SUN FLOWER

SUN FLOWER
SUARA HATI ANDY 1


__ADS_3

Sore itu Andy tidak langsung pulang ke rumahnya, Andy pergi ke taman terlebih dahulu, sekedar singgah dan berusaha menenangkan hatinya yang berantakan.


Taman sangat ramai, tetapi hati Andy tetap saja merasa sepi. Andy langsung teringat janjinya pada mama Gina, tapi sepertinya Tuhan. Sedang tidak berkehendak, tuhan mengubah rencananya sesuai dengan apa yang terbaik menurutNya.


Berada di keramaian namun merasa kesepian, hal seperti itu melekat banget dan mungkin sudah menjadi ciri khas dari orang yang sedang galau karena putus cinta. Andy tahu, berbohong dan tidak jujur memang membawa malapetaka, tetapi Andy kan sudah menjelaskan sedetail mungkin, namun ternyata emosi Gina mengalahkan semuanya, bahkan satu kalimat yang keluar dari bibir mungil Gina itu mampu mematahkan, meretakkan, bahkan memporak porandakan hati Gina.


Hari semakin sore, langit hampir berwarna keorenan. Duduk diam termenenung memikirkan sebuah masa depan yang dikira bakalan indah dalam naungan rumah tangga, namun ternyata harapan itu musnah dan pupus begitu saja.


Waktu demi waktu memang tidak bisa di putar, bahkan jarum jam pun terus bergerak. Langit sudah berwarna gelap, Andy memutuskan untuk segera pulang ke apartmentnya. Apa yang terjadi hari ini adalah nyata, dan Andy harus bisa menerimanya.


Andy kembali memesan taksi online, jalanan semakin macet, tetapi Andy sama sekali tidak merasakan kesal, ataupun bete. Sepanjang perjalanan Andy habiskan dengan melamun saja.


Begitu sampai di apartment, hal yang pertama kali Andy lakukan adalah beres-beres. Karena ketika Riko dan Evan datang menjemput, Andy benar-benar baru bangun tidur dan tidak sempat membereskan semuanya. Andy juga memasukkan beberapa baju kotor ke dalam plastik, rencananya sih setelah selesai membereskan apartment Andy akan ke laundry.


Andy memang suka kebersihan, tetapi kegiatan bersih-bersihnya hari ini semata-mata untuk mengalihkan hatinya yang terluka, dan berusaha melupakan Gina. Melupakan bukan berarti melupakan sesungguhnya, tetapi melupakan untuk Kisha asmaranya saja. Walaupun sekarang Andy dan Gina tidak terlihat hubungan asmara, tetapi Andy berjanji masih akan tetap menjalin hubungan baik, mau itu sebagai sesama karyawan kantor, maupun sebagai teman.


Ternyata kegiatan yang sudah Andy lakukan ini tidak membuahkan hasil, hati dan pikirannya tetap condong dan terfokus pada Gina. Andy merebahkan tubuhnya di.kasur, menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu, bola mata itu sudah berubah menjadi genangan air seperti sebuah kolam renang. Suasananya sangat hening, hanya terdengar dentingan jarum jam yang tiada lelah terus bergerak.


Tanpa di sadari mata Andy sudah berkaca-kaca, bahkan butiran demi butiran kristal itu berjatuhan membasahi pipinya. Andy merasa dadanya sangat sesak, hati dan pikirannya kacau balau tidak sinkron. Semua yang Gina katakan terllau bergemuruh dan cukup menusuk tepat ke ulu hati Andy.


Wajah lelah, baju yang berantakan dan kusut, rambut acak-acakan. Penampilan Andy kali ini benar-benar kacau, benar-benar Andy yang sedang patah hati. Lambat laun mata lelah itu terpejam, helaan napasnya tidak teratur.


ANDY (POV)


Hari ini adalah weekend, setelah Senin sampai Jum'at menghabiskan waktu di kantor, dan bahkan Sabtu pun gue masih tetap mendapat tugas khusus, boleh dong kalau weekend ini gue mau tidur aja seharian. Weekend ini kebetulan gue nggak punya acara apa-apa, schedule kosong melompong. Gina juga tidak ngajak keluar, nongkrong ataupun makan.


Gue tahu matahari sudah keluar dari tempat persembunyiannya, namun kelopak mata gue masih terus terpejam, gue butuh istirahat, dan tubuh gue juga lelah jika di porsil terus-terusa. Tidur gue terasa tidak nyaman, karena cahaya mentari dengan tidak sopan masuk ke dalam kamar gue melalui celah-celah gorden, dan sinarnya menerpa wajah hingga ke mata gue, sehingga gue merasa tidak nyaman.


Baiklah, gue menyerah dan mengalah pada matahari. Gue memutuskan untuk pindah, gue melanjutkan tidur kembali di sofa. Gue masih belum terlelap sepenuhnya, gue tahu ponsel gue bunyi terus menerus sehingga menghasilkan suara yang bising. Karena rasa ngantuk itu mengalahkan semuanya, gue biarin aja tuh ponsel terus-terusan bunyi, bodoamat dah ponselnya juga di kamar. Lagian, gue juga tahu itu palingan Riko atau Evan. Karena untuk Gina gue sengaja memasang nada dering yang berbeda.


Tiba-tiba bell apartment gue berbunyi, gue mendengus kesal dan tetap tidak beranjak dari sofa dengan tubuh yang masih berbaring. Malas aja gitu, siapa sih yang ganggu jam tidur gue di hari weekend kaya gini?


Ketika bell sudah tidak berbunyi, kini ponsel gue yang kembali berbunyi. Berbunyi bahkan lebih dari tiga kali, lalu kembali lagi bell apartment gue yang berbunyi. Dengan langkah malas, dan bibir yang mencebik gue akhirnya memutuskan untuk membuka pintu, dan gue juga penasaran mahluk seperti apa yang telah mengganggu istirahat gue.


"Molor terus? Dari tadi gue hubungi sama sekali tidak bisa, ternyata....." Evan geleng-geleng kepala ketika melihat penampilan gue yang masih acak-acakan, sangat jauh dengan rapi saat di kantor.


"Ngapain sih kalian? Nggak bisa apa ya biarin gue hidup tenang sehari aja, gue butuh istirahat." Gue menggerutu dan mendengus kesal, bibirnya mencebik.


"Ah udah deh! Mendingan sekarang lu mandi, kita nunggu di sofa. Hari ini kita mau kerumah Arka, tengokin bayi kembar." Ujar Riko sambil mendorong badan gue untuk kembali masuk ke apartment gue, tidak lupa Riko juga mengambilkan handuk gue, lalu kembali mendorong gue agar masuk ke kamar mandi dan segera menyelesaikan ritual bersih-bersih.


Oke gue langsung mandi, dan gue tidak banyak protes, karena gue juga baru nyadar gue kan belum tengokin si bayi. Gara-gara di sibukkan dengan tugas kantor gue sampai lupa dengan Kalista yang sudah lahiran, padahal gue sibuk di kantor juga gara-gara Arka yang mengambil cuti.

__ADS_1


Selepas mandi dan langsung berpakaian, gue menyempatkan untuk minum segelas susu dan mengunyah dua lembar roti. Lalu gue mengambil ponsel di kamar, dan langsung memasukkannya ke saku celana.


"Sembobil bertiga biara rame!" Celetuk Riko.


Gue tidak jadi mengambil kunci mobil, dan langsung gue letakkan diatas meja. Sebelum benar-benar pergi, gue juga mengunci apartment gue terlebih dahulu.


Ketika di dalam mobil, Riko bilang kita akan ke mall dulu untuk mencari buah tangan untuk si kembar, Evan mengatakan setelahnya kita akan nongkrong terlebih dahulu, Evan juga menyuruh gue untuk menonaktifkan ponsel gue. Hari ini katanya mau menikmati hidup tanpa wanita, atau lebih tepatnya kekasihnya.


Gue berpikir, tidak ada salahnya juga sih, toh kita juga memang sudah lama tidur nongkrong bareng, akhir-akhir ini.kalau nongkrong selalu bawa pasangan masing-masing. Sesekali bolehlah mengulang masa-masa ketika masih lajang.


Riko memilih salah satu mall yang letaknya lumayan agak jauh dari ibu kota, mall ini juga bukan pusat perbelanjaan nomor satu di ibu kota. Sengaja Riko memilih tempat ini, karena jika pergi ke pusat perbelanjaan yang paling terkenal sudah bisa di pastikan, isinya adalah lautan wanita. Apalagi ini weekend, wanitakan sukanya ngemall dan belanja.


Kita para cowok kalau ngemall tidak seberebat kaum hawa, kita pergi ke salah satu yang menjual perlengkapan bayi, kaku di bantu oleh mbak-mbak spg untuk memilih, ketika merasa cocok kita ambil dan langsung bawa ke kasir.


Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan kaum wanita, wanita kalau ngemall kaya lagi tour, atau lagi melakukan penjelajahan, atau mungkin lebih mirip kaya lagi pergi ke tempat wisata.


Semua toko di mall di kunjungi, pilih ini pilih itu bisa sampai 4 jam, belum lagi mencobanya, lalu merasa tidak cocok, tinggalkan! Dan kembali lagi masuk ke toko-toko berikutnya, lalu hal-hal seperti itu terulang kembali, siklus tetap sama seperti itu, mungkin wanita menghabiskan waktu di mall bisa sampai 24 jam tetapi tidak membuahkan hasil. Yang ada pulangnya malah marah-marah, nyalahin mall koleksi bajunya jelek-jelek, memang kodratnya wanita itu selalu benar, mall yang tidak bernyawa saja sampai di salahkan.


Lalu acara nongkrong sambil makan pun di mulai. Gue makan dengan lahap karena memang belum makan, kalau Riko dan Evan sih matanya jelalatan terus menatap beberapa wanita dengan pakaian minim yang baru saja masuk ke kafe ini.


Gue?


Gue tahu Andy punya kekasih, dan kekasihnya itu merupakan sahabatnya dari istrinya sahabat gue. Gue bukannya tidak peduli, tetapi gue biarkan saja. Toh Evan sudah dewasa, sudah bisa berpikir lurus, namun kelakuannya emang agak susah untuk di luruskan. Biarlah itu semua menjadi urusannya dengan Tiara.


Gue teringat pada benda pipih yang berada di saku celana gue, entah sudah berapa jam benda pipih itu gue nonaktifkan. Gue nyalain dan terdapat banyak notifikasi pesan dari Gina.


Awalnya Gina berusaha membangunkan gue, mengucapkan selamat pagi seperti biasanya, mengingatkan gue akan segala hal, lalu tiba-tiba manik mata ini membulat sempurna, terdapat salah satu pesan dari Gina, Dina ngajak gue menemaniya ke suatu tempat.


Gue takut Gina marah, sehingga tanpa pikir panjang gue berusaha beralibi bahwa gue baru bangun tidur dan masih berada di apartment. Jujur saja, alibi kebohongan itu gue ketik dengan jari yang bergetar dan dada yang bergemuruh.


Gina sedang online, chat gue di baca doang. Gue mulai khawatir, resah dan gelisah. Gue takut Gina marah karena gue baru bangun tidur, tetapi gue juga takut kebohongan gue ini ketahuan oleh Gina.


Seketika gue merasa punya beban, sedangkan dua makhluk tuhan yang bernama Riko dan Evan yang berada tepat di depan gue itu malah asyik bercengkrama dengan seorang wanita yang menampilkan jelas lekuk tubuhnya, bahkan buah dadanya terlihat sepotong.


Acara makan sekaligus nongkrong ini telah usai, gue dan kedua bocah cunguk itu langsung pergi ke rumah Arka. Penjagaan di sana sangat ketat, terdapat beberapa security dengan badan kekar berjejer tepat di pintu gerbang. Syukurlah salah satu security lama mengenali kita, sehingga kita bisa masuk tanpa di persulit. Benar-benar seperti berkunjung ke istana presiden, di jaga ketat.


Begitu keluar dari mobil kita juga langsung di sambut oleh beberapa pelayan, di suruh mencuci tangan, lalu menggunakan hand sanitizer, kita juga di semprot apa tuh, mungkin untuk membunuh kuman. Benar-benar mirip dengan protokol virus covid-19 yang sedang di gembor-gemborkan pemerintah.


Pelayan memberitahukan dimana keberadaan Arka dan Kalista, mereka juga memberitahukan letak kamar si kecil. Terletak di kamar dua, bersebelahan dengan kamar Arka yang dahulu.


Begitu Evan membuka pintu kamar di bayi kembar, manik mata gue langsung membulat sempurna seperti akan lepas dari kelopak mata gue. Di kamar itu ada Gina, apa kabar dengan gue yang beberapa menit yang lalu membalas pesannya dan mengatakan baru bangun tidur, dan berada di apartment. Sedangkan di tangan gue juga terdapat goddy bag dari salah satu mall.

__ADS_1


Kaget, panik, dan semuanya gue langsung speechless begitu saja. Beridiri di ambang pintu dengan sorotan atau yang tetap masih menatap Gina. Gina menatap gue dengan tatapan sinis, gue tahu saat ini pasti Gina gedek banget sama gue.


Gue merasa tuli terhadap apapun yang mereka katakan, bahkan gue juga tidak tahu saat ini Arka dan Evan sedang berdebat apa? Saat ini hati dan pikiran gue hanya terfokus pada Gina seorang.


"Masuk sini? Ngapain bengong sih?"


Suara Kalista membuyarkan lamunan gue, dan gue langsung tersadar sepenuhnya. Bahkan gue juga tawa meledek yang keluar dari mulut Kalista, tadi Arka menelpon dan Evan mengatakan akan membawa wanita cantik ke sini. Semuanya ke-gep, parahnya geu ketahuan berbohong.


Baiklah, kita harus berusaha mengakrabkan diri terlebih dahulu dengan keadaan, sebelum benar-benar mengakrabkan diri dengan para gadis yang tampak sibuk bermain ponsel. Kita juga menyerahkan goddy bag itu ada Arka dan Kalista.


"Kalian tuh pacaran atau musuhan sih? Kok nggak saling nyapa? Kaya orang nggak kenal aja."


Dari ucapannya Arka itu tersirat sebuah ledekan yang sangat menohok, saat itu pasti Arka bersorak gembira melihat gue dan Evan sedang di cuekin kekhawatiran kekasih kita masing-masing.


"Gin, mau ngomong sebentar. Keluar dulu yu!" Pinta gue, gue masih berusaha mencari cara untuk menjelaskan semuanya pada Gina. Gue nggak mau kesalahoahaman ini berlanjut dan bahkan berlarut larut.


Gue berusaha tenang, tetapi tetap saja Gina tidak merespon, Gina malah semakin sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba Gian, Tiara dan Risa langsung membahas pria tajir yang katanya tadi mengajak mereka kenalan setelah di kafe. Mereka bertiga langsung antusias membahas pria yang gue sendiri nggak tahu bebentukan dan perwujudannya. Tapi, gue yang pintar ini tahu, Gina tidak mungkin seperti itu, itu palingan hanya akal-akalannya saja unruk membuat gue merasa cemburu.


Mereka bilang di pria tajir itu mengajak mantai, pria tajir itu ternyata ada 3 orang dan mereka menginginkan Risa, Tiara dan Gina pergi bersama-sama. Mereka juga mempersilahkan para wanita untuk memilih lantai mana yang akan di.kunjunhi? Resort mana yang akan mereka jadikan tempat beristirahat. Bahkan Gina langsung mengiyakan ajakannya, dan berkata Japan lagi jalan bareng roti sobek. Bahkan Gina juga mengatakan mereka itu selain tampan juga tajir.


Tajir?


Sebuah kata yang membuat gue lemah di hadapan wanita, sebuah kata yang terdengar sangat WOW di telinga wanita, bahkan bisa menjadi sebuah kata yang di jadikan acuan oleh para ibu-ibu untuk menjodohkan anaknya.


Ponsel Gina berdering, menandakan ada satu pesan masuk. Gue semakin panik ketika melihat ekspresi wajah Gina, senyum mengembang sambil menatap layar ponselnya.


"Gin." Gue beringsut maju, dan mendekti Gina. Tetap tidak ada respon.


"Gina." Kali ini suara gue agak sedikit keras, barangkali tadi Gina tidak mendengar karena sibuk dengan ponselnya.


"Maaf, tadi bohongin kamu. Sumpah demi apapun sebenarnya sama sekali nggak ada niatan buat bohong, tadi tuh lepaskan dan kepepet banget. Mau jujur tapi takut kamu marah, lagian yang punya ide nongkrong itu Evan, terus yang nyuruh matiin ponsel itu Riko. Katanya kita di suruh menikmati waktu sebagai pria normal yang tidak ada gangguan dari wanita." Gue berusaha menjelaskan semuanya, sedetail-detailnya berharap Gina menerima permintaan maaf gue, walaupun gue tahu itu akan sangat sulit untuknya.


Bersambung...


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2