
Kalista mengerjapkan matanya, silau! Cahaya matahari menerpa wajahnya, karena gordennya telah dibuka. Kalista melihat keadaan sekitar, Arka sedang duduk di sofa fokus menatap layar ponselnya. kemudian kalista memejamkan matanya kembali, berpura-pura masih tidur, karena males harus berinteraksi dengan Arka.
Arka tiba-tiba bangkit, dan berjalan menuju kasur. Duduk ditepian kasur "Bangun!" Arka menepuk-nepuk punggung Kalista dibalik selimut.
Kalista menyibak selimut, lalu melihat tubuhnya. "Syukur lah, baju gue masih nempel, berarti semalam nggak ada sesuatu hal yang terjadi kan?" Ucap Kalista merasa lega, tetapi tetap saja Kalista akan marah sama Arka.
Kalista bangun dan langsung masuk ke kamar mandi. Kalista menjerit ketika melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi. "Arka brengsek! Leher gue jadi bonyok gini. Terus gue harus gimana nutupin noda merah sebanyak ini." Kalista terus menggerutu sambil meraba lehernya itu.
Kemudian Kalista membuka gaun yang di pakainya, matanya langsung membulat seperti akan keluar dari kelopaknya, terdapat banyak noda-noda merah disekitar area dada nya. "Sialan berarti tadi malam dia juga ngelihat dada gue! Oh God, malu banget gue! Arka setan!" Umpatan-umpatan terus Kalista lontarkan sembari ia menyelesaikan ritual bersih-bersih badannya.
Kalista keluar dari kamar mandi mengenakan rok jeans selutut dipadukan dengan hoddie berwarna kuning, lehernya dililiti syal berwarna senada dengan hoddie.
"Duduk!" Perintah Arka pada Kalista.
"Minum dulu nih!" Arka menyodorkan segelas susu pada Kalista.
Kalista menggoyang-goyangkan susu dalam gelas itu, lalu mencium bau dari susu tersebut. Arka mengernyitkan dahinya melihat kelakuan kalista.
"Kenapa?" Tanya arka sambil terus memperhatikan kelakuan Kalista.
"Diamati terlebih dahulu! Siapa tau kan ini susu dicampur racun atau mungkin dicampur obat perangsang." Sindir Kalista, lalu menatap Arka jengah dan mendelik kesal, karena Kalista masih marah atas perlakuan Arka tadi malam, dan sampai sekarang pun Arka belum meminta maaf.
"Gue nggak sebrengsek itu!" Arka menatap manik mata Kalista.
__ADS_1
"Kenapa susunya cuma satu?" Kalista mengelap bibir gelas tersebut.
"Karena yang dua itu kan punya kamu!" Arka menaik turunkan alisnya, menatap Kalista dengan senyum menyeringai.
"Sialan! Dasar CEO mesum!" Sengit Kalista dengan mata tajam menusuk. Sedangkan Arka menanggapi nya dengan senyum miring.
"Biarin! Lagian gue nggak haus, soalnya tadi malem udah minum susu murni, dan itu enak banget!" Arka terkekeh oleh ucapannya sendiri, lalu memperhatikan Kalista yang sedang menjejalkan roti tawar kedalam mulut mungilnya.
"Susu murni darimana?" Ucap Kalista yang belum sepenuhnya mengerti arti dari ucapan Arka.
"Dari yang punya lah!" Senyum menyeringai Arka tampilkan untuk Kalista yang masih polos itu. Kalista masih sibuk dengan sarapannya.
"Kenapa pake syal?" Tanya Arka dengan senyum meledek.
"Leher gue bonyok! Gara-gara lu setan!" Umpat Kalista memaki-maki Arka.
"Sialan! Dasar mesum, cabul, brengsek, setan.." Kalista belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Arka menempelkan telunjuknya pada bibir Kalista.
"Lu makin cantik kalau marah-marah! Gue jadi pengen ngelakuin lagi yang tadi malam." Arka terus menerus memberikan senyum seringainya pada Kalista, sedangkan Kalista menatap Arka jengah.
"Kalista gue tertarik sama lu!" Arak menatap manik mata Kalista tajam, berusaha menyakinkan Kalista.
Kalista tidak mengatakan apapun, dia hanya terkekeh geli atas ucapan Arka.
__ADS_1
"Gue mulai suka sama lu! Gue jealous lihat lu meluk Gerry di depan gue! Dulu gue nggak tau perasaan aneh ini apa? Tetapi semakin lama gue makin mengerti bahwa ini rasa suka gue ke elu! Gue mulai jatuh cinta sama lu cil!" Arka berkata sungguh-sungguh dengan apa yang hatinya rasakan.
"Terus gue percaya gitu? Hellow gue bukan anak kecil yang gampang tertipu." Kalista tertawa sambil terus melahap roti diatas meja. Namun otaknya masih bekerja untuk memproses perkataan Arka barusan.
"Lihat mata gue! Apa gue sedang bercanda? Ini bukan sekedar ungkapan, tapi ini yang sedang hati gue rasakan." Arka memegang bahu Kalista, sehingga mereka berdua bertatapan.
"Ini degup jantung gue! Berdetak lebih kencang berkali-kali lipat kalau berada di dekat lu!" Arka menempelkan tangan Kalista tepat di dadanya, agar Kalista merasakan debaran detak jantung Arka.
"Lantas gue harus gimana Arka? Apakah gue harus mempercayai ucapan pria yang selalu membanding-bandingkan gue dengan teman kencannya yang merupakan seorang model terkenal itu?" Kalista menyadarkan Arka, bahwa Kalista tidak akan mempercayainya begitu saja.
"Terserah lu mau percaya atau nggak! Yang pasti, semua yang tadi gue ungkapin ke elu, itu real dari hati gue!" Arka menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.
"Gue nggak minta lu percaya sama gue sekarang! Intinya lu udah tau perasaan gue ke elu kan? Dan gue mau lu lihat progres gue kedepannya!" Arka berkata tajam, seumur hidupnya baru kali ini ia jujur mengenai perasaanya, dan baru kali ini pula ada perempuan yang mampu menggetarkan hatinya. Kalau sama kang Yoora itu hanya sebuah nafsu.
"Mungkin gue terlihat sebagai laki-laki brengsek, yang mengencani kang Yoora tanpa ada embel-embel hubungan pacaran. Tapi kalau lu beda, dan gue akan jagain lu!" Arka berkata sungguh-sungguh dengan sepenuh hatinya.
"Iya iya iya iya." Hanya itu respon yang diberikan Kalista, Kalista takut kalau Arka hanya mengerjainya saja.
Kalista bangkit dari sofa, mulai bersiap-siap akan check out.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤