
Setelah selesai menceritakan kronologi awal mulanya hubungan terlarang itu terjadi. Kini Risa semakin menunjukan kepalanya, air matanya tidak henti-hentinya berjatuhan. Yang saat ini dirasakannya adalah malu, malu pada Arka, Kalista, Andy, Gina, Evan dan Tiara.
Bukan sekedar malu karena persyaratannya di ketahui mereka, namun ini lebih ke malu karena mereka ke-gep sedang berhubungan di siang hari, tanpa mengunci pintu pula.
"Rumit juga ya." Arka memijat-mijat pelan dahinya.
"Mendingan halalin aja sih menurut gue mah." Andy menepuk bahu Riko.
"Nggak bisa! Gue nggak ada perasaan sedikitpun pada Risa." Riko langsung membantah usulan yang Andy berikan.
"Anak orang udah lu rusakin, yakali lu nggak mau tanggung jawab? Sebagai seorang laki-laki harusnya lu bersikap gentleman." Ucap Evan sambil terus menerus menatap Riko.
"Duh berasa bejat banget gue! Jadi begini ya bro & sist tolong di simak dengan seksama, gue dan Risa terikat dalam sebuah kesepakatan persyaratan. Gue nggak mau ya cuma nidurin atau rusakin tubuh dia aja, gue membiayai pengobatan ayahnya dalam kurun waktu 2 tahun, sesuai perjanjian. Niat gue baik loh ini, ngebantuin yang lagi susah." Sengit Riko tanpa rasa bersalah, bahkan dirinya tidak mau di sebut sebagai perusak tubuh Risa.
"Riko otak lu gimana sih? Pengen gue timpuk pake batu kali ya. Mau membela diri seperti apapun juga, tetap saja yang namanya nidurin anak gadis orang itu termasuk dalam kategori merusak tubuhnya, merusak masa depannya. Kalaupun memang diri lu beneran berniat menolong Risa yang waktu itu dalam keadaan terjepit dan terhimpit, seharusnya lu pinjamin aja duit lu. Lah ini kan, lu malah dengan sengaja dan dalam keadaan sadar malah mengajukan sebuah persyaratan. Otak mesum lu bekerja dengan maksimal, memanfaatkan sebuah celah dalam keputus asaan hidup Risa saat itu." Arka berusaha menjelaskan, Arka ingin Riko segera menyadari bahwa perbuatannya itu salah.
"Gue yakin sih, sebanarnya Risa merupakan gadis yang baik. Pada saat itu dunia nyata memang sedang berada di ujung tanduk, kondisi ayahnya membuatnya mengambil jalan pintas yang haram. Kalau bukan karena terhimpit keadaan kejamnya dunia, Risa nggak mungkin mengambil jalan pintas itu. Seandainya dulu Risa datangnya ke gue, atau ke suami gue, gue pribadi sih akan menolongnya dengan semampu gue. Gue paham gimana sulitnya hidup Risa saat itu, gue pernah ada di posisi itu. Cuma yang membedakannya disini adalah gue merupakan orang yang beruntung, karena pihak rumah sakit mengizinkan gue untuk mencicil biaya perawatan bunda sampai pada akhirnya gue lulus kuliah, berusaha mencicil dan lagi-lagi gue beruntung, tiba-tiba gue dapat kabar dari pihak rumah sakit, ternyata ada yang melunasi tunggakan perawatan bunda. Gue sangat bersyukur, gue berdo'a, siapapun yang telah melunasi biaya perawatan bunda semoga hidupnya bahagia, sejahtera, aman sentausa, di berikan umur panjang, selalu rukun dengan keluarganya, dan semoga kehidupan rumah tangganya selalu di berkahi oleh Allah SWT." Ujar Kalista, di akhir kalimatnya Kalista memberikan sebuah do'a yang sangat menyentuh hati.
Arka yang berada di sebelahnya tiba-tiba tersenyum, hatinya menghangat. Karena walau bagaimanapun dialah yang telah melunasi biaya perawatan bunda Kalista, otomatis do'a yang Kalista ucapkan barusan untuk dirinya, dan untuk rumah tangganya. Arka memang tidak memberitahukan Kalista, menurut Arka, Kalista juga tidak harus tahu siapa yang melunasinya.
"Jadinya gimana nih? Masih kekeuh nggak mau nikahin dia secara resmi? Padahal kalian berdua sudah menikah diatas ranjang." Cibir Andy dengan bibir mencebik, jujur saja saat ini Andy sangat greget pada Riko. Riko seperti memandang rendah sebuah wanita hanya karena di bayar pakai rupiah.
"Gue nggak mau! Gue maunya menikahi wanita yang masih bersih." Sarkas Riko. Rambutnya terlihat kusut dan acak-acakan, bukan karena frustasi, tapi karena di Jambak oleh Risa ketika mereka sedang bergumal diatas ranjang.
"Wuih keren banget, maunya yang bersih, diri sendirinya juga sudah kotor. Padahal semua akan mendapatkan jodoh sesuai dengan cerminan dirinya, jika dirinya bersih maka jodohnya juga bersih, jika dirinya kotor, maka jodohnya juga kotor. Sedangkan kalian berdua awalnya bersih, hanya saja kejamnya keadaan membuat kalian berdua menjadi kotor dan ternoda." Sengit Evan, kalimat yang terlontar dari mulut Evan cukup menggelikan telinganya.
Walaupun Evan selalu bercanda, seperti orang yang tidak bisa serius. Namun, pada saat-saat seperti ini, justru kata-katanya sangat serius.
"Gue tetap aja nggak mau nikahin Risa! Bahkan gue dan Risa sudah tanda tangan diatas materai." Ya ampun, Riko benar-benar keras kepala dan susah di nasehati.
"Oke nggak apa-apa! Detik ini juga Risa resign aja dari Coffee shop ini, besok pagi-pagi datang aja ke kantor gue, gue kasih kerjaan baru buat lu. Dan untuk semua biaya perawatan ayah lu, gue yang tanggung. Gue ikhlas, nggak pakai embel-embel pinjam, anggap saja sedekah." Arka berkata pada Risa, menyuruh Risa untuk segera berhenti bekerja di Coffee shop. Karena jika Risa terus-terusan berkerja di Coffee shop, sudah pasti tubuhnya akan selalu di Rusia oleh Riko yang tidak bertanggung jawab itu.
Ingin sekali Risa mengiyakan tawaran Arka, namun Risa kembali teringat persyaratan itu. Di tulis dengan jelas, jika pihak kedua tiba-tiba mengakhiri persyaratan itu dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun, itu artinya pihak kedua harus mengganti rugi seluruh biaya perawatan yang telah di keluarkan oleh pihak pertama. Risa cukup sadar diri, bagaimana dirinya menghasilkan yang sebegitu banyak pada detik ini?
"Nggak bisa? Rugi banget gue udah keluarin biaya dengan nominal yang lumayan untuk biaya perawatan ayahnya, masa iya gue nggak dapat apa-apa? Hubungan gue dan Risa bagaikan simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan." Riko langsung mencekal pergelangan tangan Risa dengan kencang.
"Lepasin bro! Jangan sakiti anak orang!" Andy menepis kasar tangan Riko, benar saja pergelangan tangan Risa sudah memerah karena di cekal sangat kencang dan kasar.
"Gue ganti semua biaya perawatan yang udah lu keluarin!" Evan pun ikut serta dalam membebaskan Risa, agar hidup Risa tidak selalu terkungkung dalam naungan tubuh Riko.
"Udah kelar kan! Kamu pulang gih, bersihin badan. Besok datang ke kantor suamiku, nanti di sana ketemu Gina yang akan memberitahukan perihal pekerjaan kamu." Kalista mengusap lembut rambut Risa.
"Terimakasih." Risa memeluk erat Kalista, seluruh air matanya sudah tumpah membasahi pipinya, dan membasahi pundak Kalista.
Risa bahkan sampai mengucapkan kata terimakasih sampai berpuluh-puluh kali. Risa sangat beruntung di pertemukan dengan Arka dan Kalista. Pasangan suami istri itu benar-benar mempunyai jiwa penolong, dan baik hati. Tidak hanya Arka dan Kalista, Evan dan Andy pun sangat baik. Mereka tidak memandang Risa sebagai wanita hina yang penuh kekotoran.
Risa segera pamit undur diri, Risa juga mengatakan terimakasih pada Riko. Risa tidak bisa membenci Riko, karena walau bagaimana pun Riko telah membantunya selama 4 bulan ini. Kondisi ayahnya sudah mulai stabil, dalam beberapa hari kedepan ayahnya sudah di perbolehkan pulang, tetapi tetap masih harus check up setiap bulannya, dan tentu saja biaya check up itu juga sangat mahal.
"Gue balik aja deh kayanya! Udah sore, istri gue tidak boleh kecapean. Apalagi sekarang kakinya sedang bengkak." Arka langsung bangkit dari duduknya, dan segera menggandeng tangan Kalista.
"Kejadian hari ini tolong di renungkan dengan hati yang tenang. Kalau lu udah dapat pencerahan, boleh deh lu hubungi gue. Ingat, seberapa kotornya diri lu kita tetap sahabat bro." Arka menepuk pundak Riko, sudut bibirnya terangkat membuat sebuah garis lengkungan.
Arka memang merasa kecewa pada kelakuan Riko, tapi bagaimanapun juga manusia menang tempatnya salah, bisa saja khilaf, dan manusia juga berhak untuk memulai kehidupannya lagi dengan lebih baik. Meninggalkan Riko justru akan membuat hidupnya semakin hancur. Ketika seorang sahabat sedang salah jalan, jangan pernah di tinggalkan. Tapi, tuntunlah hingga hidupnya kembali pada jalan yang lurus dan benar.
Tidak hanya Arka dan Kalista, Evan dan Andy pun masih tetap humble pada Riko. Tiara dan Gina juga sama sekali tidak memandang Riko dengan tatapan jijik. Persahabatan mereka sangat dewasa, dan mereka pun berjanji pada dirinya sendiri akan mengembalikan Riko pada diri Riko yang dulu. Riko yang selalu menghormati dan menghargai seorang makhluk lemah yang bernama wanita.
Bahkan mereka juga menyuruh Riko untuk membersihkan badannya terlebih dahulu, mereka menunggu Riko di kursi yang mereka duduki ketika tadi datang ke coffee shop ini. Mereka makan, ngopi, nongkrong sambil mengobrol kesana-kemari. Semuanya kembali normal, dan segera melupakan kejadian yang berlangsung beberapa menit yang lalu.
*****
Arka sibuk di ruang kerjanya. Ruang kerja yang berada tepat di sebelah kamarnya, akhir-akhir ini Arka memang sedang banyak kerjaan, jika biasanya Arka bekerja di kamarnya, sudah hampir satu bulan ini Arka membuat ruang kerjanya sendiri. Bekerja di kamarnya bukan karena di ganggu oleh istrinya, justru dirinya lah seperti pengganggu tidur istrinya. Kalista tidak tega membiarkan Arka bekerja sampai larut malam, makanya Kalista selalu menemani Arka bekerja. Padahal tidur larut malam tidak baik untuk ibu hamil.
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 21:15 WIB. Kalista sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, dua bocah kembar di perutnya sama sekali tidak bisa diam, seperti sedang bermain sepak bola dengan kasar. Kalista juga merasa perut bagian sampingnya sangat panas, kondisi seperti ini membuatnya tidak nyaman.
Sudah tidur menyamping ke kiri, tidur menyamping ke kanan pun sama saja. Sama-sama tidak merasa nyaman, bahkan rasa sakit di pinggangnya itu semakin terasa nyata.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, munculah satu sosok pria yang telah membuat perutnya buncit.
"Loh, belum tidur istriku?" Arka langsung berjalan ke sisi tempat tidur, duduk lalu mengusap rambut Kalista.
"Baru juga mau tidur, yuk." Berusaha tersenyum senormal mungkin, padahal rasa sakit di perutnya sudah semakin terasa.
Arka yang memang sudah sangat mengantuk, begitu merebahkan tubuhnya di samping Kalista, dia langsung tertidur dengan pulas. Ingin sekali Kalista mengatakan bahwa perutnya sakit, namun dia tidak tega.
Waktu terus berjalan, malam semakin sunyi. Hanya terdengar bunyi dentingan jarum jam yang terus bergerak tanpa lelah. Dua jam sudah berlalu, Kalista semakin merasakan sakit di perutnya. Jika tadi sakitnya sebentar-sebentar namun sering, kini sakit itu terasa mulas seperti ingin buang air besar. Kalista juga merasakan celana dalamnya telah basah.
Kalista segera menepuk-nepuk tubuh Arka. Arka yang menang baru tidur dua jam itu pun sudah sekali untuk di bangunkan. Arka mengerjapkan matanya, namun nyawanya belum terkumpul sempurna. "Ada apa?" Tanyanya, suaranya terdengar parau, manik mata itu juga kembali terpejam.
"Perut aku sakit hiks hiks hiks." Kalista sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit di perutnya, bahkan dirinya juga sampai nangis sambil terus menerus memegangi perutnya itu.
Mendengar Kalista mengatakan perutnya sakit, manik mata itu langsung membulat sempurna. Arka bangkit dari rebahan, kini dia menatap Kalista yang matanya sembap dan hidungnya memerah. Gurat kelelahan terlihat jelas dari wajah Kalista.
"Kamu mau lahiran." Arka panik dan segera mengambil ponselnya, tetapi ia juga bingung akan menghubungi siapa. Namun Arka segera teringat untuk menghubungi rumah sakit, dan meminta di siapkan ruang bersalin untuk istrinya.
Lahiran? Ya ampun Kalista baru ingat mengenai kata-kata lahiran. Kalista dari tadi cuma mengira skait perut biasa, dan mulas biasa. Karena tadi pagi dirinya sempat makan pedas.
Arka langsung membangunkan semua orang yang ada di rumahnya. Pak Anggara dan Oma sama paniknya, kemudian pak Anggara langsung menyuruh sopir untuk mencuci muka dan minimal meneguk kopi terlebih dahulu. Pak Anggara tidak mau terjadi apa-apa di jalan karena sopirnya masih mengantuk.
Oma di bantu beberapa pelayan langsung mengambil semua barang-barang yang di perlukan di rumah sakit. Untung saja Kalista merupakan calon ibu yang cekatan dan siapa sedia, semua barang-barang yang di butuhkannya sudah di packing rapi, tinggal di masukkan kedalam mobil.
Pak Anggara berangkat lebih dulu ke rumah sakit, untuk mengurus semua administrasi persalinan Kalista.
Sedangkan Arka yang masih berada di rumah, segera membopong tubuh Kalista dan masuk ke mobil. Sebuah cairan bening sudah membasi celana dalam Kalista, bahkan cairan itu pun turun membasahi kaki Kalista. Arka yang memang tidak mengetahui itu air apa, dia paniknya luar biasa. Sambil berusaha menenangkan Kalista yang terus mengerang karena menahan rasa sakit, Arka juga sambil bertanya pada Google mengenai cairan itu. Arka takut itu adalah air yang berbahaya, Arka juga takut Kalista keguguran.
Suster memberikan satu baju hijau pada Arka, menyuruh Arka memakai baju itu dan segera masuk ke dalam ruang bersalin.
Semua dokter kandungan ini perempuan, Arka dari jauh-jauh hari memang sudah mengatakan bahwa ketika istrinya melahirkan, Arka ingin semua dokternya perempuan.
"Ketubannya sudah pecah. Dari kapan?" Tanya dokter yang usianya sekitar 40tahunan.
"30 menit yang lalu kayanya?" Ucap Kalista lirih.
"Maksudnya ketuban tuh apa? Apanya yang pecah? Itu berbahaya kah?" Sengit Arka, bahkan di air matanya sudah berkumpul menjadi genangan.
"Selama masa kehamilan, bayi tumbuh di dalam kantung yang berisi cairan di dalam rahim. Kantung itu di sebut kantung ketuban, yang isinya cairan berwarna bening." Salah satu dokter mencoba menjelaskan.
"Air ketuban biasanya pecah ketika ibu hamil mulai mengalami kontraksi rahim untuk melahirkan sang bayi. Umunya setelah 24 jam pecah ketuban, bayi akan segera lahir. Namun apabila selepas waktu itu bayi belum juga lahir, maka kondisi seperti itu bisa di katakan ketuban pecah dini, yang dapat mengakibatkan komplikasi serius. " Imbuhnya lagi.
"Jangan nakut-nakutin saya dan istri dong dok." Sengit Arka, jujur saja saat ini Arka begitu panik dan kalut. Ada rasa takut yang tiba-tiba menghampirinya.
Kalista terus menerus mengerabg kesakitan, bayi di perutnya itu semakin tidak bisa diam. Perutnya semakin terasa mulas dan panas, sakit sekali rasanya.
Arka terus menerus menemani Kalista, meminta Kalista untuk kuat dan selalu berdoa agar persalinannya di berikan kelancaran.
Bukaan demi bukaan telah Kalista lewati. Beberapa dokter sna suster sudah mulai sibuk, kepala bayinya sudah kelihatan.
Dokter meminta Kalista untuk mengeset, tetapi tetap tahan bokongnya jangan sampai terangkat. Karena jika bokongnya terangkat akan mengakibatkan kerobekan pada vag*na. Sedangkan Kalista memilih untuk melahirkan normal, Kalista ingin merasakan menjadi wanita yang seutuhnya. Merasakan rasa sakit persalinan.
"Ayo buruan, dikit lagi." Ucap sangat dokter.
"Sakit.. nggak kuat." Suara Kalista sudah melemah, semangatnya menurun, tenaganya telah terkuras habis.
"Kamu bisa sayang, kamu kuat. Ayo semangat untuk aku, Oma, ayah, dan demi bayi kembar kita. Aku tahu kamu adalah sosok wanita tangguh. Semangat sayang." Arka mencoba menenangkan Kalista, menggenggam erat jari jemarinya, lalu mengecup dahi dan puncak kepala Kalista.
__ADS_1
"Oeeeek.. oeeeek... Oeeeek." Suara Isak tangis kebahagiaan sang bayi yang baru saja terlahir ke dunia itu terdengar.
Keluarlah bayi yang selama ini selalu meringkuk di dalam lahir Kalista. Bayi yang pertama keluar adalah bayi laki-laki, terjeda sekitar sepuluh menit lahirlah bayi perempuan yang sangat cantik.
Arka mengucapkan rasa syukur dengan lelehan air mata yang sudah tidak tertahankan. Dirinya berkali-kali mengecup puncak kepala Kalista.
Bayi sedang di urus ielh beberapa perawat, dokter menyuntikan obat pada tubuh Kalista. Pemotongan ari-ari pun telah di lakukan.
Alhamdulilah bayi kembar lahir dalam keadaan normal, tidak kurang suatu apapun. Semuanya terlihat sempurna, keduanya mempunyai mata bulat seperti kalsuta, dan hidungnya snagat mancung.
Arka sibuk melihat bayinya, dirinya tidak menyadari Kalista yang mulai melemah. Manik matanya sudah terlihat sayu dan akan tertutup.
"Ibu jangan tertidur, ibu harus tetap hidup." Salah satu dokter berusaha mencegah Kalista untuk tertidur.
Arka yang mendengar ucapan dari sang dokter itu pun langsung menghampiri Kalista. Menggenggam erat tangan, dan terus menerus mengajaknya berbicara. Arka juga menunjukan putra putrinya yang baru saja terlahir. Arka tidak ingin Kalista meninggalkan seusai melahirkan, Arka tidak akan sanggup mengurus kedua bocah kecilnya, jika tidak di dampingi Kalista. Arka rela jika Kalista meninggalkannya untuk selamanya.
Beberapa perawat memindahkan Kalista ke ruang rawat inap. Karena kondisi kesehatan Kalista yang menurun, dokter menyarankan agar Kalista di rawat beberapa hari.
Arka memesan ruangan VVIP, agar Kalista merasa nyaman. Ruangannya sangat luas, isinya komplit. Ranjangnya juga snagat nyaman.
Oma dan pak Anggara segera masuk ke dalam ruangan itu. Oma menatap bahagia terhadap dua bocah kembar itu, kemudian Oma menghampirinya Kalista dan mencium dahinya.
Kalista tersenyum, ternyata perjuangannya untuk melahirkan dua bocah kembar itu membuat Oma dan ayah mertuanya merasa bahagia. Bahkan mereka berdua sibuk memotret bayi kembar yang sedang tertidur itu dengan berbagi macam pose.
"Terimakasih sudah melahirkan anak-anakku. Aku janji, aku tidak akan meminta anak lagi. Maaf sudah membuatku menderita." Arka mengucapkan kalimat itu dengan lelehan air mata. Arka menyaksikan semuanya, persalinan itu sangat menyakitkan Kalista.
Seorang ibu rela bertaruh nyawa untuk melahirkan. Awalnya Arka tidak terlalu peduli dengan kata-kata itu, namun hari ini kata-kata itu emang terbukti kebenarannya. Erangan rasa sakit yang keluar dari mulut Kalista, rahim Kalista yang koyak, bahkan setelah melahirkan pun keadaan tubuh ramping itu tidak akan kembali lagi ke sedia kala. Kalista begitu ikhlas melahirkan bayinya itu. Menyaksikan persalinan ini cukup membuat Arka semakin jatuh cinta pada istrinya, semakin menyayanginya, dan semakin engga untuk meninggalkannya satu detik pun.
"Melahirkan itu sangat nik'mat, dan aku merasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Aku ikhlas melahirkan bayi kembar kita, bahkan aku merasa sangat bahagia ketika mendengar Isak tangis mereka. Maaf tadi aku hampir menyerah, terimakasih sudah selalu mensupport aku dalam segala hal. Aku tidak menyesal telah mengandung, aku juga tidak menyesal telah melahirkan secara normal, dua tahun kemudian aku akan hamil lagi, aku mau mempunyai anak lagi, biar rumah kita ramai." Kalista tersenyum ramah, sambil memandang Arka.
Malam itu menjadi malam yang sangat membahagiakan untuk keluarga Anggara. Rumah tangga Arka dan Kalista menjadi terasa sempurna dengan kehadiran dua bocah kembar itu.
Kalista tertidur, sedangkan Arka menjaganya di sampingnya. Sesekali Arka juga memantau dua bocah kembarnya yang sedang tertidur pulas di box bayi.
Arka mengeluarkan ponselnya, memotret kedua bocah kembarnya, dan memotret Kalista yang sedang tertidur pulas. Mengunggahnya di media sosial dengan caption "Telah lahir ke dunia, dua bocah kembar kembar kamu yang sangat cantik dan tampan. Untuk sitriku tercinta, kuucapkan terimakasih sayang❤❤❤"
Padahal Arka mengunggahnya tepat jam 03:00 dini hari. Namun ternyata netizen +62 itu masih banyak yang masih melek, atau mungkin sudah terbangun. Kolom komentar langsung saja di penuhi oleh berbagai macam pujian, dan do'a. Banyak sekali do'a -do'a baik yang mereka panjatkan untuk keluarga kecil Arka.
Tidur Kalista yang pulas itu harus terganggu oleh tangisan dua bocah itu. Arka dengan tidak tega mau tak mau harus membandingkan Kalista, dua bocah kembarnya menangis karena haus.
Kalista segera memberikan asi untuk kedua bocah kembarnya. Mereka menangis bersamaan, bahkan Arka sampai kewalahan untuk menenangkannya. Mungkin karena mereka kembar, jadi mereka melakukan apapun secara bersamaan.
Manik mata yang mengantuk itu segera menghilang begitu saja. Kedua bayinya menyusu secara bersamaan, bayi laki-laki di sevqkh kanan, dan bayi perempuan di sebelah kiri. Untung saja ASI Kalista sangat subur, sehingga kedua bayinya mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya.
Arka tersenyum menyaksikan itu, jika dulu dada Kalista selalu menjadi mainannya, kini sudah tidak bisa lagi kedua dada itu seduh di kuasai oleh si cantik dan si tampan.
"Jangan di foto!" Kalista melotot ketika Arka mengeluarkan ponselnya.
"Nggak sayang, tenang aja deh. Aku mau menyampaikan berita kelahiran bocah kembar kita lada sahabat-sahabat aku, aku juga akan meminta Andy untuk menghandle kantor. Selama kamu belum di perbolehkan pulang, aku akan selalu berada di sini, menemani kamu dan memantau perkembangan kedua bocah kembar." Arka tersenyum menghangat.
Sementara itu Oma dan pak Anggara sudah tertidur pulas di sebelah box bayi. Katanya sih mau menjaga sang cucu dan cicit, tapi keduanya malah tertidur.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1