
Sudah satu Minggu semenjak Kalista melahirkan, Arka di buat sibuk. Mulai dari pagi-pagi buta membeli sarapan untuk Kalista, sampai makan siang, sore dan malam pun Arka membeli di kafe, restoran bahkan sampai makanan di kaki lima pun Arka beli. Kalista selalu menolak memakan menu makanan yang di siapkan oleh pihak rumah sakit.
Si bayi kembar sudah semakin aktif geraknya. Ketika Arka dan kalista mengajaknya berinteraksi mereka telah merespon, kadang-kadang tersenyum mesem. Tapi, si bayi cowok agak susah untuk tersenyum, sepertinya dia memang benar-benar titisan Arka banget.
Sudah satu Minggu ini pula Oma dan pak Anggara tidak pulang ke rumah, mereka selalu menemani Kalista dan selalu berada di dekat si bayi kembar.
Mendapatkan perawatan pemulihan tubuh selama satu Minggu ini, Kalista sudah semakin putih dan merasa sehat-sehat saja. Bahkan dokter sudah mengizinkannya pulang.
Arka menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, kemudian dia berkonsultasi pada dokter mengenai susu formula untuk si kecil. Satu pekan ini Kalista cukup kewalahan bahkan di buat repot oleh si bocah, mereka menyusu sangat kuat. Asi Kalista memang subur, tetapi jika terus-terusan mengasihi Kalista malah merasa dadanya sakit. Walaupun akan di bantu oleh susu formula, Kalista tetap memberikan hak asi untuk kedua anaknya. Susu formula hanya untuk membantu dan jaga-jaga saja.
Jejeran mobil telah menunggu di depan rumah sakit, Arka menelpon dan menyuruh beberapa sopir di rumahnya untuk menjemput Kalista. Arka juga menyuruh beberapa mobil lain untuk ikut mengawal.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah sakit ini, lagi-lagi Arka bertanya pada dokter bagaimana caranya membawa bayi kedalam mobil agar si bayi merasa tenang dan nyaman selama di perjalanan.
Mobil melaju dengan kecepatan rendah, Arka sengaja meminta pak sopir untuk mengendarai dengan kecepatan rendah, soalnya ini pertama kalinya kedua bocah kecilnya menaiki kendaraan. Arka takut goncangan kendaraan selama perjalanan membuat kedua bocah yang merasa mual atau mabuk kendaraan.
Perjalanan ini terasa sangat lambat, cahaya matahari dengan tidak sopan menembus jendela mobil dan sinarnya menerpa wajah si bocah laki-laki. Arka dengan sangat tergesa langsung menutup gorden jendela mobil. Bagaimana mungkin Arka membiarkan kedua bocah kecilnya menyipitkan atasnya karena silau.
Mobil telah sampai di kediaman Anggara, beberapa pelayan sudah menunggu di teras halaman depan. Wajah mereka terlihat sumringah, bahkan ada yang tidak sabar untuk melihat kedua bocah kembar.
Sebagian pelayan sedang sibuk di dapur, Arka menyruh merek untuk membuatkan bubur merah dan bubur putih, ciri khas ketika orang tua akan memberikan nama pada anaknya. Awalnya pak Anggara menyuruh untuk membeli saja, namun Arka mempunyai alasannya tersendiri, dia lebih memilih membuatnya di rumah ketimbang membeli.
Kamar si bayi kembar telah di bersihkan, bahkan sangat bersih. Arka sangat wanti-wanti dan ketat sekali terhadap para pelayan, Arka meminta mereka membersihkan dan menata ulang kamar tersebut, tidak boleh ada debu yang bersarang di kamar itu.
Arka juga tidak pelit sih, Arka mengizinkan jika para pelayan ingin menggendong atau menyentuh anaknya. Dengan syarat dan catatan, mereka harus dalam keadaan bersih, tangan mereka terlebih dahulu harus menggunakan hand sanitizer.
"Kamu istirahat dulu saja sayang." Ucap Oma sambil merangkul bahu Kalista.
Kalista tersenyum dan mengangguk, kemudian dirinya pergi ke kamarnya dan langsung membersihkan tubuhnya. Karena memang hari ini Kalista belum mandi.
Oma, Arka dan pak Anggara masih berada di kamar si bayi. Mereka terlalu bahagia dan sangat antusias atas kehadiran bocah kembar itu. Bahkan telinga Oma sangat peka, jika mendengar suara Isak tangis si bayi, Oma dengan sigap langsung menghampirinya.
"Pak, buburnya sudah jadi." Salah satu pelayan membuka kenop pintu, dan langsung memberitahukan Arka.
"Ruang tamu kalian bersihkanlah, kemudian gelar karpet telan di sana. Setelah itu buburnya letakkan di tengah karpet itu, tata yang rapi. Nanti saya turun bawa anak-anak. Pastikan tangan kalian selalu dalam keadaan steril." Ujar Arka.
"Baik pak." Sang pelayan itu pun pamit undur diri.
Kalista masuk ke kamar itu, wajahnya terlihat sangat fresh. Apalagi di tambah make up natural yang terpoles rapi di wajahnya. Kedua bocah kembar itu menangis secara bersamaan, tibalah waktu yang kerepotan ini. Kalista harus menyusui kedua bayi kembarnya secara bersamaan. Terkadang Arka merasa kasian pada Kalista, melihat istrinya kerepotan memang cukup membuatnya iba, tapi ketika melihat dua bocah kembarnya itu berhenti menangis justeru Arka semakin merasa bahagia.
Sadar dengan statusnya saat ini yang telah menjadi seorang bunda, Kalista mengenakan daster selutut, dengan kancing ataupun resleting di telah di belahan dadanya, kancing ataupun resleting itu sangat membantu untuk seorang bunda yang menyusui.
"Cape Bun?" Tanya Arka, Arka menatap Kalista sambil tersenyum.
"Lumayan! Tapi ketika sudah menjadi seorang bunda, cape ini adalah pahala. Lagi pula, menyusui mereka berdua tuh terasa nik'mat. Apalagi melihat wajah-wajahnya yang tenang, adem banget ini hati." Ucap Kalista sambil tersenyum.
Ketika Kalista menyusui keduanya, Arka harus ada di sampingnya untuk membantu memegangi salah satu bayinya. Karena tanpa bantuan Arka, menyusui keduanya snagatlah repot, bahkan Kalista takut salah satu bayinya terjatuh.
"Turun yu, sekarang kita akan memberikan nama untuk bayi kembar kita." Arka menggendong salah satu bayinya, dan yang satunya Kalista yang gendong.
"Udah ada namanya? Aku nggak ada referensi sih, aku ngikut ayah aja." Kalista menatap Arka, kemudian melanjutkan jalannya.
"Udah ada Bun, tenang aja."
Mereka turun menuju ruang tamu, tetapi untuk sampai di ruang itu saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena Kalista sehabis melahirkan tiba boleh jalan dengan langkah besar-besar, lagi pula mereka kan menuruni tangga, jadi jalannya super duper pelan-pelan alias lambat banget kaya keong.
"Nggak ngundang anak yatim yah?" Kalista menatap bingung, karena di ruang tamu itu hanya pelayan, security, sopir, dan beberapa tukang kebun, mereka semua berkumpul dan membuat lingkaran.
"Tidak! Ayah sengaja tidak mengundang mereka, tetapi bingkisan dan uangnya telah ayah serahkan pada ibu pantinya, dan ayah juga berpesan pada ibu panti agar mendoakan si kembar."
Kalista mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu meletakkan kedua bocah kembarnya pada box bayi yang telah di sediakan di ruang tamu. Pak Anggara dan Oma juga sudah duduk di sana.
"Bismillahirrahmanirrahim, seminggu yang lalu istri saya telah melahirkan dua bocah kembar yang cantik dan tampan, persalinannya secara normal dan berjalan lancar. Semua ini atas izin yang maha kuasa dan tidak luput juga dari do'a kalian semua. Kepada kalian semua saya ucapkam terimakasih." Arka berbicara dan membuka acara tersebut.
Semua pelayan tersenyum bahagia, dulu kehadiran Kalista kerumah ini telah membuat banyak perubahan, mulai dari sikap Arka yang tadinya dingin seketika langsung berubah menjadi hangat dan ramah ada pelayan. Kini kehadiran bayi kembar yang telah keluar dari rahim Kalista juga semkin membuat Arka berubah, Arka lebih ramah lagi dan lagi.
"Saya sangat bahagia, dan sayang bersyukur Allah titipkan dua malaikat kecil pada saya dan istri." Menjeda kalimatnya sejenak, kemduain bibirnya langsung mendarat di dahi Kalista. Arka mengecup Kalista telah di hadapan mereka semua.
"Hari ini saya akan memberikan nama untuk bayi kembar keturunan saya." Lagi-lagi ucapannya terjeda, Arka menarik napas dalam lalu menghembuskannya, lalu kembali tersenyum.
"Bayi laki-laki yang lahirnya lebih dulu sepuluh menit dari bayi perempuan, saya berikan nama NATHAN KEENAN PUTRA ANGGARA, di panggilnya Nathan."
__ADS_1
"Bayi perempuan saya namakan NAYLA KEYNAA PUTRI ANGGARA, nama panggilannya Nayla."
Kalista tidak banyak komentar, dia setuju-setuju saja dengan nama yang Arka berikan. Kalista percaya sepenuhnya pada Arka, nama yang Arka berikan tidak hanya sekedar nama, pasti di dalamnya mengandung do'a yang baik dan indah.
"Kalian harus ingat ya, Nathan adalah kakaknya Nayla, begitupun sebaliknya. Mereka kembar tetapi lahirnya beda sepuluh menit." Imbuhnya lagi.
"Saya berharap kedua anak saya ini akan menjadi penerang bagi kehidupan saya dan istri, tentunya juga untuk keluarga saya. Semoga kedua anak saya ini menjadi anak yang berguna bagi Nusa, bangsa, negara, lebih utamanya berguna untuk kedua orang tua, semoga kehidupannya selalu bahagia, di jauhkan dari marabahaya, tumbuh sehat dan panjang umur. Semoga kehidupannya di berkahi oleh Allah SWT, dan saku berada di jalan-NYA. Semoga anak saya menjadi anak-anak yang Sholeh dan sholehah, sukses dunia akhirat dengan hati rendah hati." Setiap kata-kata yang Arka ucapkan merupakan sebuah do'a dan harapan untuk Nathan dan Nayla.
Semua yang berkumpul di ruang tamu itu mengaminkan semua do'a yang Arka ucapkan, mereka pun mendoakan Nathan dan Nayla dengan do'a menurut versinya masing-masing.
Setelah itu mereka semua memakan bubur merah dan putih itu secara bersama-sama. Lalu Arka membagikan bingkisan dalam tas besar kepala mereka semua, tidak hanya bingkisan Arka juga memberikan amplop. Hitung-hitung tasyakuran atas kelahiran istrinya yang berjalan lancar.
*****
Sedangkan di salah satu mall besar, Tiara dan Gina sedang mencari kado untuk anak boss mereka.
Mereka berdua telah memutari dan menjelajahi mall tersebut, namun mereka berdua masih bingung mau memberikan kado apa? Salah satu alasannya takut tidak sesuai dengan selera Arka, mau memberikan kado yang biasa saja takut Kalista tidak suka. Apalagi kalau beli kado yang harganya harganya miring, malu banget rasanya.
Mereka berdua memang janjian akan membeli kado bareng, sebenarnya mereka juga mengajak Risa sih tapi Risanya tidak mau. Katanya dia akan memberikan baju hasil jahitannya sendiri. Tetapi mereka tetap janjian dan akan ke rumah Kalista secara bersama-sama.
Gina dan Tiara juga sebenarnya meminta di temani pasangan mereka masing-masing. Namun, Evan mendadak tidak bisa di hubungi, dan Andy juga sama saja.
"Gue kasih kado apa ya gin? Bingung?" Tanya Tiara yang kini sedang menatap deretan baju-baju bayi yang lucu dan menggemaskan.
"Lah malah nanya gue, gue aja masih bingung Ra." Gina juga sama bingungnya seperti Tiara. Tapi, tangan Gina sekarang sedang memegang beberapa baju-baju bayi perempuan, ada yang modelan dress, baju balon dan lain sebagainnya.
"Gue mau kasih baju aja deh! Tapi gue nyarinya yang couple gitu, soalnya mereka kan kembar hehe." Ujar Gina, Gina sudah menemukan satu baju untuk bayi perempuan, kini dirinya malah sibuk memilih baju bayi laki-laki.
"Gue apa dong? Ya ampun sama sekali belum kepikiran." Tiara menepuk-nepuk kepala dan dahinya.
"Pusing-pusing amat mbak, samain aja kasih baju. Tali bedain style dan motifnya." Gina memberi saran pada Tiara.
Pada akhirnya mereka membeli beberapa pasang baju couple. Tetapi, mereka memilih yang stylenya lucu, unik, dan mewah. Malahan Tiara memilih baju bayi-bayi style Korea gitu deh, Kalista kan lumayan suka nonton drakor, nggak ada salahnya juga kan ngasih style baju korea? Kalista pasti suka kok.
Kalau Gina lebih ke mewah tetapi sederhana, baju-baju yang di belinya terlihat biasa saja, tetapi harganya lumayan.
Bukan hanya baju mereka juga membeli beberapa popok bayi, dari motif yang imut-imut untuk baby cewe, sampai motif yang kalem buat baby cowo. Setelahnya mereka memutuskan untuk nongkrong di kafe yang berada di mall tersebut. Sudah lama juga mereka tidak nongkrong sebagai sesama wanita. Biasanya mereka nongkrong selalu di kawal oleh kekasih mereka masing-masing.
"Iya, tapi jemput Risa dulu." Ujar Tiara sambil menyeruput jus alpukat pesanannya.
"Oke."
Mereka melanjutkan makan sambil mengobrol, ada beberapa pria yang menghampiri mejanya dan meminta duduk satu meja. Mereka berdua menolak, karena jika para kekasih mereka mengetahuinya sudah pasti bakalan marah-marah, atau mungkin bakalan ngacak-ngacak rumah.
Taksi online telah menunggu di depan mall, Gina dan Tiara berlari tergesa-gesa, kemudian naik taksi online tersebut. Menjemput Risa terlebih dahulu, kemudian langsung otw ke kediaman Anggara.
Dasar wanita mulutnya lebih dari satu, selama perjalanan ketiganya sibuk mengobrol, mulai dari make up sampai ke drama Korea pun mereka bahas. Risa yang baru seminggu ini kenal mereka juga sudah bisa beradaptasi, mereka sangat cocok dan akrab.
Taksi online berhenti tepat di depan gerbang, Gina, Tiara dan Risa langsung turun dari mobil. Beberapa security langsung berdiri dan menjaga ketat gerbang.
"Mau bertemu siapa? Apakah sudah ada janji? Apakah sudah di izinkan oleh nyonya ataupun tuan?" Tanya seorang security yang perawakannya sangat tegap dan tinggi. Badannya sangat berisi, terlihat otot di balik bajunya sangat kekar.
"Saya karyawan di kantor Anggara, sekaligus sahabatnya nyonya Kalista." Ujar Tiara.
"Gini ya kalau bertamu ke rumah orang kaya? Nggak kebayang deh kalau bertamu ke rumah presiden?" Ucap Risa, manik matanya menatap rumah yang menjulang tinggi di hadapannya, rumah yang besar dengan arsitektur yang sangat keren. Bahkan securitynya saja banyak sekali.
"Kalau bertamu ke rumah presiden, kita di suruh mandi dulu di sana, terus di kasih baju yang sudah mereka sediakan. Setelah itu kita cek kesehatan dulu, kalau kondisi otak sehat, berarti kita lolos ke tes selanjutnya. Diana juga tangan kita harus pakai hand sanitizer, kita juga harus wangi, saking harus wanginya bahkan ada yang sampai menumpahkan parfum satu botol ke bajunya." Ujar Gina sambil berbisik di telinga Risa.
"Masa? Itu ketat banget kok aku merinding ya, jadi kaya serem gitu." Risa yang polos itu mengira apa yang di katakan Gina itu sungguhan, padahal hina hanya asbun dan ceplas-ceplos saja.
"Ya ampun gemas deh, polos banget sih nih cewe." Gina mencubit pelan pipi Risa, kemudian mengacak-acak rambut Risa.
Gina langsung bisa menarik kesimpulan, Risa itu sebenarnya polos, hanya saja dia terjebak oleh keadaan dan di manfaatkan oleh Riko. Beberapa waktu lalu kepergok sedang melakukan hal dewasa, itu sudah bisa di pastikan sepenuhnya Riko yang mengajarkan, dan Riko juga yang memaksa.
"Kalian berdua tuh malah bergurau, bantuin gue dong? Yakali kita nggak boleh masuk dan akan terus berdiri di sini?" Gerutu Tiara yang belum berhasil membujuk para security itu.
"Gini deh, bapak laporan dulu sama tuan dan nyonya. Ada tamu yang bernama Gina, Tiara dan Risa." Ujar Gina sedikit memohon kepada para security.
Namun, tidak ada satupun dari security itu yang menuruti perintah Gina. Mereka malah asyik mengobrol di pos, sedangkan Tiara, Gina, dan Risa masih berdiri di depan gerbang, teriknya matahari membuat mereka kepanasan dan berkeringat.
Kurang lebih sepuluh menitan merek berjemur, bahkan mungkin sekarang kulit mereka sedikit coklat atau menghitam.
__ADS_1
"Silahkan masuk! Jangan lupa pakai hand sanitizer yang tersedia di pintu." Salah satu security menghampiri dan membuka pintu gerbang.
Dengan langkah gontai mereka memasuki kediaman Anggara, mereka juga patuh dengan menggunakan hand sanitizer yang tersedia di dekat pintu.
Menekan bel beberapa kali, kemudian pintu itu terbuka, munculah wajah pelayan di balik pintu itu. Alhamdulilah, pelayan yang membuka pintu sudah kenal pada Gina dan Tiara, sehingga mereka tidak di persulit untuk masuk ke rumah sang CEO ini.
Pelayan itu juga menyemprotkan sejarah ke tubuh mereka, katanya untuk membunuh kuman. Maklum, sekarang kan di rumah ini ada bayi, jadi apapun itu harus dalam keadaan steril.
Pelayan langsung membawa mereka ke lantai atas, menuju kamar si kecil. Karena Kalista dan Arka memang sedang berada di situ.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" Terdengar suara dari dalam.
"Teman-temannya nyonya." Pelayan itu membuka pintu dan langsung berbicara pada Arka.
"Suruh masuk!" Ucap Kalista dan Arka secara bersamaan.
Tiara, Gina, dan Risa langsung masuk begitu saja. Mereka dengan girang langsung menghampiri Kalista yang sedang menyusui.
"Aduh aduh cantiknya anak bunda Kalista." Tiara langsung memperhatikan Nayla yang sedang menyusu.
"Ini juga ganteng nih, anaknya ayah Arka." Arka tidak mau kalah, masa iya Nayla di bilang cantik karena anaknya Kalista, sedangkan dirinya tidak di sebut ganteng.
"Tapi lebih ganteng anaknya pak." Tiara berkata terang-terangan, kapan lagi bisa menyangkal ucapan sang CEO yang terkenal dingin dan galak.
"Tiara, bulan depan gaji kamu 50%." Ucap Arka sambil mendelikkan matanya jengah.
"Ah bapak ini, udah beranak dua masa sikapnya masih gitu-gitu aja." Gerutu Tiara lagi, Tiara tahu kok ini guyonan tidak sopan untuk bapak CEO. Namun, Tiara sebenarnya sedang mengerjai Arka saja.
"Eh saya sudah berubah loh, acuan saya untuk menjadi seorang suami yang baik karena istri saya, yang tidak lain adalah sahabat kamu. Saya juga sedang berusaha menjadi seorang ayah angkatnya baik, lagi-lagi di dukung oleh si wanita kesayangan saya." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
"Nayla sayang miminya gantian dong, Kaka Nathan juga mau mimi, bunda yang adil dong! Kaka Nathan marah nih." Gerutu Arka sambil menyodorkan Nathan pada Kalista.
Kalista langsung mengambil Nathan dan menyusuinya, sedangkan Nayla sekarang di gendong oleh Arka.
"Nayla dan Nathan? Nama yang bagus, sesuai dengan bayinya cantik dan ganteng." Ujar Risa sambi memperhatikan Nayla yang sekarang berada di pangkuan Arka.
"Iya dong aunty, nama lengkapnya Nathan Keenan Putra Anggara, dan Nayla Keyna Putri Anggara. Panggil aku Nathan dan Nayla ya aunty." Ucap Arka dengan suara yang di ubah seperti suara anak kecil.
"Boleh pegang nggak? Saya sudah bersih kok, udah pakai hand sanitizer dan udah si semprot juga sama pelayan di bawah." Ujar Risa, suaranya sedikit lirih bahkan hampir tidak terdengar.
"Boleh aunty, tapi belum boleh di gendong kalau bukan sama bunda dan ayah." Ujar Arka.
Lalu mereka menyentuh Nayla dan nathan, mereka juga sibuk memfoto dua bayi kembar itu. Arka berpesan jangan memotretnya menggunakan flash, karena Arka pernah membaca berita seorang bayi yang baru lahir di foto menggunakan flash, lalu tiba-tiba bayi tersebut tidak bisa melihat.
Meraka juga memberikan kado yang mereka bawa. Risa sebenarnya agak malu, tapi Arka dan kalista menerimanya dengan senang hati. Risa juga membawa sebuah ramuan tradisional dari ibunya, katanya sangat bagus di minum oleh wanita yang baru saja melahirkan.
Kelahiran Nathan dan Nayla mencuri perhatian publik, dari hari pertama mereka di lahiran hingga kini mereka berumur satu Minggu. Kado-kado terus saja berdatangan, baik itu dari kerabat, karyawan kantor, para sahabat, dan bahkan dari netizen. Nathan dan Nayla baru lahir saja langsung di sukai oleh netizen, sepertinya netizen ngefans sekali pada si kembar yang cantik dan ganteng itu.
Kado-kado itu sudah menggunung, jumlahnya sangat banyak. Arka bahkan sampai mengosongkan satu kamar tamu untuk di isi oleh kado-kado tersebut. Semua kado itu belum ada yang di buka, suratnya pun belum ada yang di baca. Bukannya tidak keterima atau tidak mau, tetapi mereka berdua masih repot.
Sekarang Arka malah betah di rumah, mengasuh Nathan dan Nayla sambil memperhatikan tumbuh kembangnya. Arka juga sudah menunjukan tanggung jawabnya menjadi seorang ayah yang baik dan cukup membantu Kalista.
"Gimana rasanya melahirkan?" Tanya Gina penasaran.
"Nik'mat banget! Nggak munafik sih sakit itu pasti ada, tapi ketika kita mendengar tangis si bayi, melihat si bayi yang kita lahirkan, terlahir dalam keadaan sehat tanpa kurang suatu apapun. Rasa sakit itu seketika menghilang begitu saja. Gue pribadi literally nggak kapok sih, malah pengen nambah anak lagi. Biar rumah ini rame, tau sendiri kan gue anak tunggal, suami gue juga nak tunggal. Kita sama-sama anak yang kesepian sebelum menikah." Ucap Kalista sambil mengusap lembut kepala Nathan yang sedang menyusu.
"Terus setelah menikah gimana? Kesepian nggak?" Tanya Tiara sambil memandang Arka dan Kalista bersamaan.
Bersambung....
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
Find Me On Instagram : @halloimas13β€
__ADS_1