
Hari ini Lantana masuk kerja dengan ceria seperti biasa. dia menggunakan blouse berwarna peach dengan celana berwarna putih dan sneekers berwarna putih juga. terdapat pita besar di bagian dada pada aksen blouse nya. rambutnya di cepol atas dengan sisa rambut belakang yang dibiarkannya terurai. anak-anak rambutnya yang berwarna coklat terang menghiasi kedua belah dahi Lantana. tak ketinggalan tentu saja ikat rambut berbandul bunga matahari ikut bertengger di rambutnya yang di cepol. Cantik seperti biasa
Di tangan kanannya memegang satu kantung biji bunga matahari. maksudnya kuaci. Lantana menyimpan bokongnya di kursi kebanggaannya, membenarkan letak pot berisi bunga matahari dan menggantungkan tas selempangnya di rak tas yang ia letakkan di dekat meja kerjanya.
jam digital di sebelah layar monitornya telah menunjukkan angka 9 di ikuti angka 15 di belakangnya. Ana kembali memeriksa laporan yang kemarin ia tinggalkan. Lumayan, sudah sebagian Arini kerjakan. seandainya saja Arini men-scan kertas laporan yang sudah ada dan tanpa mengetik ulang, pasti laporan ini sudah selesai sejak kemarin.
20 menit berlalu, Ana sudah tidak ada di dunia nyata. Ia sudah tenggelam kedalam dunia kerja, fokusnya hanya tertuju pada layar monitor tanpa memperdulikan kanan kiri atas bawah. Laporannya harus segera selesai sebelum jam istirahat, karena kalo tidak ia akan mendapat tugas baru yang nantinya tugasnya akan semakin banyak.
Sesekali tangannya merogoh kantong biji bunga mataharinya dan mengambil beberapa lalu memasukkan ke dalam mulutnya lalu membuang cangkangnya ke dalam keranjang sampah kecil di depannya. Kalo Lantana sudah pasang mode kaya gini, tandanya ia sedang tidak bisa di ganggu. percuma saja jika ada orang yang berusaha memanggilnya, ia gak akan dengar. karena di telinganya tertempel anggun headset dengan noise cencelling yang terhubung dengan handphone androidnya.
Teman-temannya tentu sudah hatam dengan kebiasaan Lantana yang seperti ini. Mereka tidak akan mengajak lantana ngobrol kecuali kalo memang keadaan terdesak, seperti tugas baru atau ada pekerja yang tidak mengerti dengan tugasnya. ya, mereka tidak akan mengganggu Ana yang lagi serius. Karena Ana akan senang membantu temannya yang lain ketika dia senggang.
Tak terasa jam digital di atas meja Ana berbunyi tanda jam istirahat dan makan siang tiba. Ana meregangkan badannya dengan menautkan jari-jari tangannya dan menariknya lurus ke atas kepala. Ana melepas headset dan mematikan android nya kemudian berjalan menuju mesin printer dan menunggu dokumen itu keluar dengan santai.
Setelah semua kertas keluar dengan rapi, Ana menyatukan mereka dengan strepler dan memasukkan ke dalam map. mengambil androidnya, memasukkan ke saku celana, ngambil dompet, bergegas ke meja manager, menyerahkan laporannya kemudian berlalu menuju kantin. Perut mungilnya minta di isi rupanya, pantatnya pun sekarang terasa sejuk, setelah tiga jam duduk menatap komputer.
Ketika hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba pintu lift terbuka dan menunjukkan sosok yang di takuti oleh seluruh karyawan. 'Tuan es' berdiri dengan elegan, dengan map berkas di tangan kanannya, tangan kiri di masukkan ke dalam saku celana, dengan tubuh dibalut kemeja putih modern dengan dasi plus rompi tanpa jas, serasi dengan paduan celana bahan dengan warna senada dengan rompinya. Di sampingnya ada Steva sang sekretaris cantik dan Mr. Didi sang asisten 'Tuan es'
Beberapa orang yang hendak masuk ke dalam lift seketika berbaris rapi membelah jalan untuk Tuan es seraya menundukkan kepalanya antara takut dan hormat. Lantana bertatapan langsung dengan bosnya semenjak pintu lift terbuka, begitupun sang tuan langsung meluncurkan tatapannya tepat di mata coklat Ana. ketika Ana melirik teman-temannya, ternyata mereka sudah menunduk. Ana jadi refleks menundukkan punggungnya seraya menyapa
"se- selamat siang, Tuan es!" sapa Ana sepontan
Hal itu menimbulkan kekehan tertahan dari beberapa karyawan dan juga sekretaris dan mr. asisten tuan es.
"hem??" bos itu kembali menghentikan kakinya ketika baru dua langkah maju namun mendengar karyawannya yang satu itu memanggilnya dengan nama 'tuan es' 'lagi'. Lelaki itu membalikkan badannya menghadap Ana, di tatapnya gadis yang sedang menunduk itu dengan tatapan tajam dan alis yang berbentuk V. "kamu panggil saya apa?" suaranya teradengar berat seolah harimau yang sedang menggeram
Lantana mengangkat kepalanya dan matanya langsung tertusuk tajam tatapan lelaki di depannya. ia mengedipkan bulu matanya yang panjang dengan cepat. "err.. se- selamat siang Tuan Stevenson" Ana membungkuk lagi, namun kali ini lebih singkat
__ADS_1
"hm. siang" jawabnya singkat kemudian beranjak menjauhi elevator menuju ruangannya, tidak ada yang tau kalau si tuan tersenyum diam-diam melihat tingkah konyol Lantana. di sisi lain, dia juga merasa lega karena dilihatnya Lantana sudah baik-baik saja dan perban di tangannya sudah di lepas.
Setibanya di ruangannya, ia menatap bunga mawar yang kini mulai menunduk lesu karena terpisah dari batangnya dan berganti dengan air. Terpajang cantik di atas meja kerja dan menebarkan wangi khasnya.
Hari ini, tugas merawat bunga diserahkan kepada salah satu office boy dikarenakan Lantana si gadis itu tidak menyahut saat ia di panggil. Dan beberapa karyawan menerangkan pada bosnya kalo 'Ana sedang dalam mode gak bisa di ganggu'
"emang yang bos di sini siapa??" kekeh Vino ketika mengingat kembali raut wajah serius Lantana yang sedang adu tatap dengan komputer dengan sesekali memasukkan biji kuaci ke mulutnya.
Tak lama Steva mengetok pintu ruangan Vino dan muncul di balik pintu setelah Vino mempersilahkan dia masuk dan Vino sudah berhasil merubah ekspresinya jadi datar seperti biasa. padahal tiga puluh detik lalu dia terkekeh geli sendiri seperti orang gila.
"tuan, apa tuan sudah makan siang? tuan ada meeting dengan perusahan cahaya terang jam 2:30 nanti" Steva mengingatkan
"hmm.. kemana Didi?" tanya Vino lagi
"Mr. Didi sedang ada makan siang dengan direktur dari pt. pertamerta, tuan" jelas Steva lagi
Steva undur diri dari ruangan sang bos. tidak ada yang aneh dengan Steva. di ruangan ini, tidak ada istilah bawahan suka sama direktur. karena memang Steva sudah menikah dan punya dua orang balita yang beda usia 3 tahun dengan anak ke dua usia dua tahun lebih.
karyawan tidak ada yang berani genit-genit sama bosnya. selain karena gengsi bakal jadi ceng-cengan teman-teman satu ruangan, si bos juga sangat galak. apalagi tiga tahun terakhir setelah dikabarkan gagal nikah, siapapun yang membuat hatinya tidak senang akan dikeluarkan secara tidak hormat oleh Vino. makanya tidak ada yang berani macem-macem sama bos ganteng yang satu ini.
Vino merasakan perutnya mulai terasa perih minta di isi makanan bergizi. dia teringat kembali kelakuannya semalam yang rela balik lagi ke kang nasi goreng demi beli satu porsi lagi yang ia habiskan di rumahnya. ia tidak memperdulikan tatapan aneh dari bu titi pembantu sekaligus ibu angkatnya selama di Indonesia, mematapnya dengan percaya gak percaya melihat tuannya makan nasi goreng yang di bungkus kertas nasi warna coklat dengan kerupuk di plastik perapatan lengkap dengan acar dan kantung plastik kecil merah.
flashback ah
Vino membuka pintu penthousenya yang terletak di lantai paling atas sebuah apartment mewah. di sana terdapat 2 penthouse mewah. satu milik Vino dan satunya lagi milik sang empunya apartment. Vino tinggal dengan bu titi, perempuan tua berusia 54 tahun namun masih tetap bugar berjalan ke sana ke mari karena sedari muda dia rajin minum jamu.
Bu titi adalah pembantu dari rumah nenek Vino dari pihak ayah. kakenya Vino orang Jerman dan neneknya orang jawa asli. mama Vino asli Amerika. dan selama Vino di Indonesia, dia diasuh oleh kakek nenek dan juga bu titi. kini Vino memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri dan mengajak bu titi tinggal bersamanya. karena dia merasa bu titi lebih dekat dengannya di banding mamanya sendiri. biasa, holang kaya emang sukanya aneh aneh.
__ADS_1
bu titi, hidup sebatang kara karena dia memiliki takdir untuk tidak punya anak karena kromosomnya dengan kromosom suaminya tidak cocok. karena CINTA telah membutakan keduanya, akhirnya bu titi pasrah dengan nasibnya mencintai suaminya sampai azal memisahkan. bu titi tidak merasa kesepian semenjak Vino memilih tinggal di Indonesia 19 tahun lalu. walau kembali pergi ke Amerika 7 tahun lalu untuk kuliah dan kembali lagi sekitar 4 tahun lalu.
Vino menganggap Bu titi sebagai ibunya sendiri. dan sekarang mereka tinggal serumah sebagai ibu dan anak. walau Vino memanjakan bu titi bak sosialita namun bu titi lebih memilih berpenampilan sederhana layaknya emak-emak walaupun daster yang ia gunakan seharga toko daster di kampung.
Kala itu Vino pulang dengan membawa nasi goreng di tangannya yang terbungkus apik dalam pelastik merah kecil. bu titi yang sedang melipat dan menyetrika baju Vino memperhatikan Vino makan nasi gorengnya dengan lahap. tentu saja bu titi kaget terheran-heran. orang yang selama ini makannya harus terjamin gizi dan nutrisinya, tiba-tiba makan nasi goreng yang entah berapa ribu kalorinya. udah gitu makannya lahap banget dan tengah malem begini? ampe lupa nawarin ibunya. gak tau aja bu titi kalo ternyata nasi goreng ini adalah nasi goreng porsi kedua untuk Vino
"Nak, lahap bener makannya? pelan pelan dong" kata bu titi sembari menuangkan air minum untuk Vino dan menyerahkannya
Vino tersenyum dengan mulut yang penuh dengan nasi dengan geraham yang masih saja ngunyah
"kalo kamu mau nasi goreng, ibu bisa bikinkan buat kamu tok le.. kamu kelihatan kayak orang kelaparan gini tok.." bu titi dengan nada khas jawa nya
Vino hanya mengangguk sambil tersenyum, walau mulutnya tak berhenti ngunyah. bu titi merasa senang menyadari senyum Vino yang kembali setelah beberapa tahun menghilang. 'semoga senyumnya gak hilang lagi' batin bu titi
gitu kali ya kalo orang lagi bucin?
udahanan ah flashbacknya
Vino merasakan enjim di lambungnya sudah siap mencerna makanan. Vino beranjak dari duduknya dan pergi keluar dari ruangan. stafd administrasi sudah lengang tanpa penghuni. Vino masih saja mengedarkan pandangannya berharap Lantana sedang duduk manis di kursinya. padahal jelas sekali barusan dia keluar.
Akhirnya Vino membawa kakinya ke kafetaria perusahaan dan memesan beberapa menu makan siang dan menyuruh pelayan membawanya ke ruangannya. setelah ia membayar, ia akan segera kembali ke ruangannya. sebelum pergi, ia sempatkan untuk melirik Lantana sebentar. Gadis itu sedang melahap makan siangnya, sama lahapnya seperti makan nasi goreng semalam.
melihat Lantana dengan semangat menghabiskan makan siangnya membuat Vino ikutan lapar dan ingin segera makan. karena emang dia sudah lapar. Vino diam-diam tersenyum dan bergegas meninggalkan kafetaria melangkah menuju ruangannya.
tbc
***
__ADS_1
kaih segitu dulu ya.. author lagi galau nih.. semoga terhibur.. sayang kalian semua.. 😚😚