SUN FLOWER

SUN FLOWER
DUNIA SERASA MILIK BERDUA


__ADS_3

"Awwwwww." Kalista meringis, karena tangannya tergores pecahan beling. Kalista terus memunguti pecahan-pecahan gelas dan piring itu. Air mata tak henti-hentinya keluar dari matanya, sakit hatinya karena di bentak Arka, ditambah lagi sekarang tangannya juga terluka karena pecahan beling.


Kalista terbangun karena cahaya mentari sudah masuk ke kamarnya melalui celah gorden, Kalista bangun dan langsung membuka gorden dan tirai. Kalista beranjak ke kamar sebelah, namun ia tidak mendapati Arka di kamar itu. Kalista berjalan menuju ruang tamu, mungkin Arka tidur di sofa, tetap saja Kalista tidak menemukannya.


"Tega banget biarin istri tidur sendiri." Kalista geram dan jengkel pada kelakuan Arka. "Laper banget, enaknya makan apa ya? Hmmm jus alpukat sama steak deh." Kalista menjadi semangat ketika membayangkan memakan makanan itu.


Kalista beres-beres apartment terlebih dahulu, setelah beres-beres Kalista langsung mandi. Memakai dress berwarna pink dengan motif bunga tulip kecil-kecil, dan flatshoes berwarna hitam. Sebelum benar-benar keluar dari apartment, Kalista sudah menghabiskan 2 jam untuk bersolek di depan cermin. Setiap harinya Kalista selalu berganti gaya make up nya, entahlah ini kenapa? Tapi yang pasti, Kalista merasa akhir-akhir ini seperti ada magnet dalam dirinya, yang selalu menyuruhnya untuk berdandan cantik.


Kalista telah sampai di restoran yang jaraknya lumayan jauh dari apartment, Kalista menyerahkan beberapa lembar uang, sesuai tarif yang tertera pada aplikasi taksi online tersebut.


Suasana restoran cukup ramai, Kalista celingak-celinguk menatap seluruh sudut restoran tersebut, Kalista memicingkan matanya, lalu dirinya berjalan menuju sudut ruangan yang menghadap ke jalan. Meja tersebut sebenarnya tidak kosong, namun saat ini Kalista sangat ingin duduk di sudut itu. Hingga Kalista harus bergabung dengan wanita paruh baya dan seorang pria yang mungkin usianya sekitar 25 tahun.


"Permisi, saya ikut duduk di sini." Kalista duduk sambil tangannya sibuk mengetikkan beberapa kalimat di ponselnya, Kalista tidak berhasil menghubungi Arka, karena ponselnya tidak aktif.


Pria yang di hadapan Kalista, mulutnya sudah menganga akan merespon ucapan Kalista, namun ibu di sebelahnya langsung menutup mulut si pria itu.


"Silahkan nak." Suara si ibu terdengar sangat ramah, namun Kalista masih sibuk dengan ponselnya.


Pelayan restoran menghampiri Kalista. "Jus alpukat 2, steak, sate ayam 10 tusuk, sama buah mangga ya di potong dadu." Kalista lebih dulu menyebutkan pesanannya sebelum pelayan restoran bertanya. "Eh iya mbak, disini ada nasi yang enak nggak? Soalnya nasi di rumah saya bau banget, padahal saya beli beras kualitas terbaik harganya juga lumayan mahal." Kata Kalista.


"Ada mbak." Pelayan restoran tersebut baru selesai menuliskan pesanan Kalista. "Oh yaudah sama nasi juga ya mbak, eh sekalian air mineral sebotol." Kalista tersenyum. "Itu saja mbak pesanannya?" "Iya itu saja."


Kalista menggerutu karena ponsel Arka masih tidak aktif. Kalista mengusap wajahnya gusar, kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Ini mbak pesanannya." Pelayan itu meletakan semua pesanan Kalista.


Kalista langsung menutup hidung, mual di perutnya kembali datang. "Mbak bawa aja nasinya, ini bau banget." Wajah Kalista terlihat pucat.


"Ini nggak bau ko, ini wangi dan enak loh bu." Pelayan tersebut hafal benar, karena nasi ini merupakan yang paling laris di restoran ini. "Iya nggak bau ko." Pria di hadapannya itu mengendus-endus nasi itu.


"Ini bau banget mba! Bawa aja nanti saya bayar ko." Kalista bahkan sampai berdiri menjauhkan dirinya dari meja itu.


"Mba, bawa saja kebelakang ya!" Nasi langsung dibawa ke belakang, ibu itu menatap kasihan pada Kalista.


Setelah beberapa saat, Kalista duduk kembali ke mejanya, dan mulai menikmati pesanannya.


"Enak?" Ibu di hadapan Kalista tersenyum ramah. Kalista mendongakkan kepalanya. "Eh ibu." Kalista langsung salim pada si ibu.


Kalista meneruskan kembali makannya, makan dengan sangat lahap seperti sedang kelaparan. "Berapa hari nggak makan?" Pria itu bertanya, namun Kalista tidak sanggup untuk menjawabnya, karena mulutnya penuh dengan makanan. "Nama kamu siapa sih?" Tanya nya sambil terus menatap Kalista. "Kalista." Kalista sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Aku Dino dan ini mama aku, mama Lisa." Dino memperkenalkan dirinya dan mamanya. Kalista hanya tersenyum, sambil terus-terusan memakan pesanannya.


"Tangan kamu kenapa? Jangan-jangan suami kamu kdrt?" Dino memperhatikan jari tangan Kalista yang hampir penuh dengan plester.


"Ah nggak apa-apa, luka kecil doang pas mungutin pecahan piring. Suami aku tuh baik banget, nggak mungkin banget kalau dia kdrt." Kalista menyeruput habis satu gelas alpukat.


"Umumnya cewe nggak suka makan banyak, takut gendut, identiknya diet. Tapi kamu beda ya.." Dino memperhatikan wajah Kalista intens.


"Pelan-pelan aja lah makannya, nggak bakal diambil mamaku ko." Dino terkekeh melihat Kalista memakan sate 10 tusuk dalam 2 menit, terus langsung menghabiskan steak nya.


"Ah enak banget." Kalista mengusap perutnya, meminum air mineral, kemudian memakan potongan buah mangga.


"Porsi makan kamu biasanya gimana nak?" Mama Lisa menatap Kalista sambil tersenyum.


"Biasanya sih nggak sebanyak ini, nggak tahu kenapa deh akhir-akhir ini pengennya makan banyak terus, udah 3 hari nggak makan nasi, abisnya bau sih! Aneh padahal beras kualitas terbaik tapi tetap saja nasinya bau." Kata Kalista sambil menyenderkan punggungnya pada kursi.


Dari arah pintu masuk, ada seorang ibu yang menuntun anaknya masuk ke restoran. Si anak membawa permen kapas berwarna pink. "Mau permen kapas." Gumam Kalista lirih.


"Mau ibu antar beli?" Mama Lisa menawarkan. "Ah nggak usah, nanti beli sendiri aja." Kalista tersenyum. "Oh iya bu, di supermarket ada buah gohok(kupa) nggak ya? Pengen banget makan buah yang segar-segar." "Nggak ada sayang, buah gahok kan agak langka, biasanya sih adanya di pinggir jalan atau di pasar." Kemudian mama Lisa tersenyum, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mau diantar nyari buah gahok?" Dino menawarkan, berharap Kalista mau.


"Nggak usah, nanti bareng suami aku aja." Tolak Kalista secara halus. "Kalau suami ngambek kira-kira kasih apa ya bu biar nggak ngambek lagi."


"Kasih apa ya? Emang ngambek kenapa?" Pertanyaannya lebih selidik, karena ingin tahu juga rumah tangga anaknya.


"Sebenarnya ini salah aku sih. Udah beberapa hari ini tuh aku males banget yang namanya masak, apalagi menanak nasi, aku nggak kuat baunya. Nah tadi malam suamiku laper, dan aku belum masak. Aku masak nih dengan susah payah sambil pusing kepala juga.. tapi ya gitu deh jadinya berantem. Akunya emosian tarik serbet jadi begitu..." Kalista membenamkan wajahnya diatas meja, sambil menunjukan jari-jarinya yang terbungkus plester.


"Minta maaf aja sayang.." mama Lisa mengelus punggung tangan Kalista.


"Tapi kan di juga salah, harusnya dia minta maaf duluan." Kalista menggerutu. "Sekarang aja ponselnya malah nggak aktif, nyebelin banget kan." Kalista cemberut.


"Nah kan gini nih yang membuat marahannya jadi berkepanjangan, dalam hubungan itu nggak boleh egois, kalau dua-duanya egois ya nanti bisa hancur rumah tangganya, satu diantara kamu dan suamimu harus ada yang mengalah." Mama Lisa menceramahi dan memberikan petuah-petuah nya.


"Yaudah nanti aku kelonin aja suamiku, biar nggak marah lagi." Kalista tersenyum kikuk dan bangkit dari duduknya.


"Mau kemana nak?"


"Kantor suamiku bu."

__ADS_1


"Kamu coba beli testpack deh, kayanya kamu hamil." Mama Lisa menggenggam tangan Kalista.


"Hamil? Aku nggak mau.." Kalista kembali duduk, tetapi wajahnya panik dan gelisah.


"Nggak mau hamil?" Mama Lisa mengernyitkan dahinya.


"Bukan nggak mau hamil, tapi aku masih kecil, baru 22 tahun. Masa aku hamil sih." Kalista mengusap-usap perutnya.


"Aku duluan bu, mau ketemu suamiku." Kalista bangkit menuju kasir, membayarnya lalu pergi naik taksi menuju kantor Anggara.


Sampai di kantor Kalista langsung berlari menuju ruangan Arka. Suasana kantor tampak sepi, hanya ada sedikit karyawan yang sibuk berkutat dengan komputer dan setumpuk berkas di mejanya. Meja sekretaris di depan ruangan Arka saja kosong, Kalista tanpa permisi dan tanpa mengetuk pintu langsung masuk saja ke ruangan kerja Arka. Karena merasa lelah dan ingin tiduran, Kalista masuk ke kamar yang ada di ruangan itu, Kalista mengutak-atik ponselnya kemudian tertidur.


"Ngapain pada kesini? Ganggu jam kerja gue aja lu lu pada." Arka mendelik pada Riko dan Evan yang kini tengah duduk di sofa.


"Gue tertarik untuk menonton drama Korea!" Celetuk Riko sambil terkekeh. Arka bingung dengan maksud ucapan Riko.


"Iya gue juga! Soalnya menurut feeling gue si aktris Korea bakal mendatangi lu hari ini." Evan berkata santai sambil meminum jus yang ada di meja.


"Nanti pas datang dia ciuman hot lagi sama Arka." Andy tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian dulu.


"Najis! Nggak sudi gue! Cakepan bini gue!" Arka mengusap wajahnya kasar.


Tok..tok..tok..


"Masuk!" Perintah Arka.


Tiba-tiba munculah wajah karyawan cleaning service.. "Permisi pak, gofood pesanan ibu Kalista." Arka mengernyitkan dahinya. "Ko di bawa kesini? Harusnya ke apartment kan?" Arka merampas bungkusan itu dari tangan karyawan cleaning service. "Alamatnya di tujukan kesini, saya permisi pak."


"Nah kan gini nih malas masak pesan gofood. Sebal gue sama bini gue itu." Arak berdecih pelan.


"Lu banyak duit, ngapain masak udah lah delivery aja simple. Kasian juga istri lu." Riko menepuk punggung Arka. "Pakai jasa art makanya! Bini lu bukan babu loh!" Imbuhnya lagi.


"Dia yang nggak mau pakai jasa art, katanya mau belajar jadi istri yang baik. Apanya yang baik coba kalau masak aja malas." Arka berkata jengah.


"Kebiasaan lu, keburukan istri lu jangan diceritakan!" Evan menoyor kepala Arka.


"Tau nih, belum jadi suami yang baik lu juga!" Celetuk Andy.


"Sayang kangen banget!" Yoora tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan Arka, memeluknya dengan erat, dan mendaratkan bibirnya di pipi Arka. "Aku kepikiran kamu terus." Katanya, sambil tangannya nakal mau menyelinap masuk ke dalam celana Arka.


"Kangen ya?" Arka tersenyum manis, sambil menepiskan tangan Yoora dari tubuhnya.


"Kangen kehangatan yang kamu berikan?" Yoora ingin memeluk Arka kembali, namun Arka segera menjauhkan tubuhnya.


"Kamu ngomong apa sih sayang?" Yoora menyangkal, dan masih semangat untuk mendekati Arka.


"Awwwwww." Yoora meringis karena di dorong Kalista. Kalista menekan kedua pipi Yoora "Jangan pernah sentuh suami gue! Jangan pancing gue untuk meluapkan semua emosi gue!" Kalista berkata tajam, setelah mengakhiri kalimatnya Kalista menampar Yoora sampai meninggalkan bekas merah di pipinya.


Arka terpana menyaksikan itu, Riko Andy dan Evan pun melongo melihatnya. Kalista keluar dari kamar tiba-tiba langsung mendorong Yoora, padahal mereka semua tidak mengetahui kalau Kalista ada di kamar.


Tapi tiba-tiba Yoora menarik kaki Kalista, sehingga badan Kalista tidak seimbang dan akan terjatuh. "Aduh..." Kalista meringis kesakitan, tangannya berpegangan pada ujung sofa sehingga tubuhnya tidak benar-benar menyentuh lantai.


"Security!" Arka berteriak, suaranya menggema dan menggelegar sampai terdengar ke seluruh penjuru kantor lantai 5. "Mana security." Arka masih berteriak, sambil memapah Kalista untuk bangun.


"Ada apa pak?" Security menjawab dengan gugup.


"Bawa iblis ini keluar dari kantor saya! Dan katakan pada resepsionis, iblis ini jangan dibiarkan menginjak kantor saya!"


"Arka, gue akan balas semuanya!" Yoora masih teriak-teriak seperti orang gila, padahal kini dirinya sedang di giring keluar oleh security.


Kalista berjalan dengan tertatih-tatih, mengambil segelas jus strawberry yang berada di meja depan sofa. "Byuuuuuur!" Kalista mengguyurkan segelas jus itu ke muka Yoora "Berisik banget sih! Bacot lu tuh sampah!" Kemudian Kalista mendelikkan matanya jengah.


Mata Kalista menangkap sebuah kresek berwarna putih, Kalista yakin bahwa didalam kresek itu terdapat buah gohok(kupa) pesanannya. Kalista duduk di sofa, menikmati buah gohok(kupa). Arka memperhatikannya, air liurnya seakan ingin menetes, karena Arka tahu buah gohok(kupa) itu sangat masam.


"Asam banget loh itu." Evan duduk di sebelah Kalista dan memperhatikannya.


"Enak banget ini, segar. Mau?" Kalista menawari Evan. Evan hanya menggelengkan kepalanya.


"Tangan kenapa?" Riko memperhatikan plester-plester yang menempel di tangan Kalista.


"Tergores pecahan beling." Kalista masih sibuk memasukkan buah gohok kedalam mulutnya.


"Arka?" Andy bertanya pada Kalista.


"Tadi malam malas masak, disuruh masak, ya aku masak dengan susah payah, sambil kepalaku pusing. Tapi pas udah selesai masak, Arka malah bilang mau makan diluar. Yaudah tarik aja serbetnya biar semuanya tumpah dan pecah. Lagian Arka juga nggak pulang tadi malam, mungkin selain makan di luar Arka juga jajan di luar." Kalista menatap Arka, Arka menatapnya acuh tak acuh.


"Jajan diluar kan enak, bisa milih mau yang kaya gimana aja, dari mulai yang kurus kerempeng sampai yang bohay aduhay." Arka mengedipkan matanya sambil tersenyum sinis menatap Kalista.


Kalista langsung membanting kresek yang berisi buah gohok, buah gohok itu berserakan dilantai ruangan Arka. "Kalau istri kamu masih bisa muasin hasrat kamu, kenapa harus jajan di luar?" Kalista berteriak pada Arka histeris, aliran air mata membasahi pipinya. "Apa yang kurang dari aku? Ayo bilang!" Kalista terisak-isak, kemudian tangannya meraih resleting dress dipunggungnya "Kaya gini kan yang semalam kamu cari? Ini kan yang kamu mau? Ayo nikmati aja, aku rela diajak olehraga tiap malam, asalkan kamu tidak jajan diluar." Kalista menurunkan setengah gaunnya, sehingga terpampang lah gundakan daging sintal yang masih terbungkus bra berwarna merah.

__ADS_1


"Keluar!" Arka berkata tajam pada Andy, Riko, dan Evan. Arka tidak ingat bahwa di ruangan ini masih ada 3 sahabatnya itu, yang kini sedang menatap punggung mulus Kalista, untung saja Kalista menghadap ke Arka, sehingga dadanya tidak terlihat oleh mereka.


"Ayo!" Andy menarik tangan Riko, Riko menarik tangan Evan.


"Percikan drama rumah tangga. Nggak nyangka gue kirain hari ini cuma menonton drama Korea." Evan terkekeh.


"Bisa-bisa nya si Arka jajan di luar, padahal bininya mulus parah, tapi sayang gue nggak sempat lihat dadanya." Riko tersenyum menyeringai.


"Sadar woy! Bini teman lu itu!" Andy menoyor kepala Riko.


"Ribut aja lah ribut, kali aja Arka sama Kalista baku hantam. Nanti gue mau rebut Kalista biar jadi bini gue!" Evan memainkan matanya pada Andy.


"Astagfirullah.. sahabat gue pada nggak waras!" Andy mengusap wajahnya kasar.


"Emang lu nggak tergoda lihat punggung mulusnya Kalista?" Riko mengernyitkan dahinya menatap Andy. "Tergoda sih, tapi otak gue masih waras! Bini sahabat lu itu!" Andy memukul pelan kepala Evan dan Riko, kemudian mereka tertawa.


"Mereka ngapain ya di dalam? Lama banget. Jangan-jangan si Arka lagi itu sama Kalista, wah parah disiang hari kaya gini." Mulailah pikiran Evan menjalar.


Sementara itu, setelah Andy Riko dan Evan keluar dari ruangan, Arka dengan segera menaikkan resleting dress Kalista. "Maaf." Arka mencium pipi Kalista, dan mencium keningnya. Bahkan Arka sampai meneteskan air mata.


"Iya aku salah, aku minta maaf ya sayang. Tapi swear deh aku tuh nggak jajan diluar, nggak pulang juga aku tidur disini." Arka menunjuk kamar yang ada di ruangan ini. "Jangan kaya gitu lagi ya, apalagi di depan sahabat aku, tubuh kamu milikku, dan hanya aku yang boleh lihat." Ucapnya seraya mencium puncak kepala Kalista, kemudian mengusap sisa-sisa air matanya Kalista.


"Udah baikan nih?" Evan muncul di celah pintu, dan kemudian mereka pun masuk.


"Dari awal pertama Kalista kerja dikantor ini, sampai sekarang dia jadi bini lu, sumpah bro gue kaya nggak kenal dengan sikap dan perlakuannya." Andy menepuk bahu Arka, Kalista sedang berada di kamar mandi.


"Iya sama gue juga! Udahlah jangan berisik, nanti dia ngamuk lagi." Kata Arka pasrah.


"Lagian salah gue juga! Kemarin ngemall lama gue marah-marah, di restoran gue pesan makan buat gue doang, dia cuma ngeliatin aja. Nah puncaknya tadi malam, dia udah masak gue malah makan di luar. Wajar sih dia marah." Arka menarik nafasnya gusar.


"Duduk sini." Arka menepuk sofa disebelahnya. "Maaf ya." Arka membuka plester-plester di tangan Kalista. Arka tertegun ternyata lukanya cukup banyak. "Ke dokter aja ya." "Nggak mau, mau di obatin sama suamiku aja." Kalista tersenyum, Arka mencuci luka Kalista, kemudian mengoleskan obat merah diseluruh luka Kalista, memakaikan kasa lalu kembali lagi di plester.


"Terimakasih sayang." Kalista langsung melumat habis bibir Arka, Arka semakin bingung karena Kalista tidak pernah se-agresif itu, apalagi menyerang lebih dulu, huh nggak pernah.


"Jiwa jomblo gue meronta-ronta!" Evan menggebrak meja, sehingga Kalista melepaskan pagutannya.


"Sialan! Ngeganggu aja lu!" Arka mengumpat, karena sedang enak-enaknya bermain lidah tapi harus terhentikan karena gebrakan meja oleh Evan.


"Waduh Kalista sering nyerang duluan ya?" Pertanyaan Andy membuat wajah Kalista merah merona.


"Nggak sih, tapi mulai sekarang mau lebih agresif aja, biar suamiku ini nggak jajan di luar." Kalista memencet hidung Arka.


Arka memeluk Kalista sangat erat "Kangen banget yang, pulang yuk! Pengen dikelonin di apartment." Tangan Arka mulai nakal, menyentuh dada Kalista.


"Kerjaan kamu masih banyak sayang, nanti malam aja ya." Kalista mengelus pelan punggung Arka.


"Kalau nanti malam 3sesi ya." Arka menatap Kalista sambil memainkan matanya.


"Lah ko 3? 4 aja lah!" Kalista menyeringai pada Arka.


"Kuat emang yang?"


"Coba dulu aja." Kalista mengedipkan sebelah matanya. "Eh tapi ada syaratnya!"


"Apaan syaratnya?"


"Aku masih malas masak, dan aku akan masak ketika aku mau. Jadi kamu nggak boleh maksa! Terus nanti sore aku mau makan sate kambing 20tusuk, sama martabak telor spesial 2 porsi ya. Minumnya mau boba!"


"Gitu doang? Ah gampang!"


"Beliin lagi buah gohok, terus aku juga lagi pengen buah manggis ya!"


"Siap!"


"Bawain semua yang aku sebut barusan, akan ku berikan pelayanan terbaik untuk suamiku ini."


"Kalau kaya gini sih aku jadi semangat kerja, uh istriku tercinta." Arka berkali-kali mencium pipi Kalista.


"Dunia serasa milik berdua ya? Ngobrolin soal ranjang asyik banget, sampai lupa masih ada kita disini." Celetuk Evan yang langsung memeluk Riko.


Kalista dan Arka mengobrol sampai melupakan sahabatnya itu, memang benar dunia serasa milik berdua.


"Sini ndy, ikutan peluk gue!" Ujar Riko.


"Ih jyjyk, kalian gay? Sorry bro gue masih waras, nggak mainin pedang!" Semuanya pun jadi tertawa mendengar kalimat yang Andy lontarkan.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2