
ONE DAY WITH GINA
Cinta adalah sebuah perasaan yang muncul dari hati, perasaan yang sangat lembut dan ingin memiliki, namun terkadang cinta juga bisa menyakitkan hati.
Hari terus berganti, tidak terasa Andy dan Gina sudah sangat dekat. Chatting daily atau pun makan di luar sudah sering mereka lakukan.
Weekend kali ini Andy akan mengajak Gina untuk menghabiskan waktu bersama.
Pagi-pagi sekali Andy telah terbangun dari tidurnya, membersihkan kamar tidurnya, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Andy orangnya disiplin, membersihkan kamar adalah suatu hal yang sangat mudah dan tidak perlu meminta bantuan pembantu.
Selesai berpakaian, Andy tampak sibuk menata rambutnya. Berdiri sangat lama di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Bahkan Andy sudah mengganti pakaiannya berulang kali.
Celana jeans hitam, kaos putih, dan sepatu all star menjadi pilihannya. Andy tampak sangat tampan dengan pakaian casualnya itu.
"Gina terpesona nggak ya sama penampilan gue?" Gumamnya, matanya masih berfokus menatap cermin sedangkan tangannya sibuk merapikan rambutnya.
Ini pertama kalinya Andy mengajak Gina keluar di hari weekend, biasanya sih jika sedang istirahat kerja atau pun pas pulang kerja.
Andy membawa Alphard kesayangannya. Kesayangan? Ya, soalnya Alphard itu di beli pakai uangnya sendiri, hasil kerja kerasnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Andy pun menyalakan musik, agar dirinya merasa tenang. Sejak meninggalkan rumah akan menjemput Gina, hati Andy sangat terasa dag dig dug, debaran jantungnya memompa lebih cepat, bahkan keringat dingin membasahi telapak tangannya.
Mobil telah sampai di alamat yang telah Gina sebutkan, sebuah kompleks perumahan. Namun Andy bingung karena lupa menanyakan nomor rumahnya.
Ketika Andy mengambil ponsel dan akan menghubungi Gina, gadis itu lebih dulu melambaikan tangannya nya. Andy menatap tak percaya.
"Itu Gina?" Matanya masih terus mengamati di dalam mobil.
Andy melajukan mobilnya perlahan, dan turun tepat di halaman rumah bercat hijau tosca. Di halaman rumah itu berdiri gadis cantik yang tidak lain adalah Gina.
Menggunakan dress berwarna merah, sepatu putih, rambut tergerai indah. Dibahunya tersampir tas kecil. Wajahnya benar-benar hanya menggunakan make up natural.
"Kak, ih ko bengong sih?" Gina melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Andy.
"Ah sorry!" Jawab Andy gelagapan.
Andy dibuat terkesima oleh gadis cantik ini. Bagaimana mungkin gadis itu berubah menjadi sangat cantik? Jauh berbeda dengan penampilannya saat di kantor.
"Kita mau jalankan? Ayo dong! Kalau diam terus nanti keburu siang." Cerocos Gina, baru tahu Andy ternyata Gina juga bisa sebawel Kalista.
Andy menatap Gina, kemudian matanya beralih menatap rumah yang bercat hijau tosca itu. "Orang tua lu? Gue perlu izin dulu, nggak mau dong gue nanti di anggap menculik anak gadisnya." Ucap Andy.
"Mama nggak ada di rumah, dia pergi ke rumah temannya, mau arisan." Ujarnya, senyuman manis itu masih belum luntur menghiasai pipinya.
Andy mengangguk kan kepalanya, tanda paham. Kemudian "Bokaf lu?"
"Bokap gue lagi di rumahnya bersama istri barunya dan anak tirinya." Ucap Gina, raut wajahnya terlihat biasa saja. Tidak ada ekspresi wajah sedih, mungkin sudah terbiasa seperti itu atau Gina memang sengaja menyembunyikan wajah sedihnya.
"Gue anak broken home!" Imbuhnya lagi.
Pandangan Andy menyipit, kemudian tangannya meraih tangan Gina. Di genggam lah tangan itu. "Sorry gue nggak tahu!" Ucap Andy.
"Iya nggak apa-apa kak."
"Jadi berangkat kan ini?" Tanya Gina lagi.
"Mama lu ngizinin nggak?"
"Gue udah izin kok, kata mama jam 8 malam harus udah ada di rumah."
"Yasudah kalau gitu, ayo naik." Ajak Andy.
Gina masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Andy yang sedang fokus mengemudi.
Diam-diam Gina memperhatikan Andy, ada yang beda dari lelaki ini. Jas yang biasanya menempel di tubuhnya, hilang entah kemana. Lelaki ini tampak gagah dengan pakaian casualnya, aroma parfumnya bahkan sangat menusuk hidung Gina.
"Sekarang kita kemana ya gin?" Ucap Andy, matanya masih fokus menatap jalanan.
Gina mengerucutkan bibirnya, sorotan matanya tajam, bahkan Gina menautkan sebelah alisnya.
"Loh kan Kaka yang ngajak jalan, emang Kaka belum buat planning untuk hari ini?"
"Belum hehe." Andy menjawab sambil memberikan senyum bodohnya.
"Udah makan?"
"Belum."
"Oke, sekarang kita ke tempat yang seru."
Andy melajukan mobilnya kembali, Gina kurang paham ini mobil melaju ke daerah mana. Jalanan tampak padat merayap.
Macet!
"Kemana sih kak?"
"Bawel!"
Gina kembali diam, malah dia sibuk menatap layar ponselnya. Sesekali matanya melirik jalanan melalui kaca mobil.
Mobil berhenti tepat di pinggir jalan, jalanan tampak di penuh oleh orang-orang yang sedang berkerumun dan bergerombolan berjalan kesana kemari.
"Ayo turun!" Ajak Andy sambil melepaskan sabuk pengaman.
Andy mencondongkan badannya pada Gina, Gina terperanjat kaget, hatinya berasa mau copot. Detak jantungnya memompa tiga kali lebih cepat, dan Gina tidak mampu mengendalikan itu.
"Nggak mau turun, atau nggak mau lepas sabuk pengaman nih?" Ujar Andy dengan santainya sambil melepaskan tali pengaman.
Andy menyadari sesuatu, detak jantung Gina sampai terdengar di telinga Andy. Bahkan napasnya pun memburu.
"Boleh tau nggak, pas gue bukain sabuk pengaman lu mikirin apaaan?" Andy menatap Gina dengan senyum menggoda.
"Nggak mikirin apa-apa!" Ketusnya lalu turun dari mobil. Tapi mukanya sudah berubah warna menjadi merah.
Andy pun turun, Gina menatap heran.
"Tempat apa sih ini?" Tanyanya heran, matanya masih menjelajahi jalan yang sangat ramai di penuhi oleh manusia-manusia.
"Festival jajanan pasar!"
"Gue yakin lu pasti suka, makanannya enak-enak kok." Imbuhnya lagi.
Andy tanpa permisi langsung menggenggam jari jemari Gina. Menelusuri setiap kedai-kedai yang menjual makanan, berjejer rapi di pinggir jalan.
Gina tidak banyak berkomentar, dia hanya mengikuti langkah kaki Andy. Langkah Andy terhenti tepat di depan kedai yang menjual bakso bakar dengan bumbu balado.
Wangi dari bakso yang di bakar ditambah lagi dengan bumbu balado sangat menggugah selera, Gina pun tertarik untuk mencicipinya.
Tapi sayang, kedai ini sangat laris manis di kerubungi para pembeli. Antrian sangat panjang dan berdesakan. Andy memegang bahu Gina, mendorongnya perlahan demi perlahan melalui celah-celah sempit, hingga kini Gina dan Andy sudah berada di barisan depan.
"Ada diskon untuk pasangan kekasih!" Ibu penjual bakso bakar ini tersenyum hangat menatap Gina dan Andy.
"Sayang mau berapa tusuk!" Kalimat yang keluar dari mulut Andy sangat lembut.
"10 aja!" Ujar Gina dengan wajah memerah, entah mengapa ucapan Andy barusan cukup membuat jantung Gina berdebar-debar.
Setelah selesai membayar, Andy kembali lagi memegang bahu Gina untuk berjalan keluar dari kerumunan orang-orang ini. Karena berdesak-desakan di tambah lagi dengan cuaca panas, sehingga buliran keringat kuar dari dahi Gina.
"Panas ya! Maaf ya gue bawa lu ke tempat gini." Andy mengusap keringat itu dengan telapak tangannya.
"Nggak apa-apa kak, gue suka!" Jawabnya.
Andy membawa Gina untuk duduk di bawah pohon yang sangat rindang. Dibawah pohon ini sangat sejuk.
"Duduk dulu! Gue kesana dulu bentar, lu tungguin ya!"
Andy langsung pergi ke kedai yang menjual es kelapa muda, es kelapa muda di sini sangat berbeda dengan es kelapa muda yang di jual di restoran-restoran mewah. Karena es kelapa muda di sini hanya menggunakan gula merah sebagi campurannya, ditambah dengan es batu biar dingin dan segar. Sehingga es kelapa muda ini masih terjaga keasliannya.
Andy kembali lagi menerobos kerumunan orang-orang itu untuk bisa keluar dari kedai es kelapa muda ini.
"Nih minum!" Napas Andy tersenggal-senggal karena cape karena berlari kecil, takut Gina menunggu dengan rasa bosan.
"Duduk sini kak!" Gina menepuk tempat di sebelahnya.
Andy duduk di sebelah Gina, punggungnya ia sandarkan ke batang pohon rindang itu.
Gina sangat menikmati bakso bakar itu, sesekali bibirnya menyeruput es kelapa muda. Andy juga menikmatinya, bukan hanya menikmati makanannya tapi menikmati pemandangan indah di sebelahnya.
"Enak banget kak! Kok aku baru tahu ya ada festival jajanan pasar. Lain kali bawa aku ketempat gini lagi ya, seru!" Ujar Gina antusias, mulutnya sibuk mengunyah bakso bakar itu.
"Masih ada lain kali lah?"
"Emang kakak nggak mau ngajak aku lagi ya?" Mata Gina menyipit.
"Mau kok." Andy langsung mengusap lembut puncak kepala Gina.
__ADS_1
"Mau apalagi? Gue beliin! Lu tunggu aja di sini!"
"Gue ikut aja!"
"Jangan, nanti lu kecapean. Gue masih mau ngajak lu ke suatu tempat!"
"Hmmm.. gitu"
"Jadinya mau beli apa?"
"Apa aja deh yang penting enak, gue jarang keluar rumah dan kurang paham juga sama jajanan pasar." Jawabnya dengan senyum kamu.
"Oke, tunggu!"
Lagi dan lagi Andy berjuang menerobos kerumunan orang-orang yang berkerumun berdesakan, Andy membeli cilok, cireng, batagor, cimol, dan aneka-kue basah.
Beberapa bungkusan kresek makanan berada di tangannya, kemudian dia membeli es jeruk.
Gina sangat antusias kembali, ada beberapa makanan yang katanya baru di cobanya hari ini. Segelas es jeruk itu di seruputnya tanpa tersisa.
"Makasih kak, semuanya jadi berapa?"
Andy menatap Gina, tatapannya sangat tajam menusuk. Tangannya menangkup di pipi Gina. "Gratis! Gue yang ngajak jalan berarti gue yang bayarin!"
Setelah istirahat beberapa saat, Andy pun mulai mengajak Gina masuk ke mobilnya. Melajukan mobilnya meninggalkan jalanan yang ramai itu.
"Sekarang kita kemana?" Tanyanya sambil memperhatikan bagian samping wajah Andy.
"Hmmm, rahasia dong!" Jawab Andy sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Rahasia-rahasiaan mulu nih!"
Setelah mengakhiri percakapan itu, keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing.
Mobil melaju ke sebuah pantai yang sangat indah. Pantai ini sangat menjaga kebersihannya, air nya sangat jernih. Pengunjungnya juga tidak terlalu banyak, sehingga berada di pantai ini terasa sangat nyaman.
Begitu turun Gina langsung membentangkan kedua tangannya, rambutnya berantakan karena tertiup angin sepoi-sepoi. Menengadahkan wajahnya menatap langit yang sangat indah.
"Keren banget sih nih pantai, udah lama nggak pernah ke pantai lagi." Ujarnya sambil tersenyum riang, tangannya sudah sibuk bermain pasir.
"Ya ampun, gue nggak bawa sunblock." Ujarnya, kemudian berlari berlindung di bawah pohon rindang.
Andy tanpa babibu langsung mengeluarkan sunblock dari dashboard mobilnya.
"Nih!" Mengulurkan sunblock pada Gina.
"Tuh kan kakak tuh keren! Dan selalu siap sedia." Tangannya mengambil sunblock dan mengoleskannya pada tangan, kaki, leher, dan wajahnya.
Setelahnya dia langsung sibuk bermain pasir, bahkan sampai membuat istana pasir. Andy menatapnya bingung, sudah segede itu ke pantai masih main pasir buat istana-istanaan? Biarlah yang penting Gina bahagia.
Waktu terus bergerak, tanpa terasa kini sudah pukul empat sore hari. Mau tak mau Andy langsung mengajak Gina untuk mengakhiri permainan pasirnya.
"Ih padahal gue mau lihat sunset." Bibirnya manyun merasa bete karena Andy mengajak nya pulang.
Andy mengusap pelan pipi Gina. "Nanti gue bakalan ngajak lu lihat sunset, kalau sekarang waktunya mepet, lagi pula masih ada satu tempat terakhirnya yang akan kita kunjungi." Andy memasangkan sabuk pengaman. Kini Gina sudah berada di dalam mobil dan duduk di sebelah Andy.
"Benarkah? Asyik pasti seru!" Jawabnya antuasias tangannya menggenggam tangan Andy.
"Terimakasih loh kak, hari ini sangat seru dan menyenangkan." Ucapnya.
Diluar dugaan, Andy mengira Gina adalah sosok perempuan dewasa, tapi ternyata Gina hanyalah seorang gadis yang sangat menyukai kebahagiaan. Gina di kantor dan Gina di rumah ternyata sangat bertolak belakang.
"Baju lu kotor, perlu ganti nggak?"
"Nggak usah kak, kalau ganti nanti mama pasti bakal mikir aneh-aneh!" Ujarnya lirih.
"Lu jarang keluar rumah ya?" Tanya Andy hati-hati, karena Andy tahu banget ekspresi Gina saat di festival jajanan pasar dan saat di pantai. Bagaikan orang yang di penjara, sekalinya bebas dan melihat alam sekitar pandangannya sangat menakjubkan.
"Iya jarang, nggak boleh sama mama. Palingan ke kantor doang, kalau pun makan diluar sama kakak juga itu gue curi-curi waktu!" Jawabannya sangat terang-terangan dan polos apa adanya.
Andy hanya tersenyum menanggapinya. Entah apa yang di lakukan gadis cantik di sebelahnya itu, sehingga mamanya melarangnya untuk keluar rumah. Mungkin mamanya takut anak gadisnya di culik atau takut anaknya mempunyai teman nggak benar.
Ternyata Andy mengajak Gina ke bioskop untuk menonton Toko Barang Mantan. Saat sedang mengantri untuk membeli tiket, tiba-tiba datang seorang pria yang usianya 50 tahunan menghampiri dan menepuk pundak Gina.
"Gitu dong keluar rumah, main! Masa anak gadis selalu berada di kamar. Darimana sih baju kotor banget, mamamu nggak belikan baju baru? Jangan terlalu nurut sama mama!" Ucapannya itu terdengar santai, bahkan dari mulutnya itu masih terdengar tawa meledek.
"Apa pedulimu huh! Kalau nggak nurut sama mama terus gue nurut sama siapa hah? Sama kamu? Pria yang sudah meninggalkan mama dan gue! Dasar pria nggak punya hati!"
Seketika Andy menjadi paham, bahwa pria itu adalah ayahnya Gina. Andy segera menjauhkan Gina dari pria yang ternyata ayahnya itu.
Andy menoleh kembali pada pria itu, dia datang bersama seorang wanita yang umurnya hampir setara, tetapi wanita itu terlihat sangat seksi dengan pakaian yang menampilkan detail lekuk tubuhnya.
Gina menangis sesenggukan, bahu Andy sampai lengket dan basah. Mungkin selain ketumpahan air mata, bahu Arka juga ketumpahan ingus yang keluar dari hidung Gina. Terisak-isak dan sesenggukan sangat kencang, Andy sampai nggak tahu harus berbuat apa.
Lama Gina menangis, Andy hanya bisa menenangkannya dan memberikannya rasa nyaman. Seperti lelekai pada umunya Andy pun membelikan permen kapas, agar gadis di sampingnya itu tidak menangis lagi.
Karena menangis terlalu lama, Gina sampai tidak menyadari bahwa ini sudah jam sembilan malam.
Ponselnya berdering, Gina segera kembali pada kesadarannya.
"Iya hallo, Gina di jalan ma, macet."
"Iya-iya ini udah dekat kok."
"Gawat kak! Mama bakalan ngamuk!" Gina langsung menarik tangan Andy, lalu masuk ke mobilnya.
Andy melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, agar cepat sampai di komplek perumahan yang Gina tinggali.
Mobil telah sampai, tepat di halaman rumah seorang wanita paruh baya sedang bediri dan menatap Gina tajam. Gina yang di tatap oleh mamanya hanya bisa menundukkan kepalanya!
"Selamat malam Tante." Sapa Andy seramah mungkin, dia menyalami tangan mamanya Gina.
"Ini jam berapa? Kamu sadar nggak sudah bawa kabur anak saya!" Sarkas mama Gina, pandangan matanya sangat galak.
"Loh kan mama udah ngizinin Gina."
"Mama ngizinin kamu, tapi mama nggak ngizinin laki-laki ini!" Ketusnya.
"Kamu dari mana sih? Kenapa baju kamu kotor? Kamu nangis?" Pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut mama Gina.
"Ah itu, Gina nggak nangis ma!"
"Jangan bohong! Kamu pikir mama nggak bisa lihat mata kamu sembap!"
"Masuk ke kamar! Bersihkan badan lalu tidur!" Imbuhnya lagi.
Andy bergumam dalam hatinya "ebuseeeet mamanya galak banget, harus bisa melunakkan hatinya nih gue!"
"Kamu ikut saya masuk!"
Andy mengikuti langkah kaki mama Gina. Mama Gina mempersilahkannya duduk di sofa, kemudian memberikannya secangkir teh hangat.
"Nama kamu siapa?"
"Andy Tante!"
"Nggak sopan banget ya kamu ajak anak saya jalan dan baru di pulangkan jam segini!" Matanya menatap Andy tajam, Andy berusaha setenang mungkin untuk menghadapi mamanya Gina.
"Sebelumnya saya minta maaf Tante, tapi tadi pagi begitu saya menjemput Gina saya sudah bertanya perihal orang tuanya, saya akan meminta izin, tapi kata Gina, tante sedang pergi arisan, dan Gina sudah mendapatkan izin tante." Andy berbicara sangat tenang dan penuh wibawa.
"Kan saya hanya mengizinkan anak saya?"
"Mengizinkan anak tante, berarti mengizinkan orang yang mengajaknya juga." Sahut Andy.
"Kamu ngeyel ya sama orang tua!"
"Bukan begitu tante__"
"Tadi kamu ajak anak saya kemana?"
"Ke festival jajanan pasar, pantai, terus tadinya mau nonton bioskop tapi nggak jadi, jadinya ke taman."
"Kenapa nggak jadi? Terus kenapa anak sayang nangis?"
"Itu tadi di bioskop Gina ketemu ayahnya!"
Mamanya Gina menghembuskan napasnya pasrah, raut wajahnya berubah sendu. "Ayahnya bilang apa?"
Andy pun menjelaskan sedetail-detailnya tentang kejadian tadi di bioskop, hingga Gina yang menangis di taman.
"Apa tujuan kamu dekatin anak saya?"
"Saya suka sama anak tante."
"Suka? Ngerti nggak rasa suka doang mana cukup!"
"Saya sudah punya rumah, saya punya mobil, saya rajin bekerja, dan insyaAllah dalam waktu dekat saya akan berbisnis. Tenang saja tante, saya tidak akan membuat anak tante menderita , saya akan mencukupi segalanya!"
__ADS_1
"Lalu?"
"Saya tidak ingin mengikat hubungan dalam pacaran, nanti jika momentnya sudah pas saya akan langsung melamar Gina."
"Kamu serius?"
"Sangat serius tante!"
"Baiklah tante setuju!"
"Tante setuju kalau saya melamar anak tante?" Andy mengerjapkan matanya seolah tak percaya, bahwa mamanya Gina yang super galak ini akan menyetujuinya.
"Iya, tante cukup mengerti sama ambisi kamu untuk mendapatkan Gina. Tante tegas kaya gini tuh bukan apa-apa, soalnya tante nggak mau apa yang tante alami, dialami Gina juga. Maka dari itu tante harus selalu selektif terhadap laki-laki yang mendekati Gina."
"Jika kamu memang benar-benar serius sama Gina, tante menyetujuinya! Tapi tolong ya jaga hati kamu cuma untuk Gina, kamu harus setia sama Gina seorang!" Imbuhnya lagi.
Andy mewajarkan sikap mama Gina, karena walau bagaimana pun mama nya Gina telah merawat Gina seorang diri. Sungguh merupakan mama yang hebat.
"Andy pamit pulang ya Tante!"
"Nggak makan dulu disini bareng tante dan Gina?"
"Nggak usah tante, ini sudah larut dan takut mengganggu waktu istirahat tante dan Gina."
Mama Gina mengantarkan Andy ke depan rumah. Mama Gina bersyukur ada seorang laki-laki yang sangat gigih menginginkan anak gadisnya.
Selepas kepergian Andy, mama Gina langsung masuk ke kamar Gina. Anak gadisnya itu baru selesai mandi, handuk masih melilit di rambut basahnya.
"Maaf ma." Ujar Gina sambil menundukkan kepalanya.
"Sini duduk!" Mama Gina menepuk tepian kasur, Gina menurut dan langsung duduk.
"Kenal Andy dimana?"
"Di kantor."
"Kerjaannya apa?"
"Asisten pribadi boss Gina di kantor."
"Hmm.."
"Tadi ketemu ayah?"
"Iya..." Bola mata Gina memanas dan tumpahlah air mata itu, Gina selalu mengingat hari dimana ayahnya meninggalkan dirinya dan mamanya.
Mama Gina menengkan anak gadisnya.
Andy (POV)
Hari ini adalah weekend yang sangat gue tunggu-tunggu! Karena gue akan mengajak Gina jalan. Anggap saja ini kencan pertama di luar jam kantor?
Saking semangatnya gue untuk hari ini, bahkan tadi malam gue sulit terlelap, karena terpikir tentang hari ini.
Bangun lebih awal adalah kebiasaan gue, membereskan kamar lalu mandi. Gue orang nya sangat disiplin, urusan membersihkan kamar harus gue yang melakukannya.
Setelah mandi, gue menatap diri gue melalui pantulan cermin. Ketampanan wajah gue memang nggak pernah luntur. Hanya untuk bertemu Gina, gue sampai mengganti pakaian berkali-kali, mempadu padankan yang menurut gue cocok di badan gue dan guenya terlihat ganteng.
Akhirnya gue memilih kaos putih, celana jeans hitam, dan sepatu all star. Dengan style gue kaya gini, gue yakin Gina pasti terpesona. Soalnya selama ini Gina tidak pernah melihat gue dengan pakaian casual, yang Gina lihat adalah gue dengan stelan jas kantor.
"Gina terpesona nggak ya sama penampilan gue?"
Batin gue selalu bertanya-tanya! Ya kalau Gina suka sama gue, gue merasa bersyukur. Kalau Gina nggak suka sama gue? Tenang aja dukun banyak kok hehe. Gue berbicara sendiri sambil terus melihat pantulan wajah gue di cermin.
Ini pertama kalinya Alphard kesayangan gue di tumpangi wanita. Dulu gue pernah punya pikiran kaya gini "Wanita pertama yang akan naik Alphard gue adalah wanita calon istri gue!" Gue berdoa semoga Gina suatu saat nanti menjadi istri gue.
Setelah sampai di komplek perumahan, tapi gue nggak tahu rumahnya nomor berapa? Ketika gue akan menghubunginya, gue melihat gadis cantik melambaikan tangannya ke mobil gue.
Gadis itu adalah Gina!
Gila Gina di luar kantor cakep banget, cantik mempesona dan sangat memukau. Dress merah, sepatu putih, dan rambut tergerai. Bertolak belakang dengan Gina di kantor yang rambutnya selalu di ikat satu atau Gelung kecil.
Gue mau pamit, tapi mamanya nggak ada. Yaudah gue langsung berangkat saja. Semoga nanti mamanya nggak ngamuk karena gue bawa anak gadisnya tanpa izin darinya.
Gue baru tahu, ternyata Gina anak broken home!
Ternyata Gina bawel, nggak jauh beda sama Kalista istrinya sahabat gue.
"Sekarang kita kemana ya gin?"
Gue mencoba bertanya untuk mencairkan suasana, karena kita di dalam mobil hanya diam-diaman saja.
"Loh kan Kaka yang ngajak jalan, emang Kaka belum buat planning untuk hari ini?"
Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa dia kecewa, Gina sampai mengerucutkan bibirnya. Gemes banget gue lihatnya! Aslinya sih gue udah punya tempat tujuan.
Gue ajak Gina ke festival jajanan pasar, nggak tahu Gina bakal suka atau nggak? Tapi gue sangat menyukai festival jajanan pasar tersebut, jika Gina suka fiks berarti dia jodoh gue. Iya tahu pemikiran gue memang kadang suka konyol!
Gue menepikan mobil di pinggir jalan. Jalanan sudah sangat ramai, festival jajanan pasar memang selalu buka dari pagi hari. Makanya jam segini saja pengunjung sudah sangat padat memenuhi jalanan pasar.
Gue menvondongkan badan gue pada gini, Gina terperanjat dan kaget. Padahal gue kan cuma mau melepaskan sabuk pengaman. Jangan-jangan Gina mikir macam-macam? Ya ampun geli banget gue, napasnya saja sampai memburu, detak jantungnya juga terdengar.
Gue langsung saja menggenggam erat jemari tangan Gina, gue pikir dia bakal nolak, alhamdulilah nggak! Positif thinking aja mungkin Gina suka di genggam oleh gue.
Gina itu orangnya sangat penurut, tanpa banyak komentar dia langsung mengikuti langkah kaki gue. Gue ajak dia ke kedai bakso bakar bumbu balado, tapi sayang antrian sangat panjang, gue berpikir mencari cara, akhirnya gue pegang bahunya dari belakang, mendorong badannya pelan, perlahan demi perlahan gue dan Gina melewati celah-celah diantara banyaknya manusia yang sedang berkerumun.
"Ada diskon untuk pasangan kekasih!"
Si ibu penjual bakso bakar mengira gue dan Gina adalah sepasang kekasih. Gue senang song, mungkin ini sebuah pertanda bahwa suatu saat gue memang akan memadu kasih bersama Gina.
Gina mau 10 tusuk, tidak berselang lama bakso pesanan gue pun telah matang. Selesai membayar, gue langsung memegang bahu Gina mendorongnya pelan hingga terbebas dari kerumunan orang-orang.
Keringat bercucuran di dahi Gina, cuaca panas ditambah berdesak-desakan membuat Gina kepanasan. Gue mengajaknya untuk duduk beristirahat di bawah pohon yang sangat rindang.
Lalu gue pergi sebentar untuk membeli es kelapa, dan balik lagi duduk di sebelahnya. Gina sangat menikmati bakso bakar itu, wajahnya berseri-seri. Bahkan es kelapa muda pun sampai habis sekali sruput langsung habis.
karena Gina jarang keluar rumah, gue berinisiatif membelikan cilok, cireng, batagor, cimol, dan aneka kue basah.
Setelah itu gue mengajak Gina ke pantai, dia sangat menikmatinya. Awalnya sempat panik karena tidak membawa sunblock, tetapi gue si pria perhatian ini telah menyiapkan sunblock yang gue simpan di dashboard mobil.
"Tuh kan kakak tuh keren! Dan selalu siap sedia."
Entah kenapa satu kalimat yang keluar dari mulutnya itu cukup membuat hati gue menghangat, ada rasa bahagia yang gue rasakan.
Gue nggak habis pikir sama Gina, diajak kepantai girang banget main pasir, bikin istana pasir, di kantor sangat dewasa, tali di lantai bagaikan anak kecil.
Karena sudah sore, gue mengajak Gina pulang. Awalnya dia menolak karena ingin melihat sunset, tapi gue berjanji suatu hari akan mengajaknya lagi melihat sunset.
Gue menawarkan dulu siapa tahu dia mau ganti baju, tapi dia menolak. Takut mamanya berpikir macam-macam.
Gina ternyata jarang keluar rumah, di larang oleh mamanya. Gue tersenyum dalam hati, entah apa yang dilakukan Gina diluar rumah, sehingga mamanya melarangnya. Apakah Gina nakal kalau di luar rumah?
Tujuan utama kencan hari ini adalah menonton bioskop, diluar dugaan ternyata antrian sangat panjang. Ketika sedang antri untuk membeli tiket datanglah seorang pria usianya mungkin sekitaran 50 tahun.
"Gitu dong keluar rumah, main! Masa anak gadis selalu berada di kamar. Darimana sih baju kotor banget, mamamu nggak belikan baju baru? Jangan terlalu nurut sama mama!"
Siapa sih pak tua ini? Rese banget! Bahkan tawa ledekannya begitu jelas terdengar.
"Apa pedulimu huh! Kalau nggak nurut sama mama terus gue nurut sama siapa hah? Sama kamu? Pria yang sudah meninggalkan mama dan gue! Dasar pria nggak punya hati!"
Gina mengucapkannya dengan penuh penekanan, sorot matanya menyiratkan sebuah kebencian.
Gagal sudah niatan untuk menonton bioskop. Gue tahu Gina lagi bersedih, makanya gue mengajak Gina pergi ke taman. Dia menangis terisak-isak di bahu gue, bahu gue sampai banjir oleh air mata bercampur dengan ingusnya.
Gue memelika permen kapas, katanya sih wanita yang bersedih suka permen kapas. Gue nggak tahan mendengar suara tangisannya, nggak tega dan sangat ingin memeluknya. Namun untuk saat ini gue nggak bisa, karena gue belum menjadi kekasihnya.
Tidak berselang lama mamanya menelepon, menyuruhnya pulang.
Tiba di kediamannya, mamanya itu sedang berdiri dengan tatapan galak.
Nyali gue sempat menciut, tatapan mata mamanya tajam menusuk. Ucapannya sangat tegas dan lebih terkesan galak. Gina di marahinya dan di suruh masuk ke kamarnya.
Ternyata gue di persilahkannya masuk. Setelah sekian pertanyaan beruntun itu diajukan untuk gue jawab, akhirnya mamanya menyetujui gue untuk dekat dengan Gina.
Malam ini terasa sangat indah, cahaya rembulan pun sangat terang. Gue mendapat lampu hijau? Rasanya detik itu juga gue ingin sujud syukur.
Gue tahu Gina anak broken home, gue janji sama diri sendiri akan menjaga dan membahagiakan Gina.
Gue pulang dengan hati berbunga-bunga, cepat atau lambat gue akan melamar Gina, dan Gina akan menjadi istri gue.
----------------------------------🌻🌻
Kenapa riviewnya sangat lama? Langsung lulusin aja dong please🙏 maaf kalau ada typo soalnya nulisnya sangat ngebut hehe😂
Jangan lupa like dan coment yang banyak biar author semakin rajin up!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Tekan ❤ tambahkan favorit!
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤