
Kalista masuk ke ruangannya itu, ada Arka dan Andy di dalam sana. Keduanya nampak sibuk dengan ponselnya, terlihat dari mimik wajah serius nya sih sepertinya mereka sedang asik bermain game online. Kalista berjalan menghampiri meja kerjanya lalu duduk. Karena tidak ada kerjaan akhirnya Kalista asyik menjelajahi situs belanja online di ponselnya. Scroll scroll scroll... Kalista asyik sekali melihat-lihat tas yang sedang trend dikalangan selebgram.
"Wow gila keren banget ini, murah banget." Teriak Kalista antusias dengan mata berbinar memperhatikan harga tas tersebut.
"Yang gila itu suara lu! Sampai ngalahin umpatan gue yang lagi nge-game!" Sarkas Arka tajam, dan menyudahi game nya.
"Maaf." Kalista merasa malu, karena berteriak.
"Biarin aja lah! Ini juga masih jam istirahat kan." Ucap asisten Andy santai.
"Woy sekretaris ambilin gue minum!" Arka rebahan di sofa, dan merasa haus.
"Nyebelin banget sih!" Suara Kalista terdengar lirih namun masih terdengar di telinga Arka.
Arka bangkit dari rebahan, tatkala Kalista membawakan air yang dia minta. Meneguknya setengah lalu rebahan lagi di sofa, hingga tanpa ia sadari ia tertidur.
"Pak, dokumen apa yang harus di persiapkan untuk janji temu nanti jam 14:30 WIB?" Tanya Kalista bingung pada Andy.
"Janji temu doang ya? Nggak ada penjelasan apa yang akan di bahas?" Asisten Andy juga ikutan bingung.
"Nanti tanya pak Arka aja! Saya keluar dulu." Asisten Andy melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Bete banget deh.. nggak ada kerjaan!" Kalista mengentak-hentakan pelan ujung hills nya.
"Mama boleh peluk nggak? Sakit ma sakit.. Arka nggak mau di pukul! Arka nggak nakal ko ma.. mama menjijikan! Mama seperti binatang! Seperti seorang pelacur! Jangan tinggalin Arka ma! Ma punggung Arka sakit di pukul mama.." Arka masih terus berteriak dengan mata yang masih terpejam, tidurnya gelisah dan berkeringat seperti sedang mengais beban yang sangat berat, tubuhnya bergerak tetapi masih dengan mata tertutup. Sejenak Kalista hanya memperhatikan saja, tapi lama kelamaan tidak tahan kalau hanya memperhatikan, sangat terlihat jelas sekali bahwa Arka sedang bermimpi buruk.
"Pak, bangun pak." Kalista menepuk nepuk pipi Arka dengan lembut dan perlahan, karena Kalista tidak ingin Arka terbangun dengan kaget. Arka mulai mengerjapkan matanya, nafasnya tersengal dan ngos-ngosan. Arka sudah bangun, kemudian merubah posisinya yang tadinya rebahan kini berubah jadi duduk.
Kalista berjalan ke pantry, membuatkan teh hangat untuk Arka. Lalu membawanya "Minum dulu pak!" Kalista memberikan gelas yang berisi teh hangat itu. Arka kemudian meneguknya sampai habis tak tersisa. Kalista mengambil tissue dan mengelap sisa-sisa keringat di wajah Arka. Arka tertegun dengan kelakuan Kalista, dan itu membuatnya tenang. Tiba-tiba Arka memeluk Kalista, dipeluknya dengan sangat erat, dan tentunya masih dengan nafas yang ngos-ngosan. Kalista tidak berontak, karena naluri Kalista berkata bahwa itu lah yang saat ini di butuhkan oleh Arka. Setelah lima menit berlalu, akhirnya "Terimakasih." Ujar Arka ber-terimakasih, lalu melepaskan pelukannya pada Kalista.
"Udah enakan?" Tanya Kalista.
"Udah."
"Mau lagi teh nya?" Tanya Kalista lagi, Arka hanya menggelengkan kepalanya saja.
Kalista beranjak dari meja, dan duduk di di hadapan meja kerjanya.
"Kamu nggak nanya kenapa saya mimpi buruk?" Tanya Arka kemudian.
"Nggak, tapi memang pada dasarnya selalu ada beberapa hal yang sulit di ungkapkan! Itu sangat tidak mudah! Dan saya tidak akan bertanya! Karena menceritakan secara inisiatif, tanpa di tanya tanpa di suruh dan tanpa paksaan itu jauh lebih melegakan. Dan bapak harus tahu, ada beberapa hal yang memang harus di lepaskan dan di lupakan! Semua orang pasti pernah mengalami hal buruk dalam hidupnya, tetapi semua orang juga berhak memilih dan menentukan hidupnya itu! Mau terus-terusan terjebak dalam kenangan pahit yang memilukan atau melupakan lalu hidup dengan bahagia, tenang, dan damai." Ucap Kalista dengan penuh petuah.
__ADS_1
"Kamu benar! Tetapi tidak mudah juga bagi saya untuk melupakan. Saya sudah mencoba melupakan tetapi hal itu selalu hadir di mimpi saya." Jawab Arka sambil tersenyum.
"Semoga bisa di lupakan ya! Memang tidak instan tetapi pasti bisa dengan perlahan-lahan, dan itu bertahap." Ujar Kalista dengan tersenyum manis, Arka pun membalasnya dengan anggukan dan senyuman.
"Udah bangun lu!" Tanya asisten Andy yang tiba-tiba masuk.
"Belum, Gue masih tidur!" Sarkas Arka.
"Lu nanya gitu, gobl*k banget nggak sih? Udah tau gue udah bangun, malah di tanyain. Nggak berfaedah pertanyaan lu." Cerocos Arka.
"Santai bro,, santai!" Ucap asiste Andy sambil melangkahkan kakinya menuju sofa.
"Pak, dokumen apa yang harus saya siapkan untuk janji temu dengan klien?" Tanya Kalista bingung.
"Nggak ada penjelasan kan perihal janji temu yang klien ajukan? Tidak usah bawa dokumen apa-apa!" Ujar Arka.
"Ndy, lu siapin mobil! Lima belas menit lagi gue sama Kalista turun!" Perintah Arka.
"Oke boss."
*****
"Katanya dia sudah sampai, menepati meja no.48 di sudut kanan." Ucap Kalista sambil menjelajahi setiap sudut kafe mawar tersebut.
"Selamat siang, maaf membuat anda menunggu." Sapa Arka dengan Ciri khasnya nada dingin sambil berjabat tangan.
"Saya Kalista, sekretaris bapak Arka." Kalista menjabat tangan klien tersebut, tetapi tangannya ditahan seperti enggan untuk di lepaskan.
"Wah ternyata sekretaris bapak Arka masih sangat belia sekali ya? Daun muda." Klien tersebut berbicara dengan mata berbinar, dan senyum menyeringai. Arka langsung memutar matanya jengah ketika mendengar perkataan klien tersebut, MESUM!! hal itu lah yang ada di pikiran Arka.
"Saya asisten pribadi pak Arka!" Celetuk Andy yang langsung mengibaskan tangan klien itu dari tangan Kalista.
"Ah baik, silahkan duduk!" Ucap klien tersebut tersenyum ramah dengan mata yang masih melirik-lirik Kalista.
Arka sangat menyadari arti dari ucapan dan pandangan mata klien tersebut, dari awal mereka masuk klien tersebut langsung memperhatikan Kalista dari ujung kepala hingga ujung kaki. Apalagi ketika Kalista berjalan, pandangannya tak teralihkan dari paha mulus Kalista. Brengsek! Umpat Arka dalam hatinya.
"Silahkan pesan!" Klien tersebut menyerahkan buku menu.
"Saya kenyang! Dan tidak haus!" Tolak Arka.
"Karena tadi juga makan bersama klien, saya juga masih kenyang dan takut gendut kalau makan lagi." Kalista pun menolak, karena merasa risih dengan tatapan klien itu.
__ADS_1
"Saya juga nggak makan!" Ucap Andy.
"Bisa langsung dibicarakan, perihal janji temu ini!" Arka langsung berbicara pada intinya.
"Ah iya bisa." Klien tersebut sengaja menyenggol pena hingga terjatuh, Arka dan Andy bingung dengan tingkah laku klien di hadapannya itu, klien tersebut jongkok untuk memungut pena yang terjatuh. Kalista berdiri dengan spontan dan terburu-buru.
"Ada apa?" Tanya Arka bingung melihat Kalista berdiri.
"Anu pak.. kaki saya pegal! Perlu sedikit diluruskan." Jawab Kalista sembari menormalkan senyumnya. Andy makin menatapnya bingung.
"Saya ingin mengajukan kerjasama untuk membangun pusat perbelanjaan di kota B." Klien itu mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Pusat perbelanjaan?" Arka menautkan alisnya.
"Iya pusat perbelanjaan." Lagi-lagi klien tersebut dengan sengaja menjatuhkan pena itu. Kalista dengan muka kesal langsung berdiri dan menatap tajam klien tersebut.
"Ada apa ibu Kalista?" Tanya klien tersebut berpura-pura.
"Saya pernah berada di bangku SMA, dan saya telah melewati masa-masa sekolah itu, jadi saya sangat paham dengan tindakan dan tingkah laku bapak!" Kalista menyindir klien tersebut.
"Maksud kamu, saya menjatuhkan pena ini agar saya bisa mengintip rok kamu?" Tanya ambigu klien tersebut.
"Saya nggak bilang seperti itu!" Sarkas Kalista yang semakin membuat klien tersebut gugup dan tersenyum kikuk. Arka dan Andy masih memperhatikan perdebatan itu, dan mereka mulai paham dengan tingkah klien tersebut.
"Saya akhiri pertemuan ini! Dan saya tidak ingin menjalin kerjasama dengan klien yang berpikiran kotor seperti anda!" Arka lalu berdiri dan melangkah keluar dari kafe tersebut, diikuti oleh Kalista dan Andy yang berjalan di belakangnya.
"Dasar klien mesum!" Kalista terus saja mengumpat di sepanjang langkahnya menuju mobil.
"Jujur aja awalnya gue nggak paham dengan tindakan klien mesum itu!" Asisten Andy bersuara.
"Halah kaya nggak pernah ngelakuin hal gitu aja." Celetuk Arka sambil terkekeh.
"Gue pernah, tapi kan itu dulu! Waktu itu masa-masa remaja dan pikiran gue masih labil! Sekarang sih nggak akan gue ngelakuin itu, gue akan selalu menjaga dan menghargai wanita!" Ucap Andy bersungguh-sungguh.
"Njiirrr sahabat gue udah dewasa." Arka terkekeh meledek.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤