
RM PADANG 1
Kalista menatap Arka tanpa berkedip sedikitpun, kalau saja barusan Arka tidak bilang, sudah bisa di pastikan dirinya telah lupa mengenai luka di punggung Arka, sedangkan luka di lengan Arka itu hanya luka kecil dan tertutup lengan baju. Kalista merasa khawatir, dan memaksa Arka untuk pergi ke dokter. Arka mengiyakan, tetapi nanti sore.
Mobil telah terparkir di depan rumah makan Padang. Parkiran sangat penuh dengan deretan mobil yang berjejer rapi, deretan sepeda motor juga tak kalah banyak.
Suasana rumah makan sangat ramai, karena rumah makan ini memang paling terkenal dan paling laris. Arka menggandeng Kalista dan segera masuk ke rumah makan Padang tersebut.
Semua kursi terlihat penuh, hanya ada beberapa kursi kosong yang letaknya di pojokan. Mau tidak mau akhirnya Kalista dan Arka memilih untuk duduk di kursi di pojokan itu. Dalam hati Arka merutuki kebodohannya, coba saja kalau tadi dia menelpon terlebih dahulu, sudah pasti kedatangannya akan di sambut hangat, dan akan di siapakah kursi yang memiliki spot bagus. Sekarang juga bisa saja sih dirinya mengatakan bahwa ia adalah CEO dari perusahaan Anggara. Tapi, hal itu terlalu menyombongkan dirinya nggak sih? Lagipula, Kalista tidak akan suka.
Kursi di pojokan juga sebenarnya tidak buruk sih, malah enak kalau buat Kalista karena bisa bersandar pada dinding tembok. Selain itu juga, kenapa rumah makan Padang ini sangat banyak pengunjungnya? Karena rumah makan Padang ini sangat unik, tidak ada menu yang di tawarkan, melainkan semua menu masakan di sajikan dalam meja. Apa yang kita ambil, berarti itu yang harus kita bayar.
"Nggak apa-apa nih di pojokan?" Tanya Arka, Arka takut Kalista merasa tidak nyaman.
Kalista tersenyum. "No problem! Malah enak banget bisa sambil nyender." Ucapnya masih tetap tersenyum.
Tidak berselang lama seorang pelayan datang membawakan semua menu masakan Padang. Yang paling membuat Kalista terperanjat dan terkejut ketika melihat pelayan itu membawakan lebih dari dua puluh piring makanan dalam satu tangan, tekniknya itu benar-benar keren, bahkan Kalista sampai mikir antara magic dan di bantu makhluk ghaib.
"Wah makanannya baru datang, boleh gabung nggak nih? Toh makanannya banyak, lagipula kayanya kalian nggak bakalan menghabiskan semuanyakan?" Ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kemudian dia duduk bersama istri dan anaknya, tepat di kursi di hadapan Arka dan Kalista. Siapa lagi kalau bukan Marcelino yang selalu menginginkan bisnis Arka merosot.
Tidak ada jawaban dari Arka dan Kalista, keduanya saling diam. Tangan Kalista menggenggam tangan Arka erat, berusaha menyalurkan energinya agar Arka merasa tenang dan tidak terpancing emosi.
Arka?
Tersenyum kecil pada kalista, Arka bahkan sama sekali tidak menghiraukan kicauan si Marcelino. Namun manik mata Arka sempat menatap mama Lisa sekilas. Wajah itu tertunduk sendu, namun Arka memberikan senyum tipisnya.
"Boleh gabung?" Tanya Dino.
Masih ingat dengan Dino? Itu loh anak kandungnya Marcelino, namun anak tirinya mama Lisa. Dino merupakan anak yang baik, walaupun dulu sempat ganjen sedikit pada Kalista. Dino juga sama sekali tidak memiliki sifat seperti ayahnya, kalau boleh jujur Dino saja sampai merasa mual pada ayahnya itu.
"Silahkan." Ucap Arka dan Kalista bersamaan, mereka juga tersenyum.
Arka mengambil pop chicken pada piringnya, dan mengambilkan rendang untuk Kalista. Mereka berdua cuek saja, seperti tidak ada musuh di depannya. Sedangkan Marcelino selalu menatap Arka dan Kalista dengan tatapan meremehkan atau pun mengejek.
"Katanya kemarin sore Arka kecelakaan? Ada yang luka?" Tanya Marcelino dengan senyum miring, mama Lisa yang berada di sebelahnya pun terperanjat dan langsung memperhatikan Arka.
Baru saja Arka memasukkan satu sendok makanannya ke dalam mulut, Marcelino malah mengajaknya berbicara. Kalista merasa geram, dan bahkan Kalista sampai merasa ada sesuatu yang janggal.
"Lanjutin makanan sayang." Arka berusaha menormalkan suasana, dan menyuruh Kalista kembali fokus pada makannya.
Kalista tersadar, lalu mengangguk dan tersenyum. Selanjutnya mereka berdua makan dengan sangat lahap, sama sekali tidak memperdulikan kicauan Marcelino. Bukan berarti Arka tidak ingin menanggapinya, namun Arka lebih memilih fokus pada tujuannya datang ke rumah makan ini.
"Arka anak tiriku, apakah ada yang luka?" Tanya Marcelino, ini adalah pertanyaan Marcelino yang ke dua puluh lima kalinya. Sedari tadi mulutnya itu selalu melontarkan kalimat yang sama, namun sama sekali tidak ada respon dari Arka.
__ADS_1
Apa katanya barusan? Anak tiri? Ya ampun Arka saja sampai memutar bola matanya jengah, bahkan sampai mendelik berkali-kali. Kali ini sepertinya Arka tertarik untuk menanggapi pertanyaan dari sang musuh bebuyutan.
"Maaf saya bukan anak anda, saya anaknya ayah Anggara dan mama Lisa. Saya sama sekali tidak mempunyai ayah yang berhati busuk." Ucap Arka dengan gamblang, bahkan bibirnya itu tersungging sinis.
Raut wajah Marcelino langsung berubah, ada rasa geram menyusup dalam hatinya, Arka selalu berhasil memancing emosinya. Kemudian dia tersenyum menyeringai, bagi Marcelino semakin Arka cuek, angkuh, sombong dan kurang ajar pada dirinya. Dirinya juga semakin merasa tertantang untuk segera menjatuhkan Arka, dan merebut kantornya.
"Tapi, mama kamu nikah sama saya, otomatis kamu anak saya dong. Walaupun hanya anak tiri." Lagi-lagi senyum menyeringai di tampilkan oleh Marcelino.
Arka berdecak sebal, kemudian terkekeh pelan. "Tapi maaf, saya sama sekali tidak ingin mempunyai ayah seperti kamu. Kamu kan ayahnya Dino, kenapa masih menginginkan saya sebagai anak kamu? Dino saja nggak kamu urus, nggak di perhatikan dengan benar. Seharusnya sebagi orang tua yang baik kamu mendidiknya agar menjadi lebih baik, agar jadi manusia berguna. Walaupun kamu tidak memberikan perhatian khusus pada Dino, alhamdulillahnya Dino memilih jalan yang benar, ketimbang harus mengikuti jejak ayahnya. Aku pribadi sih salut banget sama Dino." Ucap Arka dengan terang-terangan, tetapi mulutnya masih tetap mengunyah.
Kalista juga tetap melanjutkan makan, sama sekali tidak mempedulikan Marcelino. Bahkan Kalista tetap setia pada Arka, Kalista juga mendukung semua yang Arka ucapkan.
"Karena Dino memang anak yang hebat, makanya saya tidak terlalu repot mengurusnya. Lagipula, dia anaknya mandiri." Marcelino tidak mau begitu saja di salahkan sebagi orang tua yang tidak becus mengurus anak.
Dino yang menjadi topik utama percakapan ini pun, akhirnya tertarik untuk membuka mulutnya. "Mandiri karena keadaan yang memaksa, karena tidak ada figur ayah yang patut di jadikan panutan. Dunia memang keras dan kejam, kadang-kadang lingkungan tidak berpihak, maka pilihannya ada dua, mau memilih putih dengan jalan yang pasti berliku-liku dengan berbagai macam konflik yang pastinya akan datang menghampiri setiap saat, atau memilih jalan pintas, yaitu hitam. Namanya jalan hitam yang pasti banyak cara-cara ilegal dan memang jalan mulusnya pasti lebih banyak, tetapi urusannya agak repot, belum lagi nanti urusan yang sebenarnya adalah dengan yang maha kuasa." Ucap Dino dengan panjang lebar.
"Bagus tuh! Kamu telah emilih jalan yang benar." Kalista mengacungkan ibu jarinya pada Dino.
"Ngomong-ngomong orang tua yang baik, apakah mama kamu sudah menjadi seorang mama yang baik?" Tanya Marcelino dengan senyum sinis khas ledekannya, bahkan dari wajahnya saja sangat terlihat tampang meremehkan.
Mama Lisa langsung tertegun dan terdiam, dia menghentikan aktifitas makannya. Dia menunduk, kalimat dari suaminya itu mengingatkannya pada masa lalu, pada masa Arka sedang tumbuh kembang, bocah yang berusia 10 tahun, bocah yang selalu menjadi sasaran empuknya untuk melampiaskan semua kekesalan pada pak Anggara.
"Kalau Mama saya tidak baik, tidak mungkin dia begitu menyayangi saya waktu saya masih balita. Lalu dia juga sudah berusaha menjadi figur mama yang baik untuk Dino, walaupun mama Lisa tahu Dino bukanlah anak kandungnya." Ucap Arka dengan tenang.
Lagi-lagi Marcelino berusaha mengingatkan Arka pada kejadian mengerikan di masa lalu. Tetapi kali ini Arka sudah tidak begitu traumatik pada masa lalunya, bahkan hatinya dengan perlahan sudah bisa menerima semuanya. Semuanya berkat Kalista, Kalista selalu mengatakan takdir hidup Arka sudah di gariskan seperti itu oleh yang maha kuasa, mau bagaimana lagi? Menyalahkan yang maha kuasa? Itu tidak benar! Karena semesta tahu kapan semuanya akan bahagia.
Mama Lisa semakin tertunduk, dia tahu apa yang akan Arka katakan. Dia akan menerima dengan tabah, toh selama ini saja Arka memang sangat membencinya.
"Kalau bilang lupa kayanya memang nggak lupa ya, tapi sesuatu hal yang buruk kan tidak seharusnya di ingat-ingat, alangkah lebih baiknya di lupakan saja. Allah saja maha pemaaf, masa saya sebagai hambanya tidak mau memaafkan? Egois sekali." Jawab Arka dengan mantap.
Mata yang sejak tadi sudah memanas itu pun akhirnya menjatuhkan satu butir kristal bening. Dino langsung merangkul bahu mama tirinya itu, saat ini Dino juga merasa bahagia karena sepertinya Arka sudah bisa memaafkan mamanya. Selama ini Dino juga tahu, diam-diam mamanya sering menangis karena merasa menyesal atas perbuatannya di masalalu.
Kalista juga melakukan hal yang sama dengan Dino, dia memeluk Arka erat. Merasa bangga pada suaminya karena bisa memaafkan mamanya, dan berusaha setenang mungkin melawan kalimat-kalimat yang Marcelino lontarkan, setiap kalimat itu sepertinya mengandung tindakan provokasi. Berusaha memancing kemarahan Arka, namun Arka tahu semakin dia merasa marah dan geram, maka Marcelino merasa senang dan merasa menang, toh itu kok yang di inginkan Marcelino.
Seperti biasa, Marcelino tidak akan mengalah begitu saja. Bahkan dia terkekeh geli sambil meledek Arka.
"Yakin semudah itu memaafkan?" Cibirnya dengan ucapan yang lumayan nyeleneh.
"Kenapa tidak yakin? Semua orang pasti mempunyai kesalahan, dan semua orang juga pasti pernah menyesalinya. Kecuali beberapa orang yang memang berhati batu. Saya tahu mama saya selalu menyesali perbuatannya, semua manusia juga berhak berubah, begitu juga dengan mama saya. Benar begitu bukan bapak Marcelino yang katanya pintar di dunia bisnis?"
"Betul! Koreksi kalimat terakhir ya, saya memang pintar loh, bukan katanya!" Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Oh memang pintar di dunia bisnis toh? Lalu mengapa ratting perusahaan anda selalu berada jauh di bawah perusahaan saya? Loh katanya pintar? Masa sudah beberapa tahun ini perusahaan saya yang selalu top ranking satu di Indonesia?" Cibir Arka dengan kata-kata yang sangat menohok.
Ini real, ini fakta, ini memang kenyataan dan tidak di buat-buat. Memang benar kok selama ini Marcelino memang tidak bisa bersaing dengan perusahaan Anggara, Marcelino bisanya hanya mengandalkan jalan hitam, jalur-jalur ilegal, dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Namun tujuan utamanya masih belum tercapai, karena faktor penghambatnya adalah Arka. Arka selalu bisa melawannya.
__ADS_1
"Bukannya tidak bisa, tapi belum waktunya saja." Ucapnya sesantai mungkin, aslinya sih ubun-ubunnya Marcelino sudah mendidih, bahkan tangannya yang terletak di pahanya itu pun sudah mengepal keras.
"Tapi waktu itu tidak akan datang, karena saya yakin anda akan kalah sebentar lagi. Dan saya akan menjadi the winner yang sesungguhnya." Arka tersenyum sinis, hari ini mungkin Marcelino masih bisa berkeliaran dan berkoar-koar sombong. Tapi lihat saja nanti.
"Ngawur! Orang bijaksana seperti saya pasti akan selalu mendapatkan waktu baik." Ujarnya masih dengan nada sombongnya.
"Waktu baik itu akan datang sebentar lagi."
"Memang begitu? Baiklah saya tunggu!." Ucapnya mantap.
Tidak tahu saja Marcelino, waktu baik yang Arka maksud itu apa? Arka berdecih sebal, "Dasar Marcelino licik, kita tunggu tanggal mainnya." Gumam Arka dalam hatinya, Arka juga sudah tidak sabar menunggu waktu baik itu datang, waktu di mana Marcelino tidak akan bisa berkutik sedikitpun.
Setelah dirasa cukup perbincangannya dengan Marcelino, Arka kembali melanjutkan makan. Istri cantiknya itu sama sekali tidak menggangu perbincangan suaminya dengan musuh bebuyutannya, Kalista tahu Arka bisa mengatasi semuanya.
Arka memperhatikan Kalista, di piringnya ada rendang, pop chicken, sayur nangka, Telur krispi dan sambal udang. Tumis daun singkong sama sekali tidak Kalista sentuh, sambal cabai hijau juga hanya Kalista ambil sedikit saja, semakin perutnya membesar semakin tidak mau Kalista mengkonsumi sambal, katanya sih takut menyakiti bayi di perutnya, takut bayinya merasa mules.
Sesekali mama Lisa mencuri pandang pada Arka, dan pandangan mereka pun bertemu. Manik mata itu saling menatap, ikatan batin ibu kandung dan anak kandung itu sangat kuat, Arka juga sekarang sudah bisa tersenyum pada mama Lisa. Arka bukanlah Arka yang dulu, Arka yang sekarang telah berubah. Tentunya berubah untuk menjadi lebih baik.
Arka memperhatikan piring Kalista, lalu pandangan matanya pun beralih memperhatikan piring mama Lisa. Arka tersenyum melihat piring mereka berdua yang isi makannya sama.
"Sepertinya, kedua wanita kesayanganku ini sama-sama doyan banget makan rendang." Ucap Arka.
Mama Lisa celingak-celinguk menatap beberapa orang yang berada di satu meja ini, tidak ada wanita lain disini, selain dirinya dan Kalista. Apa mungkin yang Arka maksud wanita kesayangannya itu dirinya dan Kalista?
Arka menyuapi Kalista, mereka terlihat sangat romantis. Kemudian Arka juga menyendokkan nasi dan rendang, "Mama juga doyan rendang kan? Sama kaya istri aku." Ucap Arka, tangannya telulur berusaha menyuapi mamanya.
Ada rasa senang dan bahagia yang membuncah di dadanya, namun mama Lisa belum menerima suapan itu, dia takut sama Marcelino.
"Makan aja ma, nggak usah lihatin dia." Dino tersenyum seraya mengusap punggung mama.
"Iya ma, makan saja! Kasian loh anak kamu yang sudah di tinggalkan selama tujuh belas tahun itu pasti kangen." Marcelino tersenyum miris dan penuh ledekan pada Arka.
Tanpa pikir panjang, mama Lisa pun langsung melahap suapan dari Arka. Selama tujuh belas tahun belakangan, baru kali ini mama Lisa merasa bahagia yang sangat luar biasa. Beban di hatinya berasa terhempas begitu saja. Hatinya kembali menghangat.
Bersambung...
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1