
Jarum jam menunjukan angka 20:00 WIB, suara klakson terdengar dari halaman rumah, Oma segera membuka pintu dan menghampiri Arka "Istri kamu kayanya hamil deh!" Oma berbicara serius pada Arka.
"Kenapa emang?" Arka mengendurkan dasinya dan membuka jas kerjanya.
"Gelagatnya agak aneh, seperti wanita hamil."
"Kalista hamil?" Pak Anggara baru tiba dan shock sekaligus bahagia mendengar Kalista hamil.
"Belum tahu yah, jangan berisik." Arka menempelkan telunjuk ke bibirnya. "Selama ini Arka juga mengira istri Arka hamil, tapi kan belum tahu juga hamil apa nggak nya, Arka mohon banget sama Oma dan ayah jangan nanya-nanya seputar kehamilan ya pada Kalista, takutnya dia belum hamil nanti yang ada malah jadi beban buat dia."
"Iya sayang, Oma ngerti."
"Ini bawa apa?" Pak Anggara melihat bungkusan plastik di tangan Arka.
"Salad buah sama kebab, istriku tercinta tadi sore chatting minta di bawain, lagi pengen makan ini katanya."
"Tuh kan.." Oma akan berkata tetapi Arka kembali menempelkan telunjuk ke bibirnya, mengisyaratkan agar Oma tidak berbicara tentang kehamilan.
"Istri Arka mana?" Arka celingak-celinguk mencari istrinya di ruang tamu, biasnya setiap Arka pulang kerja Kalista selalu menyambutnya dengan senyum mengembang di pipinya.
"Lagi tidur, udah 3 jam loh. Tapi Oma nggak berani bangunin, nggak tega."
"Yaudah biarin aja, kecapean kali." Arka merebahkan dirinya di sofa, pak Anggara segera pergi akan membersihkan dirinya.
"Tidur di kamar sana!" Oma menepuk lengan Arka yang sedang rebahan.
"Kalista kalau lagi tidur telinganya sensitif, kalau dengar suara pintu terbuka pelan aja langsung bangun. Arka kasian takutnya dia lagi kecapean, jadi biarin aja dia tidur." Arka memejamkan matanya perlahan.
Oma pergi ke dapur, memanaskan makanan untuk makan malam. Bibi kerjanya dari pagi sampai sore, jadi makanan untuk makan malam sudah di masak dari sore. Seperti biasa, Oma akan memanaskan kembali makanan tersebut, agar hangat ketika di sajikan.
Kalista mengerjapkan matanya perlahan, melirik arloji di tangannya "Udah malam, suami aku belum pulang? Tumben amat." Kalista mengambil handuk, dan masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual bersih-bersih ya. Tidak lupa Kalista pipisnya masih di tampung, kemudian mencelupkan tespack. Tadi sore sebelum kantuk menyerang, Kalista sudah mencoba tespack yang ketiga dan hasilnya tetap garis dua.
Setelah 20 menit berlalu, akhirnya Kalista menyelesaikan ritual bersih-bersihnya itu. Kalista mengambil tespack, dan tetap garis dua. "4 tespack dengan berbagai macam merk sudah di coba, dan hasilnya sama semua. Aku hamil." Kalista mengusap perutnya yang masih rata. "Besok coba periksa deh, kalau udah fiks hamil baru kasih tahu pak suamiku."
Kalista memakai piyama tidur, duduk bercermin di depan meja rias. Menatap dirinya melalui pantulan cermin, kemudian mulai menggunakan make up. Padahal ini sudah malam, tapi Kalista masih ingin bermake-up. "Apa mungkin ini bawaan ibu hamil?" Kalista bertanya dalam hatinya, tersenyum melihat dirinya sendiri di cermin, lalu memoleskan lipstik di bibirnya.
Berjalan sambil celingak-celinguk, menuruni anak tangga. Mata Kalista masih belum menemukan objek yang ia cari.
"Ayah, suami aku belum pulang?" Kalista menghampiri pak Anggara dan mencium punggung tangannya.
"Sudah, lagi tiduran di sofa ruang tamu." Tangan pak Anggara menunjuk ke ruang tamu.
Kalista berjalan ke ruang tamu, dilihatnya suaminya itu tengah tertidur di sofa. Kalista menghampirinya, sementara itu pak Anggara dan Oma Weny sedang mengintip. Selama ini Arka dan Kalista kan jarang sekali ada di kediaman pak Anggara, mereka ingin tahu semesra apa sih Kalista dan Arka.
Kalista melepaskan dasi yang sudah mengendur itu, menepuk-nepuk pipi Arka pelan. "Sayang bangun." Arka mengerjapkan matanya, bangun dan langsung memeluk Kalista.
Arka mengendus-endus rambut dan leher Kalista "Wangi banget sayang." Memeluknya dengan erat.
"Ayo mandi dulu!" Kalista mengambil tas kerja Arka, dan akan membawanya menuju kamar.
"Mandiin tapi ya!" Arka masih tetap duduk di sofa.
"Udah gede mandi sendiri lah! Ayo dong cepetan!" Kalista menarik tangan Arka.
"Cium dulu!"
Dengan wajah jengah Kalista berjalan mendekati Arka, "Cup." Mencium pipi kiri kanan, kening, dagu, dan bahkan mata Arka. "Bibirnya!" Pinta Arka manja, "Lempar nih." Kalista melotot dan mengangkat tas yang sedang di pegangnya.
__ADS_1
Kalista menarik paksa Arka, mereka berjalan menuju kamar. Arka menggandeng Kalista dan memeluknya erat, mereka berjalan sambil berpelukan. Ya begitu lah Arka, kalau di kantor tegas dan dingin, kalau di hadapan Kalista manjanya masyaAllah nggak ketulungan, melebihi bocah usia 5 tahun.
Diam-diam Oma dan pak Anggara tersenyum, melihat mesranya Kalista dan Arka. "Alhamdulilah, cucuku sekarang sudah berubah, sudah bisa tersenyum, semoga mereka bahagia sampai maut memisahkan." Oma berujar, pak Anggara mengaminkan sambil tersenyum.
"Aku mau mandi, kalau kamu bukain baju aku!" Arka langsung tiduran di ranjangnya.
"Iya bawel!" Jari jemari Kalista dengan sangat lincah langsung melepaskan kaitan-kaitan kancing baju kemeja yang masih menempel di badan Arka.
Arka memperhatikan wajah cantik istrinya itu, semakin di tatap malah semakin cantik dan mempesona "Sayang.." Arka membelai rambut Kalista. "Nggak ada niatan gitu? Sebelum aku mandi." Senyum licik sudah terpancar di wajah Arka. Kalista mencubit pelan pinggang Arka "Nggak mau! Kamu bau keringat." Arka mengedipkan sebelah matanya "Oke, tunggu aku setelah mandi." Arka langsung berdiri mengambil handuk, dan masuk ke kamar mandi.
Kalista memasukkan cucian kotor ke dalam keranjang, lalu Kalista menyiapkan stelan kerja Arka, untuk besok. Kalista sibuk beres-beres di kamarnya. Arka sudah selesai mandi, Kalista diam-diam menatap takjub suaminya itu, suaminya sangat tampan dengan pakaian santai, celana pendek dan kaos putih.
"Iya tahu aku ganteng! Banggakan kamu punya suami kaya aku." Kalista mendelik kesal, Arka malah terkekeh sambil memeluknya dari belakang.
Oma dan pak Anggara sudah siap akan makan malam, Arka dan Kalista masih belum turun juga. Oma berniat akan memanggil Arka dan Kalista, celah pintu kamar mereka terbuka sedikit, Oma lihat Kalista sedang mengeringkan rambut Arka pakai hairdryer. Mereka tampak harmonis sekali, sehingga Oma tidak berani mengganggu mereka berdua.
Tidak berselang lama, Arka dan Kalista turun. Arka bergabung dengan Oma dan pak Anggara di meja makan. Sedangkan Kalista mengambil salad buah dan kebab, lalu pergi ke ruang tv. Awalnya Arka menawarkan dirinya untuk menemani Kalista makan salad buah, tapi Kalista menolak, biarkan saja mereka makan dengan tenang, Kalista tidak mau mual di perutnya mengganggu acara makan malam mereka.
Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tv. Menonton sambil bercanda ria. Arka tiduran dengan paha Kalista sebagai bantal nya.
"Yah, kapan mau nikah lagi?" Tiba-tiba Arka bertanya seperti pada pak Anggara.
"Usia ayah sudah lanjut, ngapain nikah lagi? Tua bangka kaya gini nikah lagi? Malu-maluin aja." Jawab pak Anggara sambil terbahak-bahak.
"Ya nggak apa-apa yah, nikah itu ternyata enak! Arka aja nyesel kenapa nggak nikah dari dulu ya?" Arka tersenyum mengingat awal-awal pernikahannya dengan Kalista.
"Kalian sih enak masih muda." Sarkas pak Anggara.
"Emang kalau udah tua kenapa? Nikah aja lah! Tapi nggak usah punya anak lagi, nanti repot. Enak loh yah, tidur ada yang nemenin."
"Gimana nggak mikirnya enak-enak terus coba? Lihat ini leher Arka aja bonyok soalnya di enakin terus sama istriku tercinta." Arka terkekeh, Kalista melotot dan mencubit pinggang Arka. Arka meringis kesakitan, kalista langsung beranjak ke kamarnya.
"Nah loh istrimu marah!" Oma Weny menoyor kepala Arka.
"Kasian, tidur di sofa ya kamu nak." Pak Anggara meledek Arka.
Arka menghampiri Kalista di kamar, Kalista sedang meringkuk seluruh badannya di tutupi oleh selimut tebal. Arka pun tertidur karena sudah mengantuk.
Mata Kalista terbuka perlahan, sunyi senyap hanya terdengar bunyi jarum jam yang terus menerus berdenting. Kalista meliriknya, arloji di dinding menunjukan angka 01:00 tengah malam.
Kalista berjalan mengendap-endap, hati-hati sekali agar Arka tidak terbangun. Kalista menuruni anak tangga menuju dapur, mengambil seloyang pudding cokelat dalam kulkas. Memakannya dengan lahap dan menghabiskannya cepat sekali.
"Ngapain? Kaget aku, istriku nggak ada di kamar." Dengan masih mengucek matanya yang terasa sangat ngantuk itu Arka bertanya pada istrinya.
"Laper." Kata Kalista yang sedang memakan sesendok pudding cokelat terakhirnya.
Kalista menyimpan loyang pudding, mencucinya lalu balik lagi ke kamar. Kalista langsung menyuruh Arka untuk segera terlelap. Mereka berdua pun terlelap bersama mimpi.
Pagi ini terasa sangat dingin, Kalista sebenarnya malas untuk bangun. Tetapi karena Kalista ingin menjadi istri yang baik, Kalista langsung membangunkan Arka. Kemudian turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Setelah selesai mandi Arka langsung berpakaian, menata rambutnya kemudian, memakai sepatu pantofel dan membawa tasnya turun ke bawah.
Kalista langsung mengambil alih dasi yang di pegang oleh Arka, melilitkan ke lehernya, dan merapikan kerahnya.
"Duh enaknya punya istri." Pak Anggara tersenyum, begitu pula dengan Oma.
Mereka semua memakan sarapan pagi yang telah di sediakan oleh Kalista. Selesai menyantap sarapan Arka dan pak Anggara masing-masing berangkat kerja. Arka ke kantor, sedangkan pak Anggara sedang mengurus bisnisnya yang lain.
__ADS_1
Setelah kepergian Arka, Kalista langsung mandi. Berpakaian kemudian memoleskan make up ke wajahnya. Hari ini Kalista minta di jemput oleh dokter Rian untuk bertemu dengan dokter Fani.
"Oma, aku berangkat dulu ya." Kalista menyalami tangan Oma dan mencium pipinya.
"Mau kemana?"
"Ketemu calon istrinya pak dokter."
Mobil dokter Rian telah terparkir di depan rumah megah pak Anggara, Oma mengantar Kalista sampai ke depan, dan menitipkan Kalista kepada dokter Rian. Dokter Rian melajukan mobilnya ke RS, selama di dalam mobil dokter Rian bawel sekali, dari mulutnya itu keluar banyak sekali pertanyaan.
Sesampainya di rs Kalista langsung periksa kepada dokter Fani. Dokter Rian yang bawel dan kepo itu, terus menerus membuntuti Kalista sampai ikut masuk ke ruangan dokter Fani.
"Konsultasi kehamilan nih?" Tanya dokter Fani yang sedang duduk berhadapan dengan Kalista.
Dokter Fani merupakan dokter kandungan, jadi ruangannya pun banyak sekali poster-poster ibu hamil lengkap dengan segala informasinya.
Kalista mengambil 4 tespack yang sudah bergaris 2 itu dan meletakkan di atas meja di hadapan dokter Fani. "Ini, aku tespack seharian kemarin. Aku beneran hamil nggak sih?" Kalista juga membeberkan beberapa keluhannya. "Dada aku agak gedean, kalau disentuh kadang terasa sakit." Bisiknya di telinga dokter Fani, Kalista berbisik karena di ruangan ini ada dokter Rian.
Dokter Rian dan dokter Fani membelalakan matanya, kaget karena Kalista sampai mencoba 4 tespack dengan berbagai macam merk.
Dokter Fani langsung memeriksa Kalista, meraba perutnya, mengoleskan krim lembut dan dingin itu di perut Kalista, kemudian menggunakan sebuah alat, perut Kalista seperti sedang di elus dan terasa sangat nyaman. Dokter Fani pun mengajukan beberapa pertanyaan, seperti kapan hari pertama haid terakhir (HPHT).
Setelah melakukan pemeriksaan, akhirnya dokter Fani mengambil kesimpulan sesuai dengan hasil pemeriksaan tadi.
"Kamu hamil, usia kandungannya baru 6 minggu." Dokter Fani langsung memeluk Kalista.
Kalista tidak merespon perkataan dokter Fani, dirinya malah mengelus-elus perutnya sambil bercucuran air mata. Merasa sedih dan bahagia, sedihnya Kalista merasa dirinya belum layak dan belum pantas mengandung karena masih muda, bahagia karena di rahimnya terdapat sebuah kehidupan.
"Cie mama muda." Dokter Rian pun ikut-ikutan memeluk Kalista.
"Selamat ya bentar lagi jadi seorang ibu, duh mahmud ini mah, si imut menggendong anak kecil." Dokter Fani cekikikan sambil terus memeluk Kalista.
"Aku masih muda loh, tapi nggak apa-apa aku ikhlas dan bahagia." Kalista menangis sambil tersenyum, tangannya tak henti-hentinya mengelus perutnya.
"Tapi kok perut aku masih rata ya?" Tanya nya bingung.
"Iya, soalnya baru 6 minggu, nanti lama kelamaan juga membesar ko perutnya. Pokonya nutrisi dan kebutuhan ibu hamilnya harus di penuhi, biar bayinya sehat."
"Jangan dulu kasih vitamin dan segala macamnya, pokonya nanti aku mau periksa kehamilan bareng laki-laki yang harus bertanggung jawab ini."
"Ayo antar aku ke kantor, aku harus meminta pertanggung jawaban suamiku itu, ini juga anak dia kan? Masa aku sendirian doang yang periksa? Waktu bikin juga berdua! Dia harusnya nemenin aku!" Kalista bangkit dari duduknya, dan meminta dokter Rian mengantarkannya.
Dokter Rian dan dokter Fani tak henti-hentinya mentertawakan kekonyolan Kalista. Dokter Rian menyuruh Kalista dan Fani menunggu di lobby RS, karena dokter Rian akan mengambil mobilnya terlebih dahulu di parkiran.
Kalista dan dokter Fani sedang berjalan di lobby, tiba-tiba seseorang wanita yang memakai topi menabraknya..
"Bruuuugh! Awwwwww." Kalista terjatuh dan memekik kesakitan. Dokter Fani semakin panik karena Kalista menjerit dan menangis sangat kencang.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Author rilis karya baru, judulnya "HOLANG KAYA" baca ya, silahkan klik profil author😊
Find Me On Instagram : @halloimas13❤
__ADS_1