SUN FLOWER

SUN FLOWER
PERGI KE MALANG


__ADS_3

Usia Nathan dan Nayla kini sudah memasuki 4 bulan. Keduanya sangat aktif dan pintar sekali. Kalista merasa sangat kerepotan mengurus mereka berdua, tetapi Kalista sangat menikmatinya. Bahkan sampai sekarang juga Kalista tidak kepikiran buat menggunakan jasa baby sitter.


Hari ini adalah hari weekend, dari subuh baby Nathan lumayan rewel. Mau tak mau dengan mata yang masih mengantuk, akhirnya Arka menggendong Nathan.


Kalista kemana?


Kalista juga menggendong Nayla, karena mereka kembar, entah mengapa jika yang Nathan menangis otomatis Nayla juga menangis. Mereka itu terlahir sepaket, makanya apa-apa selalu samaan. Hal yang paling merepotkan adalah ketika mereka rewel meminta asupan ASI, dan Kalista nggak dong menyusui keduanya secara bersamaan.


Hari ini juga Oma dan pak Anggara mau berangkat ke luar kota, tepatnya menuju Kota Malang. Pak Anggara dan Oma akan menemui kerabat mereka di sana, Oma dan pak Anggara juga rencananya ingin bernostalgia di daerah itu. Karena kota Malang merupakan kota yang bersejarah untuk Oma dan pak Anggara, pasalnya dulu mereka pernah tinggal di kota itu selama satu bulan. Walaupun hanya satu bulan, tetapi mereka berdua mempunyai kenangan yang sangat banyak.


Tadi malam Arka sempat berdebat dengan Oma dan ayahnya, Arka tidak setuju Oma dan tahunya berangkat hari ini. Entah apa alasannya, Arka sampai ngotot tidak ingin mereka berdua pergi hari ini. Tetapi Oma dan ayahnya juga sangat bersikukuh ingin pergi ke kota Malang hari ini.


"Sayang, sini Oma gendong dulu sebentar. Duh bakalan kangen banget nih sama si kembar." Oma mengambil Nayla dari pangkuan Kalista.


Hari ini Oma terlihat berbeda, Kalista tidak tahu jelas apa perbedaannya, Kalista melihat sesuatu yang berbeda pada raut wajah omanya.


"Cicit Oma sangat cantik. Nayla sayang, Nayla harus patuh kepada kedua orang tua, Nayla harus jadi anak yang Sholeh, harus berguna bagi Nusa dan bangsa. Nayla pokonya harus secantik, sebaik, sepintar dalam apapun seperti bundaku ya nak, Nayla juga harus kuat, pintar, optimis dan tangguh seperti ayah. Segitu juga dengan Nathan, kalian berdua harus selalu menjadi permata ayah dan bunda, kalian harus menjadi terang benderang untuk bangsa dan negara. Tolong bantu Oma jagain ayah Arka dan bunda Kalista ya, sayangi mereka seumur hidup kalian." Oma mencium Nayla, kemudian mencium Nathan. Matanya berkaca-kaca, bahkan ketika berkedip pun air mata itu jatuh.


Bukan hanya Oma, pak Anggara juga melakukan hal yang sama. Padahal mereka hanya pergi ke malang beberapa hari saja, tetapi dari perilaku dan ucapannya seperti akan pergi selamanya saja.


"Nak, istrimu itu satu-satunya wanita baik di muka bumi ini setelah Oma. Tolong jaga istrimu, cintai dia sampai kapanpun, sampai maut memisahkan, bimbing dan jaga istri dan anak-anakku. Bahagiakan dia seumur hidupnya, insyaAllah istrimu itu wanita Sholehah, wanita yang siap mengabdi padamu. Ketika Oma dan ayah di panggil yang maha kuasa, istri dan anak-anak lah yang kalian punya, istrimu yang akan selalu mensupport kamu dalam apapun. Jangan pernah sakiti dia sedikitpun." Pak Anggara berbicara sangat serius pada Arka, bahkan Arka sampai meneteskan air mata. Entah mengapa pesan ayahnya kali ini terasa sangat berat, sangat mendalam, sangat ngena di hati, sangat-sangat membuat Arka sedih. Arka merasakan sesuatu hal yang berbeda, dan hatinya sedikit sakit.


Arka memeluk pak Anggara erat, air matanya menetes begitu saja. Dalam pelukan itu pak Anggara kembali berbicara panjang lebar, pak Anggara meminta maaf karena dahulu sewaktu Arka kecil, Arka pernah menderita. Baik itu dalam segi fisik, maupun batin, dan dalam urusan materi pun Arka pernah merasakan penderitaan yang amat luar biasa.


Pagi dengan cuaca yang sangat cerah itu pun berganti menjadi pagi yang mendung, hari ini rasanya sangat berbeda, semilir angin dingin yang menusuk tulang membuat Arka tidak ingin melepaskan pelukan ayahnya. Pelukan yang sangat hangat.


"Kamu adalah wanita terbaik milik cucu Oma. Sayangku, Oma titip Arka padamu ya nak. Tolong cintai Arka, support dia selama apapun yang dilakukannya bernilai positif, tolong rawat Nathan dan Nayla dengan segenap jiwa raga kalian, berilah cinta pada mereka. Kalian berdua harus selalu bersama, kalian berdua di takdirkan tuhan untuk saling mencintai dalam naungan rumah tangga yang harmonis. Kalista, Arka itu orangnya keras kepala, tapi Oma yakin dengan Kalista lah Arka bisa menjadi lunak dan penurut. Tolong ya nak, kalian harus selalu bersama dalam keadaan apapun. Oma titip Arka dan cicit-cicit Oma." Kini Oma memeluk Kalista, Nathan dan Nayla mereka letakkan kembali ke box bayi.


Kalista juga menangis mendengar nasihat yang di berikan oleh Oma. Oma berbicara dengan sangat serius, Oma juga biasanya jarang berbicara panjang lebar seperti ini. Ucapan dan perlakukan Oma pada kalista, cukup membuat Kalista kembali mengingat bundanya yang telah kembali pada yang maha kuasa. Kalista merasakan ada sesuatu hal yang janggal pada Oma dan pak Anggara, Kalista pernah merasakan hari yang cerah tetapi hati terasa sakit seperti ini. Kalista ingin sekali menjerit, tetapi Kalista tetap akan berpikir positif.


"Arka dan Kalista akan saling mencintai, badai seperti apapun yang menerjang hubungan rumah tangga kita, pasti bakal kita hadapi bersama. Kita akan selalu hidup rukun dan harmonis, Nathan dan Nayla juga tidak akan kekurangan kasih sayang dari orangtua. Tanpa kalian suruh lun, kita akan merawat Nathan dan Nayla dengan penuh cinta, akan membentuk karakter dan kepribadian mereka menjadi manusia yang berguna bagi nusa bangsa negara dan agama." Arka merangkul bahu Kalista.


"Lagipula kan ada Oma dan ayah yang akan selalu mengingatkan kita." Ucap Kalista sambil tersenyum.


"Usia kan nggak ada yang tahu, bisa saja hari ini kita mengobrol, bercanda tawa, tetapi besoknya yang maha kuasa memanggil kita. Pokonya rumah tangga kalian berdua harus harmonis." Ucap pak Anggara.


"Ayah dan Oma, bisa nggak pergi ke malangnya lain kali saja. Kalista ingin Oma dan ayah tetap ada di sini." Pinta Kalista dengan sangat memohon, kepergian mereka yang mendadak seakan membuat Kalista merasakan kesepian yang mendalam.


"Oma dan ayah mau perginya sekarang. Oma nanti disana mau metik apel malang langsung dari pohonnya. Kayanya indah banget deh. Kalian mau di bawakan apel malang?" Tanya Oma sambil tersenyum ramah.


"Mau! Mau yang warna hijau." Ucap Arka yang memang dulu sering memetik apel malang yang berwarna hijau.


"Kalau ayah dan Oma nggak bisa bawain apel malang, insyaAllah suatu saat nanti Kalista lah yang akan memetikkan apel malang itu untukmu." Ucap pak Anggara.


"Maksud ayah apa?" Tanya Arka dengan bingung, sementara Kalista malah semakin meneteskan air matanya.


"Ayah takut tidak bisa membawakan apel malang itu, makanya ayah berbicara seperti itu." Ujarnya.


"Kalian jangan pergi hari ini deh, mendingan bulan depan aja biar kita perginya bersama-sama, nanti Arka atur dulu urusan kantor." Pinta Arka.


"Ayah maunya berangkat hari ini. Kalau Allah mengizinkan kita pergi bersama, yaudah nanti kita atur untuk perjalanan kita ke malang bulan depan." Ucap pak Anggara.


"Hari ini Kalista yang bikin sarapan kan?" Oma mencoba memastikan bahwa sarapan yang tersedia diatas meja adalah masakan Kalista.


"Iya Kalista yang masak, tapi cuman nasi goreng sama telor ceplok aja Oma. Soalnya Nathan sama Nayla rewel banget." Ujar Kalista.


"Iya nggak apa-apa, yang penting kita masih bisa menikmati sarapan yang di buat oleh istrinya cucu kita." Pak Anggara tersenyum.


Kemudian mereka semua pergi ke meja makan, memulai sarapan bersama. Biasanya Nathan dan Nayla di titipkan dulu ke pelayan di kamarnya. hari ini Oma dan pak Anggara meminta pelayan untuk mengasuh Nayla tepat di dekat meja makan.


Oma dan ayah telah mempersiapkan perjalan menuju Malang ini sejak lama, mereka juga sudah packing tadi malam. Mereka tidak banyak membawa baju, begitu juga uang. Pak Anggara juga memberitahukan Arka pascode brankasnya. Semua tanah dan perusahaannya juga sudah menjadi hak milik Arka.


Waktu menunjukan pukul 10:00 WIB. Sekarang Arka dan Kalista mengantar ayah dan Oma pergi ke bandara. Mobil melaju dengan tenang, sepanjang perjalan Nathan dan Nayla di gendong oleh Oma dan pak Anggara. Selama perjalan itu juga mereka mengobrol banyak hal, swkaan-akan tidak ada waktu lagi untuk mengobrol dan bercanda tawa dengan anak, cucu, dan menantunya.


Bandara sangat ramai, disana juga Oma dan pak Anggara kembali berbicara banyak hal. Mereka benar-benar membuat Kalista merasa takut, menitipkan Arka, menitipkan Nathan dan Nayla, bahkan berpesan untuk saling mencintai hingga maut memisahkan.


Sebelum naik ke pesawat, Oma dan pak Anggara kembali memeluk Arka dan Kalista dengan erat, mencium Nathan dan Nayla hingga berulang kali. Nathan dan Nayla menangis begitu melihat pesawat yang membawa Oma dan pak Anggara mengudara diatas awan. Kalista dan Arka sampai kesulitan untuk menenangkan mereka berdua.


Arka menggendong Nathan, meletakkan Nathan di box, Kalista masuk ke kursi belakang, Nayla masih di gendongannya. Arka menyetir dengan perasaan hambar. Bahkan Arka lebih banyak diam, sementara Kalista merasakan ada sesuatu hal yang akan terjadi ke depannya. Tetapi Kalista tidak mau mengatakannya kepada Arka, Kalista takut dengan feeling nya sendiri, terlebih lagi Kalista merasa takut semuanya akan terjadi sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.


"Bun, hati dan perasaanku nggak tenang." Ucap Arka yang gelisah dalam duduknya, tetapi pandangan dan tangannya masih fokus pada kemudi setir.


"Semuanya akan baik-baik aja kok, fokus nyetir dulu ya ayah, ingat sekarang bukan cuma kita berdua yang ada di dalam mobil, ada Nayla aja Nathan juga." Kalista mencoba menenangkan Arka, Kalista takut Arka tidak fokus menyetir dan terjadi apa-apa pada keluarga kecilnya ini.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Arka masih berusaha fokus walaupun dengan pikiran yang bercabang. Kini mobil telah sampai Kemabli di kediaman Anggara, Kalista langsung turun dan meminta Arka menggendong Nathan.


"Oma sama ayah pasti balik lagi kan?" Tanya Arka sembari meletakkan Nathan yang mulai rewel di karpet telat di sebelah box tidurnya.


"Pasti. Berdo'a deh semoga ayah dan Oma selamat sampai tujuan, dan mereka berdua bisa kembali lagi ke rumah ini dengan keadaan sehat walafiat." Kalista mengusap pelan pipi Arka. Sehingga sudut bibir Arka kembali terangkat.


Arka memeluk Kalista, istrinya itu selalu bisa membuatnya merasa tenang dalam situasi dan kondisi apapun. Arka semakin bahagia ketika melihat aja menyaksikan Nathan dan Nayla mulai bisa berguling, membalikan badannya sendiri, ke kiri maupun ke kanan. Arka bahkan mengabadikan momen tersebut dalam video berdurasi satu menit. Mengunggahnya di media sosial dirinya, dan di media sosial si kecil juga. Nathan dan Nayla memang mempunyai akun media sosialnya tersendiri, tetapi tetap Arka dan Kalista yang memegang dan mengelola media sosial itu sendiri. followers mereka juga sangat banyak, tak heran gede dikit pasti keduanya menjadi balita selebgram dengan jumlah fans fantastis.


Setalah seratus dua puluh menit berlalu semenjak ayah dan Oma berangkat ke malang. Kini ponsel Arka berbunyi, salah satu chat WhatsApp dari ayah, katanya mereka berdua sudah sampai di malang dengan selamat.


"Alhamdulilah ayah dan Oma sudah sampai di malang." Arka tersenyum sumringah ketika mendengar kabar itu. Setidaknya sekarang hati dan pikirannya merasa tenang.


"Alhamdulilah, semoga mereka sehat terus dan berada dalam lindungan-Nya." Ujar Kalista.

__ADS_1


Weekend ini Kalista dan Arka lalui dengan mengurus Nathan dan Nayla. Mulai dari bermain bersama, hingga memandikan Nathan dan Nayla.


Khusus untuk hari ini Arka dan Kalista berbagai peran, mereka berdua berencana untuk menjadi sepasang suami istri sungguhan.


Loh, suami istri sungguhan? Jadi selama ini mereka menjadi sepasang suami istri palsu, atau kepura-puraan?


Maksudnya, Kalista dan Arka akan menjalankan peran sebagai sepasang suami istri yang mempunyai dua anak, tanpa adanya pembantu, pelayan, atau apapun itu, yang pasti kali ini mereka berdua benar-benar akan merasakan menjadi orang tua yang sesungguhnya.


Kalista sibuk bergelut di dapur, mencoba mengakrabkan diri kembali bersama sayuran, ikan, daging dan bumbu-bumbu yang lainnya. Sedangkan Arka bertugas menjaga atau mengasuh kedua anaknya. Para pelayan tidak boleh turun tangan, pokoknya hari ini urusan masak, bersih-bersih, nyuci baju, nyuci piring bakalan Arka dan Kalista yang kerjakan. Mereka berdua menyuruh semua pelayan untuk istirahat, nanti para pelayan juga akan makan hasil masakan Kalista.


"Loh mau ngapain?" Kalista menghentikan aktifitas memotong sayurnya sebentar, karena melihat Arka yang senang menggendong Nayla dan tangan satunya mendorong Nathan yang sedang tiduran di troli.


Arka mengambil botol susu, dan memasukan susu formula dengan ukuran yang tidak di perhatikan.


"Mau bikin susu bunda, Nayla nangis nih mau Mimi." Ujar Arka dengan santainya, bahkan dia juga melarutkan susu formula itu menggunakan air dingin.


"Duh, sudah beranak dua juga masih belum tahu bagaimana cara membuatkan susu formula untuk si kecil." Bibir Kalista mencebik, bahkan matanya juga ikutan mendelik.


"Langkah pertama, perhatikan botol susu! Apakah dalam keadaan steril atau belum? Umunya, botol susu itu walaupun di letakkan di tempat yang menurut kita bersih, tetap saja kuman itu tak kasat mata, bisa saja mereka ada di botol susu. Jadi botol susu itu harus di sterilkan terlebih dahulu! Cara mensterilkan botol susu ada dua cara. Jika ingin simple, gunakan alat pensteril botol susu. Cara kedua juga lumayan sederhana, tetapi agak memakan waktu. Yaitu, rebus botol susu hingga air rebusannya mendidih." Kalista menjeda ucapannya, karena sekarang dirinya sedang memasukan beberapa potong sayuran kedalam panci.


"Kedua, susu formula itu tidak bisa di tuang sembarangan. Ada takarannya tersendiri! Tidak bisa tuh kaya kamu tadi, langsung memasukan susu formula beberapa sendok. Baca dulu petunjuknya ya ayah, susu formula yang sudah di larutkan dan berada dalam botol selama dua jam itu harus di buang, tidak boleh di berikan lagi pada Nayla ataupun Nathan. Waduh, ayah jangan sibuk kerja terus. Sesekali ayah harus ikut membantu bunda mengurus Nathan dan Nayla biar ayah menjadi lebih terbiasa dalam urus mengurus balita." Ujar Kalista.


"Siap bunda." Arka mengacungkan ibu jarinya.


Sebenarnya agak itu lumayan cukup cekatan, barusan Kalista kasih tahu, sekarang dirinya sudah mengerti sepenuhnya terhadap apa yang barusan Kalista kasih tahu. Arka mensterilkan botol susu, kemduain menakar ukuran susu untuk bayi usia 4 bulan.


Arka benar-benar merasakan nikmat dan repotnya menjadi ayah dari sepasang bayi kembar. Arka juga membawa Nathan dan Nayla menikmati udara segar di taman. Sore hari cuaca tidak terlalu cerah, namun semilir anginnya lumayan terasa sejuk.


Kalista sudah sekali masak, Kalista menyajikan dan menata masakan itu diatas meja. Kalista mengajak Arka dan semua karyawan untuk makan bersama. Kalista juga mengantar beberapa mangkuk makan itu kepada security dan tukang kebun yang bekerja di kediaman Anggara ini.


Awalnya semuanya menolak karena merasa sungkan dan tidak sopan. Bagaimana mungkin neraka itu makan satu meja bersama tuan dan nyonya nya. Setelah Arka dan Kalista memaksa, akhirnya mereka mau. Bahkan ketika sedang makan pun, Nathan dan Nayla di letakkan di box bayi tepat di pinggir meja makan.


Setelahnya Kalista langsung membersihkan meja makan, mencuci piring, mengepel lantai, dan terakhir mencuci baju. Kalista pikir pekerjaannya sudah selesai, ternyata ada satu lagi yang kelewat yaitu mengangkat jemuran yang sudah kering, sebagian di lipat dan langsung di taruh ke lemari, sebagian lagi Kalista setrika.


Setelah semua pekerjaan rumah terselesaikan, Kalista langsung mengambil Nathan dan Nayla, memandikannya lalu menyusuinya hingga mereka tertidur. Barulah Arka bisa mandi, sementara Kalista memilih untuk merebahkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah seharian mengerjakan tugas rumah, punggung Kalista terasa sakit.


Arka baru saja menyelesaikan ritual bersih-bersihnya, handuk meliliti tubuh bagian bawahnya. Rambut basahnya terlihat sangat mengkilat dengan tetesan-tetesan air di bagian ujungnya.


"Bun, mandi! Mumpung Nathan dan Nayla masih tidur." Arka menepuk pelan bahu Kalista. Kalista yang katanya ingin merebahkan tubuhnya sejenak, eh malah ketiduran.


Kalista mengerjapkan matanya berkali-kali, kemduain bangkit dan langsung mengambil handuk. Membersihkan badannya dengan durasi yang sangat singkat, Kalista malas berlama-lama, apalagi kalau luluran dulu, makan waktu banget. Keluar dari kamar mandi, Kalista langsung memakai piyama, menyisir rambutnya, lalu pergi ke kamar Nathan dan Nayla untuk menghampiri Arka.


Hari ini para pelayan benar-benar merasakan apa itu yang namanya istirahat dengan tenang. Mereka bebas nonton, makan, minum, bahkan bermain-main di taman ini. Kalista benar-benar memberikan satu hari tanpa kerja, bahkan para pelayan itu ada yang tidak tega melihat Kalista mengerjakan semua pekerjaan rumah.


"Capek nggak? Sini aku pijatin." Arka memperhatikan wajah Kalista, wajah cantik itu kini terlihat kecapean, Arka juga menepuk sofa agar Kalista duduk di sebelahnya.


Arka memijat pundak dan punggung Kalista dengan sangat lembut, Arka tahu sekali dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana lincah dan aktifnya Kalista dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Rasa kagum Arka pada Kalista semakin bertambah, dirinya benar-benar tidak salah memilih istri, tidak heran ayahnya selalu bilang bahwa Arka merupakan laki-laki yang beruntung karena bisa mendapatkan Kalista sebagai pendamping hidupnya.


Arka nampak berpikir sejenak. "Hmmmmm, perempuan itu hebat! Selain bisa melahirkan seorang makhluk kecil yang biasa di sebut bayi, ternyata perempuan juga ahli dalam mengerjakan tugas rumah. Hari ini aku melihat dan menyaksikan betapa hebatnya seorang perempuan. Terimakasih." Arka mengecup puncak kepala Kalista, bukan hanya puncak kepala Arka juga mencium pipi dan dahi Kalista.


"Itu saja?" Tanya Kalista sambil menatap Arka intens.


"Apa lagi dong?" Tanya Arka sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Para pelayan setiap hari sibuk melayani kita sekaligus membersihkan rumah kita. Setiap hari loh! Bahkan mereka juga meninggalkan suami dan anaknya. Mereka itu berjasa banget loh, kalau tidak ada mereka kita itu kerepotan. Mereka itu patut di hargai dan di berikan apresiasi." Ujar Kalista.


"Benar banget! Banyak waktu yang mereka korban kan untuk melayani kita, sesekali kita juga harus membahagiakan meraka." Arka bangun dan berjalan menuju kamarnya.


Arka kembali lagi dengan setumpuk kertas merah Soekarno Hatta di tangannya, Kalista menatapnya heran. Apa yang akan suaminya lakukan dengan setumpuk uang itu?


Tanpa banyak tanya Arka menggandeng lengan Kalista, menuruni satu persatu anak tangga, dan menyuruh semua pelayan, security, dan tukang kebun untuk berkumpul di ruang tamu.


"Hari ini saya merasakan bagaimana repotnya menjadi peran sebagian ayah tanpa ada bantuan dari kalian semua. Hari ini juga saya menyaksikan betapa hebatnya istri saya dalam membersihkan dan mengerjakan semua tugas rumah. Saya juga cukup repot menggendong Nathan dan Nayla bergantian, saya juga melihat istri saya yang sedang menyuci tiba-tiba harus menunda cuciannya karena Nayla mengamuk ingin mimi. Satu hari tanpa kalian ternyata membuat kami lelah dan ketepatan, bahkan istri saya sekarang sakit punggung dan sakit pinggang, bahu, tangan dan kakinya terasa pegal. Hal itu membuat saya menyadari bahwa kalian itu seorang pekerja yang sangat luar biasa, maka dari itu saya sangat menghargai dan mengapresiasi kerja keras kalian. Hari ini saya berikan kalian bonus, dan mulai bulan depan upah kalian naik 50%. Terimakasih sudah bersedia membantu saya dan istri, tentunya beserta ayah dan Oma." Ujar Arka.


Semuanya tampak bergembira, bahkan sampai ada yang menangis karena ternyata dirinya sangat butuh uang. Arka dan kalista hari ini menuai banyak sekali do'a-do'a, semuanya doanya sangat positif dan menyentuh hati.


Nathan dan Nayla terbangun karena merasa haus. Kalista yang masih merasakan pinggangnya sakit, tidak sanggup untuk memberinya asi. Arka memberikannya susu formula, untung saja tadi siang Arka sudah bisa membuatkan susu formula dengan benar.


Oma dan pak Anggara juga mengabari Arka dan Kalista. Mereka juga kangen pada Nathan dan Nayla, akhirnya mereka semua melakukan video call. Tidak berbeda dengan obrolan tadi pagi, Oma dan pak Anggara tetap menitipkan Arka beserta Nathan dan Nayla pada kalista.


Video call berakhir karena Oma aja ayah merasa ngantuk. Natha dan Nayla sih semenjak susu formulanya habis mereka berdua langsung tertidur.


"Besok aku nggak kerja deh!"


Kalista membalikan badannya, menatap Arka yang sedang bersandar pada sofa dan menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Kalista penasaran.


"Besok aku mau ajak Nathan dan Nayla berenang. Biasanya kan mereka belajar renang sama kamu dan itu pun renangnya di kolam renang mainan. Aku mau bawa mereka ke tempat les renang yang aman dan nyaman."


"Hmmm, ide bagus! Tapi agak siangan yah! Karena capek, aku mau bangun siang." Kalista menyengir sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


"Oke siap."


Arka kemduain mendekati Kalista, membelai mesra rambutnya. Dan menekan-nekan pipinya yang masih terlihat imut. Tidak ada bedanya tubuh Kalista sebelum menikah dan setelah menikah. Bahkan Arka masih sering mengagumi tubuh Kalista yang terlihat bagus dan ramping. Walaupun di repotkan oleh si bayi kembar, ternyata Kalista masih bisa merawat tubuhnya.


"Bun." Arka berbicara pelan tepat di telinga Kalista. Tangan Arka juga telah melingkar di pinggang Kalista.

__ADS_1


"Apaan?" Jawab Kalista ketus.


"Kangen berduaan, romantisan, manja-manjaan." Kini tangan Arka semakin bergerak lincah, masuk kedalam piyama Kalista, mulai dari meraba perut hingga naik ke bagian dadanya.


"Aku capek banget loh yah." Kalista mencoba berontak, karena tangan Arka semakin aktif dan tidak bisa diam. Kalista merasakan sensasi geli tapi sangat nik'mat.


"Mumpung Nathan dan Nayla sudah tidur. Mumpung oma dan ayah juga lagi nggak ada, kamu bebas loh mau teriak keenakan juga." Arka membalikan tubuh Kalista, berusaha membuka satu persatu kancing piyamanya.


Kalista masih berontak, tangannya memegang erat kancing ketiga di piyamanya. "Teriak gimana? Ada Nathan dan Nayla, nanti mereka kebangun." Sarkas Kalista.


"Padahal udah lama kan kita nggak melakukan aktifitas ranjang, semenjak kamu melahirkan sampai Nathan dan Nayla sekarang berusia 4 bulan, hubungan suami istri kita bisa di hitung jari loh, nggak sampai sepuluh kali." Bibir Arka mencebik, Arka juga sudah mundur dan menghindari Kalista.


Melihat Arka yang cemberut karena ingin mendapatkan jatahnya, Kalista jadi tidak tega. Memang benar apa yang di katakan Arka, hubungan intim mereka bisa di hitung jari.


Kemarahan suami merupakan murka dari Allah. Kalista juga tidak ingin di sebut istri yang durhaka pada suami.


Tanpa basa-basi, Kalista langsung menghampiri Arka. Kalista menciumi setiap inchi wajah Arka, Kalista juga mengucapkan kalimat maafnya. Keduanya mulai terlarut dalam cumbuan yang memabukkan, lidah mereka saling membelit, bahkan keduanya saling berlomba-lomba meraup oksigen.


Kalista yang memang tidak mempunyai energi banyak, dirinya tidak banyak bergerak, tubuhnya sih merespon setiap gerakan yang Arka lakukan. Piyamanya sudah terlepas, bra-nya juga sudah terlepas dan berserakan di lantai.


Arka melahap habis gundukan daging sintal yang terasa kenyal itu. Bukannya cuma menjilat, Arka juga meninggakan beberapa noda merah di gundukan daging sintal itu. Gundukan itu kini telah berubah, diameternya sudah bertambah beberaoa cm. Arka menghisapnya perlahan, kemudian manik matanya terbelalak dan Arka menjadi kegirangan. Daging sintal itu kini ada ASI-nya, rasanya manis dan nikmat. Arka benar-benar menikmati setiap tetas air yang keluar dari put*ingin itu.


Kalista juga merasakan sensasi yang berbeda, biasanya Nathan dan Nayla yang menghisap dadanya, kini malah bayi berkepala besar yang menikmati air dari gundukan daging sintal itu.


Mulut Arka begitu buas mempermainkan dada Kalista, Kalista tidak kuat menahan rasa geli sekaligus nikmat itu, Kalista mendesah pasrah, menikmati lidah Arka yang semakin menggila di dadanya.


"Oeeeek.. oeeeek... Oeeeek."


Arka langsung tersadar dan melepaskan mulutnya yang masih menempel itu, adegan panas tersebut terganggu oleh tangisan Nathan, padahal Nayla nyenyak banget tidurnya.


"Kasih mimi dulu, kasian." Arka memberikan Nathan pada pangkuan Kalista.


Nathan langsung mimi dengan sangat lahap, Kalista bahkan menyusui Natha dengan bertelanjang dada. Piyama saja bra nya ada di pojokan, tadi sengaja di lempar oleh Arka.


Arka menatap Kalista dan Nathan dengan senyum menyeringai, Arka melihat beberapa noda merah di dada itu.


"Ngapain senyum?" Tanya Kalista dengan nada judesnya.


"Lucu!" Ujar Arka sambil terkekeh.


"Apanya?" Ketus Kalista.


"Kamu menyusui dengan bertelanjang dada, bukan hanya bertelanjang dada tapi bagian atas tubuh kamu memang telanjang. Nathan juga miminya bekas aku, kaisan deh." Arka semakin tersenyum menyeringai.


"Nathan kayanya nyebelin banget deh kaya aku, kita lagi enak-enak gini malah di ganggu." Arka mengusap pipi Nathan gemas.


"Ambilin piyama sama bra punya aku! Aku kedinginan lagian aku juga udah ngantuk. Udah ini mau langsung tidur."


"Ya nggak bisa gitu dong! Tanggung banget langsung tidur, kamu nggak kasian apa ya sama aku? Sesuatu di tubuh bagian bawahku sudah berontak, masa iya nggak di tuntasin? Ini sakit banget loh kalau nggak di tuntasin!" Rengek Arka sambil mengusap-usap leher kalista.


"Diam deh! Geli!" Bentak Kalista.


"Kamu kan punya tangan, tuntasin sendiri deh! Lagian siapa suruh sih malam-malam malah bangun?"


"Enak juga di bantu kamu, nuntasin sendiri mah kurang gregetan. Iya tuh Nathan kenapa bangun sih?"


"Halah alasan aja! Itu kamu kenapa bangun? Nathan sih kebangun karena haus." Kalista mendelikkan matanya jengah.


"Kebangun karena kegoda tubuh kamu yang seksi. Mana tahan coba lihat dada kamu yang nangkring itu, yakali nggak bangun berarti punya nggak normal dong sayang. Pokonya kamu harus tanggung jawab, lagian kan kamu yang nyerang aku duluan."


"Loh kok nyalahin aku? Padahal jelas-jelas kakinya gue ngegoda aku duluan."


"Iya emang aku yang ngegoda kamu duluan, tapi kamunya nggak mau. Yaudah aku mundur, tapi kamunya malah membangunkan gairah aku yang emang lagi pengen. Kamu nyerang aku duluan, aku masukin lidah kamu duluan ke mulut aku, tadi kita saling bercumbu mesra, bukan hanya bercumbu sapuan lidah aku juga merambat turun ke leher, ke...,"


"STOP!" Bentak Kalista.


Arka langsung mengambil Nathan yang tertidur di pangkuan Kalista. Menidurkan kembali di box tempat tidurnya.


Arka mematikan lampu, dan menggantikannya dengan lampu yang cahayanya minim atau remang-remang. Arka dengan tidak sabaran langsung melorotkan celana piyama Kalista, aja membaringkan Kalista sista kasur lantai yang menang ada di kamar ini. Arka juga melucuti pakaiannya dan melemparkannya asal.


Setalah sekian lama, kini Arka Kemabli berada diatas tubuh Kalista. Mata mereka saling bertemu dan saling tatap, suasana ini seperti kembali mengingatkan Arka dan kalsuta pada malam pertama mereka.


"Pindah aku yuk!" Tepat kelautan Arka memasukan memiliknya, Kalista malah bersuara.


"Maksudnya?"


"Mainnya di kamar kita aja, nggak enak kalau disini ada Nathan dan Nayla."


"Biarin aja! Toh mereka lagi tidur nyenyak, mereka juga nggak akan paham dengan apa yang di lakukan bunda dan ayahnya. Justeru biarkan saja mereka ada disini biar menjadi saksi kisah panas kita malam ini."


"Awwwww." Arka tanpa aba-aba langsung memasukkan juniornya yang memang sudah lama tidak masuk sarang. Kalista bahwa sampai meringis kesakitan karena Arka memasukan secara kasar dan tidak sabaran.


"Tenang sayang, nanti juga enak kok. Kamu mah tinggal gerakin pinggul aja, sama terima enaknya." Ucap Arka, lalu bibirnya Kemabli sibuk menciumi setiap inchi wajah kalista, bahkan Arka juga kembaki mencumbu bibir Kalista. Kalista benar-benar merasakan kenikmatan yang tiada tara, apalagi bibirnya terbungkam sehingga dirinya sulit sekali mengeluarkan erangannya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2