
(Lu harus nurut terhadap semua perintah gue.)
Risa mendongakkan kepalanya menatap Riko, Risa tidak perlu berbicara karena sebentar lagi Riko juga bakal menjelaskan persyaratan yang ke-3. Risa hanya bisa pasrah dan mendengarkannya saja.
"Jadi pada intinya, lu harus nurut dan melaksanaka atas apapun yang gue perintah. Gue nggak suka di bantah, berarti lu nggak boleh nolak." Ucap Riko tegas.
Lagi-lagi Risa merasa semakin jatuh kedalam kendali Riko. Seandainya keadaan tidak menghimpitnya dengan kejam, tentu saja ini semua tidak akan terjadi. Ingin sekali Risa menolak, namun lagi-lagi ayahnya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit adalah alasan utamanya.
(Tidak boleh tidur dengan laki-laki lain, selama persyaratan dan perjanjian ini belum berakhir.)
"Oke kali ini gue setuju, emangnya gue mau tidur sama siapa? Gila kali." Ucap Risa sambil mengangguk-angukan kepalanya dan memutar bola matanya.
"Nah gitu dong! Selaku pihak yang di untungkan seharusnya lu terima aja, nggak usah banyak tanya, ngebantah pula." Riko masih duduk di kursinya, tangannya tetap masih memutar-mutarkan pena. Namun pandangan matanya masih tidak terlepas dari tubuh Risa. Semenjak Risa menyetujui persyaratan itu, entah mengapa senyum seringai dan tatapan mesum Riko semakin terlihat.
(Diluar ini kita tidak saling kenal. Atau dalam artian gue sebagai boss dan elu hanya sebagai manager di Coffee shop yang gue kelola.)
Sebegitu tidak sukanya Riko pada Risa, sampai-sampai tidak mau kenal. Kalau Risa pikir-pikir, ini tuh lucu nggak sih? Mereka akan melakukan aktifitas ranjang, tetapi akan bersikap seolah-olah tidak kenal ketika berpapasan di jalan atau dimana pun itu kecuali di Coffee shop.
"Oke!" Jawab Risa sambil memutar matanya jengah, bersikap tidak saling kenal sepertinya lebih baik ketimbang nanti Riko tiba-tiba menyeretnya dan mengajaknya ke hotel ketika berpapasan.
"Bukannya apa-apa gue nggak mau saling tegur sapa ketika berpapasan entah itu di jalan, di super market, atau dimana pun itu. Gue tuh takut mulut ember lu bocor kemana-mana, gue nggak mau refutasi gue hancur gara-gara ketahuan tidur sama wanita biasa kaya lu." Riko berkata dengan nyeleneh, bahkan ucapannya seperti sedang merendahkan harga diri Risa.
Riko begitu sempurna menutupi semua dosanya, Risa benar-benar seperti boneka yang di kendalikan olehnya. Tidak boleh membantah, tetapi harus menurut.
Kata demi kata tersusun rapi menjadi sebuah kalimat yang lumayan panjang. Namun, lagi-lagi kalimat itu semakin menohok pada ulu hati Risa. Sampai detik ini pun Risa masih tidak menyangka ternyata boss nya tidak lebih dari seorang baj*ngan, tidak punya hati, tidak punya akal pikiran, dan tidak menghargai seorang wanita.
"Egois sekali! Lagian gue juga masih punya harga diri tuh, yakali gue bocorin tentang persyaratan ini. Gue masih waras." Risa berkata tegas sambil memandang Riko dengan tatapan galak.
Wanita mana yang akan membocorkan rahasia tergelap dalam hidupnya? Walaupun ada, sudah bisa di pastikan wanita itu sedang berada dalam pengaruh alkohol.
"Udah nyerahin diri sama gue, dan mau menerima persyaratan ini demi uang. Masih bisa bicara soal harga diri? Overall, gue suka sih tipe wanita yang gengsinya selangit walau dalam keadaan terjepit, jangan lupa lu ini sedang memohon pada gue." Cibir Riko sambil tertawa terbahak-bahak meledek Risa, Riko merasa ini sangat konyol.
Menurut Riko, Risa ini lumayan gengsian. Sudah memohon dengan merendahkan harga dirinya, dan bahkan Risa seharusnya menyadari bahwa dalam hitungan beberapa jam kedepan dirinya bakalan ada di bawah naungan tubuh Riko. Entah mengapa melihat Risa yang semakin songong membuat Riko semakin ingin cepat-cepat merusak tubuhnya.
Lalu pada akhirnya Risa menang harus mengakui bahwa dirinya telah kalah dan jatuh dalam kendali Riko. Memang tidak bisa di pungkiri, semua kalimat yang Riko lontarkan itu ada benarnya juga. Memasang tampang judes dan jutek pun sudah tidak ada lagi gunanya lagi, toh dirinya juga bakalan menyatu dengan Riko. Menyatu untuk sebuah persyaratan, bukan menyatu atas dasar perasaan cinta.
"Yang gue takutkan adalah, tiba-tiba lu merasa nyaman dan lu jatuh cinta sama gue karena gue menjamin hidup lu untuk sementara waktu. Gue tahu tipe-tipe cewe kaya lu, kalau gue lepas kayanya mulut lu tuh perlu di lakban deh. Gue takut lu buka mulut hanya karena ingin terus-terusan bersama gue. Eh gue baru kepikiran deh, lebih baik lu suntik aja deh. Bahaya kalau pil KB, ntar lu malah sengaja nggak minum pilnya biar hamil dan minta pertanggung jawaban gue." Bibir Riko ternyata pedas juga, di setiap kalimatnya seperti mengandung cabai rawit setan.
"Gue nggak akan jatuh cinta sama lu. Palingan juga lu yang jatuh cinta sama gue." Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini Risa merasa ubun-ubunnya sangat panas mendidih. Dirinya kehilangan kontrol dan berbicara dengan nada tinggi.
"Gue? Jatuh cinta sama lu? Nggak mungkin banget. Gue maunya istri gue masih bersih." Riko terkekeh mentertawakan Risa, seolah-olah Risa adalah perempuan paling bodoh atau mungkin paling kotor.
Menginginkan seorang istri yang masih bersih? Padahal sisinya sendiri kotor dan bejat.
"Stop! Oke gue suntik, tapi dengan catatan lu harus antar gue ke dokternya!" Risa menatap Riko dengan tatapan menusuk.
"Gila kali! Nggak mau!" Bantah Riko.
"Oke berarti pil KB, dengerin gue ngomong nih! Untuk bapak Riko selalu pemilik coffee shop ini, justeru suntik KB merupakan jalan yang banyak memancing perhatian publik. Apalagi jika saya pergi ke dokternya dengan bapak, sudah bisa di pastikan akan banyak sekali opini yang berkembang. Jangankan opini dari luar, opini dari para karyawan saja sudah pasti akan macam-macam dan menjalar. Pil KB aman-aman aja sih menurut gue."
__ADS_1
"Oke gue setuju!"
Perjanjian itu di tulis atas kendali Riko, benar-benar hanya Riko saja yang menulis. Tidak ada tulisan dari Risa sedikitpun. Kata Riko pihak yang di rugikanlah yang berhak menulis, pihak yang di untungkan harus terima dengan ikhlas. Jika bicara soal untung rugi, sebenarnya Risa lah yang sangat rugi, Risa akan kehilangan mahkota kesuciannya dalam sekejap, sedangkan pihak yang diuntungkan sebenarnya adalah Riko. Karena Riko akan meniduri dan merenggut kesucian Risa. Soal uang? Uang itu masih bisa di cari, sedangkan mahkota kesucian tidak akan pernah kembali lagi.
"Baik! Kalau gitu saya pamit undur diri! Dan saya mohon izin kerja setengah hari, karena saya harus segera mengurus administrasi ayah saya." Ucao Risa dan langsung berbalik badan.
Riko segera mencekal pergelangan tangan Risa. "Enak aja lu main kabur gitu aja! Gue mau sekarang!" Riko menampilkan semua deretan gigi putihnya.
Alisnya terangkat sebelah, bahkan dahi Risa mengernyit. Risa masih mencoba mencerna arti dari kata 'Gue mau sekarang?' Risa mencoba berpikir positif thinking, nggak mungkin kan sepenggal kalimat itu menuju kesitu.
"Gue nggak paham apa yang lu maksud! Tapi serius deh, gue lagi buru-buru banget mau ke rumah sakit." Mencoba melepaskan cekalan tangan Riko selembut mungkin.
"Gue udah transfer, gue udah urus semuanya, termasuk menyuruh mengurus semua administrasi dan semua yang di perlukan ayah lu. Lu nggak lupa kan dengan persyaratan yang gue ajukan. Nggak mungkin dong tiba-tiba lu lupa hanya dalam kurun waktu beberapa menit kan?" Riko menelisik wajah Risa, wajah cantik itu kemudian mulai terlihat tenang dan lega.
"Thank you! Gue nggak lupa." Menghembuskan napas pelan, kemudian berujar dengan lirih.
"Nah kan bagus kalau gitu." Riko segera menyuruh Risa untuk duduk di kursi di hadapannya.
"Gue mau menikmati tubuh lu sekarang." Imbuhnya lagi, manik mata itu menatap Risa dengan tatapan seperti sedang menelanjangi.
"Gue nggak ngerti!"
"Gue mau melahap habis tubuh lu sekarang! Ngerti nggak? Jadi, gue mau tidur sama lu sekarang juga, detik ini!" Riko tersenyum menyeringai, bahkan tatapan matanya terang-terangan menyatakan ke arah dada Risa.
Manik mata Risa membulat sempurna, mata itu terbelalak. Mulut Risa seketika menganga karena shock, Risa memang menyetujui persyaratan yang Riko ajukan. Namun, dirinya tidak menyangka bakalan secepat ini Riko meminta tubuhnya.
"Masa iya lu lupa dengan apa yang telah kita sepakati beberapa menit yang lalu, yang berbunyi 'Kapanpun gue ingin elu harus siap, tidak peduli itu di Coffee shop, hotel ataupun apartment gue' bahkan kalau gue tidak merasa puas, gue masih berkesempatan untuk minta nambah." Riko kembali menjelaskan mengenai keinginannya itu.
Seketika Risa terdiam, isi perjanjian di persyaratannya memang begitu adanya. Dirinya tidak bisa melawan, hanya bisa pasrah pada keadaan.
"Gimana? Udah ingat kan sekarang?" Riko mencoba memastikan.
Risa menganggukan kepalanya, mulutnya sudah tidak berkata-kata lagi.
"Terus pil KB nya gimana?" Risa tiba-tiba teringat benda yang sangat di butuhnya ketika akan memulai sebuah aktifitas suami istri, tanpa adanya benda itu tentu saja Risa tidak akan mau.
Riko tersenyum menyeringai. Dia berjalan ke arah lemari baju yang ada di ruangan ini, menarik handle laci. "Gue ada ini! Untuk pertama kali, pakai ini dulu aja kali ya. Kapan-kapan baru gue perlu pil KB." Senyum itu semakin lebar dan menyeringai, barang yang barusan Riko ambil dari laci sama sekali tidak di mengerti oleh Risa.
"Dimana?" Tanya Risa, matanya celingak-celinguk menatap ke segala arah ruangan ini, seperti sedang mencari sesuatu.
"Apanya?" Riko berbalik tanya, kini tangannya sedang sibuk melepas dasi, dan bersiap-siap membuka kancing jasnya.
Risa sudah tidak banyak bertanya lagi.
Riko sudah tidak merasa malu sedikitpun melucuti pakaiannya tepat di hadapan Risa. Tidakkah Riko mengerti, bahwa saat ini Risa merasakan malu dan gugup dalam waktu yang bersamaan. Bahkan Risa mencoba memalingkan wajahnya ke sudut ruangan, tetapi pikirannya sama sekali tidak bisa diajak untuk berdamai.
Riko malah semakin gemas melihat Risa yang terlihat malu dan gugup. Bahkan Riko sengaja membuka seluruh pakaiannya tanpa meninggalkan kaos, ataupun celana dalamnya.
Sebelum benar-benar memulai aksinya, Riko tidak lupa mengunci terlebih dahulu pintu ruangannya, repot banget deh kalau sampai ketahuan salah satu karyawan.
__ADS_1
Risa mengikuti langkah Riko dengan hati yang tidak karuan, ada rasa sedih dan resah di dalam hatinya. Risa ingin menjerit dan mengatakan TIDAK, tapi Risa sama sekali tidak bisa keluar dari kondisi ini.
Tangan Riko begitu lincah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Melempar asal semua pakaiannya ke lantai, tubuh tegap atletis itu sudah ter-ekpose semua, tidak ada sehelai benangpun yang menutupinya.
Wajah Risa berubah menjadi merah padam, selama ini dalam hidupnya belum pernah melihat laki-laki tanpa busana dalam jarak yang sangat dekat atau berada tepat di hadapannya ini. Telapak tangan Risa malah menutupi kedua bola matanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, walau bagaimanapun juga seorang wanita normal pasti akan malu-malu melihat sesuatu milik pria.
Tangan Riko kembali lincah melucuti semua pakaian yang membalut badan Risa. Ketika Riko mencopot bra yang di kenakan oleh Risa, tenggorokannya tercekat, daging sintal itu lumayan besar, bahkan bra saja tidak mampu membungkusnya dengan sempurna. Riko tidak menyangka ternyata dada Risa sebesar ini.
Seorang pria normal dan perempuan normal berada dalam satu ruangan, satu sama lain tanpa berbusana. Tidak mungkin dong mereka hanya berdiam mematung? Setan saja maha dahsyat dalam menggoda, apalagi gairah pria normal? Mulut Riko sudah berada di atas gundukan daging sintal itu, melahap, menghisap, dan bahkan menggigit-gigit kecil. Riko bagaikan seorang bayi yang haus akan air susu ibu, bedanya dirinya sudah dewasa dan daging sintal itu juga tidak mengeluarkan air.
Risa sebetulnya memang tidak merelakan tubuhnya di jamah oleh Riko, namun ternyata gairah di dalam dirinya juga begitu kuat. Rasa gengsi dan malu-malu itu perlahan mulai sirna, bahkan di mulutnya sudah keluar sebuah erangan dan desahan kecil. Tubuhnya merespon begitu saja setiap sentuhan yang Riko berikan.
Riko yang memang sangat menginginkan kegiatan ini pun mulutnya tidak bisa diam, dada Risa kini di penuhi oleh noda-noda merah kissmark, dada yang tadinya putih mulus itu kini telah berubah menjadi kulit macan tutul. Riko juga berkali-kali berusaha menjejalkan lidahnya kedalam mulut Risa, mencoba bercumbu dan bertukar ludah. Lidah mereka saling membelit, dan pagutannya terjadi lumayan cukup lama. Sampai-sampai Risa kewalahan dan kesulitan dalam menghirup udara.
Menjeda aktifitasnya sejenak, Riko berjalan dengan miliknya yang tegang di tubuh bagian bawahnya itu. Riko mencoba mengambilkan segelas air mineral untuk Risa.
"Minum dulu nih!"
"Terimakasih." Risa mengambilnya dan langsung meneguknya hingga habis.
"Yo! Kegiatan intinya belum." Riko segera menuntun Risa menuju ranjang.
Kegiatan yang baru saja mereka akhiri, di lakukan sambil berdiri. Masih ingatkan tadi Riko sedang melepaskan semua pakaian yang Risa kenakan? Saat itu Riko tidak tahan melihat dua gundukan daging sintal yang sangat besar dan terlihat menantang. Selepas Riko melepaskan semua yang melekat di tubuh Risa, Riko langsung melahap gundukan daging mpuk itu.
Kini Riko membaringkan tubuh Risa diatas ranjang. Dirinya segera memanjat naik, sehingga berada diatas tubuh Risa. Manik matanya menatap manik mata Risa yang terlihat sayu.
"Bisa senyum kali, masa iya kegiatan paling surgawi di dunia ini elu tidak bisa menikmatinya? Kenapa? Takut? Nggak usah takut, gue nggak akan menelan tubuh lu bulat-bulat, gue ini manusia bukan harimau." Riko terkekeh sambil terus menatap manik mata Risa yang satu itu.
"Oke, tenang aja nggak usah takut." Ucapan Riko sangat menenangkan Risa. Kemudian Riko mencium dahi Risa dengan lembut.
Loh kok gitu ya? Padahal jelas-jelas tadi mereka berdua berbicara tidak ada yang boleh melibatkan perasaan, dan ini hanya terjadi karena sebuah persyaratan. Tapi kelakuan mereka malah seperti pasangan suami istri sungguhan?
Riko benar-benar melakukannya dengan lembut, dua insan itu sedang beraktifitas di siang bolong. Desahan mereka saling bersahutan, keduanya tampak menikmati sebuah hubungan yang katanya surganya dunia.
Keringat membasahi tubuh mereka masing-masing. Bahkan Riko melakukannya tidak hanya sekali. Risa yang awalnya gengsian juga ternyata sangat menikmati aktivitas ini. Awalnya Risa malu-malu, tapi lambat laun dirinya juga berani nyosor duluan.
Setelah kejadian di kantor pada waktu siang bolong itu pun, mereka rutin melakukan aktifitas ranjang sesuai dengan persyaratan yang telah di setujui. Riko selalu meminta jatahnya pada Risa, baik itu di kantor, di apartmentnya, tak jarang juga Riko membawa Risa ke sebuah hotel maupun villa.
FLASHBACK END
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1