SUN FLOWER

SUN FLOWER
PIL KB


__ADS_3

Setelah kepulangannya sehabis babymoon honeymoon, kini Arka pagi-pagi sekali sudah bangun. Bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya lalu mengenakan jas, pakaian kerja formal seperti biasanya. Rambutnya menggunakan pomade dan di tata rapi.


Kalista masih saja tertidur, selimut putih tebal itu masih saja melilit di tubuhnya. Sejak kembali dari Bali kemarin sore, sekarang Kalista merasa sedikit tidak enak badan. Arka enggan untuk meninggalkannya, namun apa daya ia perlu memantau seluruh kinerja karyawannya setelah satu minggu full di tinggal.


Sebelum berangkat kerja, Arka menyempatkan berbincang dengan Kalista. Kalista menanggapi semua ucapan Arka, namun matanya sepertinya memang lengket untuk terbuka.


Kecupan di kening, pipi, dan bibir pun telah terbiasa Arka lakukan, menjadi rutinitas pagi hari sebelum berangkat kerja. Arka berpesan agar Kalista tidak lupa sarapan, jika badannya masih terasa kurang enak, segera hubungi Arka, maka Arka akan langsung pulang.


"Aku titip oleh-oleh untuk Bima dan Bimo." Kalista berkata lirih, tubuhnya masih saja menempel di kasur, seperti ada magnet yang tidak bisa di lepaskan.


"Oke." Jawab Arka dengan senyum simpul, tangannya mengusak rambut Kalista.


Arka mengambil paper bag yang isinya oleh-oleh itu, berangkat ke kantor dan tidak menyempatkan sarapan. Hari ini Arka merasa malas sarapan karena tidak di temani oleh Kalista.


Mobil telah sampai di depan gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Seminggu sudah Arka meninggalkan kantor dan full time bersama Kalista. Kini Arka harus kembali lagi dengan rutinitasnya, berjibaku dengan sekumpulan berkas-berkas, dan tumpukan dokumen yang kadang-kadang membuat matanya lelah.


"Selamat pagi pak." Sapa resepsionis.


"Pagi." Tersenyum simpul, kemudian melanjutkan jalannya menuju lift sambil menenteng paper bag.


Arka terlebih dahulu mengantarkan oleh-oleh ke ruangan Bima dan Bimo. Mereka berdua mengucapkan banyak terimakasih, dan juga merasa sangat terhormat karena bapak CEO langsung yang mengantarkannya. Bahkan rekan kerja di ruangan Bima dan Bimo sampai pada heboh karena hal itu.


"Selamat pagi." Arka membuka pintu ruangannya, Arka sengaja mengucapkan selamat pagi karena Arka tahu pasti di ruangannya ada Andy, terlebih lagi Gina tidak ada di meja kerjanya, pastinya Gina juga berada di dalam ruangan ini.


Andy, dan Gina langsung menoleh kepada sumber suara. Gina langsung menggeser duduknya, yang tadinya sangat dekat dengan Andy kini malah ada jarak di antara mereka. "Selamat pagi pak." Jawab gini dengan senyum gugupnya.


"Kirain gue lu nggak masuk kerja bro! Emang nggak ada capeknya nih bapak CEO kita ini." Andy bangkit dan langsung menepuk pundak Arka.


"Lu berharap gue nggak masuk gitu? Nggak cukup nih gue kasih waktu satu minggu buat berduaan sama Gina?" Arka menatap dengan curiga, menaik turunkan sebelah alisnya sambil tersenyum menyeringai.


"Sangat berharap! Satu minggu itu nggak cukup, kalau dua minggu mungkin cukup." Jawab Andy dengan cengir yang memperlihatkan giginya.


"Tenang, kan nanti bulan depan gue kasih waktu sepuluh harian buat berduaan sama Gina." Ujar Arka.


Gina yang berada di ruangan itu pun hanya berdiam diri saja, dirinya seperti menjadi patung saja. Hanya berdiri dan mendengarkan kedua manusia yang sibuk berbincang.


"Saya permisi." Tangan Gina langsung di cekal oleh Andy, tadinya Gina mau keluar dari ruangan ini.


"Mau kemana?" Tanya Andy.


"Meja kerja, ini kan sudah masuk jam kerja." Jawab Gina.


"Bentaran, buru-buru amat sih non." Andy memegang dagu Gina. Gina mendongak menatap Andy dan berusaha agar Andy melepaskan tangannya di dagunya.


Arka melihatnya sampai geleng-geleng kepala, asisten pribadinya itu sangat bucin. "Oleh-oleh buat kalian berdua." Arka melemparkan paper bag, dan langsung di tangkap oleh Andy.


Andy membuka paper bag tersebut, dilihatkan isinya sangat banyak. Selain cemilan dan makanan, ternyata kebanyakan baju-baju Bali, Andy semakin tersenyum ketika melihat baju-baju itu berpasangan, alias baju couple.


"Thanks bro." Andy sangat antusias, begitupun dengan Gina.


Sementara Arka sudah tidak menghiraukan ocehan Andy dan Gina. Dirinya sangat sibuk memeriksa kinerja para karyawan selama seminggu belakangan ini. Bahkan sekarang dirinya seperti tidak mempunyai waktu luang, setumpuk dokumen yang harus di periksa dan di tanda tangani sudah sangat menggunung di mejanya.


Gina kembali lagi ke ruangan kerjanya, kembali berkutat dengan laptopnya. Mengatur jadwal rapat, pertemuan bisnis, dan lain sebagainya. Walaupun seminggu di berikan tugas dan tanggung jawab yang besar oleh Arka, dan di berikan waktu berduaan dengan Andy, tetapi Gina masih saja memperhatikan jadwal kerjanya, bekerja dengan baik dan sangat profesional.


Berbeda sekali dengan Andy, setelah semingguan ini tugas Arka di alihkan Kedirinya, yang otomatis tugasnya menjadi double. Kini dirinya juga kembali di sibukkan untuk membantu Arka.


Apakah Andy merasa jengkel atau kesal?


Jawabannya tidak! Malahan Andy bersyukur banget di berikan tugas yang lumayan berat, karena selain mempunyai banyak waktu bersama Gina, Andy juga mengambil celah untuk belajar caranya berbisnis ala perusahaan Anggara. Bahkan Andy sangat-sangat bersyukur bisa bekerja dengan Arka, lebih bersyukurnya lagi menjadi sahabat Arka.


Jari jemari Arka terasa sangat lelah setelah menandatangani sejumlah dokumen, padahal yang di tandatangani baru setengahnya saja. Arka sangat fokus pada kerjaannya, bahkan sampai melupakan perutnya. Padahal tadi di rumah Arka tidak menyempatkan sarapan. Kini istirahat pertama pun Arka tidak pergi ke kantin atau delivery, bersikeras terlebih dahulu untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.


"Mau gue pesanin makanan?" Andy bertanya, sebenarnya Andy sangat mengkhawatirkan perut Arka.


"Nggak usah! Lu makan duluan aja." Arka sama sekali tidak menghiraukan Andy, matanya terus menerus menatap layar komputer dengan sangat serius.


Andy pergi ke kantin bareng Gina, selama seminggu ini hal itu memang sudah menjadi rutinitasnya. Bahkan banyak sekali karyawan yang mengira Andy dan Gina pacaran. Banyak diantara mereka yang merasa patah hati, karena Andy juga menjadi incaran para wanita.


*****


Ketika Kalista bangun tidur, rumah dalam keadaan sepi. Kata pelayan Oma sedang pergi keluar, dan begitu pula pak Anggara.


Kalista sarapan sendirian, karena Kalista bangunnya agak siangan jadi ini lebih ke makan siang. Makanan yang tertata rapi diatas meja makan itu cukup membangkikkan nafsu makan Kalista.


"Pelan-pelan non makannya." Salah satu pelayan yang sedang duduk di depan Kalista, Kalista sengaja menyuruhnya duduk untuk menemaninya.


Kalista hanya tersenyum sambil mengangguk, sebenarnya Kalista menyuruh pelayan untuk ikutan makan, bukan hanya sekedar menemaninya saja. Namun pelayan itu merasa segan kalau harus makan bareng dengan nyonya nya. Kalista juga sudah memaksa, tapi tetap aja pelayan itu tidak mau.


"Di kantor lagi banyak kerjaan ya non? Tadi pak Arka berangkat kerjanya buru-buru-buru gitu sampai tidak sempat sarapan."


Satu kalimat dari si pelayan cukup membuat Kalista menghentikan aktifitas makannya, mulut yang tadinya sedang mengunyah kini malah menganga. Kalista mengambil air mineral, lalu meneguknya.


"Beneran nggak sarapan?" Tanya Kalista menatap pelayan dengan sangat intens.


"Iya nggak sarapan."


Kalists terdiam sejenak, kemudian mengambil ponselnya. Mau menghubungi Arka, namun ponselnya tidak aktif (Tidak dapat di hubungi)


"Nggak aktif." Kalista menatap layar ponselnya dengan jengah.


"Seminggu ninggalin kerjaan kantor, walaupun di handle oleh asisten pribadi dan sekretarisnya juga tetap saja harus di cek lagi, mungkin suami saya sekarang sedang sibuk dengan sejumlah dokumen dan berkas-berkas yang menumpuk, yang harus di tandatanganinya." Ujar Kalista, sambil menghembuskan napasnya kasar.


Saat ini Kalista sangat mengkhawatirkan Arka, takut Arka telat makan, dan lebih takutnya lagi takut Arka kecapean. Kemarin saja Arka lumayan kecapean, Kalista maunya hari ini Arka istirahat saja di rumah, tapi begitulah Arka si jiwa bisnis yang keras kepala.


"Bantuin saya masak yuk bi." Ajak Kalista kepada pelayan yang menemaninya itu.


Lima menit kemudian Kalista sudah berada di dapur, berperang dengan berbagai macam sayuran. Kalista menggunakan apron yang malah terlihat lucu, pelayan saja sampai tertawa geli karena lucu. Apron itu tidak bisa menutupi perut Kalista yang buncit.


Kalista memasak udang asam pedas, ayam goreng kecap. Untuk makanan penutupnya Kalista membuatkan pudding cokelat saus santan tepung maizena, dan segelas jus strawberry.


"Ting Tong." Suara bunyi bell.


Kalista yang baru saja selesai memasak, langsung menengok ke arah pelayan.


"Tamu?" Kalista mengerutkan dahinya. Soalnya kalau Oma ataupun pak Anggara pasti langsung masuk tanpa memencet bell terlebih dahulu.


"Biar saya yang buka, bibi tolong bantu beresin dapur aja." Tangan Kalista langsung melepaskan apron yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian berjalan ke menuju pintu depan.

__ADS_1


Sebelum membuka pintu, Kalista mengintip dulu dari jendela. Kebiasaan Kalista di apartment.


Begitu pintu terbuka, pasangan pengantin yang masih hangat itu tersenyum ramah.


"Apa kabar bumil?" Dokter Rian menyapa dengan senyuman ramah.


"Kangen." Kalista memeluk dokter Fani. Biasanya Kalista akan memeluk dokter Rian, namun sekarang dokter Rian telah menjadi milik Fani, akan snagat tidak sopan jika Kalista memeluk dokter Rian. Sebagai sesama perempuan Kalista bisa merasakan jika pria yang kita cintai di peluk oleh wanita lain, pasti akan sangat menyakitkan.


"Ayo masuk." Ajak Kalista.


Mereka kemudian duduk di ruang tamu, pelayan membawakan minuman dan cemilan.


"Mau makan nggak? Aku baru selesai masak loh."


"Nggak deh, udah di masakin sama istri di rumah." Jawab Evan.


"Gimana punya istri? Enak kan? Ada yang masakin, siapin baju kerja, pasangin dasi."


"Lebih enaknya ada yang nemenin tidur, jadi nggak harus peluk guling." Jawab dokter Rian terang-terangan sambil tertawa.


"Nah itu tuh yang cowok suka." Kalista pun ikutan tertawa, "Gimana honeymoon nya?" Tanya Kalista.


"Ya begitu, honeymoon gimana sih? Pakai nanya lagi nih bumil." Dokter Fani mendelikkan matanya, sepertinya dia merasa gugup dan malu menanggapi pertanyaan Kalista.


"Haha iya tau awkrad banget kalau di ceritain, semoga cepat isi biar bayi aku nanti punya teman."


"Amin paling serius." Jawab dokter Rian antusias.


"Oh iya, kita kesini mau ngasih ini." Dua buah paper bag di sodorkan oleh dokter Fani.


Kalista mengambil paper bag itu, matanya mengamati isi dari paper bag, seketika matanya membulat sempurna. "Wah bagus banget, makasih pak dokter bu dokter." Berbicara setengah berteriak, Kalista kegirangan melihat baju-baju bayi, untuk bayi laki-laki dan bayi perempuan.


"Karena kita belum tahu jenis kelamin bayinya itu apa? Jadi random aja, laki-laki dan perempuan." Ucap dokter Rian.


"Hehe iya makasih, aku juga memang belum belanja baju bayi, kata Oma nanti aja kalau usia kandungannya udah 7 bulan."


"Aku juga ada oleh-oleh loh, tunggu bentar ya." Kalista langsung berjalan menuju kamarnya, mengambil paper bag yang sudah dipersiapkan khusu untuk dokter Fani dan dokter Rian.


"Apa ini?" Tanya dokter Fani ketika Kalista memberikan paper bag itu.


"Oleh-oleh! Buka nya nantinya di rumah." Perintah Kalista, oleh-oleh untuk dokter Fani dan dokter Rian lumayan nakal, mereka berdua pasti akan menjerit, jadinya Kalista menyuruhnya untuk di buka di rumah mereka.


"Kita kesini nggak lama, soalnya masih ada tugas di RS." Dokter Rian.


"Habis ini ke RS? Nebeng dong aku mau ke kantor suamiku."


"Boleh." Dokter Fani.


Kalista pergi ke dapur, memasukkan makanan hasil masakannya ke dalam kotak makan Tupperware. Setelah semuanya selesai, ia kembali ke kamar untuk mengambil tas kecil dan ponselnya.


"Duh perhatian banget nih bumil." Dokter Rian memperhatikan Kalista yang baru masuk ke mobilnya. Ditangannya ada beberapa kotak makan yang tersusun rapi. Tanpa bertanya pun dokter Rian sudah bisa menebak isi dari kotak makanan itu, dan pastinya untuk suami tercintanya.


Sebelum berangkat Kalista sudah berpesan pada pelayan untuk memberitahukan kepergiannya, jadi nanti Oma dan pak Anggara tidak akan panik ketika menyadari dirinya tidak ada di rumah.


"Yah ngelamun." Dokter Fani menepuk pelan punggung tangan Kalista.


Mobil telah sampai di depan gedung pencakar langit, Kalista sama sekali tidak menyadarinya. Pikirannya terlalu sibuk mencemaskan keadaan suaminya. Perjalanan itu sama sekali tidak terasa untuk Kalista.


Kalista melangkahkan kakinya masuk ke kantor, beberapa karyawan menyapanya termasuk juga resepsionis. Resepsionis itu juga mengatakan bahwa bapak Arka sedang memimpin rapat. Kalista mengangguk menandakan bahwa ia paham. Masuk ke dalam lift, lalu menekan tombol angka 5.


Ternyata memang benar Arka sedang memimpin rapat. Bahkan beberapa ruangan karyawan yang berada di lantai 5 pun tampak sepi. Gina juga tidak ada di meja kerjanya.


Kalista lebih memilih untuk menunggu Arka di ruangannya. Meletakkan kotak makanan di meja depan sofa. Kalista mengamati meja kerja suaminya, dan memang benar dugaannya sejumlah dokumen dan berkas-berkas sudah menggunung. Bahkan meja kerja suaminya itu sudah tidak memiliki ruang lagi walaupun hanya untuk menyimpan ponsel.


Di luar ruangan tampak ramai. Kalista mengintip melalui kaca, melihat beberapa karyawan sedang berjalan ke ruangannya masing-masing, sepertinya rapat telah usai.


Tiba-tiba Andy membuka pintu, diikuti oleh Gina di belakangnya. Di tangan mereka terdapat tumpukan dokumen dan berkas-berkas, lalu mereka menyusunnya di meja kerja Arka.


"Bapak masih di ruang rapat bu." Senyum Gina mengembang seraya berbicara dengan kalista, tangannya masih lincah menyusun dokumen.


"Iya nggak apa-apa." Jawab Kalista dengan tersenyum juga. Andy tidak mengatakan apapun, tapi tetap dia memberikan senyum simpul ketika melihat Kalista.


Pintu kembali terbuka, wajah Arka terlihat sangat kusut, tanda-tanda kelelahan terdapat di wajahnya itu. Setumpuk dokumen juga menggunung di tangannya. "Kamu ngapain kesini? Nggak bisa tunggu di rumah aja? Suami kamu itu lagi sibuk kerja." Bentak Arka, suaranya meninggi.


Tenggorokan Kalista seperti tercekat, matanya memanas. Suaminya yang sangat memanjakannya itu tiba-tiba berubah dalam sekejap. Sorotan matanya menatap Kalista sangat tajam seperti akan membunuh. Aura-aura kemarahan seperti sedang melekat di suaminya.


"Bawain makan? Nggak perlu! Disini banyak kantin, aku tinggal beli. Aku bisa sendiri!" Nada bicara Arka masih meninggi, kemudian dia pergi ke kamar yang ada di ruangannya, Arka akan bekerja di ruangannya.


Gina dan Andy sama-sama kaget melihat perlakuan Arka pada Kalista hari ini. Keduanya saling diam, tidak bisa membantu sama sekali karena ini urusan rumah tangga mereka. Kemudian Andy mengikuti Arka, membantunya menangani masalah yang sedang perusahaan alami.


Kalista masih berdiri di dekat jendela, hatinya bergejolak, ingin menjerit dan berteriak. Bagaimana bisa suaminya berkata seperti itu? Bahkan suaminya tidak menghargai usaha Kalista yang sudah membawakan makanan untuknya. "Kenapa harus membentak sih? Jika tidak mau dan tidak suka aku ada di ruangannya ini, atau aku mengganggu pekerjaannya kan bisa bilang baik-baik." Gumam Kalista dalam hatinya.


"Bapak lagi kecapean, mungkin pikirannya sedang kacau karena lagi ada masalah dalam pekerjaan." Gina mengusap punggung Kalista.


"Iya." Jawab Kalista datar sambil berusaha tersenyum.


"Ibu mau pulang? Biar saya carikan taksi, atau saya telepon supirnya bapak Arka." Tawar Gina.


Sebagai sesama perempuan, Gina tahu bagaimana keadaan hati Kalista sekarang, pasti ada sesak dan sakit hati. Walau bagaimana pun perempuan tidak suka di bentak.


"Tidak usah." Kalista berusaha mengatur gejolak di hatinya, kemudian pandangannya di alihkan menatap ke luar jendela. Kalista tidak akan bisa menahan laju air matanya jika terus menerus berbincang dengan Gina.


Gina menjadi serba salah dan harus gimana. "Saya permisi keluar bu." Ucap Gina, Kalista tidak menoleh, hanya kepalanya saja yang mengangguk.


Tangan Kalista berusaha mengusap satu bulir air mata yang telah jatuh membasahi pipinya. Rasa sesak sangat terasa mengganjal di hatinya.


Karena Kalista adalah mantan sekretaris pribadi Arka, Kalista pun melihat-lihat sejumlah dokumen dan berkas-berkas yang tertumpuk di meja Arka. Jari jemari Kalista sudah aktif dan lincah menari-nari di atas keyboard, Kalista berusaha membantu Arka. Sesekali Kalista mengusap wajahnya dan mengalihkan pandangannya. Sebenarnya Kalista merasa matanya telah lelah.


Tinggal dua dokumen yang belum Kalista ketik dan tindaklanjuti. Waktu menunjukan pukul 17:30, bentar lagi magrib. Kalista semakin mempercepat pekerjaannya, Arka bahkan tidak menyadari bahwa Kalista masih berada di ruangannya. Karena Arka dan Andy sama sekali tidak keluar dari ruangan itu, karena sibuk.


Kalista membereskan kembali tumpukan dokumen itu, mengambil tas kecilnya lalu menyampirkan nya di bahunya. Menyusun kembali kotak makan yang berada di atas meja, karena sama sekali tidak di sentuh oleh Arka.


Gina melihat Kalista yang baru saja keluar dari ruangan, Gina pun sama seperti Kalista, bersiap untuk pulang. Arka dan Andy mungkin akan lembur.


Taksi online pesanan Kalista sudah menunggu di depan gedung pencakar langit ini. Tanpa banyak omong Kalista segera masuk dan menyebutkan kembali alamatnya. Kalista berusaha berdamai dengan hatinya, namun tidak bisa. Bentakan Arka terngiang-ngiang begitu saja di kepala Kalista.


Kalista sama sekali tidak fokus, bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melamun. Perjalanan dari kantor sampai ke kediaman Anggara pun sama sekali tidak terasa.

__ADS_1


"Kok naik taksi online? Suami mu mana nak?" Ujar pak Anggara sedang duduk di kursi depan sambil menikmati secangkir teh.


"Lagi banyak kerjaan." Kalista tersenyum untuk menutupi keadaan hatinya.


"Nggak bohong kan sayang?" Oma berdiri dan memperhatikan raut wajah Kalista.


"Nggak dong! Suamiku lagi lembur, maklum ma kan di tinggalin seminggu, jadi kerjaannya numpuk." Kalista tersenyum ramah dan mengecup pipi Oma.


Setelah itu Kalista masuk ke kamarnya, membersihkan badannya sambil menangis terisak. Kalista tidak mempunyai tempat untuk menangis, pilihan kamar mandi menjadi yang paling tepat untuknya saat ini.


Kalista bilang sama Oma, sudah makan sore di kantor bareng Arka, dan bilang masih kenyang sehingga tidak mau makan malam.


Kalista benar-benar sakit hati untuk saat ini. Matanya bengkak dan hidungnya merah, ciri khas orang habis menangis. Menangis membuat matanya lelah, lalu Kalista pun tertidur di kamarnya, padahal ini baru jam 6 sore.


Sementara itu di kantor Anggara, Arka dan Andy baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Arka merentangkan kedua tangannya, berusaha meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Wadaw jam 7 malam." Ucapnya sambil keluar dari ruangan itu.


Arka memicingkan matanya, dokumen yang menggunung itu sudah rapih. Bahkan Arka melihat komputernya yang masih menyala, ternyata dokumen itu sudah ditindak lanjuti oleh Kalista, atau dalam artian semua pekerjaannya yang berhubungan dengan dokumen itu telah selesai.


"Palingan Gina yang mengerjakan ini semua." Andy berkata seolah tahu apa yang sedang Arka pikirkan.


Arka mengerutkan dahinya dalam. "Berterimakasih banget sih gue, tapi apa iya Gina seberani itu buat nyentuh komputer gue?" Jawab Arka penasaran, kalaupun benaran iya Gina yang menyelesaikan tugas ini setidaknya Arka merasa Gina kurang sopan.


"Coffee shop ayo!" Arka melonggarkan ikatan dasinya dan membuka kancing kerah kemejanya. Rambutnya sedikit berantakan, sudah tidak ada kesan rapi seorang CEO.


Tapi kalau para gadis melihatnya, pasti akan berkata Arka sangat tampan. Andy saja sebagai sesama laki-laki memang merasa bahwa Arka mempunyai pesona diatas rata-rata.


Ada apa dengan Arka hari ini?


Seperti bukan Arka yang biasanya, tadi siang membentak istrinya. Sekarang malah berdandan berantakan ala-ala CEO gaul di sebuah komik. Bahkan Arka sendiri yang mengendari mobil untuk sampai di Coffee shop.


"Wes CEO macam apa ini? Berantakan banget." Evan memperhatikan Arka yang baru saja datang ke coffee shop dan langsung bergabung begitu saja.


"Macam tokoh CEO di komik, kalau kata ciwi-ciwi sih bilangnya R O T I S O B E K" Andy menjawab pertanyaan dari Evan.


"Lu nongkrong nggak ngajak-ngajak, lupa sama sahabat bro?" Andy menepuk pundak Evan dengan sangat keras.


"Awwwwww sakit beg*, gue udah chat lu via WhatsApp tapi ya gitu malah nggak aktif!"


Arka menjentikkan jarinya, seorang waiters wanita yang masih muda menghampiri dan langsung mencatat pesanan Arka dan Andy.


"Riko mana?" Mata Arka celingak-celinguk mencari Riko, kedatangannya kali ini tidak di sambut oleh Riko.


"Masuk dulu, katanya ada yang mau di bicarakan sama managernya itu." Jawab Evan, namun matanya sama sekali tidak teralihkan dari layar ponsel yang sedang di tatapnya.


"Oh." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Arka.


Tidak lama setelah itu waiters datang membawakan pesanan Andy dan Arka. Kali ini Arka memesan segelas jus jeruk dan pizza, tidak memesan kopi seperti biasanya ataupun pancake.


Coffee shop milik Riko ini memang semakin berkembang, banyak menu baru. Tidak hanya kopi dan pancake saja, sekarang juga menyiapkan beberapa menu makanan.


Andy yang sibuk mengunyah, tiba-tiba matanya menangkap sekebet obat yang isinya lumayan banyak di kursi kosong tepat di sebelahnya.


"Apaan nih?" Andy mengambil obat di kursi tersebut kemudian memperlihatkannya pada Evan dan Arka.


"Nggak tahu, obat apaan sih banyak gini?" Obat itu telah berpindah dari tangan Andy kini berada di tangan Evan.


"Pil KB." Jawab Arka, suaranya tidak terdengar jelas karena mulutnya benar-benar penuh dengan makanan.


"Hah pil KB?" Ucap Andy dan Evan bersamaan, bahkan matanya sampai melongo kaget.


"Yoi bro! Dulu gue pas antar istri periksa kandungan, ada ibu-ibu yang lagi konsultasi tentang alat kontrasepsi buat yang udah melahirkan, dari situ gue tahu obat yang kaya gitu namanya pil KB." Jelas Arka.


"Tadi siapa yang duduk di situ?" Entah kenapa Arka malah bertanya begitu.


"Sejak sejam yang lalu gue datang ke sini, yang duduk di situ cuma Riko aja." Ujar Evan.


Tiba-tiba suasana kembali hening, diantara mereka sudah tidak tercipta obrolan-obrolan seperti biasanya, Arka dan Andy sibuk makan, sedangkan Evan sibuk dengan ponselnya.


"Nggak makan berapa hari lu? Gila kali lahap banget bro!" Riko menepuk pundak Arka sambil terkekeh.


"Pagi nggak sarapan, nggak makan siang, nggak makan sore, perut gue belum terisi makanan apapun dari pagi."


"Istrinya aja bawain makanan malah di bentak? Nggak tahu ada apa dengan bapak CEO kita ini." Celetuk Andy sambil menatap Arka jengah. Andy sama sekali tidak menyukai tindakan Arka tadi siang terhadap Kalista.


"Hah di bentak? Serius? Gue kira mereka couple goals, ternyata bisa galak juga ya lu sama bini lu." Evan menatap Arka seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan Andy, jelas-jelas Evan tahu betul bagaimana Arka memperlakukan Kalista pada waktu di Bali.


"Ternyata, nggak nyangka gue." Riko menatap Arka dengan tatapan tidak percaya.


"Gue capek! Kerjaan numpuk, belum lagi memang ada sedikit masalah di kantor. Dia malah datang ke kantor, sosoan bawain makanan, udah tahu lagi bunting nggak bisa apa ya diam aja di rumah. Gue takut anak gue di perutnya kenapa-napa." Jawab Arka dengan sangat santai, tangannya masih berperang dengan sendok dan garpu.


"Jadi lu lebih sayang anak lu daripada bini lu gitu ya? Tanya Riko.


"Ya bukan gitu juga sih, tapi...,"


"Tapi apa? Mau nyari pembelaan kaya gimana?" Evan berkata dengan sangat tegas.


"Iya tahu lu capek! Gue juga sama capeknya! Tapi cara lu salah bro, seharusnya lu hargai bini lu, bilang baik-baik tentang masalah kerjaan, suruh dia pulang dan terus lu ambil makanan yang di bawakan. Ini malah ngebentak, ngomong pakai nada tinggi, sosoan nggak mau ngambil makanan yang di bawain, alhasil sekarang kelaparan." Andy dengan sangat berani menasehati Arka, dan menoyor kepalanya.


"Nggak tahu ah pusing gue." Arka.


"Btw, ini punya siapa? Gue nemu di kursi yang lu duduki." Andy memperlihatkan pil KB itu pada Riko.


"Mana gue tahu! Lagian apaan itu? Gue nggak sakit, ngapain harus minum obat?" Jawab Riko berusaha menormalkan nada suaranya.


Arka memperhatikan gerak-gerik Riko, bahkan ekspresi kaget Riko pada saat Andy bertanya pun tidak luput dari pandangan Arka.


"Itu namanya pil KB, kalian tahunya alat kontrasepsi yang di pakai kaum-kaum seperti kalian doang sih." Cibir Arka.


"Btw, gue kira punya lu bro, soalnya ditemukan di kursi yang lu duduki." Arka sengaja berbicara seperti itu pada Riko, Arka hanya ingin memastikan ekspresi wajah Riko sekali lagi.


"Bukan punya gue! Palingan juga punya wanita yang tadi duduk di kursi ini sebelum gue!" Riko menjawab dengan sangat tegas.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! klik ❤ tambahkan favorit!


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2