
Di luar sedang gerimis, dan ini masih pukul 05:30 WIB. Risa masih terlelap dalam tidurnya, berbantalkan lengan Riko. After wedding Risa dan Riko tidur di rumah Risa, kemudian siangnya Riko memutuskan untuk membawa Risa ke apartment. Sebenarnya Risa tidak mau, tetapi Risa juga tidak bisa menolak, karena Riko adalah suaminya, dan istri harus patuh pada suami.
Ayah Risa juga kembali di rawat di RS, di temani oleh sang ibu. Alasan itu lah yang membuat Risa berat untuk meninggalkan rumah sederhananya, berat untuk meninggalkan Haikal dan Denis. Selama ini kan Risa yang mengurus mereka, mulai dari sarapan hingga biaya sekolah. Sekarang mereka di rumah hanya berdua, apa kabar dengan sarapannya? Siapa yang akan membuat sarapan? Haikal? Bisa sih, tapi Haikal itu kalau masak nggak pernah enak. Risa malah khawatir Haikal dan Denis sarapan mie instan.
Kemarin siang sebelum sampai di apartment, Risa meminta mampir sebentar di supermarket. Risa membeli pembalut, Risa sedang dalam masa menstruasi, dan lupa membawa pembalut ke apartment Riko. Tidak hanya pembalut, Risa juga membeli beberapa cemilan dan buah-buahan. Tidak beli sayuran, karena kata Riko sayuran di kulkas masih banyak.
Kedua orang tua Riko juga sudah kembali pulang, tidak bisa menemani Risa dan Riko. Mereka tidak bisa berlama-lama karena memang sedang ada pekerjaan yang mendesak. Tetapi mereka sempat memberikan beberapa petuah pada Risa dan Riko, katanya pengantin baru itu memerlukan beberapa bimbingan.
Hari kemarin ketika Risa dan Riko sampai di apartment, tidak ada masakan diatas meja makan. Ica sang art memang sedang Riko liburkan, Ica kan tugasnya beres-beres dan masak. Sedangkan apartment masih bersih, dan Riko tidak pulang ke apartment, jadi untuk apa Ica masak? Toh tidak akan ada yang makan.
Tok.. tok..
"Permisi pak." Ica membuka pintu dan masuk begitu saja membawa sapu. Ica akan membersihkan kamar Riko yang luas itu.
Riko langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Ica agar tidak berisik karena Risa masih memejamkan matanya dengan berbantalkan lengannya.
Dengan rasa yang sulit di jelaskan, tidak berbicara sepatah katapun, Ica langsung saja mengepel lantai.
Riko menatap Risa yang masih terpejam, wajah polos dan bersih tanpa sentuhan make up itu terlihat sangat cantik. Deru napasnya teratur, tidurnya sangat tenang dan nyaman.
Tiba-tiba Risa mengerjapkan matanya berkali-kali, ketika bola mata itu terbuka hal yang pertama di lihatnya adalah senyuman manis sang suami. Risa lupa bahwa statusnya sudah menjadi istri sah Riko, itulah mengapa ada Riko di sampingnya.
"Good morning istriku, kalau masih ngantuk tidur lagi aja sayang." Riko menyapa sambil mengusak pelan rambut Risa, lalu mencium dahinya.
Risa hanya tersenyum, kemudian melirik jam dinding yang menunjukan pukul 06:15 WIB, Risa langsung bangun dan meraba-raba kasur di sebelahnya.
"Nyari apa sayang?" Riko melihat Risa kebingungan sepeti senang mencari sesuatu.
"Ponsel aku mana kak?" Tanya Risa.
"Ponsel aku dimana ya? Apakah suamiku melihatnya?" Risa buru-buru berucap seperti itu, tadi dirinya memanggil Riko dengan sebutan 'Kak' padahal Riko sudah menjadi suaminya. Kemarin saja ketika di supermarket Riko marah gara-gara Risa memanggilnya dengan embel-embel 'Kak'.
"Aku simpan diatas nakas. Tadi malam kamu ketiduran dengan ponsel di dekat kepala. Lain kali nggak boleh gitu ya, sebelum tidur pastikan ponsel berada jauh darimu, bahaya radiasinya." Ujar Riko menjelaskan, Riko juga mengambilkan ponsel diatas nakas itu.
"Iya sayang, maaf ya aku ceroboh." Ucap Risa.
"Itu suara apaan? Di luar hujan deras ya?" Tanya Risa yang langsung menajamkan pendengarannya.
"Tadi gerimis, sekarang hujan deras." Jawa Riko.
Manik mata Risa terfokus menatap layar ponsel, mencari-cari kontak yang akan di hubunginya. Wajah Risa terlihat sangat gelisah dan khawatir. Setelah menemukan kontaknya, Risa langsung menempelkan ponselnya ke telinga.
"Hallo, kalian sudah sarapan? Kalian sarapan apa? Kalian bangunnya nggak kesiangan kan?" Begitu orang di sebrang sana menerima panggilan telepon itu, Risa langsung melayangkan beberapa pertanyaan secara beruntun.
"Udah kak, sarapan nasi goreng pake ceplok telur yang hampir gosong. Kita bangun tepat waktu kaka bawel." Ujar Haikal di sebrang telepon.
"Syukur deh, kakak tuh takut kalian sarapan mie instan. Awas aja loh kalau Denis kamu kasih sarapan mie instan, lihat aja nanti Kaka hukum kamu. Iya biarin aja hampir gosong, yang penting kamu ada usaha untuk buat sarapan. Jangan repotin ibu ya, ibu tuh sudah capek jagain ayah di RS." Raut wajah Kalista terlihat lega, tidak segelisah tadi.
"Iya kak, gini ya rasanya jadi Kaka yang harus bertanggung jawab terhadap adik. Kerasa banget loh di tinggalin Kaka, sekarang Haikal berasa punya tanggung jawab pada Denis. Tiba-tiba Haikal harus berperan sebagai kaka sekaligus ibu untuk Haikal. Sedih banget kak, ikal kangen banget sama Kaka." Suara disana terdengar lirih, mungkin Haikal sekarang sedang mengusap bulir bening kristal di pelupuk matanya.
Tidak hanya Haikal, Risa pun menjadi bersedih, bola matanya berkaca-kaca. Kalau dirinya tidak menikah, mungkin di pagi hari seperti ini tuh sedang mengurus kedua adiknya.
"Baru sehari udah kangen aja nih, kalau kangen kalian main aja ke apartment Kakak. Kalau Kakak nggak sibuk nanti Ka Riko sama ka Risa yang nyamperin kalian. Jangan sedih dong, kita kan cuma terpisah jarak yang tidak terlalu jauh. Kaka janji loh Kakak akan selalu membahagiakan Kakak kalian, Kakak juga mau melihat kalian sekeluarga bahagia." Riko mengambil alih ponsel Risa karena melihat Risa yang sudah mulai menumpahkan cairan yang menggenang di bola matanya.
"Iya kaka ipar. Nanti Haikal sama Denis mau main ke sana. Nitip Kaka aku yang bawel ya kak, kalau ka Risa nyebelin tarik aja kupingnya." Haikal terkekeh di sebrang telepon.
"Enak aja! Kaka tuh nggak pernah nakal. Kamu tuh jangan nakal di sekolah, jangan mainin cewe." Risa berkata sewot sembari merampas ponselnya yang berada di tangan Riko.
"Ih bawel lagi kan. Semoga kak Riko betah dengan kebawelan Kaka."
"Biarin! Oh iya disana gerimis atau hujan deras?" Tanya Risa.
"Gerimis kecil doang."
"Bagus deh, tapi tetap pake jas hujan ya. Kalian jangan sampai sakit, jangan sampai kenapa-napa pokonya. Belajar yang rajin, harus jadi anak yang membanggakan kedua orang tua. Hati-hati di jalan, jangan ngebut, jangan lupa kunci pintu." Risa menasehati Haikal.
"Iya kaka sayang, i love you." Haikal langsung saja memutus sambungan telepon, karena mengingat waktu yang terus berjalan, dan takut kesiangan.
"Udah tenang sekarang? Mereka baik-baik saja kan? Aku tahu kok Haikal dan Denis itu anak baik. Jangan terlalu khawatirkan mereka, aku juga butuh perhatianmu loh sayang." Riko kembali mengusak puncak kepala Risa.
"Udah, hehe makasih loh kamu sudah ngertiin aku. Jujur aja sih tadi aku tuh panik banget karena keingat Haikal dan Denis, takut mereka nggak sarapan, takut meraka telat bangun, dan urusan yang lain-lainnya. Tapi aku tetap ingat peran aku sebagai seorang istri kok." Risa memeluk Riko, menyandarkan kepalanya pada dada Riko.
"Maaf ya, kalau pikiran aku masih terbagi-bagi pada mereka."
"Udah nggak apa-apa kok, wajar dong kalau kamu masih mikirin mereka. Nggak apa-apa sayang, aku akan selalu ngertiin kamu." Riko malah semakin erat mendekap Risa.
Art yang bernama Ica itu ternyata tidak kunjung selesai mengepal lantai. Kerjanya seperti malas-malasan, malahan Ica menguping segala pembicaraan Risa dengan adiknya, dan pembicaraan Risa dengan Riko juga.
"Ada art yang lagi mengepel?" Risa mengendurkan pelukannya.
"Dari tadi." Jawab Riko.
"Oh gitu. Besok-besok kamar ini nggak usah di pel ya, biar aku yang bersihkan sekaligus bereskan." Ucap Risa.
"Kamar ini luas loh sayang, nanti kamu capek."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, segini doang mah aku masih mampu beresin. Daripada art bebas masuk kamar kita, kita nggak leluasa loh sayang. Sekarang kan kamu sudah menikah, sudah mempunyai aku sebagai istri kamu. Lain kali pintu kamar harus di kunci loh sayang." Risa berbicara sambil menatap manik mata Riko.
Riko tersenyum menyeringai. "Emang kita mau ngapain sayang? Mau olahraga di kasur biar bisa punya dede bayi?" Tanya Riko sambil menaik turunkan alisnya, menjawil pelan hidung Risa.
Tidak ada jawaban dari Risa, tapi kini Riko sedang menjahili Risa. Tubuh Risa sedang berada dalam kungkungan tubuh Riko. Keduanya saling tatap menatap dengan deru napas yang tidak beraturan. Detik berikutnya keduanya malah asyik bercumbu.
"Kok udahan?" Tanya Risa dengan polosnya, pertanyaannya malah semakin memancing gairah di diri Riko.
"Iya udahan aja ah, toh kamu kaya gini juga cuma buat manasin Ica doang kan? Bukan demi aku kan?" Tanya Riko, Riko bersandar di kepala kasur.
"Benar sih!" Jawab Risa santai.
"Dasar istriku nyebelin!" Riko bangkit dari kasur.
"Nyebelin gini-gini juga aku tuh di butuhin kamu loh sayang." Risa menarik pergelangan tangan Riko, sehingga Riko langsung terjatuh ke kasur.
"Suamiku baperan! Untung saja aku sayang." Tanpa perintah tanpa komando tanpa aba-aba Risa mengecup dahi Riko dengan kecupan mesra. Berpindah ke pipi dan menatap Riko dengan mata sayu.
Risa mengusap dan meraba setiap inci dari wajah suaminya itu, alisnya yang sangat di sukai Risa, hingga Risa juga mengacak-acak rambut Riko.
"I ove you." Sebuah kalimat yang sederhana tetapi mempunyai arti dan makna yang sangat dalam dan berarti, terucap dengan ikhlas dari mulut mungil Risa.
Lambat laun Risa mulai jatuh cinta pada Riko, mulai menyayangi Riko dengan sepenuh hati. Risa mulai bisa menerima keadaan dan kenyataan, Risa berjanji pada dirinya sendiri akan patuh dan berbakti kepada Riko selaku suaminya.
Pagi yang di sertai hujan deras itu pun tak kunjung reda, Riko dan Risa malah malas-malasan, tidak bangun dari tempat tidur, bahkan punggung dan kasur sepertinya memang sudah melekat dengan lem yang sangat kuat.
Mereka membicarakan tentang masa depan, kapan akan punya anak, mau punya akan berapa? Riko juga memberikan banyak pilihan pada Risa, mau tinggal di apartment atau mau beli rumah? Atau Risa mempunyai impian ingin tinggal di daerah mana? Ingin rumah yang seperti apa? Jika Risa mengatakan ingin punya rumah di sebelah rumah ibu dan ayahnya juga Riko tidak masalah.
Waktu terus berjalan, Riko memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Risa menyiapkan pakaian untuk Riko dan menyetrika dengan buru-buru. Hari ini Riko harus pergi ke coffee shop, karena memang ada beberapa hal yang memang harus di kontrol.
Sebelumnya Riko tidak bilang akan pergi ke coffee shop, sehingga Risa merasa kewalahan menyetrika pakaian Riko. Tidak lucu dong kalau Riko pergi ke coffee shop dengan pakaian kusut, apa nanti kata karyawannya? Nanti mereka malah mengira Risa tidak becus mengurus suami.
Riko juga meminta bantuan Risa untuk memakai dasi, hal seperti ini nih yang sangat Riko sukai, hal sepele tapi di lakukan oleh seorang istri, kerasa banget kalau udah nikah tuh apa-apa serba berdua.
"Yuk, sarapan dulu sayang." Ajak Riko yang langsung menggaet tangan Risa.
Di meja makan itu sudah ada makanan menu sarapan, ada roti bakar dan ada nasi goreng juga. Dua gelas susu juga sudah tersedia di meja makan itu.
"Mau sarapan apa? Roti atau nasi goreng?" Tanya Riko.
"Suami aku mau sarapan apa? Roti atau nasi goreng? Biar aku ambilkan." Risa malah berbalik tanya, Risa baru ngeh bahwa sebenarnya ini adalah tugansya.
Keduanya pun memutuskan untuk sarapan nasi goreng, mereka makan dengan lahap. Segelas susu juga sudah mereka teguk hingga tandas.
"Aku berangkat kerja dulu ya sayang. Kamu jangan lupa mandi." Arka memeluk Risa.
"Sayang, aku ke coffee shop cuma dua jam aja. Masih banyak waktu untuk kita berduaan, nanti malam kita bahas mengenai honeymoon ya." Riko mengusak gemas puncak rambut Risa sehingga beberapa helai rambutnya menjadi berantakan.
"Yaudah iya! Nanti kamu disana jangan genit, jangan macam-macam, jangan centil. Ingat loh sekarang kamu sudah punya istri."
"Iya nggak! Palingan merekanya aja yang godain aku, kalau kaya gini mah aku bisa apa coba sayang? Aku sih pasrah aja." Ujar Riko pura-pura tidak berdaya.
Risa membulatkan kedua bola matanya. "Enak aja! Nggak bisa gitu dong, kamu harus nolak. Aku do'akan wanita-wanita yang genit sama kamu itu agar mati tertabrak mobil." Risa mendo'akan yang jelek-jelek untuk wanita yang berniat menggoda suaminya.
"Ih amit-amit. Tenang aja sayang, aku nggak bakalan selingkuh kok. Mana bisa sih aku duakan kamu? Kamu aja sudah cantik plus pintar kaya gini, aku mau cari yang seperti apa lagi? Kamu tenang aja sayang, aku bisa jaga hati dan mata aku."
"Aku berangkat kerja dulu sayang. Nanti kamu mandi ya, terus nanti kita kabar-kabaran via telepon."
Tepat setelah Riko mengucapkan Kalimatnya, Risa langsung menyambar mulut Riko. Memberikan kecupan mesra di bibir itu, kecupan yang hanya dilakukan dalam sekejap.
"Semangat bekerja sayang." Risa melepaskan kecupan mesra itu, dan sedikit mendorong dada Riko agar berjarak darinya.
"Nggak bisa kerja dong kalau kaya gini? Aku mau di rumah aja bareng kamu, sayang ayolah." Riko mengedipkan sebelah matanya genit.
"Apaan sih! Udah ah sana berangkat." Celetuk Risa.
Riko malah memeluk Risa dengan erat, mengecup pipinya berkali-kali. Dan mencium lehernya dengan gerakan erotis, tidak lupa Riko juga membenamkan wajahnya diantara gundukan daging sintal itu. Menciumnya dan menjilatinya secara perlahan. Tanpa sadar Riko juga sudah membuka dua kancing piyama Risa, dan ada Ica juga yang melihat adegan seperti itu.
"Aku berangkat kerja dulu sayang. Terimakasih loh sarapannya enak." Kembali mengedipkan sebelah matanya dengan genit, lalu Riko pun berangkat setelah mengecup dahi Risa sekali lagi.
Risa segera tersadar, dan langsung mengancingkan kembali kancing kemejanya yang terbuka. Risa agak sedikit kaget dengan perlakuan Riko barusan.
"Pamer kemesraan." Celetuk Ica dengan mata mendelik sebal.
"Biarin aja! Namanya pengantin baru kan masih hangat-hangatnya. Makanya nikah dong biar tahu rasanya menjadi seorang istri." Risa menjulurkan lidahnya seraya meledek sang asisten rumah tangga.
Dalam lubuk hati Risa yang sesungguhnya, dirinya merasa sangat gedek pada Ica. Apa-apaan seorang asisten rumah tangga berbicara sangat lancang pada dirinya yang notabenenya adalah majikannya.
Risa juga memang merasa bahwa adegan tersebut tidak pantas di saksikan oleh siapapun kecuali dirinya bersama Riko. Tapi yang barusan terjadi bukanlah keinginan Risa, itu semua tindakan spontan dari Riko.
Kembali lagi ke kamar dan langsung merebahkan tubuhnya. Masa-masa menstruasi memang sering kali membuat Risa malas-malasan. Malas beres-beres dan malas mandi juga. Menarik selimut sampai leher dan berusaha memejamkan matanya, di luar juga masih hujan sehingga udara menjadi sangat dingin.
*****
Ting tong
__ADS_1
Suara bell berbunyi, Ica langsung membuka pintu. Di depan pintu sana nampak lah dua bocah laki-laki, yang satu berseragam SMA dan bocah satunya lagi berseragam SD.
"Nyari siapa? Kalian pasti salah alamatnya." Ketus Ica dengan wajah judesnya.
"Ini apartment nya kak Riko kan?" Tanya Haikal sambil melihat-lihat keadaan di dalam apartment itu.
"Iya, kalian siapa?" Ica masih berbicara ketus.
"Saya adik iparnya! Kamu sendiri siapa? Asisten rumah tangga ya? Harus ramah dong kalau nyambut tamu." Celetuk Haikal yang langsung saja menggandeng erat jemari Denis agar segera masuk ke dalam apartment itu.
Manik mata Haikal dan Denis membulat sempurna, sebuah apartment yang luas dan sangat mewah. Perabotan di dalam apartment itu juga semuanya terlihat mengkilap, semuanya pasti barang mahal.
"Kaka tinggal di sana ya? Enak banget sih." Teriak Denis dengan girang ketika melihat televisi yang ukurannya sangat besar.
"Kakak Risa." Teriak Haikal yang kini sedang melihat-lihat lukisan aestetik di dekat rumah tamu.
Mereka berdua sangat takjub melihat apartment ini, di manik matanya itu terdapat binar-binar kebahagiaan.
"Kalian datang ke sini? Kok tahu alamat apartment ini? Kok jam segini sudah pulang sekolah?" Risa tiba-tiba muncul di belakang mereka dan melayangkan pertanyaan beruntun.
"Ah Kaka kebiasaan deh kalau nanya langsung beruntun, nggak bisa gitu ya nanyanya satu-satu duh." Haikal mendengus kesal.
"Ica, mereka berdua itu adik saya. Adik iparnya mas Riko, jadi nggak usah di ikuti terus dong. Mereka berdua ini bukan maling." Geram Risa, Risa bisa melihat dengan jelas gerak-gerik Ica yang menyebalkan itu.
"Ngobrol di kamar Kaka aja yuk, kalau di sini nanti ada yang nguping." Risa langsung mengajak Haikal dan Denis ke kamarnya.
Begitu pintu terbuka, manik mata Haikal dan Denis kembali membulat. Menatap takjub pada kamar yang di tempati Risa ini, begitu luas dan isinya sangat lengkap. Denis melihat kamar Risa dengan mulut menganga, selama ini Denis selalu tinggal di rumah sederhana, melihat apartment Riko malah seperti melihat sebuah istana.
"Kakak enak ya tinggal di sini? Kaka jadi orang kaya ya?" Tanya Denis dengan polosnya.
"Lebih enak tinggal di rumah bareng Denis, Haikal, ibu dan ayah." Jawab Risa.
"Kaka bohong, di sini jauh lebih enak." Teriak Denis dengan nada gemas.
"Sini deh kalian berdua duduk dulu." Ajak Risa, keduanya pun menurut dan segera duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Hidup Kaka berubah drastis ya, Kaka langsung jadi nyonya besar." Celetuk Haikal.
"Nggak! Kaka masih tetap kakak Risa milik kalian berdua. Masih kakak Risa yang akan selalu menyayangi kalian berdua. Kalian berdua suka dengan apartment ini? Silahkan main ke sini sepuas kalian. Mau nginep juga boleh sayang." Memeluk Haikal dan Denis dnagan erat, baru satu hari berpisah tetapi Risa sudah merasakan kangen.
"Pertanyaan beruntun yang Kaka tanyakan belum di jawab loh kal."
"Oh itu, Haikal tadi nanya ke kak Riko alamat apartment ini, sebenarnya Haikal udah chat kakak loh, tapi nggak di balas. Hari ini sekolah pulang cepat, karena gurunya ada rapat. Mau pulang ke rumah juga ngapain, cuma berdua doang sama Denis. Mendingan kalau Denis nggak rewel, biasanya dia selalu minta diantarkan ke RS." Jawab Haikal dengan jujur.
"Oh begitu."
"Kalian udah makan? Atau ngemil? Noh sana ambil di kulkas." Risa menunjuk kulkas dengan ukuran besar yang terdapat di kamarnya ini.
Sontak saja Denis langsung berlari, berusha membuka kulkas tetapi tangannya tidak sampai karena ukuran kulkasnya sangat besar, Haikal membuka kulkas tersebut. Dan.. benar saja Haikal mengambil beberapa minuman bersoda, sedangkan Denis mengambil banyak cemilan dan buah.
Benar kata Risa, jika Denis dan Haikal diajak ke apartment ini sudah bisa di pastikan mereka akan betah, mereka menganggap ini adalah surga dunia. Maklum mereka kan dari keluarga dengan ekonomi menengah kebawah, untuk jajan aja kadang pas-pasan, jarang-jarang bisa beli cemilan yang banyak.
Manik mata Risa berkaca-kaca, setidaknya pernikahannya dengan Riko bisa membawa kebahagian untuk kedua orang tua dan adik-adiknya. Biaya perawatan ayahnya terjamin, dan kedua adiknya bisa bersekolah dengan tenang karena biayanya juga di tanggung Riko.
"Oh ada Haikal dan Denis." Riko baru saja sampai di apartment dan langsung membuka pintu kamar.
Haikal sedang asyik main game, sedangkan Denis sibuk ngemil.
"Hallo Kaka ipar, numpang main ya." Sapa Haikal, tetapi manik matanya tetap terfokus pada game. Riko langsung saja mengacungkan ibu jarinya.
"Katanya cuma dua jam, ini udah berapa jam? Nggak bisa menghitung ya?" Celetuk Risa dengan wajah jengahnya.
"Ini serius Kak Risa kakakku? Kok aneh banget ya, Kakak ipar cuma pergi ke coffee shop dong loh, yang berurusan dengan pekerjaannya. Kakak kangen atau cemburu nih?" Haikal malah menggoda Risa.
Ya, ucapan Haikal barusan cukup membuat wajah Risa memerah seperti kepiting rebus. Risa yang biasanya cuek sama Riko, kok bisa jadi bawel plus cemburuan kaya gini?
"Udah kal jangan di ledek lagi, nanti mukanya nggak cuma merah aja, malahan bertambah dengan warna pelangi." Riko tersenyum meledek Risa.
"Maaf ya sayang, niatnya ke coffee shop cuma sebentar, tapi ternyata kerjaanku sudah numpuk di sana." Riko mencoba menjelaskan sembari meminta maaf kepada istrinya.
"Denis suka anak kecil nggak?" Tanya Riko tiba-tiba.
"Suka, tapi anak kecil cowo ya, kalau cewe Denis nggak suka. Soalnya nggak bisa diajak main bola." Ujar sang bocah dengan polosnya.
"Oke, kalau gitu nanti malam kakak sama kak Risa mau bikin adik cowo ya buat Denis." Riko berkata nyeleneh, senyum seringai sudah ia layangkan pada Risa.
"Wah asyik! Nanti Denis lihat ya cara bikinnya kaya gimana?" Celetuknya si bocah yang tidak mengerti arah pembicaraan yang sebenarnya.
"Nggak boleh! Kalau Denis lihat nanti kak Risanya malu, jadi nggak bisa fokus bikin Dede kecil. Bikin dede bayi kan khusus untuk Kakak sama kak Risa." Dengan tawa yang hampir meledak Riko berkata seperti itu.
"Ngeri ngeri ngeri! Dasar pengantin baru!" Dengus Haikal yang masih fokus bermain game.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤