SUN FLOWER

SUN FLOWER
MENCARI BUKTI


__ADS_3

Pak Anggara merasa teramat sangat kecewa terhadap kelakuan Arka di club malam itu. Wanita berpakaian seksi atau lebih tepatnya berpakaian sangat minim itu sedang mencium pipi Arka dengan sangat mesra. Pakaian yang di kenakannya mencerminkan dirinya seperti seorang *******, belahan dada yang ter-ekpose sangat jelas, bahkan panjang dressnya hanya sebatas paha dan ada belahan di pinggir pahanya.


Wajah murka dan aura menyeramkan terpancar dari wajah pak Anggara. Bola matanya menatap Arka dengan tatapan membunuh, bahkan bola mata itu seperti ingin loncat keluar dari kelopak matanya.


"Ayah jangan!" Kalista berteriak dan menghalangi wajah Arka. Karena pak Anggara akan menampar dan memukul Arka.


"Kamu mau ikutin jejak mama kamu hah? Ayah nggak ngajarin kamu seperti ini! Setelah apa yang telah kamu perbuat pada istri kamu, dan istri kamu dengan ikhlas memaafkan kamu. Sekarang kamu malah memberikan luka lagi? Kamu berselingkuh dengan wanita yang cantiknya 99% lebih rendah dari istri kamu? Buka mata kamu!" Pak Anggara menonjok dinding tembok kamar Arka, suaranya menggema dan menggelegar.


"Arka nggak selingkuh! Arka berani bersumpah!" Teriak Arka tak kalah kencangnya menanggapi ucapan pak Anggara.


Kalista mengusap punggung Arka, berusaha menenangkan Arka semampunya. Walau bagaimana pun Kalista tahu suaminya tidak mungkin berselingkuh, terlebih lagi Kalista juga mengetahui tabiat wanita yang dalam foto sedang mencium Arka itu.


"Ayah, Arka nggak selingkuh! Dan Arka nggak bakalan selingkuh! Kalista berani jamin dan percaya 100% pada arka. Wanita itu namanya Ashila, teman semasa Arka SMA. Kemarin waktu babymoon di Bali, kita nggak sengaja ketemu. Terlihat dari ekspresi dan tingkah lakunya wanita itu suka sama Arka, bahkan di hadapan Kalista aja dengan tidak tahu malunya wanita itu berani menggoda Arka." Kalista berusaha menjelaskan semampu yang Kalista tahu mengenai Ashila. Dan Kalista pun sangat percaya kepada Arka.


Tidak ada tanggapan dari pak Anggara, tetapi terlihat ekspresi wajahnya mulai melunak.


Tiba-tiba ponsel Arka berdering. Kalista meraih ponsel itu dan memberikannya pada Arka.


"Hallo, permisi pak mengganggu. Ini saya Gina, hari ini banyak sekali rekan kerja yang membatalkan kerjasama bisnisnya. Bahkan sepertinya saham perusahaan pun menurun, namun saya belum mengeceknya jadi belum tahu berapa persen menurunnya." Ucap Gina di sebrang telepon.


Arka menghembuskan napas kasar, mengusap wajahnya gusar. Hati dan pikirannya sedang kalut, seandainya saja dia lebih peka dan langsung meminta maaf pada Kalista, pergi ke club malam sampai menimbulkan gosip panas itu tidak akan terjadi.


"Saham perusahaan menurun 45%, dan bahkan akan menurun lebih drastis lagi kayanya kalau masalah ini belum clear dan belum ada klarifikasi. Banyak investor yang merasa kecewa, dan mencabut kembali saham yang telah mereka tanam." Ucap Andy yang baru saja memeriksa saham perusaan melalui laptop Arka yang berada di kamar itu.


"Arrrrghh sial!" Arka mengacak rambutnya frustasi.


"Semuanya tenang dulu! Pikiran cara yang terbaik dengan kepala dingin." Ucap Oma.


Evan dan Riko dalam hal ini sama sekali tidak bisa membantu. Semuanya pilihan ada pada Arka, benar tidaknya foto itu pun hanya Arka yang tahu.


"Aku berani sumpah aku nggak selingkuh! Dan aku nggak tahu kenapa bisa ada foto itu?" Arka merengek seperti anak kecil sambil menatap manik mata Kalista. Hal yang terberat bagi Arka adalah takut Kalista tidak percaya pada dirinya.


"Aku percaya! Tenangkan hatimu, jangan panik! Kita pikirkan bareng-bareng pemecahan masalahnya dan jalan keluarnya." Kalista mengusap satu bulir air mata yang lolos keluar dari kelopak mata Arka.


Ponsel Arka kembali berbunyi, namun kali ini bunyinya menandakan satu notip pesan masuk.


[ Surprise baby! Media cetak ataupun media elektronik sedang memperbincangkan kisah asmara kita tadi malam, bahkan sebentar lagi paparazi akan sibuk mencari kita berdua sayang. Telepon aku sekarang, jika ingin masalah ini cepat selesai. I love you, Ashila ]


Begitulah isi pesan dari Ashila, bahkan Arka sampai membanting ponselnya karena merasa geram pada Ashila.


"Fu*k bit*h! Dasar iblis setan jahanam!" Arka mengamuk dan melemparkan bantal ke sudut tembok kamar.


"Telpon sekarang! Ayah nggak mau masalah ini berlarut-larut, terlebih lagi ayah nggak mau perusahaan yang telah ayah bangun dengan susah payah hancur begitu saja hanya gara-gara wanita ******!" Perintah pak Anggara dengan tegas!


Selain takut perusahaannya bangkrut, pak Anggara sebenarnya lebih mengkhawatirkan masa depan Arka. Kalau perusahaan bangkrut, dengan otak cerdas dan pemikiran yang luar biasa yang di miliki Arka, pak Anggara yakin 100% Arka pun mampu untuk membangun kembali usahanya. Namun yang membuat pak Anggara cemas adalah takut Arka tidak mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan kerabat kerjanya. Akan sangat percuma membangun kembali perusahaan, sedangkan kerabat kerjanya tidak memberikan kepercayaan, itu artinya tidak ada yang mau menanam saham dan tidak ada yang mau bekerja sama dengan perusahaannya.


Arka mengambil kembali ponsel itu lagi, dan bersiap kan menghubungi Ashila. Entah darimana Ashila si wanita ular berbisa itu bisa mendapatkan nomor ponsel Arka. Arka saja sampai saat ini masih bingung mengenai hal itu.


"Jangan di telepon! Ini jebakan! Sekarang kita tunggu agar dia yang menghubungi duluan, kita jebak balik dia!" Ucap Kalista dengan napas yang memburu. Kalista juga sangat emosional sekali melihat suami tercintanya di jebak oleh Ashila.


"Kalau dia tidak menghubungi Arka gimana? Dengan kondisi kacau balau kaya gini, kita mana bisa hanya berdiam diri?" Ucap Riko gusar, Riko menginginkan masalah yang menimpa Arka cepat clear.


"Dilihat dari mimik wajah Ashila, apalagi aku sedikit tahu tabiatnya ketika di Bali, aku yakin satu atau dua jam kedepannya Ashila akan menghubungi Arka." Ucap Kalista.


"Sekarang boleh minta tolong kak Evan dan kak Riko nggak?" Tanya Kalista, manik matanya menatap Evan dan Riko.


"Boleh, apa?" Jawab Evan dan Riko kompak bersamaan.


"Kalian berdua pergi ke club malam, minta rekaman cctv tadi malam. Aku yakin sebenarnya Ashila pasti sudah meminta rekaman itu dan mengeditnya dengan versinya sendiri dan tentunya juga memberikan bayaran yang fantastis. Maka dari itu, kalian berdua harus sedikit bekerja keras. Jika pemilik atau manager dari club malam itu tidak memberikannya, kalian ancam atau gimana kek terserah kalian. Yang penting kalian dapatkan rekaman cctv itu." Kalista memberi arahan pada Evan dan Riko.


"Oke!" Jawabnya datar. Evan dan Riko sangat paham dengan arahan yang Kalista berikan. Mereka berdua pun langsung berangkat ke club malam itu.

__ADS_1


Kini di kamar hanya Oma, pak Anggara, Arka dan Kalista. Oma dan pak Anggara duduk di tepi ranjang Arka. Mereka menatap Kalista dengan tersenyum, baginya Kalista adalah matahari, sumber cahaya masa depan Arka yang cerah dan cerdas.


"Maaf ya dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini." Oma mengusap rambut Kalista pelan.


"Nggak apa-apa Oma, walau bagaimana pun kan Kalista istrinya Arka, setiap masalah yang menimpa Arka berarti itu masalah Kalista juga. Lagian Kalista percaya, suamiku tersayang nggak mungkin berselingkuh." Kalista menggenggam erat jemari Arka.


"Dan sampai kapan pun Kalista akan selalu ada di samping Arka, menemaninya dalam suka dan duka, badai seperti apapun pasti akan berlalu jika kita melewatinya bersama-sama." Imbuhnya lagi.


"Benar-benar beruntung kamu nak, mendapatkan istri yang seperti bidadari." Pak Anggara menepuk punggung Arka.


Arka tersenyum menatap Kalista, kemudian mencium keningnya. "Sayang, do'akan agar masalah yang sedang ayah hadapi cepat selesai, dan do'akan agar mamamu bisa cepat pulih." Tangan Arka mengusap perut buncit Kalista dengan sangat lembut.


Ada pergerakan begitu saja dari perut buncit itu, seperti sedang menendang-nendang. Mungkin mereka mengerti dengan ucapan Arka, dan mereka setuju untuk mendoakan ayah dan mamanya.


"Kalau boleh tahu, ketika nanti Ashila menelpon. Apa yang akan kita lakukan?" Tanya pak Anggara, pak Anggara sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu apa rencana Kalista setelah ini.


"Ketika Ashila menelpon kita loud speaker suaranya biar terdengar jelas, lalu kita rekam untuk dijadikan alat bukti ketika jumpa pers nanti. Mungkin ayah bingung, apa yang akan di jadikan buktinya? Jadi begini yah, nanti ketika Ashila menelpon, Arka sebisa mungkin harus menahan amarahnya dan gejolak di hatinya untuk tidak berbicara satu patah katapun. Dan Kalista yakin, Ashila akan geram dan berbicara panjang lebar mengenai apa yang sudah di lakukannya tadi malam."


"Luar biasa kamu ini nak." Ucap pak Anggara dengan mata berbinar.


Satu jam telah berlalu, belum ada tanda-tanda Ashila akan menghubungi Arka. Evan dan Riko pun belum kembali, padahal Kalista sangat berharap Evan dan Riko bisa membawa pulang rekaman cctv di club tadi malam. Permasalahan ini akan cepat kelar jika bukti dari rekaman cctv itu ada.


Pak Anggara mondar-mandir terus di kamar Arka, bahkan sering kali dirinya memantau internet. Nama Arka sedang berada diambang kehancuran, dan banyak sekali komentar-komentar negatif dari para netizen. Bahkan para rekan bisnis saja mengomentarinya dengan kata-kata menohok hati.


Berkali-kali Arka mengusap wajahnya kasar, mengacak rambutnya frustasi, dan bahkan menonjok dinding untuk melampiaskan amarahnya.


Oma tidak henti-hentinya menangis, Oma sangat takut dan cemas akan keadaan hari ini. Lebih takut lagi kalau permasalahan ini tidak mencapai titik terang.


"Nggak usah panik, nggak usah gusar! Semuanya tenangkan hati dan pikiran, kita serahkan semuanya kepada yang maha kuasa, karena semesta tahu apa yang terbaik untuk kita." Satu kalimat yang keluar dari mulut Kalista terdengar sangat lembut dan menyejukkan jiwa, benar-benar kalimat yang ampuh menenangkan.


Kalista mengusap lembut rambut Arka, mengusap punggung Arka. Dan menggenggam erat jemarinya. "Jangan panik, aku selalu ada untuk support kamu dalam kondisi apapun." Kalista mencium pipi Arka dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Arka.


Sunset dan langit-langit kemarahan sudah terlihat, itu menandakan bahwa siang akan berganti malam. Sudah hampir pukul 18:00 WIB Ashila sama sekali belum menghubungi Arka. Evan dan Riko pun belum kembali dari club malam.


Terdengar bunyi klakson dari luar rumah, terdengar dari suaranya sepertinya itu mobil Evan. Evan dan Riko masuk ke kamar Arka dengan napas ngos-ngosan, guratnya wajahnya terlihat bahwa mereka kelelahan dan bahkan ada satu tanda biru di wajahnya.


"Gimana?" Tanya Arka penasaran.


"Aman! Kita dapat rekaman cctvnya." Jawab Riko dengan napas ngos-ngosan dan tersenggal-senggal.


"Alhamdulilah." Ucap pak Anggara dan Oma bersamaan.


Mereka langsung melihat rekaman cctv itu, terlihat dari rekaman itu Arka sedang duduk di salah satu meja, tiba-tiba Ashila datang menghampiri dan langsung memeluk dan mencium Arka sangat mesra. Walau dalam keadaan mabuk Arka tidak berdiam diri, Arka mendorongnya dengan sekuat tenaga hingga Ashila itu jatuh tersungkur di lantai.


Terlihat jelas dari rekaman cctv, ketika Ashila terjatuh dia tidak marah, malahan tersenyum menyeringai menatap Arka. Lalu berlalu meninggalkan Arka dan keluar dari club malam tersebut.


"Nah kan benar dugaan aku, lihat aja tuh si Ashila ketika di dorong sampai jatuh dia tidak marah, malah tersenyum menyeringai. Itu artinya, Ashila memang sudah merencanakan semua ini. Bahkan aku sampai berpikir, jangan-jangan Ashila ngikutin Arka dari semenjak di Bali, dan hari kemarin kayanya Ashila benar-benar ngikutin Arka deh, buktinya dia bisa tahu Arka ada di club malam." Ucap Kalista.


Lagi-lagi ucapan Kalista masuk akal dan memang benar begitu adanya. Semuanya setuju dengan penafsiran Kalista, bahkan pak Anggara saja sampai merasa jijik ketika melihat Ashila datang menghampiri Arka dan langsung menciumnya dengan mesra.


"Menjijikan! Benar-benar wanita tidak tahu malu." Ucap Oma dengan bariton suara yang cukup tegas.


"******!" Lagi-lagi Arka menonjok tembok untuk mulaupakan emosinya yang sedang mendidih dan bergejolak.


Draaaaaaft... Draaaaaaft.. ponsel Arka bergetar. Notif pesan masuk.


[Temui gue di komplek perumahan mawar! S E K A R A N G ! Kalau nggak datang lu tahu lah ya akibatnya.]


Satu pesan yang berisi ancaman dari Ashila. Sepertinya sekarang Ashila mulai jengah karena Arka tidak merespon pesannya, buktinya pesannya sangat datar dan penuh ancaman. Tidak seperti pesan sebelumnya yang mengatakan sayang.


"Biarin aja! Lama-lama dia jengkel, dan dia juga yang nantinya akan menelpon. Kita tunggu aja!" Ucap Kalista dengan sangat yakin.

__ADS_1


"Sekarang aku lapar, terakhir kali makan tadi siang. Sekarang sudah waktunya makan malam. Lupakan sejenak masalah yang sedang terjadi, tubuh kita butuh asupan makanan untuk stamina dan menambah energi untuk melawan Ashila." Ujar Kalista.


Memang tidak bisa di pungkiri, lagi-lagi perkataan Kalista memang benar. Terlebih lagi dirinya sedang mengandung, akan sangat tidak baik jika telat makan.


Arka menggendong Kalista menuju ke meja makan. Mendudukinya di kursi sebelahnya. Kaki Kalista masih bengkak dan lukanya belum kering, akan sangat menyakitkan jika dibawa berjalan.


Walaupun sebenarnya Arka, Oma dan pak Anggara sedang tidak ada mood untuk makan. Tapi demi Kalista mereka berusaha makan senormal mungkin. Bisa di bayangkan makan ketika sedang di rundung masalah, makanan seenak apapun akan terasa hambar.


Ketika makan sedang berlangsung, ponsel Arka kembali berbunyi. Nomor tidak di kenal terpampang jelas di layar ponsel Arka. Kalista yakin itu adalah Ashila.


Dengan sangat gesit Evan dan Riko bersiap untuk merekam percakapan telepon itu. Andy juga ambil bagian dengan mensetting kamera untuk mengambil video bahwa mereka sedang makan malam dengan kondisi normal seperti biasanya ketika Ashila menelpon.


Semuanya terdiam dan hening, tidak boleh ada yang bersuara sedikitpun. Garpu dan sendok yang sebelumnya sedang berperang diatas piring pun kini menurut atas perintah Kalista. Kalista dengan penuh pertimbangan dan perhitungan, lalu menyuruh Arka untuk mengangkat telepon itu.


"Gue udah nunggu lu datang ke komplek perumahan mawar, tapi lu malah nggak datang. Lu mau nama lu hancur, dan perusahaan lu juga hancur ya." Ashila berbicara dengan sangat lantang sedikit berteriak, suaranya melengking seperti orang yang sedang frustasi.


"Arka? Lu ngomong dong! Gue tuh sayang banget sama lu, kalau lu mau perusahaan lu selamat lu harus nikahin gue, dan tinggalin istri lu yang so kecakepan itu." Ucapnya.


Kalista?


Kalista yang mendengar dirinya dikatakan 'So Kecakepan' sontak saja langsung bercermin melalui layar ponselnya, memanyunkan bibirnya, tersenyum, bahkan mengedipkan sebelah matanya.


Oma yang memperhatikannya sampai geleng-geleng kepala. "Kamu memang cakep nak! Dia yang sebenarnya so kecakepan." Bisik Oma di telinga Kalista. Kalista hampir saja meledakkan tawanya, namun segera ia tahan dengan membungkam mulutnya.


"Arka gue punya bukti yang di club malam! Lu dengan kurang ajarnya menjamah tubuh gue, mencium paksa, bahkan tangan lu malah menyentuh dada gue. Arka please nikahin gue, kalau sampai bukti ini bocor lu akan hancur Arka, lu akan hidup menderita selamanya." Suaranya sosoan di sedihin, ada suara Isak tangis juga. Pasti Isak tangis penuh kepalsuan.


"ARKA! LU TULI." Kali ini suaranya lebih keras dari yang sebelumnya, siapapun yang saat ini berada di dekat Ashila pasti akan menutup telinganya, atau mungkin telinganya kaget mendengar jeritan suara iblis.


"Lu nggak mau respon gue? Oke nggak apa-apa! Lagipula gue sangat-sangat ingin melihat lu jatuh miskin, gembel melarat, hidup serba kekurangan, dan mungkin lama-lama lu frustasi. Istri lu? Dia akan pergi meninggalkan lu, dan akan memilih laki-laki kaya yang bisa menghidupinya." Imbuhnya lagi.


Kalista mendekatkan bibirnya ke telinga Arka. "Apapun kondisimu, aku akan selalu ada, support, dan akan selalu menjadi istrimu dan hidup bersamamu bersama anak-anak kita, selamanya! Sampai maut memisahkan!" Bisiknya di telinga Arka, tak lupa Kalista pun memberikan satu kecupan di pipi Arka.


"Lu mau nyari pembelaan? Lu mau nyari bukti? Percuma! Lu datang ke club malam juga percuma, semuanya udah gue setting dan edit. Walaupun sebenarnya lu nggak salah, tetap aja lu akan terlihat salah. Gue masih berbaik hati sama lu, gue tunggu kedatangan lu ke komplek perumahan mawar, malam ini!"


Tut...Tut...Tut..


Sambungan telepon langsung di putus begitu saja oleh Ashila.


"Gila gila parah! Dasar ular berbisa, gue sampai kehilangan selera makan gara-gara mendengar suaranya." Celetuk Riko.


"Ngeri banget ya! Heran gue kenapa semesta menciptakan satu makhluk seperti itu?" Saut Evan.


"Sudah-sudah! Bukti sudah kita dapatkan! Mari makan dengan tenang, dan lahap!" Ucap Kalista yang langsung saja memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.


Semuanya pun melanjutkan makan, cahaya itu telah bersinar terang. Oma sangat bersyukur, semua dugaan Kalista memang benar, wanita itu seperti ular berbisa. Riko yang katanya kehilangan selera makan pun, kini malah nambah lagi.


"Bukti memang sudah ada! Tapi Arka minum di club malam itu akan terbongkar. Walaupun bukti itu dikeluarkan tetap saja kan nama Arka akan tercoreng." Tiba-tiba pak Anggara berkata seperti itu setelah menyelesaikan makan malamnya.


Arka kembali lesu, wajahnya tertunduk. Kali ini benar-benar kesalahannya. Mungkin para rekan bisnisnya akan menjauhinya.


"Oh tenang, Kalista sudah memikirkan alibi untuk itu. Tetapi kali ini Kalista agak sedikit menjadi orang jahat." Ucapnya sambil menatap manik mata pak Anggara.


"Alibinya?" Tanya pak Anggara. "Orang jahat?" Imbuhnya lagi sambil menautkan sebelah alisnya.


"Dengan mengkambing hitamkan Ashila, maaf-maaf aja deh Ashila jadi kena batunya, ya mau gimana lagi? Hitung-hitung memberinya pelajaran aja. Salah dia sendiri kan? Siapa suruh coba menyebarkan foto jelek begitu." Kata Kalista.


"Pokonya kalian tenang saja! Tunggu saja alibi yang akan aku keluarkan." Imbuhnya lagi.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! klik ❤ tambahkan favorit 🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2