SUN FLOWER

SUN FLOWER
PECAT!


__ADS_3

"Kalista mana?" Tanya Rangga yang baru saja duduk di meja kantin. Rangga merasa cemas, takut Kalista menjauh darinya gara-gara pernyataan perasaan kemarin.


"Masih diruangannya kali." Jawab Tiara.


"Ini udah jam istirahat dari tadi loh." Bima kini celingak-celinguk memperhatikan seluruh ruangan kantin.


"Ngomongin gue nih pasti." Celetuk Kalista yang tiba-tiba duduk di sebelah Tiara.


"Panjang usus lu!" Kata Bimo yang sibuk makan nasi goreng.


"Apaan tuh panjang usus?" Tiara merasa bingung dengan perkataan Bimo.


"Tau nih cunguk gaje amat." Kalista menyeruput jus jeruk milik Tiara.


"Ah jus gue itu!" Tiara mengambil alih jus jeruk di tangan Kalista.


"Maksud gue lu tuh panjang umur, lagi diomongin tiba-tiba muncul gitu." Bimo menjelaskan.


"Oh gitu, duh kebelet pipis gue." Kalista berjalan dengan terburu-buru menuju toilet, meninggalkan dompet dan ponselnya diatas meja kantin.


Ketika Kalista berjalan ke toilet, Kalista di hadang oleh Intan dan Riri.


"Eh ada wanita penggoda." Intan menatap Kalista dengan senyum mengejek.


"Oh yang tadi malam keluar dari mobil pak Arka ya? Bu Yoora baru pulang kemarin pagi eh malam nya pak Arka langsung diembat lagi." Celetuk Riri yang memang tadi malam melihat Kalista turun dari mobil Arka.


Karena kantung kemih Kalista sudah terasa penuh dan sesak, akhirnya Kalista langsung saja masuk ke toilet tanpa sedikit pun menanggapi celotehan Intan dan Riri.


"Gila sombong banget!" Umpat Riri.


"Ri.. gue ada rencana deh." Kemudian Intan berbisik ke telinga Riri mengenai rencananya.


Tidak lama kemudian toilet yang Kalista masuki itu dikunci dari luar oleh Intan dan Riri. Lalu mereka mengguyurkan satu ember cairan yang telah dicampur dengan kecap dan telur busuk.


Kalista menjerit karena terkena guyuran cairan itu, menggedor-gedor pintu toilet tetapi tidak ada yang membukakannya. Lalu sebelum Intan dan Riri pergi, mereka menempelkan kertas dengan tulisan "TOILET RUSAK, SEDANG DALAM MASA PERBAIKAN" di pintu toilet.


Di dalam toilet terdengar suara sesenggukan, ya sekarang Kalista sedang menangis. Dan Kalista pun tahu bahwa itu pasti kelakuan Intan dan Riri. Namun Intan dan Riri cukup cerdik, sebelum memuluskan aksinya itu Intan dan Riri memastikan letak cctv terlebih dahulu, sehingga kelakuan mereka tidak terekam kamera cctv.


"Calon istri gue kemana?" Tanya Arka yang baru saja tiba di ruangannya.


"Makan di kantin, lu kemana dulu sih? Dari kemarin telat mulu datang ke kantor." Tanya Andy yang memang penasaran, karena kemarin dan sekarang Arka berangkat ke kantor saat jam istirahat makan siang.


"Desain cincin buat lamaran." Jawab Arka dengan senyum simpul.


"Kaya yang yakin aja lu bakal di terima." Celetuk Andy.


"Gue yakin, lagian cincin yang gue desain juga spesial banget buat dia. Udah kebayang banget pas dia lihat cincin itu, dia auto makin jatuh cinta sama gue." Kini Arka duduk di meja kerjanya, menopang dagunya lalu tersenyum.


Jam istirahat sudah berakhir, namun Kalista tak kunjung datang ke kantin. Padahal ia meninggalkan dompet dan ponselnya.


"Kemana sih Kalista? Aneh banget dia nggak balik lagi, padahal tadi juga belum sempat pesan makan." Tiara masih duduk di kantin menunggu kedatangan Kalista.


"Kali aja dia banyak kerjaan, dari toilet langsung masuk keruangan nya." Ujar Bimo.


"Bisa aja sih, tapi yakali nggak sempat ambil ponsel sama dompetnya." Celetuk Bima.

__ADS_1


"Mending samperin aja Kalista ke ruangannya, sekalian balikan ponsel sama dompetnya." Usul Rangga.


"Balikin sama lu ra, gue sih nggak berani. Takut sama pak Arka." Ucap Bimo sambil nyengir kuda.


"Lu laki tapi mental tempe! Gila." Tiara langsung berjalan menuju ruangan Kalista. Tiara sudah tidak menghiraukan umpatan Bimo yang tidak terima dikatain mental tempe.


Setelah mondar mandir beberapa kali di depan pintu ruangan CEO, akhirnya Tiara dengan masih ragu mencoba mengetuk pintu ruangan Arka.


"Tok tok tok" Pintu ruangan di ketuk, Tiara masih terus berdiri di depan pintu, tidak berani membukanya sebelum pak Arka mengizinkan.


Arka dan Andy yang sedang duduk di sopa sambil menyesap kopi, tiba-tiba menjadi bingung. Pasalnya, Kalista tidak pernah mengetuk pintu untuk masuk keruangan nya.


"Kalista ngetuk pintu? Kesambet apaan tuh calon bini lu mendadak jadi rada sopan." Celetuk Andy dengan senyum seringainya.


Namun tidak lama kemudian, pintu kembali di ketuk. "Tok tok tok."


"Masuk!" Perintah Arka dengan suara lantang.


"Permisi pak, ini dompet dan ponsel Kalista tertinggal di meja kantin." Ucap Tiara ragu-ragu, karena ketika membuka pintu wajah Arka langsung muncul di hadapannya.


"Orangnya aja belum kesini." Celetuk Andy.


"Hah belum kesini? Pasti ada yang tidak beres." Tanpa permisi Tiara langsung berlari-lari kecil menuju lift, karena tadi mereka makan di kantin lantai dasar. Itu berarti tadi Kalista masuk ke toilet yang berada di lobby.


Andy dan Arka di buat bingung oleh ucapan Tiara barusan, kini Arka pun berlali mengejar Tiara, diikuti oleh Andy di belakangnya. Semua mata karyawan berfokus kepada 2 pria dan 1 wanita yang sedang berjalan cepat menuju lift.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Arka dengan wajah panik.


"Tadi kita makan di kantin bawah, tapi Kalista kebelet pipis, jadi dia izin ke toilet. Tapi sampai jam istirahat berakhir Kalista tidak kunjung kembali, mau di telpon juga percuma kan dompet sama ponselnya ditinggalkan di meja kantin. Tadi kami mengira mungkin Kalista sudah balik ke ruangannya, mungkin banyak kerjaan." Tiara mencoba menjelaskan.


Arka sudah tidak bisa berpikir jernih, pikirannya kacau. Dia pun sama paniknya seperti Tiara, kini rasa khawatir menyelimuti hatinya.


Kini Arka, Andy, dan Tiara sedang berada di lift eksekutif, karena kalau pake lift karyawan itu pasti akan lambat. Beberapa kali Arka mengacak rambutnya geram dan frustasi.


"Kalista, lu dimana?" Tiara memanggil-manggil Kalista, kini mereka telah sampai di toilet perempuan yang berada di lobby lantai dasar.


Arka pun melakukan hal yang sama dengan Tiara, namun panggilan mereka tidak ada jawaban. Tujuh menit telah berlalu, mereka pun sudah memeriksa setengah dari toilet perempuan, namun hasilnya nihil, kalista masih belum ditemukan.


"Ra, gue disini. Tolongin gue." Terdengar suara lirih dan pelan dari ujung toilet yang pintunya ada bacaan "Toilet Rusak"


Arka berlari ke toilet itu, dengan spontan Arka mendobrak pintu toilet. Hatinya mencelos ketika melihat perempuan yang akan di jadikan istrinya itu sedang duduk diatas closet, dengan badan basah kuyup, penampilannya berantakan, bajunya kotor, dan tercium bau busuk dari badannya.


Tanpa ba-bi-bu, Arka langsung membopong Kalista ke pangkuannya. Arka membawa Kalista ke ruangannya, semua karyawan kembali melihat Arka yang sedang membopong Kalista, Kalista membenamkan wajahnya ke dada Arka, karena malu di lihatin oleh semua karyawan.


"Kamu ikut dulu ke ruangan saya, sekarang Kalista lebih butuh kamu, sekalian nanti kamu bantu Kalista bersih-bersih." Perintah Arka pada Tiara.


"Baik, pak." Jawab Tiara.


Ketika sampai di ruangannya, Arka langsung menurunkan Kalista, dan menyuruhnya bersih-bersih. Kemudian Arka menelpon butik langganannya, meminta di bawakan 1 stelan kantor untuk wanita, tak lupa Arka mendeskripsikan Kalista agar pelayan di butik tidak salah memilihkan stelan kantor untuk Kalista.


Tidak lama kemudian, stelan kantor yang Arka minta pun sudah berada di ruangannya. Pelayanan butik langganannya memang tidak pernah mengecewakan.


Kini Kalista telah selesai bersih-bersih, dan penampilannya sudah rapi kembali. Stelan kantor yang dipesan Arka pun sangat pas di tubuh Kalista.


"Andy, kumpulkan semua karyawan menuju aula besar." Perintah Arka langsung Andy laksanakan.

__ADS_1


Kini Kalista dan Tiara mengikuti langkah Arka menuju aula besar. Disana semua karyawan sudah berkumpul, mereka sudah paham bahwa sekarang pasti bakalan kena semprot pak Arka.


"Siapa yang berani mengunci sekretaris pribadi saya di toilet lobby lantai dasar? Bukan hanya mengunci tetapi juga mengguyur tubuhnya dengan cairan kecap dan telur busuk!" Suara Arka geram dan penuh penekanan, namun ini belum masuk ke level kemarahan Arka.


Semua hening, tidak ada satu pun yang berani berbicara. Intan dan Riri pun masih tampak tenang, dan sekarang mereka berdua malah menatap Kalista mengejek.


"NGAKU! ATAU SAYA LAPORKAN KEPADA PIHAK YANG BERWAJIB!" Kini Arka sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Namun lagi dan lagi semua karyawan tetap bungkam, mulut mereka terkunci rapat.


"KALIAN SEMUA TULI HAH? JAWAB SAYA!" Teriak Arka lagi, Kini emosinya sudah memuncak.


"Kalista ada yang kamu curigai?" Arka menatap Kalista.


"Ada pak, sebenarnya saya kurang paham salah saya dimana? Karena sejujurnya saya tidak punya musuh, tapi entah kenapa Intan dan Riri selalu menuduh saya, bahkan sering sekali mengatakan saya jalang! Tadi sebelum saya masuk ke toilet, Intan dan Riri menghadang saya, namun saya tidak tertarik untuk menanggapinya toh saya juga sudah kebelet banget tadi." Jelas Kalista, Intan dan Riri kini sedang menatap Kalista tajam.


"Itu fitnah pak, coba saja cek cctv!" Protes Intan yang tidak terima dituduh Kalista.


"SAYA TIDAK MEMINTA OPINI KAMU! JELAS INI SUDAH DI RENCAKAN, SAMPAI ADA TELUR BUSUK SEGALA. KAMU PIKIR SAYA BODOH HAH? DAN KAMU PINTER BEGITU KARENA TELAH MENSETTING TOILETNYA AGAR TIDAK TEIRLIHAT DI CCTV?" Arka semakin berteriak geram dan marah.


"Saya bersumpah tidak melakukannya pak, entah mengapa semenjak saya masuk kerja di sini, Kalista selalu berusaha merendahkan dan menghina saya hiks hiks." Kini Riri menjadi ratu drama dengan air mata palsunya itu.


"Jangan membalikkan fakta! Jelas-jelas kamu yang selalu memfitnah dan merendahkan saya!" Kini Kalista berteriak, muak dengan pengakuan Riri yang membalikan fakta.


"KALIAN BERDUA MENGAKU DAN MEMINTA MAAF KEPADA KALISTA, ATAU SAYA PANGGILKAN PIHAK LEPOLISIAN SEKARANG!"


Intan dan Riri masih kukuh tidak mau mengakui perbuatannya, hal itu membuat Arka semakin geram.


"Andy, panggil pihak kepolisian kemari! Biar pihak kepolisian yang menyelidiki kasus ini."


"Baik pak." Baru sempat Andy menjawab, tiba-tiba..


"Iya itu saya dan Riri yang melakukannya, tapi sampai kapan pun juga saya tidak akan sudi meminta maaf kepada wanita jalang ini." Ucapan Intan ini sukses membuat Arka melayangkan tamparan ke pipi Intan, hingga intan terpental sejauh 2 meter.


Melihat hal itu Riri menjadi gemetaran, dan dengan segera Riri bersujud di kaki Kalista.


"Maafkan aku, aku melakukan semua itu atas suruhan Intan." Riri sesenggukan di kaki Kalista.


"Atas dasar apa kamu melakukan semua ini kepada Kalista?" Arka bertanya kepada Intan.


"Karena saya tidak suka melihat Kalista terus-terusan menggoda bapak, lagian tindakan saya cukup membantu bu Yoora agar bapak tidak tergoda olehnya. Bapak harus tahu bahwa Kalista salah wanita jalang yang murahan." Intan masih berani berkata-kata.


"Saya tegaskan bahwa Kalista bukan wanita jalang. Dan saya tidak ada hubungannya dengan Yoora, Yoora bukan pacar saya!!" Teriak Arka, entah mengapa teriakan Arka yang mengatakan bahwa Yoora bukan pacarnya, membuat hati Kalista senang dan bibirnya membuat garis melengkung.


"Cih.. atas dasar apa bapak secara gamblang membela Kalista si murahan?" Intan berdecih dengan senyum mengejek yang tentunya tatapan matanya penuh dengan sorot kebencian.


"KARENA KALISTA DALAH CALON ISTRI SAYA!" Kali ini teriakan Arka sukses membuat semua karyawan melongo kaget.


Kalista membulatkan matanya, Kalista shock, namun berbeda dengan Tiara yang kini merangkul Kalista. "Diam-diam aja nih, berhutang cerita banyak ya." Bisik Tiara di telinga Kalista, sambil memeluk Kalista.


"Andy, kamu urus surat pemecatan mereka hari ini! Dan pastikan bahwa Intan tidak akan diterima di perusahaan manapun, biarkan hidupnya menderita!" Perintah Arka tegas sudah tidak bisa diganggu gugat.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!

__ADS_1


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2