SUN FLOWER

SUN FLOWER
UPAYA RIKO 3


__ADS_3

Mobil baru saja memasuki halaman utama kediaman Anggara, perjalanan pulang Arka terhambat karena di tengah jalan terdapat salah satu pohon besar tumbang dan menghalangi jalan. Dengan sangat terpaksa Arka putar arah, dan mengambil jalan pulang yang lumayan cukup memakan durasi.


Begitu mendengar deru mesin mobil, Kalista langsung membuka pintu. Raut wajahnya terlihat sangat lega, entah apa yang barusan ada di pikirannya.


Kalista memeluk Arka sangat erat, wajahnya terbenam di dada Arka. Degup jantung Kalista masih belum stabil, berdetak sangat cepat, helaan napasnya memburu.


"Ada apa bun?" Tanya Arka sambil mengusap lembut rambut Kalista, Arka juga membalas pelukan Kalista. Arka tahu, saat ini Kalista sedang tidak tenang atau mungkin ada yang mengganggu pikirannya.


"Khawatir! Tadi aku insecure, ayah pulang telat ditengah hujan deras seperti ini. Pikiran aku tidak tenang, dari tadi aku menanti kepulangan ayah." Tuturnya, pelukannya masih belum terlepas.


"Alhamdulikah kan ayah baik-baik saja, lepasin dulu bun pelukannya. Ayah belum mandi dan bau keringat." Arka berkata lembut, semenjak ada Nathan dan Nayla Kalista menjadi lebih insecure, Kalista seringkali merasa khawatir kalau Arka belum sampai di rumah.


"Suamiku yang tampan bau acem, yaudah sana ayah mandi dulu, nanti bunda siapin makan malam."


"Love you." Arka mencium dahi Kalista, mencium puncak kepalanya, lalu mereka berdua beranjak masuk ke dalam rumah dengan lengan Arka yang melingkar di pinggang Kalista.


Bahagia, itulah yang Arka rasakan hari ini. Pulang kerja, capek, hujan deras, kejebak pohon tumbang di jalan, putar arah, perjalanan pulang menjadi sangat memakan waktu. Begitu sampai di rumah, istrinya sedang menunggunya dengan wajah cemas dan gusar. Menunggu kepulangannya dengan hati yang was-was, menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Waduh, pamer kemesraan. Enak ya lagi hujan deras kaya gini jadi anget." Ledek pak Anggara yang sedang duduk di ruang tamu.


"Iri nggak yah?" Tanya Arka yang masih belum melepaskan tangannya di pinggang Kalista.


"Nikah makanya!" Imbuhnya lagi, padahal pak Anggara sama sekali belum menjawab pertanyaan dari Arka.


"Bermesraan sampai tidak ingat anak? Kalian berdua tuh cinta-cintaan terus." Sarkas Oma yang menggendong Nayla, sedangkan Nathan di gendong oleh salah satu pelayan.


"Ah bukan gitu Oma..,"


"Iya sayang Oma tahu kok, lagi pula siapa sih yang nggak tahu menantunya keluarga Anggara dari tadi mondar mandir terus nunggu kepulangan suaminya, gorden saja kalau bisa ngomong mungkin sudah protes. Dari tadi di buka tutup terus, bahkan pelayan saja sudah bosan menyaksikan istrinya tuan Arka dikit-dikit lihat ke kaca." Oma Weny tersenyum, kembali mengingat tingkah istri dari cucunya yang tadi sangat gelisah.


"Nah benar tuh! Nak, makanya kamu itu harus senantiasa bersyukur, mempunyai istri yang sangat mengkhawatirkan kamu. Bahkan kalau menurut ayah, kamu merupakan satu-satunya pria beruntung di muka bumi ini. Kamu mempunyai istri yang cantik, masih muda, penyayang, penyabar, baik perangainya, pintar di bidang akademik maupun non akademik, pintar ngurus anak, pintar ngurus suami, banyak hal yang baik dari istri kamu deh, dan itu nggak bisa di jelasin pakai kata-kata, karena nggak bakal kelar-kelar kalau mendeskripsikan menantu ayah yang cantik ini." Pak Anggara tersenyum, sang maha kuasa sangat baik padanya, mengabulkan do'a-,do'anya selama ini.


"Terimakasih sayang, kamu adalah sumber kebahagiaan keluarga ini." Arka mengecup mesra kening Kalista, Arka juga kembali memeluknya erat.


Arka melepaskan tangannya yang mendekap tubuh Kalista, kemudian berjalan menuju Oma yang sedang menggendong Nayla.


"Mau kemana?" Tanya Kalista yang langsung mencengkal pergelangan tangan Arka, dan berusaha menahan langkah kaki Arka.


"Mau cium Nathan dan Nayla, kangen banget seharian belum main sama buah hatiku." Ujar Arka yang masih menatap Kalista dengan tatapan bingung, karena Kalista menghentikan langkah kakinya.


"Boleh! Tapi nanti ayah harus mandi dulu. Ayah kan baru pulang kerja, sudah beraktivitas di kantor dan berinteraksi dengan berbagsi macam karyawan, belum lagi ketemu klien. Tanpa ayah sadari, di tubuh ayah itu ada bakterinya, dan bayi sangat rentan terhadap bakteri. Ayah boleh cium Nathan dan Nayla, tetapi tubuh ayah harus bersih dulu ya."


"Benar juga kata bunda, bocah kembarku sayang sabar dulu ya nak, ayah mandi dulu." Arka hanya menatapnya saja, dan sama sekali tidak berani menyentuhnya.


Arka beranjak menuju kamarnya yang di lantai dua. Setelah Kalista melahirkan Arka dan Kalista memang kembali menempati kamarnya yang dulu. Selain kamar yang di lantai dua lebih luas, kamar ini juga sangat dekat dengan kamarnya Nathan dan Nayla.


"Loh bunda ikut juga? Mau mandiin aku ya, enak banget dong kalau di mandiin istri." Arka kembali merangkul pinggang Kalista, padahal posisi mereka sekarang sedang menaiki satu persatu anak tangga.


"Mesum!" Kalista mencubit pelan tangan Arka.


"Aku tuh mau siapin baju suamiku, bukan mau mandiin kamu. Nggak malu apa ya sama Nathan dan Nayla."


"Semenjak ada Nathan dan Nayla, perhatian istriku ke mereka terus. Aku jadi jarang di perhatiin, aku cemburu sayang."


"Masa iya cemburu sama anak sendiri, duh aneh banget suamiku ini."


"Udah lama aku nggak di manja, udah lama juga nggak di kelonin, kangen banget tahu."


"Iya nanti ya..,"


"Nanti malam kalau Nathan dan Nayla sudah tidur ya Bun." Arka tersenyum menyeringai sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"Aku nggak janji."


"Aku marah loh!"


Arka dan Kalista terlalu sibuk mengobrol, perjalannya menuju kamar pun menjadi lambat. Bahkan saking asyiknya mengobrol dari tadi mereka hanya menaiki 8 anak tangga saja. Bagaimana mau berjalan cepat, tangan Arka terus menerus melingkar di pinggang Kalista.


"Oma dengar loh!" Teriak Oma yang masih menggendong Nayla di ruang tamu.


"Ayah juga dengar semuanya!" Pak Anggara pun menimpali ucapan Oma Weny, pak Anggara dan Oma Weny pun langsung mentertawakan sikap manja Arka pada istrinya.


Oma dan pak Anggara juga memaklumi sikap manja Arka, waktu kecil Arka memang tidak di manja, jangankan di manja mendapatkan perhatian mamanya saja tidak. Maka dari itu, sekarang Arka manja banget sama istrinya.


"Kalau aku lama di kamar dan nggak turun-turun, itu artinya aku lagi manja-manjaan sama istriku, lagi di kelonin biar anget." Celetuk Arka dengan suara kencangnya agar Oma dan pak Anggara mendengar ucapannya.


Arka masuk ke kamar mandi, Kalista dengan cekatan langsung menyiapkan pakaian ganti untuk Arka. Lalu, Kalista pergi ke dapur untuk menghangatkan makanan. Walaupun ada pelayan, Kalista selalu menyempatkan diri untuk memasak ataupun menghangatkan kembali makanannya.


Tidak hanya sampai di situ saja, Kalista juga kembali menghampiri Nayla dan Nathan. Di jam makan malam seperti ini biasanya mereka berdua selalu rewel ingin asi.

__ADS_1


Begitulah kehidupan rumah tangga Kalista, mengurus suami, mengurus anak, bercanda tawa dengan Oma dan pak Anggara, dan Kalista juga selalu berinteraksi dengan semua pelayan di rumah ini.


*****


Cuaca dingin benar-benar membuat Risa kelaparan, mulut mungilnya itu sama sekali tidak berhenti mengunyah. Entah sudah berapa banyak bungkusan Snack yang isinya sudah berpindah ke perut Risa. Apalagi snacknya enak-enak, Risa tentunya tidak makan sendirian, dia terus menerus menyuapi Riko.


"Aku udah rakus kaya gini, hujan masih belum berhenti juga." Ujar Risa, tangannya mengintip keadaan luar dari balik gorden.


"Sadar nggak sa?" Pertanyaan dari Riko ini cukup menggantung dan membuat Risa penasaran.


"Maksudnya?" Tanya Risa bingung, Risa mana paham dengan ucapan yang menggantung, karena Risa tidak bisa membaca pikiran Riko, Risa juga bukan cenayang.


"Hujan memberikan kita kesempatan untuk berduaan. Karena hujan ini juga kita terjebak di tengah jalan, kita mengobrol banyak hal dan bisa membicarakan sesuatu hal yang belum lurus, suatu hal yang lu masih belum paham. Akhirnya kita baikan, tapi kita memang belum bisa balikan. Belum bisa bukan tidak bisa! Tapi gue maunya balikan dalam artian janji suci pernikahan. Gue siap banget loh kalaupun harus bertemu dengan ortu lu sekarang juga." Ujar Riko sambil mengusak puncak kepala Risa.


Lidah Risa mendadak jadi kelu, bahkan Risa lebih banyak diam ketimbang harus membuka mulut. Risa merasa aneh dengan perubahan sikap Riko yang sangat mendadak, lagipula Risa masih mempertimbangkan banyak hal di otaknya.


Lima menit sudah berlalu, tetapi Risa masih saja melamun. Risa mengusap-uso bahu hingga ke lengannya. Cuaca sangat dingin sampai menusuk tulang.


"Dingin sa?"


"Nggak sih." Jawab Risa cuek.


Tapi, Riko juga tahu Kalista kedinginan. Kalau hubungan mereka sudah membaik, mungkin saja Riko akan langsung mendekap tubuh Risa.


Riko membuka jas yang melekat di tubuhnya, kemduain memakaikannya pada bahu Risa. "Jangan protes, mungkin nggak bisa menghangatkan. Tetapi jas ini bisa sedikit mengurangi rasa dingin.


Keduanya sama-sama terdiam, terdiam dalam lamunannya masing-masing. Sesekali ekor mata Risa sedikit melirik Riko. Riko benar-benar berubah, Riko yang dulu telah lenyap, sekarang Riko lebih baik dari lebih romantis.


"Kak...,"


"Sa...,"


Mereka berdua berucap bersamaan. Kini keduanya sama-sama saling pandang, manik mata mereka bertemu dan terkunci begitu saja.


"Mau ngomong apa sa? Lu duluan aja deh." Ujar Riko yang kini mengubah posisi duduknya jadi bersandar pada kaca mobil dan menghadap ke Risa.


"Nggak ada sih, Kaka mau ngomong apa?" Jawab Risa sedikit kikuk karena terlalu tegang di tatap oleh Riko.


"Kalau hujan udah reda, gue anterin lu pulang kan? Tapi nanti gue pengen mampir dulu, mau ngobrol dulu sama ortu lu. Please banget jangan di usir." Ucap Riko dengan perlahan, Riko juga mengamati ekspresi wajah Risa.


"Iya." Jawab Risa singkat.


Jawaban dari Risa itu walaupun singkat tetapi mampu membuat sudut bibir Arka terangkat menjadi sebuah garis lengkungan. Bisa di bayangkan gimana bahagianya Riko saat ini, bahksn Riko sempat optimis orang tuanya Risa pasti bakalan menyetujuinya.


"Diluar sana banyak wanita cantik, kenapa milih mau nikahin aku?" Susah payah Risa mengumpulkan keberabian untuk mempertanyakan hal itu, akhirnya dengan sekali tarikan napas kalimat itu berhasil di ucapkan.


Riko meraih kepala Risa, mensejajarkan dengan kepalanya sehingga manik mata mereka kembali bertemu dan saling tatap. "Nikahin lu merupakan tanggung jawab! Dulu gue mikir gini, elu kan di bayar sama gue (Bayarin administrasi RS ayah Risa) jadi gue merasa berhak atas tubuh elu. Sekarang gue udah sadar, sepenuhnya sudah sadar. Gue udah ngambil mahkota paling berharga di diri lu, dan gue harus tanggung jawab atas semua perbuatan gue itu. Tanggung jawab dalam artian gue harus menikahi lu sa." Riko mencoba menjelaskan semua isi pikirannya, sebenarnya masih banyak hal juga yang ingin Riko bicarakan, tapi Riko mencoba untuk menyusun diksi-diksi itu menjadi sebuah kalimat yang pas.


"Aku kan nggak hamil, ngapain tanggung jawab? Kan hubungan kita yang dulu teriak sebuah perjanjian, hubungan kita bagaikan simbiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan." Ujar Risa, dalam pikiran Risa kalau memang Riko merasa berhak tanggung jawab, mengapa baru sekarang? Kenapa nggak dari dulu aja?


"Tapi, gue merasa bersalah banget sa. Kok bisa ya gue sebrengsek itu? Intinya sih, gue mau tanggung jawab atas tubuh lu, dan yang terpentingnya sekarang gue jatuh cinta sama lu." Jawab Riko tegas, ternyata agak sulit juga meyakinkan Risa.


"Kenapa jatuh cinta sama aku? Kan di luaran sana banyak yang cantik, yang sempurna, yang lebih sepadan untuk bersanding dengan Riko sang pemilik coffee shop." Risa masih kekeuh bertanya pada Riko, semua jawaban yang keluar dari mulut Riko belum bisa meyakinkan Risa.


"Usia gue makin tua. Semakin dewasa semakin malas dan muak dengan fase pengenalan, pacaran, nyaman, ketahuan tabiat aslinya, terus putus. Nggak mungkin dong gue terus-terusan berada di fase tersebut? Arka aja udah punya anak dua, yakali gue masih main-main sama wanita, main-main atas dasar hubungan cinta-cintaan. Gue mulai berpikir dewasa, usia sudah dewasa dan sudah waktunya juga untuk membina rumah tangga, sudah waktunya menjalankan ibadah terpanjang dengan sekarang istri. Kandidat untuk menjadi seorang istri yang pas untuk gue sekarang ya elu sa." Riko dan Risa masih bertatapan dengan jarak yang hanya beberapa inci saja, bahkan tangan Riko juga menggenggam erat jari jemari Risa.


"Ya emang di luar sana banyak yang lebih cantik, yang bodynya montok aduhay bagaikan gitar Spanyol. Tapi sa, cantik doang mana cukup. Kalau elu kan paket komplit, cantik iya, pintar iya, pekerja keras iya, jadi manager di Coffee shop bisa, jadi karyawan dari departemen keuangan bisa. Elu sempurna di mata gue sa, bahkan gue juga sudah mengamati gerak-gerik tingkah laku lu, bahkan gue juga udah tahu banget gimana tabias aslinya elu. Nggak adil emang gue tahu sendirian, sedangkan elu belum banyak tahu mengenai kehidupan gue. Kita pengenalan dulu aja sa, kalau emang sama-sama cocok ya lanjut kejenjang pernikahan." Ujar Riko sambil terus meyakinkan Risa.


Risa memalingkan wajahnya, Risa merasa tidak kuat jika terus-terusan di tatap oleh Riko. Karena walau bagaimanapun juga Risa merasakan sesuatu hal yang berbeda pada hatinya.


"Hujannya udah reda kak, pulang sekarang ya. Orang tuaku pasti khawatir nanti." Ujar Risa sembari mengalihkan perhatian.


Tidak ada jawaban dari, Riko langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Riko merasa kesal dan merasa tidak di hargai, sudah berbicara panjang lebar tapi tidak ada respon dari Risa.


"Kak, gordennya jangan di buka ya. Udah malam kaya gini, jalanan sepi jadi agak horor gitu." Ucap Risa lagi, tapi Riko sama sekali tidak merespon ucapan dari Risa.


Sampai sini Risa baru paham, Riko mendadak bisu karena ulahnya. Risa mencoba berpikir bagaimana caranya agar Riko tidak marah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Mau ngomong tapi gengsi, nggak ngomong suasana lumayan mencekam dan Risa malah menjadi semakin takut.


"Pelan-pelan kak bawa mobilnya, biar kita selamat sampai tujuan." Kali ini Risa memberanikan diri untuk menggenggam sebelah tangan Riko, karena Riko hanya menyetir dengan sebelah tangan.


Genggaman itu sangat erat, karena masing-masing dari mereka memang saling mengeratkan jari jemarinya buat saling berkaitan. Risa juga malah menggeser duduknya, menyandarkan kepalanya di bahu Riko.


Riko juga tidak keberatan, walaupun sebenarnya Riko merasa kesusahan menyetir dengan sebelah tangan, ketambah lagi ada beban berat di bahunya. Tapi Riko merasa senang, karena sepertinya Risa mulai membuka hatinya.


Lambat laun mata Risa mulai menutup, Risa tertidur di bahu Riko dengan napas yang teratur. Wajahnya terlihat lebih cantik ketika tidur, beberapa helai rambutnys menjuntai kedepan, di balik cahaya rembulan yang remang-remang di tengah gelapnya jalan, wajah Risa terlihat sangat cantik sempurna.


Laju mobil sangat lamban, Riko menyetir benar-benar dengan kecepatan rendah. Riko takut Risa terbangun karena merasa perjalananya tidka nyaman. Dengan durasi yang lebih lambat dari biasanya, akhienya mobil telah sampai di depan rumah sederhana bercat hijau tosca.


Di depan rumah sederhana itu ada sekarang wanita paruh baya yang sedang berdiri dengan wajah gusar, berjalan mondar mandir dari teras hingga ke pintu.

__ADS_1


Riko telah mematikan mesin mobilnya, tetapi Risa masih terlelap di bahunya. Riko tidak tega untuk membangunkan Risa, Riko malah belum mengubah posisi duduknya walau bahunya terasa sangat pegal.


Wanita paruh baya itu mengetuk kaca mobil Riko, Riko menurunkan kacanya dan tersenyum ramah.


"Mas, anterin..," belum sempat wanita paruh baya itu melanjutkan ucapannya. Mulutnya menganga sempurna melihat sesosok wanita yang sedang tidur bersandar di pundak Riko.


"R I S A !!" Teriak wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya Risa.


Risa mengerjapkan matanya, berusaha mengembalikan fokusnya, tetapi pandangannya masih buram dan belum jelas. Risa juga mencoba mengingat sedang dirinya sedang berada di mana?


"Turun nak cepat." Perintah ibu Risa.


Risa turun dari mobil dan langsung menghampiri ibunya. Ibunya juga memeluknya sangat erat.


"Kenapa pulang telat? Ibu khawatir banget sama kamu nak." Pelukan itu masih belum terlepas, bahkan tangan ibunya sibuk mengusap rambut dan punggung Risa. Seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan anak gadisnya karena belum pulang ke rumah.


"Loh itu siapa? Pacar kamu nak?" Tanya ibunya dengan senyum sumringah, bahkan ibunya juga menyentil hidung Risa pelan.


"Punya pacar kok nggak di kenakan ke ibu? Pacaran itu jangan sembunyi-sembunyi nak, bahaya loh setannya maha dahsyat." Imbuhnya lagi sambil tersenyum manis pada Risa.


"Ah ibu itu buk...,"


"Iya saya pacarnya Risa Tante, maaf ya Tante tadi kita beli dulu di jalan, soalnya hujan deras banget. Rasanya juga penakut banget, selain takut petir ternyata takut gelap juga. Maaf banget ya Tante kita pulangnya agak kemalaman, maaf juga nggak izin dulu anterin anak Tante." Riko langsung memotong ucapan Risa, dengan cara begini sepertinya mamanya akan sangat yakin bahwa Riko memang kekasihnya Risa.


"Duh calon mantu ibu." Mamanya Risa tersenyum sumringah, pasalnya selama ini Risa agak cuek dan sama sekali tidak dekat dengan pria. Ibunya Risa bahkan sempat khawatir takut Risa tidak ingin menikah.


"Sekalian mampir juga ini tuh tan, soalnya ada yang mau di bicarakan penting banget." Ujar Riko to the point, merasa sudah mendapat lampu hijau Riko semakin ingin memuluskan keinginannya.


Tiba-tiba ibunya Risa teringat suaminya yang masih berada di ruang sakit, ibunya Risa juga sempat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan Risa.


"Ngomongnya lain kali ya, soalnya suami ibu ayahnya Risa masih di rawat di RS dan nggak dan yang nungguin di sana. Ibu mau ke RS aja diantar Haikal, ngomongnya bisa besok ya nak."


"Iya Tante besok saja, lagian kan masih banyak waktu juga." Riko menjawab tak kalah ramahnya, padahal aslinya Riko merasa kecewa, karena tinggal selangkah lagi dirinya bisa mendapatkan restu dari ibunya Risa.


"Anak gadis ibu, kamu mandi air anget ya nak, jangan lupa makan. Tapi ibu belum masak, kamu masak dulu aja ya, sekalian pacar kamu juga suruh makan. Tolong jagain Dennis juga ya nak." Ibunya Risa memberikan beberapa nasehat pada Risa.


Risa mengangguk tanda mengerti, tidak berselang lama keluarlah laki-laki yang mungkin usianya sekitaran 17tahunan, mengekuarkan motor matic berwarna merah dan menenteng helm.


"Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba Kaka pulang bawa cowo, nemu dimana kak? Ganteng banget loh, cocok deh pokonya sama kakakku yang cantik sekaligus galak ini." Ucapnya ketika melihat pria dewasa yang sedang berdiri tepat di samping Risa.


"Hallo kak, gue Haikal adiknya kak Risa." Mengulurkan tangannya pada Riko, tidak lupa garis bibirnya terlihat menjadi sebuah lengkungan manis.


"Halah apaan-apaan tuh gue-gue, kita mah orang biasa, orang kamu, jangan sok gaul deh. Udah sana cepat anterin ibu, bawa motornya jangan ngebut, pelan-pelan, udahnya langsung pulang! Ingat besok sekolah!" Risa menoyor pelan kepala Haikal.


"Kaka ih kebiasaan, galak banget sih. Menyebalkan." Haikal mendengus kesal, padahal Haikal sangat ingin sekali berkenalan dengan Riko.


"Begitulah mereka, akurnya semenit berantemnya dua jam." Ujar ibunya Risa sambil memakai helm.


Setelah itu Haikal langsung pergi ke RS mengantarkan ibunya, Risa masuk ke dalam rumah dan langsung menyuruh Riko duduk di ruang tamu. Risa pergi ke kamar mandi dan bergegas membersihkan tubuhnya yang lengket.


Ketika Riko sedang duduk di ruang tamu, ada anak kecil yang menghampirinya. Anak laki-laki yang usianya sekitaran 7tahunan. Dia menangis dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa tepat di sebelah Riko. Riko mencoba beribteraksi dengannya, tetapi anak laki-laki itu malah menangis kejer.


Selesai membersihkan badannya, Risa langsung mengenakan piyama motif lebah berwarna kuning. Handuk masih melilit di kepalanya.


"Loh Dennis kenapa? Kok nangis sayang? Kebangun ya?" Tanya Risa dengan lembut, Risa memeluk Dennis dengan penuh rasa sayang.


"Dennis laper kak." Ujarnya dengan nyaring, tangannya sibuk mengusap perutnya yang terasa keroncongan.


"Oh iya kak, Abang ini siapa? Pacar Kaka ya? Kaka mau nikah ya? Nanti Kaka punya Dede bayi? Asyik dong nanti rumah ini jadi makin seru." Celotehan anak berusia tujuh tahun ini cukup membuat Risa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iya dong! Nanti kak Risa punya bayi banyak, eh kenakan dulu dong sama abang." Riko mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh tangan si bocah Dennis.


Melihat mereka yang perlahan mulai akrab, Risa segera pergi ke dapur. Risa membuka kulkas, tidak ada sayuran apapun, yang tersisa hanya beberapa butir telur. Akhir-akhir ini ibunya memasang sedang sibuk di RS, sehingga jarang belanja kebutuhan dapur. Risa juga sibuk bekerja, jadi tidak sempat berbelanja untuk memenuhi isi kulkas.


Karena hanya ada telur, akhirnya Risa memutuskan untuk membuat nasi goreng kecap dan telur ceplok saja. Risa begitu pandai bermain di dapur, bahkan secepat kilat Risa langsung menyajikannya diatas meja makan.


"Wah wangi banget nih." Riko tiba-tiba muncul di ruang makan, ada Dennis juga di punggungnya. Mereka cepat banget akrab, bahkan sekarang Dennis sedang di gendong Arka.


"Turun den, kasian kakanya. Kamu kan berat."


"Oke." Jawabnya dengan lantang, suara cempreng menjawab sekarang apapun juga malah terlihat lucu dan menggemaskan.


Mereka bertiga makan dengan lahap, Dennis juga sangat menikmati makanan ini. Tidak berbeda jauh dengan Dennis, Riko justeru menjadi orang yang sangat antusias sekali. Menikmati makanan yang di masak langsung oleh gadis yang membuat jantungnya memompa lebih cepat, ini juga pertama kalinya Riko menginjakkan kakinya di ruang sederhana yang bahkan ukurannya saja 7 kali lebih sempit dari apartment Arka.


Bersambung....


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2