
Arka perlahan mengerjapkan matanya, karena Kalista melepaskan tangannya dari pelukannya. Namun Arka kembali lagi memejamkan matanya, berpura-pura tidur.
Kalista turun dari ranjangnya, masuk ke kamar mandi lumayan cukup lama. Sampai Arka merasa was-was, takut dan cemas, karena istrinya itu terlalu lama di kamar mandi.
Begitu keluar dari kamar mandi, Kalista duduk di depan cermin rias miliknya. Sorot matanya memperhatikan dirinya sendiri melalui pantulan cermin. Di tatapnya lekat-lekat kemudian dia tersenyum getir mengejek dirinya sendiri.
Kalista benar-benar merasa lelah, hati dan juga pikirannya. Takdir apa yang sedang mempermainkannya sekarang? Mengapa Tuhan masih memberikan cobaan sepelik ini?
Kaliata mengambil sisir dan menggaruk-garukkannya pada lehernya hingga pada dada bagian atasnya. Kalista mencoba melukai dirinya sendiri, Kalista merasa dirinya sangat menjijikan.
Arka bangkit dan menghampiri istrinya. Memeluknya dari belakang, dan berusaha merebut sisir yang di pakai untuk melukai lehernya.
"Kenapa bangun?" Arka mengecup puncak kepala Kalista.
"Kamu pikir aku bisa tidur setelah apa yang aku alami hari ini?" Kalista menatap Arka tajam, tatapannya sangat menusuk. Terlihat jelas dari pantulan cermin.
Arka terdiam sejenak, menatap.manik istrinya melalui cermin.
"Aku nggak pantas jadi istri kamu! Aku kotor." Kalista kembali berteriak-teriak lagi, tangannya sengaja menggaruk lehernya, bahkan beberapa goresan luka terlihat di lehernya.
Arka memegang tangan Kalista dengan sangat erat, tanpa kata tanpa suara Arka terus menerus menatap manik mata istrinya itu. "Nggak peduli apapun yang terjadi dengan mu hari ini, aku Arkana William Anggara akan selalu mencintaimu sampai kapanpun, sampai maut memisahkan."
"Tatap mata aku! Aku sangat mencintaimu. Tolong jangan pernah menyakiti dirimu lagi, aku tersiksa melihatmu seperti itu." Butiran bening air mata itu kembali mengalir dari pelupuk mata Arka.
Kalista terenyuh melihat suaminya menangis karena sikap dirinya. Kalista mengusap sisa-sisa air mata itu, suaminya yang super dingin dan cuek itu ternyata bisa meneteskan air mata.
"Aku malu!"
"Malu kenapa?" Arka jongkok di hadapan Kalista, mendongakkan kepalanya seraya berbicara dengan istrinya.
"Malu soalnya sahabat-sahabat kamu udah tahu kalau aku kotor." Lagi-lagi Kalista menangis.
"Kamu nggak kotor! Yang kotor itu si brengsek keparat!" Arka menggendong Kalista, memindahkan nya ke kasur.
"Bagian tubuh mana saja yang di sentuh oleh si ********?" Arka berusaha mengucapkan kalimat itu setenang mungkin, padahal sebenarnya ketika mengingat si Rangga itu menyentuh tubuh istrinya, ada rasa sakit dan kesal di hatinya, bahkan ubun-ubunnya terasa mendidih.
Kalista menunjukan leher dan dada bagian atasnya, tapi matanya tidak memandang Arka.
"Aku bersihkan sekarang, biar kamu nggak terus-terusan merasa kotor." Arka memegang bahu Kalista.
Arka mulai menyapukan lidahnya di leher Kalista perlahan demi perlahan, menelusuri setiap inci, sapuan lidahnya terasa sangat lembut dan penuh kehati-hatian.
Mungkin sudah satu jam berlalu, usaha Arka untuk membersihkan leher Kalista. Kalista di buat terharu oleh sikap suaminya. Bukannya merasa jijik Arka malah sengaja menyapukan lidahnya ke leher Kalista dan turun ke dada bagian atasnya.
"Jangan nangis lagi ya, udah aku bersihkan." Arka mengecup puncak kepala Kalista.
Arka berjalan menuju meja rias, mengambil tissue basah. Di lap lah leher Kalista dengan tissue basah, karena leher itu lengket oleh air liur Arka.
Kalista memeluk Arka sangat erat, bibir mungilnya tak henti-henti mengucapkan kata maaf.
Detik ini juga Kalista merasa sangat bersyukur kepada sang maha pencipta, karena telah berbaik hati memberinya suami yang sangat mencintai dan menyayanginya.
Waktu semakin larut, mata lelah mereka pun akhirnya terpejam. Sunyi senyap hanya ada deruan napas mereka dan suara dentingan jam dinding yang terus menerus bergerak.
"Hoeeeeek.. Hoeeeek."
Samar-samar Kalista mendengar suara orang yang sedang muntah, Kalista semakin menajamkan pendengarannya, suara itu berasal dari kamar mandi.
Kalista mencoba mengerjapkan matanya, silau dari cahaya matahari mengenai wajahnya. Sebenarnya Kalista masih ngantuk, tapi kasian juga sama suaminya yang mual dan muntah-muntah.
Setelah nyawanya terkumpul kembali, kalista menyibak selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya, dilihatnya jam diatas nakas, waktu menunjukan pukul 07:30 pagi.
Di dalam kamar mandi, Arka sedang memuntahkan seluruh isi perutnya. Setiap pagi hari rasa mual itu selalu datang. Bahkan dirinya terduduk lemas di dekat wastafel.
Tangan Kalista memijit-mijit tengkuk Arka, suaminya mendongak dan mencoba memaksakan membuat garis melengkung di bibirnya.
Kalista membantu Arka bangun, memijit tenguknya sebentar lalu mengoleskan aromaterapi agar Arka merasa segar.
Tangan Kalista segera menyentuh dahi Arka, Kalista takut suaminya sakit.
Nggak panas?
Tapi wajah suaminya memang terlihat sangat pucat, hampir seperti zombie. Matanya memerah dan berair seperti sudah menangis.
Setelah semalaman berpikir dan mencoba berdamai dengan hatinya, akhirnya Kalista memutuskan untuk melupakan kejadian yang di alaminya kemarin. Memang tidak mudah untuk melupakan suatu kejadian yang sangat memilukan itu, tetapi perlahan demi perlahan pasti akan lupa, Kalista akan mencobanya.
Dan Kalista juga akan berusaha menjadi istri yang baik, semua air mata yang di tumpahkan suaminya kemarin sudah cukup menjadi bukti bahwa Kalista memang benar-benar dan sangat tulus mencintainya.
Arka kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, Kalista menyelimutinya dengan selimut tebal. Sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar, Kalista menyempatkan mencium pipi suaminya.
Morning sickness itu pernah Kalista alami, dan itu memang benar-benar sangat menyiksa dan menguras energi, hingga badan terasa lemas seperti tidak bertenaga.
Kalista melangkahkan kakinya menuju meja makan, meja makan yang biasanya hanya terisi oleh 4 orang, kini telah berubah menjadi 7 orang, belum lagi kalau di tambah Kalista dan Arka berarti menjadi 9 orang.
Awalnya semua orang yang sedang sarapan itu menatap Kalista dengan berbagai macam ekspresi, Kalista mengulas seutas senyuman manis di bibirnya, agar mereka semua tidak mengkhawatirkan nya.
"Selamat pagi sayang." Oma mencium pipi Kalista, dan mempersilahkannya duduk.
"Mau sarapan apa? Biar gue ambilin." Ujar Tiara.
"Nggak usah! Gue bisa sendiri kok."
"Ambilin buat gue aja, bisa nggak?"
"Modus terus!" Andy menoyor kepala Evan.
Kalista mengambil beberapa roti, mengoleskan selai strawberry diatasnya. Biasanya pakai selai cokelat, tapi semenjak mengalami morning sickness Arka menjadi membenci aroma cokelat.
"Bu, tolong ya buatkan teh manis hangat, susu hangat bumil, dan susu hangat yang biasa di minum oleh suami saya." Kalista minta tolong pada pelayan.
"Loh Arka emang nggak sarapan di sini?" Riko menautkan sebelah alisnya, bingung.
"Nggak, Arka masih berbaring di ranjang. Morning sickness yang aku alami sekarang berpindah ke Arka. Setiap pagi suamiku selalu merasa mual dan memuntahkan semua isi perutnya. Jadi biar kubawakan sarapan ke kamar." Ucap Kalista.
Kalista membawakan Arka sarapan, di bantu oleh pelayan. Oma masih menatap punggung Kalista yang semakin menghilang seiring kakinya melangkah maju.
"Alhamdulilah bu, menantu kita sudah bisa tersenyum lagi."
"Iya." Oma pun tersenyum.
Pelayan meletakkan baki yang berisi roti dan susu diatas meja. Kemudian pelayan itu pergi meninggalkan kamar nyonya dan tuannya itu.
Kalista duduk di tepian ranjang, dia menatap wajah lemah suaminya. Kalista menepuk-nepuk pipi suaminya. "Sayang bangun! Ayo sarapan dulu!"
Tidak ada tanggapan, Arka hanya menggeliat malas di atas ranjang. Matanya terbuka perlahan, kemudian dia memijit pelan dahinya yang terasa pusing. "Sakit kepala, pusing." Arka berkata lemah.
"Makanya sarapan dulu! Aku tahu tadi malam kamu nggak makan, pagi-pagi isi perut sudah keluar semua. Isi perut dulu yuk, biar ada tenaga."
Bukannya sarapan, Arka malah menatap Kalista tanpa berkedip. "Aku senang istriku telah kembali lagi ceria seperti biasanya."
"Iya, nih sarapan dulu. Awas aja kalau aku keluar dari kamar mandi dan kamu masih belum sarapan."
"Iya bawel!"
Kalista langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan segera berendam di bathtube, pikirannya melayang pada kejadian kemarin sore. Mata Kalista berkaca-kaca, namun sekarang Kalista lebih bisa menerimanya dan akan mencoba melupakannya.
Tok.. tok..tok..
"Aku kebelet pipis." Suara Arka terdengar sangat nyaring di balik pintu kamar mandi.
Kalista pun segera tersadar dan langsung membilas badannya. Memakai handuk lalu keluar.
__ADS_1
Kalista segera memakai pakaiannya, kemudian mencoba menghias dirinya di depan cermin.
Arka sudah keluar dari kamar mandi, sekarang duduk di tepian kasur meminum susu hangat, lalu menatap istrinya yang sedang berhias.
ARKA (POV)
Kemarin adalah hari yang paling nggak akan bisa gue lupain seumur hidup gue. Hari dimana gue, istri gue, dan seluruh bodyguard, sopir, para pelayan, semuanya sedang di permainkan. Ponsel kita semua di retas, lebih parahnya istri gue yang jadi korbannya.
Andaikan waktu bisa di putar?
Gue lebih memilih diam di rumah, atau membawa istri gue ke kantor. Rasa tidak enak yang sangat mengganjal di hati, merupakan sebuah firasat akan terjadinya hari kemarin.
Marah? Sedih? Kecewa? Air mata? Kalut? Frustasi? Semuanya bercampur aduk jadi satu, separuh jiwa gue melayang, belahan hati gue menghilang.
Oh, kekasihku!
Air mata terus menerus keluar dengan sendirinya dari pelupuk mata gue, tanpa bisa di cegah! Cairan bening itu seolah menggambarkan suasana hati gue yang teramat pedih.
Lalu gue juga marah pada diri gue sendiri, selain gue nggak bisa jagain keselamatan istri gue, gue juga lupa kalau gue pasang GPS di flatshoes Kalista. Entah setan apa yang bersemayam dan menghalangi jalan pikiran gue. Seandainya gue ingat, mungkin gue bisa menyelamatkannya dua jam lebih cepat.
"Gedung tua, jalan XX"
Dimana terdapat sebuah bangunan tua yang sudah usang, berdebu dan minim pencahayaan. Jalanan pun tampak kosong melompong dan sangat sepi. Jarang sekali ada mobil yang melewati daerah sini.
Tanpa pikir panjang, setelah sampai di alamat itu, gue langsung turun dari mobil dan menendang pintu ruangan itu.
Akhirnya setelah beberapa jam nggak ketemu, ternyata istri gue ada di dalam gedung itu, mukanya lebam, rambutnya berantakan, terduduk lemas dengan tangan terikat ke belakang.
Lalu manik mata gue menangkap satu sosok yang sangat familiar, si ******** Rangga sedang berjongkok di hadapan istri gue, mencoba menggunting bra yang istri gue kenakan.
"Rangga!"
Bisikan-bisikan setan dengan aura membunuh segera menghampiri kepala gue, gue sangat murka atas sikap dan perlakuannya pada istri gue. Gue berlari ke arahnya dan mulai meninjunya.
"Brengsek! ********! Keparat!"
Tangan gue tak henti-hentinya memberikan bogem mentah pada perutnya, gue hilang kendali. Yang saat ini gue pikirkan adalah bagaimana cara membayarkan rasa sakit yang telah di alami istri gue.
Beg*, gobl*k! Dasar keparat beraninya kau menyakiti istriku."
Amarah, geram, dan benci menjadi satu. Otak dan pikiran gue sudah tidak berkompromi kembali, selama gue bisa membuatnya babak belur, maka tangan gue masih sanggup untuk monjoknya.
"Udah! Lu bisa membunuhnya, kalau lu di penjara nanti siapa yang akan menemani istri lu lahiran."
Kalimat dari Andy sukses membuat hati gue mencelos, gue berangsur mundur, lalu menatap istri gue yang masih terduduk di kursi dengan dress bagian depannya telah di rusak, sehingga menampilkan tubuh bagian atasnya.
Sakit sekali hati ini melihatnya menderita, gue lepas jas yang gue kenakan untuk menutupi tubuh bagian depannya. Tidak ada suara, bahkan tidak ada pergerakan. Mata lelah terlihat di sana, pipi yang lebam dan kaki yang membiru.
"Maaf aku telat."
Hanya kata itu yang bisa gue ucapkan, ada respon? Tidak! Dirinya sama sekali tidak berbicara, dari sorot matanya gue bisa melihat ada rasa ketakutan di sana.
Gue menggendongnya menuju mobil, namun ternyata di luar gedung sudah sangat ramai oleh para awak media, beberapa wartawan bahkan sempat mengajukan beberapa pertanyaan yang sama sekali nggak gue tanggapi.
Siapa sih yang memberitahukan wartawan? Besok-besok pasti jadi berita utama nih, baik media cetak maupun media elektronik pasti berlomba-lomba memberitakannya.
Lalau, manik mata gue terbelalak sekali lagi. Ternyata selain Rangga, masih ada Yoora yang menjadi dalang dari semua ini.
Ubun-ubun ini rasanya kembali mendidih dan memanas, jika disini tidak ada anggota kepolisian mungkin wanita ****** itu sudah gue habisi nyawanya.
Gue menamparnya berkali-kali, mencoba untuk membalaskan rasa sakit yang di alami istri gue. Tahu apa yang terjadi? Wanita itu sepertinya sudah gila dan tidak mempunyai hati sebagai manusia. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, dirinya malah memberikan senyuman sinis.
Memang benar apa kata Evan, prioritas utama yang sekarang harus gue urus adalah istri gue sendiri.
Lemas tak berdaya, mata sembap, rambut berantakan, bahkan lebam-lebam di pipinya. Tidak ada gairah kehidupan disana, tatapan matanya kosong.
Gue berusaha mencoba sebisa mungkin, namun hasilnya nihil. Dia seperti terjebak oleh keadaan, semangat hidupnya menghilang.
Setelah tubuhnya di bersihkan oleh para pelayan, gue pun menyiapkan bubur dan susu. Karena gue tahu terakhir kali dia makan itu bersama gue, sebelum gue berangkat kerja.
Lagi-lagi ucapan seperti itu cukup kuat untuk menampar hati gue, iya oke gue paham, gue telah gagal menjaga seorang wanita yang selama ini selalu di jaga olehnya, dan bahkan sudah dianggap adiknya sendiri.
Pandangan mata istri gue tetap kosong, di suruh makan pun tak mau. Sapaan dokter Rian, ucapan-ucapan dokter Fani, dan bahkan perkataan Oma pun sama sekali tidak mendapat respon darinya. Sepertinya memang benar, separuh jiwanya tertinggal di gedung tua itu.
"Kenapa semuanya ngeliatin aku? Kenapa?"
Sorotan matanya tajam menatap semua orang yang memang sedang berada di kamar ini.
"Kalian jijik sama aku? Iya tahu aku kotor, aku kotor."
Berteriak sambil menjambak rambutnya, menganggap seolah-olah dirinya memang sangat menjijikan. Gue mencoba menenangkannya namun sulit.
Tiara lah satu-satunya orang yang berhasil menenangkannya, seribu satu cara bujuk rayunya ternyata ampuh. Memang persahabatan mereka itu kuat banget, batinnya seperti sudah saling terikat.
Manik matanya yang tadinya selalu menatap kosong, kini sedang menatap manik mata gue. Mata kita sama-sama sembap habis menangis, Kalista memeluk gue sangat erat, tangisannya kembali muncul. Sekali lagi gue mencoba menenangkannya, dan kali ini berhasil.
Gue menyuapi dia dengan telaten, hati gue gak henti-hentinya mengucap puji syukur kepada sang maha pencipta, karena perlahan demi perlahan istri gue telah kembali lagi pada kesadarannya.
Setelah selesai makan, gue meminta dokter Fani untuk menyuntikkan obat penenang ke badan Kalista, tentunya obat ini aman untuk Kalista dan bayinya. Tidak lama setelah itu dia pun tertidur, gue perhatikan wajahnya, mata sembap dan dahi yang berkerut. Wanita gue sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Karena merasa lelah dengan hari ini, akhirnya gue pun tertidur sambil memeluknya.
Tengah malam, pelukan tangan gue di lepaskannya. Sebenarnya walaupun gue tidur, tapi mata gue masih tetap terjaga. Gue perhatikan setiap gerak-geriknya, Kalista duduk di depan cermin rias. Menatap nanar dan getir pada dirinya sendiri, pandangan matanya selalu tertuju pada lehernya itu. Beberapa kali tangannya mengusap leher itu, diambilah sebuah sisir. Dia garuk-garukkan ke lehernya dengan penuh emosi.
Gue nggak tahan melihatnya, gue hampiri dan memeluknya dari belakang. Tangan gue segera merebut sisir yang di pakai untuk melukai lehernya.
"Kenapa bangun?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut gue.
Kamu pikir aku bisa tidur setelah apa yang aku alami hari ini?"
Iya gue tahu, kemarin adalah hari yang paling buruk dan sangat berat dalam hidupnya. Trauma itu tidak akan hilang begitu saja.
Gue berusaha menenangkannya, dan gue pun mencoba untuk membersihkan lehernya yang menurutnya sangat kotor itu. Gue akan mencoba merubah kata kotor itu menjadi bersih. Setelah itu kita sama-sama tertidur.
Udah beberapa hari belakangan ini gue mengalami morning sickness, dimana rasa mual menyerang di pagi hari dan selalu menguras semua isi perut gue.
Gue berjalan mengendap-endap ke kamar mandi, karena takut Kalista bangun. Gue sudah berusaha untuk muntah tanpa suara, tapi ada daya? Mual ini begitu hebat, sampai gue jatuh terduduk di di bawah wastafel.
Tiba-tiba ada satu tangan yang memijit tenguknya leher gue. Gue mencoba meliriknya, ternyata istri gue. Sebisa mungkin gue paksaan untuk tersenyum, agar istri gue tidak khawatir.
Lagi-lagi semesta menunjukan kemurahan hatinya dalam membolak-balikkan perasaan hambanya. Istri gue itu sudah kembali menjadi Kalista yang biasanya, ya walaupun memang belum sepenuhnya kembali.
Kalista membawakan sarapan untuk gue yang masih terbaring di ranjang. Memaksanya sarapan, karena dia tahu betul bahwa perut gue sudah tidak ada isinya. Gue menurut saja, dan dia pun segera pergi mandi. Akhirnya gue bisa bernapas sedikit lebih lega, istri gue sudah seperti yang biasanya.
*****
Hari ini di kediaman Anggara tampak ramai sekali. Gelak tawa terdengar dari ruang tamu. Kalista melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, untuk bergabung dengan mereka.
"Widih udah cakep aja nih, mau kemana sih?" Tiara menepuk sofa di sebelahnya, agar Kalista duduk.
"Loh kalian nggak kerja?" Bukannya menjawab pertanyaan Tiara, Kalista malah balik bertanya.
"Di liburkan oleh pak Arka, bu." Gina menjawab dengan sangat sopan.
"Oh gitu."
"Eh kalian belum mandi? Mandi gih, nanti pakai baju gue aja!" Imbuhnya lagi, Kalista melihat Tiara sama sekali belum mengganti piyamanya, dan Gina pun mengganti pakaian kantornya.
"Ah nggak usah bu, nanti saya ganti baju di rumah saja." Tolak Gina dengan halus.
"Oma boleh bergabung dengan para anak gadis? Siapa tahu Oma ketularan muda lagi." Ujarnya, Oma tersenyum hangat menatap Kalista. Oma bersyukur cucu menantunya itu telah baik-baik saja.
__ADS_1
Mereka semua terkekeh mendengar kalimat Oma "Haduh Oma ada-ada aja deh." Riko bahkan sampai memegangi perutnya, akibat tertawa.
"Nggak sopan!" Evan mengikut lengan Riko.
"Maaf Oma." Ujar Riko.
"Gimana kalau the girls menonton drakor saja." Usul dari Tiara di sambut baik oleh Gina dan Oma.
Lalu mereka pun sibuk dengan menonton drakor, wanita-wanita perasa itu kerap kali meneteskan air mata karena terbawa oleh suasana. Jika ada adegan sedih, mereka bersedih, jika ada adegan romantis mereka menjerit-jerit.
The boys lebih memilih untuk main catur sambil menikmati secangkir kopi. Arka dan pak Anggara pun telah bergabung bersama mereka.
Ponsel Arka berbunyi, satu pesan WhatsApp masuk ke ponselnya itu.
"Selamat siang pak, semalam kami melihat Marcelino dan pria muda itu ada di tempat kejadian dan mereka bersembunyi di balik semak-semak tidak jauh dari gedung tua itu."
"Brengsek!" Arka mengumpat bahkan sampai meninju lantai.
Semuanya menghentikan aktivitas nya sejenak, melirik Arka dengan penuh tanda tanya. Begitu juga dengan para wanita yang langsung menoleh pada Arka.
"Ada apaan?" Tanya Kalista yang sibuk memperhatikan Arka.
Arka sebisa mungkin langsung merubah raut wajahnya, dan berusaha berbicara senormal mungkin. "Ah ini yang, Evan main caturnya curang."
"Lah kok__"
Evan akan berbicara, namun Andy lebih dulu membekap mulut Evan.
"Kan bisa ngomong baik-baik, jangan ngomong kasar apalagi sampai berteriak!" Ujar Kalista.
"Iya." Arka pun merasa lega, Kalista mempercayainya.
Tatapan para pria ini telah mengarah pada Arka, mereka semua meminta Arka untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Arka menunjukan satu pesan dari mata-matanya. Mata mereka semua terbelalak melihat itu. Bahkan Andy merasa sangat geram.
"Itu orang apa sih maunya? Mau gue bunuh apa ya?" Ujar Andy dengan suara yang sedikit tertahan agar tidak terdengar oleh para wanita.
"Gue jadiin sate!" Celetuk Evan.
"Kamu harus lebih berhati-hati ya nak." Ujar pak Anggara, Arka pun mengangguk.
Para pria sudah selesai bermain catur, lalu mereka pun mengganggu para wanita untuk segera menyudahi menonton drakor.
"Ibu ikutan nonton drakor, emang ibu nggak baper? Hati-hati loh bu, bahaya kan ibu jomblo." Pak Anggara meledek ibunya sendiri.
"Ngikutin anak muda aja! Ayahmu kan sedang menanti ibu di keabadian." Ujar Oma dengan santainya. Ucapan Oma barusan langsung diaminkan oleh mereka semua.
Oma kemudian pergi ke dapur, katanya akan membuatkan cemilan untuk mereka semua. Pak Anggara juga pergi, katanya ada urusan mendadak.
Arka menatap manik mata istrinya, istrinya itu tampak cantik hari ini. Arka mendaratkan bibirnya di bibir Kalista, Kalista pun mengecup bibir Arka sekilas.
"Nggak kuat, jiwa kejombloan gue meronta-ronta!" Riko mengusap wajahnya gusar.
"Makanya cari cewe! Langsung halalin biar mantap!" Ujar Arka.
Kalista meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku, sekujur tubuhnya terasa pegal akibat kemarin di sekap duduk berjam-jam.
"Besok ke spa ya! Badan aku pegal pengen di pijit."
"Nggak usah ke spa, di pijit aku aja! Pijit plus plus loh sayang." Arka mencolek dagu Kalista, mengedipkan sebelah matanya.
"Ih mesum!" Kalista menjawil hidung Arka.
Tiara, Gina, Andy, Evan, dan Riko memperhatikan sepasang suami istri yang sangat romantis ini.
"Nikah enak nggak sih ta?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Tiara. Evan sampai terperangah lalu tatapan matanya diarahkan pada Tiara.
Menyadarj dirinya sedang di tatap oleh semua orang yang berada di ruang tamu, Tiara pun menjadi canggung. "Eh gue kayanya salah nanya deh!"
"Haha, kenapa muka lu jadi merah ra." Kalista meledek Tiara habis-habisan.
"Coba silahkan kalian pikir, kenapa banyak orang pergi ke club malam? Kenapa orang-orang mencari wanita malam? Kenapa banyak pasangan yang sudah berumah tangga, rela berselingkuh? Apa sih yang mereka cari?" Ujar Arka.
"Ya mencari kesenangan!" Jawab Gina.
"Mungkin mencari kenikmatan kali!" Jawab Tiara lirih.
"Mencari kenikmatan yang memang tidak di dapatkan dari pasangannya mungkin." Kata Evan.
"Lah kalau mau kenikmatan dari pasangan, ya di halalin dulu lah!" Celetuk Andy.
"Eh bodoh! Ini gue berbicara dalam konteks yang berselingkuh!" Evan mencari pembenaran diri.
"Ko nggak jawab?" Arka meledek Riko.
"Nggak paham! Jomblo masih polos gini tahu apa?" Riko mendelikkan matanya, antara jengah kesal dan menderita karena masih jomblo.
"Halah! Polos macam apa? Taunya aja paling ahli." Evan menoyor kepala Riko.
"Nah, jadi nikah itu adalah beribadah yang paling nikmat." Ucap Kalista.
"Udah lah sayang! Percuma ngomong sama mereka, mereka mana paham? Mereka semua jomblo!" Arka terkekeh mentertawakan para sahabatnya itu.
"Nikah itu enak ra, tidur ada yang ngelonin, enaknya lagi di nafkahi."
"Bukan cuma di kelonin, tapi__"
"Berisik." Kalista membekap mulut Arka, lalu mencubit tangannya pelan.
"Gin, usia berapa?"
"24 bu."
"Sama dong kaya gue, gue juga 24." Sahut Tiara.
"Sama-sama 24 tahun, dan sama-sama belum menikah." Kalista meledek Tiara dan Gina. "Gue dong, 22 tahun sudah menikah, menjadi istrinya seorang miliarder, suami cakep, guenya cantik, lagi mengandung pula."
"Ciye gue cakep!" Arka tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Kalista.
"Ibu kan beruntung." Ujar Gina.
"Jangan ibu, aku masih mudah loh!"
"Lah kan calon ibu." Ujar Andy membenarkan ucapan Gina.
"Iya juga sih!" Kalista mengangguk-anggukan kepalanya.
"Gue to the point nih! Andy lu kapan mau membuat Gina, dan lu Van kapan mau memberikan Tiara kepastian."
"Secepatnya!" Jawab mereka bersamaan.
"Ciye barengan jawabnya, ciye jodoh!" Tawa Riko meledak seiringin dengan ledakannya lada Andy dan Evan.
"Ciye nanti jomblo sendirian!" Sarkas Andy dan Evan.
----------------------------------🌻🌻
Author ngetiknya ngebut banget, lagi semangat-semangatnya! Padahal episode yang sebelumnya aja masih belum di lulusin, statusnya masih review😪
Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!
Find Me On Instagram : @halloimas13❤