SUN FLOWER

SUN FLOWER
SALAH PAHAM


__ADS_3

"Ikut aku yuk!" Ajak Arka pada Kalista.


Kalista mengernyitkan dahinya, ini serius Arka mengajaknya pergi? Padahal terlihat jelas dari penampilan Arka, stelan jas akan berangkat ke kantor.


"Ngapain?" Tanya Kalista yang sedang duduk di ruang tamu, barusan setelah sarapan Kalista langsung duduk santai di ruang tamu.


"Ikut aja, nggak usah banyak tanya bumil." Arka mengecup puncak kepala Kalista.


"Oke, ganti baju dulu." Kalista bergegas berganti pakaian. Memang biasanya Kalista kalau dirumah hanya memakai daster saja, karena perutnya semakin membuncit jadi daster adalah pilihan yang paling tepat.


Sebenarnya Kalista merasa cemas, ada apa sih di kantor? Apa kantor sedang mengalami masalah? Tapi masa iya Arka melibatkan dirinya? Kalau di lihat dari sifat Arka sih nggak mungkin tega lah dia melibatkan Kalista.


"Yuk!" Arka langsung menggenggam pergelangan tangan Kalista, menuntunnya masuk ke dalam mobil.


Hari ini Arka mengendarai mobilnya sendiri, Arka tidak mau menggunakan jasa sopir. Selama perjalanan saja Arka terus menerus menggenggam erat jari jemari Kalista, tetapi fokusnya tetap terjaga.


Kalista merasa heran dan bingung, ini bukan arah jalan menuju kantor. Lebih tepatnya ini menuju apartment yang pernah Arka dan Kalista tempati, entah mengapa sekarang yang ada di pikiran Kalista hanya ada Arka dengan hal-hal yang berbau mesum.


"Ngapain ke apartment? Jangan bilang kamu mau nidurin aku di sana, nggak mau aku cape! Tadi malam kan udah, kenapa sih kamu mesum banget?" Kalista merajuk sambil memukul-mukul pelan paha Arka.


Arka yang sedang fokus menyetir, kemudian terkekeh pelan. "Karena tadi malam kamu kurang hot! Makanya aku pengen lagi, lagian kalau di rumah teriaknya nggak bebas soalnya ada Oma sama ayah." Bukannya menjelaskan maksud dan tujuannya, Arka malah semakin mengerjai Kalista.


Kalista bergidik ngeri, suami mesumnya itu memang tidak pernah merasa puas. Tidak memikirkan dirinya yang masih berbadan dua, ketika bangun tidur saja biasanya langsung sakit pinggang.


"Capek? Pegal? Tenang aja! Kamu terima enaknya aja, aku yang gerak." Arka mengedipkan sebelah matanya genit, satu tangannya mulai nakal mengelus pelan paha Kalita yang hanya memakai dress bumil pendek.


"Fokus nyetir!" Bentak Kalista dengan sangat kesal, bisa-bisanya suaminya itu menyetir dengan meraba-raba pahanya.


"Iya fokus kok ini! Aku semangat loh nyetirnya, soalnya mau mengulang malam pertama kita. Ingat kan kamu sayang malam pertama kita tuntaskan di apartment. Waktu itu kamu hebat loh!" Arka tersenyum menyeringai, mengingat ketika awal mula hidupnya berubah status menjadi suami. Bahkan dirinya sempat marah karena Kalista sedang pms, kalau di pikir-pikir lucu juga ya, marah hanya gara-gara istrinya pms? Sebegitu ngebetnya pengen bikin anak kah?


Mobil telah sampai di depan gedung apartment. Arka membukakan pintu, dan menyuruh Kalista keluar. Berjalan menuju lift, dan langsung menekan angka dimana apartment nya berada.


Tadi makan Andy memberitahukan semuanya melalui pesan WhatsApp. Arka sengaja tidak bilang pada Kalista karena takut Kalista akan merasa khawatir dan cemas.


"Woy!" Ada yang menepuk pundak Arka, ketika Arka dan Kalista baru keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya.


Arka dan Kalista langsung berbalik badan. "Ngagetin gue ya lu!" Arka menoyor pelan kepala Andy yang sekarang ada di hadapannya.


"Hehe sorry." Andy merapatkan kedua telapak tangannya.


Kalista semakin di buat bingung, tadi di mobil Arka bilang katanya mau mengulang pergulatan cinta tadi malam. Masa iya ada Andy di sini, gimana bisa teriak bebas? Kalau gitu sih sama saja kaya di rumah.


"Kok ada Andy? Gimana bisa teriak bebas coba?" Kalista mendongak menatap manik mata Arka, kemudian matanya mendelik jengah.


Andy membulatkan matanya pada Arka, kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Andy dengan otak yang lumayan cerdas bisa langsung menebak bahwa Arka membohongi Kalista, dan akan melahap habis tubuh Kalista kali ini di apartment ini. Lagipula Andy juga tahu semenjak Arka menikah dia jadi lebih mesum dan bucin.


"Mau bobo bersama di pagi hari? Yakin? Tapi kalau bobo kan nggak pakai teriak-teriak kali mas mbak." Andy meledek dua pasangan yang berada di depannya ini.


"Apa jangan-jangan kalian mau nambah adik buat si kembar ya? Hayo ngaku?" Emang dasar tuh si Andy, kalau sudah meledek nggak bakalan kelar dua puluh menit.


Rona wajah Kalista berubah menjadi merah padam, Kalista merasa sangat malu. Walau bagaimana pun hubungan ranjang seharusnya tidak boleh di ketahui oleh orang lain.


"Eh itu nyonya Arka kenapa mukanya merah? Nggak usah malu bu, toh pak Arka nya sendiri saja sering pamer kisah ranjangnya kok." Ujar Andy dengan senyum miring, benar-benar membuat Kalista semakin malu.


"Mulut lu mau gue jahit! Atau di sumpel kaos kaki? Bicara ngawur dan sembarangan! Gue pecat kelar hidup lu!" Sarkas Arka sambil menyenggol tubuh Andy.


"Haha ngeri, becanda bro! Seru tahu ledikin bumil." Andy terkekeh pelan sambil merangkul pundak Kalista dan Arka. Arka menepis tangan Andy agar menyingkir dari bahu Kalista.


Mereka terus berjalan hingga sampai di depan apartment Arka. Begitu Andy menekan beberapa digit angka, pintu terbuka, mereka pun masuk. Namun di dalam apartment itu tidak ada siapa-siapa alias kosong.


"Mereka kemana?" Tanya Andy sambil membuka pintu kamar di apartment Arka.


"Mereka nggak ada!" Suaranya masih terdengar normal, namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak bisa di artikan.


"Siapa sih?" Tanya Kalista heran sekaligus penasaran, namun mereka berdua sama sekali tidak menjawabnya.


Andy berjalan setengah berlari keluar dari apartment Arka, Arka dan Kalista mengikuti langkahnya dari belakang. Andy menekan beberapa digit angka di pintu apartment Kalista, begitu pintu terbuka, yang pertama terlihat adalah Evan sedang duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Gue kira lu check in ke hotel." Cibir Andy, senyum miring terpampang di wajahnya. Sebagai laki-laki normal tentunya Andy tahu perihal apa yang terjadi semalam. Jika memang tidak terjadi hal-hal yang berlebihan, setidaknya sebuah cumbuan pasti telah mereka lakukan. Dengan sifat mesum yang di miliki Evan, akan sangat tidak masuk akal jika Tiara sama sekali tidak di sentuh oleh tangan nakalnya.


"Maunya sih gitu, tapi ya tahu lah gue bukan pria brengsek yang meniduri wanita ketika sedang dalam keadaan mabuk." Jawab Evan.


Disini yang sama sekali tidak tahu menahu dengan apa yang sebenarnya terjadi adalah Kalista. Siapa yang akan di ajak Evan untuk check in? Beberapa pertanyaan sangat mengganjal di pikiran Kalista. Tapi, tiba-tiba manik mata Kalista menatap tepat ke leher Evan, menatapnya dengan sangat lekat. Banyak sekali tanda kissmark di sana.


"Leher di gigit siapa?" Tanya Kalista dengan sangat gamblang, pertanyaan itu tidak terlalu ambigu. Namun sangat membuat Kalista mati penasaran.


Evan mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia memegang lehernya sebentar. "Calon istri." Jawabnya santai, bibirnya tersenyum merekah.


Arka menarik pinggang Kalista, dan mendudukkannya di sofa. Arka tahu apa yang sekarang berada dalam benak Kalista, dan salah Arka sendiri tidak memberitahukan semuanya. Mungkin sebentar lagi Kalista akan mengamuk karena tidak di beritahu dari semalam, tapi itu lebih baik. Daripada tengah malam Kalista meminta diantarkan kesini, dan itu akan membuat jam tidurnya terganggu.


"Kesini bawa wanita? Nggak sopan banget! Ini apartment aku, siapa yang ngizinin." Tanya Kalista dengan raut wajah yang memperlihatkan amarah. Nada suaranya mendadak meninggi.


"Bini lu ngamuknya kaya macan, gila serem banget." Evan menyenggol tubuh Arka, tetapi Arka malah memberikan tatapan galak.


"Ceritanya panjang! Intinya sih gue memang semalam tidur di sini sama wanita cantik." Ujar Evan santai, bahkan perkataannya sangat nyelenah.


Dasar Evan si mesum, bukannya langsung menjelaskan ke intinya saja. Dia malah membuat Kalista semakin tersulut emosinya, mungkin sekarang Ubun-ubunnya sedang mendidih karena menahan gejolak amarah dalam dirinya.

__ADS_1


Kalista sangat tersulut emosi, berani-beraninya Evan masuk ke apartmentnya dan tidur bersama wanita cantik. Evan pikir Kalista bakal percaya begitu saja ketika dia mengatakan hanya tidur, tidak melakukan kegiatan apapun selain memejamkan kedua kelopak matanya.


Kalista?


Sama sekali tidak percaya! Seorang laki-laki dewasa berada dalam satu kamar dengan wanita dewasa. Apalagi wanitanya sedang mabuk, tambah mulus aja tuh jalan tidurnya.


"Daripada marah-marah karena ke pancing emosi, mendingan kamu lihat dulu deh wanitanya, sekalian di periksa badannya. Takutnya dimutilasi sama Evan." Perintah Arka.


Dengan hati panas karena gejolak amarah yang sedang meluap-luap dalam dirinya, kesal dan jengkel juga terhadap Evan. Kalista melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya, di ranjang itu adalah sebuah gundukan selimut yang sedang melilitkan seseorang di dalamnya. Posisinya meringkuk miring.


Sebeluk membuka selimut itu, Kalista lebih dulu menatapnya lekat-lekat. "Siapa sih nih wanita? Seenak jidat tidur di ranjang gue." Gumamnya dalam hati. Jika ditanya sekarang suasana hati Kalista bagaimana? Jawabannya sangat jengkel!


Sudah tidak bisa di biarkan saja, Kalista geram dan langsung menarik selimut itu. Tubuh wanita cantik itu sama sekali tidak bergeming, wajahnya menyusup bantal. Kalista semakin melotot ketika melihat piyama yang melekat di tubuh wanita itu adalah piyama miliknya. Benar-benar tidak ada sopan santun, tidak mempunyai etika ataupun etiket. Selain menumpang tidur di ranjangnya, wanita itu juga dengan sangat lancang malah membuka lemarinya dan memakai piyamanya tanpa izin.


Kalista pun buru-buru menghampiri wanita tidak tahu diri itu. "Woy bangun!" Ketusnya dengan suara kencang, tangannya sibuk menggoyang-goyangkan tubuh wanita yang sedang asyik meringkuk di ranjangnya.


Tidak ada jawaban, tubuhnya hanya menggeliat kecil. Kalista semakin merasa geram. "Bangun!" Luar biasa nih suaranya bumil sangat menggelegar dan mungkin sampai terdengar sampai ke lantai bawah.


Entah tuli atau bagaimana tuh telinga si wanita itu. Padahal Kalista sudah mengeluarkan suara kerasnya, namun wanita itu malah semakin membenamkan wajahnya di bantal. Kalista mendorongnya hingga tubuh wanita itu terbalik.


Alangkah kagetnya Kalista sehingga matanya membulat sempurna seperti akan keluar dari bola matanya. Wanita yang dari tadi dibentaknya dengan suara kerasa adalah Tiara, sahabatnya sendiri.


Matanya bengkak, hidungnya merah. Raut wajahnya terlihat sangat sendu, tangannya memegang kepalanya.


"Ra." Kalista menariknya agar terduduk.


Tidak ada jawaban, Tiara terus menerus menundukan kepalanya tidak berani menatap Kalista. Air matanya terus berjatuhan, ada rasa sakit dan sesak yang bergemuruh di dadanya. Hatinya sangat sakit seperti sedang di remas-remas hingga luluh lantak tidak tersisa sedikitpun.


Tiara saat ini sangat membutuhkan teman untuk bersandar dan diajak bercerita, beberapa hari ini Tiara sangat stress dan merasa sudah tidak bisa lagi menahan beban hidupnya. Namun Tiara bingung harus curhat kepada siapa? Satu-satunya sahabat yang sangat dekat dengannya adalah Kalista, namun kondisinya Kalista untuk saat ini tidak memungkinkan untuk dijadikan teman curhat. Pernah punya pikiran akan bercerita pada Bima dan Bimo, namun ban bemo itu juga punya kesibukannya sendiri.


Dekapan hangat yang Kalista berikan, berharap Tiara bisa merasakan kehangatan ini. Kalista tidak tahu apa yang sudah terjadi pada sahabatnya? Namun Kalista akan selalu memperhatikannya, memang akhir-akhir ini Kalista jarang berkomunikasi karena jarang bertemu, pergi ke kantor saja sudah dilarang oleh Arka. Chatting WhatsApp sih sering, tapi Tiara juga tidak mengatakan yang aneh-aneh ataupun yang janggal.


"Ra cerita dong sama gue." Dekapan itu sangat kencang, kini tangan Kalista mengusap lembut rambut Tiara, mengusap-usap punggungnya juga. Bagaikan seorang ibu yang sedang menenangkan anak gadisnya ketika sedang merasa gusar.


"Sakit ta." Dua kata itu doang yang barusan keluar dari bibir Tiara, air matanya semakin deras membasahi baju Kalista. Terdengar dari suara isak tangisnya dan dari raut wajah Tiara, sepertinya naskahnya kali ini cukup serius.


"Ada apa? Ceritain semuanya! Jangan suka di pendam sendirian, lu tuh masih punya gue ra." Intonasinya sangat lembut, tangan itu juga tidak henti-hentinya mengusap punggung Tiara


Arka, Evan dan Andy masuk ke kamar itu. Kalista langsung menempelkan telunjuknta di bibirnya, mengisyaratkan mereka semua untuk diam dan tidak membuka mulutnya. Well, mereka semua menurut seperti anak ayam yang menurut lada induknya.


"Orang tua gue ra ... " Kalimatnya terjeda, ada yang ingin di ucapkannya namun rasanya sangat sulit, "Orang tua gue cerai hiks hiks hiks." Tangisnya semakin pecah, air mata semakin deras meluber di bahu Kalista, sehingga dress yang dikenakannya pun telah basah.


Semuanya tiba-tiba speechless begitu saja, belum ada satupun yang merespon atas kalimat yang terlontar dari mulut Tiara. Mulut Evan menganga, beringsut akan menghampiri Tiara. Arka dan Andy secara sigap langsung menarik Evan, Andy membekap mulutnya dengan sangat kencang. Agak susah mendiamkan Evan, karena berontak terus seperti cacing kepanasan.


"Kok bisa bercerai?" Tanya Kalista.


"Lu yang sabar ya, mungkin udah takdirnya kaya gitu. Sedih itu pasti, namun jangan sampai sedih berlarut-larut, jangan pernah merasa sendirian karena gue akan selalu ada di samping lu." Kalista menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Kalista, berbicara sambil emantal manik matanya secara intens.


Tiara mengangguk, lalu kembali memeluk Kalista. Air matanya sama sekali tidak bisa di hentikan. "Gue pikir orang tua gue baik-baik aja, gue pikir hubungan mereka harmonis. Karena meraka kan sibuk banget sama kerjaan di luar kota, kok bisa gitu ya papi gue selingkuh. Mami gue cantik kok, kurangnya apa sih? Pusing banget gue mikirin ini." Suaranya sedikit lebih tenang, Isak tangisnya sudah mulai berkurang. Bahkan sekarang sudah bisa berbicara dengan lancar tanpa terbata-bata.


"Mungkin sebelumnya diantara mereka ada masalah kali, atau mungkin kerjaan mereka bertolak belakang, sehingga tidak ada quality time lagi." Kalista mengedikkan bahunya, ini hanya persepsi dan pikirannya saja.


"Iya kali! Wajar sih mereka kan gila harta!" Tiara mendelikkan matanya jengah. Kemudian bersandar pada kepala ranjang.


"Sibuk kerja di luar kota, bahkan gue sampai di tinggalkan di rumah sendirian. Mana pernah tengokin gue sebulan sekali, atau telepon setiap hari. Kalau bukan gue yang nelpon duluan, mungkin mereka nggak bakalan nelpon gue, atau mungkin gue sudah terlupakan dari hidup mereka." Imbuhnya lagi.


"Impian gue untuk bisa mempunyai keluarga harmonis hancur begitu saja. Seolah-olah tidak ada harapan kebahagiaan untuk gue. Kadang suka insecure juga sih sama semesta, kenapa hidup gue begini amat? Kadang iri juga sama lu ta, tapi ya namanya hidup, semua orang di ciptakan berbeda-beda, dan gue tahu bahwa nggak semua bunga mekar bersamaan." Tiara tersenyum, punggungnya tangannya menyeka sisa-sisa bulir air mata di pelupuknya.


"Kesal banget gue sama kelakuan papi, heran aja gitu mami kurang apa? Si pelakornya lagi hamil, gila banget." Tangan Tiara meremas rambutnya, merasa frustasi menghadapi situasi kaya gini.


"Lebih parahnya, mereka cerai tapi nggak ada yang memperebutkan hak asuh anak. Sakit hati banget gue." Satu bulir kristal bening terjatuh membasahi pipinya. "Gue anaknya bukan sih? Apa gue ini anak pungut? Mereka nggak sayang gue ya? Sakit banget gue ta." Suaranya gemetaran, tangisnya malah semakin deras dan tak kunjung reda.


"Gue bingung mau memberikan respon kaya apa? Papi lu emang bersalah, tapi ada apa gitu sama mami lu? Mereka selalu bersama di luar kota, kok bisa ada celah papi lu sampai melirik si wanita penggoda? Heran gue, apa jangan-jangan sebenarnya mereka berdua terlalu sibuk sama pekerjaannya masing-masing?" Ucap Kalista, tangannya tak henti-hentinya mengusap punggung Tiara


"Nah bisa jadi tuh." Ujar Arka yang kemudian duduk di tepi ranjang di sebelah Kalista. "Namanya juga laki-laki, matanya elangnya kan tajam banget. Lagi pula, laki-laki kan punya kebutuhan biologis. Kalau sama-sama sibuk, lalu bagaimana hubungan ranjangnya? Laki-laki perlu di sentuh dan tidak bisa puasa berlama-lama. Mungkin itu alasannya sampai papi kamu jajan di luar. Mungkin memang benar mami kamu terlalu sibuk." Imbuhnya lagi, Arka berbicara menurut sudut pandang sebagai seorang laki-laki.


"Iya mungkin." Jawab Tiara pelan, suaranya hampir saja tidak terdengar.


"Karena laki-laki punya mata elang yang tajam, dan kebutuhan biologisnya harus selalu terpenuhi. Biarkan aku yang sibuk bekerja untuk masa depan kita dan anak-anak, kamu sebagai istri cukup duduk manis urus anak-anak dan urus aku." Arka mengecup puncak kepala Kalista, lalu turun mengecup tenguknya.


"Ih nakal, banyak orang di sini." Kalista sedikit menggeser duduknya, karena merasa tidak nyaman gara-gara kelakuan Arka.


Arka tersenyum menyeringai, kemudian mengusak rambut Kalista. "Masih malu-malu aja bumil, nanti deh mintanya di rumah." Ah dasar Arka, dalam suasana seperti ini saja masih bisa menggoda Kalista.


Tiara menatapnya dengan jengkel, dirinya sedang di rundung masalah dan merasa sedih. Bisa-bisanya pasangan suami istri yang berada di hadapannya ini malah menunjukan sikap mesra.


"Sialan banget sih kalian tuh! Gue lagi ada masalah nih, kalian malah sibuk menunjukan kemesraan." Bibir Tiara mencebik, wajahnya sangat kusut dan sendu. Apalagi mata bengkaknya semakin membuat wajahnya tidak menarik.


"Kan ada aku sayang." Evan mendekat dan langsung merangkul bahu Tiara. Berusaha mendekapnya, karena ingin memberikan ketenangan pada Tiara. Namun Tiara menolak, dia menepis kasar tangan Evan. Tiara merasa jijik pada Evan, karena melihat noda-noda merah di lehernya.


"Lu di tolak bro! Siap-siap menjomblo seumur hidup." Andy tertawa terbahak-bahak, sangat puas sekali mentertawakan Evan.


"Apaan sih?" Evan menjotos pelan perut Andy. Merasa kesal juga pada Tiara karena menepis tangannya di hadapan Arka, Kalista, dan Andy.


Bola matanya memutar jengah, kemudian merebahkan tubuhnya ditepian ranjang. Menatap langit-langit kamar Kalista, sudah sejauh ini tapi Tiara seperti tidak menanggapi perasaannya. Apakah cintanya akan bertepuk sebelah tangan?


Ngomong-ngomong bertepuk sebelah tangan, Evan jadi ingat sama mantan kekasihnya. Mantannya yang paling di sayang. Ralat! Maksudnya ketika semasa pacaran! Menjalin kasih selama 7 tahun, kenangan masa-masa pacaran yang begitu indah dan mesra. Jujur saja sampai saat ini pun Evan masih mengingat masa-masa pacaran dengan Shafa, manjanya Shafa, rajukannya ketika menginginkan dibelikan makanan. Mengantarnya hampir setiap hari untuk bertemu dengan agensi, impiannya ingin menjadi model. Semuanya telah tercapai, namun Evan yang di buang.

__ADS_1


Wajah cantik dan senyum sumringah yang selalu Shafa tampilkan ketika dirinya mendapat apresiasi atas karyanya, ataupun karena ia bahagia di hadiahi hal-hal kecil oleh Evan. Kadang Evan juga merasa jijik sama Shafa, 7 tahun menjalin kasih dengannya, Shafa juga sudah 5 tahun tidur dengan temannya.


Tapi, namanya hati memang tidak bisa di bohongi. Walaupun merasa jijik dan gedek terhadap semua kelakuan Shafa, namun tidak bisa di pungkiri. Di hati kecilnya, terkadang Evan merindukannya. Selama ini saja Shafa masih gencar menghubunginya, walaupun teleponnya nggak pernah Evan angkat, dan pesannya hanya di baca saja.


Hati Evan terlalu rapuh, lambat laun mungkin seiring berjalannya waktu Evan akan kembali jatuh cinta pada Shafa. Itu semua memang tindakan bodoh! Evan juga menyadarinya, namun lagi dan lagi rasa sayang dan cintanya mengalahkan akal sehatnya. Cinta itu buta! Benar begitu bukan? Jadi wajar jika Evan seperti itu.


Sudah banyak yang Evan korbankan demi Shafa, mulai dari hal-hal kecil bahkan sampai apartment pun di bayarin sama Evan, uang jajan, ATM, tagihan kartu kredit juga Evan yang bayarin. Shopping, make up dan smwua skincare juga Evan yang bayarin.


"Gue yang modalin, tapi orang lain yang menikmati." Batin Evan dalam hatinya, tersenyum kecut sambil terus menatap langit-langit kamar.


Andy, Arka dan Kalista mengerutkan dahinya, melihat dan memperhatikan Evan. Matanya kosong menerawang langit-langit kamar, sesekali wajahnya terlihat sendu, dan tersenyum kecut.


"Lu belum tentu di tolak! Yakali langsung kusut tuh muka." Andy memukul lengan Evan.


Evan bangkit dan langsung menampilakan senyum kudanya. Memang betul yang dikatakan Andy, dirinya memang belum sepenuhnya di tolak oleh Tiara. Namun untuk mendekati Tiara saja sungguh susah, hubungannya selalu jalan di tempat. Susah sekali untuk menerobos masuk ke hati Tiara, seperti ada dinding kokoh menjulang dan menghalangi jalannya.


Evan juga memang belum mengorbankan apa-apa untuk Tiara. Tidak memberikan hadiah-hadiah mahal, dan bahkan hadiah-hadiah kecil pun tidak. Tidak memperlakukan Tiara seperti Shafa, bukannya tidak mau. Tapi Evan tidak ingin memperlakukan Tiara seperti Shafa, bukan masalah uang! Evan hanya ingin mencintai Tiara dengan cara yang berbeda, kalau sama seperti Shafa nanti yang ada malah dikira dia masih menanti bayang-bayang Shafa.


"Gue pengen nikah."


Semuanya langsung melihat ke arah Tiara. Apa tadi yang di katakan Tiara? Apa telinga mereka nggak salah dengar? Tiara ingin menikah? Dengan siapa?


"Gue pengen bahagia! Butuh back up yang selalu mensupport dan menyemangati gue dalam segala hal. Butuh tempat untuk bersandar dan bertukar cerita, ingin ada tangan kokoh yang merangkul gue ketika diri gue lelah dan merasa sedih dengan segala urusan dunia." Ucap Tiara, kakinya terlipat dan wajahnya tenggelam diantara lututnya.


Evan memandang Tiara sangat intens dan lekat. Tiara segera membuang mukanya dengan mengalihkan pandangannya ke pojok kamar, karena merasa risih di tatap oleh Evan.


"Lu mau nikah? Yakin? Hubungan lu dengan si calon sudah sejauh mana? Sudah kenal sama semua anggota keluarganya? Yakin nggak mau jadikan dia imam lu? Emang siapa sih calonnya?" Tanya Kalista dengan sangat serius. Semuanya langsung menatap kearah Tiara, karena Tiara lah topik utamanya.


Sama seperti mereka, Evan pun menatap Tiara dengan tatapan sangat penasaran. Jika calon yang dikatakan oleh Tiara bukan dirinya, maka dirinya semakin yakin dan tahu alasan kenapa Tiara selalu jutek pada dirinya, atau mungkin selama ini Evan tidak di anggap oleh Tiara?


"Masalahnya nggak ada calonnya!" Ucap Tiara pelan.


Apa barusan kata Tiara? Nggak ada calonnya? Mengerjapkan matanya, senang sih berarti Tiara nggak punya pacar ataupun gebetan, tapi sedih juga karena kedekatannya selama ini tidak di anggap.


Evan menarik napas kemudian menghembuskannya secara kasar. Bangkit dari kasur, dan langsung memakai sweaternya.


"Gue lupa belum beres-beres apartment gue! Sorry bro udah pinjam baju lu, sorry juga ya ta gue udah acak-acak apartment lu." Evan berbicara datar, tangannya sibuk memasang kaos kaki.


Kalista menyenggol lengan Arka, berusaha berbicara dengan bahasa isyarat yang ditunjukan melalui matanya. Awalnya Arka dan Andy bingung dan tidak mengerti apa arti dari tatapan Kalista.


Ya ampun dasar laki-laki nggak peka, masa iya gitu aja nggak paham. Padahal Kalista melihat dengan sangat jelas ekspresi wajah Evan ketika Tiara berkata tidak ada calonnya.


Secepat kilat Tiara berbisik di telinga Arka, Arka barulah mengerti dan menyadari raut wajah Evan yang sangat berbeda dari biasanya.


"Alasan aja bro! Sini dulu lah duduk sambil ngobrol biar semuanya jelas." Arka mencekal pergelangan tangan Evan.


"Bukan alasan bro! Udah beberapa hari gue belum beres-beres apartment, cucian juga udah numpuk banget, kalau nggak di bawa ke laundry sekarang bisa-bisa lemari gue kosong dan cucian kotor menumpuk di keranjang cucian hehe." Nada bicaranya biasa saja, terkesan sangat normal. Namun Kalista yang peka terhadap segala hal, mengetahui dengan jelas isi hati Evan saat ini.


Evan berlalu meninggalkan apartment, tanpa melirik Tiara sedikitpun. Bayangin dong semalam udah nolongin Tiara di club, semalaman juga nemenin Tiara di apartment Kalista. Rela bangun pagi-pagi buta hanya untuk delivery makanan untuk sarapan Tiara. Namun ternyata Tiara tidak menganggap kedekatannya, berterimakasih pun tidak.


"Nggak ada calon? Evan nggak termasuk calon?" Tanya Arka sambil mengerutkan dahinya, Andy merasa terwakili oleh pertanyaan Arka. Memang itu juga yang ingin di tanyakannya.


"Nggak!" Jawab Tiara datar.


"Nggak termasuk kandidat juga?" Tanya Andy, Andy merasa geram pada Tiara. Sudah sejauh ini ternyata Evan masih tidak di anggap.


"Nggak!" Jawabnya lagi.


"Lu tuh nggak lihat apa perjuangan Evan kaya gimana? Apa iya sama sekali tidak ada rasa sedikitpun buat Evan?" Sarkas Andy dengan suara tinggi. Andy sudah tidak bisa mengontrol emosinya, puncak ubun-ubunnya terasa panas.


"Bukan kaya gitu kalau ngomong sama cewe!" Teriak Kalista pada Andy, Kalista sangat tahu keadaan Tiara sekarang, hati Tiara sedang terluka ketambah Andy membentaknya. Semakin melebar dan menganga lah luka di hatinya itu.


Tiara menangis terisak dan sesenggukan, kepalanya masih terasa pusing akibat meneguk wine tadi malam.


"Orang tua gue cerai aja gue sakit hati, sakit hati juga pas tahu papi gue selingkuh dan main gila dengan perempuan lain. Sekarang gue tahu dan paham apa yang mami gue rasain, gimana sakit hatinya mami juga gue tahu! Sekarang gue juga merasakannya." Tangisnya semakin kencang, pipinya semakin basah.


"Selama ini Evan cuma deketin gue doang, ngasih kepastian nggak? Gue udah nunggu keseriusan dia, tapi dia nya cuma gitu-gitu aja! Giliran gue udah punya rasa sama dia, dianya malah makin gila sama perempuan lain? Sakit gue sakit!" Tiara memegang dadanya, hatinya terasa sakit.


"Gue yang belum ada ikatan dan kepastian aja, ngerasa sakit banget. Paham banget gue apa yang mami gue rasakan." Tangis Tiara semakin pecah, suaranya tangisannya sangat menyayat hati.


"Kapan lu lihat Evan main gila sama perempuan lain? Lihat dimana? Lihat langsung nggak? Jangan berspekulasi dengan pikiran lu sendiri." Luar biasa Andy memang sulit menahan emosinya, bentakan yang keluar dari mulutnya snagat terasa nyaring dan menggelegar membahana di kamar Kalista.


"Gue nggak tahu kapan! Tapi gue lihat dengan jelas pakai mata kepala gue sendiri, leher Evan banyak bekas gigitan wanita liar, sekali lihat saja bisa langsung tahu gigitan itu masih baru." Tiara pun membentak Andy.


Tiba-tiba Arka dan Kalista tersenyum miring. Oke dapat di simpulkan dari kalimat Tiara, bahwa Tiara cemburu pada Evan.


"Semalaman Evan nemenin lu di apartment ini, nggak mungkin Evan keluar dan main gila sama perempuan lain. Dia nggak mungkin ninggalin lu Tiara!" Ucap Andy dengan suara yang mulai normal.


"Sabar sabar sabar sodara-sodara!" Arka berusaha melerai perdebatan antara Andy dan Tiara.


"Ra, lu kayanya salah paham deh." Ucap Kalista.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2