
Semua pesan dari Gina isinya biasa-biasa saja, Gina tipikal wanita yang nggak banyak ngatur, bukan cuek tapi lebih ke kalem.
Hari ini juga Gina banyak sekali mengirim pesan pada Andy, tapi semua pesannya biasa saja, tidak marah-marah, tapi lebih tepatnya ke khawatir.
Andy juga cukup suka dengan sikap Gina, karena menurutnya Gina juga tipe wanita ideal. Bukannya Andy tidak suka di posesifin, tapi wanita posesifin itu terkadang menyebalkan. Bentar-bentar nyariin, bentar-bentar nanya lagi dimana? Di jawab jujur, nggak percaya! Minta sharelock, di samperin. Wanita kaya gitu ribet banget.
Walaupun dilihat dari isi pesannya Gina tidak terlihat marah, tetapi entah mengapa hati Andy tidak tenang, ada rasa resah dan gelisah. Andy berusaha membalas semua pesan dari Gina, tetapi Andy agak sedikit berbohong. Andy bilang sekarang dirinya masih di apartment, baru bangun tidur.
Gina sedang online, semua chat dari Andy hanya di read doang. Tidak ada yang di balas satu pun, Andy semakin gelisah, tidak biasanya Gina seperti ini.
Sedangkan Evan malah sibuk siulin wanita-wanita cantik yang juga nongkrong di kafe itu. Riko sih sibuk sama ponselnya, entah ada apa di layar ponselnya itu? Di lihat dari ekspresi wajahnya juga sepertinya Riko lagi tidak mood, malah terlihat kaya galau.
"Ke rumah Arka sekarang aja yuk!" Ucap Andy, duduknya terlihat gelisah.
"Apa sih? Nggak seru banget! Nanti dulu lah, gue masih nyari yang bening?" Celetuk Evan. Evan ini memang tipe pria genit, selama nongkrong di kafe ini entah sudah berapa banyak wanita yang di ajak kenalan olehnya.
Riko yang sedang sibuk dengan ponselnya pun merasa tertarik untuk menanggapi ucapan Riko. "Masih nyari yang bening? Tiara kurang bening? Kasih gue boleh lah bro." Ujarnya santai, tangannya menyenggol lengan Evan pelan.
"Enak aja! Nanti Tiara mau diapain? Mau di makan hidup-hidup? Gila kali, mendingan lu kejar Risa aja deh, Tiara nggak boleh! Dia milik gue." Sarkas Evan, Evan tidak ingin Tiara di rebut oleh siapapun, tapi Evannya sendiri?
"Elu tuh gimana sih Van? Heran gue, Tiara nggak boleh di rebut oleh siapapun, tapi kelakuan lu barusan apa? Kalau lu masih genit ganjen kaya gitu, mendingan Tiara putusin deh. Nyadar nggak sih lu, kelakuan lu itu menyakiti hatinya Tiara." Andy berusaha menceramahi Evan, Andy kira hadirnya Tiara di hidup Evan sudah membuatnya taubat dari dunia pergenitan, tapi ternyata tidak.
"Tiara kan nggak tahu? Santai aja lah!" Ucapnya nyeleneh santai, bahkan mata Evan masih terus celingukan melirik para wanita yang baru saja masuk ke kafe tersebut.
"Kan nanti gue yang kasih tahu!" Sarkas Andy dengan wajah jengahnya.
"Lah elu kok gitu sih? Sahabat macam apa kaya gitu? Kampret banget nggak sih? Lu tuh nggak asyik banget, kalau gue selingkuh, genit, atau ganjen seharusnya lu berusaha nutupin itu semua dong bro!" Celetuk Evan.
"Nggak harus segitunya! Intinya gue bakalan tetap bilang pada Tiara, soalnya Tiara itu sahabatnya Kalista dan juga sahabat Gina. Kalau gue nutup-nutupin semuanya, sudah bisa di pastikan Kalista bakalan marah ke Arka, dan Arka pasti marah sama gue. Parahnya Gina juga bakalan ngamuk sama gue. Elu yang bikin masalah, yakali gue yang kena. Gue nggak mau nutup-nutupin kebohongan, usia semakin bertambah, gue mau jadi pribadi yang lebih baik lagi. Hubungan ini sudah seharusnya masuk ke jenjang yang lebih serius, bukan sekedar main-main." Andy menjelaskan panjang lebar pada Evan, tetapi manik matanya terus menerus menatap layar ponselnya. Hatinya masih resah memikirkan Gina yang hanya membaca pesannya dan Tidak kunjung membalasnya.
Riko berusaha mencerna semua kalimat yang keluar dari mulut Andy. Memang benar apa yang di katakan Andy, usia semakin lanjut, masih mau main-main soal perempuan? Ketimbang main perempuan, nongkrong-nongkrong nggak jelas, huru hara ngabisin uang doang, mendingan hidup berumah tangga dengan wanita pilihan hati.
"Iyaaaaa." Jawab Evan malas, Evan ini memang masih suka godain wanita-wanita yang di temui secara tidak sengaja, misalnya di jalan, pom bensin, ataupun di kafe kaya sekarang ini.
"Udah deh sekarang mendingan ke rumah Arka aja, nggak sabar gue pengen ketemu Arka junior dan Kalista junior." Ujar Riko yang langsung berdiri dari dduduknya.
Setelah pergi ke kasir untuk membayar, Riko Evan dan Andy langsung meluncur ke rumah Arka. Mereka membawa mobilnya masing-masing. Padahal biasanya mereka selalu semobil bertiga, bahkan semobil berempat kalau Arka ikutan.
Waktu sudah semakin sore, jalanan Weekend cukup padat, bahkan sampai menciptakan deretan mobil panjang. Macet di ibu kota sudah sangat melegenda.
Tahu siapa yang membuat kemacetan di jalan raya? Mereka adalah pasangan muda mudi yang sedang di mabuk cinta, di mabuk asmara, dan akan menghabiskan waktu di hari weekend. Entah itu pergi ke puncak Bogor, ke kafe, ataupun pergi sekedar nongkrong di pinggir jalan, menikmati secangkir kopi dan street food.
Riko yang menyetir pun merasa jengah, kepulan asap yang membuat polusi udara itu berterbangan dengan bebas. Deru mesin terdengar, dan tercium bau-bau asap yang menyengat.
__ADS_1
Tangan itu terangkat, jari jemarinya sedang memijat-mijat pelan dahinya yang terasa pusing. Tidak ada musik yang menyala, Riko memang tidak suka mendengarkan musik ketika di kemacetan. Hal itu malah membuat kepalanya terasa sakit dan nyut-nyutan.
Jalanan sudah kembali lancar, mobil yang berderet-deret itu segera melaju dengan bebas. Mereka bertiga yang biasanya selalu ramai, ada saja topik obrolan yang di lontarkannya. Tetapi kali ini berbeda, Andy yang duduk di sebelah Riko malah asyik dengan ponselnya, sedangkan Evan yang duduk di kursi belakang malah asyik bermain game online.
Security yang berjaga di kediaman Anggara langsung saja membuka pintu gerbang, security itu sudah tahu yang datang itu adalah para sahabatnya Arka. Karena mereka memang sering banget berkunjung ke rumah ini, jadi security, tukang kebun, bahkan sampai pelayan pun sudah pada kenal dan hafal nama dari mereka masing-masing.
"Terimakasih pak." Riko menurunkan kaca mobilnya, berucap terimakasih di sertai senyum ramah.
Riko segera memarkirkan mobilnya, dan segera turun.
"Oh udah sampai toh?" Evan celingak-celinguk menatap sekeliling, lalu turun dari mobil. Maklum saja selama perjalan Evan sangat sibuk dengan ponselnya, bermain game online sampai lupa segalanya.
Masing-masing dari mereka menentang satu goodie bag berukuran besar, bingkisan atau lebih tepatnya kado untuk si kembar. Mereka disambut oleh beberapa pelayan, melakukan prosedur yang telah Arka siapkan. Awalnya mereka mencela ribet lah, lebay lah, tetapi Andy kembali mengingatkan mereka bahwa bayi rentang terhadap penyakit. Jadi harus di pastikan siapapun yang berkunjung dan akan berinteraksi dengannya harus dalam keadaan bersih dari segala macam debu maupun kuman, atau dalam kata lain harus steril.
Pelayan juga langsung mengarahkan mereka menuju lantai dua, dimana kamar si kecil terletak. Tetapi mereka semua tidak tahu bahwa di kamar itu juga ada para gadis kekasih hati mereka.
"Gue udah bersih dan steril nih. Nanti si bocah kembar mau gue gendong." Ujar Evan antusias.
"Pasti nggak bakal di izinin, soalnya mereka kan masih bayi. Palingan yang boleh gendong hanya emak bapaknya." Andy menanggapi ucapan Evan, sembari kaki mereka terus menerus menaiki satu persatu dari anak tangga.
Riko?
Tidak banyak bicara, dia lebih cenderung ke mendengarkan. Entah lah Riko kenapa? Mungkin hari ini moodnya lagi jelek, atau memang hari ini bukan harinya Riko.
"Bayi kembar, kaka datang nak." Ujar Evan dengan girang ketika tangannya sudah berhasil menekan dan membuka knop pintu.
"Kaka? Usia tua kaya lu mau di panggil Kaka? Malah lebih tepatnya di panggil om deh, tapi om juga kayanya masih kurang pantas deh." Sengit Arka, Evan ingin di panggil Kaka? Justeru hal itu terdengar sangat menggelikan di telinga Arka.
Ketiganya belum ada yang merespon, mereka masih terdiam di tempatnya berdiri. Evan kembali teringat dengan ucapannya ketika dan menelponnya, Andy kembali teringat dengan sebuah jawaban balasan pesan dari Gina. Dan Riko malah terpesona dengan penampilan Risa, baru seminggu tidak bertemu Risa, kok sekarang penampilannya berubah menjadi semakin cantik dan mempesona.
"Masuk sini? Ngapain bengong sih?" Ledek Kalista lengkap dengan tawa ciri khasnya. Kalista tahu semuanya, dan sudah bisa di pastikan percikan api pertengkaran bakalan terjadi.
Mereka bertiga tampak kikuk, napasnya mulai memburu tak beraturan. Pasokan oksigen terasa kurang, sehingga mereka harus mengambil napas dengan cepat.
"Buah tangan untuk si kembar." Andy berusaha menormalkan nada bicaranya, dan berusaha mendamaikan hatinya yang gundah. Tangannya terulur pada Arka memberikan goodie bag yang isinya hadiah untuk si kembar.
Riko dan Evan juga melakukan hal yang sama. Setelahnya mereka langsung duduk dan melihat-lihat si kembar yang sedang tertidur pulas di dalam box bayi.
Para wanita?
Tentu saja mereka merasa jengkel pada prianya masing-maisng. Katanya tadi Andy di apartment dan baru bangun tidur, Evan katanya sehabis nongkrong mau ke rumah Arka dan membawa cewe cantik. Sedangkan Risa? Dia malah malu ketemu dengan Riko, walau bagaimanapun mereka telah berhubungan dan Riko telah melihat setiap lekuk tubuh Risa.
Baik Tiara maupun Gina sama-sama tidak menyapa kekasih hatinya. Mereka malah sibuk live Instagram bersama Risa juga, bahkan sampai tiga puluh menit.
__ADS_1
"Kalian tuh pacaran apa musuhan sih? Kok nggak saling nyapa? Kaya orang nggak kenal aja." Celetuk Arka, dari celetukannya itu tersirat sebuah ledekan.
"Diam deh! Gue masih mikir nih gimana caranya do'i gue nggak ngambek." Evan memijat-mijat dahinya yang mendadak terasa pusing.
"Gin, mau ngomong sebentar. Keluar dulu yu." Andy mengusap lembut rambut Gina.
Andy memang kurangnya dewasa, pembawaannya tenang. Apapun itu selalu di pikirkannya mateng-mateng, emosinya selaku di redam dengan kepala dingin. Kata-katanya sopan, dan atitudenya sangat baik.
Gina?
Tidak merespon Andy, dia malah semakin sibuk dengan ponselnya. Kali ini Gina benar-benar merasa kecewa pada Andy, untuk pertama kalinya dari semenjak mereka memutuskan untuk menjamin kaidah, baru kali ini Andy berbohong kepadanya.
Gina tahu Andy tidak akan macam-macam di belakangnya, namun sekali di bohongi Gina sulit untuk kembali menanamkan kepercayaan. Insting Gina mengatakan bahwa sekali berbohong, pasti akan ada kebohongan-kebohongan lainnya yang akan di lakukannya.
Kecewa?
Tentu saja, Gian teramat sangat kecewa. Andy yang biasanya selalu besikao jujur dan dewasa, kini malah terlihat seperti Andy yang bodoh karena kebohongannya.
"Loh loh loh ini kok pria yang tadi ngajak Risa kenalan chatnya ke gue?" Tiba-tiba Tiara berkata dengan kencang dan jelas, sehingga manik mata Riko langsung terbelalak.
Tiara cukup peka terhadap penglihatannya, dari tadi Riko terus menerus menatap Risa. Tiara tahu itu tatapan yang tidak biasa, seperti tatapan kangen atau cinta. Atau mungkin tatapan mesum? Entahlah, kalaupun sekarang Riko masih belum menaruh perasaan pada Risa, ,izinkan Tiara untuk melihat dan mengamati perubahan ekspresi pada wajah Riko yang sebentar lagi Tiara akan memainkan drama tanpa skenario, dramanya bahkan terpikir baru beberapa detik yang lalu.
"Cek ponsel lu deh sa, dia kayanya hubungin lu, kan lumayan tuh pria udah tampan, tajir pula." Imbuhnya lagi, Tiara semakin ingin mengamati perubahan ekspresi pada wajah Riko.
Gina tidak tinggal diam, dia pun ikut mengambil peran dalam darma ini. Tangan Gina mencolek pinggang Risa, berusaha memberikan kode padanya. Alhamdulilah walaupun Risa itu polis, tetapi ketika diajak berakting dalam keadaan genting kaya gini dirinya langsung mengerti dan paham.
"Ayo sa, cek deh ponsel lu. Jangan menyia-nyiakan kesempatan, karena kesempatan tidak datang dua kali." Ujar Gian sambil tersenyum.
Kalista yang pintar nan cerdas luar biasa itu, langsung bisa membaca situasi dan kondisi saat ini. Dirinya ingin sekali tertawa melihat tingkah Risa yang awalnya kaget, tetapi langsung bisa mengerti keadaan.
"Ngajak Risa kenalan? Emang tadi kalian kemana? Aduh, gue tahu deh kayanya, jadi tadi tuh kalian nyari kado buat anak gue, terus usahanya pasti nongkrong di kafe. Tahu sendiri deh kalau nongkrong di kafe yang ada di mall yang itu mah, para pria tajir suka nyamperin, tapi kalau menurut gue sih bukan lumayan, tetapi alhamdulilah. Selain di topang oleh money yang mencukupi, mereka juga punya tampang yang memadai." Ujar Kalista yang ingin ikut andil dalam akting yang mereka mainkan.
"Ada?" Tanya Gina yang melihat Risa baru saja mengusap layar ponselnya.
"Ada, ngajak mantai Minggu depan, kalau nggak mau ngemall aja katanya." Risa pun mampu menguasai keadaan, dengan wajah tenang Risa menjawab.
"Cie, selamat deh. Berarti sebentar lagi nggak kombinasi lagi dong." Gina langsung merangkul pundak Gina, seolah-olah merasa sangat bahagia karena Risa akan mendapatkan pacar baru.
Riko memicingkan matanya dan telinganya berusaha mencuri dengar tentang apapun itu yang di ucapkan oleh Gina, Tiara, Risa dan Kalista. Entah ada apa dengan Riko? Mendengar itu semuanya tiba-tiba hatinya terasa sesak.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤