SUN FLOWER

SUN FLOWER
KALISTA MENGHILANG


__ADS_3

"Ngapain masuk ke sini?" Tanya Kalista dengan panik. Kalista baru saja keluar dari kamar mandi, badannya masih di liliti handuk. Bahkan rambutnya masih basah.


"Emang nggak boleh masuk ke sini? Ini rumah siapa? Kamu lupa?" Tanya Arka dengan nyeleneh. Arka bahkan merebahkan tubuhnya diatas kasur lantai Kalista.


Iya, oke. Kalista memang tidak bisa berontak. Kalista mengambil piyama dan akan kembali masuk ke kamar mandi.


"Mau kemana sih?" Arka mencengkal peregangan tangan Kalista. Berusaha menahan Kalista agar tidak masuk ke kamar mandi.


Arka juga menarik pergelangan tangannya, sehingga Kalista terjatuh dan terduduk tepat di hadapan Arka. Handuk Kalista seidkit tersingkap sehingga paha mulus bagian atas Kalista terlihat jelas.


Arka mendorong Kalista dengan kasar, sehingga Kalista menajadi rebahan. Arka menindihnya, ******* bibir kalusta habis-habisan. Arka sepertinya memang haus akan kehangatan, Arka merindukan sentuhan tubuh itu.


Tangan Arka juga tidak tinggal diam, Arka melorotkan handuk itu. Tangannya sangat sibuk bergerilya diantar gundukan daging sintal. Arka sangat menginginkan semua ini.


Kaitan lidah Arka sangat menyulitkan kalaua untuk bernapas, bahkan untuk memasok oksigen saja Kalista sangat susah payah.


Dengan perlahan lidah yang tadi membelit itu turun ke leher, sapuan itu terus saja turun hingga sampai ke dada Kalista. Arka segera melahapnya dengan buas, menghisapnya aja mempermainkannya dengan brutal.


Tiba-tiba Arka menghentikan aktifitasnya, manik matanya tertuju pada noda merah yang letaknya berada di pinggiran put*ng Kalista. Entah mengapa pikiran Arka tertuju pada Andre, apakah ini bekas gigitan Andre?


Kilatan api terdapat di mata Arka, Arka mencengkram dan memencet pipi Kalista dengan kasar. "Siapa yang memberikan tanda kissmark ini?" Tanya Arka penuh emosi.


"Calon ayah sambungnya Nathan dan Nayla." Ujar Kalusta santai, padahal dadanya Kalista kepentok alat olahraga di tempat nge-gym.


Jawaban dari Kalista barusan cukup memancing kemarahan Arka, Arka yang tersulut emosi langsung membuka bajunya dengan secepat kilat.


Arka menggigit-gigit kecil dada Kalista, hampir di setiap inchi dada itu di penuhi oleh noda merah. Arka juga menyatukan tubuhnya dengan tubuh Kalista secara kasar.


"Ini kan yang kamu mau?" Ujar Arka dengan bengis. Arka memperlakukan Kalista dengan kasar. Arka bahkan seperti orang tidak punya hati, Arka sama sekali tidak memperdulikan teriakan dan erangan Kalista.


Sore itu Arka terus menerus menghujamkan miliknya pada Kalista, entah berapa kali? Kalista sama sekali tidak menghitungnya. Kalista merasa nyeri pada seluruh tubuhnya, terutama pada kewanitaannya. Arka benar-benar kemasukan setan, meniduri Kalista dengan sangat kasar.


Arka yang juga merasa kecapekan langsung membaringkan tubuhnya di samping Kalista. Arka menatap langit-langit kamar itu, kali ini hatinya merasa lebih tenang.


Arka melirik Kalista sekilas, tubuhnya telah tertutupi handuk. Mungkin barusan ketika Arka menyelesaikan yang terakhir, Kalista langsung menarik handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya itu. Matanya terpejam, tetapi Arka dapat melihat ada aliran air mata di yang jatuh melalui ekor matanya.


Arka tahu dan Arka paham betul bagaimana perlakuannya pada Kalista barusan. Arka bergegas memakai kembali pakaiannya, dan pergi keluar dari kamar itu. Tidak memperdulikan Kalista yang kesakitan barusan.


Arka pergi ke kamarnya, bergegas membersihkan tubuhnya. Mood Arka menjadi lebih baik setelah dia mendapatkan jatahnya sebagai seorang suami, Arka bahkan bermain game di kamarnya.


Waktu menunjukan pukul 18:05 WIB, Arka merasa perutnya keroncongan. Arka bergegas pergi ke meja makan, ketika melewati kamar Nathan dan Nayla, Arka menyempatkan membuka. Ternyata kalau tertidur dengan tubuh telanjangnya yang hanya di tutupi oleh handuk. Arka kembali lagi ke kamarnya, mengambilkan selimut tebal, lalu menyelimutinya pada tubuh Kalista.


Arka makan lahap sekali, sepetinya tubuhnya memang membutuhkan energi yang banyak. Atau mungkin pernyataan yang sesungguhnya dialah energinya telah habis di salurkan pada tubuh Kalista.


Sahabat-sahabat Arka oada nggak nongkrong di Coffee shop Riko. Katanya ada yang mau Riko bicarakan juga. Setelah selesai makan malam, Arka langsung pergi ke coffee shop.


Kalista terbangun karena deru mesin mobil Arka, Kalista mengambil ponselnya, lalu jari jemarinya langsung berselancar lincah diatas layar ponselnya.


Kalista masuk ke kamar mandi, membersihkan kembali badannya. Ada beberapa bagian yang ketika terkena sabun malah terasa perih, maka dari itu Kalista meringis sakit.


Kalista buru-buru membersihkan badannya. Memakai piyamanya, mengiyisr rambutnya dan berusaha menggunakan concealer untuk menutupi mata sembabnya.


Kalista mengambil tas kecil, memasukan beberapa baju Nathan dan Nayla. Kalista juga membawa dressnya satu.


Nathan dan Nayla yang masih tertidur pulas itu terpaksa Kalista gendong, mereka jadi terbangun untung saja keduanya tidak menangis.


Berjalan dengan tergesa-gesa, para pelayan pun bertanya tetapi tidak Kalista hiraukan. Kepala security Kalista berbicara, jika Arka bertanya kemana dirinya pergi, jawab saja tidak tahu.


"Kenapa? Suamimu menyiksamu bukan?" Tanya Gerry.


Lagi-lagi Gerry yang menjemput, Gerry akan pulang tepatnya besok jam 07:00 WIB. Gerry bertanya seperti itu, karena Gerry bisa menilai dari cara jalan Kalista saja sudah kelihatan, bahwa Kalista di siksa di ranjang.


"Nggak! Aku lagi kepengen nginep aja di rumah mama mertua." Kalista berusaha berbohong, karena Kalista juga sama sekali tidak menceritakan apapun itu kepada Gerry.


"Oh gitu, kangen mama mertua ya. Sekalian pengen santai dan rehat sejenak, biar mama mertua yang jagain Nathan dan Nayla. Betul?" Tanya Gerry sambil tersenyum.


"Betul sekali mr. Gerry." Kalau tadi mengacungkan ibu jarinya.


Perjalanan terasa sangat cepat, karena Kalista dan Gerry sibuk mengobrol. Kalista juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Gerry, karena beberapa hari ini Gerry selalu menemaninya dan menemani anak-anaknya bermain. Bahkan Gerry sangat bersedia sekali untuk di repotkan oelh Kalista.


"Makasih Ka, Ohiya besok hati-hati ya pulangnya, nanti kalau udah sampai sana kabarin aku." Ucap kalista sebelum turun.


Lalu kalista melambaikan tangannya pada Gerry, mobil kembali melaju menuju hotel temlat dimana Gerry menginap.


Kalista menekan bel, menunggu sekitaran dua menit tetapi masih belum ada yang membukakan pintu. Kalista kembali lagi memencet bel.


"Maaf, cari siapa ya?" Tanyanya dengan ramah, dilihat dari seragmnay sih sepertinya dia bekerja sebagai Art di kediaman mama Lisa ini.


"Mama ada?" Tanya Kalista sambil manik matanya celingak-celinguk melihat keadaan di dalam rumah.


"Mama siapa?" Ujarnya dengan ketus. Art yang tadinya ramah itu tiba-tiba berubah menjadi ketus karena melihat gelagat Kalista yang menurutnya sangat mencurigakan.


"Bi siapa yang datang?" Suara yang sangat familiar sekali di telinga Kalista, suara siapa lagi kalau bukan suara mama Lisa.


"Ini nyonya, orang nggak jelas." Jawabnya dengan jengah.


"Orang nggak jelas? Kamu tuh ngomong apa sih ngawur banget, mana ada orang nggak jelas bertamu kesini." Ucapnya sambil membuka pintu yang sebelahnya.


"Selamat malam mama." Kalista tertawa ceria, Kalista juga menunjukan kedua bayi kembarnya.


"Sayang, apa kabar?" Mama Lisa langsung mencium pipi Kalista, mama Lisa juga langsung mengecup kedua pipi bakpao milik Nathan dan Nayla.


"Cucuku, Oma kangen banget sayang." Yang pertama kali Oma gendong adalah Nayla, Oma snagat gemas sekali pada Nayla sudah mulai aktif ini.


"Ini menantu saya, dan kedua bayi kembar ini adalah cucu saya. Dia itu tamu penting, bukan orang ngga jelas." Ujar mama Lisa sedikit membentaknya.


"Maaf nyonya saya tidak tahu." Ekspresi wajahnya terlihat sangat merasa bersalah sekali, dia juga diminta maaf kepada Kalista sembari membungkukkan badannya.


"Yaudah Yo masuk sayang." Mama Lisa langsung mengajak kalsat masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.


"Tumben kamu kesini malam-malam, Arka mana?" Tanya mama Lisa, mama Lisa sedikit heran melihat Kalista datang sendirian tidak di temani oleh Arka.

__ADS_1


"Arka lagi sibuk sama urusan kantor, katanya hari ini nggak bisa pulang. Akhir-akhir ini kantor emang lagi sibuk banget ma, maka dari itu Kalista memutuskan untuk menginap saja si sini. Dirumah sendirian sepi banget, lama-lama malah bosan." Kalista berusaha meyakinkan mamanya, berharap mamanya percaya padanya dan tidak mendesaknya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Oh gitu. Ya nggak apa ya nak, ayahmu sibuk bekerja. Toh semua uangnya untuk kalian kelak, untuk biaya pendidikan kalian di masa depan. Semua perusahaannya juga akan di wariskan kepada kalian juga kan." Mama Lisa berusaha membuat kalista agar tidak mengeluh ketika Arka sibuk bekerja.


Mama Lisa menyuruh Art untuk membersihkan kamar tamu. Semuanya harus serba bersih dan steril, karena balita rentan terhadap penyakit.


"Dino kemana ma? Kok nggak keliatan?" Tanya Kalista.


"Dino baru saja keluar, mungkin berselisih sepuluh menit dengan kedatanganmu sayang." Jawab mama Lisa.


"Ma, aku capek banget. Boleh nggak rebahan dulu di kamar. Seharian ini Nathan dan Nayla maunya si gendong terus, punggungku sampai sakit." Kalista terpaksa menjadikan Nathan dan Nayla sebagai alibi. Sangat tidak mungkin sekali jika Kalista menjawab karena di perkosa oleh suaminya.


Kalista merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kalista meraskan seluruh tubuhnya sakit dan legal. Alih-akih tiduran, Kalista malah tertidur beneran.


Kedatangan Nathan dan Nayla cukup membuat mama Lisa bahagia. Mama Lisa bahkan langsung membuatkan mp asi untuk mereka berdua.


Mama Lisa bahkan sempat berkaca-kaca, jikalau Arka masih membencinya sampai sekarang, mungkin sekarang tidak akan ada Nathan dan Nayla di pangkuannya. Dirinya dan sini juga tidak akan menempati rumah ini lagi, mungkin sekarang mereka sedang menjadi gelandang, gembel melarat. Mama Lisa juga bersyukur mendapatkan menantu seperti Kalista, Kalista itu mempunyai hati yang baik, dirinya begitu mudah memafkan mama Lisa dan Dino. Kecelakaan yang menyebabkan kematian ayah dan bundanya, memang real kesalahan Marcelino. Tetapi Kalista masih bersikap baik pada mama Lisa dan Dino.


"Martabak telur spesial kesukaan mama yang di jual di pertigaan jalan depan sana. Dino beli banyak nih." Ujar Dino yang bagus aja masuk kedalam rumah.


"Loh ada keponakanku, hey kalian ganang dan cantik sekali seperti ayah dan bunda kalian." Dino langsung menghampiri mama Lisa yang kerepotan sedang menyuapi mereka berdua.


Dino bahkan menggendong Nayla dengan gemas, mencium kedua pipinya. Bahkan Nayla di terbang-terbangkan seperti pesawat oleh Dino.


"Ayah bundanya kemana ma? Lagi kencan dan pacaran dulu? Atau lagi bobo bareng?" Tanya Dino sambil terkekeh.


"Bundanya lagi bobo di kamar tamu, ayahnya lagi sibuk urusan kantor. Bundanya kayanya kecapean, bobonya sampai nyenyak banget tuh." Jawab mama Lisa.


Malam itu Nathan dan Nayla menjadi boneka hidupnya mama Lisa dan Dino. Bahkan Dino pergi sebentar untuk membeli berbagai mainan untuk Nayla dan Nathan. Malam itu mereka sibuk mengasuh dua bocah kembar, jarang-jarang kan dirumahnya ada tangisan suara balita.


Mama Lisa bahkan membawa Nathan dan Nayla ke kamarnya, mumpung Kalista sudah tertidur pulas, Mama Lisa memutuskan Nathan dan Nayla untuk tidur bersamanya. Mama Lisa sepeti mengingat masa kecil Arka, ketika Arka masih balita mama Lisa sering kali mendekapnya. Sekarang mama Lisa kembali merasakan hal itu, mendekap Nathan dan Nayla di pelukannya hingga tertidur.


*****


"Gue mau nikah!" Ujar Riko dengan mimik wajah serius. Tetapi para sahabatnya itu satu pun tidak ada yang menanggapinya.


"Woy.. kalian semua budeg ya?" Ujar Riko sedikit berteriak.


"Gue sangat! Siapa sih yang nggak mau nikah, gue juga mau. Mau banget malah." Celetuk Evan dengan santainya.


"Iya gue juga mau, tapi belum keliatan calonnya." Ucap Andy dengan santai.


"Gue mah udah nikah, tadi sore juga udah bobo bareng sampai keringatan." Pamer Arka, bahkan Arka juga mengatakan di punggungnya terdapat bekas cakaran Kalista yang sangat menikmati punggungnya.


"Jadi, lu baikan sama istri lu?" Tanya Andy dengan serius, urusan rumah tangga Arka Andy mengetahui semaunya dengan jelas, kecuali perihal bobo bareng tadi sore.


"Nah gitu dong bro! Baikan, enakkan kalau baikan tuh. Bisa bobo bareng lagi, bisa main buka-bukaan baju, bahkan bisa mandi bareng." Evan tersenyum menyeringai.


"Belum baikan sih, abisnya gue masih sedikit kesal sama istri gue." Sarkas Arka dengan sorot mata tajam.


"Jangan bilang lu tidurin Kalista secara paksa?" Evan bertanya penuh selidik, bahkan Evan langsung melayangkan tatapan tajam pada Arka.


"Gila, banget lu! Menurut feeling gue berdasarkan pengalaman gue yang sering banget nonton film dewasa, meniduri secara paksa berarti melakukannya dengan kasar?" Lagi-lagi Evan melayangkan tatapan penuh selidik dan curiga.


"Iya sih gitu dikit." Jawab Arka masih dengan nada santainya.


"Wah bahaya, bisa masuk pasal pemerkosaan tuh." Andy langsung menyaut.


"Pemerkosaan apaan woy? Dia sah bini gue, gue sah suamu dia. Emang salah gue menidurinya? Itu hak gue, dan kewajiban dia juga kan melayani gue." Arka menoyor pelan kepala Andy.


"Kalau urusan ena-ena aja, biangnya istri. Lalu apa kabar dengan dua bulan belakangan ini? Elu ngasih nafkah batin dan materi nggak? Please lah, jangan mau enaknya doang." Perkataan Andy ini lumayan cukup menampar hati dan pikiran Arka. Andy ini sikapnya memang sangat dewasa diantara yang lainnya.


"Nah benar tuh! Punya istri cantik tuh harusnya bersyukur, jangan malah di diamkan. Cantik gitu, bodynya bagus nanti yang ada juga malah si lirik pria lain. Istri lu tuh nggak keliatan kaya janda, badannya aja masih ramping." Evan langsung menimpali perkataan Andy.


"Kalista nggak janda loh! Kalian harus ingat itu." Arka langsung menjawab dengan tegas.


"Kalau Kalista minta cerai, kan otomatis statusnya berubah menjadi janda. Terus nanti dia nikah lagi sama pejabat, atau mungkin sama anaknya presiden." Andy semakin gencar memanasi Arka.


"Atau nanti Kalista memutuskan untuk menjadi dukun saja, menyantet dan mengirimi guna-guna kepada pria yang telah menyakitinya ih seram." Ucap Evan sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ngawur lu kebangetan bro! Malah terkesan pembodohan." Andy juga menoyor pelan kepala Evan.


"Stop! Urusan rumah tangga Arka bisa di skip aja nggak sih? Gue undang kalian kesini, karena mau ada yang bicarakan, serius loh ini gue." Riko berkata dengan tegas.


Ketiga sahabatnya itu seperti menganggap dirinya bercanda, ketika mengatakan akan menikah. Bahkan satu pun diantara mereka tidak ada yang bertanya kapan hari H nya? Atau persiapan lainnya.


Kali ini Riko benar-benar merasa bahwa dirinya tidak dianggap dan di hargai. Respon teman-temannya tadi sungguh membuat Riko kecewa.


Mereka bertiga langsung menatap sumber suara. Mereka juga baru kali ini melihat Riko berbicara dengan sangat serius.


"Sorry, gue lupa. Lu mau ngomong apa bro?" Andy berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang.


"Kalau kalian mau asyik bertiga doang, gue pergi aja keruangan gue. Toh gue juga masih banyak kerjaan, daripada nongkrong nggak jelas kaya gini." Riko tersukut emosi. Wajar saja Riko merasa sangat emosi, dirinya kan yang mengundang mereka bertiga datang kesini. Kenapa mereka malah asyik bertiga sih?


"Sorry banget nih kita tadi malah asyik bertiga. Btw, kapan lu mau nikah?" Tanya Andy dengan sangat berhati-hati sekali.


Ketika Riko malah, Andy yang pintar nan cerdas ini langsung teringat pada kalimat awal yang Riko ucapkan. Riko saja sampai marah, berarti apa yang akan Riko bicarakan juga merupakan hal yang sangat penting.


"Sorry gue juga kepancing emosi, abisnya gue ngomong serius lu lu pada malah gitu menanggapinya." Cibir Riko dengan bibir mencebik.


"Jadi, lu beneran mau nikah bro? Kapan?" Tanya Evan dengan mimik wajah serius.


"Yoi! Nih kalian lihat aja di undangannya." Riko langsung memberikan mereka undangan pernikahan.


Mereka langsung membuka surat undangan itu, mereka bertiga hampir tidak menyangka.


"Serius ini? Kok cepat banget?" Tanya Arka dengan serius, tgl yang tercetak di undangan itu sangat mepet sekali untuk sebuah akad dan pesta pernikahan.


"Serius banget lah! Gue nggak main-main mengenai pernikahan." Jawab Riko dengan mantap.


"Risa hamil ya bro?" Tanya Evan dengan mimik wajah serius juga.

__ADS_1


"Nggak lah! Yakali hamil." Riko memukul pelan puncak kepala Evan. Kok bisa Evan langsung berpikiran seperti itu?


"Bentar deh! Gue masih nggak percaya nih, lu beneran mau nikah bro? Ini waktunya bentar lagi loh, kok elu masih santai-santai aja sih?" Tanya Andy bingung sekaligus penasaran.


"Iya gue serius! Gue nggak mungkin main-main soal pernikahan, bahkan gue ngelamar Risa seorang diri loh. Sumpah nggak di temani sama bokap nyokap gue." Ujar Riko dengan jujur.


"Nanti kalau orang tua lu nggak setuju gimana? Pernikahannya batal? Elu usaha dulu dong pertemukan kedua orang tua lu dengan calon istri lu. Jangan kaish Risa harapan semu!" Ujar Arka dengan tegas.


"Bokap nyokap udah setuju kok, walauoun mereka tidak bertatap muka secara langsung, tetapi mereka bertatapan layar ponsel. Mereka video call bro." Riko menjelaskan tentang orang tuanya yang langsung menyetujuinya hanya melihat Risa dari pantulan layar ponsel.


"Foto prawedding udah? Rencana honeymoon udah di bahas belum? Seserahan? Acara akad dan konsep akad? Wedding party? Konsep party? Gaun pengantin? Mas kawin? The day after weddingnya apakah sudah di rencanakan? Nikah itu bukan memang gampang, sebuah akad yang si sahkan oleh para saksi. Tapi menikah berarti sudah siap membina hubungan rumah tangga, sembari membahas rencana-rencana untuk masa depan. Lu beneran udah mantap untuk menikah kan?" Tanya Arka memastikan, mengenai pernikahan memang Arka yang sudah pengalaman diantara mereka. Arka juga melayangkan pertanyaan beruntun, karena memang Arka tahu sendiri rumitnya sebuah pernikahan itu seperti apa.


"Foto prawedding udah, honeymoon juga sudah di rencanakan. Gedung, dan segala macamnya juga udah kita rencanakan dari jauh-jauh hari kok, cuma guenya aja yang baru bilang sorry bro hehe." Riko terkekeh dan menjeda kalimatnya.


"The day after the wedding udah kita rencanakan juga. Justeru pas perencanaan ini nih yang banyak sekali perdebatan, gue maunya begini, Risa maunya begitu. Mana dia tuh kekeuh banget, tapi ya gue mencoba untuk menahan ego aja sih." Ucap Riko menjelaskan.


"Begitulah sebuah pernikahan, semakin mendekati hari H semakin banyak pula keraguan, kegelisahan, dan ***** bengek permasalahan yang lainnya. Itu namanya ujian pranikah, kalian berdua harus melewatinya dengan tenang dan sabar. Jangan sampai mengucapkan kalimat yang tidak di inginkan." Arka berusaha menasehati Riko.


"Setalah akad selesai, dan para saksi sudah mengatakan sah. Disitu adalah rasa bahagia sekaligus haru. Bahagia karena sudah menikah dan menjadi seorang suami, sekaligus haru karena mempunyai tanggung jawab baru. Tanggung jawab untuk menjaga, menafkahi, membahagiakan, dan jangan sampai menyakitinya apalagi membuat air matanya jatuh karena kita. Jangan sampai tuh." Ujar Arka masih dengan penjelasan panjang lebarnya, Arka bisa berbicara seperti itu karena Arka telah mengalami.


"Thank you bro sarannya." Riko menepuk bahu Arka.


"Bro, lu sadar nggak sama kalimat yang telah ku ucapkan barusan?" Tanya Andy sambil menatap Arka dengan tajam.


"Maksud lu apaan?" Tanya Arka sambil menatap Andy juga.


"Tanggung jawab untuk menjaga, menafkahi, membahagiakan, dan jangan sampai menyakitinya apalagi membuat air matanya jatuh karena kita. Jangan sampai tuh."


"Jujur, gue agak geli dengan kalimat yang lu ucapkan di bagian itu. Lalu, apa kabar dengan diri lu sendiri yang sudah dua bulan ini mencampakkannya? Bukan cuma mencampakkan seorang istri, lu juga mencampakkan kedua anak lu." Andy berkata tegas dan gamblang.


"Iya gue tahu gue salah, gue udah sepenuhnya sadar. Dan gue akan meminta maaf padanya." Ujar Arka sambil memijat-mijat pelan dahinya.


"Nah gitu dong! Ini baru Arka sang CEO." Andy menepuk pundak Arka. Memang ini yang sangat Andy inginkan, renggangnya hubungan Arka dan kalista berimbas pada semua karyawan kantor. Arka menjadi sering uring-uringan, marah-marah nggak jelas.


"Bro, lu nikah kok ngeduluin gue sih? Nggak sopan banget sih?" Celetuk Evan sembari mendelikkan matanya jengah.


"Mau nikah? Lamar Tiara dong! Ngapain sih pacaran lama-lama? Mendingan juga langsung di halalin aja." Celetuk Riko.


"Secepatnya, doain gue makannya. Lu juga tau-tau sebar undangan aja! Dosa nikahnya ngelangkahin gue." Jawab Evan.


"Dosa mah elu, sebelum tidur ngebayangin Tiara, nikah sama Tiara, tapi Tiaranya nggak di kamar." Andy menimpali perkataan Evan.


"Gue jadi curiga, jangan-jangan pas main cewe juga lu ngabarin Tiara. Wah kalau lu." Arka meledek dan berusaha menyudutkan Evan.


"Masih mending begitu, daripada gue main solo tapi ngebayangin istri lu? Gimana setuju nggak?" Evan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Dosa besar! Gue mutilasi lu kalau sampai ngebayangin bini gue." Arka menjitak kepala Evan.


"Nggak lah!" Jawab Evan cepat.


"Pokonya semoga lancar sampai hari H ya calon pengantin." Ucap mereka bertiga secara bersamaan, kegaduhan mereka membuat beberapa orang yang sedang menikmati secangkir kopi langsung meliriknya.


"Perlu di adain bridal shower nggak? Adain yuk, kayanya seru tuh." Celetuk Andy mengusulkan ide aneh sekaligus gila, bridal shower biasanya diakan oleh calon pengantin perempuan.


"Terus nanti mukanya si Riko kita cemongin pakai lipstik, bedak, dan segala macam make up kita tumpahan di mukanya." Arka pun menimpali usulan Andy.


"Terus nanti kita foto sama balon bentuk love." Ujar Evan sambil tertawa ngakak.


"Terus guenya ngumpet dirumah Risa. Nggak bakalan keluar-keluar gue, karena takut di cemongin kalian." Jawab Riko kikuk.


Mereka pun melanjutkan ngobrol sambil menikmati kopinya masing-masing. Larut malam dan coffee shop sudah akan tutup, barulah semuanya memutuskan untuk pulang. Lagipula mereka semua besok harus ngantor.


Arka baru saja sampai di halaman depan rumahnya. Arka membawa surat undangan itu di tangannya, lalu dirinya masuk kedalam rumahnya.


Arka langsung naik ke lantai dua, bergegas menuju kamarnya. Arka membuka pintu kamar Nathan dan Nayla, Arka terkejut melihat kedua bayinya dan istrinya tidak ada di kamar itu.


Arka berlari ke kamarnya, disana tidak ada Kalista dan kedua bayinya. Arka juga meriksa semua kamar tamu, lagi-lagi tidak ada mereka. Bahkan semua ruangan yang ada di rumah ini sudah Arka periksa. Dan Kalista masih tidak di temukan.


"Pelayan." Teriak Arka dengan kencang.


Semua pelayan yang sudah tertidur pun langsung terbangun karena suara Arka sangat memekikan telinga.


"Kalista dan kedua anak saya kemana?" Tanya Arka dengan penuh emosi sekaligus panik dan cemas.


"Tadi nyonya lagi membawa anak-anak. Ketika kamu bertanya mau pergi kemana, nyonya sama sekali tidak menjawab." Jawab beberapa pelayan sambil menundukkan kepalanya karena takut.


"Kapan perginya?" Tanya Arka dengan emosi yang memuncak.


"Tidak lama setelah tuan pergi."


Arka langsung berlari ke halaman depan, mencoba menghampiri securuty.


"Istri saya lagi kemana?" Tanya Arka bengis.


"Tidak tahu tuan." Security itu pun menjawab ketakutan.


"Siapa yang menjemputnya?" Tanya Arka lagi.


"Seorang pria."


Jawaban dari security itu cukup membuat Arka naik pitam. Arka mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Kalista. Tetapi ponselnya Kalista tidak aktif.


"Arrrrghh sialan! Kalian kerjanya ngapain aja sih?" Teriak Arka dengan geram sekaligus frustasi.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2