SUN FLOWER

SUN FLOWER
SUMBER KEBAHAGIAAN


__ADS_3

Setelah selesai mengumumkan kehamilan Kalista, semua karyawan pun kembali lagi pada rutinitas kerjanya.


"Wajib kudu harus kasih tahu ayah dan oma." Arka menggandeng tangan Kalista.


"Kerjaan kamu masih banyakkan? Selesaikan dulu! Nanti kalau udah selesai baru deh ke rumah ayah. Lagian aku juga mau makan dulu deh di kantin."


"Barusan makan salad, nggak kenyang kah?" Arka menatap manik mata Kalista.


"Nggak, sekarang kan aku berbadan dua, jadi makannya harus 2 porsi hehe." Kalista memamerkan deretan giginya sambil mengelus perutnya.


"Yaudah ayo, mau makan apa sih?" Arka semakin menunjukan perhatiannya.


"Kamu kerja, aku sama Tiara aja ya! Eh tapi kan masih jam kerja, izinin Tiara buat nemenin aku makan ya?" Rengek Kalista sambil memilin ujung dress nya.


"Iya boleh, tapi ingat ya kamu jalannya harus hati-hati." Arka semakin mengatur, sambil terus menggandeng tangan istrinya menuju ruangan Tiara.


Semua karyawan tampak sibuk dengan pekerjaannya, ada beberapa orang yang sedang merumpi seketika langsung bubar ketika mereka melihat Arka.


"Tiara, istri saya lagi mau makan di temani kamu, sekalian saya nitip istri saya ya." Tiara langsung menganggukkan kepalanya, Arka kembali lagi ke ruangannya.


Berjalan ke kantin pun tangan Kalista selalu di gandeng oleh Tiara, bahkan Tiara jalannya sangat pelan sekali.


"Kita manusia loh ra, bukan keong! Kalau jalan kaya gini kapan nyampe nya? Janin gue semakin kelaparan." Protes Kalista dengan wajah jengahnya.


"Diam! Biar lambat asal selamat! Suami lu pak boss gue itu nitipin lu ke gue, sumpah ya ta nyawa gue jadi taruhannya." Kesannya tuh Tiara kaya lagi menuntun orang sakit, padahal Kalista cuma hamil aja.


Setelah perdebatan tentang jalan yang seperti keong, akhirnya kini Tiara dan Kalista sudah duduk di bangku kantin. Kantin sangat sepi, karena ini belum masuk jam istirahat.


"Mau makan apa bu?" Tanya ibu kantin, dengan sangat ramah.


"Kalista aja, seperti biasanya. Kenapa harus panggil ibu sih?" Gerutu Kalista.


"Segan saya kalau panggil Kalista, kan Kalista sekarang sudah jadi istrinya pak Arka.


"Kalista aja ya! Perintah ibu hamil nggak boleh di bantah."


"Oiya bu, pesan jus alpukat sama bakso bakar ya!" Kalista tersenyum ramah.


"Siap neng! Neng Tiara pesan apa?" Tanyanya sambil menuliskan menu pesanan Kalista.


"Samain aja sama bumil!"


Ibu kantin segera membawakan pesanan Kalista dan Tiara, tidak berselang lama pesanan mereka pun telah tersedia diatas meja kantin.


Kalista makan dengan sangat lahap, tidak sampai 5 menit makanan tersebut telah ludes dari piringnya. Tiara saja memandang Kalista sampai tidak berkedip, bibirnya sampai menganga, sahabatnya itu tidak seperti biasanya.


"Asli banget nih berbadan dua, bayi lu rakus juga ya?" Bima menepuk pundak Kalista, dan duduk di sebelahnya.


"Janin 6 minggu minta bakso bakar? Keren banget ya calon anak lu." Bimo pun ikut nimbrung.


"Iya dong anak gue sih pasti keren, secara gitu gue 'nya aja keren!" Ucap Kalista dengan sombongnya.


Karena ini sudah masuk jam istirahat makan siang, kantin pun semakin ramai. Banyak sekali yang diam-diam melirik Kalista, ketika Kalista menengok mereka pun tersenyum ramah.

__ADS_1


"Kalau udah selesai makan bakso bakar pedas enaknya tuh minum yang bersoda, segar dan dingin." Rangga tiba-tiba datang dan bergabung tanpa meminta izin.


"Iya tuh benar." Ujar Bimo sambil menyesap kopi pesanannya.


"Benerkah?" Kalista melihat Rangga yang sedang meneguk minuman bersoda, sepertinya air liur Kalista akan menetes.


"Mau?" Rangga menyodorkan minuman bersoda.


Kalista menerimanya dengan senang hati, dirinya ingin membuktikan apakah benar kalau setelah makan bakso bakar minumnya minuman bersoda.


"Ngapain kasih Kalista minuman bersoda?" Tiara menunjukan muka judesnya. "Padahal lu sendiri tahu jelas kan bahwa Kalista sedang mengandung? Telinga lu nggak tuli kan pas tadi pak Arka mengumumkan Kalista hamil?" Cerocos Tiara dengan kata-kata yang penuh penekanan!


"Elu juga ta, tahu lagi mengandung juga masih aja kegoda untuk minum soda!" Tiara merebut minuman bersoda dari tangan Kalista. "Lu harus tahu, ibu hamil tuh nggak boleh minum minuman bersoda! Gue nggak tahu juga sih sebenarnya minuman bersoda itu efeknya jadi kenapa untuk ibu hamil? Tapi minuman bersoda kan mengandung kafein, gula, pemanis buatan, zat aditif, dan asam karbonat. Itu semua tuh nggak baik buat tumbuh kembangnya janin."


Kalista menjadi diam ketika mendengar semua penjelasan dari Tiara. Dirinya yang hamil tapi tidak tahu apa-apa mengenai berbagai larangan yang tidak boleh di konsumsi oleh ibu hamil.


"Pintar juga lu ra." Bimo mengikut lengan Tiara.


"Nah dengerin tuh Tiara, lain kali nggak boleh kebawa sesat ya! Aku nggak mau anak aku yang di perut kamu kenapa-kenapa!" Arka tiba-tiba datang dan mengecup puncak kepala Kalista, Kalista menjadi semakin diam tak berkutik.


"Nggak boleh ceroboh ya bumil!" Arka mengusap lembut puncak kepala Kalista.


"Maaf." Tumpahlah air mata Kalista, dia meminta maaf dengan terisak-isak.


"Jangan dimarahin pak, ibu hamil kan sensitif." Ujar Tiara.


"Udah nggak apa-apa, mau dimaafin kan?" Tanyanya, Kalista mengangguk. "Cium aku!" Dan Kalista pun langsung mencium pipi Arka.


"Aduh pak, tolong dong saya jomblo loh!" Bima merasa menderita melihat adegan barusan.


Arka berjongkok di depan Kalista sambil mengusap perut Kalista "Nak bantuin ayah jaga mama dari orang-orang jahat ya." Arka kemudian mencium perut Kalista.


"Ngemall yuk!"


"Ngapain? Tumben banget, biasanya juga aku yang ngajak." Kalista mengernyitkan dahinya.


"Beli baju bumil, lambat laun perut kamu bakalan membesar, jadi harus segera menyiapkan baju hamil yang banyak."


"Awas aja kalau ada yang berani ngasih makanan atau minuman yang membahayakan untuk istri saya atau janin di dalam perut istri saya! Semua bakalan ada konsekuensinya!!" Arka menatap Rangga tajam, Arka merasa bahwa Rangga sengaja ingin janin di kandungan Kalista keguguran.


*****


"Keluarkan semua baju untuk ibu hamil koleksi terbaru." Arka dan Kalista duduk di sofa ruang tunggu, rencanya mau ke mall, namun Arka malah membawa Kalista ke butik.


Para pegawai pun sangat sibuk melayani permintaan Arka, semua koleksi baju ibu hamil di keluarkan, belum lagi yang masih menempel di patung-patung.


"Bungkus semua." Perintah Arka.


"Tunggu dulu, aku mau pilih-pilih." Kalista sibuk memilih baju yang dia mau. Kebanyakan sih Kalista mengambil dress.


Salah satu pegawai datang membawa daster tidur dengan berbagai macam motif. "Untuk daster tidurnya, silahkan di pilih nyonya!" Ucapnya dengan senyum mengembang membuat pipinya terlihat lebar.


"Sayang, pilih daster buat tidurnya!"

__ADS_1


"Nggak usah deh yang, kalau daster buat tidur mah nanti aku beli di pasar aja."


"Memang ya kamu tuh bukan wanita matre, punya suami miliarder kaya gini aja masih milih beli daster di pasar." Arka terkekeh geli, "Pilih aja semua yang kamu mau sayang, kalau kamu masih kekeuh nggak mau, biar aku saja yang pilih." Jadilah mereka berdua memilih daster tidur bersama-sama. Semua karyawan semakin iri sama Kalista.


"Dress bumil untuk menghadiri acara kondangan ada nggak?"


"Ada, butik ini koleksinya sangat lengkap kok nyonya."


"Saya mau!" Ucap Kalista.


"Mau kondangan kesiapa sayang?"


"Dokter Rian."


"Itu kan 3 bulan lagi sayang, perut kamu aja nanti semakin besar, kalau beli sekarang nanti nggak muat loh."


"Hmm.." Kalista berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya.


Para pegawai butik di bantu oleh pak Jaka memasukan semua belanjaan ke dalam bagasi. Pak Jaka adalah sopir pribadi Arka yang baru saja di rekrut tadi pagi.


Namun karena sekarang Kalista hamil, Arka akan memberikan pak Jaka untuk menjadi sopir Kalista saja, nanti Arka akan merekrut lagi.


"Lagi pengen makan apa?" Arka bertanya sambil menggenggam erat jemari tangan Kalista, tadi Kalista meminta pak Jaka melajukan mobilnya dengan kecepatan paling rendah, karena Kalista merasa mual dan pusing.


"Makanan yang pedas-pedas!" Tangan Kalista memijit-mijit pelan keningnya.


Di tengah jalan, Arka meminta pak Jaka menepikan mobilnya, Arka turun dari mobil dan membeli rujak dan beberapa makanan pedas lainnya yang berada di pinggir jalan. Awalnya pak Jaka melarangnya, dan menawarkan dirinya saja lah yang membeli. Tapi Arka menolak, dan berkata ingin menjadi suami siaga.


Mobil masuki gerbang kediaman Anggara. Arka langsung menuntun Kalista turun dari mobil, masuk dan mendudukkannya di sofa.


"Eh sudah pulang?" Oma menghampiri Arka dan Kalista.


"Kalista sakit?" Tanya pak Anggara yang melihat wajah pucat Kalista.


Arka belum menjawab pertanyaan dari ayah dan omanya, Arka masih sibuk menyuapi Kalista makan rujak dan seblak.


"Sebentar lagi aku akan jadi ayah." Satu kalimat yang keluar dari mulut Arka begitu membahagiakan untuk pak Anggara dan Oma.


Mata pak Anggara membulat sempurna dan berkaca-kaca "Alhamdulilah, selamat anakku." Pak Anggara memeluk erat Arka.


"Bu aku akan menjadi kakek." Pak Anggara kini memeluk Oma. "Dan aku akan menjadi nenek buyut." Ucap Oma, air mata terus saja berjatuhan membasahi pipinya.


"Sekarang kamu lagi mau apa sayang?" Tanya Oma yang langsung memeluk Kalista.


"Apapun yang kamu mau sebutkan saja sayang, ayah akan berusaha memenuhi keinginan kamu semampu ayah." Pak Anggara duduk di sebelah Arka.


"Aku mau kalian semua tetap berbahagia." Kalista tersenyum sambil mengusap sisa-sisa air mata di pelupuk mata Oma.


"Nak tahu kah kamu? Kamulah sumber kebahagiaan bagi kami, terutama sumber kebahagiaan untuk Arka. Terimakasih ya menantuku." Pecah juga tangis pak Anggara. Mereka semua pun saling merangkul dengan tangis bahagia.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2