SUN FLOWER

SUN FLOWER
Episode 15


__ADS_3

Vino berjalan memasuki ruangannya dengan wajah yang datar. Tidak ada yang berani mendekat, karena kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Nindi sudah pasrah dengan apa yang akan menjadi keputusan Vino. Namun di luar dugaan, Vino mengabaikan Nindi sama sekali.


"Eh.. Nin.. Ada apa ada apa..??" kepo Viska mendekati kursi Nindi


"Apanya yang ada apa?" ucap Nindi cemas tapi lega


"Waktu itu lo kan pergi ke rumah sakit, gimana aja? Lo diapain aja?" serang Viska


"Enggak diapa-apain.. Gak sangka, ayahnya Lantana baik banget. Dia memaafkan kesalahan gue, padahal Lantana kritis beberapa puluh menit" jelas Nindi


"Gila, phobia ulat aja bisa sampai kritis??" Arini mendekat


"Iya.. Gue ngerasa bersalah banget dan takut parah saat lihat wajah sangar tuan Vino. Tapi yang gue tambah takut waktu tuan Vino ternyata deket banget sama orang tua Lantana. Tuan Vino bahkan meluk bundanya Lantana erat banget waktu nenangin bundanya Lantana" jelas Nindi


"Tunggu.. Kalo gitu ceritanya, berarti Lantana dan tuan Vino? Gak mungkin gak ada hubungan kan??" tebak Viska


"Jangan-jangan.. Mereka.." terawang Arini


"Makanya, kalo aja ayahnya Lantana sama kek bunda dan tuan Vino, gue yakin gue gak bakalan bisa keluar idup-idup dari rumah sakit" ucap Nindi


"Jadi selama ini? Kenapa kita gak pernah tau??" salah satu staff ikut nimbrung


"Anyway.. Kondisi Lantananya gimana??" tanya Arini


"Dia masih koma untuk beberapa hari kedepan.. Paling cepat dia aka bangun minggu depan, paling lambatnya dokter pun tidak sanggup memprediksi.." jelas Nindi


"****** loh kalo tuan Vino sampe gak jadi nikah lagi.." ucap Viska


"Lo jangan nakut-nakutin dong Vis.." sergah Arini

__ADS_1


"Ekhemm..." Steva berdiri di antara kerumunan. Seketika staff yang sedang berkerumun segera menyebar ke kursinya masing-masing. Steva berjalan dengan menyilangkan tangannya di dada dan meninggalkan tempat yang baru saja jadi lokasi kerumunan.


*


Setiap hari semenjak Lantana dirawat di rumah sakit, Vino selalu datang menjenguk sekaligus menggantikan orang tua Lantana menjaga Lantana.


"Nak, apa kamu menyukai anak ayah??" tanya ayah saat mereka berdua duduk di sofa kamar Lantana


"Seandainya ayah merestui, saya ingin menjadikan Ana sebagai pendamping hidup saya" jawab Vino


"Ayah senang.. Jika ada yang sayang sama Ana apa adanya.. Sebenarnya Ana sangat takut sama laki-laki.. Terutama sejak kejadian kolam renang itu.. Meskipun dia punya banyak teman laki-laki, tapi dia tidak bisa membuka hatinya untuk siapapun.. Bunda selalu marah jika ingat hal ini" jelas ayah lagi


"Vino mengerti, yah.. Sebenarnya, sampai saat ini pun Ana belum menerima proposal Vino.. Ana akan mengalikan pembicaraan setiap kali Vino menyatakan perasaan Vino" ucap Vino lemah


"Ayah tidak akan maksa kamu atau Ana untuk menjalani hubungan.. Ayah juga sudah lihat ketulusan kamu pada anak ayah, ayah gak akan menghalangi hubungan kalian" ucap ayah dengan nada berwibawa khas seorang ayah


"Terima kasih, ayah.. Vino akan berusaha menjadi yang terbaik untuk anak ayah.." janji Vino.


"Bisa, ayah.. Ayah dan bunda istirahat di rumah aja malam ini.. Biar Vino yang menjaga Lantana.."  ucap Vino


"Kamu kan harus kerja besok.. Biar nanti ayah ke sini aja.." ayah berdiri dan siap meninggalkan ruangan


"Ayah juga kerja kan besok?? Ayah istirahat aja, toh di kantor ada wakil saya yang bisa gantiin saya" Vino meyakinkan ayah


"Benernih gak apa-apa kalo ayah gak ke sini lagi??" selidik ayah


"Bener ayah.. Vino janji akan menjaga anak ayah dengan baik.." Vino mengangkat tangannya bersumpah


Ayah terlihat menimbang dan menatap Vino dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

__ADS_1


"Ayah tenang saja.. Vino berjanji tidak akan apa-apakan putri ayah.." Vino menegakkan berdirinya


Ayah terkekeh melihat tingkah Vino. "Baiklah, ayah percayakan putri ayah sama kamu.." ucap ayah menepuk pundak Vino. "Yasudah, ayah pulang dulu ya.. Kamu jangan lupa istirahat.." setelah menyelesaikan kalimatnya, ayah pamit dan meninggalkan rumah sakit membiarkan Vino menjaga putri semata wayangnya.


Vino berjalan ke arah Lantana dan duduk di kursi yang tersedia di dekat tempat tidur Lantana. Vino membenarkan letak bunga matahari di vasnya yang Vino bawa kemarin saat mengunjungi Lantana. Vino kembali menghadap Lantana dan menatap bulu mata yang tertutup rapi dengan tenang.


Vino membelai puncak kepala Lantana dengan sayang, kemudian ia bangkit dan mengecup dahi Lantana dengan penuh perasaan. Gadis di hadapannya hanya berbaring tanpa reaksi. Selang oksigen di hidungnya membantu dia untuk terus bernafas.


Vino beralih meraih tangan Lantana dan mengecupnya beberapa kali. "Tuan putri, kamu tidurnya jangan lama-lama.. Aku kangen tau.. Hari-hariku membosankan tanpa senyum kamu.." ucap Vino lirih "kamu lagi-lagi berhasil membuat aku keluar dari karakterku.. Aku baru pertama kali ini merasa sangat tidak berdaya dan takut.. Kamu yang udah bikin aku tidak berdaya seperti ini, namun kamu juga yang udah ngasih semangat ke aku untuk tetap hidup dengan baik.. Bagaimana caranya agar kamu bisa menerima cintaku?? Bahkan sampai saat ini pun, kau belum memberikan aku jawaban apapun.." Vino terkekeh, namun kekehannya terdengar sangat menyakitkan


"Ayah sudah memberi restu untuk aku, aku tinggal menunggu jawaban kamu.. Kamu cepet bangun dong, aku takut sendirian.." ucap Vino lagi. Vino terus memandangi wajah pucat Lantana dengan harapan yang tergambar di matanya. Tanpa sadar, air matanya sudah membasahi punggung tangan Lantana. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan tissu, dan kembali mengecup punggung tangan Lantana. Vino menempelkan tangan Lantana di pipinya, tak terasa mata Vino terpejam dan akhirnya kepalanya terkulai di samping Lantana.


*


Pagi menyingsing, Vino sudah selesai membersihkan badannya ketika bunda Lantana datang. Bunda membawa kotak makanan yang berisi menu sarapan untuk Vino.


"Nak, sarapan dulu.." ucap bunda seraya meletakan kotak makan di meja dan ia duduk di kursi


Vino menghampiri dan duduk di samping bunda. "Bunda sudah sarapan??" tanyanya


"Em.. Bunda sudah sarapan tadi bareng ayah.." Jawab bunda sembari tersenyum


Vino membuka kotak makannya, seketika aroma makanan yang menggoda selera menyeruak dari dalamnya. "Hmmm.. Baunya aja udah enak banget.. Bunda pinter masak.." puji Vino


"Cobain dulu makanannya, baru kasih nilai" ujar bunda


Tanpa basa basi Vino langsung menyendok makanan itu ke mulutnya. Seketika rasa yang nikmat memanjakan lidahnya. Meski Vino terbiasa memakan makanan rumah yang dibuat ibu angkatnya, ia masih terharu ketika memakan masakan bunda.  Vino terharu karena keluarga Lantana memperlakukannya seperti anggota keluarga. Meski begitu, Vino masih tetap bahagia karena peluang ia mendapatkan Lantana terbuka lebar.


Bunda mencairkan suasana dengan membuka tema pembicaraan yang ringan dan menyenangkan. Tidak ada kecanggungan di antara mereka, Vino sudah menganggap bunda sebagai bundanya juga.

__ADS_1


Ketika asik mengobrol, Vino mendapat panggilan dari Amerika tepatnya dari mansion Stevenson. Vino meminta waktu kepada bunda untuk menerima panggilan. Bunda mengangguk meng-iyakan, Vino pun bergegas meninggalkan ruangan Lantana.


__ADS_2