
Waktu semakin larut, namun Tiara masih belum berhasil memejamkan matanya. Berbaring di atas ranjang seraya melihat atap kamar. Tubuhnya sejak tadi hanya berguling-guling saja, tengkurap, telentang, duduk memeluk guling.
Resah dan gelisah itulah yang sedang Tiara rasakan. Pikirannya melayang mengingat kejadian di dalam kafe tadi. Entah itu kafe apa namanya, Tiara tidak mengetahuinya.
Entah sengaja atau tidak kenapa kafe itu bisa mati lampu selama 15 menit. Kurun waktu 15 menit itu lah yang kini membuatnya tidak bisa tidur, 15 menit yang cukup membuat jantungnya berdebar lebih cepat dan mengalahkan akal sehatnya.
Awalnya semua terlihat normal layaknya kafe pada umumnya, hanya saja memang kafe ini mempunyai nuansa yang sangat romantis. Suasana kafe sangat ramai, kursi dan mejanya lumayan terpisah jauh dari meja-meja yang lain. Satu meja hanya di sediakan dua kursi, Tiara pun sempat bingung, bagaimana jika dirinya datang bersama Kalista dan Arka? Masa iya harus pisah meja.
Tiara semakin di buat bingung, semua pengunjung kafe ini semuanya para muda-mudi, sama sekali tidak ada orang tua. Kafe ini di desain dengan membangkitkan energi cinta, bangkunya saja berbentuk love. Lampu gantung berwarna putih, dan lampu kerlap-kerlip sangat indah. Musik klasik bergantian dengan romantis terdengar di sana.
Mata Tiara menatap kesana kemari, semua meja belum ada makanan? Apakah semua orang belum memesan makanan?
Seorang waiters menghampiri, memberikan buku menu lalu menuliskan pesanan. Waiters itu masih muda, mungkin usianya sekitar 20tahunan. Langkah kakinya semakin menjauh menuju dapur kafe.
Tiba-tiba lampu mati, lampu gantung yang indah itu tidak ada yang menyala, hanya satu yang masih tetap menyala yaitu lampu kerlap-kerlip, namun tetap saja cahaya dari lampu kerlap-kerlip itu tidak mampu menerangi kafe ini. Anehnya semua pengunjung tidak ada yang protes.
Alunan musik telah berganti menjadi alunan musik dan lagu yang sangat romantis di temani cahaya remang-remang dari lampu kerlap-kerlip. Tiara berusaha melihat pengunjung lain di mejanya masing-masing, namun karena gelap penglihatan Tiara menjadi terbatas.
Tiba-tiba ada satu tangan yang menyentuh pundaknya, Tiara memekik kaget dan akan berteriak. Tapi satu bisikin itu mampu menenangkannya.
4 menit berikutnya terjadilah cumbuan itu. Cumbuan yang sangat memabukkan, bahkan Tiara lupa sedang berada di mana dirinya sekarang. Lidah mereka saling berpagutan, dan berlomba-lomba mencari celah napas. Tangan Evan menangkup wajah Tiara, sehingga cumbuan itu terasa sangat intens.
Jujur saja Tiara juga sangat menikmati cumbuan ini, bahkan dirinya sampai memejamkan matanya. Tangannya sesekali meremas rambut Evan. Evan sangat lihai mencumbu, tidak terlalu agresif dan terasa sangat lembut. Ada sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuh Tiara.
Lampu kembali menyala, semuanya pengunjung pun tampak normal kembali. Berbeda dengan Tiara yang masih belum menyadari bahwa lampu telah menyala, bibir mereka masih menyatu, Tiara bahkan masih memejamkan matanya. Evan telah sadar sepenuhnya, matanya sudah kembali terbuka, ditatapnya gadis yang tidak ada di hadapannya ini, yang tidak berjarak ini karena bibirnya masih menyatu. Tidak ada kata lain selain "Cantik" itu lah yang akan Evan terus katakan.
Begitu membuka mata Tiara kaget setengah mati, di dorongnya wajah Evan agar menjauh darinya. Mukanya merah seperti tomat, matanya langsung celingak-celinguk menatap kiri kanan, semua pengunjung biasa saja, tidak ada yang memperhatikannya.
Menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, matanya terpejam, Tiara juga mengusap dadanya. Ada rasa tenang di sana, karena Tiara takut kalau orang melihat adegannya yang dilakukan dengan Evan tadi.
Gerak-gerik Tiara tidak luput dari perhatian Evan. Evan menatapnya intens, "Lucu sekali gadis ini" Evan bergumam dalam hatinya, tersenyum simpul masih tetap memperhatikannya.
Tiara membuang wajahnya ke arah samping, tidak ada kata selain malu canggung gugup yang biasa menggambarkan keadaan dirinya saat ini. "Gue mau ke toilet." Tiara bangun dari duduknya.
"Nggak boleh!" Evan mencekal pergelangan tangan Tiara. Tiara membelalakan matanya, bingung dengan kata "nggak boleh" dari Evan.
"Kenapa?" Sengitnya dengan sorot mata tajam.
"Bentar lagi pesanan kita datang, langsung makan biar cepat pulang. Kasian Arka sama Kalista nungguin pesanannya." Kata Evan.
"Hmmmmm." Hanya itu lah yang keluar dari mulut Tiara, kemduain Tiara menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel.
Pesanan mereka telah tersedia di meja. Keduanya menikmati makan malam ini. Tiara yang masih merasa canggung, kepalanya terus saja menunduk, sesekali penglihatannya di arahkan ke kiri atau ke kanan. Evan menyadari hal itu, memang salahnya juga sih main sosor-sosor aja.
"Makan yang benar Tiara! Kalau cuma di aduk-aduk doang kapan abisnya?" Ujar Evan, dari tadi Evan lihat Tiara hanya mengaduk-aduk saja, tanpa memakannya.
"Mubajir kalau nggak di makan, masih banyak orang kelaparan di luaran sana, mereka pengen makan saja harus kerja keras dulu. Kita alhamdulilah di kasih lebih, hidup harus di syukuri." Sambungnya lagi sambil menikmati ayam betutu khas Bali.
__ADS_1
Tiara pun makan walaupun pikirannya sedang kacau balau. Makanan yang seharusnya enak itu pun jadi terasa hambar, dan durasi makannya menjadi sangat lama.
Evan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Tiara, dan kemungkinannya Tiara akan marah. Setelah selesai makan, Evan memesan makanan untuk Kalista dan Arka. Lalu pergi ke kasir untuk membayar.
Lalu?
Diantara mereka pun tidak tercipta sebuah percakapan, saling diam seperti orang tidak kenal. Moment awkrad ini memang lumayan cukup menyiksa.
Tiara masuk ke mobil tapi duduknya di belakang. Sudah seperti penumpang taksi online saja. Matanya sibuk menatap layar ponsel, sebenarnya cuma tarik ulur beranda saja, atau scroll scroll doangan yang penting tidak bercakap-cakap dengan Evan, karena sekarang Tiara merasa sangat canggung.
"Arrrrrrrrrrrrrgggggggghhhhhhh harus gimana nanti gue ketemu kak Evan?" Tiara mengusak rambutnya frustasi.
"Apa gue harus nyapa duluan? Ah nggak-nggak! Beg* banget sih gue kenapa ngersepon ciumannya?" Tiara memukul-mukul pelan kepalanya.
"Kalau gue terus-terusan diam nanti Kalista dan pak Arka curiga, kalau mereka tanya-tanya gue harus gimana! Kalau mereka nanya ke kak Evan, udah pasti kak Evan bakalan jawab jujur dan ceritain semuanya." Tiara semakin pusing memikirkan dirinya sendiri, kini wajahnya telah terbenam diatas bantal.
"Come on Tiara! Lu udah besar, sudah 24tahun! Harusnya lu udah dewasa! Harus bisa bersikap dan mengambil tindakan sendiri!" Setelah membenamkan wajahnya diatas bantal, lalu bangun dan berdiri di hadapan cermin. Berbicara sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.
Tiara menyilangkan tangannya di depan dada, berbicara dengan nada sombong sambil terus memperhatikan dirinya melalui pantulan cermin. "Gue bakalan lawan rasa canggung itu! Gue bisa lewati hari esok dengan senormal mungkin. Gue pasti bisa!"
Kembali lagi ke ranjang, merebahkan dirinya. Lalu dirinya kembali insecure untuk bertemu kak Evan, rasa percaya diri yang barusan telah di bangun itu runtuh kembali. Pikirannya kembali kacau, berkata "Tidak Tidak Tidak" sambil menutup kedua telinganya. Lama kelamaan matanya terasa lelah, lalu tertidur.
EVAN (POV)
Sebenarnya gue nggak bermaksud menggangu acara babymoon & honeymoon nya sahabat gue. Tapi gue melihat peluang di sini, gue bisa lebih dekat dengan Tiara kalau gue ikut. Dan Tiara pasti bakalan ikut jika yang mengajaknya adalah Kalista. And well, memang benar itu semua terjadi. Bangga banget gue sama diri sendiri.
Oke skip! Kalau nyeritain dulu sahabat gue itu nggak bakalan ada kelarnya, apalagi kalau bahas mengenai hubungan rumah tangganya. Huuuuh nggak bakalan kelar sampai tahun depan, banyak banget masa-masa romantisnya gue nggak bakalan kuat dan selalu merasa iri!
Nah selama di Bali ini gue sama Tiara memang lumayan cukup dekat. Karena kan Kalista terus-terusan bersama Arka, wajar ya kan pasutri. Tiara ini seakan-akan nggak punya teman ngobrol jadilah gue temenin. Modus banget sih, tapi ini memang tujuan gue.
Tiara sempat ngilang, dan gue panik. Padahal dia cuma jalan-jalan doang sekitaran villa, melihat suasana penduduk di sini.
Skip lagi ya! Karena sebenarnya yang mau gue ceritain ini adalah kejadian tadi malam di kafe. Jadi tadi siang gue lagi main Instagram dan nggak sengaja Nemu kafe, kafenya sih biasa aja nggak adalah sesuatu hal yang menonjol. Namun uniknya kafe ini tuh di sebut kafe cinta.
Awalnya gue bingung dan penasaran, terus gue kepoin dong! Ternyata ini emang kafe yang di sediakan untuk ngedate, kencan atau apa ya di sebutnya? Intinya sih kafe ini untuk nongkrong bersama kekasih. Dan uniknya lagi di kafe ini tuh akan ada mati lampu selama 15 menit. Hah mati lampu 15 menit? Apa sih ko nggak jelas ya. Ternyata pas udah gue baca, kafe ini sengaja mematikan lampu selama 15 menit. Nah selama 15 menit ini tuh bebas dah lu mau ngapain aja sama pasangan? Mau peluk-pelukan, atau pun bercumbu mesra. Tapi kebanyakan orang sih menggunakan waktu ini untuk bercumbu dengan pasangannya.
Menurut gue kafe ini menarik! Terus gue coba ajak Tiara buat makan di kafe ini, dan dia mengiyakan. Duh benar-benar bahagia dong gue, deg-degan juga sih.
Yang namanya mau kencan atau ngedate, semua orang maunya cakep ya kan? Gue pilih pakaian santai tapi kekinian. Rambut pake pomade, pake parfum sebotol biar wangi, pakai sepatu all star.
Ternyata bukan hanya gue yang ingin tampil cakep, Tiara juga malam ini tampil cantik banget. Dress merah dengan tali bahu kecil, pemandangan yang sangat indah! Bahunya terlihat sangat mulus, rambut diikat berantakan dan memoles make up natural di wajahnya. Tuhan memang pandai menciptakan wanita ini dengan paras cantik.
Pangling banget gue lihat Tiara, selama ini dia jarang sekali mengexpose bahu mulusnya itu. Gue bahkan enggan untuk berkedip, sangking menikmati pemandangan indah ini.
Sebagai orang yang pengertian, gue coba tanyain ke sahabat gue mau pesan makan apa nggak? Diluar dugaan, ternyata gue cukup mengganggu aktifitas yang sedang di lakukannya dengan istrinya. Entah itu aktifitas apa? Yang pasti gue bisa pastikan bahwa raut wajah Arka sangat seram.
Berangkat lah ke kafe itu, ternyata memang benar kafe itu sangat unik. Suasana nyaman dan pemandangan indahnya cukup enak untuk di pandang. Lampu-lampu bergelantungan, dan lampu kerlap-kerlip menyala dengan indahnya. Gue perhatiin di kafe ini memang isinya anak muda semua, mata gue celingak-celinguk nggak nemu orang berumur disini, bahkan para waiters nya pun masih pada muda.
__ADS_1
Seorang waiters menghampiri, memberikan buku menu lalu menuliskan apa yang gue pesan. Waiters itu langsung pergi ke dapur kafe.
Tidak lama setelah itu, lampu di matikan. Musik romantis mengalun dengan sempurna. Sumpah sumpah sumpah disini gue bingung banget mau ngapain. Lampu gantung udah pada mati semua, yang nyala hanya lampu kerlap-kerlip, itu pun cahaya nya remang-remang. Mata gue celingak-celinguk lagi memperhatikan semua pengunjung kafe ini. Semuanya sudah sibuk dengan aktifitas kencannya, hampir semua pengunjung ini sedang berciuman dengan pasangan nya masing-masing. Gila nya bahkan ada yang berani pegang-pegang dadanya.
Wanita yang ada di hadapan gue ini, yang lagi jadi teman kencan gue. Kayanya kebingungan, matanya sibuk menatap sana-sini, ketika mulutnya akan berkomentar. Gue lebih dulu sentuh bahunya, alus banget kulitnya kaya kulit bayi. Gue bisikan sebuah kalimat untuk menenangkannya.
Entah setan apa yang merasuki gue sehingga gue punya keberanian untuk mencumbu gadis cantik ini. Awalnya dia diam saja, mungkin shock dengan perlakuan gue yang tiba-tiba ini.
Gue?
Jadi makin bingung, kalau Tiara menolak gue, bisa di pastikan saat ini juga gue hancur! Tapi lama-kelamaan dia merespon cumbuan gue, senangnya tiada terkira berasa ada ribuan bunga yang bermekaran di hati ini. Cumbuan ini terasa sangat nikmat dan memabukkan. Lidah kami saling berpagutan, dan saling berlomba-lomba mencari celah untuk menghirup udara.
Tangan gue gatel banget, ingin pegang bahunya tapi iman gue nggak bakalan kuat. Gue yakin pasti tangan gue bakalan menjalar juga ke dadanya. Gue pilih tangan gue untuk menangkup wajah Tiara, biar kepalanya nggak gerak-gerak dan gue makin dalam lagi menjejalkan lidah ini. Cumbuan ini terasa sangat hot dan lumayan menguras napas.
Gue yakin tiara juga pasti sangat menikmati cumbuan ini, matanya terpejam dan sesekali tangannya meremas rambut gue. Sebenarnya gue sangat buas dalam mencumbu, namun untuk wanita ini gue memberikan cumbuan yang lembut dan tidak terlalu agresif karena gue takut Tiara tidak suka.
Tidak terasa 15 menit ternyata sudah berlalu, lampu kembali menyala. Semua orang menghentikan aktifitas bercumbunya, dan kembali lagi membenarkan posisi duduknya. Namun Tiara masih belum menyadari kalau lampu sudah menyala kembali, matanya masih terpejam dan bibirnya masih menyatu dengan bibir gue. Diam-diam gue berharap ada seseorang yang mengambil foto dengan pose gue dan Tiara yang sedang seperti ini. Wanita ini memang benar-benar cantik.
Matanya terbuka dengan perlahan, gue tahu Tiara kaget setengah mati. Dia mendorong wajah gue dengan kasar agar menjauh dari wajahnya. Mukanya telah berubah menjadi merah seperti tomat, matanya menatap sana-sini, mungkin dia takut kalau pengunjung lain memperhatikannya.
Deruan napasnya terdengar seperti bariton, sangat cepat dan ngos-ngosan. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangannya mengusap dadanya, seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.
Setelah itu gerak-geriknya lumayan aneh dan terlihat lucu, gue tahu kayanya di salting. Sesekali pandangan matanya diarahkan ke samping, mukanya masih merah seperti tadi.
"Gue mau ke toilet." Ucapnya, seraya bangun dari duduknya.
"Nggak boleh!"
Gue langsung mencekal pergelangan tangannya, Tiara membelalakan matanya dengan raut wajah tidak bersahabat.
"Kenapa?" Nada bicaranya sudah berubah menjadi sangat sengit, sorotan matanya sangat tajam.
Gue bilang lah bentar lagi pesanan datang, dan kita harus cepat pulang agar Arka dan Kalista tidak menunggu lama, lagian takut mereka kelaparan. Beralibi dengan menggunakan nama Kalista ternyata cukup ampuh untuk meredam hati wanita ini. Setelah itu dia malah sibuk dengan ponselnya, seakan-akan tidak ada gue di hadapannya, atau mungkin dia malas bercakap-cakap dengan gue.
Makanan telah tersedia di meja, Tiara malah menundukkan kepalanya. Bahkan makannya pun hanya diaduk-aduk saja. Setelah gue berbicara panjang lebar, akhirnya Tiara makan, tapi dengan durasi yang lumayan lama.
Gue tahu apa yang di pikirkan oleh Tiara, dia merasa sangat canggung karena serangan dari gue, mungkin Tiara akan marah juga sama gue.
Setelah selesai makan, sama pesanan makanan yang di bungkus untuk Arka dan Kalista. Kita kembali ke mobil untuk pulang menuju villa. Tidak ada percakapan di antara kita, kita berdua sama-sama diam seperti tidak saling kenal atau mungkin seperti orang bisu.
Lebih parahnya Tiara duduk di kursi belakang, ya ampun gue berasa jadi supir taksi online. Selama perjalan matanya malah sibuk menatap layar ponsel.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤