
"Aku mau pulang aja." Ujar Risa yang kini menyandarkan punggungnya yang terasa pegal.
"Aku banyak kerjaan di Coffee shop, kita ke coffee shop aja ya! Sekalian nunggu Denis pulang." Ucap Riko yang kini mulai melahujan mobilnya.
"Pulang dulu aja! Aku mau mandi sekalian ganti baju." Ucap Risa tegas.
"Mandinya di Coffee shop aja, nanti bajunya gampang tinggal buka olshop aja, pakai pengiriman instan." Riko juga berbicara tak kalah tegas.
Risa sudah tidak bisa membantah lagi ucapan Riko, daripada berdebat sekarang Risa lebih memilih untuk mengalah. Karena walau bagaimana pun juga Riko akan menjadi suaminya, mungkin sekarang statusnya masih calon suami, nggak tahu kan beberapa minggu kedepan? Semua ini memang terlalu cepat, bahkan Risa kerap kali berkaca sambil menepuk-nepuk pipinya, apakah ini mimpi? Namun, suka tidak suka, mau tidak mau, semua ini memang benar adanya, semua ini adalah kenyataan, tadi malam dirinya telah resmi menyandang gelar tunganannya Riko.
Riko memberikan ponselnya pada Risa, Risa memilih baju untuk dirinya dan Denis. Mengapa Denis? Karena nanti Denis pulang sekolah pasti pergi ke coffee shop, dan sudah bisa di pastikan Denis hanya memakai seragam sekolah, dan tidak membawa baju ganti.
Risa memilih baju yang simple dan sederhana, walaupun Riko menyuruhnya bebas memilih baju yang seperti apapun, tetapi Risa itu orangnya tahu diri, dan tidak memanfaatkan keadaan.
"Udah kak, makasih." Risa memasukkan kembali ponsel Riko kedalam saku jasnya.
"Sama calon suami harus gitu bilang terimakasih." Riko menatap Risa sekilas, selama ini Riko sering banget jalan sama perempuan, memberikan ini itu, shopping, bahkan terkadang minta hadiah-hadiah mahal, tetapi mereka jarang sekali mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih dan maaf itu harus sering-sering di ucapkan, kepada siapapun itu, tidak peduli itu calon suami, orang tua kandung kita, bahkan pada anak kecil sekalipun." Ujar Risa sambil menatap Riko intens.
"Kata maaf itu tidak selalu di ucapkan ketika kita melakukan kesalahan saja, meminta maaf setiap waktu juga tidak ada salahnya, bahkan walaupun kita tidak merasa salah sekalipun, meminta maaf tidak menurunkan harga diri kita. Manusia itu kodratnya lupa dan tidak nyadar, terkadang kita sendiri lupa akan kesalahan diri sendiri, barangkali ada perkataan kita yang diam-diam menyakiti hati orang lain, barangkali tingkah laku kita tidak di senangi oleh orang lain. Usia itu tidak ada yang tahu, hari ini kita masih bernapas dan menghirup udara dengan bebas, belum tentu besok kita masih ada nyawa, setidaknya ketika kita tutup usia kita sudah meminta maaf, walaupun belum tentu orang itu mau memaafkan kita. Begitu juga dengan ucapan terimakasih, kita ini jangan terlalu cuek dengan keadaan, mengucapkan kata terimakasih itu tidak sulit kok. Jangan terlalu gengsi dengan hidup." Imbuhnya lagi, Risa berbicara panjang lebar.
Ucapan Risa barusan begitu masuk dan terserap kedalam pikiran Riko. Tiba-tiba kalimat-kalimat menyakitkan yang pernah Riko ucapkan pada Risa itu seketika muncul dan terngiang-ngiang di telinganya.
"Sa, maaf yang dulu ucap-ucapan gue nyakitin hati elu, bukan hanya ucapan tindakan gue yang tidak sopan juga cukup membuat elu merasa rendah dan tertekan. Gue minta maaf banget sa, gue nyesel." Riko meraih jari jemari Risa, menggenggamnya erat.
"Udah di maafin kak, sekarang kan kita mulai dari awal, yang lalu-lalu lupakan aja deh." Risa juga menggenggam erat jari jemari Riko.
Setelahnya mereka berdua mengobrol santai, bahkan Risa dan Riko benar-benar saling membuka hati. Banyak yang mereka bicarakan dari mulai yang penting, hingga hal-hal random pun mereka bahas.
Tidak terasa mobil telah sampai di halaman depan coffee shop, begitu Risa turun dari mobil beberapa pasang mata menatapnya. Beberapa karyawan memang mengenali Risa sebagai manager di Coffee shop ini tempo lalu, tapi secara tiba-tiba Risa berhenti bekerja, sehingga mereka merasa ada yang aneh dan tidak beres.
Tatapan mereka semakin menjadi-jadi ketika melihat Risa hanya mengenakan piyama dengan sandal jepit menghiasi kaki mulusnya. Ada yang menatap sambil tersenyum, ada pula yang menatap dengan sorot mata merendahkan.
Apalagi sekarang Riko masih mengenakan pakaian yang kemarin, stelan kerja seperti biasanya di lengkapi dengan jas yang masih menempel di badannya. Mereka semua pasti mengira bahwa Risa djs Riko telah menghabiskan malam bersama.
Memang benar mereka menghabiskan waktu bersama, tetapi tidak berdua, karena ada ayah, ibu beserta kedua adik Risa.
"Semua orang berhak menilai, baik itu menarik secara baik ataupun menilai secara buruk. Tugas kita hanya satu, cuekin aja udah! Ngapain sih ngurusin mereka, nggak penting." Bisik Riko di telinga Risa, Riko juga meraih pergelangan tangan Risa dan langsung berjalan menuju ruangannya.
"Tatapan mereka tuh serem banget, tatapan-tatapan penuh curiga." Risa mendengus kesal, karena sebagainya darj karyawan itu ada yang tersenyum mengejek.
"Nggak usah di liatin, nggak usah di ambil hati! Sebodoamatin aja, mereka siapa sih? Cuma karyawan kantor? Berani-beraninya menatap jelek pada istrinya pemilik coffee shop ini. Bila perlu sekarang juga gue panggil, gue pecat sekarang juga!" Riko menangkup pipi Risa, menatapnya sambil berbicara dari jarak dekat. Jika ada yang melihatnya, sudah bisa di pastikan mereka akan mengira bahwa Riko dan Risa bersiap akan bercumbu.
"Gini ya jadi pacarnya pemilik coffee shop. Enak banget ya?" Risa tercengir kuda sembsri menampilkan deretan gigi putihnya.
"Nggak boleh gitu! Biarin aja mereka mau menilai aku kaya gimana juga, yang terpenting aku tidak seperti apa yang ada di pikiran mereka. Mereka itu bekerja di sini, itu artinya meraka memang membutuhkan upahnya, jangan di pecat. Siapa tahu mereka juga bekerja seperti aku, untuk membiayai sekolah adik-adik. Jangan cabut rezeki mereka, kasian." Risa berkata lembut, sambil mengusap pelan pipi Riko.
"Gue tuh emang nggak salah dapatin calon istri secantik dan sebaik ini." Riko tiba-tiba mencium dahi Risa.
Deg.
Risa merasa kaget, kecupan dahi ini untuk pertama kalinya Riko berikan tanpa nafsu, melainkan sebagai rasa bangga dan kagum pada Risa. Ini juga untuk pertama kalinya, Riko mengecup dahi Risa dan Risa merasakan debaran jantungnya yang tidak seperti biasanya.
Risa menajdi salah tingkah, antara malu dan canggung. Otak Risa mendadak jadi blank, bahkan Risa sampsi mematung di tempatnya.
"Permisi pak, paket." Ujar salah satu karyawan yang langsung membuka pintu ruangan Riko tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Terimakasih." Riko langsung mengambil paket itu. Karyawan yang mengantarkan paket itu pun langsung pergi dan mengucapkan kata maaf karena telah lancang membuka pintu ruangan Riko.
"Mbak ini paketnya, gih mandi jangan bengong aja!" Riko menepuk bahu Risa, sekaligus meletakkan paket itu di tangan Risa.
Risa segera tersadar, dan menguasai dirinya kembali. Risa membuka paket itu, mengambil bajunya lalu pergi ke kamar mandi yang tersedia di ruangan Riko.
Risa bergegas masuk ke kamar mandi, dan langsung melakukan ritual bersih-bersihnya. Sementara itu Riko langsung berjibaku dengan sejumlah dokumen dan berkas yang di bawa oleh managernya. Managernya itu juga masih ada di hadapan Riko, sedang menjelaskan beberapa rencana yang telah Riko cetuskan ketika rapat kemarin siang.
Lima belas menit telah berlalu, Risa telah selesai mandi dan langsung mengenakan pakaiannya di kamar mandi. Risa keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di kepalanya.
"Udah selesai mandinya? Ponselnya bunyi tuh." Riko mengalihkan pandangannya terkebih dahulu, dari yang tadinya sedang berjibaku dengan dokumen yang sedang di lengangnya, kini Riko menatap Risa yang wajahnya terlihat sangat segar setelah mandi.
Risa mengsmbil ponsel itu, ada beberapa pesan WhatsApp dari haikal.
"Haikal hari ini pulang cepat, karena ada rapat guru. Denis akan di jemput Haikal, kalau gitu aku pulang aja ya, kasian nanti mereka cuma berdua di rumah, ibu kan masih jagain ayah di RS."
"Jangan deh! Kabarin aja Haikal suruh kesini sama Denis, nanti kamu bantuin handle kerjaan aku."
"Oke."
"Btw kak, ada sisir nggak?" Tanya Risa yang sekarang sedang membuka rambutnya menggunakan handuk, berusaha mengeringkan rambutnya tanpa bantuan hairdryer.
Riko bangkit dari duduknya, membuka lemari dan mengambil handuk.
"Balik badan!" Perintahnya.
"Ngapain?" Tanya Risa bingung.
"Nggak usah bawel!" Riko langsung memutar balikan badan Risa, menyisir rambut Risa dengan lembut.
Riko sama sekali tidak perduli pada managernya yang menyaksikan adegannya saat ini, bahkan managernya itu sampai menatap Riko dan Risa dengan tatapan yang sulit di artikan. Beberapa kali manager itu juga sempat membulatkan matanya dengan sempurna, dia merasa aneh menyaksikan Riko yang begitu lembut memperlakukan gadis yang saat ini rambutnya sedang di sisir.
"Udah rapi, silahkan duduk di sana. Pelajari semua bekas dan dokumen itu, aku tahu kamu pintar. Dan aku juga percaya sama kinerja kamu yang bagus." Riko mendudukan Risa di kursi kerjanya, tepat di hadapannya ada managernya.
"Mau kemana?" Tanya Risa yang melihat Riko melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
"Apa? Kenapa? Kangen? Aku mau mandi dulu." Riko berbalik badan, dan menggoda Risa sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Jangan mandi! Semalaman kamu nggak tidur, kalau mandi nanti malah jadi sakit. Mending sekarang kamu langsung tidur aja, kasian gara-gara aku kamu jadi nggak bisa beristirahat dengan cukup." Risa melarang Riko mandi, karena memang semalam Riko tidak tidur karena ikut menjaga ayah Risa.
Ucapan Risa barusan sukses membelalakan sang manager coffee shop. Manager coffee shop ini adalah pengganti Risa, sama-sama seorang perempuan, namun manager Riko kali ini tuh tampilannya sedikit nyentrik, makeup nya agak menor dan pakaiannya sangat minim, seksi dan terbuka di beberapa bagian.
"Kalau aku tidur, kamu nggak apa-apa sendirian?" Riko kini berjalan mendekat pada Risa.
"Nggak apa-apa, kan sebentar lagi ada Haikal sama Denis." Risa tersenyum pada Riko.
"Hmmm baiklah, maaf merepotkan." Riko mengecup puncak kepala Risa, kemudian masuk ke salah satu ruangan istirahatnya.
Risa memeriksa beberapa berkas dan dokumen yang di berikan oleh managernya itu.
"Bisa kerja buk? Kalau tidak bisa biar saya saja yang handle, saya takut semuanya jadi kacau gara-gara ibu." Ucap sang manager dengan ketus.
Risa tersenyum simpul, memang benar dugaannya manager di Coffee shop ini memang tidak menyukainya, tidak senang atas kehadirannya. Dan sama sekali tidak menunjukkan sikap hormat dan ramah padanya.
"Merendahkan saya?" Tanya Risa smabil mengamati setiap inci dari wajah sang manager yang terpoles make up dengan tebal.
"Ibu merasa saya merendahkan ibu? Ya ampun padahal saya cuma bertanya saja, otak ibu itu benar-benar dangkal sekali yah." Ledeknya di sertai tawa cekikikan yang menyebalkan.
"Dari pertanyaan kamu tersirat sebuah makna bahwa kamu memang merendahkan saya. Otak saya dangkal? Wah masa? Lebih dangkal siapa sama otak ibu?" Tanya Risa sambil tersenyum menyeringai.
"Saya ini berpendidikan, tidak seperti kamu. Dasar wanita tidak jelas." Cibirnya dengan bibir mencebik.
"Tahu perusahaan Anggara?"
"Tahu lah! Hanya orang-orang bodoh yang tidak tahu perusahaan itu!" Jawabnya masih dengan ketus.
"Saya salah satu karyawan di perusahaan itu, karyawan di bagian keuangan." Uacp Risa sambil tersenyum menyeringai.
"Terus situ bangga? Ini kan masih merupakan jam kerja, mengapa situ ada di tempat ini? Kenapa cuma menggoda pak Riko saja, kenapa tidak menggoda CEO perusahaan Anggara saja yang katanya tampan dan sangat kaya raya."
"Apa salahnya salah datang ke coffee shop ini? Toh pemilik coffee shop ini calon suami saya." Risa semakin melebarkan senyumnya, kali ini dirinya merasa menang sebagai calon istri dari Riko. Risa juga menunjukan cincin cantik yang tersemat di jari manisnya.
"Palingan juga kamu yang godain, atau mungkin kamu naik ranjang dan pura-pura hamil. Semalam juga pak Riko nggak tidur kan? Ngapain aja? Pasti kamu memberikan obat perangsang atau jangan-jangan kamu main dukun ya." Sang manager ini sebenarnya sangat geram ketika mengetahui bahwa Risa salah calon istri dari balai Riko sang pemilik coffee shop ini.
"Ya ampun kamu ini sebagai wanita tetapi pikirannya sangat kotor sekali. Ayah saya sedang sakit, semalaman pak Riko alias calon suami saya itu menemani saya menjaga ayah saya. Boro-boro obat perangsang, apalagi main dukun. Gue nggak pakai apa-apa aja Riko cinta mati, apalagi pakai obat perangsang, bisa-bisa Riko nempel terus ke gue." Risa terkekeh geli, bahkan Risa sangat ingin terus menerus memanasi managernya itu.
"CEO perusahaan Anggara yang kata kamu tampan dan kaya raya itu adalah sahabatnya calon suami saya, tetapi saya bekerja di sana atas kecerdasan saya sendiri, tidak ada embel-embel saya ini pacarnya Riko, jadi saya bisa bekerja di sana. CEO nya emang tampan, tapi pacar saya juga tidak kalah tampan kok. Untuk semua wanita di luaran sana dan kamu juga, jangan sekali-sekali mencoba mengkhayal bisa menjalin kasih dengan CEO Anggara, karena dia sudah beristri dan beranak. Bahkan sudah melahirkan anak kembar saja kecantikan istrinya sama sekali tidak luntur, dan tubuh istrinya masih tetap bagus. Bahkan saya dengan pak CEO dan istrinya itu lumayan akrab, mereka itu pasangan yang sangat serasi nan romantis. Tidak akan ada yang bisa memisahkannya, kecuali maut."
"Bodoamat, gue nggak peduli! Gue kisini untuk kerja, bukan untuk mendengarkan celotehan nggak jelas yang keluar dari mulut lu." Jawabnya ketus sambil menunjuk-nunjuk muka Risa yang masih fresh karena habis mandi, walaupun tidak mengenakan make up dan bahkan tidak ada polesan bedak tipis sedikitpun wajah Risa tetap cantik.
"Hati-hati ya, berlaku tidak sopan kepada calon istrinya pemilik coffee shop ini bisa saja besok kamu tidak usah masuk kerja, alias di pecat. Attitude itu penting, jadi heran deh sama kamu, kok bisa ya seorang wanita yang memiliki atitude jelek bisa menjadi seorang manager. Duh harus kasih usulan nih sama pacarku, agar memilih manager yang bagus kualifikasinya beserta bagus atitudenya." Risa tidak sejahat itu kok, Risa hanya menggertak manager yang tidak sopan kepadanya.
"Cih, dasar ******." Ya ampun sang managernya itu benar-benar deh mulutnya, bukannya meminta maaf pada Risa sekarang dia malah memaki Risa dengan menyebutnya ******.
Risa benar-benar tidak habis pikir, kok masih ada ya tipe wanita seperti itu. Tidak ingin berlama-lama berpikir mengenai tabiat sang manager, Risa lebih memilih untuk mengerjakan tugas Riko. Risa benar-benar teliti, semuanya ia handle dengan baik. Lagipula pekerjaan cukup mudah untuk Risa.
Waktu terus berjalan, tidak terasa Risa sudah duduk dan mengerjakan pekerjaan Riko selama 2 jam. Bahkan sekarang punggungnya merasa pegal, dan manik matanya mulai lelah karena menatap komputer terlalu intens.
Risa juga meminta salah satu karyawan untuk membawakan moccacino ke ruangannya, setidaknya secangkir moccacino itu bisa menemaninya bekerja.
"Iya, terimakasih ya pak." Ujar Kalista dengan ramah.
Haikal dan Denis langsung masuk, tidak lupa Denis menutup pintu ruangan ini. Manik mata mereka berdua menatap takjub dan kagum pada seluruh ruangan ini. Sebuah ruangan yang terlihat sederhana namun sangat elegan. Banyak hiasan dinding yang menempel, ruangannya juga sangat bersih. Ada sofa yang sangat mpuk, dan tepat di depannya ada meja yang diatasnya ada berbagai macam cemilan.
"Kakak, emang setiap hari bekerja di sini ya?" Tanya Haikal yang kini sendang mengamati setiap jengkal dari ruangan ini.
"Nggak, Kaka kerja di perusahaan Anggara. Ini coffee shop milik kak Riko, sekarang Ka Riko sedang tidur, soalnya tadi malam nemani Kaka jagain ayah. Kalian berdua jangan berisik yah." Ujar Risa.
"Iya kak." Jawab Haikal dan Denis barengan.
"Kal, gantiin baju Denis. Bajunya ada di sofa itu." Perintah Risa pada Haikal, tetapi manik matanya masih tertuju pada layar komputer.
"Widih baju baru." Haikal mengambil baju itu, lalu menggantikan baju seragam Denis dengan baju barunya.
"Aku mana kak?" Tanya Haikal bingung, karena Haikal hanya menemukan baju Denis saja. Sedangkan baju yang Risa kenakan juga baru.
"Syut ah! Nggak boleh gitu, lagian kamu kan sudah gede masa masih mau baju baru?" Risa mendelikkan matanya jengah, Haikal ini sudah duduk di bangku SMA semester akhir, bahkan sebentar lagi akan lulus. Tetapi kok sikapnya masih belum dewasa.
"Ini tuh di beliin kak Riko, lagipula kan Kaka nggak tahu Haikal pulang cepat. Kak Riko beliin Denis baju karena Denis pulang sekolah emang mau kesini, karena makanya bantuin kak Riko kerja. Jangan gitu deh kal, malu lah Kaka." Ujar Risa.
"Iya-iya! Toh kak Riko juga nantinya akan jadi suami Kaka. Bisa kali Haikal minta beliin hodie keluaran terbaru." Ujarnya sambil menampilkan deretan gigi putihnya.
Risa menggelengkan kepalanya, adiknya ini benar-benar deh. Memang biasanya tidak yang membelikan haikal baju, sepatu ataupun hodie yang Haikal mau. Tapi, semenjak ayahnya sakit, uang Risa sekali habis untuk membayar SPP sekolah, uang jajan untuk Haikal dan Denis, bahkan uang Risa juga selalu lari ke dapur. Biasanya ayahnya yang menanggung semuanya, maka dari itu ayahnya sakit sama dengan berhentinya keuangan di keluarga mereka. Mau tak mau Risa lah yang menjadi tulang punggung keluarga itu.
Haikal malah sibuk berfoto, pasalnya ini ruangannya bagus, seperti ruangan-ruangan yang ia lihat di internet. Haikal sibuk mengambil gambar dirinya dengan background yang menurutnya terbaik, rencanya Haikal mau posting di media sosial miliknya.
Haikal dan Denis juga sibuk menikmati beragam cemilan yang tersedia diatas meja, sebenarnya mereka berdua bilang laper. Tapi Risa tidak enak juga meminta karyawan untuk mengantarkan makanan ke ruangannya, mendingan tunggu Riko saja. Risa juga tidak membawa uang sepeserpun, karena tadi malam dirinya pergi ke RS Dnegan terburu-buru.
Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga kini waktu sudah menunjukan pukul 11:45 siang, lima belas menit lagi jam istirahat. Karena takut Haikal dan Denis merasa bosan, Risa meminjamkan salah satu laptop milik Riko. Sekarang mereka berdua malah asyik menonton kartun di YouTube, sebenarnya Haikal maunya main game saja, tetapi Denis marah dan Haikal memilih mengalah.
"Loh? Risa? Riko mana?" Tanya Andy dan Arka yang baru saja masuk ke ruangan Riko. Mereka berdua terbiasa datang ke sini, sehingga mereka juga tidak mengetuk pintu.
"Ada di kamar? Lagi tidur!" Jawab Risa gelagapan, Risa merasa gugup karena ke gep ada disini. Terlebih lagi Risa merasa malu karena hari ini tidak masuk kerja, dan yang meminta izinnya adalah Riko.
Haikal dan Denis menjauhkan laptopnya, mereka berdua menatap kagum pada Arka dan Andy yang baru saja datang dengan stelan khas orang-orang kantoran. Bahkan Haikal juga merasa gugup.
Arka dan Andy membangunkan Riko secara paksa, dengan mata yang masih tertutup rapat Riko terus menerus mendengus kesal. Riko masih sangat mengantuk, mengapa mereka berdua harus datang sih?
Arka dan Andy keluar dari kamar Riko. Mereka berdua duduk di sofa, sekarang Haikal dan Denis langsung bangun dan berdiri tepat di sisi Risa. Mereka berdua terlalu kaku, bahkan merasa takut tidak sopan pada kedua sahabat Sri calon Kaka iparnya.
"Kenapa nggak masuk kerja? Kenapa Riko yang minta izinnya? Kemarin sore kemana? Diantar pulang atau dibawa pergi ke mana?" Pernyataan beruntun keluar dari mulut Arka. Tidak hanya Arka saja, Andy juga mengajukan beberapa pertanyaan yang hampir sama.
"Kemarin malam gue anterin Risa pulang ke rumahnya, terus ayahnya yang masih di rawat di RS itu tiba-tiba kondisinya kritis, gue sama Risa ke sana. Panjang banget deh ceritanya, lalu gue sama Risa resmi tunangan, gue juga udah si restui sama ortunya Risa. Semalaman gue di RS menemani Risa jaga ayahnya, gue nggak tidur. Terus gue minta izin sama lu, Risa nggak masuk kerja karena hari ini dia di suruh jagain adiknya, dan dia juga bantuin gue handle pekerjaan gue." Riko berusaha menjelaskan dengan sangat detail, agar Arka dan Andy langsung paham dan tidak banyak tanya lagi.
__ADS_1
"Tunangan? Cepat amat bro? Gue aja masih jomblo." Tanya Andy sedikit berteriak, Andy tidak percaya dengan semua ucapan Riko. Tetapi Andy melihat dengan jelas cincin yang tersemat di jari manis Riko sama dengan cincin yang tersemat di jari manis Risa. Secepat itu mereka bersatu, bahkan kematian siang saja Riko masih di tolak mentah-mentah oleh Risa, kok bisa sih?
"Semakin cepat kan semakin bagus! Sosoan jomblo, makanya ceoat baikan deh sama Gina." Riko menoyor kepala Andy pelan.
"Bagus deh kalau gitu! Dari tadi pikiran gue nggak tenang. Gue takut Risa diapa-apain sama lu, apalagi ketika lu minta izin Risa nggak masuk kerja, pikiran gue malah tambah runyam. Gue takut Risa kenapa-napa, soalnya kemarin sore kan gue dan Andy yang bantuin lu masukin Risa ke mobil lu. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Risa, itu berarti tanggung jawab gue dan Andy juga kan?"
"Nah, sekarang kan Risa juga udah aman. Sekarang kalian berdua juga udah tunangan, gue harap lu lebih dewasa lagi bro! Btw selamat ya atas pertunangannya." Imbuhnya lagi, Arka merangkul pundak Riko.
"Btw, rayain dong bro! Masa iya tunangannya biasa aja." Celetuk Andy sambil merangkul pundak Riko juga.
Riko menawarkan Andy dan Arka untuk makan di Coffee shop nya, tetapi mereka berdua menolak. Mereka berdua buru-buru karena harus bertemu dengan klien.
"Haikal sama Denis udah makan kan sa?" Tanya Riko sambil menatap Risa yang masih setia duduk di kursi tempat Riko bekerja.
Haikal dan Denis menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun sa, kenapa kamu nggak minta waiters bawain makanan untuk mereka berdua makan sih? Kan kasian mereka kelaparan?" Riko langsung menghampiri mereka.
"Gimana mau minta? Kamunya tidur terus? Kalau aku minta waiters bawain makan ke sini, nanti apa kata karyawan kamu yang lain? Manager kamu sendiri aja ngerendahin aku, bahkan dia bilang aku naik ranjang kamu, dia juga nuduh aku pakai pelet." Risa mendelikkan matanya jengah, sesekali boleh lah ya Risa mengadu pada Riko. Selama ini manis pahitnya kehidupan selalu Risa telan sendiri, mumpung sekarang dirinya sudah punya tunangannya.
"Terus aku yakin banget, calon istriku pasti pintar jawabnya, dan si manager yang bernama Dila itu kalah, terus dia marah-marah, lalu maki-maki kamu. Benar begitu bukan?" Tanya Riko sambil mencolek dagu Risa.
"Iya gitu!" Jawab Risa datar.
"Lagian, dia itu kayanya suka sama kamu." Ketus Risa yang sekarang memeluk Denis.
"Jadi, Kaka cemburu. Kaka kok lucu ya kalau lagi cemburu, padahal biasanya kalau di rumah kaka itu galak banget." Celetuk Haikal, baru kali ini Haikal menyaksikan tingkah laku kakaknya, kakak yang biasanya tegas dan galak sekarang malah terlihat manja sama pacarnya.
"Risa cemburu? Cieee." Bisik Riko di telinga Risa, Riko semakin senang melihat wajah Risa yang merah merona.
"Cemburu itu apa kak?" Tanya Denis dengan wajah polosnya.
"Cemburu itu eskrim yang diatasnya pakai topping banyak, varian rasanya juga banyak. Ada rasa durian, rasa strawberry, rasa jeruk, rasa mangga, ada eskrim semangka juga. Pokonya toppingnya buanyak banget, nanti Denis bisa milih sepuasnya." Risa mengartikan kata cemburu dengan kata ganti eskrim, sebuah penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal. Bahkan Haikal dan Riko saja sampai sakit perut karena mentertawakan hal itu.
"Yaudah Denis mau cemburu aja, biar kenyang." Jawabnya dengan lantang.
Hal itu justeru menjadi sangat lucu, andai saja Denis mengerti arti dari kata cemburu. Mungkin Denis akan mengatakan tidak! Karena cemburu itu tidak enak, selain membuat mood jadi berantakan, cemburu juga menyebabkan sakit kepala karena terlalu kepikiran yang tidak-tidak.
"Kak, laper." Denis mengusap perut ratanya.
"Yuk kita makan." Riko menuntun Denis, sedangkan Haikal mengikuti langkah Riko.
Riko terus saja mengobrol dengan Haikal, sampai-sampai Riko tidak ngeh kalau Risa tidka mengikutinya.
"Loh ka Risa?" Tanya Haikal, manik matanya celingak-celinguk menatap sekeliling coffee shop ini, tetapi manik matanya tidak menangkap sosok Risa.
"Mungkin kak Risa lagi banyak kerjaan, sekarang kalian berdua duduk saja di sini. Ini buku menu, kalian pilih dulu mau makan dan minum yang mana? Terserah kalian mau pilih apa, bebas. Kaka ke belakang dulu sebentar." Riko mengusap pelan puncak kepala Denis.
Sebenarnya, barusan ketika Riko menuntun Denis dan di sebelahnya ada Haikal yang masih mengenakan seragam SMA, semua mata karyawan tertuju padanya. Mereka langsung bisa menyimpulkan berdasarkan pendapatnya masing-masing.
Langkah Riko membawanya menuju pantry, semua karyawan menghentikan aktifitas nya sejenak, karena mereka paham, biasnya kalau sudah seperti ini pemilik coffee shop ini akan berbicara serius.
"Selamat siang semuanya, maaf menggangu aktifitasnya. Saya hanya ingin memberitahukan kalian semuanya, bahwasanya wanita yang tadi pagi bersama saya itu adalah calon istri saya, dan sekarang ada anak berusia 7 tahun dan remaja yang mengenakan seragam SMA yang sedang duduk di kursi nomor 14 itu adalah adik dari calon istri saya. Layani mereka dengan benar! Dan jangan sekali-kali berbicara buruk mengenai calon istri saya dan adik-adiknya." Ucap Riko tegas, tanpa ba-bi-bu Riko langsung pergi meninggalkan pantry.
Semua karyawan mengangguk, tetapi setelah Riko pergi mereka semua berbisik-bisik. Biasalah manusia, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Selanjutnya bisa di tebalnya lah ya, bergosip sambil bekerja!
Riko melangkahkan kakinya dengan cepat, Riko pergi menuju ruangan Dila manager coffee shop ini.
"Wanita yang ada di ruangan saya itu namanya Risa, karyawan di kantor Anggara sekaligus calon istri saya. Sebelum ada kamu yang jadi manager di Coffee shop ini, Risa adakah orang pertama yang posisinya sekarang di tempati kamu."
"Tolong hormati Risa seperti kamu menghormati saya, karena Risa adakah calon istri saya. Jangan rendahkan dia, saya tahu pribadi Risa di banding siapapun. Jangan ngomong kasar, atau mencelanya. Apalagi sampai berani memaki-makinya. Tolong lebih sopan kalau ngomong sama istri saya." Ujar Arka tegas sambil menatap Dila dengan sorot mata mengancam.
"Jadi wanita itu ngadu? Cih dasar nggak punya nyali!" Cibirnya dengan bibir mencebik, bahkan tersenyum menyeringai.
"Ada yang salah kalau dia ngadu? Toh dia itu calon istri saya, terus dia harus ngadu ke siapa? Bapak presiden? Duh nggak bakal di dengar dong. Tolong perhatikan atitude kamu ketika berbicara dengan calon istri saya!" Kali ini Riko berkata sangat tegas, Riko juga melotot pada Dila. Nggak heran Risa sampai mengadu padanya, toh kelakuan Dila menang benar begitu.
Setelah dari ruangan manager, Riko kembali ke meja Haikal dan Denis. Riko memanggil waiters, dan menyebutkan menu makanan yang Haikal dan Denis mau.
Riko kembali lagi ke ruangannya, meminta Risa untuk ikut makan bersama Haikal dan Denis. Karena Dino tahu, terakhir kali Risa makan tadi lagi, itu lun hanya akan bubur ayam.
"Makan yuk, kasian loh Haikal dan Denis makannya cuma berdua doang." Ajak Riko.
"Aku masih kenyang." Jawab Risa cuek.
"Gimana mau kenyang? Kamu cuma makan semangkuk bubur ayam, dan itu tadi pagi."
"Bentar deh, mager banget."
"Sa, kamu kenapa?"
"Hmmm, nggak apa-apa sih." Jawabnya masih saja datar.
"Risaaaaa.." Riko menatapnya lekat-lekat.
"Kamu kok begitu mudah ngajak aku tunangan. Emang kamu udah bilang ke orang tua kamu? Terus nanti kalau orang tua nggak setuju kamu tunangan sama aku gimana?" Akhirnya Risa mengucapkan beberapa hal yang beberapa jam lalu menghampiri pikirannya.
"Aku emang belum bilang sama orang tua aku. Dan sebenarnya tadi malam tuh aku emang berniat meminta kamu pada orang tua kamu, tapi aku juga sama sekali tidak menyangka kita bakal tunangan secepat itu. Kalau cincin, tadi siang emang aku baru ambil. Jadi cincinnya pas banget ada di saku jas aku, kalau kamu tanya mengapa cincinnya bisa pas banget di aku, jawab nanya simple, aku minta tolong pada Tiara untuk mengukur diameter jari manis kamu." Riko tersenyum.
"Untuk urusan orang tua aku, kamu nggak perlu khawatir, mereka pasti setuju dengan keputusan ku, pokonya kamu tenang saja sayang. Aku pastikan orang tuaku bakalan setuju." Riko mengecup puncak kepala Risa.
Ternyata dari tadi Risa terlihat kurang bergairah dan terkesan banyak diam tuh, karena dirinya merasa gelisah takut orang tua Risa tidak setuju.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
__ADS_1
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
Find Me On Instagram : @halloimas13❤