SUN FLOWER

SUN FLOWER
KABAR DUKA


__ADS_3

Andy meraih pergelangan tangan Gina, berusaha menghentikan langkah Gina agar tetap duduk di kursinya.


"Kenapa sih kayanya benci banget sama Karin? Padahal Karin kan nggak salah apa-apa?" Tanya Andy dengan manik mata menyelidik.


Gina membalikan badannya, menatap Andy dengan tatapan sinis, berkali-kali matanya mendelik kesal. "Ya salah lah! Dia tuh ngerebut kamu dari aku." Ketus Gina dengan raut wajah tidak senang.


"Kok ngerbeut sih? Karin tuh nggak pernah merebut loh, justeru...," Belum sempat Andy menyelesaikan kalimatnya, Gina memotong ucapannya lebih dulu.


"Memang sih dia nggak pernah ngerebut kamu secara langsung, aku juga tahu kok, aku sadar diri dia deketin kamu setelah kita udahan. Tapi dia dengan sangat lancang telah mengambil alih hati kamu, tadinya kan di hati kamu tuh cuma ada aku seorang" Ucap Gina dengan suara yang mulai meninggi.


"Karin nggak pernah merebut! Aku sayang Karin sampai kapanpun, dan justeru aku ini memang milik Karin." Tegas Andy.


Kalimat barusan yang terlontar dari mulut Andy cukup menohok hati Gina. Sebegitu pentingnya Karin untuk Andy? Bahkan Andy menyebutkan dirinya memang milik Karin, Andy juga katanya sangat hormat pada orang tuanya Karin.


"Karin itu secantik apa sih? Badannya bagus nggak sih? Pendidikannya apa? Latar belakang orang tuanya seperti apa? Gue penasaran banget." Ucap Gina dalam hati, di pikirannya kini selalu bertanya-tanya mengenai sosok Karin.


"Intinya tidak ada yang merebut aku, yang ada juga ada wanita cantik yang melepaskan aku begitu saja. Seandainya dia tahu bagaimana susahnya aku mengumpulkan uang untuk biaya tunangan, lamaran, dan pernikahan. Semuanya jadi pupus begitu saja, uang yang sudah terkumpul pun jadi habis untuk keperluan yang mendesak." Kata Andy dengan masih menatap Gina.


"Aku tuh mutusin kamu nggak sengaja, waktu itu mood aku lagi jelek, makanya aku tersulut emosi dan mengucapkan kalimat itu. Seandainya dulu kamu nggak pergi nongkrong dan godain wanita di...,"


"Nah sampai sekarang aja kamu masih nggak percaya, aku cuma nongkrong bareng Evan dan Riko, aku sama sekali tidak godain kamu. Aku akui waktu itu aku emang bohongin kamu, bukan tanpa sebab aku bohongin kamu, aku hanya nggak mau kamu salah paham dan nuduh aku yang enggak-enggak, tapi pada akhirnya masalahnya jadi runyam. Walaupun waktu itu kamu memang tersulut emosi, tetap saja kalimat itu real keluar dari mulut kamu. Kamu juga enteng banget mutusin aku di depan sahabat kamu dan di depan sahabat aku juga, coba bayangin dong gimana malunya aku? Berasa nggak punya harga diri." Andy memotong ucapan Gina, 4 bulan telah berlalu tetap Gina masih belum beranjak dewasa, dan sama sekali tidak percaya dengan penjelasannya waktu itu.


"Aku masih berharap, kamu merubah sikap kamu yang terlalu gampang terpancing emosi. Semoga kamu beranjak dewasa dan bisa menahan emosi agar tidak keceplosan ngomong sembarangan. Gih sana beres-beres, bentar lagi jam ngantor usai." Tanyanya ndy mengusap lembut punggung tangan Gina, Andy juga memberikan senyuman simpul miliknya.


Dengan raut wajah tidak senang Gina menarik kembali kursi itu. Gina membereskan semua berkas dan dokumen di mejanya. Mematikan komouter, dan segera menutuo tirai di ruangan itu. Beberapa menit lagi jam ngantor usai, dan Gina lebih memilih memainkan ponselnya, karena Andy dari tadi sibuk menatapnya.


Andy menyesap kopi buatan Gina, sebenarnya tidak ada tang aneh dengan kopi itu, kopi sachet'an yang memang untuk ukuran 150 ml, di seduh dengan air panas ketika di aduk menggunakan sendok mengeluarkan aroma khasnya. Sedangkan untuk Andy, kopi ini sangat spesial karena di seduh oleh wanita yang pernah mengisi hatinya, wanita yang tadinya terlihat sangat dewasa tetapi dalam sekejap berubah menjadi kekanakan dan emosinya sangat labil.


Kapan terakhir kali Gina membuatkannya kopi? Mungkin sekitaran 4 bulan yang lalu sebelum hubungannya kandas. Terkadang Andy juga merasa kangen pada masa-masa pacaran, video call sebelum tidur, dan Andy juga sangat jangan mengantarkan Gina pulang ngantor dan menyempatkan diri untuk makan malam di sana.


Apa kabar dengan bioskop? Apa kabar dengan taman kota? Apa kabar dengan Starbucks? Apa kabar dengan kafe dan restoran? Andy sangat merindukan tempat-tempat itu, tempat-tempat yang pernah di kunjunginya dengan Gina. Andy juga sangat rindu perihal meminta izin ada mama Gina sebelum mereka pergi nongkrong ataupun makan.


Wajah cantik itu kini terlihat jelek, bibirnya manyun seperti Donal bebek. Tangannya sangat sibuk memainkan ponsel, manik matanya juga terfokus menatap layar ponsel itu. Garis bibir Andy terangkat, sampai sekarang pun Andy sangat menyukai ekspresi bete di wajah Gina.


"Kamu selalu cantik dalam ekspresi apapun, kecuali ekspresi kemarahanmu. Semoga kamu bisa merubah sifat, dan menjadi dewasa sehingga siap untuk kuajak mengarungi dunia." Ucap Andy dalam hati, Andy kembali menyesap kopi itu. Mengusap pinggiran cangkir yang terdapat sisa-sisa seruputan bibirnya.


Sepuluh menit sebelum jam ngantor usai itu terlalu lama untuk Gina yang memang sudah bete berada di ruangan itu, tetapi terlalu sebentar untuk Andy yang sedang mengamati gerak-gerik Gina.


Tepat ketika Andy sedang membereskan meja kerjanya, bel berbunyi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Gina langsung keluar dari ruangan itu, tanpa pamit dan bahan meninggalkan Andy belum selesai membereskan berkas-berkas.


"Kak Gina." Ujar Risa menghampirinya, tersenyum ramah dan segera menggandeng tangan Gina.


Tidak berselang lama datanglah Tiara, bergabung dan berjalan beriringan sembari mengobrol santai. Masuk ke dalam lift dan segera menekan angka lantai dasar.


Begitu keluar dari gedung pencakar langit, manik mata Risa melihat mobil Riko yang terparkir tepat di depan gerbang. Riko menurunkan kaca mobilnya, tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Gina.


Gina dan Tiara merasa aneh dan curiga, mereka telah bersiap dengan mulutnya yang akan mengajukan beberapa pertanyaan yang wajib kudu banget di jawab.


"Sa..," ucap Tiara dan Gina yang sekarang melangkahkan kakinya dengan sangat pelan, berusaha melambatkan laju jalannya.


"Ah itu, sebenarnya gue sama Riko udah tunangan." Risa dengan senyum canggung langsung memperlihatkan jari manisnya yang tersemat cincin mungil nan elegan.


"Ceritanya panjang banget, dan sebenarnya gue juga kaget dan nggak nyangka. Gue berhutang penjelasan pada kalian, gue mau cerita semuanya tapi nggak sekarang. Riko jemput gue karena hari ini jadwalnya ayah kontrol ke RS, gue duluan ya kakak-kakak." Risa langsung masuk ke dalam mobil Riko, dan melambaikan tangan pada Tiara dan Gina. Secepat kilat mobil itu melaju.


"Cepat banget ya, duh keduanya nih gue." Ujar Tiara yang masih mencoba mencerna semua kalimat yang Risa ucapkan satu menit yang lalu.


Tidak berselang lama, Evan datang menjemput Tiara. Tiara menawarkan Gina untuk pulang bareng, karena Tiara tahu Gina pulang sendirian. Tetapi Gina menolak, jika menumpang mobil mereka Gina semakin merasa miris.


Selepas kepergian Tiara dan Evan, Gina mengetuk-ngetuk ujung hellsnya, Gina merasa bete dan kesal. Risa sudah tunangan, kemungkinan Tiara juga bakal segera di kamar Evan. Dirinya? Jangankan tunangan dan berharap ada yang melamar, punya pasangan saja tidak.


Gina memijat-mijat dahinya yang terasa pusing, sesekali manik matanya menatap langit. Gina berharap semesta berbaik hati padanya, dalam hati Gina berdo'a meminta agar hidupnya segera di turunkan.


Andy membunyikan klakson, dan menurunkan kaca mobilnya. "Pulang bareng nggak?" Tanya Andy dengan ramah.


"Nggak!" Ketus Gina sambil mendelikkan matanya, saat ini juga rasanya Gina ingin sekali menangis karena kepikiran belum menemukan jodohnya.


"Bareng aja yuk! Pergi ke taman sore-sore gini kayanya enak." Ujar Andy, Andy tahu gimana kondisi hati Gina. Dari tadi Andy memperhatikan Gina dari jauh, wajah kaget Gina ketika melihat cincin di jari manis Risa juga terlihat jelas raut oleh Andy.


Gina menerima tawaran Andy, Gina duduk di sebelah Andy. Selain menyibukkan diri dengan bermain ponsel, sesekali Gina menatap jalanan melalui kaca mobil.


Mobil telah sampai di taman. Seperti biasa, taman ini akan sangat ramai ketika sore hari. Beberapa street food juga berjajar di sana. Begitu turun dari mobil, Gina langsung mencari bangku yang kosong.


Andy membiarkan Gina berjalan lebih dulu, karena Andy akan membeli beberapa cemilan dan tentunya permen kapas juga.


"Nih." Andy memberikan kantong kresek yang bersisi cemilan itu kepada Gina.


Gina memberinya, dan langsung melahap beberapa sosis bakar. Tidak banyak yang mereka berdua bicarakan, bahkan keduanya lebih banyak diam sembari menatap lalu lalang orang di taman, dan sesekali manik mata mereka bertemu.


Andy tidak duduk di bangku itu, Andy memilih merebahkan tubuhnya diatas rumout. Menatap langit sore yang sudah berubah menjadi kemerahan, itu loh yang biasanya orang sebut sunset. Andy terfokus menatap langit yang cantik itu, terkadang garis bibirnya terangkat.


Manik mata itu sekarang terpejam, pikiran-pikiran yang melayang dan menari-nari. Akhir-akhir ini Andy sedang sibuk memikirkan Karin dan ibunya, sibuk memikirkan hidupnya yang seperti di jungkir balikan dalam sekejap. Andy sibuk memikirkan pendidikan Karin, Andy sibuk memikirkan caranya mencari uang banyak dalam waktu dekat. Tiba-tiba manik mati Andy yang terpejam itu mengeluarkan air mata, dan Andy langsung mengusapnya dengan telapak tangannya.


Gina kaget setengah mati, Andy menangis? Ada apa sebabnya? Gina ingin sekali bertanya, tetapi tidak bisa, lidahnya terasa kelu. Terlebih lagi Gina takut di bilang kepo terhadap urusan orang lain.


Andy bangun dan langsung terduduk, kini Andy mengambil sejumput permen kapas yang ada di tangan Gina, dan langsung memasukannya ke dalam mulutnya. Dasar permen kapas, baru beberapa detik saja masuk kedalam mulut langsung hilang begitu saja.


"Langitnya cantik banget ya gin." Ujar Andy yang sekarang kembali menatap langit.


"Iya." Jawab Gina, Gina juga ikutan menatap langit.


"Kaya kamu." Ucap Andy spontan dan memang sengaja.


Gina menatap Andy sekilas, memperhatikan raut wajah Andy. Gina semakin tidak mengerti dengan Andy, Andy katanya sayang Karin, aja Andy juga sangat membanggakan Karin. Lalu kenapa Andy masih suka ngebaperin dirinya? Sejujurnya Gina merasa bahagia, apalagi ketika barusan Andy mengatakan dirinya cantik. Tetapi lagi-lagi ada Karin di hati Andy, sehingga Gina tidak boleh berharap lebih.


Langit kemerahan itu sudah mulai pudar berganti langit yang sedikit gelap, orang-orangnya juga sudah mulai pusing. Angin sore itu sangat dingin menembus tulang, Gina bahkan mengusap lengannya berkali-kali karena merasa kedinginan.


Lagi-lagi tidak banyak percakapan diantara mereka. Andy langsung menuntun Gina dan segera pergi ke masuk ke mobilnya. Andy melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Gina. Mobil mulai melaju kembali ke jalanan ibu kota, kumandang adzan magrib sudah terdengar. Gelap sudah datang, dan kerlap-kerlip dari lampu kendaraan sudah terlihat.

__ADS_1


*****


Selepas les renang kemarin badan Nayla sempat demam, Arka dan Kalista sangat panik, sehingga mereka langsung membawanya ke RS. Dokter mengatakan itu hanya demam biasa dan sangat wajar untuk bayi yang pertama kali berenang di kolam yang volume airnya banyak. Hal itu bisa di sebut sebagai adaptasi atau penyesuaian tubuh tahap pertama.


Ternyata memang benar, sorenya demam di badan Nayla sudah menghilang. Arka dan Kalista sempat was-was, bahkan Arka sempat merasa bersalah karena dirinya lah yang mengajak Kalista membawa anaknya untuk les renang.


Hari ini adalah hari Selasa, pagi-pagi Arka susah bangun dan langsung membersihkan badannya.


Arka juga menyiapkan sendiri stelan kerjanya, karena Kalista sepertinya merasa capek sehingga sibuk tiduran terus. Arka memaklumi hal itu, bahkan Arka juga membawakan sarapan Kalista ke kamar.


"Aku berangkat kerja ya." Arka memeluk Kalista sekilas, mencium dahinya.


"Ayah berangkat kerja dulu ya sayang." Kini Arka mencium Nathan dan Nayla.


Arka berjalan keluar dari kamar itu, tetapi sepeti ada yang janggal dengan hatinya, sehingga Arka memutuskan untuk kembali ke kamar itu.


"Loh kok balik lagi?" Tanya Kalista heran, "Ada yang ketinggalan?"


Arka beringsut maju dan langsung memeluk Kalista dengan sangat erat. "Kamu jangan kemana-mana, jagain anak-anak. Kalau repot minta bantuan bibi aja ya, pokonya kamu jangan sampai kenapa-napa!" Ucap Arka yang masih terus mendekap Kalista.


"Aku nggak bakalan kemana-mana, lagipula aku betah di rumah mengurus anak-anak. Ada apa sih? Tumben banget deh ada adegan melow pagi-pagi begini." Tanya Kalista sambil tetap memeluk Arka.


Arka melepaskan dekapannya, memandang Kalista dengan mata sendunya. "Aku nggak tahu kenapa, tapi ada rasa sesak dan sedikit perih di hati ini." Ucap Arka sambil memegang dadanya.


"Pikiranmu kayanya lagi nggak tenang, banyakin berdoa dan mengingat Allah. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja, termasuk aku dan anak-anak." Ucap Kalista lembut.


"Sana kerja, kemarin kan cuti kasian loh Andy kalau sampai sekarang harus menghandle kerjaan kamu lagi. Semangat kerja ya, nanti aku kabarin kamu setiap saat, kalau kamu sempat nanti kita video call." Kalista secepat kilat mendaratkan bibirnya di pipi Arka.


"Kalau kaya gini aku nggak mau kerja, aku semakin betah di rumah." Arka malah semakin bermanja-manja pada Kalista.


"Ih kebiasaan." Ketus Kalista.


"Iya-iya aku berangkat sayang. Aku tahu diri kok, kalau aku nggak kerja atau malas-malasan nanti istriku dapat tawarin jadi istri barunya orang lain. Dih amit-amit." Arka mencubit pelan hidung Kalista, kembali mengecup pipi dan dahi Kalista, beserta kedua anak-anaknya.


Arka meminta pak sopir untuk mengatarkannya bekerja, karena dirinya merasa bakalan tidak fokus untuk hari ini. Lagipula, pak sopirnya ini sangat hapal seluk beluk jalanan gang-gang sempit untuk menghindari kemacetan, karena sesungguhnya Arka sangat tidak suka terjebak kemacetan.


Mobil telah sampai di depan gerbang gedung pencakar langit. Arka turun dan beberapa security langsung menyapanya dengan hangat, security itu juga menawarkan untuk membantu membawakan tas Arka. Arka bilang tidak perlu, Arka selalu teringat Kalista Kalista, tidak boleh sombong dan jangan merasa tinggi. Apalagi sampai harus meminta bantuan orang lain untuk hak sepele.


Begitu duduk di meja kerjanya, Arka langsung di hadapkan dengan beberapa kerjaan. Gina juga memberitahukan jadwal kerja hari ini yang sangat padam. Ada beberapa perempuan penting dengan klien, dan ada beberapa rekan bisnis yang mengajak makan siang bareng sekaligus akan menawarkan suatu kerja sama.


Hari ini jadwalnya meeting rutin sebulan sekali. Ada beberapa masalah yang harus banget Arka bahas, sisanya hanya mengevaluasi kinerja para karyawan dalam waktu satu bulan ke belakang. Biasanya dalam rapat ini ada beberapa karyawan yang akan di tegur dan di berikan sansi karena kinerjanya kurang memuaskan.


Arka pergi dengan Andy untuk menghadiri beberapa pertemuan penting. Semuanya berjalan lancar, kerja sama bisnis pun semakin berkembang pesat. Karena passion Arka memang di bidang bisnis, maka saham perusahaan pun semakin terus bertambah. Pundi-pundi rupiah setiap bulannya selalu bertambah, Aria juga merupakan boss yang tidak pelit, Arka selalu memberikan bonus untuk para karyawannya.


Arka mengembuskan napasnya kasar, hari ini terasa sangat lelah, padahal waktu baru menunjukan pukul 11:00 WIB, tetapi Arka dan Andy sudah pergi ke beberapa tempat.


"Ndy, kemarin gue pergi ke apartment lu. Gue kaget apartment lu di tempati oleh orang lain, lu jual apartemen?" Tanya Arka, Arka memutar-mutarkan kursi kerjanya karena punggungnya juga merasa pegal.


Gina yang mendengarkan ucapan Arka barusan merasa cukup kaget, bahkan sampai membelalakan matanya. Gina juga menajamkan pendengarannya, bersiap mendengarkan jawaban yang akan keluar dari mulut Andy.


"Iya gue jual!" Kata Andy.


"Gue lagi butuh uang banget!"


"Ada apa sih? Lu kok nggak bilang sama gue! Gue kan bisa bantuin lu!" Sengit Arka, Arka merasa Andy sudah mulai menjauh darinya.


"Masalahnya agak runyam! Iya gue tahu lu pasti bakalan nolong gue, tapi kalau setiap saat selalu di tolongin sama lu gue bisa apa? Gue mau berusaha dengan kerja keras gue sendiri, seperti kata lu setahun yang lalu, gue nggak bisa terus-terusan jadi asisten pribadi lu, dan gue juga nggak bisa terus-terusan bekerja sama lu, gue harus maju sendiri dengan usaha gue." Ucap Andy.


"Benar juga sih! Gue selalu support lu, tapi ya kalau kepepet banget malah bilang sama gue." Arka bangun dan menepuk pundak Andy.


"Oke, thanks banget bro!"


"Btw, gue pengen tahu banget lu butuh uang kepepet buat apaan?"


"Gue lagi ada masalah, terus si Karin juga pengen menempuh pendidikan di luar negeri, Karin sih bilangnya mau ngejar beasiswa, tapi ya untuk jaga-jaga gue kan harus punya pegangan. Gue tahu kok Karin anaknya pintar, makanya gue akan merasa bersalah banget kalau sampai nggak bisa biayain kuliah dia di luar negeri."


Gina yang mendengar semua itu seketika menjadi geram. Karin Karin Karin Karin lagi, bahkan Andy sampai menjual apartment untuk biaya kuliah Karin. Karin itu sadar nggak sih, dengan perlahan dia itu menghabiskan harta Andy. Loh kalau Karin kembali menempuh pendidikan itu artinya dia belum mau menikah? Duh bisa keburu Andy berkepala tiga.


Arka Kemabli lagi ke meja kerjanya, duduk dan menenggelamkan kepalanya diantara tangannya yang menempel pada meja. Rasa lelah itu membuat matanya sedikit mengantuk, lambat laun Arka malah menjadi tertidur.


Tiba-tiba Oma dan ayahnya ada di sampingnya. Keduanya tersenyum pada Arka, mereka memakai baju putih cerah tetapi wajahnya terlihat pucat, ditangannya terdapat sekeranjang apel. Mereka berdua menghampiri Arka, memeluk dan menciumnya. Oma mengusap puncak kepala Arka dengan sangat lembut. Oma bilang Arka anak yang kuat, anak yang tangguh, Oma juga bilang Arka harus menyanyi Kalista dengan Nathan dan Nayla. Sedangkan ayahnya menitipkan segala aset dan perusahaannya yang telah di bangun dengan susah payah, ayahnya juga bilang Arka jangan sampai membenci mama Lisa. Kalimat terakhir yang di ucapkan pak Anggara adalah "Hiduplah dengan damai beserta istri dan anak-anakmu, berikan mereka cinta yang banyak. Maaf kami harus pergi." Oma dan pak Anggara kembali memeluk Arka dan menciumnya, lalu tiba-tiba mereka berdua memudar menjadi bayangan, dan banyangkan itu berubah menjadi asap.


Arka terbangun dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya, dahi dan pelipisnya terasa sangat dingin. Napasnya ngos-ngosan dan hatinya tidak tenang. Pikiran Arka sama sekali tidak bisa berpikir jernih.


"Minum dulu nih." Andy menyodorkan sebotol air mineral. Ini lah yang Arka suka dari Andy, Andy selalu mengerti dirinya. Andy selalu peduli padanya, tanpa harus bertanya lebih dulu. Nantinya Arka akan bersuka rela bercerita dan Andy akan terfokus mendengarkan.


Sekarang sudah memasuki jam istirahat, Arka dan Andy berjalan beriringan menuju kantin. Duduk di bangku yang memang menjadi tempat duduk favorit Arka, bahkan bibi kantin saja sampai hafal banget dengan menu makanan Arka dan Andy.


Sembari menyantap makan siang, Andy memberitahukan mengenai jadwal kerja Arka setalah jam istirahat usai. Ini memang bukan tugas Andy, tetapi Andy hanya mengingatkajnya saja barangkali Andy lupa.


Tepat ketika Arka akan menyendokkan suapan terakhirnya, ponselnya berbunyi sehingga Arka menunda makanan yang hangat sesendok itu.


Nama "Ayah" terpampang di layar ponselnya, Arka langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Hallo, ayah." Ucap Arka dengan riang, hari ini karena Arka sangat sibuk bekerja sehingga Arka belum sempat berkabar-kabari ayah dan omanya.


"Permisi pak, pemilik ponsel ini beserta seorang wanita yang mungkin usianya telah lanjut, mengalami kecelakaan dan langsung meninggal di tempat." Ucap suara seseorang di balik telepon itu.


Duaaaaaarrrrr


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Arka merasa dunianya tiba-tiba gelap. Hati dan pikiran Arka sama sekali tidak sinkron, mimpinya beberapa menit yang lalu ternyata merupakan sebuah pertanda. Arka menangis tersedu-sedu, bahkan Arka berteriak dan menjerit pilu.


Beberapa karyawan menatapnya heran, Andy segera mengambil alih ponsel itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Setalah Andy mengetahui apa yang barusan menimpa Oma dan ayah Arka. Andy segara memberitahukan kepada seluruh karyawan mengenai kematian pak Anggara dan omanya Arka.


Andy langsung meliburkan kantor. Andy mengurus kantor dengan sangat baik, Andy juga menahan Arka untuk pulang sendirian.


Setelah menutup kantor, Andy mengantarkan Arka pulang ke rumahnya. Arka sempat pingsan dan tak sadarkan diri, beberapa security membopong tubuh Arka aja memasukannya ke mobil Andy. Andy mengajak Tiara, Gina, dan Risa untuk ikut ke mobilnya.

__ADS_1


Begitu sampai di halaman depan kediaman Anggara, security yang sedang berjaga merasa heran. Menatap tuannya sudah pulang di siang hari seperti ini?


"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya kalista sambil mengetuk kaca mobil Andy.


Sementara itu Arka belum tersadar dari pingsannya, dan Andy berserta trio wanita di mobil itu pun merasa bingung bagaimana harus menjelaskan semua ini pada Kalista.


Arka terbangun, dan langsung keluar dari mobil. Arka menatap Kalista dengan nanar, lalu mengalirlah air mata itu dengan deras.


"Oma dan ayah sudah pergi!" Ucap Arka dengan terbata-bata.


Tubuh Kalista merosot sehingga kini dirinya terduduk di lantai. Kalista merasa ini semua bohong, Kalista ingin Oma dan ayah mertuanya masih hidup. Air mata Kalista pun meleleh begitu saja, berita duka ini sangat menyayat hati Kalista. Menangis, menjerit dan berteriak sudah Kalista lakukan. Tetapi Kalista segera tersadar, dirinya harus kuat demi Arka dan kedua anak kembarnya.


Kalista memeluk Arka dengan erat, berusaha menenangkan Arka yang sedang di rundung duka. Tidak berselang lama Evan dan Riko datang. Mereka mendapatkan kabar dari Tiara.


Kalista mengutus Evan dan Riko untuk pergi ke malang, untuk mengurus jenazah ayah dan omanya agar segara di proses. Sedangkan kepada Andy, Kalista meminta tolong untuk mencarikan temoat pemakaman umum yang paling dekat jaraknya dengan rumah ini.


Nathan dan Nayla juga menangis sangat kencang, seolah-olah mereka mengetahui bahwa opa dan buyutnya telah meninggal dunia. Suara tangisnya belum mereda, Tiara, Gina, dan Risa dengan sigap langsung mengambil alih dua bocah kembar itu. Membuatkan susu formula sesuai dengan yang meraja baca pada petunjuk pembuatannya.


Beberapa security memasang bendera kuning. Kalista langsung menggelar pengajian sembari menunggu jenazah sampai di rumah duka. Untuk Arka ini memang pertama kalinya dirinya merasakan bagaimana rasanya sakit dipisahkan oleh sebuah kematian. Sementara Kalista sudah pernah berada di fase seperti ini, sakit itu pasti! Tetapi mau tak mau kita harus ikhlas menerimanya, mereka berdua telah di panggil oleh yang maha kuasa, itu artinya jatah hidup mereka di dunia itu telah habis.


Kebaikan pak Anggara dan Oma sampai kapan tidak akan terlupakan oleh Kalista. Walaupun sedang dalam keadaan berduka seperti ini, Kalista bisa mengambil sisi positif dari pak Anggara alias ayah mertuanya, belia begitu berbakti kepada orang tua, sehingga yang maha kuasa pun memanggilnya barengan dengan ibunda tercinta.


Berita duka telah menyebar ke berbagai penjuru kota, banyak sekali kerabat dan rekan kerja pak Anggara yang datang ke rumah. Mereka menyampaikan ucapan bela sungkawa pada Arka. Para wartawan pun sudah berkumpul memenuhi halaman depan kediaman Anggara.


Mama Lisa yang menyaksikan berita itupun segera mungkin menghubungi Dino, mereka darang bersama ke rumah duka. Hal yang pertama kali mama Lisa cari yaitu Arka, mama Lisa memeluknya erat berusaha menyalurkan energinya agar Arka merasa tegar dan kuat. Arka harus percaya bahwa ini merupakan ketetapanNya.


Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya jenazah pun sampai di rumah duka. Sudah di mandikan dan sudah di kafani. Arka membuka kain kafan itu, Arka semakin menangis histeris ketika melihat wajah Oma dan ayahnya untuk terakhir kalinya. Arka memeluk jenazah itu sambil terus menangis, Kalista juga sama seperti Arka. Kalista sama sekali tidak bisa menahan laju air matanya.


Semua karyawan di kantor Anggara yang ikut melayat lun menangis, mereka sangat ingat bagaimana baiknya pak Anggara dalam memperlakukan karyawan. Bahkan semua pelayan dan security pun menangis. Pak Anggara dan Oma sebelum pergi ke malang, sempat berbicara serius tetapi juga bercanda, bunyinya seperti ini "Nanti kalau saya sudah tiada, kalian tetap harus memperlakukan Arka dan istrinya seperti kalian memperlakukan saya." Kali itu Oma bilang itu bercanda, tetapi kalimatnya sangat serius.


Banyak sekali orang yang mengiringi kepergian almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Jenazah sudah di kebumikan, beberapa orang juga sudah mulai meninggalkan pemakan ini. Arka masih menangis sembari memeluk batu nisan itu, Kalista sedang menabur bunga di bantu oleh mama Lisa. Andy, Riko, dan Evan juga masih setia menemani Arka.


Ternyata memang benar, perpisahan yang sangat menyakitkan adalah kematian. Tidak peduli betapa Arka menangis pilu, menjerit, dan merindukannya. Ia tidak adakan kembali ke dunia.


Mungkin sekarang Arka merasa dunianya gelap gulita, dan Arka terjebak di dalam kegelapan itu. Arka tidak tahu harus mengarahkan hidunya kemana? Tetapi Kalista berjanji, Kalista akan mengarahkan hidup Arka agar bisa bangkit dari kegelapan dan keterpurukan ini. Semua ini memang sangat sulit untuk Arka dan kalista, tetapi lambat laun merasa akan menyadari bahwa kematian memang datang menjemput kapan pun itu.


Langit sudah hampir gelap, Arka masih setia memeluk batu nisan itu. Dan Kalista pun masih setia menemani suaminya yang sedang terpuruk.


"Nak pulang ya, langit sudah hampir gelap. Malam akan datang, ayah dan Omamu sudah tenang di alam sana. Sekarang kita pulang, kita gelar acara pengajian untuk mendoakan mereka berdua, kasihan juga istrimu sudah berapa jam menunggu di sini." Mama Lisa mengusap lembut punggung Arka, Arka mendongakkan kepalanya saja langsung berjalan ke arah mobilnya.


Andy mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Andy melirik Arka yang keadaanya sangat kacau, bahkan bajunya juga sangat kotor karena memeluk batu nisan.


Begitu tiba di rumah, beberapa wartawan bertanya macam-macam pada Arka. Andy dengan kasar langsung menepis tangan wartawan yang sedang menyodorkan alat rekamnya. Andy sangat geram kepada mereka, Andy tahu neraka sedang mencari informasi untuk di beritakan. Tetapi, apakah mereka tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana kondisi Arka sekarang?


Pengajian di gelar sore hari, dan sekarang pengajian itu telah usai. Pengajian akan di gelar lagi besok sore, begitupun seterusnya hingga hari ketujuh.


Arka berjalan gontai memasuki rumahnya, rambut wajah dan bajunya sudah bercampur tanah. Kalista menuntun Arka untuk masuk ke kamarnya, Arka masuk ke kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya. Setalah selesai mandi dan berpakaian, Arka pergi berjalan menuju kamar omanya. Di kamar itu Arka merebahkan tubuhnya dan kembali menangis tersedu-sedu.


Kalista juga membersihkan tubuhnya, dan segera mengganti pakaiannya. Kalista menghampiri Nathan dan Nayla yang sedang di gendong oleh Gina dan Tiara. Kalista mengecup mereka berdua, Kalista juga menyempatkan untuk menyusui mereka.


"Terimakasih ya sudah menjaga Nathan dan Nayla, kalian pulang saja, karena ini sudah luamayan larut. Bukannya saya mengusir, kasian orang tua kalian pasti sangat khawatir." Ujar Kalista dengan lembut.


Mereka bertiga pulang dengan diantar oleh Riko, Riko berjanji selesai mengatar mereka dirinya akan kembali lagi ke rumah ini.


Sekarang Kalista sedang merundingkan beberapa hal dengan Andy. Umunya sih merundingkan masalah kantor, kantor di liburkan saja selama satu Minggu. Nanti jika satu Minggu itu Arka masih belum pulih atas sakit hatinya karena terpisahkan oleh kematian, maka Kalista dengan sangat memohon meminta Andy untuk menghandle semua urasan kantor. Karena kantor jika di liburkan dalam waktu yang lama, pastinya lambat laun semua investor akan mundur dan saham perusahaan akan merosot.


Kalista meminta mama Lisa untuk menginap di sini, untuk menemani dirinya dan tentunya juga untuk menemani Arka. Dini pulang dulu untuk mengambil beberapa baju mama Lisa.


Waktu sudah menunjukan pukul 20:00 WIB, mama Lisa mengajak Kalista untuk makan malam. Walaupun tidak nafsu makan, Kalista memaksakan makan walaupun hanya beberapa siap saja. Kalista mengambilkan nasi dan sayur dengan porsi yang sangat minim. Kemduain berjalan ke arah kamar Oma, tempat dimana Arka berada sekarang.


Kalista meletakkan mangkuk itu diatas nakas, kemduain dirinya merangkul Arka aja mengusap punggunya lembut.


"Makan dulu ya." Pinta Kalista dengan lembut.


Tidak ada jawaban dari Arka, malahan Arka semakin memeluk figura oma dengan tangis yang semakin histeris.


"Aku tahu ini sangat berat, bukan hanya kamu yang merasa kehilangan. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, bahkan mama Lisa dan Dino pun menangis, sahabat kamu, sahabat aku, pelayan security, bahkan semua karyawan kantor pun menangis. Mereka semua kehilangan sosok manusia nan humbel. Seketika dunia ini gelap, bahkan kita nggak tahu harus bagaimana? Apa yang harus dilakukan? Walaupun kita beroda dengan sangat khusyuk, sang maha pencipta tetap tidak akan mengembalikan mereka."


"Mungkin sekarang tubuh ini juga menolak untuk makan, tetapi asupan makanan itu sangat penting, agar stamina kita terjaga dan kitanya juga tidak sakit." Imbuh Kalista lagi, Kalista berharap Arka mau makan walaupun hanya dua sendok saja.


Arka menepis tangan Kalista dengan kasar, Arka menunjuk-nunjuk telunjuknya telah di hadapan wajah Kalista. "Kamu tahu nggak sih, aku tuh sebagai seidh, sedang dirundung duka! Aku sama sekali tidak ada niatan untuk makan. Apa kamu pernah merasakan bagaimana rasa sakitnya kehilangan? Kamu nggak tahu kan gimana pedihnya hati ini?" Ujar Arka seidkit berteriak, bahan suaranya menggema di kamar ini.


Perkataan Arka barusan cukup melakukan hati dan perasaan Kalista. Kalistan pun kembali menangis. "Apa yang sekarang sedang kamu rasakan, pernah aku alami dan aku rasakan ketika aku berusia 17 tahun. Saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku merasa duniaku hancur lebur dan menjadi gelap gulita. Saat itu aku masih remaja, masih membutuhkan biaya untuk menempuh pendidikan, tetapi apa daya? Aku tinggal sendirian di dunia ini, tidak punya teman dekat saja tidak ada saudara juga. Aku tahu bagaimana rasa sakitnya kehilangan yang terpisahkan karena sebuah kematian, kematian itu sudah ketetapanNya, dan semua terjadi atas izinNya. Kita harus ikhlas walaupun tak ikhlas, kita harus bisa menerimanya. Bahkan kematian itu bisa datang kapan saja."


"Kamu itu beruntung! Sedang berada dalam keadaan duka seperti ini, tetapi masih di kelilingi banyak orang yang datang sama kamu. Dulu aku ketika sednag terpuruk dan gelap gulita seperti ini, tidak ada satupun orang yang mensupport aku, tidak ada yang menemaniku juga. Satu-satunya malaikat yang datang kepadaku adalah dokter Rian." Ucap Kalista dengan tegas.


Arka langsung memeluk Kalista. Arka sadar telah membentaknya, dan Arka luoa bahwa Kalista pernah berada di fase yang sangat sulit seperti ini. Meraka berpelukan dan saling menangis, berusaha dan mencoba menguatkan satu sama lain.


Kalista mengelap sisa-sisa air mata di wajah Arka. Kalau at juga menyuapkan beberapa sendok makanan kedalam mulut Arka, walaupun tidak banyak setidaknya tubuh itu terisi oleh asupan makanan.


"Oma dan ayah sudah tenang di alam sana. Oma tidak mau melihat kamu terus menerus menangis dan bersedih. Meraka berdua tidak suka melihat jagiannya meneteskan air mata. Kamu harus kuat, tabah dan ikhlas, demi aku dan kedua bayi kembar kita."


"Walaupun Oma dan ayah telah tiada, hidup kamu tidak akan kesepian, karena ada aku yang sangat mencintai kamu, dan ada anak-anak juga yang sangat membutuhkan kasih sayang kamu. Sedih dan terpuruk ketika sednag seperti ini itu wajar, tetapi jangan terpuruk dalam jangka waktu lama. Kamu tidak sendiri, sahabat kamu masih ada di sisi kamu, dan jangan lupakan satu hal, kamu masih punya mama kandung."


"I love you." Kalista mencium dahi dan pipi Arka.


Dalam keadaan terpuruk seperti ini justru peran Kalista sebagai istri sangat di butuhkan. Kalista akan terus mendampingi Arka sampai kapan, bahkan sampai maut memisahkan. Kalusta bersumpah dan berjanji pada dirinya sendiri, seumur hidupnya hanya akan mencintai Arka, walaupun jika suatu saat nanti yang maha kuasa memanggil Arka lebih dulu, Kalista tatapan akan setia dan mencintai Arka hingga ajal juga jemputnya untuk mempersatukannya di surgaNya.


Kalista meminta pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini. Dan hasilnya ini murni kecelakaan, mobil yang mereka kendarai tiba-tiba menambatkan pembatas jalan. Mobil juga susah di periksa, semuanya dalam keadaan normal. Semuanya murni, tidak ada unsur kesengajaan ataupun faktor dari mobil itu sendiri.


Hari ini menjadi hari yang paling berat untuk Arka. Bahkan Arka tidak menyangka Oma dan ayahnya akan meninggalkan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Oma bahagia karena telah mempunyai cicit kembar. Dan rasanya baru kemarin juga pak Anggara berteriak histeris heboh karena berhasil membangun perusaahanna sendiri.


Cuplikan kebersamaan Arka beserta Oma sedari kecil hingga Arka sudah dewasa seperti sekarang ini, sepeti sedang diputar di otak Arka. Hal yang paling Arka syukuri adalah, Arka telah menikah sesuai dengan keinginan ayahnya, dan Arka telah mempunyai anak sesuai dengan keinginan Oma tercintanya.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!

__ADS_1


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤


__ADS_2