SUN FLOWER

SUN FLOWER
CERAI


__ADS_3

Langit sudah hampir gelap, pertanda malam akan segera datang. Dengan langkah malas Tiara pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Tadi sore begitu jam ngantor selesai, Tiara tidak langsung pulang ke rumahnya, Tiara pergi ke taman seorang diri.


Hari ini adalah sidang perceraian orang tuanya, dirinya sengaja tidak menyempatkan untuk hadir. Coba bayangkan anak mana sih yang ingin orang tuanya bercerai? Sesulit apapun keadaannya, pasti semua orang juga ingin keluarganya tetap utuh.


Kata harmonis itu sama sekali tidak ada di keluarga Tiara. Kedua orangtuanya selalu sibuk bekerja, dan berada di luar kota. Hingga pada akhirnya maminya memergoki papinya sedang bersama wanita lain, alias berselingkuh.


Pak satpam yang selalu berjaga di pintu gerbang pun tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. "Baru pulang non." Tersenyum menyapa ramah.


"Iya pak." Jawab Tiara dengan tersenyum juga.


Tiara tahu, bahwa pak satpam sebenarnya merasa kasihan pada Tiara. Pak satpam dan bibi adalah dua orang manusia yang menyaksikan sendiri bagaimana kesepiannya hidup Tiara. Bahkan Tiara juga bisa menebak isi hati pak satpam barusan ketika sedang tersenyum menyapanya. Sorot matanya menyiratkan rasa simpati.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Tiara berusaha menguatkan hatinya. Jangan sampai satu bulir air mata pun jatuh dan terlihat oleh mami dan papinya. Apapun keputusan pengadilan akan Tiara terima dengan lapang dada.


Ingin menolak? Ingin berontak? Siapapun pasti ingin. Namun apa daya? Papinya lebih memilih wanita itu. Mungkin Tuhan mentakdirkannya jalan hidupnya seperti ini.


Dua mobil mewah itu ada di halaman rumah megah ini. Mobil siapa lagi kalau bukan punya mami dan papinya.


Tiara membuka pintu, manik matanya langsung menangkap kedua sosok makhluk yang statusnya adalah orang tua kandungnya sedang makan malam bersama.


Sudah memutuskan untuk bercerai, namun masih bisa makan malam bersama? Ya ampun lucu sekali, ini sangat-sangat menggelikan! Seharusnya maminya merasa jijik dan marah terhadap kelakuan papinya, tapi ini? Oh my God Tiara bahkan sampai nggak habis pikir.


"Kerjaan lembur? Jam segini baru pulang? Tiap hari kaya gini? Kenapa harus kerja sih? Uang mami banyak!" Ucapannya terdengar sangat enteng, ekspresi wajahnya terlihat biasa aja. Menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan makan.


"Kamu tuh anak satu-satunya! Berhenti kerja! Uang papi juga banyak." Papanya pun ikutan bersuara.


Bola mata Tiara memutar dengan sangat jengah, di hadapannya ada mami dan papinya. Namun mereka berdua terlihat acuh tak acuh, dipikiran mereka hanya uang dan uang. Memang Tiara tidak pernah kekurangan uang, bekerja adalah satu cara mengalihkan perhatiannya agar tidak kesepian dan mempunyai kesibukan.


"Udah tahu banyak uang kenapa kalian bekerja terus menerus di luar kota? Udah punya uang segimana? Satu bank? Setumpuk gunung? Atau puluhan miliar? Atau bahkan triliun? Mami sibuk nyari uang sampai kehilangan papi." Nada bicaranya sangat songong, bahkan Tiara pun sempat-sempatnya meledek maminya.


"Papi? Sibuk nyari uang, sampai bisa menemukan wanita lain. Cih, mana janji suci pernikahan? Di langgar begitu saja? Kalau memang banyak uang ya kasih aja sama istri barumu itu! Untuk biaya lahiran si anak haram di perutnya si wanita gila!Jangan harap aku mau menerimanya, bahkan untuk mengatakan mama tiripun aku nggak sudi!" Emosinya memuncak, bahkan napasnya pun terdengar sangat berat. Ingin sekali Tiara menampar papinya, karena tidak terima soal perselingkuhan yang dilakukannya.


"Jaga mulut kamu! Anak kecil tahu apa sih?" Suaranya menggelegar di ruang makan, bentakan itu sangat keras dan terdengar jelas.


"Anak kecil? Kalian terlalu sibuk berada di luar kota, sehingga kalian tidak menyadari bahwa si anak kecil ini sudah berusia 24 tahun, sudah bukan anak kecil lagi." Emosi Tiara tersulut, bahkan sekarang dia pun membentak sang papi.


"Papi nggak terima aku katakan calon anak mu itu aku katakan si anak haram? Dia memang anak H A R A M! Karena papi melakukannya sebelum resmi menikah dengannya! Papi juga nggak terima selingkuhanmu aku katakan wanita gila? Iya dia menang gila! Wanita waras dan mempunyai akal sehat tidak akan mau melayani seorang laki-laki yang sudah beristri! Ninggalin mami demi wanita itu? Benar-benar nggak ada otak! Berlian di buang, seonggok sampah berbau p*lacur mau di pungut dan di resmikan? Haha terlalu bodoh dan sangat menggelikan!" Imbuhnya lagi. Entah Tiara mendapat kekuatan dari mana sehingga dirinya berani berbicara dengan sangat gamblang.


PLAAAAAKKK


Satu tamparan yang cukup keras mendarat di pipi mulus Tiara, pipi itu berubah warna menjadi merah padam dan terdapat bekas tangan yang tercetak. Dari sudut bibir itu mengalirlah darah segar, Tiara mengusapnya perlahan. Kemudian tersenyum menyeringai.


"Dasar anak kurang ajar!" Tidak puas dengan hanya satu tamparan, kini papinya pun memberikan satu tamparan lagi di pipi sebelah kiri Tiara.


"Hentikan! Jernih kan pikiranmu! Tiara anak kamu!" Bentak maminya, dan menjauhkan tangan menjijikan yang telah di pakai menampar pipi Tiara.


"Wajar aku kurang ajar! Soalnya kurang didikan dari orang tua, orang tuaku sibuk nyari harta sampai tidak memperdulikan diri kalian sendiri, terlebih lagi aku? Apa pernah kalian sebulan sekali mengunjungi aku? Atau minimal telpon lah, nanya kabar atau apa gitu. Lah kalian gimana? Di otak-otak kalian tuh pikirannya cuma uang, uang, uang, dan uang. Jangan lupa nanti kalau mati uangnya bawa, ikut kubur sana mayat kalian." Setiap ucapan yang keluar dari mulut Tiara, selalu membuat emosi papinya tersulut.


"Apa tanggapan mami mengenai perselingkuhan yang papi lakukan? Gimana mi enak nggak di selingkuhi? Harusnya mami tuh diam aja di rumah, urus anak dan suami. Ini nih akibat dari mami yang terlalu sibuk bekerja, papi kurang di belai. Jadinya aja nidurin p*lacur sampai mau punya anak haram."


Maminya terdiam, berusaha mencerna semua perkataan Tiara. Ucapan yang sangat menohok, tetapi memang benar inilah kenyataannya. Satu bulir air bening lolos dari mata mami. Namun percuma saja, semuanya sudah terjadi.


"Tapi, kalau niatnya emang mau selingkuh mah susah sih, mau mami secantik apa pun juga tetap aja akan di selingkuhi. Mata elang dia kan jelalatan terus." Intonasi yang sangat datar, telunjuknya menunjuk tepat pada papinya.


"Jadi, selain gila harta dan uang, papi juga gila wanita. Wanita itu suka sama papi bukan benar-benar karena cinta, tapi dia mengincar harta papi. Lihat sana nanti kalau papi sudah kere, sudah jatuh miskin papi bakal di tendang, dia bakal cari lagi mangsa baru." Cibir Kalista dengan senyum menyeringai.


"Papi itu terlalu bodoh! Tidak bisakah papi melihat mami? Mami adalah wanita yang menemani papi menapak karir dari nol hingga sesukses sekarang. Menemani papi merangkak, menemani papi dari berbagai macam suasana, menemani dalam suka maupun duka. Mami itu adalah wanita hebat! Coba tolong papi bukan mata papi lebar-lebar, jernih kan otak papi, kenapa sih papi jadi laki-laki beg* banget?" Kekecewaan di hatinya sama sekali tidak bisa di tahan, Tiara ingin mencurahkan segalanya sekarang di hadapan papinya. Berusaha agar papinya kembali pada jalan yang benar, berharap papinya dan maminya tidak jadi bercerai.


Bruuuuuuuuukk!

__ADS_1


Tangannya menggebrak meja makan, beberapa makanan di wadah pun tumpah begitu saja. Emosinya tersulut dan sangat memuncak, seorang anak satu-satunya yang seharusnya menghormatinya, kini malah dengan gamblang dan terang-terangan mencibir dan mengejeknya.


Byuuuuuuuuur, satu gelas jus jeruk di tumpahkan di wajah Tiara. "Kamu punya mulut tuh di jaga omongannya? Mana etika kamu?" Tangannya mengepal, jika saja mami tidak menahannya mungkin satu bogem mentah sudah mendarat di perut atau pipi Tiara.


"Masih bisa berbicara mengenai etika? Lantas dimana etika kamu seorang pria beristri, dan mempunyai satu anak, tega berselingkuh. Etika macam apa yang kamu anut? Etika menduakan cinta seorang istri? Hehe terlalu gila!"


Tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut papinya. Tetapi ia beringsut maju dan mendorong Tiara hingga terjatuh di lantai. Kemudian pergi keluar dan mengendarai mobilnya. Mungkin papinya akan menenangkan diri, atau bertemu dengan si wanita p*lacur itu.


"Mami tahu papi kamu salah, tetapi kamu juga tidak boleh berbicara seperti itu." Tangan itu terulur, dan membelai rambut Tiara.


"Jadi wanita itu harus kuat! Jangan lemah kaya mami, gampang banget di tindas papi." Tiara mendelikkan matanya, lalu menepis tangan sang mami agar terlepas dari rambutnya.


Helaan napas pasrah keluar begitu saja dari mulut sang mami. Lagi-lagi perkataan anak perempuan satu-satunya itu memang benar adanya.


"Hari ini mami dan papi resmi bercerai, tetapi kami tidak memperebutkan hak asuh anak. Karena mami dan papi tahu kamu sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Sekarang kamu pilih mau ikut mami atau ikut papi." Nada suaranya terdengar berat, ada rasa sakit di setiap kata-katanya. Namun ia masih berusaha berbicara selembut mungkin kepada anak gadisnya.


"Urusan anak saja tidak kalian pedulikan? Ironis sekali hidupku ini." Tiara menjeda kalimatnya, tangannya sibuk mengusap darah yang masih mengalir di sudut bibirnya.


"Bisa mami stay di Jakarta?" Sorot mata Tiara sangat tajam, berharap maminya mengiyakan pertanyaannya.


"Nggak bisa, mami harus keluar kota. Kerjaan mami disana numpuk banget." Ucapnya.


"Oke! Aku nggak ikut siapa-siapa! Mami pernah bilang kan rumah ini atas nama aku? Jadi aku berhak tinggal di sini. Mami tahu kan di mana pintu keluarnya? Silahkan mami pergi dari ruangan ini, sekarang!"


Dengan mata berkaca-kaca dan dengan sangat berat hati, maminya pun melangkah sedikit demi sedikit menuju pintu keluar.


"Jaga diri kamu baik-baik nak, kamu berlian satu-satunya yang mami punya." Suaranya bergetar, satu bulir kristal pun lolos membasahi pipinya.


"Mana ada berlian yang di tinggalkan, jika memang benar aku ini berlian, sudah pasti mami akan menjaganya dengan sangat baik. Merasa menjaga berlian nggak?" Tanyanya dengan muka nyelenah.


Maminya sudah tidak sanggup lagi berkata satu patah pun, hatinya hancur karena perceraian dengan suaminya. Sekarang anak gadis satu-satunya pun mencampakkannya. Malang sekali hidupnya.


Selepas kepergian maminya, Tiara menangis terisak tersedu-sedu, duduk melipat kakinya lalu membenamkan wajahnya diantara lututnya. Sekarang dia benar-benar anak broken home.


"Non, pindah yu ke kamar. Sudah jangan nangis ya." Bibi berusaha menenangkan Tiara, dan membujuknya untuk pindah ke kamarnya.


Tiara menurut, walau dalam keadaan seperti ini pun Tiara tidak ingin membuat bibi khawatir. Selama ini bibi sudah sangat berjasa dalam mengurus rumah itu, bahkan mengurus Tiara juga. Tidak jarang, Tiara pun merasa bahwa bibi lah ibu kandungnya.


"Makan dulu ya, bibi ambilin." Tangan bibi mengelus punggung Tiara.


"Aku udah makan bi tadi sama teman. Sekarang aku ngantuk, mau tidur aja sih kayanya." Ucapnya dengan berbohong, semenjak pulang kantor Tiara langsung pergi ke taman. Menatap hilir mudik lalu lalang orang-orang di taman, menatap langit dengan tatapan kosong, dan sama sekali tidak ada makanan yang masuk ke perutnya. Tiara berbohong agar bibi tidak merasa khawatir, dan terlebih lagi memang tidak mau merepotkannya.


"Ya sudah kalau gitu, istirahat ya non. Jangan banyak pikiran, semuanya akan baik-baik saja." Bibi pergi ke luar dari kamar Tiara. Tiara langsung mengunci pintu kamarnya.


TIARA ( POV )


Sepertinya Dewi Fortuna memang tidak pernah berpihak pada gue! Buktinya gue nggak pernah mendapat kebahagian dalam hidup ataupun keberuntungan.


Mungkin sebagian orang di luar sana mengira bahwa hidup gue baik-baik saja, makmur sejahtera karena orang tua banyak uang. Orang lain melihatnya hidup gue bahagia terus, senang terus. Tapi.. yang namanya hati siapa sih yang tahu selain diri kita sendiri dan yang maha kuasa.


Tidak munafik, uang memang sangat penting dan sangat di butuhkan. Tetapi kebutuhan utama yang sebenarnya adalah kebahagiaan. Hidup bahagia tanpa uang? Memang mustahil, namun uang bisa di cari bersama-sama. Banyak uang tetapi hidupnya tidak bahagia, apa enak? Tidak! Hidup ini malah terasa hampa!! uang banyak namun tidak mempunyai kebahagiaan dan kasih sayang dari orang tua? Percuma! Kebahagiaan sama sekali tidak bisa di beli pakai uang!


Tiara kenapa sih lu kerja? Kenapa sih mau-maunya berkecimpung di kantor orang? Orang tua lu kan punya banyak bisnis, kantornya juga nggak cuma satu, Tiara kok lu begini, Tiara lu kok begitu? Tiara bla bla bla...


Oh my God, banyak sekali bacotan-bacotan yang di lontarkan oleh teman-teman gue! Pengen banget gue kasih tahu mereka kalau hidup gue K E S E P I A N !! Gue kerja karena gue pengen punya kegiatan untuk mengalihkan rasa sepi ini, ingin punya teman akrab yang bisa di ajak berbincang dan bertukar pikiran. Dan gue juga mencari pengalaman hidup, kalau cuma berdiam diri di rumah terima transferan terus dari orang tua, kayanya hidup gue kurang greget deh, dan mungkin gue akan berbesar kepala. Gue nggak bisa kaya gitu! Hidup ini hanya sekali, gue harus mencari banyak pengalaman sebelum pada akhirnya gue memutuskan untuk menjadi istri orang. Catatan: itu pun kalau ada yang mau lah ya!


Soal asmara saja gue selalu kalah! Setiap laki-laki yang gue suka, pasti laki-laki itu sukanya sama Kalista sahabat gue. Kadang gue jadi insecure, apa sih salah gue? Gue punya dosa apa sampai-sampai hidup gue berantakan seperti ini? Balik lagi sama takdir, tuhan menciptakan manusia berbeda-beda. Tidak di samaratakan, dan bahkan bunga pun tidak mekar diwaktu bersamaan.


Oh iya, gue mau kasih info dulu nih. Kalista itu sahabat terbaik gue, orangnya dewasa banget, padahal secara usia dia lebih muda 2 tahun dari gue. Btw, dia yatim piatu. Lulusan Harvard university, bekerja sebagai sekretaris, bahkan di angkat jadi sekretaris pribadi. Cantik, putih, tinggi, hidung mancung. Cakep banget pokonya! Dia juga teman pertama yang gue temuin di kantor, bahkan sekarang jadi sahabat gue. Menurut gue Kalista orang yang beruntung, selain mempunyai wajah cantik dan body proporsional, banyak juga laki-laki yang suka padanya. Tapi tidak semua orang yang kita sangka hidupnya bahagia itu benar-benar bahagia, contoh terdekatnya yaitu sahabat gue Kalista. 70% upah kerjanya di pakai untuk membayar hutang tunggakan ke RS biaya perawatan orang tuanya pasca kecelakaan 5 tahun yang lalu, 30% untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalista bahkan sama sekali nggak pernah ngeluh soal hutang itu? Dia terlihat lebih kalem dan santai. Gue tahu kok, Kalista juga punya tekanan batin dan perasaan was-was akibat tragedi yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Namun dia itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Sahabat terbaik gue itu kini sudah menemukan tambatan hatinya, sudah jadi istri dari boss gue di kantor. Kehidupan rumah tangganya terlihat sangat harmonis dan bahagia, tapi percikan api permasalahan itu pasti ada, ya namanya juga rumah tangga. Yang bikin gue iri adalah.. suaminya itu selalu memanjakannya. Kalau menurut gue mulus banget dah jalan hidupnya, berbanding 1000° sama gue.


Sudah bertahun-tahun hidup seorang diri di rumah mewah, hanya di temani bibi dan pak satpam. Mami papi sibuk bekerja di luar kota. Hingga suatu hari kabar buruk itu datang, kabar yang sangat meremukkan redamkan seluruh jiwa raga gue. Tiba-tiba mami nelpon katanya papi selingkuh, dan mereka memutuskan untuk berpisah.


Hidup bahagia bersama kedua orang tua yang sangat gue inginkan itu pun kandas begitu saja. Hati ini terasa sangat sakit, bagaikan ada ribuan belati yang menancap dan mengeluarkan darah segar. Mendengar kabar seperti itu dada ini mendadak sangat sesak, untuk bisa bernapas pun rasanya sulit sekali. Air mata berjatuhan begitu saja.


Gue nggak bisa terima dengan semua ini, pikiran-pikiran aneh berkecamuk dan bersarang di otak gue. Apa sih penyebab mami papi pisah? Kenapa sih papi selingkuh? Padahal mereka berdua ninggalin gue di Jakarta, gue kira di luar kota mereka selalu bersama, lalu kenapa perselingkuhan itu terjadi?


Ingin sekali teriak, ingin sekali berontak, ingin sekali menggila di tengah jalan yang sangat ramai ini. Kenapa sih gue harus terlahir dari rahim mami, menjadi darah daging papi? Kenapa sih mereka menjadi orang tua gue? Seandainya bisa memilih, gue ingin menjadi seorang gadis yang terlahir dari keluarga sederhana namun hidupnya bahagia, daripada menjadi seorang gadis dari mami papi yang hidupnya selalu di penuhi dengan bisnis, kerja! Kerja! Kerja! Lupa sama anak, bahkan bisa berselingkuh!


Tibalah hari ini, hari dimana sangat ingin gue hindari. Pagi-pagi sekali mami menelepon katanya hari ini merupakan sidang perceraiannya. Mami minta gue datang, tapi gue nggak mau. Gue nggak bakalan sanggup menyaksikan sidang perceraian mereka. Gue nggak bisa.


Kerja tidak fokus, karena pikiran gue lebih condong ke perceraian mami papi. Tidak ada semangat sedikitpun, demoan para cacing di perut pun sama sekali tidak gue hiraukan. Jangankan makan, berbicara pun gue malas. Setelah sekian lama di tinggal ke luar kota, dan harus hidup terpisah. Sekarang malah berpisah beneran, papi dengan istri barunya, dan mami terus sibuk dengan bisnisnya.


Begitu jam ngantor telah selesai, gue memutuskan untuk pergi ke taman terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Mencari secercah cahaya dan setitik ketenangan, kenyamanan dan kedamaian hati. Jujur untuk saat ini gue nggak tahu apa yang harus gue lakukan? Gue harus bersikap gimana? Yang gue rasain saat ini adalah dada terasa sangat sesak, ingin teriak melupakan segalanya. Namun di taman ini banyak sekali pengunjung, dan sedang ramai-ramainya. Berada di tempat ramai, namun hati ini terasa sepi.


Langit sudah hampir gelap, malam akan segara datang. Dengan langkah gontai, kuserat kaki ini untuk pulang ke ruang. Pak satpam menyapa ramah, namun gue tahu bahwa itu sebenarnya merupakan tatapan simpati. Dua mobil mewah yang selalu di gunakan oleh orang-orang kaya, kini sedang terparkir di halaman rumah megah ini. Berusaha meyakinkan diri, dan berusaha untuk mengontrol diri ini agar tidak terlalu emosi. Mencoba menata hati, dan berusaha ikhlas menerima keadaan. Berusaha untuk menahan laju air mata, gue tidak ingin satu tetes pun air mata ini jatuh di hadapan papi dan mami.


Permasalahan utama dari perceraian ini adalah papi selingkuh. Sekarang begitu gue membuka pintu, mami dan papi gue dengan sangat santai layaknya manusia yang tidak memiliki masalah itu sedang makan malam bersama. B E R S A M A ? Putusan pengadilan meresmikan perceraian mereka hari ini. Tapi diantara mereka sama sekali tidak terlihat ada api permusuhan. Gue tahu sebenarnya mami merasa gedek, kesal, kecewa, dan mungkin dongkol sama papi. Tapi mami dan papi berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapan gue. Basi banget nggak sih? Di pikir gue masih anak kecil yang masih bisa di bohongi?


Kerjaan lembur? Jam segini baru pulang? Tiap hari kaya gini? Kenapa harus kerja sih? Uang mami banyak!" Kata mami.


"Kamu tuh anak satu-satunya! Berhenti kerja! Uang papi juga banyak." Kata papi.


Mereka berdua benar-benar menempatkan uang diatas segalanya. Sama sekali tidak memikirkan kehidupan gue. Ulu hati ini kembali terasa sakit dan sesak. Bagaimana mungkin mereka masih tidak peduli sama gue.


Mulut ini rasanya gatal sekali jika tidak berucap dan berkata-kata. Unek-unek di hati ini sangat banyak, Inilah saatnya gue melupakan berbagai macam emosi yang memuncak di pikiran gue. Bahkan gue pun mengatakan bahwa wanita itu adalah wanita gila, p*lacur, dan janin di perutnya adalah si anak haram.


Untuk pertama kalinya dalam hidup ini, papi menampar pipi gue. Bukan hanya satu kali, namun dua kali sekaligus. Ujung bibir gue terasa perih, ujung bibir ini robek sedikit dan mengeluarkan darah segar. Seorang papi menampar anak gadisnya? Papi memang benar-benar gelap mata, atau mungkin papi di pelet oleh si pelakor? Gue jadi curiga.


Bukan hanya menampar, sebelum pergi pun papi sempat mendorong tubuh gue hingga terjatuh. Wajah gue saja basah karena di siram segelas jus jeruk, di pikir wajah gue kotor kali ya.


Apa kabar mami?


Mami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berusaha menenangkan dan menyadarkan papi bahwa gue ini adalah anak gadisnya mereka.


"Hari ini mami dan papi resmi bercerai, tetapi kami tidak memperebutkan hak asuh anak. Karena mami dan papi tahu kamu sudah besar, sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Sekarang kamu pilih mau ikut mami atau ikut papi."


Kalimat itu yang keluar dari mulut mami, semakin membuat hati ini terasa sesak. Sakit sekali tuhan, bahkan urusan hak asuh anak pun sama sekali tidak mereka rebutkan. Mereka sama sekali tidak peduli sama gue. Ingin sekali gue menangis dan jerit-jerit, namun gue nggak bisa karena di sini masih ada mami. Gue nggak mau terlihat lemah di hadapan mereka. Semua yang mereka lakukan membuat rasa kecewa gue semakin dalam, dan mungkin sekarang levelnya bukan hanya kecewa namun menjadi benci.


Karena nggak ada yang menginginkan gue, dengan berat hati gue mengusir mami dari rumah ini. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi apakah daya mereka sudah tidak memperdulikan gue! Lagi pula mereka bilang rumah ini memang buat gue.


Siapa pun tolong hibur gue! Sakit hati, dada terasa sesak, dan bahkan mata ini terasa panas. Tenggorokan ini tercekat, dada ini bergemuruh. Menangis tersedu-sedu di pojokan kamar, melipat kedua kaki dan menenggelamkan wajah gue diantara lutut.


Gue harus bercerita ke siapa? Gue nggak mungkin bercerita pada Kalista, mengingat kondisinya saat ini yang sedang berperut besar, gue nggak bisa membuatnya merasa khawatir. Ingin sekali rasanya mempunyai seseorang yang bisa merangkul gue disaat seperti ini. Namun gue harus bagaimana? Setelah apa yang di perbuat papi gue terhadap mami dan gue, haruskah gue percaya bahwa di dunia ini masih ada laki-laki baik? Masihkan semesta berbaik hati memberikan satu laki-laki terbaik menurut versinya, yang ciptakan khusus buat gue?


Entahlah gue harus bagaimana? Ada semacam rasa takut dan trauma. Gue takut laki-laki yang mencintai gue nantinya selinggkuh, dan gue takut kalau tabiatnya seperti papi yang berani main tangan terhadap anak gadisnya.


Seorang ayah yang biasanya menjadi cinta pertama anak gadisnya, pantaskah berkelakuan seperti itu? Cinta pertama gue itu telah lenyap! Gue nggak seberuntung kalian yang berada di luaran sana!


Sudah berjam-jam menangis, bahkan mungkin air mata saja sampai mengering. Mata ini mulai lelah, otak, hati dan pikiran yang cape ini pun perlu di istirahatkan. Lambat laun pandangan ini kabur dan menjadi blur. "Tuhan izinkan gue bahagia!"


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2