SUN FLOWER

SUN FLOWER
DESAKAN MAMA LISA


__ADS_3

Arka jatuh pingsan karena terlalu shock, beberapa pelayan langsung membopongnya dan membaringkannya di kamarnya. Pelayan yang lain juga langsung menghubungi dokter.


Dokter bilang Arka terlalu stres, kelelahan dan tubuhnya kurang istirahat. Lebih utamanya lagi Arka lemas karena tidak ada asupan makanan yang masuk ke tubuhnya. Tiga hari ini Arka sama sekali tidak mempunyai selera makan, sehingga dirinya treus menerus meminum air putih.


Arka mendapatkan perawatan di rumahnya, jarum dan selang infus menancap di pergelangan tangannya. Arka benar-benar tidak ada gairah sama sekali, pandangan matanya kosong, tubuhnya semakin kurus tak terurus.


Bola mata itu terus menerus mengalirkan air matanya, pipinya selalu basah. Dalam hati Arka berdo'a semoga Kalista dan kedua anaknya dalam kondisi baik-baik saja, Arka menginginkan mereka kembali lagi bersamanya.


Satu hal yang baru Arka sadari, hidupnya benar-benar tidak berdaya tanpa Kalista. Kalista adalah istri terbaik, seorang bunda dari anak-anaknya. Kalista juga merupakan seorang teman yang bisa Arka ajak bicara banyak hal, tempat Arka berkeluh kesah juga Kalista.


Arka terlalu bodoh dalam hal ini, jika dirinya tidak mendiamkan Kalista dan kedua anaknya, saat ini dirinya masih hidup bahagia dengan Kalista. Memang benar ya, ternyata penyesalan itu datangnya di akhir.


Arka tahu, Kalista bukan sembarang wanita. Arka tahu betul bagaimana sikap Kalista, Kalista itu orangnya selalu berpikir dengan menggunakan logika, berpikir jernih dan penuh pertimbangan. Kalista tidak mudah untuk memutuskan sebuah perkara, jika keputusannya sudah matang, maka Kalista berani mengambil langkah tersebut. Surat gugatan ini resmi dari pengadilan agama, itu artinya keputusan Kalista untuk bercerai dengan Arka sudah bulat.


Mata itu terus berkaca-kaca, Arka terus kepikiran tentang surat gugatan cerai. Sampai kapanpun Arka tidak akan rela berpisah dengan Kalista. Jika terpaksa harus berpisah, Arka akan menyetujuinya dan menandatangani surat cerai tersebut, tetapi dengan satu syarat. Yaitu, Kalista tidak boleh menikah seumur hidup, kecuali Kalista ingin kembali rujuk dengannya. Ini memang sangat egois dan tidak adil untuk Kalista, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar Arka merasa tenang, karena Arka sama sekali tidak rela jika Kalista dimiliki oleh pria lain. Arka juga akan meminta hak asuh anak jatuh ke tangannya. Mengapa begitu? Simple saja, jika anak-anak berada di bawah asuhan Arka, sudah bisa di pastikan Arka akan sangat sering bertemu dengan Kalista, dan itu bisa mengobati rasa Rindu Arka ke Kalista.


Arka merasa dunianya tidak lagi berwarna, semuanya gelap dan semi abu-abu. Bahkan langit yang sekarang sedang cantik pun, di pandangan Arka tetap gelap. Jika benar-benar bercerai dengan Kalista, itu artinya Arka kehilangan cahaya di kehidupannya.


*****


Sejak hari kedua Kalista berada di rumah mama Lisa, mama Lisa sebenarnya sudah merasa curiga. Kok bisa Kalista menginap sudah dua hari lamanya, dan Arka sama sekali tidak datang menjemputnya? ataupun datang untuk menengok kedua anaknya. Mengapa Arka juga tidak menghubungi mama Lisa untuk menitipkan Kalista. Mama Lisa merasa ada yang janggal dengan semua ini, insting mama Lisa juga mengatakan mereka berdua sebenarnya sedang berjarak. Tetapi mama Lisa tidak tahu akar permasalahannya itu apa?


Kalista juga kerap kali menolak ketika diajak sarapan, makan siang dan makan malam. Kalista selalu beralibi dengan kedua bocahnya, bilangnya repot sama Nathan lah, Nayla rewel lah, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Mama Lisa belum pernah menyaksikan Kalista mengisi perutnya selain meminum air mineral. Mama Lisa tentunya tidak tinggal diam saja, mama Lisa bertanya pada Kalista, tetapi Kalista bilang katanya sih makan, mama saja yang nggak pernah lihat Kalista makan.


"Ma, ko ngelamun?" Sebuah tepukan mendarat di bahu mama Lisa. Telapak tangan yang kekar itu yang menepuknya, telapak tangan milik Dino. Entah muncul dari arah mana, tiba-tiba sekarang Dino ada di dekat mama Lisa dan cukup mengagetkannya.


Mama Lisa berbalik badan dan menatap Dino. "Ya ampun nak, mama kaget banget. Jantung mama rasanya mau copot aja." Ujarnya dengan mata melotot, telapak tangannya masih sibuk mengusap dadanya.


"Terus kenapa nggak copot? Pending? Atau tiba-tiba jantung mama kaya punya lem, sudah copot eh nyambung lagi. Mama hebat banget, mama berguru pada siuman macan harimau putih berbulu hitam ya?" Ujar Dino sambil terkekeh geli, apa-apaan siluan macan harimau putih berbulu hitam, mana ada? Dasar Dino, ada-ada saja ya.


"Kalau jantung mama copot nanti mama nggak bernyawa dan nggak bisa bernapas lagi. Itu artinya mama meninggal dunia, kamu mau hidup sama siapa? Apa-apaan lagi tuh siluman macam? Jangan ngaco deh." Mama Lisa menjewer sebelah telinga Dino.


"Nanti aku mau hidup sama istri aku lah. Gini-gini juga aku mau nikah." Dino menjeda kalimatnya, menatap mama Lisa dengan cengir kudanya. "Oh siluman macan? Becanda itu mah mama sayang." Dino kembali menampilkan cengir kudanya.


"Emang punya pacar?" Tanya mama Lisa dengan seksama, mama Lisa juga memperhatikan ekspresi wajah Dino.


"Nggak punya! Aku malas melewati fase pacaran, karena di dalam hubungan pacaran itu banyak hal-hal rumitnya. Gini-gini juga aku tuh berpikir dewasa, aku mau lebih ke arah serius. Nggak ada kata pacaran, lebih baik langsung akad saja biar sah. Keren nggak ma?" Tanya Dino sambil menaik turunkan kedua alisnya. Dino juga tersenyum manis.


"Ya bagus kalau kamu punya pikiran kaya gitu, itu artinya anak mama sungguh dewasa. Tapi, kamu juga nggak bisa sembarang memutuskan untuk menikah. Pernikahan adalah momen sakral yang terjadi hanya sekali seumur hidup, pernikahan bukan permainan atau ajang pamer keren-kerenan. Jadi, pastikan kamu memilih wanita yang benar sebelum memutuskan untuk mengajaknya ke jenjang suci pernikahan, perhatikan atitudenya, lihat bagaimana dia bersikap dalam menyikapi masalah. Mama mau kamu mendapatkan jodoh yang terbaik." Mama Lisa memberikan beberapa petuah pada Dino, mama Lisa mengusap punggung tangan Dino dengan lembut.


"Iya, amiin ya Allah." Dino mengaminkan do'a dari mamanya dengan sangat lantang, katanya agar do'anya menembus pintu-pintu langit dan langsung di kabulkan oleh Allah SWT.


"Tapi mama sebal sih ke kamu, masa iya kamu nggak sayang mama. Mana kamu juga do'ain mama biar jantungnya copot, mama sakit hati banget nih." Bibir seorang wanita paruh baya itu mencebik, bahkan wajah cemberutnya terlihat sangat jelas.

__ADS_1


"Yakali aku kaya gitu, mama sayang tolong di dengarkan ya! Tadi itu aku bercanda dan hanya gurauan saja. Sekalipun mulut aku mengucapkan kata gitu, ketahuilah mama sayang, dalam hati Dino mengucap amit-amit tujuh turunan." Dino merangkul bahu mamanya, lalu memeluknya dengan rasa penuh kasih sayang.


Walaupun mama Lisa ini statusnya hanya mama tiri, tetapi dalam mengurus, merawat dan menyayangi Dino tidak kurang dari suatu apapun, semua kasih sayangnya ia limpahkan kepada Dino. Bahkan ketika hubungan mama Lisa dan Arka membaik pun, mama Lisa sama sekali tidak membedakan mana anak kandung dan mana anak tiri? Mama Lisa memperlakukan mereka berdua sama. Sama-sama anak mama Lisa, dan mama Lisa juga sangat sayang kepada Arka dan Dino.


Dulu Dino pernah insecure, setelah Arka baikan mama Lisa pasti akan mencampakkannya. Tetapi semua itu terpatahkan begitu saja, Arka juga bahkan menganggap Dino sebagian adiknya sendiri.


"Btw, tadi mama ngelamunin apa? Atau jangan-jangan mama mikir mau nikah lagi?" Tanya Dino dengan serius tetapi di akhir kalimatnya Dino malah bercanda.


"Hush, pikirannya mu itu terlalu kejauhan. Mama sudah tua, dan mama tidak minat untuk nikah lagi. Wong mama ini sudah setengah abad, dan sudah punya cucu dua. Mana ini sudah menjadi Oma, malu ah kalau ngomongin nikah tua." Cerocos mama Lisa dengan bibir mencebik.


"Iya-iya mama, mendingan mama jawab pertanyaan aku yang point pertama deh!" Ucap Dino buru-buru, agar jalur pembicaraan mamanya tidak berbelok kesana-kemari.


"Sekarang anak mama pintar ngomong ya, mama aja tangan sampai gatal banget karena pengen jahit bibir kamu itu." Mama Lisa mencoba menyentuh bibir Dino, tetapi sentilannya itu sangat pelan sekali.


"Mama lagi mikirin Kalista. Entah mengapa feeling mama mengatakan sebenarnya mereka berdua sedang bertengkar, ada jarak diantara mereka. Mama curiga karena banyak kejanggalan." Mama Lisa berbicara sangat serius, tetapi nada suaranya di rendahkan karena takut terdengar oleh Kalista ataupun pelayan di rumah ini.


"Dino sepemikiran dengan nama, Dino tadinya mau membicarakan ini pada mama, tapi takut mama nggak percaya dan mengira Dino mengada-ngada, karena walau bagaimana pun juga mama mengetahuinya kalau dahulu Dino pernah naksir sama wanita yang sekarang statusnya jadi Kaka ipar Dino." Dino tersenyum kikuk, lalu menutupkan telapak tangannya pada wajahnya.


"Ikut mama ayo!" Perintah mama Lisa sambil menarik pergelangan tangan Dino.


Mama Lisa berjalan menuju kamar tamu, dikamar itu lah yang sekarang Kalista tempati dengan kedua anaknya. Ketika pintu terbuka, Kalista sedang berbaring di ranjangnya sambil menjaga kedua bocahnya yang aktif. Manik mata itu terlihat sembap, dan Kalista pun terlihat sangat lemas.


Mama Lisa tersenyum, menghampiri Kalista lalu duduk di tepian ranjang. Punggung tangan mama Lisa menyentuh dahi Kalista. "Loh kok panas? Kamu demam sayang?" Tanya mama Lisa dengan cemas dan khawatir. Gurat wajah khawatirnya sangat terlihat jelas di wajahnya.


"Aku nggak sakit ma, cuma lagi nggak enak badan aja." Kalista berusaha meyakinkan mama Lisa, Kalista akan mengutuk dirinya sendiri jika sampai merepotkan mama mertuanya.


"Arka kok nggak datang menjemput? Apa Arka masih sibuk di kantor?" Tanya mama Lisa dengan hati-hati. Mama Lisa tidak bisa langsung bertanya ke intinya, karena itu terlalu terburu-buru dan mungkin saja Kalista tidak akan menjawab jujur.


"Katanya belum sempat, soalnya kerjaan kantor masih numpuk. Makanya di suruh nginep agak lamaan, kalau urusan kantor sudah selesai nanti suamiku akan datang menjemput." Ucapnya sambil tersenyum, padahal dalam hatinya Kalista meminta maaf karena telah membohongi mama Lisa.


"Emang sibuk apa?" Tanya mama Lisa lagi.


"Biasalah ma, urusan kantor." Jawab Kalista.


"Mama telpon Arka aja deh, mama aku tahu banget dia sedang mengerjakan proyek apa sampai menghabiskan banyak waktu dan perhatiannya." Mama Lisa mengeluarkan ponselnya, berpura-pura mencari kontak Arka dan akan menghubunginya.


"Eh jangan ma, kasian loh suamiku lagi sibuk, nanti malah terganggu perhatiannya." Pinta Kalista dengan sangat memohon, sebenarnya bukan kasian karena takut tertanggu, hanya saja sekarang hubungannya sedang berjarak.


"Loh kenapa? Kamu ngelarang mama? Mama kan kangen banget sama anak mama itu." Ujar mama Lisa dengan tegas.


Kalista sama sekali tidak bisa berbicara, mulutnya terkunci rapat. Dalam urusan kangen antara orang tua dan anaknya, Kalista sama sekali tidak boleh ikut campur. Walau bagaimanapun juga mama Lisa memang mama kandungnya Arka.


Melihat ekspresi wajah Kalista yang sendu, mama Lisa sangat yakin hubungan Arka dan Kalista sedang tidak baik-baik saja. Mama Lisa menyimpan kembali ponselnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi dalam hubungan rumah tangga kalian?" Tanya mama Lisa dengan lembut, bahkan mama Lisa juga mengusap puncak kepala Kalista yang terlihat rambutnya berantakan.


"Apanya ma?" Tanya Kalista masih pura-pura tidak tahu.


"Nak, mama ini seorang perempuan, dan mama juga pernah berada dalam sebuah masalah rumah tangga. Mama perhatikan gerak-gerik kamu itu ada yang berbeda, walapun mama jarang tinggal seatap dengan kamu, tapi mama tahu betul bagaimana watak kamu yang sebenarnya. Mama kok merasa ada jarak diantara kamu dan suami kamu. Kamu menginap disini karena kamu pergi dari rumah. Benar begitu bukan? Sayang, maaf ya mama lancang bertanya." Tangan itu masih mengusap puncak kepala Kalista.


Kalista yang memang posisinya sedang tiduran itu pun, langsung menyampingkan tubuhnya. Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan sebagai menangis, punggung yang membelakangi mama Lisa itu tiba-tiba bergetar dengan kuat.


"Nggak apa-apa jika kamu emang ingin menangis, menangis bisa melegakan perasaan. Maaf ya pertanyaan mama malah membuatmu menangis sedih. Tapi sejujurnya mama sangat ingin mengetahui ada apa diantara kalian berdua? Bukannya mama mau ikut campur, tapi siapa tahu saja mama mempunyai solusi terbaiknya. Bicarakan semuanya pada mama ketika kamu sudah tenang ya sayang." Mama Lisa begitu sangat perhatian, mama Lisa bahkan tidak tega melihat Kalista yang menangis sedih.


Mama Lisa masih menunggu Kalista untuk berbicara, mama Lisa setia menunggu Kalista yang masih belum meredakan tangisnya. Mama ksia membiarkannya saja, agar Kalista merasa lebih tenang.


Kalista kini menyampingkan tubuhnya menghadap mama Lisa, matanya sembap dan hidungnya memerah seperti tomat. Punggung tangannya sekarang sedang membersihkan sisa-sisa air matanya.


"Ma, sebabnya hubungan rumah tangga aku dan Arka lagi nggak baik. Itu terjadi sudah lebih dari dua bulan, dari Oma dan ayah meninggal." Ucap Kalista dengan suara bergetar, bulir-bulir kristal itu kembali berjatuhan.


Mama Lisa sebenarnya kaget, ternyata kisah rumah tangga Kalista dan Arka sudah berjarak cukup lama, tetapi Kalista masih sabar dan tidak meninggalkan Arka. Mama Lisa belum berani merespon, mama Lisa memberikan Kalista ruang untuk berbicara.


"Sejak hari itu Arka mendiamkan Kalista, bahkan tidak menyapa anak-anak. Arka selalu merasa bahwa kematian ayah dan Oma disebabkan oleh Kalista. Ma, sesungguhnya Kalista juga tidak rela ditinggalkan Oma dan ayah. Kematian itu kan sudah pasti, itu merupakan takdir dan ketetapan dari sang maha kuasa. Mengapa Arka selalu menyalahkan Kalista ma?" Suaranya masih tetap bergerak, karena Kalista berbicara sambil menangis. Sehingga suaranya juga terdengar lirih.


"Dua bulan ini juga Kalista menjadi lebih capek ma, sebulan pertama itu yang lebih capek. Karena harus banting stir dari ibu rumah tangga hingga jadi CEO di kantor Anggara, full day berada di kantin, meeting, pertemuan bisnis dan kerjasama, belum lagi pulangnya Kalista kembali di sibukkan mengurus Nathan dan Nayla."


"Ma, anak-anak sedang dalam masa tumbuh kembang, seharusnya ada peran ayah di dalamnya. Tetapi Arka sama sekali tidak memperdulikan anak-anak. Anak-anak butuh kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya ma."


"Dua bulan sudah berlalu, tapi lambat laun Kalista juga merasa capek karena tidak di hargai. Ma, maaf kalista telah berbohong kepada mama dan Dino. Kalista menginap disini karena Kalista kabur dari rumah, bahkan sampai saat ini juga Arka belum menemukan Kalista? Feeling aku mengatakan kayanya Arka memang sudah tidak sayang dan cinta kepadaku, dan anak-anak. Arka kayanya memang tidak berusaha untuk mencari keberadaan aku dan anak-anak? Arka juga sepertinya sudah tidak mempunyai hati, suatu hari figura jatuh mengenai dahi aku sampai terluka dan berdarah, tetapi Arka sama sekali tidak menolong dan mengatakan apapun." Air mata itu kembali meluber dengan deras.


"Arka mengusir Kalista dari kamarnya, kita sudah pisah ranjang dalam kurun waktu dua bulan lebih. Ma, Kalista pikir seiring berjalannya waktu Arka akan kembali seperti Arka yang dulu, tapi Arka tak kunjung berubah. Sekarang aku merasa lelah, bosan, dan capek. Semoga Kaka mengerti dengan semua ini." Kalista mengakhiri kalimatnya, memejamkan kedua matanya, dan kembali menangis sesenggukan. Sembari bercerita, sikap dan perilaku Arka padanya terekam jelas di otak dan pikirannya. Kalista merasa hatinya seperti di remas-remas, patah, bahkan hancur berkeping-keping.


Deg.


Mama Lisa bahkan baru mengetahui semuanya, ternyata hubungan rumah tangga anak dan menantunya renggang sudah dua bulan lamanya. Kemana saja dirinya selama ini? Mama Lisa mengira Arka sudah baik-baik saja, ternyata..


"Mama akan pikirkan cara terbaiknya. Sayang maafkan sikap dan perlakuan anak mama kepadamu ya." Ujar mama Lisa dengan mata yang berkaca-kaca. Mama Lisa juga merasa sedih sehingga meneteskan air mata.


"Terimakasih nak kamu sudah menjadi wanita sabar. Tidak meninggalkan Arka dan bahkan tidak menceritakan kisah rumah tanggamu. Mama setuju kamu kabur dari rumah, justeru ini merupakan hal bagus. Hal ini bisa membuatnya merasakan apa itu arti dari dihilangkan? Jika Arka masih mempunyai hati, tentu saja dirinya akan merasa sedih, terpukul, dan galau. Tiga hari ini Arka pasti merasakan hal itu. Mama juga percaya, sekarang tuh Arka bukannya tidak mencari kamu, tetapi dia belum menemukanmu." Mama Lisa terus berkaca-kaca positif dan terus mensupport Kalista.


"Sekarang kamu makan ya, tubuh kamu butuh nutrisi makanan. Mama tahu kok selama kamu berada di rumah mama ini kamu sama sekali tidak makan, Setiap harinya hanya minum air mineral saja. Kamu harus makan, kamu harus kuat! Kamu merupakan wanita hebat dan tangguh yang bisa melewati masakah, ayo kamu harus sehat demi Nathan dan Nayla." Mama Lisa mengecup dahi Kalista penuh rasa sayang.


----------------------------------🌻🌻


Maaf sedikit, hari ini lumayan sibuk. Jangan dulu pada emosi ya, besok masih ada kelanjutannya🙏


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2