
Cahaya mentari pagi yang hangat itu menerpa wajah Kalista, Kalista segera mengerjapkan matanya. Dengan perlahan kelopak matanya terbuka sempurna.
Tangannya menepuk-nepuk sisi ranjang sebelahnya, namun sayang di sebelahnya itu tidak ada suaminya. Dengan kepala yang sedikit pusing Kalista berusaha bangun, manik matanya menatap jam dinding. "Ah pantas saja sudah tidak ada, ternyata sudah jam 09:00 WIB." Kalista langsung menyibakkan selimutnya, dan bergegas membuka tirai gorden. Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual bersih-bersihnya.
"Bi, suami saya sudah berangkat kerja ya?" Tanya Kalista yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Pak Arka tidak pulang bu, tadi malam saya sempat mencuri dengar dari tuan Anggara katanya bapak Arka sedang ada kesibukan di kantor yang sama sekali tidak bisa di tinggalkan." Jawab pelayan itu.
Kalista mengernyitkan dahinya, matanya menatap bibi pelayan dengan tatapan kosong. "Hmmmmm gitu ya bi." Ujarnya sambil tersenyum kecut.
Sudah satu Minggu Arka selalu sibuk sama pekerjaan kantor. Jika pulang ke rumah pun sikap Arka sangat berbeda, dingin, cuek, dan sudah tidak ada perhatian sedikitpun. Sudah satu Minggu itu pula komunikasi diantara mereka memburuk, Arka seperti sengaja menjauhi Kalista. Sedangkan Kalista tidak tahu di mana letak kesalahannya?
Tentunya Kalista tidak bisa hanya berdiam diri saja, untuk memastikan benar tidaknya Arka sibuk bergelut dengan pekerjaan kantor, Kalista pun pergi menemui Arka di kantor sekaligus membawakan bekal makan siang. Namun Arka tidak ada di kantor, Gina mengatakan Arka pergi sebentar ke coffee shop nya Riko.
"Katanya sibuk tapi masih bisa meluangkan waktu untuk nongkrong? Fix sih ini nggak sibuk-sibuk banget." Cibir Kalista.
Bekal makan siang yang Kalista bawa pun ia titipkan pada Gina. Sore harinya ketika Arka pulang kerja, tidak ada ucapan maaf dan terimakasih. Sebenarnya ucapan itu nggak perlu sih, yang Kalista mau hanya beberapa kalimat penjelasan.
Dan sudah seminggu ini pula dirinya merasa kesepian, pak Anggara dan Oma jarang mengajaknya berbincang. Pak Anggara biasanya selalu sibuk, namun semingguan ini dia berada di rumah terus, namun sayang sangat sibuk sekali dengan kegiatannya yang di lakukan di ruang baca. Sedangkan Oma lebih sering berada di kamar.
Untuk melampiaskan rasa kesal dan kesepian yang sudah berlangsung selama seratus enam puluh delapan jam ini, Kalista berusaha menghubungi Tiara untuk mengajaknya ngemall. Sudah lama juga Kalista tidak hang out bersama Tiara. Kangen juga terhadap hal-hal yang sering di lakukannya bersama-sama sebelum Kalista di pinang dan jadi nyonya Arka.
Namun sayang, dalam rentang waktu seminggu ini juga sudah dua kali Tiara menolaknya. Alasan pertama sibuk urusan kantor, alasan kedua karena mau jalan sama seseorang.
Seseorang?
Siapa sih seseorang itu? Setahu Kalista sekarang Tiara lebih selektif dalam memilih cowo. Dan Kalista sangat yakin seseorang yang di bilang Tiara itu adalah cowo. Apa Tiara sudah punya kekasih baru? Ah tidak mungkin, karena Tiara selalu menceritakan semuanya padanya.
"Bi, temani saya makan ya." Kalista langsung menyeret kursi dan langsung mendudukinya.
"Bibi juga duduk dong, masa iya mau berdiri terus." Kalista menatap bibi pelayan itu dengan tatapan intens.
"Ah iya non." Bibi langsung duduk di kursi sebelah Kalista.
"Sudah seminggu ini saya makan sendirian terus, bukan cuma makan sih sarapan juga gitu. Makanya sama mau di temenin sama bibi, soalnya makan sendiri itu nggak enak, kesepian banget." Suaranya terdengar lirih, bahkan hampir tidak terdengar jelas karena di mulut itu sudah penuh dengan makanan.
Bibi hanya tersenyum saja sambil memperhatikannya. Jarang sekali ada seorang nyonya yang mau makan satu meja dengan pelayan. Biasanya pelayan hanya boleh berdiri di sampingnya, dan mengambilkan semua yang di mau oleh nyonya nya.
Awalnya bibi pelayan itu ragu untuk mengambil makanan, tapi setelah di paksa oleh Kalista akhirnya bibi itu pun mau. Keduanya makan dengan sangat lahap, Kalista bahkan sampai nambah dua kali.
"Alhamdulilah kenyang banget non." Bibi baru saja memasukkan satu sendok makanan terakhir kedalam mulutnya, tanyanya sibuk mengusap perutnya.
"Iya bi, alhamdulilah." Seru Kalista dengan senyum merekah.
"Eh bi, nanti temani saya jalan-jalan di taman belakang ya. Soalnya kata dokter kalau usia kandungan memasuki 8 bulan menuju 9 bulan itu harus sering-sering jalan."
"Iya non, di minum dulu ini susu bumilnya." Tangannya mengulurkan segelas susu.
Kalista meminumnya hingga tandas, tidak tersisa satu tetes pun.
"Ayo non."
"Kemana bi?"
"Katanya mau jalan-jalan?"
"Ah iya, ayo."
Kalista pergi ke taman belakang. Berjalan-jalan di temani pelayan. Udaranya terasa sejuk, matanya terasa segar karena di manjakan oleh bunga-bunga yang sedang mekar, pandangannya juga terasa sangat sejuk sekeliling taman ini di penuhi pohon-pohon buah. Umumnya taman dominan berwarna hijau, tetapi taman belakang di kediaman Anggara ini lebih ke arah rainbow bukan hanya hijau.
"Kalau merasa pegal mending istirahat dulu." Ucap bibi pelayan, seraya menuntun Kalista agar duduk di bangku dekat taman bunga.
Kalista tersenyum hangat, pelayan ini sangat baik dan bahkan Kalista merasa seperti sedang di perhatikan oleh almarhum bundanya.
Semilir angin yang sangat sejuk dan segar menerpa wajahnya Kalista, membuat beberapa helai rambutnya menjuntai kedepan dan berantakan.
"Bi, saya salah apa ya? Kok suami saya jadi cuek dan dingin banget sama saya." Wajah cantik itu kini berubah menjadi sendu dan muram. Senyum hangat nan merekah itu kini menghilang berganti dengan raut wajah menyedihkan.
"Kok nanya saya non? Saya kan tidak tahu." Jawab bibi.
"Saya merasa tidak punya salah, tapi sikap suami saya aneh, jadi seolah-olah saya telah melakukan kesalahan besar. Ayah dan Oma juga seperti mendiamkan saya."
Kalista sudah tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya, tangisnya pecah begitu saja di bangku taman belakang. Pelayan yang sedang menemaninya itu menjadi panik, dan bingung harus bersikap seperti apa.
"Mendingan di tanyakan dulu kalau emang non nggak merasa bersalah dan nggak punya salah. Di bicarakan dengan kepala dingin, jangan terpancing emosi." Telapak tangan pelayan itu aktif mengusap punggung Kalista seraya menenangkannya.
"Gimana mau di bicarakan, Arka pulangnya larut malam ketika saya sudah tidur, dan paginya ketika saya bangun dia sudah menghilang pergi ke kantor. Apalagi tadi malam dia bahkan sampai tidak pulang." Keluh Kalista dengan bibir mencebik.
"Ya sudah nanti kalau ada waktu mendingan di bicarakan baik-baik ya non, yang terpenting sih non jaga kesehatan saja jangan sampai pikiran-pikiran buruk itu mempengaruhi kehidupan lain yang sedang tumbuh berkembang di perut non." Bibi mengingatkan agar Kalista tidak larut dengan pikirannya, karena walau bagaimana pun stress bisa mengakibatkan janinnya terguncang.
Setelah di rasa cukup berjalan-jalan di taman belakang. Kalista pun kembali masuk ke dalam rumah. Udah beberapa hari ini Kalista sedikit kesulitan jalannya, karena kakinya bengkak.
__ADS_1
Manik mata Kalista menangkap sosok Oma dan ayah yang sudah rapi, bahkan sampai membawa beberapa koper. Menurut insting Kalista sih sepertinya mereka berdua akan pergi ke luar kota. Atau mungkin sebenarnya akan pergi ke luar negeri. Entah lah Kalista tidak tahu.
"Ayah dan Oma mau pergi ke mana?" Kalista memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke luar kota." Jawab Oma datar.
"Bi urus rumah dengan benar ya, soalnya saya akan pergi ke luar kota dengan waktu yang rekatif lama. Laporkan apabila ada hal-hal mencurigakan." Ucap pak Anggara.
"Baik tuan."
Benar-benar tidak ada ucapan perpisahan untuk Kalista. Ayah dan Oma langsung berlalu begitu saja, tidak ada ucapan jaga diri baik-baik, jangan telat makan dan lain sebagainya yang biasanya di ucapkan oleh Oma.
Kalista menatap punggung ayah dan Oma yang semakin menghilang, dadanya bergemuruh seperti petir yang siap meledak membuat garis-garis semburat merah di langit. Bola matanya terasa semakin panas.
Merasa tidak kuat untuk menahan laju air matanya, Kalista buru-buru melangkahkan kakinya menuju kamar. Di kamar itu Kalista menangis tersedu-sedu, Isak tangisnya sangat terdengar jelas sepertinya sakit yang dirasakannya mungkin melebihi sakit sayatan sebuah silet.
Lambat laun suara tangisannya menghilang, dan mata itu pun mencapai puncak kata lelah. Kelopak mata itu perlahan menutup dengan deru napas yang sangat teratur.
Pelayan yang tadi menemani Kalista makan dan berjalan-jalan di taman, sebenarnya merasa bersalah pada Kalista. Karena pelayan itu tahu semuanya, dan Kalista memang tidak bersalah. Bahkan semua pelayan sudah siap dengan tugasnya masing-masing, hanya ada satu pelayan yang di suruh untuk memantau semua kegiatan Kalista.
Ting tong (terdengar suara bell)
"Cari siapa?" Tanya bibi pelayan.
Di hadapannya itu ada seorang laki-laki berpakaian rapi, dan di tangannya ada sebuah amplop kecil berwarna merah muda, dan bahkan ada pita kecilnya.
"Apa benar ini kediaman ibu Kalista Bunga Pratiwi?" Tanyanya dengan raut wajah cuek.
"Iya benar."
"Boleh panggilkan ibu Kalista nya? Soalnya saya tidak punya waktu luang." Suaranya sangat nyeleneh, menyebalkan dan terkesan sombong sekali pria itu.
"Nyonya saya sedang beristirahat! Jika ada pesan yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan pada saya." Bibi pelayan pun mulai jengah dan terpancing emosi.
"Tidak sopan kalau di bicarakan dengan seorang pelayan." Lagi-lagi ucapan yang terlontar dari mulutnya cukup membuat siapapun merasa emosi.
Dengan langkah gontai dan wajah sebal bibi pelayan pun menghampiri Kalista, dan memberitahukan ada seorang pria yang mencarinya. Awalnya pelayan itu tidak tega membangunkan Kalista yang beberapa menit yang lalu baru terpejam. Tapi mengingat seseorang yang masih berada di ambang pintu itu, dengan terpaksa pelayan pun membangunkannya, membicarakan semuanya, lalu menemui pria itu bersama-sama.
"Cari saya?" Tanya Kalista.
"Iya cari ibu Kalista." Ucapnya ketus.
"Ibu ngapain sih di dalam? Lama banget keluarnya? Lagi selingkuh ya? Dasar wanita jaman sekarang?" Imbuhnya lagi dengan pertanyaan beruntun dan bahkan diakhir kalimatnya pria itu sempat mencibir.
"Ada apa cari saya?" Kalista mulai berbicara pakai nada tinggi.
"Nih bu, dari selingkuhan ibu. Silahkan di baca!" Pria itu memberikan satu buah amplok berwarna merah jambu yang ukurannya lumayan gede dan terlihat tebal.
Eh apa barusan? Selingkuhan! Kalista tersenyum kecut, jangankan selingkuhan cintanya pada Arka saja tidak pernah luntur, bagaimana mungkin mencari selingkuhan?
Seorang pria dengan pakaian rapi, datang mencarinya, tahu nama lengkapnya. Lalu memberikan satu buah amplop yang katanya dari selingkuhan? Oke, Kalista mulai paham bahwa pria itu hanya orang suruhan.
Tangan Kalista terulur mengambil amplop itu. "Terimakasih." Ucapnya ramah dengan senyum merekah.
Tidak lama setelah ucapan terimakasih itu, wajah Kalista berubah menjadi menyeramkan dan..
PLAAAAAAK.. sebuah tamparan keras mendarat sempurna di pipi pria itu.
"Anda hanya seorang kurir atau bahkan lebih tepatnya orang suruhan, tolong di jaga ucapan anda. Bila perlu sekolahkan dulu tuh mulut."
Kalista memarahi pria tersebut. Pria itu memang pantas untuk di tampar di hujani beberapa makian. Dia dengan sangat tidak sopan menanyakan hal-hal yang tidak baik pada Kalista, malahan sampai menuduh Kalista selingkuh.
Kalista dan pelayan berusaha mengusirnya, saking geramnya Kalista bahkan sampai mendorong pintu dengan sangat kencang, sampai menimbulkan dentingan keras.
Merasa pusing dengan sikap Arka, ditambah lagi barusan datang orang gila dan memberikan sebuah amplop yang katanya dari selingkuhan.
"Dasar orang gila." Gerutu Kalista, lalu duduk di tepi ranjang.
Amplop itu terlupakan oleh Kalista, tergelatak di lantai begitu saja. Sekarang Kalista malah sibuk dengan laptopnya, berusaha menghilangkan jenuhnya dengan menonton drakor.
Namun ternyata menonton drakor juga sama sekali tidak bisa menghilangkan pikirannya, resah, gelisah, gundah gulana. Semuanya bercampur aduk dan menjadi bergemuruh di dada Kalista.
Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Arka? Ada apa dengan Oma? Ada apa dengan ayah? Apa kesalahan yang telah dirinya perbuat? Jika ia memang dirinya bersalah, kenapa tidak di tegur? Kenapa di didiamkan? Apakah se-fatal itu kesalahannya?
Berbagai macam pertanyaan itu terus menerus menari-nari di benak Kalista. "Kemana para pelayan?" Kalista baru menyadarinya, sejak dirinya bangun tidur hingga sekarang para pelayan yang biasanya hilir mudik di rumah ini tiba-tiba tidak ada, dan hanya ada satu pelayan yang tadi menemaninya makan.
Tiba-tiba Kalista teringat amplop berwarna merah jambu itu, dari selingkuhan? Kalista sangat penasaran, lalu memungut amplop yang tergeletak di lantai itu.
Jari jemarinya segera membuka amplop itu, manik mata Kalista melebar, di dalam amplop itu terdapat beberapa lipatan kertas, mungkin jumlahnya lebih dari delapan lipatan kertas. Kalista mengambilnya, dan bersiap akan membacanya.
Amplopnya terlihat biasa saja, tidak ada yang spesial, Kalista mengambil lipatan kertas yang pertama.
__ADS_1
"Hallo, happy birthday sist. Gila kali, dua puluh tiga tahun status telah menikah dan sedang mengandung bocah kembar. Dua puluh tiga tahun pantas banget di bilang mahmud (mama muda). Kok gue kangen kebersamaan kita yang dulu ya? Sekarang lu sudah punya suami jadi nggak asyik banget buat diajak nongkrong." Baru baca segini saja Kalista sudah bisa menebak tulisan siapa yang sekarang sedang di bacanya.
"Do'a terbaik untuk sahabat gue yang tiba-tiba derajatnya naik dengan pesat, kemarin-kemarin tanggal tua lu masih makan mie instan, sekarang malah sudah jadi bininya seorang miliarder. Lu boleh jadi orang kaya, tapi jangan sombong sama gue! Panjang umur ya, semoga persalinannya nanti lancar." Kalista tersenyum membaca ucapan ulang tahun dari Bima.
Kalista kembali mengambil lipatan kertas kedua, dan bersiap membacanya. "Selamat ulang tahun sayang, semoga hidupmu di penuhi dengan keberkahan. Bahagia selalu menyertaimu anak cantik. Maaf ya ibu tidak bisa mendampingimu di usiamu yang sekarang dua puluh tiga tahun. Tetapi, ibu selalu berdo'a untuk kebahagiaan rumah tanggamu. Sayang Kalista si gadis cantik." Lipatan kertas kali ini adalah tulisan tangannya ibu kost, Kalista pun tersenyum membaca tulisannya. Saat ini Kalista merasa sangat kangen pada ibu kost.
Lanjut pada lipatan kertas ketiga. "Hallo hallo hay, sumpah banget ta gue lagi malas nulis, sorry banget nih gue ketik di kertas hvs. Gue nggak mau muluk-muluk, intinya selamat ulang tahun buat lu, jadilah istri yang patuh pada suami, berkah usiamu, persalinannya lancar, nanti si kembar kenalin gue ya. Btw, lu kan udah jadi horang kaya, bisa kali tlaktir gue di restoran bintang lima hehe. Tepat di usia lu yang kedua puluh tiga tahun ini gue bingung stengah mati mikirin mau kasih kado apa? Secara gitu dompet gue tipis, dan sekarang barang-barang yang lu pake dari brand ternama. Jangan ngarep kado dari gue, takut lu nggak suka. Nggak lucu dong kalau sampai kado dari gue di kemarin iekh suami lu." Kalista terkekeh membaca ucapan dari Bimo, walaupun kini status Kalista susah berubah dan bergelimang harta, yang namanya kado dari sahabat itu tetap Kalista harapkan, walaupun sederhana ataupun murah, tetapi semuanya mempunyai nilai yang berarti untuk Kalista.
Kalista bahkan sampai memijat-mijat Kelantan pelayan, masa iya takut kadonya di lempar oleh Arka? Walaupun Arka banyak duit dan terlihat dingin dan cuek, tetapi Arka juga masih punya peri kemanusiaan, Arka bisa menghargai hal-hal kecil.
"Selamat bertambah usia tetapi sebenarnya jatah hidupmu di dunia berkurang satu tahun. Nak terimakasih sudah mau menjadi istri dari anak ayah, terimakasih telah hadir mewarnai kehidupan Arka, ayah sangat bahagia memiliki menantu sepertimu. Nak, Oma juga sangat bahagia sekaligus bangga cicit Oma memiliki istri secantik dan secerdas kamu. Panjang umur ya nak, semoga cinta kalian berdua sejati dan kekal abadi. Banyak hal baik yang terjadi pada keluarga ini, kamu hebat sayang. Kamu bisa merubah kutub es utara jadi mencair dan meleleh." Ya ampun bahkan pak Anggara dan Oma saja ikutan menulis di lipatan kertas ini.
"Ini tuh gue di paksa nulis ginian, padahal sumpah ya gue nggak mau nulis, tapi katanya buat kumpulin beberapa ucapan gitu buat istri tersayangnya gitu. Selamat ulang tahun ya nyonya Arka, selamat atas janin kembarnya, turut berbahagia. Dulu tuh Arka dingin banget, kok sekarang udah punya bini jadi bucin banget. Nyonya Arka hebat banget nih, dulu sekretris di kantor sekarang malah jadi istrinya CEO. Begitulah waktu berputar dan semesta bekerja, semuanya tidak ada yang abadi, bisa jatuh bisa bangun, bisa diatas bisa di bawah. Semoga hal-hal baik menyertaimu ya calon mama muda." Lipatan kertas yang keberapa? Intinya ini adalah tulisan Andy.
"Selamat ulang tahun ya adik tiri, always God bless you. Walaupun hubungan kita tidak mengalir darah saudara kandung, tetapi kamu tetap adikku, adik tiri yang seperti adik kandung. Teruslah berbahagia dalam menjalani hidup, penderitaanmu telah berakhir, sekarang waktunya berbahagia dengan orang terkasih." Ucapan yang sangat singkat, tetapi tulisannya sangat besar sehingga memenuhi satu kertas. Ucapan dari dokter Rian. Kalista tersenyum, dokter Rian itu merupakan Kaka kandung untuk Kalista. Dokter Rian pula yang menjadi saksi bisu bagiannya sulitnya Kalista melewati penderitaan hidup yang menderanya.
Diantara tumpukan lipatan kertas itu, ada salah satu kertas yang lipatannya lumayan tebal. Kalista sengaja menyisihkan surat itu, karena feeling Kalista mengatakan bahwa surat itu dari Arka.
"Waktu terus berjalan dan tidak pernah terhenti. Seperti halnya persahabatan kita, dulu kita selalu berjalan beriringan dan seirama. Tapi ternyata Tuhan memberikan lu jodoh lebih cepat, waktu kita sekarang memang terbatas dan tidak sebebas dulu. Status telah berubah semenjak kata sah di ucapkan, tapi gue bersyukur karena sama sekali tidak ada yang berubah dari diri lu, lu tetap care dan selalu cerewet pada gue. Mungkin satu-satunya hal yang berubah dari diri lu adalah perut lu yang membuncit. Nak cepat lahir dong, onty mau gendong kalian berdua loh. Mumpung lu lagi ulang tahun, gue mau keluarin uneg-uneg gue nih. Gue kesal, sebal, dan jengkel banget sama lu! Lu tuh curang, nikahnya ngeduluin gue, nggak sopan dan dosa besar loh itu! Saat ini gue lagi kangen dan mengenang masa-masa setahun yang lalu, merayakan ulang tahun bareng ban bemo, makan-makan sederhana dan ala kadarnya. Gue kangen sama rongrongan kita. Selamat ulang tahun sahabat terbaik sesemesta, i wish your happiness❤." Kalista tersenyum sambil berkaca-kaca, dulu Tiara memang selalu mengatakan bahwa dirinya akan menikah lebih dulu dari Kalista. Tapi begitulah semesta, selalu memberikan kejutan sesuai dengan ketetapan-Nya.
"Happy birthday, thank you banget pernah ngisi acara di Coffee shop gue. Masih ingat nggak sih waktu gue datang ke kantor Anggara, gue terpesona pada sekretaris cantik, eh taunya lu tuh jodohnya sahabat gue. Coba aja dulu tuh gue yang pertama di pertemuan dengan lu, mungkin sekarang kita tinggal seatap dengan status pasnagan hidup. Bercanda loh hehe" Ini ucapan dari Riko, hanya ucapan saja di dalamnya bahkan tidak teradat do'a sedikitpun.
"Gue yang lagi kehilangan arah dan berpikiran sangat pendek, bertemu dengan seorang malaikat penolong gue. Kalau malam itu gue nggak ketemu lu, mungkin saat ini gue sudah tenang berada di sisi-Nya. Seorang pria yang patah hati bertemu dengan wanita yang sedang galau. Kupikir kita jodoh, ternyata... TIDAK! Gue nggak paham kenapa sih lu tuh baik banget dan selalu menolong orang? Gue curiga, lu malaikat atau dewa sih? Gue nggak bisa percaya kalau lu hanya seorang manusia biasa. Coba lihat deh, di punggung lu ada sayap nggak? Terimakasih sudah menyadari gue dari kebodohan tentang cinta, sekarang hidup gue lebih bermakna karena punya Tiara." Ingatan Kalista melayang pada malam itu, sebuah makam yang sangat berkesan. Pertemuan dua orang yang sama-sama sedang kacau.
Eh, punya Tiara?
Kalista langsung bisa menarik kesimpulan bahwa mereka telah resmi menjalin kasih.
"Selamat ulang tahun istrinya sahabat gue, sekaligus sahabatnya pacar gue. Selamat menjadi tua tetapi tetap masih muda. Jangan jadi tua yang menyebalkan, gue nggak suka!" Kalista kembali lagi membaca lanjutan surat dari Evan.
Tibalah di lipatan kertas terakhir, lipatan kertas yang Kalista yakini ini tuh dari Arka. Kalista membuka lipatan kertas itu, benar saja isinya sangat panjang lebar.
Selamat dua puluh tiga tahun istriku tercinta.
Bunga adalah Kalista, dan Willi adalah Arka. Apakah pernah terpikir bahwa kita akan berjodoh? Semesta benar-benar mengejutkan, aku di pertemukan dengan gadis kecil yang membuatku tersenyum, dan sekarang semesta memberikanku kesempatan untuk menjadi pendamping hidup dari wanita cantik tersebut. Maaf untuk segala perlakuanku yang kurang berkenan selama pertemuan kita di kantor, maafkan aku yang suka berkata kasar dan berlaku mesum.
Kamu adalah wanita cantik yang berwujud malaikat yang dikirim tuhan khusus untuk menemani sekaligus mendampingi hidupku. Dulu waktu kecil kamu hadir dan membuatku tersenyum.
Kisah hidupku sebenarnya tidak berjalan mulus, bahkan bisa di katakan sangat miris dan tidak beruntung. Lika-liku yang kuhadapi lumayan cukup sulit dan penuh rintangan. Masih banyak hal baik tentangmu, tetapi mohon maaf sayang aku tidak bisa menuliskannya di sini. Waktuku terbatas dan sangat singkat. Jadi, hanya akan kutuliskan garis besarnya saja.
Semua berawal karena kehidupan ekonomi orang tuaku yang sangat pas-pasan, mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan kekurangan daripada pas-pasan. Kala itu penghasilan ayah sangat minim, tapi mama tidak mau menerima itu. Kebodohan mama cuma satu, yaitu tidak mengerti arti dari kata 'menemani dari nol, merintis bareng-bareng, hingga sukses bersama' ketimbang melayani ayah dan mengurusku, mama lebih memilih jalan pintas, memilih jalan haram yang tidak di ridhio semesta.
Tapi sebelum perceraian itu terjadi, mama lebih sering melampiaskan kemarahannya padaku. Aku selalu kena pukul, di cubit dan parahnya mama sampai berani menendangku. Hatiku sakit dan menjerit di perlakukan seperti itu oleh mama, bagaimana mungkin seorang mama memperlakukan putranya seperti itu? Bagaimana mungkin mama Setega itu padaku?
Mama tidak sayang padaku, mama sangat benci padaku, dan mama sangat tidak suka pada ayah yang tidak mempunyai uang banyak. Mungkin saat itu mama haus akan uang, shopping, dan mungkin matanya tertutup karena gelap harta duniawi.
Dari situlah awal mulanya aku sering bermain ke taman untuk menghilangkan rasa sedihku karena di perlakukan buruk oleh mama, ditaman itu lah pertemukan kita terjadi. Perlakuan mama padaku itu menjadi mimpi buruk yang selalu menghantuiku, tapi lagi-lagi kamu lah yang bisa menghilangkan mimpi buruk itu. Aku semkain yakin bahwa kamu itu adalah malaikat yang di utus khusus untuk mendampingi hidupku, kamu adalah si pemberi kebahagiaan.
Semesta berturut-turut memberikan kejutan kepadaku, bahkan kamu beberapa kali menjadi penolong Oma, sampai Oma selalu berceloteh dan berdoa wanita penolong itu harus menjadi istriku. Kupikir itu konyol, namun ternyata do'a Oma itu menembus pintu-pintu langit. Kamu itu memang malaikat penolong, kamu pernah menolong Riko, menolong Evan, dan mungkin masih banyak juga orang-orang di luaran sana yang pernah kamu tolong.
Apakah kamu tahu sayang? Aku sangat bahagia dan merasa menjadi pria paling beruntung di muka bumi karena memiliki istri secantik dan secerdas kamu. Bahkan kamu juga masuk dalam kategori mama muda. Aku masih ingat banget ketika kamu menjawab "YES, I DO" saat itu sangking bahagianya aku merasa seperti sedang berada di surga. Aku berpikir pada saat itu merupakan kebahagiaan terbesar dalam hidupku, namun ternyata aku salah. Setelah menikah dan menjadi halal lah kebahagian yang lebih besar itu datang lagi.
Kabar gembira itu datang lagi, tiba-tiba ada dua malaikat kecil yang meringkuk di rahimmu. Ini merupakan berita besar dan sangat membahagiakan. Masih teringat jelas di ingatanku raut wajah ayah dan Oma, ini adalah moment yang paling mereka tunggu. Aku mengucap syukur betakli-kali, aku tidak salah memilih istri.
Menikah denganmu merupakan ibadah ternik'mat dan terbahagia selama kehidupanku selama dua puluh tujuh tahun ini. Menikah denganmu membuatku banyak tersenyum, membuatku merasakan betapa bahagianya bungan dalam mahligai rumah tangga ini, menikah denganmu pun membuat ayah dan Oma bahagia. Satu hal yang harus kamu tahu, Oma selalu memamerkan kamu pada teman-teman arisannya.
Sayang, maaf jika aku belum menjadi suami yang sempurna, suami yang seperti kamu inginkan. Sayang, maaf aku mempunyai beberapa kekurangan. Tetaplah menjadi istriku, bunda dari anak-anakku.
Aku berdoa dan meminta kepada sang maha kuasa bukan hanya ketika kamu berulang tahun saja, tetapi setiap kali aku bersujud kepadanya aku selalu minta yang terbaik untukmu.
Di usia yang baru menginjak dua puluh tiga tahun ini, semoga kamu panjang umur dengan kesehatan yang sempurna, selalu berada dalam lindungan yang maha kuasa, semoga si beri kesuksesan dalam segala urusan. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan bersamaku. Tetap menjadi super mom dan super wife. Semuanya do'a terbaik akan selalu mengiringi setiap langkahmu.
After all these years, you are still my queen. Happy birthday my sweat heart ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Nanti sore ada kejutan sederhana untukmu, aku juga sedang menyiapkan kejutan besar untukmu. Maaf sayang sudah mendiamkanmu selama beberapa hari ini, jujur sebenarnya aku tidak bisa menahan rasa kerinduan ini. Ini love you❤
Kalista bergetar membaca ucapan itu, manik matanya berkaca-kaca, tulisan suaminya ini mampu menggetarkan dan mengguncangkan jiwa raganya. Tulisannya sangat rapi dan enak di baca. Barulah sekarang Kalista menyadari, bahwa hari ini merupakan hari ulang tahunnya.
Jujur, semua ini membuat Kalista bahagia sekaligus terharu. Hari ini Kalista mendapatkan banyak do'a dan ucapkan, setiap membaca ucapan dan do'a tersebut, Kalista sekalu mengamininya dengan sungguh-sungguh.
Kalista merapihkan lipatan-lipatan kertas itu, menumpuknya menjadi satu kalau menyimpannya di dekat meja rias. Semua lipatan kertas ini akan Kalista jadikan sebuah buka, hanya sekedar untuk kenang-kenang saja.
Air mata itu masih menetes membasahi pipinya, Kalista bahagia dan merasa sedih secara bersamaan. Bahagia karena masih di kelilingi orang-orang yang baik dan sayang padanya, tetapi merasa seish karena sudah tidak bisa merayakan ulang tahunnya bersama ayah dan bundanya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-teman🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤