SUN FLOWER

SUN FLOWER
JADI SUPERHERO


__ADS_3

Setelah kejadian barusan yang cukup menghebohkan semua karyawan kantor, berakhir dengan pemecatan Intan dan Riri. Kemudian, Intan dan Riri langsung digiring security keluar dari kantor.


"Jika ada yang berkelakuan seperti Intan dan Riri, maka saya akan langsung memecatnya dengan sangat tidak terhormat." Kini Arka berbicara kepada semua karyawan.


"Semua karyawan yang berkerja di kantor saya harus mempunyai etika, dan sopan santun. Jika kalian tidak mempunyai etika yang baik, silahkan angkat kaki dari kantor saya! Paham?"


"Paham pak." Jawab semua karyawan.


"Silahkan bubar, dan lanjutkan pekerjaan kalian."


Semua karyawan sudah bubar, dan kembali kepada rutinitasnya masing-masing, kini yang berada di aula hanya Arka, Andy, Kalista, dan Tiara.


"Andy, handle semua pekerjaan kantor." Perintah Arka pada Andy.


"Baik pak."


"Kamu mau ikut kerumah saya?" Tanya Arka pada Tiara, Tiara yang di tanya langsung oleh seorang CEO kini dirinya menatap Arka dengan bola mata bulat sempurna, mulutnya menganga.


"Ah ti..tidak pak, kerjaan saya masih banyak." Akhirnya Tiara menjawab dengan gelagapan, baru kali ini dirinya terlibat percakapan langsung dengan sang CEO yang terkenal dingin dan jutek itu.


"Yasudah, lanjutkan saja pekerjaanmu!" Ucap Arka.


Kini Arka menggandeng tangan Kalista, menuju lantai dasar. Semua karyawan memperhatikannya, kemudian ada yang tersenyum bahagia dan ada pula yang hanya memberikan senyuman palsu.


"Kita mau kemana pak?" Tanya Kalista yang kini sedang berada di parkiran khusus mobil CEO.


"Bawel, ikut aja!"


Arka melajukan mobilnya menuju kediaman Anggara, selama perjalanan keduanya tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing, keheningan menyelimuti mereka, sehingga laju mobil pun terasa lambat.


"Nggak mau turun?" Arka membukakan pintu mobil, kemudian Kalista tersadar dari lamunannya, kini dirinya dan Arka sudah berada di kediaman Anggara.


Kalista mengikuti langkah Arka di belakangannya, berjalan dengan gontai karena merasa lemas, pas istirahat karena keburu di kunci di toilet jadi nggak sempat makan, ketambah lagi tadi pagi memang nggak sarapan, soalnya Kalista kesiangan.


Kalista tidur larut malam, karena harus menggambar desain cincin yang selama ini menjadi impiannya. Pada pukul 03:00 dini hari Kalista baru memejamkan matanya, hari kemarin terasa sangat melelahkan sehingga Kalista tertidur pulas sampai kesiangan.


"Ko udah pulang nak?" Oma bertanya, tetapi Oma langsung berdiri menghampiri Kalista, lalu memeluknya.


"Cucu Oma Kalista ya?" Arka mendumel.


"Kamu bau! Mandi dulu sana." Jari telunjuk dan jari tengah Oma sudah bekerjasama menjepit hidungnya.


"Ini pulang karena mau mandi." Arka mendelik kesal, "Ohiya, bibi udah masak kan ma?" Arka teringat perkataan Tiara bahwa Kalista belum sempat makan.


"Abis darimana sih nak? Kenapa bisa bau busuk?" Oma bertanya sambil terus menutup hidungnya. "Bibi cuti, anaknya sakit. Kalau laper pesan gofood aja."


Awalnya Arka sebal karena nggak ada bibi berarti nggak ada yang masak, apalagi kalau harus pesan gofood. Sepuluh detik kemudian Arka menunjukan senyum seringainya.


"Ngapain masak sih? Disini kan ada seseorang yang pinter masak?" Ucapnya sambil terus mengarahkan tatapannya pada Kalista.


"Oma lagi nggak mau masak." Tegas Oma, kemudian Oma memperhatikan tatapan Arka yang masih mengarah pada Kalista tanpa berkedip.


"Oh Kalista bisa masak ya?" Kini Oma paham akan arti tatapan Arka.


"Bisa dikit-dikit Oma, cuma masakan rumahan aja." Kalista tersenyum kikuk.


"Yaudah ayo masak aja deh, Oma kan nggak pernah masak ditemenin anak gadis."


"Eh kenapa pakai kamar mandi yang di dapur?" Oma bingung ketika melihat Arka masuk ke kamar mandi yang berada di dapur, karena biasanya Arka pakai kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Soalnya biar pas keluar dari kamar mandi langsung lihat 2 wanita cantik yang sedang memasak." Arka mengedipkan sebelah matanya kepada Oma, lalu kepada Kalista plus disertai senyum menggoda miliknya.


Oma dan Kalista langsung mulai memasak, sebenarnya Kalista yang memasak Oma hanya membantu saja. Kalista memasak ayam kecap, capcay dan sayur bayam bening.


Masakan sudah siap tertata rapi diatas meja makan, kini Kalista sedang membersihkan dapur. Ketika Kalista sedang asyik menyapu, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


"Arghhhh... Pak Arka pakai baju dong, nggak sopan banget." Kalista menjerit ketika menoleh kepada Arka yang keluar dari kamar mandi tubuh bagian bawahnya hanya dililiti handuk kecil, kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


"Nanti kamu bakalan sering lihat ko yang seperti ini." Arka tersenyum menggoda. "Nggak sopan? Ini kan rumah saya." Bukannya pergi, Arka makin mendekat pada Kalista.

__ADS_1


"Nak, pakai baju dulu sana! Jangan buat Kalista takut."


Arka masuk ke kamarnya untuk berpakaian, sedangkan Kalista masih sibuk mengontrol debaran jantungnya akibat ulah Arka barusan.


Oma sudah siap dimeja makan, Kalista duduk disebelah Oma. Arka baru saja menuruni tangga, ketika Oma mengambil nasi kedalam piringnya, tiba-tiba pak Anggara datang.


"Wah siapa yang masak ini?" Pak Anggara langsung duduk di kursi yang menghadap ke Oma.


"Gadis cantik ini yang masak." Ucap Oma sambil merangkul Kalista.


"Wah ada Kalista ternyata, sering-sering main kesini ya biar ibu ada yang nemenin." Pak Anggara tersenyum seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Semuanya makan dengan lahap, pak Anggara dan Oma tak henti-hentinya memuji masakan Kalista, Kalista menanggapinya hanya dengan tersenyum saja.


Setelah selesai makan pak Anggara langsung berangkat lagi, katanya dia pulang karena ada berkas yang ketinggalan. Tapi menyempatkan dulu untuk makan di rumah.


"Coba ceritain gimana baju kamu bau busuk? Oma pengen dengar penjelasan kamu nak."


Kalista langsung menatap Arka dan menggelengkan kepalanya, tetapi tidak di hiraukan oleh Arka.


"Jadi gini ma ceritanya, tadi di kantor Kalista di kunciin di toilet, terus di guyur pake air kecap yang sudah di campur telur busuk, Arka jadi superhero nyelamatin Kalista lalu menggendongnya, membelikannya baju baru." Arka mulai menjelaskan semua kejadian di kantor tadi.


"Tapi ya ma, Kalista cukup nyebelin juga, kan Arka gendong Kalista nih jadi baunya pindah ke Arka, eh mentang-mentang dia udah cantik lagi masa tadi dia bilang gini 'Aku nggak mau dekat sama kamu, kamu bau! Dan nggak ganteng!' nyebelin ya ma." Arka mulai mencairkan suasana dengan celotehan yang mengada-ngada.


"Ih aku nggak bilang gitu loh." Kalista mulai memanyunkan bibirnya dan menatap Arka kesal. Oma yang melihat mereka hanya bisa menarik garis bibirnya menjadi melengkung, senyum simpul menghiasai wajahnya.


"Gue becanda, wlee." Arka menjulurkan lidahnya sambil terkekeh.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan sayang?" Oma menatap Kalista dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Nggak apa-apa ko Oma." Kalista tersenyum, lalu memeluk Oma.


"Pelakunya?" Tanya Oma.


"Udah di pecat!"


"Oiya, Kalista temenin Oma dulu ya. Gue ada urusan bentar, nanti balik lagi." Arka mengambil kunci mobilnya.


"Kangen ya lu sama gue?" Arka tersenyum menyeringai sambil menyentil hidung Kalista. "Gue nggak lama, pokonya temenin Oma kesayangan gue ya." Arka langsung berangkat entah kemana.


*****


"Nggak kerja lu? Boss besar masih bisa santai kah?" Evan bertanya, tapi matanya masih terfokus pada layar ponselnya.


"Andy yang handle. Tadi ada kejadian yang kurang menyenangkan dikantor, jadi gue bawa Kalista ke rumah gue." Jawab Arka santai.


"Wah parah lu bro, sahabat lu di pelak di kantor. Kejadian apaan?" Riko menepuk pundak Arka, lalu duduk disebelahnya.


"Jadi gini.. blablabla." Arka menjelaskan semua kejadian di kantor, Evan dan Riko hanya mangut-mangut saja sambil mendengarkan.


"Gila parah amat bro, keadaan Kalista gimana sekarang?"


"Dia baik-baik aja."


"Lah terus kenapa lu tinggalin dia? Kenapa nggak dibawa kesini aja?" Tanya Evan dengan beruntun.


"Gue tinggalin dia dirumah, biar Oma ada teman ngobrol, bibi lagi cuti kasian Oma dirumah sendirian. Lagian nih ya, gue nggak mau bawa Kalista kesini soalnya gue tau lu suka Kalista." Tiba-tiba diakhir kalimatnya Arka mencibir Evan.


"Iya gue suka, bocil tapi sikapnya luar biasa dewasa, udah cantik ternyata bisa bikin cake juga. Idaman gue banget tuh Kalista." Evan seperti sedang berpikir, lalu tersenyum sendiri.


"Awas aja ya lu kalau macam-macam! Nggak ada sejarahnya sahabat gue menikung!" Sarkas Arka.


"Woy sadar diri lah emang lu siapanya Kalista?" Riko menjitak kepala arka "Dia sama Kalista belum jelas bro, jadi lu masih ada kesempatan, gue dukung lu sampai dapatin Kalista." Riko mengepalkan tangannya, lalu menjotos tangan Evan, kemudian keduanya tersenyum mengejek pada Arka.


"Parah lu!" Arka memutarkan bola matanya jengah.


"Sahabat gue yang satu ini jadi berubah ya kalau udah jatuh cinta? Nggak bisa diajak bercanda" Evan terkekeh geli melihat perubahan sikap Arka.


"Dulu sama Yoora gimana? Enak mana nih Kalista sama Yoora?"

__ADS_1


"Kalista lebih baik dari segala hal! Please deh bro nggak usah ngomongin Yoora, eneg gue pengen muntah racun."


"Gue nanya nya enak mana? Nggak fokus lu haha." Lagi-lagi Evan tertawa.


"Sekarang eneg? Dulu aja bibirnya elu embat terus. Ingat nggak pas Yoora datang ke kantor lu beberapa waktu lalu? Siapa coba yang melakukan ciuman panas padahal disitu ada Kalista, jyjyk gue tuhan." Riko meledek Arka.


"Kebawa nafsu, udah deh sekarang fokus gue cuma Kalista aja!"


"Gimana Yoora sekarang?"


"Nggak tahu! Gue blok semua semuanya. Biarin aja dia cari gue kesini? Gue pengen lihat dia nangis-nangis sujud di kaki gue, tapi sorry hati gue nggak akan goyah! Emang dia pikir gue apaan? Seenaknya aja mau mempermainkan hati gue! Otak dia terlalu bodoh untuk menjebak gue yang cerdas ini." Arka menyombongkan dirinya.


"Boss besar dilawan, cari mati tuh kalajengking." Evan menimpali sambil sesekali menyesap kopi pesanannya.


"Rencananya lu ke depan gimana?" Riko bertanya.


"Gue mau lamar Kalista, cincinnya pagi tadi baru di desain, agak lama soalnya cincin impian Kalista super super keren, dan pengerjaannya agak rumit." Arka melirik arlojinya sebentar.


"Nanti gue butuh bantuan lu semuanya." Lagi-lagi Arka melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Gue balik dulu deh." Arka langsung bangkit dan melajukan mobilnya menuju rumah.


2 jam sudah Arka mengobrol dengan Evan dan Riko, kini dirinya kembali lagi ke rumah, karena Kalista pasti sudah menunggunya. Begitu sampai di depan rumah, Arka langsung masuk. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Oma dan Kalista, tapi tidak ketemu juga. Di dapur tidak ada, ruang tamu, ruang tv, dan di taman belakang juga tidak ada.


"Pergi kemana sih Oma sama Kalista?" Gumam Arka sambil terus menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 3.


Begitu Arka membuka pintu kamar, Arka terkejut dan membelalakan matanya tatkala melihat Kalista sedang tidur di ranjangnya.


Arka memperhatikan sekeliling kamarnya, semuanya tertata rapih. Deretan buku yang biasanya menumpuk, kini sudah berjejer. Semua yang ada di kamar Arka, di tata ulang oleh Kalista.


Arka duduk di sisi ranjang, kemudian menatap Kalista lekat-lekat "Cantik" selalu kata itu lah yang muncul di benaknya. Arka mengusap lembut rambut Kalista, kemudian mengusap pipinya. Tiba-tiba dirinya ingin sekali mencium kening Kalista.


Ketika Arka akan mencium kening Kalista, kini mungkin hanya 3sentimeter jarak bibirnya dan kening Kalista, tapi....


"Ekhem..." Pak Anggara dan Oma masuk ke kamar Kalista.


"Pengecut yang mencium wanita yang sedang tertidur." Pak Anggara menyindir Arka.


"Jangan cari kesempatan dan kesempitan dong." Oma tersenyum simpul, karena menyadari cucunya sedang jatuh cinta.


"Apaan sih, Arka tuh bukannya mau cium, tapi tadi Arka cuma..." Omongannya terjeda, karena dipotong oleh pak Anggara.


"Cuma apa? Udah kepergok masih nggak mau ngaku? Nggak gentle! Mending kamu pakai rok saja!" Pak Anggara masih saja mengejek Arka.


"Jangan kaya gitu, nanti di gerebek warga di kawinin loh." Ujar pak Anggara lagi.


"Mau kaya gitu aja, biar di kawinin." Spontan Arka mengatakan hal itu dengan senyum jahil yang ia berikan pada Oma.


"Siapa yang di kawinin?" Tiba-tiba Kalista mengerjapkan matanya, dan bertanya begitu karena mendengar suara yang bercakap-cakap.


"Gue sama elu!" Arka mendekat, kemudian "cup" mencium pipi Kalista di depan pak Anggara dan Oma.


Kalista mendorong tubuh Arka, muka nya sudah berubah merah seperti kepiting rebus.


"Nggak usah malu lah, toh kita juga pernah lebih dari ini." Arka mencubit pipi Kalista gemas, sambil terus menyeringai.


"Nggak sopan banget mempertunjukan kemesraan di depan jomblo seperti kita ya bu." Pak Angga dan Oma menggelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan kalista dan Arka.


"Bahaya cucu Oma kalau sedang jatuh cinta, harus buru-buru di kawinkan!" Ucap Oma.


"Iya, takutnya nanti malah kebablasan!" Kata pak Anggara.


"Kawinkan besok aja yah, Arka sudah siap lahir batin." Kalista lalu menoyor kepala Arka, sedangkan Oma dan pak Anggara tersenyum bahagia. Karena selama ini pak Anggara khawatir terhadap Arka yang tidak pernah berkencan dengan wanita selain Yoora, sedangkan pak Anggara tidak merestui kalau Arka berhubungan dengan Yoora. Bahkan pak Anggara pernah berencana akan menjodohkan Arka.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2