift, menekan angka 10. Tiara berjalan dengan hati cemas dan debaran jantungnya terasa sangat kencang dan lebih cepat dari biasanya.


Jari lentik itu menekan bell apartment Evan. Sudah dua kali memencet bell, namun tidak ada tanda-tanda tuan rumah akan membukakan pintu.


Untuk mengusir rasa cemas, gundah gulana, dan hati yang tidak karuan. Tiara mencoba mengalihkannya dengan bermain ponsel.


"Cari siapa?"


Pintu terbuka, tubuh Evan hanya dililiti handuk bagian bawahnya saja. Rambutnya basah dan berantakan, tubuh Tegap atletis, dada bidang, bahu lebar dan perut kotak-kotak sangat mempesona dan menggairahkan. Roti sobek yang sangat sempurna ini titisan siapa? Ya ampun wanita mana yang tidak meleleh melihatnya.


Eh tunggu! Noda merah di leher itu warnanya sangat pekat, dan belum memudar sedikitpun.


Tiara mendongakkan kepalanya, mata mereka bertemu dan saling tatap. Tiara terpesona oleh penampilan Evan yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, sedangkan Evan juga kaget kenapa Tiara datang ke apartmentnya? Penampilannya juga sangat keren dan cantik, onni Korea banget.


"Ngapain ra?" Tidak ada senyum yang menghiasai wajahnya, bahkan suaranya juga sangat datar.


"Ah i--tu kak." Tiara merasa gugup, keringat dingin membasahi dahinya. Tangannya sibuk meremas ujung roknya.


"Ada apaan?" Tanyanya lagi, kekeuh masih dengan suara datar dan dingin.


Tiara terdiam, tidak tahu harus apa? Tidak tahu juga harus memulai dari mana? Ada rasa sesak di hatinya ketika melihat sikap Evan yang dingin dan nada suaranya sangat datar.


"Lu lagi suntuk ya ra? Makanya lu nyasar ke sini! Gue nggak bisa berdiam diri lama-lama dengan kondisi dada telanjang, repot nanti kalau sudah masuk angin." Evan mengibaskan rambut basahnya.


Tiara melongo menatap Evan, Evan yang biasanya bersikap sangat manis dan lembut kini berubah menjadi Evan yang sangat dingin. Tapi, sumpah demi apapun Tiara sangat terpesona melihat gerakan Evan barusan.


Evan berbalik badan dan bersiap akan menutup pintu apartemennya,


"Kak." Tangan Tiara menahan pintu itu. "Aku boleh masuk nggak?" Tanyanya gugup.


"Ngapain? Mau lu kalau sampai gue gerayangin kaya wanita liar." Cibir Evan yang sebabnya sedang menyindir Tiara.


"Ayo kak cepat ganti baju, nanti keburu masuk angin." Tiara mendorong sekuat tenaga tubuh Evan, dan langsung menutup pintu apartment Evan.


Evan mengernyitkan dahinya, kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk ganti baju. Tiara menunggunya dengan setumpuk perasaan gugup, dan mencoba menyusun beberapa kalimat yang akan di ungkapkannya. Tiara memijit pelan dahinya, sambil terduduk di sofa.


"Mau minum apa ra?" Tanya Evan yang kini sudah berpakaian. Hanya memakai celana pendek dan kaos hitam, pakaian yang sangat santai untuk di gunakan di rumah.


"Apa aja kak." Jawab Tiara


"Oh oke, wine ya!" Cibir Evan.


Ya ampun bisa juga ya laki-laki ini berbicara seperti itu, cuek, jutek, dingin, datar, sama sekali tidak ada aura hangat di wajahnya.


Evan meletakkan kotak jus di meja, lalu duduk di sofa yang menghadap Tiara. Evan menatap Tiara dengan tatapan sulit di artikan.


"Kak terimakasih ya sudah nolong aku tadi malam." Ucap Tiara, kepalanya tertunduk.


"Oke."


Hanya kata itu doang yang keluar dari mulut Evan, responnya benar-benar singkat, padat, dan jelas.


"Aku juga minta maaf udah nuduh Kaka main sama wanita liar." Wajahnya masih tertunduk.


Tidak ada respon dari Evan, Tiara semakin gugup dan tiba-tiba otaknya blank, tidak tahu harus berbicara apa? Dan bagaimana? Evan sepertinya sudah malas untuk merespon Tiara.


Satu bulir air bening lolos dari matanya. Evan menatapnya heran. "Kenapa nangis?" Oke kekecewaan Evan sepertinya sangat dalam, nada suaranya sudah di putuskan akan selalu datar.


Karena sudah bingung harus ngomong apalagi, dan sudah bingung juga karena tidak mendapat respon apapun dari Evan.


Tiara menghampiri Evan dan duduk di sebelahnya. Degup jantungnya sangat kencang. Tiara langsung menatap Evan sangat intens, dan langsung menempelkan bibirnya tepat di bibir Evan.


Evan mengernyit, mulutnya terlipat dalam. Tangannya mendorong bahu Tiara. "Apa-apaan sih ra?" Bentaknya dengan suara tegas.


Luar biasa di tolak! Udah mau berinisiatif duluan, tapi Evannya menolak. Kebayang dong gimana malunya Tiara? Wajah Tiara memerah menahan malu.


"Maaf soal tadi malam udah nuduh yang nggak-nggak, terimakasih juga sudah nolongin aku." Punggung tangannya mencoba mencoba mengusap sisa-sisa air mata.


Tiara berdiri dan langsung bangkit menuju pintu keluar. Evan dengan sigap langsung mencekal pergelangan Tiara dan menariknya kedalam pelukannya. Manik matik mata mereka saling beradu, Tiara mendongakkan kepalanya karena tingginya hanya sebahu Evan.


Dari saling tatap kini berubah menjadi cumbuan mesra. Mereka melakukannya atas kemauan bersama, tidak ada paksaan ataupun pengaruh dari obat seperti tiada tadi malam. Lidah mereka saling membelit, berpagutan dengan sangat nikmat. Sesekali mereka pun berlomba-lomba mencari celah untuk memasok oksigen. Evan mencondongkan badannya, sedangkan Tiara berjinjit, bercumbu dengan posisi berdiri.


Tiara memakai baju crop minim, baju itu pun terangkat seiring dengan pergerakan dari tubuh Tiara. Evan menyentuh perut Tiara yang terekspose itu.


Sudah hampir sepuluh menit lidah mereka saling membelit dan berpagutan. Kini Evan melepaskan bibirnya dari penyatuan bibir Kalista. Napasnya ngos-ngosan dan sangat memburu, menarik Tiara dalam dekapannya dan langsung duduk di sofa. Evan mengecup puncak kepala Tiara.


"Minum nih."


Tiara memberinya dan langsung meneguknya hingga tandas tak tersisa sedikitpun. Dadanya masih naik turun, napasnya masih sangat memburu.


"Ra lu sadar kan?" Tanya Evan.


Evan ingin memastikan bahwa Tiara melakukannya dalam keadaan sadar. Jika Tiara memang sadar dan itu murni kemauannya, maka bisa di simpulkan Tiara menaruh perasaan padanya.


"Sadar kak." Jawabnya sambil memejamkan matanya.


Senyum sumringah dan merekah managing terlihat di bibir Evan.


"Kak, suka sama aku nggak?" Tanya Tiara masih dengan mata terpejam.


"Buka mata!" Perintah Evan.


Tiara langsung membuka mata, dan duduk berhadapan dengan Evan.


"Udah buka mata nih! Mau ngapain?" Tanya Tiara sambil memicingkan matanya.


"Suka sama gue nggak?" Tanya Evan. Alih-alih bukannya menjawab, Evan malah bertanya balik.


"Kamu nggak jawab pertanyaan aku kak." Ketus Tiara.


Evan tidak menjawabnya, selama ini gencar mendekati Tiara. Tapi Tiaranya malah tidak peka, tidak mengerti akan sikap dan perlakuan Evan.


"Kalau gue nggak suka sama lu, terus lu nyesel gitu udah memberikan ciuman hot barusan sama gue?" Untuk pertanyaannya kali ini, Evan sangat-sangat penasaran dengan jawaban yang akan terlontar dari mulut Tiara.

__ADS_1


"Nggak! Soalnya aku suka sama Kaka." Jawab Tiara sambil memalingkan wajahnya menatap kesehatan penjuru apartment ini, yang penting tidak menatap Evan.


Evan meraih wajah Tiara, menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Tiara. "Ngomong apa barusan?" Tanya Evan sambil menelisik manik mata Tiara.


"Aku nggak nyesel, soalnya aku suka sama kak." Jawab Tiara, pandangan matanya menyipit lalu wajahnya tertunduk.


"Tapi, tenang aja! Aku tahu kok Kaka nggak suka sama aku." Tiara tersenyum manis, namun Evan juga tahu bahwa itu hanya senyuman palsu. Senyum untuk menutupi kekecewaannya.


"Suka sama gue? Terus kenapa setiap kali gue deketin lu, lu nya berasa menjaga jarak ra." Tanya Evan sangat serius.


"Aku pernah di selingkuhi, makanya aku lebih selektif lagi dalam memilih cowo. Tapi Kaka selama ini cuma dekatin aku doang, sama sekali nggak ngasih kepastian. Hingga pada akhirnya aku berpikir, mungkin kak Evan cuma Balerante sekaligus phpin aku doang." Ucap Tiara.


"Bukannya mau baperin atau php-in doang, tapi gimana ya mau berusaha meyakinkan tapi takut di tolak." Evan menatap Tiara sambil tersenyum.


"Gue tuh suka sama lu ra!" Akhirnya kata itu keluar juga dari mulut Evan. Jujur saja Tiara sangat senang dan bahagia mendengar kalimat itu.


"Aku juga sama kamu." Tiara menatap manik mata Evan dengan tatapan penuh cinta.


"Sekarang lu wanita milik gue ya! Tenang saja, gue serius kok dengan semua ini. Gue juga bakal halalin lu." Evan mencium kening Tiara.


Sore itu di apartment Evan tiba-tiba suasananya berubah menjadi sangat hangat dan penuh cinta. Mawar-mawar bermekaran, dan kelopaknya bertaburan di mana-mana.


Tiara merasa sangat bahagia, hari ini adalah hari pernyataan cinta.


"Ra, lu tahu nggak? Gue sakit hati banget tadi pagi. Gue berasa nggak di akuin sama lu." Evan mengusap rambut Tiara.


"Karena tadi pagi kita memang memang belum ada hubungan kan." Ucap Tiara kaku.


"Iya sih! Tapi sakit banget ra, sudah gencar dekatin kamu, tapi kamunya gitu."


"Maaf." Ujar Tiara.


"Sudah ku maafkan, kekasihku." Evan mendekap Tiara dengan sangat erat, bahkan mungkin Tiara hampir susah untuk bernapas.


Selanjutnya mereka sibuk mengobrol, dari hal-hal random sampai hal-hal penting sekalipun. Mereka berdua cepat banget akurnya, dan bahkan sekarang sudah bisa tertawa bersama.


"Ini maksudnya apaan nih pakai baju minim kaya gini?" Evan menyentuh baju crop yang di kenakan Tiara. "Untuk menggoda aku ya?" Evan manik turunkan sebelah alisnya.


"Bukan gitu! Ini sebenarnya aku pinjam baju Kalista."


"Tuh kan, kamu niat banget mau godain aku sampai-sampai pinjam baju Kalista." Evan semakin menggoda Tiara dengan mencolek dagunya.


"Bukan! Aku belum pulang ke rumah, makanya pinjam baju Kalista." Ucap Tiara yang tidak ingin disebut mau menggoda Evan.


"Baju Kalista kan banyak di lemari, kenapa milihnya yang ini?" Evan ini benar-benar tidak mau kalah, dan argumennya harus di benarkan.


"Karena sebenarnya aku sangat ingin memakai baju ini. Waktu itu kita ngemall bareng, nah Kalista ini orangnya sangat fashionable banget. Intinya ngerti fashion deh. Terus pas lihat Kalista pakai baju ini aku juga jadi mau hehe." Jelas Tiara sambil terkekeh.


"Yaudah besok kita ngemall, aku beliin kamu baju Korea." Ujar Evan.


"Aku juga ada uang kak--"


"Nggak boleh nolak sayang!" Evan menyela ucapan Tiara, dan menempelkan telunjuknya di bibir Tiara.


Eh apa barusan? Sayang? Oh my God secepat itukah status mereka berubah? Overall sih Tiara sangat bahagia untuk hari ini.


"Ngapain tuh muka jadi berubah warna? Kamu bunglon ya S A Y A N G ??" Ledek Evan.


Tidak tahu kah Evan, perubahan rona wajah Tiara karena dirinya menyebut sayang. Sebuah kata sederhana yang sudah lama tidak Tiara dapatkan, kini ada seseorang yang memanggilnya sayang. Saking kaget dan gugupnya, wajah Tiara sampai berubah merah dan menjadi panas dingin.


Punggung tangan Evan menyentuh dahi Tiara, "Ya ampun sekarang panas dingin. Kamu sakit sayang?" Bukannya berhenti menggoda Tiara, Evan malah semakin menjadi-jadi.


Evan terkekeh memperhatikan raut wajah Tiara, lucu dan sangat menggemaskan. "Ini pertama kalinya pacaran atau gimana sih? Lucu banget reaksinya." Tanya Evan sambil mencubit pelan pipi Tiara.


"Enak aja! Aku udah pernah pacaran." Tiara membela diri, walaupun suaranya sedikit terbata-bata.


"Tapi di selingkuhin, kasian!" Evan tertawa terbahak-bahak.


"Kamu juga di selingkuhi kan? Sama-sama kasian? Kenapa kita nggak main santet bareng-bareng aja?" Bibir itu mencebik, bola matanya memutar jengah.


Evan mengusak pelan rambut Tiara. "Ngapain main santet? Mendingan kita balas dendam pakai prestasi. Itu lebih baik dan lebih produktif." Ucap Evan.


"Iya betul."


Evan kembali menarik pinggang Tiara, kini Tiara di dekatnya sangat erat. Dekapan itu terasa sangat hangat dan membuat perasaan Tiara nyaman dan damai.


"Ra?"


"Iya apa?"


"Aku sayang banget sama kamu ra."


"Aku juga kak." Tiara membalas pelukan Evan, sanagt erat sehingga tubuh menekan saling menempel.


"Panggil sayang dong, masa kakak?" Cibir Evan jengah.


"Iya sayang." Tiara mendongakkan kepalanya menatap Evan, karena tinggi badan Tiara hanya sebahu Evan.


Evan mengecup puncak kepala Tiara, mengecup dahinya juga. Evan sangat-sangat romantis, dan sangat lembut dalam memperlakukan Tiara.


"Ra, kesini nggak bawa apa-apa? Katanya mau minta maaf, masa iya nggak bawakan atau buah tangan?"


"Tadinya mau beli, tapi nggak tahu kamu suka apa." Tiara masih membenamkan wajahnya di dada Evan.


"Kenapa nggak cari tahu?"


"Wajar nggak tahu karena belum pacaran, nah karena sekarang sudah resmi pacaran makanya mau cari tahu segala hal tentang kamu"


"Oh gitu. Perlu cari tahu sampai anggota tubuh aku nggak?" Evan menatap Tiara sambil tersenyum menyeringai.


"Apaan sih? Pasti kamu mikir mesum." Tiara menjawil pelan hidung Evan.


"Iya benar! Wajar kan pria normal." Arka mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa.


"Hmmm." Hanya gumaman itu yang keluar dari mulut Tiara.


Tiara mengendus-endus dada bidang Evan. Dada bidang itu sangat wangi, harumnya membuat Tiara sangat merasa nyaman. Tangan kekar milik Evan juga dari tadi melingkar di pinggang Tiara, sama sekali tidak terlepas.


"Sampai kapan nih peluk-pelukan? Nanti aku bisa nggak tahan sayang." Tangan itu sudah berpindah dari pinggang kini mengusap pelan rambut Tiara.


Tiara segera menjauhkan badannya, percakapannya ini sudah mulai ngaco dan menjurus pada hal-hal mesum.


"Aku laper, cari makan yuk." Ajak Tiara, tangannya sibuk mengusap perutnya yang rata itu.


"Nggak mau! Aku maunya kamu yang masak."


"Tapi aku nggak bisa masak." Wajahnya menunduk, karena malu tidak bisa masak.


"Tidak masalah! Selama kamu mau belajar masak, berarti kamu bisa masak." Ucap Evan.


"Ayo ke dapur! Kita masak bareng-bareng." Pergelangan tangan Evan langsung mencekal dan menarik tangan Tiara agar mengikutinya di dapur.


Sesampainya di dapur, Tiara malah bengong. Sama sekali bingung dan nggak tahu harus mengerjakan apa? Evan sempat geleng-geleng kepala, akhirnya Evan menyuruh Tiara memotong-motong sayuran, lalu mencucinya.


Evan sama sekali tidak turun tangan, Evan hanya jadi penyuruh saja. Evan sengaja melakukan ini agar Tiara terbiasa turun ke dapur, dan tentunya agar Tiara bisa masak juga.


"Yah asin." Ucap Tiara yang baru saja mencicipi sayur bayam buatannya.


"Tambahin apa?" Tanya Tira, Evan hanya mengedikkan bahunya saja. Biarkan saja Tiara berpikir.


"Kalau tambah garam, nanti malah makin asin. Kalau tambah penyedap rasa, kayangan makin nggak mungkin. Kalau tambah jeruk nipis? Kira-kira rasanya gimana ya? Aaaaaaah nanti yang jadi asin asam, hmm tambah gula kali ya." Tiara berpikir sambil mempertimbangkan banyak hal.


"Yeay lumayan enak! Nggak asin-asin banget kaya tadi." Tiara loncat-loncat kegirangan karena masakannya hampir berhasil, ya walaupun hanya 88% lah.


Evan tersenyum merekah, dia malah sibuk mendokumentasikan Tiara yang sedang masak.


Tidak hanya di situ saja, Tiara juga membuat drama goreng paha ayam. Minyak panas yang meletup-letup menebak tangannya sedikit, menggoreng paham ayam yang baru di kelurahan dari kulkas dan wajahnya tidak di tutup. Gimana nggak meletup-letup tuh minyak panas?


Tiara kaget, dan sempat ragu ketika Evan menyuruhnya untuk menutup wajan. Namun Evan dengan segala caranya mampu membujuk Tiara.


Kenapa harus repot-repot masak?


Ada nggak yang nanya gitu? Evan mampu kok makan di restoran bintang lima, kafe-kafe ternama, dan Evan juga mampu makan di pinggir jalan, ataupun delivery. Tapi Evan hanya ingin mengajarkan Tiara agar bisa memasak.


"Nggak usah takut! Hal kaya gini tuh wajar! Semua wanita yang belajar masak, bakal melewati masa-masa seperti ini." Evan mengecup dahi Tiara seraya tangannya mengusak puncak kepala Tiara.


Sore itu mereka habiskan untuk makan bersama, makan di balkon sambil menatap langit yang berubah warna menjadi keemasan, pertanda matahari akan segera terbenam dan tugasnya di gantikan oleh bulan.


Walaupun makanan Tiara belum sempurna, namun Evan sangat menghargai usaha dan kerja keras Tiara. Sore itu benar-benar merupakan sore yang sangat membahagiakan.


Hal-hal seperti ini memang sangat Evan nantikan, bercanda tawa mesra menikmati sunset di balkon apartment nya di temani wanita yang sangat di cintainya, dan bonusnya sambil makan bareng juga hasil masakan Tiara. Selain itu juga, mereka ngeteh bersama. Suasana yang sangat hangat bagaikan bagikan sepasang suami istri yang sedang menikmati sebuah kebersamaan.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❀ tambahkan favorit πŸ™πŸ€—


Tinggalkan jejak guys! Author udah negtik panjang lebar kali tinggi nih😁 jari sampai keriting dan keramπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❀


__ADS_2