SUN FLOWER

SUN FLOWER
RISA RIKO MENIKAH


__ADS_3

"Saaaah." Semuanya bersorak gembira seperti pada waktu akad nikahnya Arka dan Kalista.


Hari ini Risa dan Riko resmi menikah, menjadi sepasang suami istri yang sah. Wajah mereka berdua tampak sangat berseri-seri, aura bahagia sangat terpancar di wajahnya itu.


Sebuah akad yang sangat khidmat, di hadiri oleh para kerabat dan sahabat. Arka dan Kalista beserta kedua anaknya datang pagi-pagi sekali. Sedangkan Evan dan Andy memang menginap khusus untuk menemani Riko yang akan menikah.


Tadi sangking gugupnya Riko salah menyebutkan nama Risa, tetapi alhamdulilah kali keduanya Riko mengucapkannya dengan lancar dengan satu tarikan napas.


Akad yang sangat sederhana, di lakukan di rumah Risa. Bukannya Riko tidak mampu membooking hotel, tapi ini permintaan ayahnya Risa, mengingat kondisinya yang sedang sakit, dan beliau juga tidak ingin pergi kemana-mana.


Risa menangis tersedu-sedu ketika melakukan sungkem ke ibunya, Risa juga menangis sesenggukan meminta do'a dari ayahnya. Risa juga memeluk Haikal dan Denis, dua bocah laki-laki itu menangis. Satu-satunya Kaka wanita yang sangat baik, yang sangat perhatian, yang sangat memperdulikan pendidikan mereka berdua itu kini telah resmi menyandang jadi seorang istri dari Riko.


Resepsi akan di adakan dua jam setelah akad, tempatnya? Di halaman depan rumah Risa. Ini semua memang sangat sederhana, itu keinginan dari kedua orang tua Risa. Alhamdulilahnya orang tua Riko menyetujuinya.


Semuanya memberikan ucapan selamat kepada Risa, bukan hanya ucapan selamat, namun mereka juga melantunkan do'a yang baik-baik, dan memberikan kadonya masing-masing.


Tiara, Gina dan Kalista menjadi Bridesmaids atau pengiring pengantin wanita. Kalista sengaja menyibukkan dirinya agar tidak terus-terusan bersama Arka, walaupun sudah berlalu beberapa hari tetapi hubungan mereka belum membaik sempurna. Kalista sengaja menyuruh Arka untuk menggendong dua bocah kembarnya, satu di gendong satu lagi di stroller.


Jadilah Arka merupakan pria yang paling repot di acara nikahan ini. Arka lebih banyak duduk ketimbang berdiri sambil mondar-mandir. Berat badan Nathan dan Nayla terus bertambah seiring berjalannya waktu, Arka benar-benar merasakan pegal di punggung dan bahunya.


"Capek tuan CEO." Andy tiba-tiba datang menepuk bahu Arka sambil meledeknya.


"Banget! Tapi nggak sih, ikhlas lah gue gendong anak sendiri." Ujar Arka.


"Yakali nggak ikhlas, kalau nggak ikhlas ya jangan bikin anak lah. Suruh siapa sih mentelantarkan istri? Sekarang di telantarkan balik kan? Enak nggak? Lu tuh percis banget kaya duda dua anak." Ucap Evan yang ikut-ikutan meledek Arka.


"Gue harus ngapain biar Kalista bisa maafin gue? Dari tadi datang ke sini aja dia sama sekali tidak berbicara, palingan dia ngomong sama Nathan dan Nayla doang." Gerutu Arka dengan kesal.


"Kasih apa kek gitu, sesuatu yang mengejutkan. Atau dia sekarang lagi pengen barang apa gitu? Hells, tas, baju, make up atau apa? Seikat bunga kesukaannya, atau ajak liburan romantis? Kencan atau dinner? Atau apapun itu yang kira-kira akan membuatnya senang." Andy mencoba memberikan saran, walaupun Andy juga nggak tahu sarannya itu akan berguna atau tidak.


"Nih tiba-tiba otak gue punya ide bagus, mendingan nanti sehabis pulang dari sini lu ajak bini lu beserta dua bocah kembar ziarah ke makam orang tuanya bini lu, nanti di rumah pekerjaan rumah biar lu aja yang kerjain, nyapu, ngepel, nyuci baju, jemur pakaian, nyetrika, dan lu usaha buat bikinin dia sarapan atau untuk makan, lu juga coba buat mp asi buat Nathan dan Nayla. Cukup satu hari aja, tapi jangan ada campur tangan dari pelayan. Setelah satu hari terlewati, lu bilang terimakasih sama istri lu, ternyata tugas seorang istri itu berat dan cukup melelahkan. Pokonya kata-kata terimakasih untuk menghargainya lah, siapkan juga hadiah. Sekalian minta maaf lagi soal perlakuan lu itu." Ujar Riko mencoba menjelaskan apa yang sekarang ada di dalam otak dan pikirannya.


Saran dari Riko ini perlu untuk di pikirkan dengan matang, tetapi saran ini juga sepertinya merupakan saran yang paling manjur.


"Bagus juga! Nanti gue coba deh." Arka langsung mengambil ponselnya, menjelajahi salah satu online shop. Mencoba mencari sesuatu yang sepertinya sangat di inginkan Kalista.


Kalista keluar dari kamar Risa, kebayanya sudah berganti warna. Tadi ketika akad memakai kebaya putih samaan dengan mempelai wanita, hanya samaan warna untuk motif dan detail tentu saja berbeda. Sekarang juga menggunakan kebaya dengan warna yang senada, kebaya berwarna abu melekat indah di tubuhnya.


"Aduh anak bunda, kenapa nak? Ngantuk ya? Cupcupcup." Kalista menghampiri Nathan yang berada di stroller. Wajahnya terlihat kelelahan. Kalista mencium Nathan kemudian menggendongnya.


"Ayo ikut aku!" Ujarnya dengan ketus dan dingin.


Arka segera menggendong Nayla dan mengikuti langkah Kalista. Ternyata Kalista pergi ke kamar Haikal, membaringkan Nathan seraya menyusuinya.


Arka begitu patuh, hanya diam dan terus memperhatikan gerak-gerik Kalista. Nayla juga meronta-ronta minta jatahnya untuk minum asi.


Kalista menyuruh Arka untuk mengganti pakaiannya, walaupun masih dalam mode jutek, Kalista tetap memperhatikan Arka. Stelan jas berwarna abu yang terlihat sangat sederhana, tetapi cocok dengan warna baju kebaya yang melekat di tubuh Kalista.


Nathan dan Nayla sudah terlelap dalam tidurnya. Sembari menunggu mereka yang sedang tertidur, Kalista men-touch up make up-nya. Sedangkan Arka berusaha mencari hadiah yang cocok untuk Kalista di salah satu olshop.


Risa yang sudah cantik dengan make up dan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya itu segera berjalan menuju kursi pelaminan. Ekor gaunnya lumayan panjang, sehingga Gina dan Tiara sibuk mengangkatnya. Berjalan sambil bergandengan tangan dengan Riko.


Risa merasa semua ini adalah mimpi, Risa yang sudah merasa kotor dan takut tidak ada pria yang mau menikahinya itu pun kini merasa bahagia, Risa menikah dengan seseorang yang memang pernah merusak tubuhnya.


Para tamu mulai berdatangan, halaman rumah Risa yang sudah berubah menjadi tempat resepsi ini pun menjadi ramai. Para tamunya hanya orang biasa, kerabat Risa dan para tetangga. Riko juga tidak banyak mengundang teman-temannya. Menurut Riko itu semua nggak penting, yang terpenting adalah akad nikah hingga sah di hadiri sahabat dan orang tua.


Arka menarik tangan Kalista sehingga Kalista harus menyeret langkahnya dengan tergesa-gesa. Ternyata Arka ingin berfoto dengannya tepat di kursi pelaminan, Arka menggendong Nathan dan Kalista menggendong Nayla. Mau tak mau Kalista harus tersenyum tatkala kamera mengarah kepadanya, aslinya sih Kalista dongkol banget.


Bagaimana tidak dongkol? Kalista harus berjalan dengan tergesa-gesa dengan hells yang melekat indah di kakaknya dengan tinggi lima belas centi meter, sehingga kakinya terasa sakit. Di pelaminan sana juga Arka meminta tolong kepada kedua mempelai untuk menepi sejenak. Apa-apaan coba? Bikin malu saja.


Sudah lama rasanya Arka tidak memposting foto Kalista dan kedua anaknya, sekarang Arka mempunyai foto terbaru bersama mereka. Kalista yang cantik dengan riasan plus senyum manisnya, dan kedua anaknya yang juga sedang tersenyum bahagia menatap kamera. Baju mereka semua samaan dari warnanya. Sehingga orang akan melihatnya sebagai keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.


Ponsel Kalista berdering, ada panggilan masuk. Kalista segera menjauhkan diri dari kerumunan para tamu. Arka pun mengikuti langkahnya.


"Hallo." Kalista mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Nanti malam video call ya." Ujarnya di sebrang telepon itu.


"Hah apaan kak?" Tanya Kalista, hingar bintang musik bercampur dengan recoknya para tamu membuat Kalista kesulitan untuk mendengar dengan jelas.

__ADS_1


"Nanti malam video call ya, udah deh sana lanjutin lagi pestanya." Kali ini suaranya cukup jelas, dan langsung mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


"Siapa?" Tanya Arka yang mulai penasaran.


"Kak Gerry."


"Ngapain?" Tanyanya lagi.


"Nanti malam video call katanya."


"Ngapain?"


"Nggak tahu!" Ketus Kalista sembari berjalan dan akan bergabung duduk satu meja dengan Gina, Tiara, Andy, dan Evan.


Semua tamu sudah berkumpul tepat di depan pelaminan, bunga akan segera di lempar. Dalam hal seperti ini biasanya para wanita lah yang sangat antusias. Tiara dan Gina sudah berada di barisan paling depan, mungkin salah satu dari mereka sangat menginginkan bunga itu agar ketularan segera menikah.


Kalista, Arka, Andy dan Evan hanya duduk dan memperhatikan saja. Bagi para pria, pelemparan bunga hanya simbolis saja. Jika mereka memang ingin menikah, ya tinggal melamar saja.


" Satu.. dua.. tiga.." tepat pada hitungan ke-tiga bunga itu terlempar. Dan Tiara lah yang memenangkan bunga itu. Tiara begitu kegirangan sambil menunjuk-nunjukan bunga itu pada Gina.


Para tamu yang tidak berhasil menangkap bunga itu pun menjadi lesu dan kecewa. Begitu juga dengan Gina, walaupun Gina tidak memiliki pasangan tetapi jika bunga itu di dapatkan olehnya, siapa tahu saja seseorang melamarnya.


Evan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, senyum merekah terpancar dari wajah Tiara. Tiara bahkan berlari kecil agar segera sampai ke tempat duduk Evan.


"Antusias banget mbak? Tenang saja, dalam waktu dekat aku akan melamarmu. Sabar." Evan mengusak puncak kepala Tiara, lalu menciumnya juga.


"Janji loh? Awas jangan sampai bohong. Tapi biar lebih jelas, ketemu dulu dong sama papi." Bibir mungil itu merajuk pada Evan.


"Oke, walaupun nggak di restuin juga gue mah nekat aja mau nikahin anaknya. Kalau nggak bisa pake cara baik-baik, yaudah gue bawa kabur anaknya aja, nikah siri gitu." Ujar Evan sambil bercanda.


"Nggak bisa! Enak aja nikah siri, rugi di aku dong."


"Iya nikah resmi. Kebelet nikah mbak?" Evan menatap Tiara dengan senyum menyeringai.


"Bukan gitu iii.."


"Jangan kompor deh! Dua bulanan lagi juga gue bakal lamar Tiara." Ujar Evan sambil menggenggam erat jari jemari Tiara.


"Ngelamun aja lu, ponsel bunyi tuh! Si Karin nelpon." Arka menyikut lengan Andy, memberitahukan bahwa ponsel Andy dari tadi bunyi. Sebenarnya bukan bunyi, tapi menyala. Karena Andy mengaktifkan mode hening.


"Oh oke." Andy mengambil ponselnya dan langsung berjakan ke tempat yang agak sepi.


Tiara, evan, dan Kalista sibuk sekali membahas pernikahan, mereka bertiga lupa bahwa ada Gina yang bergabung di meja sana. Gina tidak ikut nimbrung, hanya menjadi pendengar saja. Bahkan ketika ponsel Andy menyala, Gina juga melihat dengan jelas nama siapa yang terpampang di layar ponsel tersebut.


Resepsi ini hanya berlangsung tiga jam saja, sekarang acara sudah selesai. Para tamu sudah pada pulang, hanya ada kerabat saja yang masih memenuhi halaman depan rumah Risa.


"Congrats bro! Semoga samawa." Arka merangkul Riko sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


"Thank you bro! Gila kali nggak mau, sialan lu!" Riko menjotos pelan lengan Arka. Entah apa yang tadi Arka bisikan.


"Waduh pengantin baru. Mau honeymoon dimana nih? Atau mau berapa sesi?" Evan menggoda Riko sembari menaik turunkan alisnya.


"Honeymoon? Di apartment dulu kayanya, Risa nggak mau diajak honeymoon ke luar negeri, ayahnya masih sakit. Gue sebagai suami yang baik nurut aja sih sama perkataan istri."


"Lagak lu suami yang baik, padahal dulu..,"


"Masa lalu itu nggak usah di bahas, biarkanlah berlalu. Toh gue juga sudah mengakui kesalahannya gue, sumpah gue nyesel." Riko buru-buru menyela ucapan andy.


"Btw, lu kapan nikah ndy?" Tanya Riko.


"Jika sudah waktunya! Lebih jelasnya lagi nanti jika sudah ada calonnya." Andy tersenyum miris, Arka sudah menikah, Riko sudah menikah, Evan dalam proses, dirinya? Belum kelihatan jodohnya.


Sementara para pria sibuk mengobrol dan menggoda Riko, para wanita malah sibuk membantu Risa melepaskan gaun pengantin beserta embel-embelnya yang menempel di kepalanya.


"Melelehkan! Thank you semuanya." Risa memeluk Kalista, Tiara dan Gina secara bersamaan.


"Semoga pernikahan ini membuatmu bahagia dunia akhirat." Ujar Tiara.


"Semoga samawa, do'ain gue segera di dekatkan dengan jodoh, segera di persatuan dengan seseorang yang tepat dan di lamar secepatnya." Gina memberikan do'a sekaligus meminta do'a.

__ADS_1


"Selamat menempuh kehidupan dalam mahligai rumah tangga, selamat berdrama-drama dengan suami. Selamat menjadi istri, btw, honeymoon bareng seru kayanya." Kini Kalista yang memberikan ucapan selamat sambil memeluk Risa dengan erat.


"Waduh honeymoon bareng ya? Bisa diatur." Risa terkekeh menanggapi ucapan Kalista.


"Terimakasih teruntuk kalian semua yang telah membantu dan mau di repotkan." Risa kembali lagi memeluk mereka sebelum dirinya benar-benar masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Semuanya keluar dari kamar Risa dan akan bersiap pulang.


"Pulang yuk." Ajak Tiara pada Evan.


"Bentar." Jawab Evan.


"Risa mana?" Tanya Riko.


"Lagi mandi." Jawab Gina.


"Udah selesai bun? Yuk pulang, kasihan Nathan dan Nayla udah loyo banget nih." Arka menunjukan dua bocah kecil yang berada di gendongannya, dan satunya lagi di gendong oleh Andy.


Kalista segera mengambil Nayla yang masih berada di pangkuan Andy, menggendongnya dengan hati-hati, sembari menepuk-nepuk punggungnya pelan.


"Aku pamit deh, pulang duluan." Gina melambaikan tangan dan segera melangkah keluar dari halaman rumah Risa.


"Bentar! Pulang bareng aja." Andy langsung menghentikan langkah Gina.


"Nggak usah kak." Jawab Gina lirih.


"Pulang bareng!" Ketus Andy.


Benar saja, Andy langsung menarik lengan Gina dan memasukan Gina ke dalam mobil. Entahlah bagaimana dengan hubungan Andy dan Gina? Sudah putus, tapi masih cinta, tapi masih belum baikan juga, hubungan mereka tidak jelas.


"Apaan sih si Andy? Drama banget." Celetuk Evan sambil memperhatikan laju mobil Andy yang kian menjauh.


"Tahu tuh! Ayo pulang." Arka langsung mengajak Kalista pulang.


Arka tidak membawa supir bersamanya. Dirinya lah yang mengendarai mobilnya, Kalista duduk tepat di sebelah Arka, sambil mendudukan kedua bocahnya di pahanya. Mereka berdua ini kalau naik mobil maunya duduk di depan, kalau duduk di kursi belakang malah suka nangis.


Kalista tidak banyak omong, dia malah sibuk mengobrol dengan kedua bocah kembar. Tiba-tiba Kalista terperangah menyadari ini bukan arah pulang ke rumahnya, tetapi ini menuju ke suatu tempat yang sangat familiar dan otaknya sudah sangat hafal jalan ini menuju kemana?


Mencoba menatap Arka, berharap Arka memberikan penjelasan. Tetapi Arka hanya tersenyum saja sambil menepikan mobilnya. Sebelum turun dari mobil, tangan Arka meraih dua buket bunga dari kursi belakang. Kalista masih menatapnya bingung, perasaan tadi dirinya ketika masuk ke mobil tidak melihat buket bunga itu.


"Sini Nathan sama aku." Arka menggendong Nathan, "Kangen sama ayah dan bunda kamu ngga? Yuk kita sapa dan memberikan do'a, sekalian kenalin lagi anak-anak yang sudah mulai aktif." Ucap Arka, garis bibirnya itu tertarik menjadi sebuah lengkungan.


Arka juga membeli bunga tabur dari pedagang bunga yang berada tepat di gapura pemakaman. Sembari terus berjalan, Arka tetap memegang tangan Kalista, walaupun dirinya juga begitu repot menggendong Nathan dan memegang sebuah buket bunga.


Arka dan Kalista langsung berjongkok tepat di hadapan batu nisan ayah dan bunda Kalista. Arka memberitahukan kedua anak-anaknya untuk tidak berisik, karena mereka akan berdo'a untuk nenek kakek mereka yang sudah tiada.


"Ayah dan bunda mertuaku, maafkan aku yang belum bisa menjaga anakmu dengan sempurna. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakannya. Maafkan aku karena belum mampu menjadi suami yang baik baginya. Ayah bunda, maaf aku sudah mentelantarkan anak kalian. Semoga ayah dan bunda berkenan memaafkan aku yang masih bodoh ini, tolong do'a kan semoga pernikahan kami langgeng dan selalu bahagia. Aku berjanji kepada kalian berdua, Kalista sekarang adalah istriku, tanggung jawabku, aku akan selalu membahagiakannya sampai kapanpun. Kalian tidak perlu khawatir, Kalista akan selalu aman bersamaku. Tolong sampaikan kepada yang maha kuasa, kabulkanlah keinginanku ini." Arka berdo'a dalam hati, mengangkat telapak tangannya dan menengadahkannya keatas langit, bola matanya tertutup tetapi air matanya berjatuhan. Arka menangis, menangis karena kebodohannya, punggungnya bergetar hebat akibat tangisannya itu.


Kalista juga melakukan hal yang sama, berdo'a dalam hati, dan menangis sambil terus menaburkan bunga mawar tepat diatas pusara ayah dan bundanya. Setiap mengunjungi ayah dan bundanya, Kalista sama sekali tidak bisa membendung air matanya agar tidak jatuh.


Mengusap sisa-sisa air mata itu, Arka juga berusaha mengusap punggung Kalista. Arka tahu membawa Kalista kesini hanya akan membuatnya menangis, tetapi Arka juga yakin banget Kalista pasti kangen tempat ini.


"Angkat kedua telapak tanganmu sayang." Ujar Arka pada Nayla, Arka juga mengangkat telapak tangan Nathan.


"Hallo, kakek nenek ini aku Nathan dan Nayla. Aku ini cucu nenek loh, do'akan kami agar kelak menjadi anak yang soleh dan solehah, menjadi anak yang pintar, berbakti kepada kedua orang tua, dan tentunya menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Kakek nenek, bunda selalu kangen sama kalian. Bunda sering nangis jika ingat kalian, kalian baik-baik saja kan? Semoga Allah tempatkan kalian di tempat yang paling indah di sisi-Nya. Do'akan agar ayah, bunda, Nathan, dan Nayla selalu hidup bahagia ya. Amiin." Telapak tangan itu terangkat dan diusapkan ke wajah Nathan, Nayla juga begitu. Arka berdo'a seolah-olah itu adalah Nathan dan Nayla yang berdoa.


Setelah menabur bunga dan meletakkan buket diatas pusara ayah dan bunda mertuanya. Arka langsung mengajak Kalista untuk pulang ke rumah, karena ini juga sudah hampir sore.


"Terimakasih." Kalista langsung memeluk Arka dengan erat, mengucapkan kata terimakasih sambil menangis sesenggukan.


"Jangan erat banget dong meluknya, kasian Nayla kejepit, Nathan juga kepeuk nih jadi agak sesak." Arka tersenyum sambil berusaha melonggarkan pelukan dari Kalista.


----------------------------------🌻🌻


Jangan lupa like dan coment yang banyak!


Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗


Find Me On Instagram : @halloimas13❤

__ADS_1


__ADS_2