
Tidak terasa kini usia kandungan Kalista sudah memasuki 5 bulan. Perut itu semakin membuncit, perut buncit Kalista sangat berbeda sekali dengan bumil yang lain, perut ini lebih besar dari usia kandungannya. Bahkan banyak sekali orang yang mengira bahwa Kalista sedang mengandung 7 bulan.
Semakin perutnya membuncit, Kalista pun semakin kesusahan dalam pekerjaan rumah. Tidur juga sudah susah, cepat gerah, cepat lelah, dan sering kali merasa malas.
Membereskan kamar yang biasanya hanya di lakukan oleh Kalista, kini pelayan pun telah turun tangan membantunya. Arka pun tidak memperbolehkan Kalista turun ke dapur, alhasil sekarang Kalista jarang masak.
Cahaya ilahi menerpa wajah Kalista yang masih terbaring di ranjang, cahaya itu masuk melalui celah-celah gorden. Kalista menyipitkan matanya, karena silau. Lalu Kalista menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
Arka bangkit dan segera membuka tirai gorden, lalu membuka jendela. Udara segar di pagi hari itu segera masuk memenuhi ruang kamar.
Arka keluar dari kamar, menyuruh pelayan untuk membuatkan sarapan untuknya dan untuk istrinya. Kemudian dia balik lagi ke kamar, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
15 menit berlalu, Arka keluar dari kamar mandi. Handuk kecil melilit tubuh bagian bawahnya, rambutnya basah berantakan dan air masih menetes dari rambutnya itu.
Dada bidang dan perut kotak-kotak itu selalu membuat Kalista terkagum-kagum. Kalista menatap tanpa berkedip sosok sempurna yang Tuhan ciptakan "Ya ampun roti sobek yang tampan rupawan nan sempurna indah bagaikan sinar bulan purnama itu suami gue." Kalista bergumam dalam hatinya, bangga mempunyai suami yang Tampan iya! Tajir iya! Baik dan perhatikan iya! Plus nya selalu siap siaga. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
"Ibu bengong ibu? Jangan-jangan dede bayi juga ikutan bengong." Arka melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Kalista yang sedang duduk di tepian ranjang.
Kalista berusaha mengembalikan fokusnya, kemdian dia tersenyum hangat pada suaminya. "Aku terhipnotis melihat tubuh indah milik suamiku." Jawab Kalista tanpa ragu, dulu sih Kalista selalu jaga image dan selalu mempertahankan harga dirinya.
Arka tersenyum menyeringai, tangannya menyentuh dagu Kalista. "Mau nggak? Boleh lah masih pagi ini kok." Ujarnya. Tatapan matanya sangat menggoda.
"Mesum!" Kalista menghempaskan tangan Arka dari dagunya.
"Ya biarin aja! Udah kodratnya cowok mesum! Normal dong!" Jawab Arka sambil mengusak rambut Kalista.
Arka kembali mengangkat dagu Kalista, ciuman singkat pun Arka berikan. Lalu Arka mengecup kening Kalista. Begitulah setiap harinya, Arka selalu memberikan morning kiss pada Kalista, tidak peduli Kalista sudah mandi atau belum.
"Ih jorok! Aku belum mandi." Kalista mendorong badan Arka agar segera menjauh darinya.
"Biarin aja! Mandi ataupun belum mandi, istriku tetap cantik!" Arka mengedipkan sebelah matanya.
Kemudian Arka berjalan ke arah lemari, mencari stelan kerja yang akan di pakai hari ini. Setelah usia kehamilan Kalista memasuki 5 bulan, Arka melarang Kalista untuk menyiapkan pakaian kerjanya, karena Arka tahu bahwa Kalista sudah mulai kesulitan dalam beraktifitas.
Tubuh tegap atletis milik suaminya itu terpampang nyata sedang mengenakan pakaian kerja. Mengenakan dasi, menata rambutnya, lalu memakai kaos kaki dan sepatu pantofel.
"Sarapan dulu sayang."
Kalimat itu keluar dari mulut Arka. Arka? Seharusnya Kalista dong yang mengucapkan kalimat itu, soalnya Arka yang akan berangkat kerja. Tetapi ini malah sebaliknya.
"Sayang ingat nggak waktu hari kedua kamu menjabat CEO di kantor?" Ujar Kalista sambil menjejalkan roti kedalam mulutnya.
"Apaan? Lupa sih itu udah lumayan lama." Jawab Arka singkat.
"Itu loh kita sempat beradu mulut di dalam lift karyawan." Kalista.
"Oh itu yang waktu lift khusus CEO lagi di perbaiki." Arka berusaha mengingat-ingat kejadian itu.
"Iya itu, waktu itu kamu lihatin aku gitu tapi pas aku tegur kamu nggak ngaku. Jujur aja waktu itu kamu terpesona kan sama kecantikan aku? Cuma emang kamunya aja punya gengsi segede gunung." Ucap Kalista sambil menjulurkan lidahnya.
Jawaban kamu gini "Saya? Ngeliatin kamu? Jangan mimpi deh! Kamu tidak termasuk dalam kamus wanita tipe idaman saya! Cih ngelawak ya pagi-pagi, wanita kampung seperti kamu kalau mimpi jangan ketinggian ingat ya jatuhnya sakit." Kalista menirukan gaya bicara Arka waktu itu.
"Tahu nggak? Muka songong dan sombong kamu waktu itu sumpah ngeselin banget, berasa pengen nampar! Geram banget sama CEO tengil so ganteng tapi memang ganteng sih." Ujar Kalista.
Terus kamu juga jawab gini "Dasar aneh padahal dari tadi saya perhatikan bapak yang ngeliatin saya terus. Ah tenang aja, saya gapernah bermimpi untuk bisa bersanding dengan bapak kok. Saya juga punya pria idaman yang jauh lebih-lebih tampan dari bapak." Arka pun meniru ucapan Kalista waktu itu.
"Wah wah wah jadi dari tadi ibu Kalista memperhatikan saya? Dan apa barusan? Pria idaman kamu jauh lebih tampan dari saya? Wow itu berarti secara tidak langsung ibu Kalista mengakui bahwa saya tampan? Hahaha. Pria idaman kamu pasti hanya ada di dalam mimpi konyolmu itu." Ejek Kalista sambil terus menirukan gaya ucapan Arka.
"Lalu pada akhirnya si wanita kampung yang sama sekali tidak masuk ke dalam tipe wanita idaman itu pun menjadi istrimu! Mulutmu kena karma haha." Kalista pun terkekeh geli mengingat kejadian itu.
"Dan si wanita yang punya pria idaman yang katanya lebih-lebih tampan dari gue itu pun menikah sama gue, dan ternyata pria idamannya yang lebih-lebih ganteng dari gue itu adalah diri gue sendiri. Gila nggak sih? Keren banget gue! Susah sih kalau udah tampan dari lahir mah." Arka menyombongkan dirinya, sesekali mulutnya meneguk susu di gelas.
"Dih sok tampan!" Cibir Kalista.
"Kan emang tampan!" Arka menautkan sebelah alisnya, senyum seringai muncul lagi di sana.
"Membalikan fakta! Saya akui bapak memang ganteng tapi saya yakin tidak akan ada wanita yang betah bersanding dengan pria dingin kaya bapak!." Arka kembali menirukan kalimat dan gaya bicara Kalista, suara tinggi dan sorotan mata tajam.
"Lalu pada akhirnya dirimu sendiri yang bersanding denganku, gimana betah nggak? Nggak ya? Yaudah deh otw cari istri baru!" Arka meledek Kalista, ya memang seperti itu lah yang Kalista ucapkan waktu itu di lift kantor.
"Istri baru? Yakin nih? Nanti malam siap-siap tidur di sofa." Kalista mencubit pinggang Arka, wajahnya terlihat sangat kesal karena ucapan Arka mengenai istri baru.
"Skenario Allah itu memang indah ya, kita nggak berencana tapi Allah yang merencanakan. Awalnya kita sering adu mulut berasa kaya tom & Jerry, lalu pada akhirnya kita menikah, punya anak, nanti punya anak lagi, punya anak lagi, punya anak lagi, membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta dan suka cita, menua bersama dengan bahagia." Imbuhnya lagi, Kalista tersenyum membayangkan masa depannya bersama suami dan anak-anaknya kelak.
"Amin." Arka pun tersenyum.
"Lucu ya kalau di tulis jadi novel, judulnya upik abu menjadi istri seorang miliarder, atau wanita kampung jadi istri CEO, duh keren deh pasti." Kalista terkekeh.
"Jelek banget judulnya, mendingan gini deh 'Sekretarisku ternyata jodohku dan uniknya dia adalah teman masa kecilku yang selalu ku tunggu dan kuangan-angankan menjadi istriku' gimana bagus kan? Kata Arka.
"Itu judul novel apa jalan tol? Panjang amat."
"Jalan tol panjang muter-muter, eh nggak deh lurus, eh eh eh apa ya? Tau deh ah!"
"Nggak jelas banget sih!"
__ADS_1
"Mau tahu nggak?"
"Apaan?" Kalista menatap Arka penasaran.
"Apa ya? Nggak tahu deh lupa!"
"Ih nyebelin!" Kalista cemberut bete.
"Suamimu yang ketampanannya seantero jagat raya tidak ada yang mengalahkan ini mau berbicara jujur, jujur dari hati yang sangat dalam, dengan perasaan yang sangat menggebu-gebu.."
Merasa Arka akan berbicara bertele-tele, Kalista pun langsung memotong ucapan Arka. "To the point deh! Muter-muter terus kaya roller coaster, pusing dengarnya, nanti malah telat ngantor!" Kalista memutarkan bola matanya malas.
"Sebenarnya..." Ucapan Arka terjeda, bahkan sampai 3 menit, Kalista dengan setianya masih saja menunggu lanjutan dari ucapan itu.
"Nungguin ya!" Arka menjawil hidung Kalista sambil tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah istrinya yang sangat penasaran.
Kalista merasa kecewa pagi-pagi sudah di permainkan oleh Arka, Kalista bangkit dari duduknya akan meninggalkan Arka dengan sarapannya yang baru di makan sedikit.
"Bercanda, bumil baper banget sih! Sini duduk lagi, aku mau ngomong yang sejujurnya nih." Arka mencekal tangan Kalista, dengan sangat terpaksa Kalista pun menuruti perintah Arka.
"Sejujurnya pada saat di lift itu aku memang memperhatikanmu, cantik! Kamu sangat cantik pada saat di lift itu! Walaupun maaf ya, dengan style seadanya dan nggak bermerk! dan aku suka menatap manik matamu itu, entah mengapa aku selalu terhipnotis dengan manik mata milikmu." Arka mengusap pelan punggung tangan Kalista.
"Tapi sebenarnya pas di hari pertama aku jadi CEO, sebenarnya aku memang sudah terpesona oleh kamu, cantik, bibir tipisnya membangkitkan gairahku, cuma waktu itu aku selalu menanamkan satu kalimat di otak, hati, dan pikiranku, bahwa semua wanita itu matre dan murahan. Karena kan kamu tahu sendiri lah ya masalalu aku kaya gimana?" Imbuhnya lagi.
"Tuh kan benar! Aku tuh tahu kalau kamu memang terpesona sama aku sejak hari pertama kamu menjabat jadi CEO di kantor, aduh bang lain kali jangan gengsi-gengsi dong, harus gentleman! Coba bayangkan kalau aku keburu di lamar pria lain, kamu cuma bisa gigit jari, ngenes banget kan? Secara gitu di dunia ini nggak ada lagi wanita cantik selain aku." Kalista menyombongkan dirinya, menjulurkan lidahnya lalu mengedipkan sebelah matanya pada Arka.
"Emang cocok banget sih kita,pria paling tampan seantero jagat raya dan wanita paling cantik sedunia." Sudut bibir Arka terangkat sempurna.
"Dan aku bangga mempunyai suami sepertimu!" Kalista mencium pipi Arka.
"Aku lebih bangga mempunyai istri kaya kamu." Arka mengecup pipi kira kanan Kalista, kening, kedua kelopak matanya, dagu, lalu bibirnya. Tahu lah ya urusan kiss di bibir memang cukup berdurasi, memakan waktu paling tidak sedikitnya 5 menit. Deruan napas mereka memburu seiring pergerakan lidah masing-masing.
Setelahnya mereka pun asyik sarapan sambil bercanda tawa, saling menyuapi roti sampai habis, kemudian meminum segelas susu, susu untuk Arka dan susu bumil untuk Kalista.
Setelah itu Kalista mengantarkan Arka ke halaman depan, masih menggunakan piyama rambut acak-acakan dan muka bantal yang sama sekali belum cuci muka.
Pasangan suami istri ini sangat-sangat romantis, jika Arka akan berangkat kerja Kalista selalu mencium punggung tangannya, dan Arka akan mencium kening Kalista.
"Aku berangkat kerja dulu sayang, kamu jangan kemana-mana! Jangan lupa mandi, sama makan yang banyak." Arka kembali mencium kening Kalista, mengusap perutnya dan mencoba berusaha berinteraksi dengan calon juniornya itu.
Mobil telah siap, beberapa pengawal pun telah siap. Arka masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai melaju meninggalkan kediaman Anggara.
Selepas kepergian Arka, Kalista langsung menemui beberapa pelayan di bagian dapur. Kalista meminta di buatkan salad buah, bakwan jagung, dan perkedel pakai saus tomat. Sambil menunggu pesanan makannya, Kalista segera pergi ke kamar, lalu melakukan ritual bersih-bersihnya.
Begitu sampai kantor Arka langsung di suguhkan beberapa laporan bulanan, begitu lah pekerjaan kantor setiap akhir bulan selalu ada laporan bulanan, dan Arka harus memeriksa laporan-laporan sebanyak itu? Lumayan cukup menguras energi.
Pintu terbuka, munculah sesosok pria yang akhir-akhir ini sering banget datang ke kantor Anggara, bukan karyawan pokonya sama sekali tidak ada keanggotaan dari perusaan Anggara. Siapa lagi kalau bukan Evan? Si pria bucin yang datang ke kantor hanya untuk melihat wanita yang di cintainya.
"Ngapain lu?" Sarkas Arka, sorotan matanya tajam memandang Evan.
"Wes santai dong bro! Biasa lah gue kesini cuma mau lihat wanita pujaan hati gue." Jawab Evan sambil mendaratkan bokongnya di sofa di hadapan Arka.
"Samperin sana! Kalau keburu jam masuk kerja gue nggak akan ngizinin karyawan laha-lehe ngobrol santai cekikikan rumpi gosip dan sebagainya!"
"Tadinya mau gue samperin, tapi ya gitu dia lagi sama ban bemo. Bukan canggung sih sebenarnya, tapi lebih kaya ke nggak enak aja, soalnya mereka berdua suka langsung meninggalkan gue sama Tiara."
"Lah bagus dong!"
"Iya sih bagus, tapi kalau keseringan kaya gitu kan kesannya gue kaya misahin lingkar persahabatan atau pertemanan mereka. Dan gue cukup tahu diri bahwa gue kadang-kadang memang jadi menggangu quality time mereka, gimana coba kalau mereka atau Tiara mikir bahwa gue lumayan jadi menggangu di antara mereka? Bahaya dong gue kalau sampai Tiara nggak mau sama gue, ambyar hati gue."
"Lagian tadi sekilas gue perhatiin Tiara, dia kaya murung gitu, atau jangan-jangan dia lagi ada masalah kali ya?" Imbuhnya lagi.
"Nggak tahu! Gue bukan cenayang! Kalau lu mau tahu? Ya lu tanyain aja sendiri!" Ujar Arka sambil memejamkan kedua bola matanya.
"Maunya sih gitu! Nanti deh gue coba chat dia! Eh btw Andy mana bro?" Mata Evan menjelajahi setiap sudut ruangan ini, namun manik matanya masih tidak menangkap sosok Evan di ruangan ini.
"Makan sama Gina!"
"Kampret banget tuh orang pacaran mulu! Jadiin gue karyawan di kantor ini dong, biar gue juga bisa dekat-dekat sama Gina." Ujar Evan dengan mata berbinar karena baru saja mendapat ide brilian.
"Ogah! Nanti isinya kantor gue malah jadi perkumpulan orang-orang bucin! Cinta itu bukan persoalan ketemu setiap hari, ya kalau pengen ketemu tiap hari sih elu nikah aja!"
"Hooh gue kebelet nikah! Takut keburu tua dan nggak laku!"
"Makanya cepat halalin Tiara! Nikah itu enak banget loh, rasanya tidak bisa di deskripsikan! Pokoknya rasanya lebih-lebih dari rasa vanila!"
"Nunggu waktu yang tepat! Stop! Nggak usah di lanjut! Ujung-ujungnya nanti lu malah panser kebahagiaan dan keromantisan lu sama bini lu!" Evan merubah posisi duduknya, kemudian punggungnya di sandarkan ke sofa.
"Ngapain sih bucin lu datang terus ke kantor?" Ujar Andy yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
"Bucin bucin ke gue, lu sendirinya aja sama kan bucin! Abis makan dari mana lu sama Gina? Makan apa? Jangan-jangan lu makan tubuh Gina?" Pertanyaan beruntun dan penuh kecurigaan kelautan begitu saja dari mulut Evan.
"Sembarangan mulut lu! Ya gue makan sesuatu hal yang kodratnya emang pantas buat di makan, nutrisi makanan! Otak lu ih serem banget bro! Beneran kebelet nikah apa gimana sih lu? Heran dah ah nih otak pikirannya mesum terus." Andy menjitak kepala Evan, lalu meninju pelan lengannya.
"Sakit beg*!" Evan menghempaskan tangan Andy dari lengannya.
__ADS_1
"Hooh gue kebelet nikah! Nggak tahan banget pengen punya bini, ada yang ngurusin segala hal, di masakin, dan intinya tidur ada yang ngelonin. Indah banget sih dunia." Evan tersenyum sumringah membayangksn tibanya hari itu.
"Benar-benar nih si kampret, hadeuh cara berpikir lu salah besar! Nikah bukan masalah persoalan ranjang aja!" Lagi lagi Andy menjitak kepala Evan.
"Ingat ya menjadi suami besar tanggung jawabnya! Nikah bukan hanya tidur ada yang ngelonin, begini begitu soal ranjang! Emang sih itu ibadah! Tapi coba deh pikirin yang lainnya juga, nikah bukan hanya status dan kepemilikan, nikah adalah proses bersatunya dua insan yang saling mencintai untuk beribadah dan menyempurnakan agama! Di dalamnya bukan hanya ada kebahagiaan, tapi ada juga permasalahan yang akan muncul! Tugas utama seorang suami adalah menafkahi istrinya! Kalau lu bolak-balik terus ke kantor gue, lah elu kapan kerjanya dong? Wanita butuh pria pekerja keras bro! Wanita butuh uang, make up, skincare, shopping, intinya wanita butuh uang! Dan butuh sosok pria dewasa yang punya pikiran logis dan punya masa depan cerah untuk diajak mengarungi bahtera rumah tangga, menaklukan kerasnya dunia. Seorang suami juga harus bisa menjadi leader yang baik, bisa memanage waktu, dan memanage segala hal! Makanya cari istri yang pintar itu penting! Biar bisa diajak menciptakan masa depan yang cerah! Istri bahgia suami juga bahagia, memperlakukan istri dengan baik juga dapat melancarkan rezeki kita." Arka berbicara panjang lebar, berusaha menasehati Evan.
"Mantap kali nih kalimat-kalimat yang keluar dari mulut calon bapak ini." Andy merasa bangga Arka, karena Arka mempunyai pikiran yang luas mengenai sudut pandang pernikahan.
"Nikah itu bukan cuma sekedar tidur bareng mantap-mantap! Bangun pagi dapat morning kiss, di siapkan sarapan, di siapkan pakaian kerja, di pakein dasi, diantar ke halaman rumah pada saat akan berangkat ngantor, di buatkan pisang goreng di malam hari sambil bercanda tawa mesra di depan tv, istri beli sayur agak lama karena ikutan ghibah dengan ibu-ibu kompelk! Nikah nggak kaya gitu, masih banyak persoalan-persoalan lainnya!" Andy pun mengeluarkan statement mengenai pernikahan.
"Iya gue paham! Gue juga tahu kok nikah bukan sekadar mantap-mantap! Gue juga paham kok akan dunia masa depan! Cuma emang sih gue kepengen banget segera ngehslalin Tiara, udah bosan jomblo gue." Evan menjabat rambutnya frustasi.
"Sabar dikit napa! Jodoh maut dan takdir kan semuanya diatur oleh yang maha pencipta. Makanya dekatkan diri ke yang maha pencipta biar di kasih cepat!" Ujar Andy.
"Permisi pak, ini dokumen yang harus bapak tandatangani." Gina tiba-tiba masuk ke ruangan.
Evan melihat Gina dengan seksama, ternyata Gina cantik juga. Kemeja putih dengan ruffle di bagian tengahnya, rok span hitam selutut, dan hills 7cm. Kaki jenjangnya melangkah dengan sempurna, rambutnya diikat cepol. Make up natural terpoles di wajahnya.
"Awwwwww." Evan merasakan kakinya sakit karena diinjak sengaja oleh Andy, Andy tahu Evan menatap Gina dengan tatapan tidak biasa.
Andy menatap Evan, tatapannya seperti mengabarkan tatapan permusuhan. Sorot matanya tajam, mungkin terdapat kilat api di manik mata itu.
"Santai bro! Selera gue tetap Tiara kok, gue tahu Gina milik elu. Tapi emang sih Gina hari ini terlihat cantik." Bisik Evan di telinga Andy.
"Berani macam-macam gue patahin leher lu!" Ancam Andy pada Evan.
"Berisik banget sih nih 2 bocah!" Ujar Arka sambil menandatangi dokumen-dokumen yang di bawa Gina.
Setelah selesai menandatangani berkas tersebut, Arka memainkan ponselnya. Gina pun telah keluar dari ruangannya.
"Gue mau nongki di Coffee shop." Arka bangkit dan langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Gue ikut!" Evan pun berdiri dan langsung mengikuti langkah Arka.
Langkah Arka terhenti, dan berbalik badan. "Handle semua kerjaan kantor! Sama Gina juga." Ucap Arka pada Andy.
"Jangan lupa gunain kesempatan ini buat dekatin Gina, mau sosor-sosoran di ruangan ini juga nggak apa-apa kok, no problem asalkan nggak jadi berantakan." Arka mengedipkan sebelah matanya dengan tersenyum menyeringai.
"Oke gue handle! Tapi sorry deh gue nggak sebrengsek itu! Gue mau ngelakuin segala sesuatu halnya ketika sudah halal!"
"Waduh sahabat gue ini, panutan banget dah! Pepet terus jangan kasih kendor." Evan pun menyempatkan diri untuk merangkul Andy.
Arka dan Evan pun langsung berangkat menuju coffee shop. Menggunakan mobil Evan, karena Arka malas kalau pakai mobilnya soalnya pakai sopir.
Mobil terparkir di parkiran coffee shop. Arka dan Evan langsung melangkahkan kakinya masuk ke coffee shop. Menduduki kursi yang ada di sudut ruangan dengan view tumbuhan dan bunga-bunga yang cukup menyejukkan mata.
"Siapa tuh? Karyawan di Coffee shop ini? Lumayan sih mukanya." Ujar Evan sambil memperhatikan wanita cantik yang sedang melangkah masuk ke ruangan manager di Coffee shop ini.
"Mana?" Tanya Arka, lalu matanya mengikuti arahan telunjuk Evan.
"Jam berapa ini? Dia masuk shift 2? Tapi... Masa masuk kerja rambutnya masih basah gitu?"
"Nggak sempat keringin rambut kali." Ujar Arka sambil membolak-balikkan buku menu.
Mereka berdua pun memesan makanan, tidak berselang lama waiters datang membawa pesanannya. Riko sama sekali belum menghampirinya, padahal tadi sebelum berangkat Arka sudah WhatsApp mengabari bahwa dirinya akan berkunjung ke coffee shop.
Ketika Arka dan Evan sedang menikmati kopi pesanan mereka, dan pancake. Riko datang menghampirinya, mukanya terlihat sangat segar, rambutnya basah dan masih berantakan.
"Apa kabar bro? Mendadak banget ngabarin gue nya." Riko duduk di hadapan Evan dan Arka.
"Mendadak? Biasanya juga gini kan. Atau lu keganggu ya? Lagi banyak kerjaan?" Tanya Arka.
"Ah nggak juga sih!" Jawab Riko.
"Manager lu baru? Wanita?" Tanya Riko.
"Iya itu Risa! Udah 2 minggu dia kerja! Lu nya aja baru kesini lagi, jadi baru lihat. Manager gue yang sebelumnya harus pindah kota karena ada urusan penting katanya." Ujar Riko.
"Dia masuk shift 2? Buru-buru kali ya dia sampai tidak sempat mengeringkan rambutnya." Ujar Evan sambil menyesap moccacino.
"Mungkin." Jawab Riko acuh tak acuh.
"Terus kenapa rambut lu juga basah?" Selidik Arka penuh kecurigaan, tangannya mengelap pinggiran gelas.
"Gerah sumpah! Gue mandi tadi makanya telat nyamperin lu berdua." Jawab Riko senormal mungkin, padahal dirinya merasakan gugup dan hampir menjawab gelagapan.
"Oh gitu." Ujar Arka sambil memperhatikan wajah Riko.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
Maaf telat mulu up nya! Karena author lumayan sibuk. Dan author mulai stuck ide😭 berikan saran dong mau kaya gimana problem kedepannya?
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤