
Vino bergegas ke rooftop untuk menjawab panggilan. Ia menekan tombol hijau di telpon genggamnya namun tidak mengatakan apa-apa.
"Halo anakku.. Kamu di sana??" ucap seorang wanita di ujung sana
"Hm.." Vino hanya menjawab dengan singkat
"Nak, kau pulang yaa.. Papamu sakit parah.. Dia terus nanyain kamu.. Sudah beberapa tahun kamu tidak kembali ke rumah.." ucapnya lagi
"Papa sakit apa??" tanya Vino datar, hampir tidak ada emosi apapun dari nada bicaranya
"Ia kena serangan jantung.. Kamu pulang ya.. Please.." bujuk mama Vino
Vino terdiam untuk beberapa saat lamanya. Ia terlihat menimbang sesuatu, wajahnya muram dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Vino.. Sayang!!??" suara mama Vino membuyarkan keheningan
"Vino ada urusan ditanah air,, aku gak bisa ninggalin begitu saja" ucap Vino
Angin kencang menerpa tubuh tegap Vino. Vino tidak ingin pergi ke Amerika sebelum Lantana membuka matanya.
"Sayang.. Kamu tau kan? Perusahaan papamu tidak ada yang urus di sini.. Mama tidak terlalu mengerti dengan urusan perusahaan yang mendetail, mama hanya bisa mengurus hal-hal ringan aja.." Mama Vino
Vino tidak memberi tanggapan pada ucapan mamanya. Mendengar suasana tetap hening, mama Vino melanjutkan. "Saham papamu terus merosot.. Kesehatan papamu sangat tidak stabil.. Mama mohon sama kamu, kamu pulang dulu yaa.."
__ADS_1
"Aku juga punya perkerjaan di sini, ma.." ucap Vino
"Apa kamu benar-benar sudah tidak perduli lagi dengan keluargamu?? Papamu sakit, dan kamu lebih mentingin urusan kamu sendiri?? Di sini ada mamamu yang juga selalu merindukan kamu.. Kenapa kamu hanya mementingkan mama angkat mu??" ucap mama Vino dengan diakhiri isakan
"Kan di sana masih ada Alex dan Walt.. Kenapa harus aku yang ngurus perusahaan papa??" Vino sinis
"Dua kakakmu sedang tidak di rumah.. Alex sedang di Jepang menemani keluarga istrinya dan mengurus perusahaan mertuanya di sana.. Walt.. Walt.. Walt ditahan di kantor polisi karena kasus penipuan dan pelecehan seksual.. Walt mengatakan dia dijebak oleh temannya.. Tapi karena keadaan rumah sedang kacau, mama tidak bisa mengeluarkan Walt segera.." mama Vino terisak. "Pulanglah sayang.. Tolongin mama.." ucapnya lagi dengan suara lemah bercampur isakan pilu
"Baiklah.. Aku akan pulang.." Vino memberikan jawaban yang mamanya inginkan. Karena wanita itu tidak akan pernah berhenti membujuk sebelum keinginannya menjadi kenyataan.
Vino menutup sambungan telponya setelah mamanya setuju dan terdengar nada senang dari bicaranya. Vino memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dan melepas pandangannya pada pemandangan kota yang ramai. Deru mesin dan klakson kendaraan hiruk pikuk memenuhi jagat raya. Namun pendengaran Vino seolah menebal. Ia seolah tidak mendengar apapun dengan berdiri mematung di atas rooftop tanpa merasa terganggu.
Pikirannya berkecamuk, antara keluarganya dan Lantana. Ia sangat enggan kembali ke negara orang tuanya karena kenangan masa lalu yang selalu menyiksanya. Ia bisa menebak kekacauan seperti apa yang tengah terjadi di sana. Vino terdiam untuk sekian menit lamanya, hingga hembusan angin membuat perih matanya, ia segera mengalihkan pikirannya dan berjalan kembali ke ruangan Lantana.
Vino tersenyum diam-diam. Mengingat cerita Lantana yang mengatakan bunda sangat keras pada Lantana, padahal ternyata aslinya sangat menyayangi Lantana. Ia menghampiri Lantana dan duduk di dekat ranjangnya. Beberapa kali Vino mengecup punggung Lantana. Tatapannya masih tertuju pada mata yang tengah tertutup rapat dengan tenang.
"Tuan putri,, kapan kamu bangun??" Vino menyandarkan dagunya di atas tempat tidur. "Kamu mimpi apa sih? Kok lelap banget tidurnya? Mimpiian aku ya??" Vino terkekeh. "Aku akan pergi ke Amerika, dan aku tidak tau pasti kapan akan kembali.. Kamu masih mau nunggu aku kan?? Bangun dong.." bujuk Vino. Vino menghela dan menghembuskan nafas panjang karena Lantana tidak juga menandakan akan segera terbangun.
Vino bangun dari duduknya dan mengusap jidat Lantana lalu meninggalkan kecupan di sana. Ia beralih ke bunda yang masih berbaring di sofa. Vino mengambil selimut di lemari, dan menyelimuti bunda. Vino berbalik mengedarkan pandangannya ke segala arah, terutama Lantana. Setelah merasa puas, Vino menghembuskan nafas berat dan meninggalkan rumah sakit.
*
Vino memasuki kantornya dengan tergesa-gesa. Ia sama sekali tidak memakai pakaian kantornya. Ia hanya menggunakan kaos panjang coklat tua, dipadukan dengan training biru tua. Luarannya ia menggunakan hoodie warna hitam. Setidaknya ini adalah outpit yang ia pakai sejak dari rumah sakit tadi. Rambutnya dibiarkan menggantung begitu saja tanpa ditata seperti biasanya.
__ADS_1
Vino memanggil mr. Didi ke ruangannya dan menginstruksikan semua yang harus ia lakukan selama Vino ke Amerika. Meski tidak yakin kapan Vino akan pulang, tapi ia akan tetap memantau perusahaannya dari jarak jauh agar perusahaannya tetap beroprasi. ia juga meninggalkan beberapa pesan, jika suatu hari nanti Lantana masuk kantor lagi, ada beberapa hal yang harus di sampaikan padanya.
Vino menulis peraturan baru di perusahaan. dan dia menuntut Didi untuk bertanggung jawab penub atas apalun yang terjadi diperusahaannya selama ia pergi.
Setelah menyelesaikan urusannya di kantor, Vino langsung pergi meninggalkan kantor lagi. Sontak saja staff administrasi dibuat heboh dengan penampilan kasual Vino.
"Gila gila gila... Itu beneran bos gue?? Kalo pake setelan jas dia jadi kaya gunung es.. Kalo pakai pakaian kasual gitu jadi kayak es krim.." ujar salah satu staff yang baru saja tergila-gila dengan penampilan Vino.
"Asli.. Gue kira ada oppa korea dateng ke kantor kita.. Tak taunya bos gue.. Bertahun-tahun gue kerja di sini, baru kali ini gue lihat bos gue seganteng itu.." timpal yang lain
"Wajarlah ganteng.. Kan orang kaya.." timpal staff cowok yang tidak terima
"Yee.. Sirik aja lu.."
"Duh.. Gue jadi pengen tukeran tempat sama Lantana.. Dia pasti sering banget kan liat bos dengan mode kek gitu??"
"Oh Lord.. Jantung gue mana.. Jantung gue mana.."
"Sikap biasanya aja itu loh yang lumerrr.. Gak kek tampang serius yang kek singa pms.."
"Ekhemmm..." Lagi-lagi Steva harus membubarkan para staff yang berkerumun. "Kembali ke pekerjaan kalian..!! Tuan Vino akan pergi ke Amerika mengurus bisnis keluarganya di sana.. Jadi kalian harus berkerja dengan benar, meski tuan Vino tidak di sini..!" ucap Steva dengan nada datarnya yang tegas
Para kerumunan segera balik lagi ke kursi mereka dan tidak lagi membahas Vino. Steva kembali ke kursinya dan mengerjakan tugas hariannya.
__ADS_1