SUN FLOWER

SUN FLOWER
DINGINNYA SIKAP ARKA


__ADS_3

DINGINNYA SIKAP ARKA


Setelah kepergian Oma dan pak Anggara, hari-hari Arka terasa hampa. Arka sangat berat menjalani hidupnya. Tidak pernah pergi ke kantor, dan sama sekali tidak pergi ke mana-mana. Tidak ada sapaan untuk istrinya tercinta dan juga anak-anaknya.


Arka yang selalu romantis kini mendadak menjadi pendiam. Setiap harinya Arka berdiam diri saja di kamar Oma maupun di kamar ayahnya. Hari-hari itu sangat menyedihkan, berat badan Arka turun drastis.


Kalista selalu memaksanya untuk makan, tetapi Arka selalu menolak. Tidak jarang pula Arka melontarkan kata-kata kasar.


Satu bulan itu telah berlalu, Kalista menjalani hari-harinya dengan sangat berat. Segala susah payah dan sakit hati telah Kalista lewati. Satu bulan ini juga memaksa Kalista untuk lebih giat lagi dalam segala hal.


Segala urusan kantor memang Kalista serahkan kepada Andy, tetapi tentunya Kalista juga ikut andil dalam urusan bisnis itu. Sesekali Kalista pergi ke kantor, terkadang ada meeting atau pertemuan penting yang memang mengharuskan Kalista untuk hadir.


Nathan dan Nayla biasanya Kalista titipkan pada pelayan, terkadang mama Lisa juga menginap di rumahnya. Pagi telah datang, Kalista di sibukkan dengan berbagai macam hal, mengurus anaknya, dan juga merayu suaminya agar mau makan. Ketika malam datang, Arka telah tertidur dan bocah kembar juga telah tertidur. Biasanya Kalista pergi ke ruang baca, untuk apa? Untuk mengurus bisnis dan beberapa perusahaan milik suaminya.


Fisik, hati, otak, dan pikiran Kalista di paksa untuk lebih pintar, di paksa untuk mengambil keputusan, bahkan Kalista juga sudah tidak sempat untuk memanjakan dirinya. Satu bulan belakangan ini benar-benar menjadikan hidupnya menjadi wanita tangguh yang super sibuk.


Andy, Evan, Riko maupun mama Lisa sudah berusaha mengembalikan Arka untuk menjadi diri Arka yang dulu. Arka yang selalu sayang pada Kalista, Arka yang sangat menyayangi kedua anaknya. Semua usaha telah mereka lakukan, tapi Arka masih tetap saja begitu.


Rasa sakit karena kehilangan membuat Arka tidak menyadari bahwa dirinya masih mempunyai istri dan anak. Arka melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, Arka melupakan segala hal tentang pernikahannya. Bahkan terkadang Arka menatap Kalista dengan tatapan benci. Pernah suatu hari, Arka mengatakan bahwa kematian Oma aja ayahnya secara tidak langsung di sebabkan oleh Kalista. Arka mengatakan seandainya Kalista tidak meminta dibawakan apel malang, justeru kecelakaan mobil itu tidak akan terjadi.


Sore ini Nathan sangat rewel sekali, dirinya terus menerus menangis, begitu pula dengan Nayla. Keduanya menangis, tangisannya kencang sekali sampai terdengar ke kamar Arka. Arka memang berada di kamarnya, di temani Riko dan Evan. Mereka berdua datang khusus untuk kembali menceramahi Arka, tidak seharusnya Arka terjebak dalam ruang gelap karena kehilangan.


Arka sama sekali tidak menghiraukan jeritan tangis kedua anaknya, dia malah memilih merebahkan badannya sambil menatap langit-langit kamar. Di kamar itu juga sudah tidak ada foto pernikahan dirinya dengan Kalista, tidak ada foto maternity, tidak ada foto Nathan dan Nayla ketika baru saja terlahir ke dunia.


Deru mesin mobil terdengar di halaman depan, itu suara mobil Andy. Di dalam mobil itu juga ada Kalista, iya sore ini Andy dan Kalista baru saja menghadiri pertemuan penting dengan salah satu rekan bisnisnya.


Kalista keluar dari mobil itu, gurat wajahnya terlihat sangat lelah. Kalista berjalan gontai sambil menenteng tasnya. Begutu menginjakkan kakinya ke rumah, jeritan tangis anaknya terdengar jelas.


Kalista melemparkan tasnya asal, membuka hellsnya, dan berlari dengan bertelanjang kaki. Satu persatu anak tangga Kalista lewati dengan hati yang cemas. Rasa lelah yang terlihat di wajahnya kini sudah menghilang. Secepat kilat Kalista masuk ke kamar mandi, membersihkan badannya, mengganti pakaiannya lalu menghampiri kedua anaknya. Kalista mencium mereka dengan rasa sayang. Kalista juga langsung menyusui keduanya.


Seharian ini kalista sibuk dengan pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaan suaminya.


Ketika mendengar deru mesin di halaman rumahnya, Arka memutuskan untuk duduk di ruang tamu lantai dua. Ruang tamu ini letaknya dekat sekali dengan kamar Nathan dan juga kamarnya. Sehingga Arka menyaksikan semuanya, menyaksikan betapa repot dan betapa lincahnya Kalista.


Setelah berada di pangkuan Kalista dan di susui, kedua bocah kembar itu pun merasa tenang. Melihat wajah Kalista saja keduanya langsung tersenyum, bahkan Nathan itu tidak bisa diam, mulutnya terus menghisap tetapi tangannya mencakar-cakar pelan pipi bundanya.


"Kalau bunda lagi kerja nggak boleh rewel dong." Pinta Kalista kepada kedua bocah kembarnya. Kalista juga menjawil pelan hidung Nathan dan Nayla. Keduanya sangat gembira, garis bibirnya selalu terangkat.


Lalu Kalista masuk ke kamar Nathan dan Nayla, yang memang sudah sebulan ini juga Kalista memang tidur di kamar itu. Arka melarang Kalista masuk ke kamarnya, sehingga Kalista memutuskan untuk tetap tidur di kamar Nathan.


Kamar Nathan ini memang luas, tetapi kebanyakan terpenuhi oleh barang-barang mereka, seperti mainan dan kebutuhan lainnya. Untuk Kalista tidur hanya beralaskan karpet bulu mpuk, ataupun kasur lantai, selembar selimut yang memang tersedia di kamar bocahnya, dan mengambil satu bantal sofa.


"Lu percaya takdir nggak sih? Percaya ketetapan Tuhan nggak sih? Lu percaya nggak sih setiap yang bernyawa pasti akan mati?" Tanya Andy dengan sangat serius, Andy menatap Arka dengan tatapan tajam.


Andy merasa sangat geram pada Arka, seharusnya Arka bisa menerima semua ini atas dasar ketetapan Tuhan. Seharusnya Arka bisa mengambil sikap dan segera bangkit dari keterpurukannya, seharusnya Arka berpikir logis, bahwa Kalista pernah berada di fase ini, seharusnya Arka mencontoh Kalista yang bisa menerima semua takdir tuhan dengan ikhlas. Sakit hatinya itu memang lama, dan butuh waktu berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun untuk kembali menyembuhkan luka itu. Entah bagaimana dengan pikiran Arka?


Arka belum menjawab, mulutnya terkunci rapat. Arka bahkan sekarang malah mendongakkan kepalanya, mencoba menatap langit-langit.


"Gue tahu, dan gue juga percaya takdir. Oma dan ayah mungkin sudah waktunya untuk pergi dan menghadap sang ilahi. Tetapi gue masih belum bisa berbaikan dengan Kalista, setiap kali melihat wajahnya gue selalu merasa sakit, jengkel, kesal, dan marah. Seandainya Kalista tidak meminta Oma untuk di bawakan apel malang, mungkin sekarang Oma dan ayah masih hidup bahagia dengan gue." Ucap Arka sambil menghembuskan napasnya gusar.


"Kalau kaya gitu, itu artinya lu masih belum percaya takdir! Heran gue sama lu tuh, IQ lu tinggi tapi untuk urusan kaya gini bodoh banget." Celetuk Andy dengan gamblang.


"Lu tau kan gimana repotnya istri lu berada di kantor? Dia emang pintar dalam urusan bisnis sama kaya lu. Lu juga lihat sendiri kan barusan? Dia baru pulang kerja terus dengar suara tangisan anaknya, dia langsung melemparkan tasnya asal, mencopot sepatu hak tinggi yang membuat kakinya jadi terlihat indah, dia berlari menaiki satu persatu anak tangga, dia sama sekali tidak memperdulikan rasa lelahnya. Secepat kilat mandi agar bisa segera berdekatan dan menyusui anaknya."


"Sedangkan elu di rumah ngapain aja? Duduk manis di kamar sambil memandangi foto Oma dan ayah? Lu pikir mereka bahagia lihat kondisi dan keadaan lu yang sekarang? Lu yang mentelantarkan anak dan istri? Ini baru satu bulan, dan elu betah dengan keadaan lu seperti ini? Elu terlalu membuang-buang waktu! Coba pikirkan kalau lu bisa menghargai waktu dan lebih produkrif, elu sudah berada di titik mana sekarang? Banyak investor yang membatalkan kerja sama, karena posisi CEO di gantikan oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah istri lu sendiri. Mereka takut istri lu nggak bisa sehebat lu dalam urusan bisnis, tetapi mereka salah mengira justeru istri lu lebih pintar dari lu. Saham perusahaan yang menurun drastis bisa menjadi normal dan stabil."


"Arka, lu harus tahu! Istri lu itu cantik, walaupun dia sudah melahirkan dua bayi kembar, tetapi tubuhnya masih seperti gadis, usianya yang masih muda di tunjang dengan wajah baby face mikiknya, semakin melekatkan title cantik untuknya. Elu harus tahu, dalam waktu sebulan ini gue sudah beberapa kali mendampingi istri lu bertemu klien, and than klien banyak yang jatuh cinta pada istri lu. Mereka tahu, lu berada di rumah dan malas-malasan. Hati-hati banyak celah untuk menghancurkan lu, kehancuran pertama lu di mulai dari istri lu sendiri yang pergi meninggalkan elu.


"Oke sekarang mungkin istri lu masih bisa sabar, tapi kita nggak pernah tahu apa yang bakalan terjadi kedepannya? Bisa saja kesabaran dia habis, dan dia memutuskan untuk pergi. Mudah baginya untuk Kembali menemukan pria yang mapan, wajah cantik, badan langsing, dan penampilannya yang menarik akan membantunya dalam urusan asmara. Pria yang memang tulus mencintainya, dia juga akan mencintai anaknya."


"Sejauh ini gue mencoba paham dengan sikap lu. Terserah deh lu mau benci ataupun gimana juga, nanti juga yang nyesel elu sendiri. Tapi tolong, lu jangan telantarin kedua anak lu, mereka butuh elu, mereka adalah darah daging lu sendiri!" Ucap Andy, Andy menjeda kalimatnya sebentar. Tenggorokannya terasa kering, karena berbicara panjang lebar.


"Coba lu ingat-ingat kembali deh, masa kecil elu! Masa-masa elu tahu bahwa Kalista adalah bunga. Lu ingat-ingat kembali kebahagiaan lu ketika awal-awal menikah, ketika kalian babymoon, indahnya foto maternity. Dan tolong ingat bagian ketika istri lu melahirkan, dia bertaruh nyawa, dia kesakitan, bagian tubuh bawahnya ada yang robek. Dia pernah ngeluh? Dia nyalahin elu yang ngehamilinnya? Coba di ingat kembali!" Ucap Andy tegas.


"Gue udah berbicara panjang lebar kali tinggi, gue sudah mencoba membuat lu tersadar kembali, jika suatu saat nanti lu nyesel, kayanya penyesalan itu sudah terlambat." Andy meraih kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.


"Yuk balik! Dia itu nggak sakit, jadi nggak usah di temani. Cuma, otaknya aja lagi sedikit berantakan, jadi tidak bisa berpikir jernih." Ucap Andy sambil mengajak Evan dan Riko pergi.


Evan dan Riko menurut begitu saja. Mereka berdua tidak berani berucap terang-terangan seperti itu. Lagipula, Arka juga tidak akan mendengarkan omongannya. Berbeda sekali dengan Andy yang dewasa, Andy berani menasehati Arka. Andy berani berbicara gamblang tanpa sensor bahkan di sertai dengan bentakan.


Arka tidak melawan, tidak membantah, tidak menyela, dan bahkan tidak membuka mulutnya. Arka hanya diam dengan tatapan matanya yang sulit di artikan, sesekali tangannya terangkat dan memijat-mijat pelan dahinya.


Setelah masuk kedalam kamar, Kalista sudah tidak keluar lagi. Kalista tidak berani keluar, karena Arka selalu menghindarinya. Kalista memberikan ruang untuk Arka, mungkin Arka memang butuh waktu untuk menyendiri. Tentunya, Kalista juga berharap suatu saat nanti Arka akan kembali menjadi Arka yang dulu, Arka yang sangat menyanyi dan mencintai dirinya dan kedua anaknya.


Nathan dan Nayla sudah kenyang, dan mereka sudah terlelap dalam tidur. Kalista menyempatkan diri untuk bermain ponsel, ketika sedang melihat-lihat foto di galeri. Tidak terasa air matanya terjatuh begitu saja, ada rasa sesak di hatinya. Kalista sangat merindukan kebersamaannya dengan Arka, kebersamaan terakhirnya adalah ketika mereka membawa Nathan dan Nayla les renang.


Satu persatu foto itu Kalista tatap, satu bulan sudah hubungannya dengan suaminya merenggang. Sudah tidak ada lagi lengan suami untuk di jadikan guling, tidak ada lagi dada suami yang biasanya di jadikan tempatnya bersandar.


Tidak ada morning kiss, tidak ada sapaan sayang untuk kedua anaknya.


"Nak, kalian berdua masih kecil dan belum mengerti sepenuhnya kondisi ayah dan bunda. Nak kalian berdua masih suci dan belum berdosa, sampaikan kepadaNya, bunda merindukan kasih sayang dan cintanya ayah." Tangan itu berusaha menghalau laju air matanya yang semakin deras terjatuh dan membasahi pipinya. Kalista mencium dahi kedua anaknya, kemudian dirinya juga tertidur lelap dengan mata sembapnya.


Kalista terbangun, suasana sunyi senyap. Kalista melirik arloji yang menggantung di dinding. Waktu menunjukan pukul 02:00 dini hari. Bukan tanpa sebab Kalista terbangun, tetapi cacing di perutnya terasa seperti sedang menendang-nendang perutnya, berusaha komplen kepada sang pemilik perut agar segera di beri jatah.


Kemarin sore selepas pulang ngantor, Kalista dikejutkan oleh suara tangis anaknya. Sehingga dirinya sama sekali tidak memperdulikan apapun, anak adalah nomor utama. Kalista saja sampai lupa terakhir kali dirinya makan adalah pagi hari, bukan makan itu lebih tepatnya sarapan.


Kalista berjalan mengendap-endap pergi ke dapur. Kalista berusaha memfokuskan manik matanya, karena ini sangat gelap sekali, Kalista berusaha memastikan dirinya sendiri agar tidak menyenggol apapun yang akan membangunkan seluruh penghuni rumah ini. Kalista sengaja tidak mematikan lampu, karena tidak ingin menggangu jam tidurnya para pelayan. Sebab, ketika tengah malam Kalista menyalakan lampu, satu atau dua orang diantara mereka akan terbangun dan melayani Kalista.


Kalista membuka lemari pendingin, di dalamnya banyak sekali bahan makanan. Baik itu makanan cepat saji, ataupun sayur-sayuran. Diantara banyak bahan makanan itu, Kalista hanya mengambil satu bungkus mie instan dan dua butir telur. Agak aneh sih Kalista si pencinta makanan pedas, tiba-tiba mengabaikan si cabai rawit setan. Untuk saat ini Kalista tidak bisa makan pedas, karena dirinya sedang menjadi busui, bahaya dong nanti kedua anaknya sakit perut.


Masak mie instan dengan dua telur tidak membutuhkan banyak waktu, 5 menit saja sudah cukup. Kalista menuangkannya kedalam mangkuk, dan membawanya ke meja makan.


Ketika Kalista baru mulai makan, dirinya melihat bayangan sesosok makhluk di tangga. Kalista merinding dan menghentikan aktifitas makannya. Kalista mengangkat kedua tangannya, berusaha berdoa. Jika dia mahluk halus tolong segera di enyahkan dari pandangannya.


Tiba-tiba lampu menyala. Sesosok makhluk itu adalah Arka. Kalista mengusap dadanya, ekspresi wajah takutnya masih terlihat jelas.


"Aku laper!" Ujar Arka dengan nada datar.


"Mau makan apa? Mie instan, spageti, atau nasi goreng?" Tanya Kalista sambil bangun dari duduknya.


Kalista terdiam untuk beberapa detik, bukan hanya detik bahkan sekarang sudah dua menit. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut Arka, kalista berjalan ke dapur sambil


mengembuskan napasnya kasar.


Kalista pergi ke dapur, membuatkan mie instan, spageti, dan nasi goreng. Ketiga menu itu adalah andalan suaminya ketika laper di malam hari. Tadinya Kalista akan membuatkan mie instan saja, tetapi takutnya Arka sekarang lagi mau makan nasi goreng atau makan spageti.


"Selamat makan." Ucap Kalista sembari menyajikan ketiga makanan itu.


Kalista pamit undur diri, bahkan Kalista meninggalkan mangkuk mienya yang baru saja di makan satu sendok. Bukannya tidak ingin menemani Arka makan, tetapi Kalista cukup tahu diri bahwa kehadirannya tidak diinginkan oleh Arka.


"Besok aku ngantor! Kamu di rumah aja." Ucap Arka dingin, sekarang Arka malah sibuk memakan nasi goreng.


Kalista membalikan badannya tatkala mendengar ucapan Arka. "Oke." Jawab Kalista datar.


Kalista naik kembali ke lantai dua, tetapi kini Kalista masuk ke kamar Arka. Kalista mengambil stelan kerja untuk Arka, Kalista langsung menyetrikanya. Setelah selesai Kalista langsung mengambil sepatu pantofel, lalu menyemirnya hingga mengkilap. Tidak hanya sampai di situ saja, sekarang Kalista juga menyiapkan beberapa berkas untuk meeting besok, memindahkan beberapa file yang berada di laptopnya ke laptop Arka.


Arka masuk ke kamarnya, manik matanya membulat sempurna ketika melihat ada Kalista.


"Cuma nyiapin stelan kerja kamu, sekalian siapin beberapa berkas dan dokumen untuk meeting. Itu doang kok." Ujar Kalista sambil tersenyum.


Tepat ketika Kalista akan keluar, salah satu figura yang yang tergantung di atas pintu itu jatuh dan mengenai dahi Kalista.

__ADS_1


"Awwwwww." Kalista meringis dan mengusap dahinya yang sekarang mengeluarkan darah.


Dahinya itu terasa sakit dan sangat perih, yang perih bukan hanya luka di dahinya tetapi luka di hatinya juga. Kalista menangis terisak, tetapi Arka sama sekali tidak ada niatan untuk menolongnya. Sepertinya hati Arka sudah berubah menjadi batu.


Kalista bangun dan langsung keluar dari kamar Arka. Darah segar masih mengucur di dahinya, bahkan darah itu juga bercampur dengan air matanya yang terus menerus menetes.


Kalista melampiaskan segala keluh kesah dan rasa sakitnya di kamar mandi. Kalista menempatkan tubuhnya tepat di bawah guyuran shower. Menangis di bawah guyuran air, Kalista sudah tidak memperdulikan dahinya yang semakin perih terkena air. Menangis, menjerit, dan berteriak sudah Kalista lakukan berulang kali.


"Kenapa harus seperti ini Tuhan? Kenapa dia sudah tidak perduli lagi kepadaku."


Kata-kata itu menjadi kalimat terakhir yang Kalista lontarkan. Karena sekarang dirinya merasa pusing dan pandangan matanya terasa kabur. Lambat laun mata itu tertutup, tubuhnya melemah dengan air yang masih mengguyur.


Arka sebenarnya tahu kalau Kalista masuk ke kamar mandi, Arka juga tahu Kalista menangis di dalam kamar mandi itu.


Waktu terus berjalan, Nathan dan Nayla menangis bersamaan. Isak tangisnya cukup membuat beberapa pelayan terbangun dari tidurnya. Salah satu pelayan mencoba mendekat ke kamar Nathan dan Nayla.


"Nyonya.. nyonya ada di dalam? Dede Nathan dan Nayla kok menangis?" Tanya salah satu pelayan sambil mengetuk pintu.


Suasana hening, tidak ada sahutan dari dalam. Sedangkan Isak tangis Nathan dan Nayla tak kunjung berhenti. Sekarang beberapa pelayan sudah berkumpul di depan pintu kamar itu.


Mereka semua mengira bahwa Kalista tidurnya sangat nyenyak, sehingga tidak mendengar anaknya menangis, mereka memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu.


Semuanya terkejut, tidak ada Kalista di kamar itu. Nathan dan Nayla berada di box tidurnya masing-masing. Pelayan yang lain segera membuatkan susu formula. Lalu berusaha menangkan Nathan dan Nayla.


"Tolong." Pelayan yang lainnya berteriak minta tolong karena menemukan Kalista dalam keadaan tak sadarkan diri, dahinya terluka dan sekujur tubuhnya basah.


Wajah cantik itu kini terlihat pucat pasi, badannya semakin kurus, rambutnya panjang tidak beraturan. Beberapa pelayan lagi-lagi bersikap tidak sopan, mereka menggantikan baju Kalista tanpa persetujuan darinya.


Semuanya menjadi bingung, apa yang harus di lakukan sekarang? Berbicara kepada tuan Arka? Itu tidak mungkin dan sangat mustahil. Mereka semua punya mata dan menyaksikan secara langsung bagaimana sikap Arka kepada Kalisata dalam kurun waktu satu bulan ke belakang.


Tiba-tiba mereka mengingat bahwa kalista mempunyai kerabat yang bernama dokter Rian. Akan tetapi mereka semua tidak ada yang memiliki nomor kontak dokter Rian. Dalam keadaan kalut seperti ini, semuanya berusaha mencari cara. Mereka semua sangat gencar membuka media sosial miliknya, berusaha mencari akun media sosialnya dokter Rian.


"Kalau pakai cara ini agak susah dan akan memakan waktu. Ada cara yang gampang banget, tapi akan sedikit kurang ajar dan tidak sopan." Ucap salah satu pelayan dengan wajah tertunduk, dia takut pelayan yang lain tidak setuju dengan usulannya.


Semua mata pelayan tertuju padanya, mereka semua melayangkan tatapan minta penjelasan akan maksud ucapannya barusan.


"Kita cari kontaknya dokter Rian di ponselnya nyonya, ini memang tidak sopan tetapi cara ini sepertinya mudah. Mengingat kondisi nyonya yang tidak sadarkan diri, saya semakin takut jika nyonya tidak di segera di obati sakitnya akan semakin parah." Ucapnya masih dengan wajah yang tertunduk.


Mereka semua setuju, dengan syarat jika Kalista marah mereka semua akan mengakui bahwa ini kesalahan bersama. Rencanya mereka tentunya tidak berjalan mulus, karena ponsel Kalista ternyata menggunakan password. Sehingga mereka semua sibuk menebak saja menerka-nerka, lima belas menit sudah berlalu akhirnya ponsel itu berhasil di buka, password nya tanggal pernikahan Kalista yang di satukan dengan tanggal lahir anaknya.


Mereka segera menghubungi dokter Rian, tetapi tidak ada balasan ataupun jawaban. Mereka semua memaklumi, karena ini jam 03:25 dini hari. Jam-jam segini biasnya orang-orang masih terlelap dalam tidurnya.


Kalista terbaring di kamar Nathan, beralaskan kasur lantai. Tubuhnya di liliti oleh selimut, tujuannya agar Kalista merasa hangat. Seluruh badan Kalista juga di oleskan minyak kayu putih.


Alhamdulilah Nathan dan Nayla sudah tidak rewel lagi, mereka bahkan tidak memejamkan matanya kembali. Mereka berada di pangkuan pelayan, sesekali tangannya menepuk-nepuk tubuh bundanya.


Dokter Rian tidak kunjung membaca pesan tersebut, sudah di telpon tetepi tidak di angkat. Semuanya harap-harap cemas, mereka semua juga berdoa agar dokter Rian cepat datang dan Kalista segera mendapatkan perawatan.


Adzan subuh sudah berkumandang, para pelayan Musi sibuk dengan rutinitasnya masing-masing. Ada yang menyiapkan sarapan, ada yang bersih-bersih, ada yang pergi ke kamar Arka untuk membereskan tempat tidurnya.


Arka sudah bangun, bahkan sekarang sedang sarapan. padahal ini masih pagi buta, duduk seorang diri di meja makan sambil menikmati roti bakar selai cokelat dan segelas susu hangat.


Terdengar suara deru mesin mobil, orang yang berada di dalam mobil itu secepat kilat langsung turun dengan tergesa-gesa. Ketika melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dan melihat Arka sedang menikmati sarapannya. Dokter Rian semakin geram dan kecurigaannya terbukti benar, dia berlari menaiki anak tangga sambil membawa tas medisnya.


Arka masih menatap punggung dokter Rian yang semakin menjauh dan menghilang. Di pikiran Arka saat ini adalah Kalista terlalu manja. Hanya luka kecil di dahinya masa iya sampai memanggil dokter Rian ke sini? Bahkan dokter Rian terlihat panik dan tergesa-gesa.


"Ini kenapa?" Tanya dokter Rian ketus, sebenarnya Kalista sudah siuman hanya saja sekarang memang sedang tertidur.


Wajah Kalista terlihat pucat pasi, badannya kurus, bahkan rambutnya juga terlihat sangat jelek. Kalista yang biasanya selalu terlihat cantik, kini sudah tidak cantik lagi.


"Ah itu, anu..," ucap salah satu pelayan dengan terbata-bata. Entah mengapa melihat wajah dokter Rian yang terlihat murka membuat dirinya takut untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Ini kenapa? Semalam ada kejadian apa? Mengapa Kalista terbaring lemah disini, sementara suaminya sedang santai menikmati sarapan, bahka raut wajahnya terlihat tenang?" Ucap dokter Rian dengan tegas, sekarang manik mata dokter Rian menatap satu persatu pelayan yang berada di ruangan itu dengan tatapan mengintimidasi. Dokter Rian ingin penjelasan dari semuanya.


"Ketika saya ke dapur, saya menemukan mangkuk mie yang masih penuh di meja makan. Lalu ada juga mangkuk mie yang sudah kosong, beserta piring nasi goreng isinya tinggal separuh. Mungkin nyonya dan tuan makan tadi malam. Tapi saya tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Hubungan nyonya dan tuan memang sednag berjarak sudah satu bulan lamanya, tepat setalah kepergian tuan besar dan nyonya besar." Ujar salah satu pelayan menuturkan apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungan rumah tangga tuan dan nyonya nya.


"Sialan, brengsek!" Umpat dokter Rian dengan geram.


Sekarang dokter Rian sedang mengobati luka di dahi Kalista. Sebelum membalut luka tersebut dengan perban, dokter Rian terlebih dahulu membersihkan luka yang masih berair itu. Selama lukanya di obati, Kalista sama sekali tidak bangun. Rasa lelah yang dirasakannya seharian kemarin, dan kejadian tadi malam yang menimpanya membuat tidurnya semakin terasa nyenyak dan nyaman.


"Awwww." Kalista meringis sambil mengerjapkan matanya, kedua tangannya terangkat mengucek kedua bola matanya.


"Sudah bangun? Kenapa sih nggak pernah cerita, nggak pernah bilang? Ingat, kamu tidak sendirian di dunia ini, kamu masih punya aku! Ketika dunia sedang jahat dan sedang kejam kepadamu, masih ada aku yang akan selalu melindungimu dari berbagai macam ancaman dan marabahaya." Ucap dokter Rian tegas sembari menatap manik mata Kalista secara intens.


Kalista menangis terisak dan langsung memeluk dokter Rian erat. Semenjak ibu kost pindah ke kampung halamannya, Kalista merasa tidak punya lagi sandaran untuk berkeluh kesah.


Kehadiran dokter Rian saat ini cukup membuat dirinya merasa tenang. Walau bagaimana pun juga satu bulan ini telah Kalista lewati, segala macam gundah gulana gelisah resah dan rasa sakit telah Kalista hadang sendirian, tidak sendirian juga sih sebenarnya, karena di temani oleh Natha dan Nayla.


"Kamu kurusan banget." Ucap dokter Rian sembari mengusap lembut rambut dan punggung Kalista.


Sebenarnya dokter Rian merasa sedih atas apa yang Kalista rasakan. Tidak bisakah semesta mengulurkan tangannya dan memberikan kebahagiaan. Sejak masa-masa remaja dan tumbuh kembangnya, Kalista sudah dihadapkan pada situasi sulit. Bahkan dirinya selalu bekerja dengan giat demi membayar tunggakan biaya perawatan ayah dan bundanya.


"Cerita dong tadi malam ada kejadian apa?" Pinta dokter Rian, karena kalau Kalista tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, maka dokter Rian akan mengamuk kepada Arka.


"Tadi malam aku lagi siapin stelan kerjanya suamiku, pas mau keluar tiba-tiba figura yang menggantung tepat diatas pintu terjatuh dan melukai dahi ini."


"Lalu?" Dokter Rian menginginkan penjelasan yang lebih lagi.


"Apa yang lalu?" Tanya Kalista sambil mengernyitkan dahinya.


"Diam sampai pingsan dibawah guyuran air shower yang menyala itu apaan?" Ketus dokter Rian sembari mendelikkan matanya jengah.


"Oh itu. Mau nyanyi, biar kaya di film-film gitu deh." Ujar Kalista sembari cekikikan.


"Kamu pikir aku percaya? Jangan harap deh! Emang benar-benar tuh si Arka, harus di kasih bogem mentah biar otaknya kembali encer." Sarkas dokter Rian yang langsung membawa tasnya dan segera turun ke lantai dasar.


Saat ini dokter Rian terlihat murka, bahkan dia sudah tidak menghiraukan panggilan Kalista. Dengan badan yang masih lemas, Kalista berusaha mengejar dokter Rian.


Brugh!


Dokter Rian menggebrak meja makan, sehingga beberapa piring dan gelas hampir saja terjatuh.


"Kenapa lu menjadi beg*k hah? Kenapa? Kematikan itu sudah menjadi takdir dan ketetapan Tuhan. Mengapa lu nyalahin Kalista hah? Mengapa dia yang lu diamkan hah? Jawab gue!" Dokter Rian mendadak emosi, sekarang dirinya sebagai mencengkram kerah baju Arka. Tangannya mengepal dan bersiap akan melayangkan bogem mentah.


"Jadi dia ngadu sama lu? Istri macam apa yang nggak bisa menjaga konflik rumah tangganya, lah ini malah di ceritain ke orang lain. Dia tuh bodoh apa gimana sih?" Hardik Arka dengan suara yang tak kalah tingginya dari dokter Rian. Bahkan Arka akan memukul dokter Rian.


"STOOOP!" Teriak Kalista sembari berlari menghampiri mereka berdua. Larinya sempoyongan karena kondisi badannya yang lemah sekaligus lemas.


"Lepasin kak, dia itu suami aku." Kalista menarik paksa tangan dokter Rian agar segera melepaskan cengkeramannya pada kerah baju suaminya.


Dokter Rian melepaskan tangannya, bukan karena Arka. tetapi dia sengaja melepaskan cengkraman itu demi Kalista, Kalista memohon dengan wajah mengiba. Kurang apalagi coba Kalista? Dalam keadaan seperti ini saja dirinya masih memperdulikan suaminya.


"Asal lu tahu ya! Istri lu sama sekali tidak menceritakan apa yang sedang dialaminya, dia sama sekali tidak menceritakan bagaimana elu memperlakukannya selama satu bulan belakangan ini. Gue tahu semuanya dari para pelayan di rumah ini, mungkin mereka lancang menceritakan kisah rumah tangga tuan dan nyonya nya, tapi gue yang maksa dan mendesak mereka. Karena gue curiga, kenapa istri lu dahinya terluka, dan elu dengan santai dan tenang malah duduk sembari menikmati sarapannya." Tutur dokter Rian.


"Gue datang ke sini juga bukan karena dia yang nyuruh! Tapi para pelayan rumah ini yang menyuruhnya. Mereka semua khawatir sama istri lu yang pingsan di kamar mandi dengan keadaan dahi yang terluka. Semalaman elu kemana? Elu juga tahu kan dahinya terluka? Nggak ada niatan buat mengobatinya? Sumpah ya elu tuh setan banget, nggak punya hati!" Emosi dokter Rian memuncak, ubun-ubunnya memanas.


"Kalau lu nggak bisa bahagiain dia, lepasin aja! Usianya masih muda, wajahnya cantik, tubuhnya bagus, di tunjang dengan penampilan yang menarik juga. Pria mana sih yang nggak mau? Anak muda sekalipun bakalan suka sama bini lu!" Teriak dokter Rian tepat di hadapan Arka, suaranya menggelegar dan menggema di meja makan.


"Kak udah, jangan buat hubungan rumah tanggaku tambah runyam. Kaka pulang ya." Kalista langsung menarik lengan dokter Rian, mendorongnya pelan agar segera keluar dari rumah ini.


"Maafin suamiku kak, maaf banget loh dia kaya gitu karena masih di rundung duka dan emosinya belum stabil." Kalista meminta maaf atas nama suaminya.

__ADS_1


Sebelum benar-benar meninggalkan rumah ini, dokter Rian memberikan banyak sekali petuah kepada Kalista. Meminta Kalista untuk tetap sabar, dan selalu minta petunjuk yang maha kuasa.


Kalista kembali masuk kedalam rumah, menghampiri Arka yang masih duduk di meja makan. Arka menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Maafin dokter Rian ya, dia cuma emosi doang, sebenarnya dokter Rian itu baik kok." Ucap Kalista sembari membernarkan kerah baju suaminya yang terlihat berantakan.


Arka hanya diam, manik matanya menatap Kalista masih dengan tatapan yang sulit diartikan. Arka bersiap berangkat ke kantor, seperti biasa Kalista mengantarnya sampai halaman depan. Tetapi kali ini berbeda, tidak ada ucapan dan tidak ada kecupan dahi.


Arka mengendarai mobilnya sendiri, awalnya Kalista tidak mengizinkannya karena takut Arka tidak bisa fokus mengendari mobilnya. Namun ucapannya sama sekali tidak di gubris oleh Arka.


*****


Arka sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya, dan Andy dengan setia membantu dan mendampinginya. Tetapi sikap Andy berubah menjadi dingin pada Arka.


Sekarang sudah waktunya istirahat, tetapi Arka sama sekali tidak keluar dari ruangannya. Perutnya terasa kenyang pikirannya melayang ke rumah.


Arka (POV)


Oma dan ayah merupakan segalanya bagi gue, mereka adalah pelita dalam hidup gue. Mereka selalu memberikan gue kebahagiaan yang tidak terkira, apapun yang gue mau selalu di turutinya.


Masa kecil gue memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kasih sayang dari seorang mama, tetapi Oma memberikan kasih sayang itu. Oma memberikan kasih sayang sebagai Oma sekaligus mama.


Hidup gue bahagia bersamanya, gue sendiri menyaksikan sendiri bagaimana jatuh bangunnya ayah dalam membangun perusahaan dan bisnisnya. Saat itu ayah hanya mengatakan, semangatnya berkobar berkat dukungan Oma dan gue.


Lambat laun kehidupan keluarga gue sejahtera, gue mendapatkan pendidikan yang layak. Namun, usia ayah semakin bertambah dan menjadi tua, dirinya sudah tidak bisa lagi menjadi pemimpin di perusahaanya. Akhirnya mau tidak mau gue lah yang menggantikannya.


Karena memimpin perusahaan ayahlah yang mempertemukan kembali gue dengan gadis kecil gue. Dengan lika liku drama yang seperti sinetron, akhirnya kita bersatu dan menikah.


Pernikahan itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi Oma dan ayah. Saat itu gue merasa bahwa gue telah berhasil membuat mereka bahagia, lalu tidak lama setelah itu istri gue positif hamil. Setelah melewati sembilan bulan masa kehamilan terlahirkah dua bocah kembar yang selalu berada di dalam rahim. Kebahagiaan mereka kian terasa lengkap, ayah selalu menginginkan cucu dan Oma selalu menginginkan cicit.


Mereka selalu berebutan dalam mengasuh Nathan dan Nayla. Mereka juga sangat sayang kepada dua bocah kembar itu. Hari-hari terasa normal seperti biasanya, gue yang selalu sibuk dengan urusan kantor, dan istri gue yang selalu pandai dalam mengurus rumah dan mengasuh anak.


Gue ingin kebahagiaan gue selalu lengkap, ada istri dan anak, dengan Oma dan ayah. Gue lupa bahwa mereka sudah tua, dan mungkin bisa kapan saja Tuhan memanggil mereka.


Gue tahu, setiap yang bernyawa akan mati. Gue tahu Tuhan yang menciptakan manusia dan suatu saat juga tuhan yang akan memanggilnya juga. Gue percaya takdir dan ketetapan Tuhan, tetapi gue sulit menerima keadaan bahwa mereka telah tiada di dunia ini.


Hari itu ayah dan Oma memutuskan untuk pergi ke malang. Sebuah kota yang sangat mereka rindukan, karena di kota itu mereka memiliki sebuah kenangan. Mereka sangat bahagia ketika akan berangkat, tetapi setiap ucapan yang keluar dari mulut mereka membuat gue semakin merasa takut. Hati ini sakit setiap mendengar ucapan berserta kalimat-kalimatnya. Gue menyadari, bahwa setiap ucapan dan kalimatnya itu seperti sebuah nasihat.


Gue berusaha mencegahnya agar tidak pergi, Kalista juga berusaha mencegahnya. Mungkin Kalista juga menyadari ada yang janggal dengan mereka.


Ternyata benar mereka telah di panggil tuhan. Gue menangis dan tidak terima, mengapa secepat ini mereka di panggil? Mengapa orang-orang baik selalu di panggil lebih dulu?


Satu hal yang sama sekali nggak bisa gue lupakan mengenai apel malang. Gue tahu semua ini terjadi atas izinNya, gue juga tidak menyatakan bahwa ini salahnya istri gue.


Tapi gue sulit sekali untuk bersikap normal kepadanya, dia yang meminta oleh-oleh apel malang itu semakin membuat gue merasa kesal dan jengkel.


Satu bulan telah berlalu, gue masih merasa sedih yang berkepanjangan, gue masih di rundung duka. Gue sudah mendiamkan istri gue selama satu bulan itu, parahnya gue juga tidak mau berinteraksi dengan kedua bocah kembar gue. Gue tahu semua ini salah, gue tahu ini merupakan tindakan yang tidak benar.


Perusahaan sekarang berada di bawah kendali istri dan asisten pribadi gue. Setiap hari dirinya pergi ke kantor, mengurus bisnis dan meninggalkan kedua bocah kembar. Meeting, bertemu klien sudah menjadi kebiasaan terbarunya.


Sepertinya istri gue itu otot kawat tulang besi, di tubuhnya seperti tidak ada rasa capek. Contohnya hari kemarin, dia sangat sibuk dengan urusan kantor. Begitu sampai di rumah dan mendengar teriakan dan jeritan tangis Nathan dan Nayla. Berlari secepat kilat, melemparkan tasnya, dan langsung membersihkan badannya. Dia selalu begitu, harus selalu bersih dan steril jika akan berhadapan langsung dengan anaknya, yang tentunya anak gue juga.


Gue paham, tidak seharusnya dia merasakan kelelahan itu. Beberapa sahabat gue juga selalu menasehati gue, dan mereka bilang jika gue terus menerus seperti itu maka bisa dipastikan Kalista akan meminta pisah. Dan kemungkinan terbesarnya dia akan menikah kembali, siapa sih yang tidak mau dengannya? Sekalipun dia janda, tetapi usianya masih muda, wajah cantiknya juga tidak luntur.


Siang telah berganti malam, gue tidak melihat lagi istri gue. Mungkin setelah dia menyusui Nathan dan Nayla, dirinya tidak berminat lagi untuk keluar. Entah dia capek, atau emang sengaja tidak ingin bertemu gue yang selalu menghindarinya.


Tengah malam gue terbangun, perut gue keroncongan karena gue memang tidak makan sore ataupun makan malam. Ketika gue menuruni anak tangga, gue mencium aroma mie instan. Walaupun dapur dalam keadaan gelap, tetapi manik mata gue melihat ada yang sedang duduk di meja makan.


Ketika gue menyalakan lampu, ternyata istri gue yang duduk di meja makan itu. Tangannya terangkat seperti orang yang sedang berdoa. Wajahnya terlihat cemas dan gusar, ada sedikit rasa ketakutan juga, mungkin dia mengira bahwa gue ini adalah hantu. Setelah itu dia mengusap dadanya.


"Aku laper!"


Ujar gue dengan nada datar dan dingin. Gue malas sekali berbicara dengannya, tetapi gue juga malas kalau harus masak tengah malam.


"Mau makan apa? Mie instan, spageti, atau nasi goreng?" Tanyanya dengan suara yang enak di dengar, dia juga tersenyum simpul. Tetapi gue sangat malas menanggapi ucapannya, dan gue milih untuk diam.


Karena tidak ada jawaban dari gue, dia langsung memutuskan untuk pergi ke dapur. Tidak berselang lama dia datang lagi dengan membawa baki yang berisi makanan yang baru saja di masaknya.


"Selamat makan." Ujarnya sembari menata spageti, mie instan dan nasi goreng.


Ketiga makanan itu memang merupakan makanan yang gue mau ketika laper tengah malam, karena memasaknya yang tidak ribet dan sangat simpel.


Dia buru-buru pamit undur diri, padahal mangkuk mienya masih penuh. Mungkin dia baru memakannya satu suap atau dua suap.


"Besok aku ngantor! Kamu di rumah aja."


Ucap gue dengan nada dingin, dan gue langsung menyibukan diri memakan nasi goreng.


Dia membalikan badannya, dan mengatakan oke. Lalu beranjak pergi ke lantai dua.


Gue menghabiskan nasi goreng dengan lahap, bukan hanya nasi goreng gue juga langsung menyantap semangkuk mie. Kan udah di buatkan, ya mubazir dong kalau tidak di makan.


Setelah menghabiskan makanan tersebut, gue meninggalkan meja makan tanpa membersihkannya terlebih dahulu, bahkan gue juga meninggalkan mangkuk dan piring kotornya di sana. Gue kembali lagi ke kamar, tapi gue terkejut melihat istri gue ada di kamar.


"Cuma nyiapin stelan kerja kamu, sekalian suapin beberapa berkas dan dokumen untuk meeting. Itu doang kok."


Ujarnya membela diri, mungkin dia takut gue akan marah. Tapi lagi-lagi gue tidak merespon ucapannya. Dia menjadi kikuk karena berada di moment canggung kaya gini.


Kalista itu merupakan istri yang baik, walaupun gue mendiamkannya dia tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri. Dia masih menyiapkan stelan kerja gue, menyiapkan berkas-berkas dan dokumen, bahkan dia juga menyemir sepatu gue hingga mengkilat.


Dia beranjak keluar, tetapi tiba-tiba figura yang menggantung tepat di atas pintu jatuh dan menimpa dahinya.


"Awwwwww." Dia meringis menahan sakit, dahinya terluka dan mengeluarkan darah. Matanya berkaca-kaca, mungkin dia ingin menangis, tetapi dia menahannya dan langsung keluar dari kamar.


Gue kaget, dan gue juga sedih melihatnya yang meringis menahan sakit. Ingin sekali gue peluk dan membalut lukanya, tetapi diri ini malah berdiam dan mematung.


Setalah itu gue mendengar dirinya yang menangis tersedu-sedu disertai gemuruh air dari shower. Gue kira dia sedang mencuci lukanya, akhirnya gue tertidur karena merasa kenyang.


Pagi buta ketika gue sedang sarapan, gue kaget melihat kedatangan dokter Rian. Dia langsung berlari menaiki anak tangga, gue memerhatikan punggungnya yang kian menjauh dan menghilang.


Pikiran gue melayang dan menerka-nerka, apakah istri gue sakit? Ataukah kedua anak gue yang sakit? Saat itu selera makan gue mendadak menghilang, walaupun gue cuma duduk diam di meja makan tetapi pikiran gue sama sekali tidak tenang.


Dokter Rian begitu lama berada dilantai dua, 15 menit telah berlalu akhirnya dia keluar. Ketika menuruni tangga, wajahnya terlihat murka. Mata elangnya tertuju pada gue.


Dia marah, dan mencengkram kerah baju gue. Dia mengatakan segala hal tentang Kalista, dia bilang gue telah mentelantarkan istri dan anak-anak. Banyak hal yang dia ucapkan, tiba-tiba gue merasa kecewa pada istri gue. Gue kira dia istri yang sempurna, gue kira dia paham betul tatakrama menjadi seorang istri.


Gue tersenyum kecut, ternyata Kalista mengadu kepadanya. Lalu gue juga mengatakan istri macam apa yang menceritakan konflik rumah tangga yang sedang di alaminya. Saat itu gue berpikir, jika Kalista menceritakannya kepada dokter Rian, bisa saja Kalista menceritakannya kepada orang lain. Sadar atau tidak, tindakannya yang seperti itu bisa menghancurkan karir dan nama baik Arka dalam dunia bisnis.


Ternyata istri gue emang benaran istri yang baik. Dia sama sekali tidak menceritakan apa yang dialaminya pada dokter Rian, dokter Rian mengetahui semuanya dari para pelayan.


Satu hal yang membuat gue shock banget adalah Kalista pingsan di kamar mandi tepat di bawah guyuran shower. Seandainya tadi malam gue menghampiri ke kamar mandi, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Gue nggak ngerti lagi deh betapa baiknya istri gue, dalam keadaan seperti ini saja dirinya masih kekeuh membela gue.


Dokter Rian mengatakan apa yang dikatakan Andy kemarin, dia mengatakan lebih baik gue pisah saja sama Kalista. Toh Kalista masih muda, masih cantik, badannya masih bagus, tentunya masih laku juga untuk para brondong. Pria mana sih yang tidak tergoda melihat janda cantik dan masih segar? Sekarang gue malah kepikiran hal itu, jujur dari lubuk hati gue yang paling dalam, gue tidak ingin Kalista pergi dari hidup gue.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2