SUN FLOWER

SUN FLOWER
KLARIFIKASI


__ADS_3

Pagi-pagi buta di kediaman Anggara sudah nampak sibuk, di luar gerbang para wartawan telah berkumpul. Bahkan pak satpam saja istirahatnya sampai terganggu, karena wartawan itu ada yang datang dari jam 12 malam, ada yang datang jam 03 dini hari tadi, dan puncak kedatangannya membludak tadi subuh.


Tadi malam Arka langsung mengumumkan akan jumpa pers untuk mengklarifikasi tentang HOT NEWS yang sedang ramai di perbincangkan para masyarakat maupun rekan bisnisnya.


Kalista mengerjapkan kedua bola matanya, diliriknya jam yang menempel di dinding baru menunjukan angka 05:50 WIB. Namun Arka tidak ada di sampingnya, dari ruang tamu terdengar beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Suara ribut-ribut dan bising juga terdengar dari arah luar rumahnya.


Mau bangun tapi susah karena kakinya masih sakit dan bengkaknya belum mengempis. Kalista memutuskan untuk berbaring sembari menunggu Arka datang ke kamarnya. "Ada apa sih ramai banget?" Ucap Kalista yang berusaha turun dari ranjangnya.


Jalan tertatih-tatih karena menahan ngilu dan nyeri di kakinya, Kalista berusaha menyeret kakinya selangkah demi selangkah untuk sampai di jendela. Kalista menarik tirai gorden, lalu manik matanya menangkap sekumpulan wartawan yang telah siap dengan kamera, dan berbagai alat rekamannya masing-masing.


"Jumpa pers? Ko mendadak? Ya ampun bahkan aku belum ngedit bukti untuk dijadikan alibi." Kalista menutup mulutnya, menurut Kalista Arka agak kurang persiapan karena tidak memberitahukan Kalista.


Kalista langsung mengambil laptop Arka, tangannya sibuk mengedit rekaman cctv yang di club malam. Dengan susah payah dan dengan ide yang luar biasa akhirnya Kalista mampu mengedit rekaman cctv itu seolah-olah Ashila lah yang menjebak Arka memberikan bir. Padahal aslinya Arka memang memesan bir.


Dengan mata terpejam, dan kedua tangan menengadah ke atas "Maafkan aku yang hari ini berbuat sedikit jahat." Gumamnya, matanya masih terpejam ciri khas orang berdoa.


Arka masuk ke kamarnya dan melihat Kalista yang sedang duduk di lantai, tepat di sisi ranjang dengan laptop di pahanya. Matanya masih terpejam, dan tangannya masih tetap dalam posisinya.


"Ngapain sayang?" Tangan Arka menepuk bahu Kalista dengan sangat pelan.


Kelopak mata itu langsung terbuka, dan langsung menatap Arka dengan sangat intens. "Jumpa pers? Aku nggak di kasih tahu!" Wajahnya menekuk dan cemberut.


"Tadi malam kamu sudah tidur sayang, aku nggak tega bangunin karena kemarin istirahat kamu terganggu." Arka menyelipkan beberapa helai rambut Kalista yang terurai menghalangi matanya.


"Hmmmmm." Hanya kata itulah yang keluar dari mulut Kalista.


"Ini ngapain di bawah? Tirai gorden sudah di buka? Kamu jalan? Kaki kamu masih sakit, kan bisa panggil aku! Kalau butuh apa-apa panggil aku pokonya! Jangan sampai jalan lagi! Nanti luka di kaki kamu lama sembuhnya." Arka berbicara tegas namun dengan intonasi yang pas dan lembut, dengan kondisi Kalista saat ini tidak mungkin Arka menasehati nya dengan keras.


"Iya." Jawabnya singkat.


Pintu terbuka, pak Anggara di ikuti Evan, Andy, dan Riko masuk ke kamar Arka. Mereka menatap Arka dan Kalista yang sedang duduk di lantai kamar.


"Loh kok di bawah?" Tanya pak Anggara.


"Istriku nakal, kaki masih sakit juga sosoan jalan kearah jendela." Ucap Arka yang langsung menggendong tubuh Kalista memindahkannya ke kasur.


"Kalian sih mau jumpa pers dan mengklarifikasi masalah kemarin tapi nggak kasih tahu aku dulu." Kalista mendelikkan matanya jengah.


"Nyonya Arka istirahat saja! Biarkan kami yang bekerja dan menyelesaikan masalah ini." Sahut Andy.


"Mana bisa kaya gitu? Masalah suamiku berarti masalah aku juga. Lagian kan kemarin aku bilang, aku punya alibi agar Arka tidak dikatakan memesan bir di club malam." Mulut mungil itu masih saja bercakap-cakap, raut wajahnya terlihat sangat kesal.


"Eh iya, apaan alibinya?" Tanya Riko penasaran.


"Nih lihat saja sendiri!" Kalista menyodorkan laptop Arka pada Riko.


Pak Anggara, Arka, Andy, Riko dan Evan langsung menyaksikan potongan rekaman cctv di club malam yang telah diedit oleh Kalista. Mata mereka berbinar, bagaimana bisa ini diedit sedemikian mirip seperti asli, bahkan Arka sama sekali tidak terlihat memesan bir.


"Widih mantap banget, pro editing nih." Evan berkomentar dengan mata berbinar, bahkan video itu sampai di play berkali-kali.


"Tapi ... Aku merasa jahat banget nuduh Ashila yang memesan bir untuk Arka." Wajah itu terlihat sendu, pandangannya menunduk, tangannya meremas ujung seprei.


"Ya nggak apa-apa sih jahat sedikit, lagi pula kan Ashila sendiri yang mengibarkan bendera untuk perang, tugas kita di sini hanya melawan. Coba kalau dia nggak cari gara-gara, nama dia nggak bakalan hancur." Ujar Evan.


"Tapi kan sekarang yang hancur nama Arka, bukan Ashila." Satu kalimat itu memang benar adanya, dan keluar begitu saja dari mulut Riko.


Andy geleng-geleng kepala, bahkan sampai memutar bola matanya dengan sangat jengah.


"Otak lu! Tuhan tolong, jongkok amat sih kok IQ lu! Satu jam lagi nama Ashila akan hancur seiring dengan jumpa pers yang akan kita lakukan." Evan menoyor kepala Riko bahkan sampai tiga kali, karena merasa jengkel dengan otak Riko yang kadang-kadang agak sedikit lemot.


Kalista memperhatikan Arka, pak Anggara, dan Andy yang sudah rapi dengan jas yang melekat di tubuh mereka masing-masing.


"Tolong ambilkan concealer." Tangan Kalista menunjuk satu concelear yang berjejer rapi diatas meja riasnya.


Arka langsung mengambil concealer itu, dan memberikannya pada Kalista. Kalista menyuruh Arka duduk di hadapannya. Tangan Kalista sangat lincah berselancar dan menari-nari di wajah Arka. Kalista mentap-tap sponge telur yang telah di olesi concealer ke luka lebam di wajah Arka yang masih berwarna biru kecoklatan. Concealer itu sangat-sangat mengcover luka lebam di wajah Arka. Kalista sengaja membeli concelear itu, yang khusus di pakai untuk menutupi tanda merah bekas kissmark di lehernya. Arka kan mesum banget, kalau lagi minta haknya.


Awalnya Arka melotot ketika Kalista memakaikan concealer di wajahnya. Namun dia masih sabar untuk tidak membuka mulutnya. Ketika sudah selesai Arka langsung bercermin di cermin rias yang ada di kamar ini.


"Mulus banget! Luka lebamnya menghilang." Ucapnya sambil memperhatikan wajahnya dari pantulan cermin. "Eh tapi nggak lengket loh, enak ringan gitu." Tangan Arka menyentuh dan meraba-raba wajahnya.


"Iyalah mulus, fungsi concealer kan untuk menutupi ketidak sempurnaan di wajah." Ucap Kalista. "Lagian kan, masa iya jumpa pers dengan kondisi muka bonyok kaya gitu? Hello apa kata media? Apa kata netizen? Yang ada nanti mindset mereka malah menjalar dan berkembang sehingga menghasilkan opini baru." Imbuhnya lagi.


"Oh iya, istriku memang cerdas." Arka mencium puncak kepala Kalista, lalu memeluknya.


"Sini...!" Kalista memanggil Andy untuk duduk di hadapannya.


Andy terdiam sejenak, kemudian menatap Arka.


"Boleh! Yakali lu tampil dengan wajah lebam." Ujar Arka.


Sama seperti Arka, kini biru-biru lebam di wajah Andy pun sedang di tutupi oleh concealer, tangan Kalista sangat ahli mengaplikasikan conclear di wajah Andy sehingga wajah itu terlihat sangat alami, sama sekali tidak terlihat dempulan menggunakan concealer.


"Di make up?" Oma tiba-tiba masuk dan melihat Andy yang mukanya sedang di cover oleh concealer.


"Menutupi luka lebam." Jawab Kalista.


"Oh iya." Oma tidak banyak bertanya, karena Oma juga cukup paham dan percaya terhadap apapun yang di lakukan Kalista.


Mereka semua keluar dari kamar Kalista, karena mereka akan menggabungkan beberapa potong rekaman cctv untuk di jadikan bukti itu. Beberapa orang tengah sibuk menyiapkan berbagai macam keperluan yang di perlukan untuk jumpa pers. Bahkan tukang kebun saja sampai ambil bagian, menata beberapa kursi dan meja di halaman rumah Anggara.


"Mau ngapain?" Arka bertanya karena melihat Kalista sedang memilih-milih dress rumahan. Berkali-kali Kalista mencoba menimang-nimang mau pakai yang warna nude atau warna mocca.


"Di pakai lah!" Jawabnya singkat, lalu dia meminta bantuan Arka untuk menggantikan pakaiannya.


"Kamu nggak mandi?" Tanyanya lagi, tangannya masih sibuk memakaikan dress tersebut ke tubuh Kalista.


"Malas, dingin tahu! Ini kan masih pagi." Kata Kalista. Lalu dia meminta di gendong dan di dudukkan di depan cermin rias.


Kalista sibuk merias wajahnya. Tidak banyak mengaplikasikan make up di wajahnya, sederhana saja, hanya memakai cushion tipis, bedak tabur sedikit, mengisi alis biar terlihat lebih penuh dan berisi, blush on berwarna peach membuat pipinya terlihat fresh. Eyeshadow berwarna nude menghiasai kelopak matanya, penambahan mascara semakin membuat matanya terlihat cantik dan lebih besar. Tidak lupa mengoleskan lipmatte berwarna nude.

__ADS_1


Muka bantal itu kini telah berubah menjadi wajah sang bidadari. Arka benar-benar takjub sama istrinya, tidak mandi, tidak cuci muka, tidak gosok gigi, langsung ganti baju begitu saja lalu men-touch up make up sedikit, tiba-tiba wajahnya sudah berubah menjadi sangat cantik alami dan fresh.


"Mau kemana." Tanya Arka heran, karena hari ini Arka akan mengadakan jumpa pers, sedangkan Kalista dengan tampilannya saat ini terlihat seperti akan pergi.


"Nemanin kamu jumpa pers lah!" Ucapnya genit, sebelah matanya berkedip.


"Kok? Jangan ... Nanti kamu kan..," Kalista langsung menutup mulut Arka. Dan bahkan Kalista memberikan Arka kecupan singkat.


"Haduh!" Mata Evan melotot sempurna, ketika masuk ke kamar Arka. Arka dan Kalista sedang bercumbu mesra, raut wajah bahagia terpancar begitu kuat.


"Biar jumpa pers nya lancar, bibir manis sang istri menjadi obat support yang manjur." Ledek pak Anggara dengan menahan tawanya.


Wajah kalista bersemu merah karena ke gep sedang mencumbu Arka, siapapun yang melihatnya barusan, pasti akan langsung mengetahui bahwa cumbuan itu kemauan Kalista. Karena Kalista yang lebih dominan.


"Biasa pengantin baru." Oma juga malah ikutan ketawa sekarang.


"Bermesraan kaya gini memang harus sering-sering di lakukan di masa kehamilan, soalnya kalau Dede bayi sudah lahir bakalan susah minta jatah hahaha." Ledek Riko yang langsung di sambut gelak tawa oleh yang lain.


"Bukan gue yang minta!" Kata Arka, tersenyum menyeringai sambil menatap manik mata istrinya. Tatapan Arka disambut pelototan oleh Kalista.


"Iya tahu kok, Kalista yang minta, karena tadi sangat terlihat Kalista yang lebih dominan." Satu kalimat dari Andy ini semakin membuat wajah Kalista merah merona.


Kalista menutup wajahnya, kemudian memeluk Arka yang sedang berdiri di hadapannya. Kalista yang notabene nya sedang duduk, otomatis wajahnya menempel di perut Arka.


"Udah nggak usah malu, telanjur mereka lihat kok." Arka berusaha menenangkan Kalista, mengusap pelan rambutnya, lalu mencium puncak kepalanya.


"Iya sih ngapain malu ya? Toh kita udah halal ini kan." Wajah Kalista mendongak menatap manik mata Arka.


"Iya dong! Pintar nih istriku." Arka menjawil hidung Kalista.


"Baru kali ini gue lihat orang yang lagi punya masalah besar tapi masih sesantai ini, padahal di luar gerbang wartawan sedang menunggu." Ucap Riko.


"Gimana nggak santai coba? Bukti sudah lengkap, dan yang paling penting ambil bagian dalam masalah ini adalah istriku tercinta, berkat saran-saran dan ide luar biasa bin ajaib darinya juga." Ucap Arka, beberapa kecupan mendarat begitu saja di pipi dan dahi kalsita.


Arka benar-benar sangat beruntung memiliki Kalista, selain cantik dia juga pintar dan cerdas. Kesetiannya sama sekali tidak di ragukan lagi.


"Oma, beberapa perawat dan dokter yang Oma saranin lebih baik di cancel saja. Karena Kalista cukup khawatir dengan keberadaan mereka, apalagi wartawan sedang berkumpul di depan. Kalista takut ada pemberitaan yang diluar dugaan, atau lebih tepatnya kalsita takut masalah kaki Kalista ter-ekpose dan semakin menambah buruk citra Arka di mata masyarakat." Kalista memohon pada Oma, walau sebenarnya kaki Kalista memang harus mendapatkan perawatan medis yang serius.


"Iya nak." Oma tersenyum simpul, kemudian menyuruh pelayan untuk menghubungi dokter dan perawat itu. Untung saja Oma tidak memberitahukan mereka perihal Oma meminta mereka datang tuh untuk merawat siapa. Kalau sampai mereka tahu, bisa jadi masalah ini akan ter-ekpose.


Arka menggenggam erat jari jemari Kalista, telapak tangan hangat itu mampu mengalirkan energi positif. Bahkan saat ini Arka makin merasa di cintai oleh Kalista.


"Tuan berita baru." Satu pelayan wanita masuk tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, air matanya berderai begitu saja membasahi pipinya.


"Ada apa bi?" Tanya Kalista.


"Berita baru!" Ucapnya sambil tersisak-isak berusaha menahan tangisnya.


Pelayan itu merupakan pelayan yang paling dekat dengan Kalista, bisa di katakan bahwa pelayan itulah yang selalu menyiapkan berbagai macam kebutuhan Kalista, kadang-kadang jadi teman ngobrol ketika Kalista sedang bosan di rumah sendirian, karena pak Anggara sering sekali keluar rumah dengan urusan bisnis, dan Oma berkumpul senam ataupun arisan dengan para oma-oma tetangga.


Semuanya tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing, mencari berita terbaru mengenai Arka.


"Wanita gila! Ya ampun hilang akal, akhlak, dan moralnya." Ucap pak Anggara dengan lantang.


"Terlalu bodoh! Demi sebuah perhatian dan mengemis cinta rela di nodai oleh pria lain, dan di posting begitu saja tanpa sensor keculai wajah si prianya. Tubuhnya saat ini sedang jadi konsumsi publik, laki-laki waras mana mau sama wanita seperti itu." Manik mata Kalista menatap layar ponsel dengan tatapan menjijikan.


"Sudah bi nggak apa-apa, lagian bibi juga tahu kan Arka semalaman ada di rumah ini, sama sekali tidak keluar satu langkah pun. Masa iya Arka melakukan hal bejat, tidak bermoral dan tidak senonoh seperti itu."


Pelayan mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar Kalista.


"Cepatan jumpa pers deh! Oma udah nggak tahan lagi sama kelakuan si wanita rendahan itu." Sangat terlihat jelas raut wajah Oma terlihat sangat kesal, jengkel, dan marah. Semuanya bergejolak campur aduk.


"Rekaman cctv semuanya sudah siap?" Tanya Kalista.


"100% siap." Evan dan Riko mengacungkan ibu jarinya, soal video menjadi urusannya berdua selama jumpa pers ini berlangsung.


"Nanti ketika jumpa pers, kamu bilang hubungan kita selama ini baik-baik saja, tidak sedang bertengkar ataupun semacamnya. Kamu pergi ke club malam, karena salah satu temanmu dari Amerika datang ke Indonesia dan meminta bertemu di club malam. Kamu sengaja tidak mengabari aku, karena kamu pikir pertemuan ini tidak akan lama. Tetapi temanmu itu tidak kunjung datang, kamu menunggu di club malam hingga satu jam. Karena kamu berpikir mungkin kejebak macet, atau ada kendala di jalan. Sudah berkali-kali mencoba menghubunginya, namun ponselnya tidak aktif. Tidak lama setelah itu ponsel kamu lowbat dan mati. Tiba-tiba satu pelayan club malam datang membawakan minuman, kamu langsung meneguknya karena kamu kira itu air lemon pesanan kamu, kamu hanya meneguk sedikit tetapi kepala kamu mulai pusing dan pandangannya kabur. Datanglah Ashila yang berusaha menggoda dan mencium kamu, kamu mendorongnya hingga terjatuh kemudian Ashila pergi meninggalkan kamu. Tetapi saat itu kamu sedang tidak sabar, tidak lama kemudian datang Andy yang menjemput kamu." Ucapannya terjeda sejenak, setelah berbicara panjang lebar Kalista perlu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisinya kembali.


Oma, pak Anggara, Arka, Andy, Evan dan Riko masih setia mendengarkan, mulut-mulut mereka terkunci rapat. Tidak ada satupun yang menyela ucapan Kalista ataupun berkomentar.


"Andy datang mencari kamu atas suruhan aku dan ayah, karena aku sangat mengkhawatirkanmu, tidak ada kabar darimu, dan ponsel kamu pun tidak bisa di hubungi, ya karena itu dia tadi lowbat. Setelahnya baru deh tunjukan rekaman cctv yang telah di edit, dan beberapa rekaman suara ketika dia menelpon." Imbuhnya lagi.


"Ya ampun detail banget, rapi dan sangat terencana." Pak Anggara menatap Kalista dengan takjub, menantunya ini benar-benar merupakan wanita yang sangat cerdas.


"Semoga semuanya berjalan lancar." Oma berdoa dan mengangkat kedua tangannya.


"Amiin." Ucap mereka semua kompak bersamaan.


"Ayo sekarang sudah waktunya!" Ajak pak Anggara.


Kalista berusaha memakai flatshoes untuk alas kakinya. Dan berusaha berjalan senormal mungkin.


"Kamu istirahat saja disini sayang! Jangan kemana-mana!" Arka berbalik badan berusaha mendudukkan Kalista di tepi ranjang.


"Mana bisa cuma istirahat saja, kamu pikir media akan percaya hubungan kita baik-baik saja kalau aku tidak ikut serta dalam jumpa pers itu? Tenang saja, aku kuat menahan sakit di kaki ini, dan aku pun tidak akan membiarkan mereka mengetahui kondisi kaki aku." Kalista tersenyum sumringah berusaha meyakinkan mereka semua, terutama Oma dan pak Anggara.


"Yakin kamu kuat nak?" Oma memastikan kembali, wajahnya terlihat sangat mencemaskan Kalista.


Setelah beberapa menit Kalista berusaha mencoba menyakinkan Oma dan Arka, akhirnya mereka mengizinkan Kalista untuk turut hadir dan menemani Arka selama jumpa pers ini berlangsung. Arka berjalan dengan sangat tegap sambil menggandeng mesra tangan Kalista.


Semuanya sudah menduduki kursi yang telah di persiapkan untuk jumpa pers ini. Kalista duduk di sebelah Arka, tangannya masih menggenggam erat jari jemari Arka, berusaha memberikan energi positif dan selalu mensupportnya.


Arka memberikan perintah kepada pak satpam untuk membuka pintu gerbang dan membiarkan para wartawan itu masuk.


"Semuanya harap tenang! Tidak boleh ada keributan disini." Ucap Evan tegas melalui microphone."


"Disini saya tidak akan berbicara bertele-tele dan akan langsung ke intinya saja. Saya yakin, kalian semuanya pasti sudah tahu dan bisa menebak perihal apa yang akan saya bicarakan. Sehingga saya mengundang dan mengumpulkan kalian semua. Semuanya akan anak saya jelaskan dengan sejelas-jelasnys, agar tidak ada pemberitaan yang simpang siur." Ucap pak Anggara membuka pembicaraan dalam jumpa pers ini.


Para wartawan dengan kameranya sibuk mengambil gambar CEO Anggara yang sedang hangat menjadi perbincangan publik, mulai dari rekan bisnisnya hingga masyarakat biasa pun memperbincangkannya.

__ADS_1


"Pertama, kalian sudah tahu jelaskan mengenai pemberitaan yang sedang hot itu? Nama saya tercoreng begitu saja, bahkan sampai saham di perusahaan anjlok sangat drastis. Dan beberapa kerjasama bisnis pun dibatalkan begitu saja. Mengenai foto yang beredar dan menjadi konsumsi publik itu memang benar adanya." Ucap Arka dengan mimik wajah sangat serius, mendengar kalimat Arka yang membenarkan foto itu semua wartawan langsung ricuh, dan bersorak riuh.


"Tetapi, dalam foto itu saya di jebak. Saya tidak sadar, dan saya berada dalam pengaruh minuman alkohol." Kata Arka.


Salah satu dari wartawan itu mengacungkan tangannya dan mohon izin untuk bertanya.


"Lalu untuk apa bapak Arka datang ke club malam?" Tanyanya.


"Saya datang ke club malam, karena ada teman saya yang datang dari Amerika dan meminta saya bertemu di club malam. Namun teman saya itu tidak datang karena perjalannya tertunda, cuaca disana buruk dan sedang terjadi hujan badai. Saya berusaha menunggunya sampai satu jam, namun ia tak kunjung datang, berkali-kali menghubungi ponselnya juga tidak aktif. Keesokan harinya teman saya mengabari bahwa dia tidak jadi take off karena cuaca buruk, dan ponselnya tidak ada signal sama sekali."


"Benarkan untuk bertemu teman atau karena sedang ada masalah dengan istri?" Waetawan yang lain pun ikut bertanya.


Arka menatap Kalista sekilas, memang benar dugaan Kalista, wartawan itu pasti akan mengira hubungan Arka dan Kalista sedang renggang.


"Saya dan istri saya baik-baik saja, tidak dalam kondisi bertengkar, cekcok, atau salah paham. Kehidupan rumah tangga saya selalu rukun, damai, adem ayem, dan penuh cinta." Arka mengecup puncak kepala Kalista.


"Saya masih tidak paham, maksud bapak Arka di jebak itu seperti apa?"


Evan dan Riko langsung memutar rekaman cctv di club malam itu. Beberapa wartawan langsung sibuk mengambil gambar video itu.


"Ketika pelayan club malam memberikan minuman, mengapa bapak ambil? Padahal jelas-jelas pak Arka ini tidak memesannya?" Wartawan itu bertanya karena masih merasa bingung, dan menganggap Arka sedang beralibi.


"Saya tidak bilang saya tidak memesan minuman, saya pesan minum air lemon."


"Apakah bapak tidak bisa membedakan mana alkohol dan lemon?" Bertanya dengan muka yang nyeleneh, senyum menyeringai dan tatapan matanya mengejek.


"Kalian pikir ketika sedang berada club malam tidak akan ada bau alkohol? Kebodohan saya saat di club malam itu adalah tidak mengecek kembali minuman yang pelayan bawakan untuk saya. Karena di club malam itu bau-bau alkohol sangat menyengat dan itu normal, saya mengira bukan dari gelas yang saya pegang, melainkan aroma-aroma dari orang yang mabuk dan sedang berjoget di club malam itu. Jadi saya tidak berpikir akan ada orang yang menjebak saya. Saya meneguknya sedikit tetapi kelapa saya langsung pusing dan pandangan mulai kabur, entah itu alkohol jenis apa yang saya minum." Ucap Arka dengan sangat lancar.


"Lalu mengenai wanita yang bernama Ashila itu?"


"Ashila itu sebenarnya teman saya sewaktu SMA, sekitar beberapa hari yang lalu saya pergi babymoon bersama istri saya. Nah di Bali lah saya bertemu dengan Ashila secara tidak sengaja, setelah bertahun-tahun tidak ketemu. Ashila itu tipikal wanita apa yang dia mau harus dia dapatkan. Di depan istri saya saja, Ashila berani menggoda saya. Benar-benar menjijikan."


"Pak Anggara, apakah bapak tidak tahu ketika anak Anda pergi club malam?"


"Saya tidak tahu! Maka dari itu saya menyuruh Andy selaku asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu untuk mencarinya. Karena saya khawatir dengannya, terlebih lagi istrinya juga mencemaskannya." Pak Anggara berbicara dengan intonasi yang enak di dengar.


"Mengapa pak Arka tidak memberitahukan pak Anggara dan istri?"


"Saya tidak memberitahukan ayah karena saya berpikir pertemuan ini tidak akan lama. Kalau untuk istri, saya memang sengaja tidak memberitahukannya. Karena tahu sendiri lah wanita itu sensitif, nanti ketika saya bilang akan pergi ke club malam pikirannya langsung menjalar kemana-mana, pasti di pikirannya wanita dan perselingkuhan. Jadi saya berniat memberitahukannya ketika pulangnya saja. Lagi pula istri saya sedang mengandung, saya tidak mau membuatnya merasa khawatir, cemas, dan lain sebagainya."


"Nah untuk lebih jelasnya, silahkan kalian melihat cuplikan tayangan berikut." Ujar pak Anggara, dan langsung memberikan kode kepada Evan dan Riko.


Evan dan Riko langsung menayangkan rekaman cctv itu, mulai dari yang di club malam, sampai rekaman suara ketika Ashila berkali-kal menelpon Arka. Tidak lupa beberapa kata-kata ancaman yang di lontarkan oleh Ashila pada Arka. Semua watawan itu menyaksikan dengan mata membulat sempurna, bagaimana bisa seorang wanita berkelakuan seperti itu. Bahkan mereka tidak henti-hentinya berlomba-lomba mengambil gambar dari rekaman cctv berikut.


"Dan itu rekaman tadi malam ketika saya sedang makan malam bersama istri, Oma, ayah, dan para sahabat saya. Saya sama sekai tidak pergi kemana-mana dan benar-benar hanya menghabiskan waktu di rumah saja. Rekaman cctv itu full sampai pagi kok. Jadi, untuk pemberitaan tadi pagi yang mengatakan saya berusaha memperkosa Ashila itu tidak benar! Itu hanya rekayasa Ashila saking menginginkan saya menikahinya. Lagipula, saya mempunyai istri yang sangat cantik, cerdas, pintar, perhatian, pengertian, jago masak, multitalenta banget deh. Buat apa sih saya mencari wanita lain? Saya sebenarnya merasa sedih, benar-benar sedih dan kecewa. Seharusnya masa-masa kehamilan seperti ini tuh diwarnai kebahagiaan, bukan permasalahan seperti ini. Wahai istriku, maafkan aku untuk segala hal yang telah mengganggu ketenangan jiwamu dan janin anak kita di perutmu." Sebutir air bening lolos dari mata Arka, beberapa wartawan tentunya tidak ingin melewatkan momen ini, mereka mengambil gambar tepat ketika sebutir air mata itu membahasi pipi Arka.


Kalista, bangun dan langsung menyeka sisa air mata itu, memeluk Arka lalu mencium pipinya. Oma yang berada di samping Kalista benar-benar merasa bahwa Kalista tuh memang support system yang sangat luar biasa untuk Arka.


"Bagaimana tanggapan ibu Kalista mengenai kasus ini?" Tanya salah satu wartawan.


Kalista langsung berdiri untuk menjawab pertanyaan berikut, sementara Arka duduk di kursinya karena yang sekarang di tanya adalah Kalista.


"Sebagai sesama wanita saya justru merasa malu dengan apa yang telah Ashila lakukan. Datang ke club malam, lalu diam-diam menjebak suami saya. Dari rekaman cctv yang telah kalian tonton tadi, kalian lihat dengan jelaskan? Bahwa suami saya sudah melakukan perlawanan dengan mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Lalu apa yang terjadi? Seorang wanita yang di dorong hingga terjatuh, normalnya pasti marah dong? Ini dia malah tersenyum menyeringai, dari senyumannya ini saja saya sudah bisa menebak bahwa ini memang telah di rencanakannya oleh Ashila." Berkata dengan tenang, ucapannya juga sangat lembut dan penuh kehati-hatian.


"Mengenai pemberitaan tadi pagi, saya merasa benar-benar sedih. Terawat sangat sedih, bagaimana mungkin Ashila kehilangan moral hingga berbuat hal seperti itu? Siapa pria yang sedang menjamah tubuhnya? Dimana akal sehat dia ketika merekam aksi kejadian yang disebutnya tindakan pemerkosaan? Sedih sekali, tubuh mulus itu kini tengah menjadi konsumsi publik. Tubuh yang seharusnya hanya boleh di perlihatkan kepada suaminya kelak. Saya sangat mengkhawatirkan masa depannya Ashila, saya takut tidak akan ada pria yang mau menjadi suaminya nanti." Wajah Kalista menyendu, karena Kalista memang benar-benar merasa sedih. Ashila seharusnya tidak berbuat hal seperti itu.


Kalista masih berdiri, karena ada beberapa wartawan yang masih ingin bertanya kepada dirinya. Namun kakinya itu sudah terasa sangat sakit, bahkan mungkin di balik balutan dress luka itu tengah mengeluarkan nanah.


"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kalian semua, bolehkah saya duduk? Semenjak kehamilan saya memasuki usia 5 bulan, saya tidak kuat berdiri lama, kaki saya akan semakin membengkak jika saya terus-terusan berdiri." Wajah cantik itu terus saja tersenyum, walaupun kakinya sedang kesakitan. Para wartawan memperbolehkannya. Memangnya siapa wartawan itu? Jelas-jelas Kalista ini adalah istrinya Arka.


"Untuk semua kejadian ini, apakah ibu kalinya percaya begitu saja dengan pak Arka?"


"Sangat percaya 100%, selain saya berkomitmen dengannya, saya juga memberikannya kepercayaan. Saya percaya bahwa suami saya tidak akan melakukan hal seperti itu, suami saya sangat-sangat mencintai saya, begitu juga dengan saya. Dari semenjak hari pernikahan hingga detik ini, rasa cinta dan sayang saya padanya tidak pernah berkurang sedikitpun, yang ada juga malah bertambah dan semakin bertambah. Lagipula, saya merasa bersyukur bertemu dengan Ashila di Bali. Walupun pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja, tetapi saya dapat melihat dan menilai tabiat Ashila. Seorang perempuan yang sangat ambisius merebut suami saya. Tapi saya tidak akan membiarkannya, saya juga tidak akan membagi suami saya dengan siapapun. Suami saya hak milik saya, orang lain tidak boleh menyentuhnya kecuali saya." Kalista tersenyum sangat manis.


Wanita dengan balutan dress rumahan dengan panjang semata kaki itu, berbicara dengan sangat lancar. Wajahnya cantik dengan make up natural, malahan sampai terlihat flawles.


"Maaf, boleh tolong di jelaskan bagaimana caranya pak Andy menemukan pak Arka di club malam."


"Cukup mudah, karena saya memang memasang GPS di mobil yang di gunakan oleh atasan saya ini." Ucap Andy lantang tanpa ragu.


"Memasang GPS di mobil seorang CEO bukankah itu perilaku yang tidak sopan?"


"Sebenarnya itu mobil kantor, bukan mobil pribadi dari bapak Arka. Hari itu bapak Arka tidak membawa mobil ke kantor, karena biasanya kemana-mana selalu menggunakan jasa sopir. Karena niatnya menang akan bertemu dengan temannya yang dari Amerika itu, akhirnya bapak CEO ini menggunakan mobil kantor."


"Oma mengapa dari tadi hanya berdiam diri saja? Apakah Oma tidak ingin menyampaikan beberapa patah kata?"


"Saya percaya sepenuhnya dengan cucu saya. Badai seperti apapun akan dilaluinya dengan tenang, karena cucu saya mempunyai support system yang luar biasa." Oma hanya mengucapkan kalimat itu saja, kemudian duduk kembali.


"Jumpa pers telah usia! Terimakasih kepada kalian semua yang telah turut hadir di sini. Mengenai rekaman cctv dan rekaman suara telah nak Evan dan nak Riko unggah diakun media sosial. Terimakasih." Ucap pak Anggara.


Kemudian mereka semua masuk kedalam rumah, tetapi langkah Kalista tiba-tiba terhenti ketika sudah menutup pintu. Tubuhnya limbung dan terjatuh begitu saja di lantai. Wajah cantiknya berubah seperti menahan sakit.


Tanpa banyak omong, Arka langsung menggendong tubuh Kalista. Membaringkannya di ranjang. Air mata berjatuhan di pipi Kalista. Oma mengambil kotak obat dan mengobati kaki Kalista yang kembali mengeluarkan darah.


Arka juga menangis, selain dirinyalah penyebab kaki Kalista terluka. Kini dirinya kembali yang menyebabkan istrinya kesakitan karena memberikan klarifikasi dengan berdiri lumayan lama.


Beberapa menit setelah jumpa pers, nama Arka kembali membaik. Namun kini sebaliknya, nama Ashila lah yang sedang di perbincangkan. Bahkan banyak sekali komentar-komentar negatif yang bersifat hujatan. Entahlah keadaan Ashila sekarang bagaimana? Yang jelas namanya akan hancur begitu saja.


*****


"Arrrrrrrggggggghhhhh sial, baru kemarin gue merasa bahagia menyaksikan si Arka hancur. Kini namanya malah mulai membaik." Pria tua sedang mengamuk dan melemparkan berbagai macam barang-barang di rumahnya, tangannya berkali-kali menonjok tembok.


"Perlahan tapi pasti gue akan hancurin lu Arka! Tunggu saja, bukan hanya lu tapi Anggara dan istri lu juga!" Berbicara sendiri dengan sangat keras, bahkan suaranya sangat menggema di ruangannya. Benar-benar seperti orang gila.


----------------------------------🌻🌻


Kemarin nggak sempat nulisπŸ™ sekarang nulisnya agak panjangan nih😊


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❀ tambahkan favorit πŸ™πŸ€—


Find Me On Instagram : @halloimas13❀


__ADS_2