SUN FLOWER

SUN FLOWER
TWINS


__ADS_3

TWINS


Sebelumnya media digemparkan oleh berita mengenai jumpa pers yang Arka lakukan. Nama Ashila menjadi tranding topik dan viral begitu saja selama satu pekan. Setelah itu beritanya pun lenyap, seiring dengan kepergian Ashila ke Negera yang ia tuju. Arka dan Kalista sama sekali tidak menindak lanjuti kasus tersebut, Arka sih sebenarnya sangat ingin memenjarakan Ashila. Tetapi, Kalista melarangnya. Menurut Kalista semua ini saja harusnya sudah cukup membuatnya jera. Selanjutnya terserah Ashila saja, mau membuka lembaran baru atau mempertahankan masa kelam?


Arka merawat luka di kaki Kalista dengan sangat hati-hati dan telaten, karena Kalista menolak perawat dan dokter yang akan di datangkan oleh Oma. Arka sebenarnya sudah mencari dokter dan perawat dari luar negeri, tetapi Kalista tetap menolak. Dokter luar negeri maupun dalam negeri ya sama saja, Arka kan pebisnis pasti mempunyai rival juga dalam dunia bisnis. Yang namanya rival pasti akan mencari celah dan mengerahkan segala cara untuk menjatuhkan. Apalagi mendatangkan dokter dan perawat dari luar negeri, pasti akan memancing kecurigaan publik. Sekarang ini kan nama Arka semakin booming semenjak kejadian itu, dan bahkan biodata Kalista pun sempat tersebar di beberapa media televisi Indonesia.


Kaki itu telah mulus kembali, benar-benar mulus seperti tadinya. Selain mendapatkan perawatan yang cukup oleh Arka dan Oma. Arka juga terbang langsung keluar negeri hanya untuk membeli obat semacam cream, setelah sekitar tiga hari di olesi oleh cream tersebut, kaki Kalista kembali mulus. Rasa sakit itu pun telah hilang, kini Kalista bisa berjalan lagi dengan normal.


Namun, beberapa hari ini atau mungkin sekitaran sepuluh hari Arka sangat sibuk dengan tugas kantor. Karena Andy dan Gina sedang di tugaskan ke luar kota, mengurus sebuah proyek yang lumayan besar. Arka sengaja mempercayakan proyek itu pada Andy, di bantu oleh Gina. Bukannya Arka tidak mau mengurus proyek besar itu, namun Arka enggan kalau harus pergi ke luar kota dengan kondisi perut Kalista yang semakin membesar.


Terpaksa deh Arka menjadi super sibuk mengurus kantor. Berangkat pagi buta, pulang ketika bulan sudah mulai muncul dan menerangi bumi malam. Menurut Arka hal seperti ini lebih bagus, ketimbang harus berjauhan dengan istrinya. Kalista juga cukup paham dengan kondisi Arka sekarang, bahkan Kalista selalu bangun subuh, menyiapkan sarapann, bekal dan lain sebagainya. Kalista juga seringkali menahan kantuk yang menyerang matanya, Kalista memilih menunggu kepulangan Arka. Lalu setelah Arka pulang, Kalista akan menghangatkan makanan yang telah di masaknya. Menyiapkan air hangat di bath up, menyiapkan piyama tidur yang akan di kenakan Arka. Bahkan tak jarang juga Kalista memijat kaki dan tangan Arka.


Sikap dan perlakuan Kalista yang seperti ini lah yang membuat Arka senang. Setelah seharian full bekerja dan hanya menatap dinding kantor ruangannya, begitu pulang di sambut hangat oleh Kalista. Wajah cantik serta senyum sumringah selalu tersungging di bibirnya. Istri yang baik dengan segala perangai indahnya memang menjadi pelepas dahaga ketika Arka penat mengurusi segala macam pekerjaan kantor.


Sepuluh hari itu telah berlalu, Andy dan Gina telah kembali dari luar kota dan kabar baiknya mereka berhasil memenangkan proyek itu. Kembali lagi pada rutinitasnya kantor, akhirnya Arka memutuskan untuk mengambil cuti selama dua hari. Arka akan menebus hari-hari kemarin yang telah menyita waktu dan perhatiannya.


Benar saja, selama cuti dua hari itu Arka menghabiskan waktu bersama Kalista. Pergi ke super market membeli berbagai macam sayuran dan buah, ngemall, makan di restoran yang Kalista mau, mengajak Kalista pergi ke tempat senam hamil. Sesekali lah Arka meluangkan waktu untuk menemani Kalista senam hamil, Arka tahu Kalista sebenarnya sangat ingin mengikuti program itu. Namun lagi dan lagi dirinya lah hambatan utamanya, karena senam ibu hamil harus di dampingi oleh suami, dan Kalista cukup paham bahwa Arka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap perusahaan Anggara. Memilih mengalah dan membuang egonya, Kalista lebih sering menontonnya di YouTube lalu mempraktekkan nya sendiri.


Apa yang terjadi ketika mereka berada di tempat senam ibu hamil?


Arka begitu kaku dan tidak bisa mengikuti arahan yang di berikan, padahal manik mata Kalista menangkap beberapa sosok laki-laki yang sedang menemani istrinya, dan mereka begitu rileks. Berbeda jauh dengan Arka, bahkan yang sekarang bersarang di pikiran Kalista adalah "Arka sebenarnya bisa, namun ia gengsi datang ke tempat seperti ini."


"Yang benar dong!" Protes Kalista sambil memberikan tatapan galak pada Arka.


Arka menautkan sebelah alisnya, lalu melihat para bumil yang lain. "Aku nggak biasa sayang, lagian gerakannya sudah." Arka tersenyum kikuk menampilkan barisan gigi putihnya, namun senyum itu terasa begitu canggung.


Kalista memutar bola matanya jengah, menatap Arka dengan tatapan sangat malas. "Yakin nggak bisa? Nggak bisa apa gengsi atau malas atau apa gitu?" Bibir mungil itu mencebik, dan sedikit manyun.


Lagi-lagi Arka memberikan senyum itu, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Bukan gengsi sih, tapi lebih ke malu. Awkrad banget datang ke tempat seperti ini, aku kan seorang CEO ternama hehe." Berbicara dengan sangat enteng tanpa ada rasa bersalah sedikit pun, bahkan di akhir kalimat Arka masih sempat memberikan kekehan kecil.


Eh tunggu tunggu deh! Tadi kan yang ngajak ke senam bumil tuh Arka, lah kenapa sekarang Arka malah berkata seperti itu?


Marah, kesal, jengkel dan kecewa. Hanya perasaan itu lah yang sekarang sedang Kalista rasakan, dan terus menerus berkecamuk di pikiran dan hati Kalista.


Sesuai dengan yang Kalista duga, Arka sebenarnya gengsi dan malu. Bola mata itu kembali memutar dengan jengah, bibirnya manyun, Kalista segera menjauh dari tempat itu. "Apa hubungannya dengan CEO? Semua suami juga melakukan hal seperti itu pada istrinya. Lagi pula kamu sendiri yang menamakan benih ini, janin di perut aku kan tidak akan tumbuh tanpa adanya benih darimu, satu hal yang harus kamu ingat! Ada kehidupan lain di perut Aku, dan itu hasil dari mahakarya kita berdua! Bukan aku sendirian!" Berjalan sambil terus bercerocos, bibir mungil itu seperti tidak punya rem.


Bagaimana Kalista tidak merasa kesal? Arka yang mengajak ke tempat ini, dan malah Arka juga yang mengatakan malu. Pas bikin dia enak-enak aja, malah sering banget maksa. Giliran udah jadi janin malah kaya gitu? Kaya melupakan tanggung jawab bersama. "Dasar suami mau enaknya aja!" Gumam Kalista sambil menepis bulir keringat di dahinya.


Arka yang mengikuti langkah Kalista dari belakang, sedang menepuk-nepuk pelan jidatnya. Merutuki kebodohannya yang beberapa detik yang lalu terucap dari mulutnya. "Sayang, bukan gitu..." Arka berusaha meredam amarah Kalista. Tetapi tidak bisa, karena Kalista malah melangkah dengan cepat keluar dari tempat senam itu.


Di dalam mobil pun keduanya saling terdiam, tidak ada yang berucap. Arka melajukan mobilnya dengan sangat tenang dan hati-hati. Begitu tiba di rumah Kalista langsung masuk ke kamarnya, dan bergegas membersihkan badannya. Sedangkan Arka membuka laptopnya, karena mendapat pesan WhatsApp dari Andy, suruh mengecek beberapa laporan yang membutuhkan persetujuan dari CEO.


Ngomong-ngomong soal Andy, jadi keingat tentang proyek besar itu. Selama di luar kota Andy dan Gina semakin akrab semakin dekat. Hubungan mereka semakin membaik, bahkan katanya mereka memulainya untuk berpacaran dulu. Andy berhasil meyakinkan Gina yang katanya tidak ingin pacaran tapi pengen langsung nikah saja. Tetapi, Andy juga nggak sekedar ngajak pacaran, tapi dalam hal ini Andy akan sangat serius, Andy akan melamar Gina nanti ketika semuanya sudah siap. Kalau untuk saat ini masih ada beberapa hal yang harus Andy urus.


Eh, balik lagi deh sama pertengkaran yang sedang di alami oleh Arka dan Kalista. Arka kesulitan untuk meredam amarah Kalista, sangat sulit meminta maaf juga. Arka menyerah dan akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Google voice (Mengikuti jejak Evan) Arka menggunakan google voice, bertanya pada google adalah kebiasaan Evan semasa kuliah, dulu Arka sering mentertawakan Evan karena sering bertanya pada google, eh sekarang dirinya juga malah bertanya pada google. Kalau Evan bertanya pada google voice mengenai macam-macam, mulai dari "Bagaimana menaklukkan hati dosen cantik namun killer, bagaimana membuat lawan jenis tertarik, bahkan sampai bertanya mengenai berbagai ukuran beha perempuan." Begitulah Evan si playboy, namun semuanya berubah begitu saja ketika mengenal Shafa. Tapi, pada akhirnya Shafa.. begitulah!


Hal yang paling Arka ingat dari Evan semasa kuliah adalah, Evan pernah meluluhkan hati wanita dengan seikat bunga mawar, sekotak cokelat bentuk love, dan satu set berlian keluaran terbaru. Arka akan mengikuti jejak Evan, semoga keberuntungan menghampirinya.


Beberapa artikel terkait muncul, Arka membacanya satu persatu. Tak jarang pula Arka menemukan satu tips yang hampir ada di semua artikel, yaitu "Ajak bercinta!" Arka menautkan dahinya, berpikir cukup keras. "Bercinta? Kegiatan yang sangat nikmat itu apakah benaran bisa meluluhkan hati yang sekeras batu?" Arka terkekeh geli, tetapi tips ini tetap akan ia coba. Tapi tentunya juga tidak hanya ini saja, Arka menemukan tips-tips lainnya.


Seikat bunga mawar merah yang wanginya semerbak, sekotak cokelat berbentuk love, dan tentunya satu set berlian keluaran terbaru yang harganya fantastis, bahkan mungkin nggak masuk di akal. Arka tahu Kalista bukan wanita matre, tapi anggap saja ini sebagai hadiah.


"Maaf." Hanya kata itu yang Arka ucapkan ketika masuk ke kamarnya. Kalista sedang duduk di ranjangnya, sambil menyenderkan kepalanya di bahu ranjang. Di tangannya terdapat satu buku novel yang sedang di bacanya.

__ADS_1


Arka mengulurkan satu ikat bunga mawar, sekotak cokelat love, dan satu set perhiasan itu. Berharap Kalista akan luluh dan memaafkannya, tetapi Kalista malah menatap Arka sambil menautkan sebelah alisnya.


"Aku benar-benar minta maaf soal tadi. Bukannya maksud aku seperti itu, tapi ya..."


"Tapi apa?" Kalista lebih dulu memotong ucapan Arka.


"Tapi sebenarnya aku lagi pusing karena ada banyak kerjaan." Arka berusaha beralibi sambil memperhatikan ekspresi yang di keluarkannya.


"Alasan klasik! Ya kalau banyak kerjaan ngapain musti cuti sih?" Bola mata itu kembali memutar dengan sangat jengah.


"Sayang..." Arka benar-benar mengiba di hadapan Kalista, bahkan matanya memerah dan berkaca-kaca. Arka si CEO dingin itu kerap kali terlihat lemah di hadapan istrinya.


"Kamu pikir seikat bunga mawar, sekotak cokelat berbentuk love, dan satu set berlian keluaran terbaru cukup untuk aku memaafkan kamu? Kemarahan aku kamu hargai hanya dengan barang-barang itu? Bukan itu yang aku mau! Aku juga bukan perempuan gila harta!" Kalista terisak, menangis tersedu-sedu. Pikirannya sangat sensitif sekali.


"Bayi yang di perut aku kan bukan hanya anak aku, tapi anak kamu juga. Ini tuh tanggung jawab kita berdua! Kenapa sih kamu kaya nggak peduli gitu? Lagian kan kamu sendiri yang ngajak ke tempat senam bumil, senam bumil tuh bukan cuma untuk ibunya saja tapi bagus juga buat bayinya. Kamu malah malas-malasan, ingat nggak pas bikinnya? Enak kan? Giliran kaya gini aja aku sendiri yang repot." Kalista berbicara sambil terus mengeluarkan air mata.


Sekarang Arka paham, memang semua ini salahnya. Dan Arka juga menyadari tidak semua wanita bisa di luluhkan dengan seikat bunga mawar, sekotak cokelat love, dan satu set berlian mewah dengan harga gila-gilaan. Kalista bukan tipe istri seperti itu. Lalu, mereka berbaikan, Arka yang menyadari semua kesalahannya, dan berjanji akan lebih siaga lagi dalam menjaga dan memperhatikan Kalista dan bayinya.


"Terus aku harus gimana?" Tanya Arka bingung.


"Jual satu set berlian ini! Uangnya kamu kasih ke janda yang mangkal di lampu merah." Ucap Kalista ketus.


"Siap." Jawab Arka antusias, Arka tahu kok Kalista nggak kaya gitu, dan mana mungkin juga Arka melakukan tindakan seperti yang barusan Kalista ucapkan.


"Iiiiih." Kalista mencubit pinggang Arka. "Aku nggak matre, nggak gila harta juga, tapi karena berlian ini telah di beli, sayang dong kalau di jual lagi. Mending aku pakai buat kondangan aja." Ucapnya dengan terisak, ingusnya keluar sedikit. Entah mengapa melihat Kalista menangis terisak sambil ngomong tuh kaya lucu banget menurut Arka.


Sore itu mereka menghabiskan waktu dengan tidur bersama, mempersatukan bagian tubuh mereka, melepaskan apa yang seharusnya di lepaskan. Kegiatan yang biasanya mereka lakukan di malam hari, kini malah mereka lakukan di sore hari. Pakaian mereka berserakan di lantai. Sebelum akhirnya permainan ini selesai, Arka mengecup puncak kepala istrinya, menyelimutinya lalu mereka pun tertidur akibat kelelahan.


*****


Tidak terasa kini usia kandungan Kalista telah menginjak usia 7 bulan. Hari ini Arka dan Kalista akan check up, dan akan melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin dari bayi di perut Kalista.


Badan Kalista sudah lebih lebar dari sebelumnya, kegemukan itu tidak bisa di hindari karena memang selama hamil ini Kalista menjadi hobi makan. Apalagi buah dan sayuran, benar-benar penting banget untuk janin, dan tentunya juga berbagai macam vitamin pun di butuhkan.


Perut buncit nan bulat itu semakin membesar, bahkan kadang Arka diam-diam berpikir bahwa isinya tidak mungkin satu. Tapi pikiran itu hanya bersarang saja di kepala dan otaknya, Arka tidak pernah mengutarakannya. Karena Arka takut instingnya salah, apalagi Kalista memang sangat menginginkan bayi kembar. Apalah daya jika nanti bayinya hanya satu, yang ada nanti Kalista malah kecewa karena berpikiran sama seperti Arka.


Kakinya membesar serta membengkak, untuk jalan aja agak sedikit kesusahan. Apalagi sekarang - sekarang ini Kalista selalu merasa kecapean, jalan sedikit saja ngeluh. Bahkan pernah loh, Arka membeli kursi roda ketika sedang berada di salah satu mall, Kalista ngeluh kecapean dan menangis. Sedangkan Arka juga hanya kuat menggendongnya sepuluh menit saja. Tanpa pikir panjang, Arka pun membeli kursi roda untuk Kalista.


"Duduk aja, aku yang berdiri." Ucap Arka. Sekarang mereka sedang mengantri di ruang tunggu salah satu rumah sakit yang memang biasa Kalista check up.


Hari ini sangat ramai, bahkan para suami yang mengantar sama sekali tidak kebagian duduk, karena kursi di duduki oleh semua bumil. Padahal di pojokan juga masih ada bumil yang belum kebagian tempat duduk.


Tibalah nomor antrian yang di sebutkan adalah nomornya Kalista. Kalista masuk dengan di tuntun oleh Arka.


"Eh bumil yang ini toh, walaupun badannya membesar seiring bertambahnya usia kandungan, tetapi wajahn cantiknya sama sekali tidak memudar." Puji dokter Fani yang sekarang sedang duduk di kursi yang berhadapan dengan Kalista.


"Cantiknya kan alami, bukan polesan atau dempulan, apalagi pake pengawet." Arka tercengir bagaikan kuda.


"Bisa aja nih pak suaminya." Dokter Fani pun terkekeh.


"Ada keluhan apa nih bumil?" Imbuhnya lagi.


"Setelah usia kandungan ini resmi memasuki 7 bulan, sering kecapean, kaki bengkak, udah sih itu aja." Kata Kalista.

__ADS_1


"Nggak apa-apa itu normal." Ucap dokter Fani.


Kemudian dokter Fani menyuruh Kalista berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu, mengoleskan cairan dingin ke perut Kalista. Lalu ada semacam alat yang terhubung dengan monitor, dari monitor itu terlihat gerak aktif bayi di perut Kalista.


"MasyaAllah, ada dua nyawa kehidupan di perut kamu." Ucap dokter Fani dengan sangat antusias, bahkan matanya berkaca-kaca dan menatap takjub pada layar monitor.


"Benar kah?" Arka langsung menajamkan penglihatannya, menatap layar monitor dengan penuh antusias.


"Jenis kelaminnya perempuan dan laki-laki." Dokter Fani kembali berucap.


Arka langsung memeluk Kalista sambil menangis bahagia, tuhan begitu baik padanya. Mendatangkan malaikat kecil bukan hanya satu, tetapi langsung dua. Air mata tidak henti-hentinya keluar dari mata Arka maupun Kalista. Bahkan Arka sudah berkali-kali mengecup perut


Kalista.


Setelah itu, seperti biasa dokter Fani memberikan berbagai macam vitamin yang harus di minum Kalista. Dan berpesan agar Arka lebih berhati-hati dalam menjaga Kalista.


"Sekali lagi selamat ya." Dokter Fani memeluk Kalista dengan sangat erat, "Do'akan aku agar segera isi." Imbuhnya lagi, pelukan itu masih belum terlepas.


"Jadi bu dokter belum isi? Wah parah sih, ini antara jarang di sentuh atau memang dokter Rian nggak topcer nih!" Arka berkata semena-semena. Nggak tahu aja sekarang dokter Fani lagi sedih.


"Sering di sentuh kok, cuma memang Tuhan belum ngasih aja." Dokter Rian tiba-tiba masuk ke ruangan dokter Fani.


"Makanya bro, harus sering olahraga, jangan banyak begadang, dan tambahin obat kuat aja biar makin ganas." Ucapan enteng dari mulut Arka, tangannya menepuk pundak dokter Rian.


Kalista mencubit pelan pinggang Arka, "Nggak bisa lihat situasi apa ya?" Kalista melotot pada Arka.


"Semuanya kan berada di tangan Tuhan, di sentuh tiap hari saja tidak bisa menjamin besoknya akan hamil, intinya sih usaha di barengi doa aja!" Ucap Kalista.


"Semoga cepat isi ya bu dokter." Senyum hangat sumringah dan pelukan sebentar Kalista berikan untuk dokter Fani.


"Sana keluar! Kasian bumil-bumil yang lain lagi antri." Dokter Rian berkata jengah.


"Siap!" Jawab Arka sambil menuntun Kalista


"Kalau bisa nanti dokter Fani pas hamil isinya langsung 3 ya." Terbesit satu do'a dari ucapan yang Arka lontrakan.


"Amin." Ucap dokter Fani.


"Langsung dua juga no problem!" Dokter Rian.


"Jangan dong! Dua kan anak kami." Arka mengedipkan sebelah matanya.


"Twins?" Mata dokter Rian membulat sambil memperhatikan perut buncit Kalista.


"Yup!" Arka langsung menggandeng erat tangan Kalista, menuntunnya keluar dari ruangan periksa. Karena tidak enak juga jika berlama-lama, kasian para bumil yang lain sedang antri menunggu nomor antriannya di sebutkan.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2