
Arka berjalan sembari menyeret koper, tangan sebelahnya masih terus menggenggam erat jemari istrinya. Di belakangnya Tiara mengikuti sambil menyeret koper miliknya.
Mereka sedang berada di bandara internasional Soekarno-Hatta.
"Mana sih?" Gumam Arka sambil celingak-celinguk, manik matanya bergerak kesana-kemari.
"Nyari siapa sih?" Tiara menyenggol lengan Arka.
"Sorry-sorry bro gue telat!" Evan berlari ke arah Arka, Kalista, dan Tiara. Rambutnya sedikit berantakan, tangannya sama kaya Arka dia pun menyeret koper miliknya.
"Lelet banget sih lu? Dandan dulu? Dih kaya perawan aja!" Arka mendelikkan matanya kesal.
"Iya gue dandan! Gue kan pengen keliatan cakep, yakali lu doang yang cakep." Ujar Evan sambil terkekeh.
"Kak Evan ikut?" Tanya Tiara, matanya menatap Kalista dan Arka bergantian. "Sebenarnya kak Evan yang nyuruh ya?" Tanyanya lagi.
"Emang kalau gue nyuruh, lu mau ikut Ra? Ah kalau tahu lu bakalan mau ikut sih gue bikin acara berdua aja sama lu." Evan tersenyum.
"Emang kak Evan bakalan ngajak?" Tanya Tiara.
"Kalau lu mau, ya gue ajak!"
"Ini gue juga di ajak sama pasangan romantis ini nih." Kata Evan berbohong.
"Sembarangan! Gue mau babymoon sekaligus honeymoon, ogah banget gue ngajak lu. Si beg* sok pura-pura elu sendiri kan yang ngemis-ngemis pengen ikut." Jawab Arka terang-terangan.
"Bohong itu dosa loh." Kalista menimpali sambil tertawa.
"Nggak ngerti lagi deh gue sama kalian berdua, kenapa sih kalian berdua suka banget jatuhin harga diri gue di depan wanita yang gue suka? Iyain perkataan gue apa susahnya sih?" Raut wajah Evan sudah berubah menjadi kesal.
"Tuh kan benar ini tuh kak Evan yang ngajak, pulang aja yuk kak, jangan gangguin pasutri ini." Tiara meraih pergelangan tangan Evan, mengajak pergi meninggalkan mereka.
"Ra, lu dengar nggak?" Kini Evan menatap manik mata Tiara.
"Dengar apaan kak?" Tanya Tiara bingung, karena Tiara tidak mendengar apapun kecuali melihat orang-orang berlalu lalang di bandara ini.
Evan meraih tangan Tiara yang satunya, di tempelkan lah tangan itu ke dada Evan, tepat di jantungnya. "Detak jantung gue memompa lebih cepat dan tidak beraturan ketika tangan gue di genggam wanita cantik." Manik mata Evan masih terus menatap manik mata Tiara.
"Jaga jarak! Dilarang beromatis-romantisan! Ingat ya disini tuh peran utamanya gue dan suami gue yang jelas-jelas sudah sah di mata hukum dan agama! Jangan coba-coba!" Kalista memisahkan Evan dan Tiara yang sedang berhadap-hadapan sehingga kini Kalista lah yang berada di tengah-tengah mereka.
"Ya ampun bini lu bro, nggak bisa lihat gue senang dikit aja." Evan menyenggol lengan Arka.
"Salah lu sih mau gangguin acara honeymoon gue." Arka menoyor pelan kepala Evan.
"Kak udah deh kita pulang aja." Ajak Tiara, karena Tiara merasa tidak enak kalau sampai mengganggu babymoon dan honeymoon'nya Arka dan Kalista.
"Apaan sih lu pulang-pulang aja! Udah ayo ikut gue aja, asalkan kalian nggak gangguin kita sih oke-oke aja." Kalista merangkul bahu Tiara.
Tiara pun menurut, Arka, Kalista, Tiara, dan Evan berjalan memasuki bandara.
"Kenapa nggak bawa jet pribadi aja sih? Mau-maunya gegembelan kaya gini." Celetuk Evan.
"Hey, jangan meninggi. Semua harta yang kita punya itu hanya titipan, bisa saja Allah mengambilnya dalam sekejap. Jadi manusia tuh nggak boleh sombong, ingat diluaran sana masih banyak manusia-manusia yang kurang mampu, sesekali kita harus merasakannya, agar jika nanti Allah menguji kita, setidaknya kita sudah siap. Nggak boleh sombong, tetap rendah hati, banyakin bersedekah dan bersyukur." Celoteh Kalista panjang lebar.
"Aduduh Isti gue." Arka memeluk Kalista lalu mencium keningnya.
Arka, Kalista, Tira dan Evan kini tengah berada di pesawat. Mata Arka sibuk memperhatikan para penumpang, karena ini untuk pertama kalinya Arka naik pesawat umum, biasanya sih kalau mau bepergian baik keluar kota maupun keluar negeri Arka selalu menggunakan jet pribadi.
"Nggak suka ya? Nggak biasa juga?" Kalista memperhatikan Arka yang sibuk menatap sana-sini.
"Lumayan seru, pengalaman pertama naik pesawat umum." Ujar Arka sambil terus tersenyum, kemudian mengusap lembut pipi Kalista.
Memang ini perjalanan pertama untuk Arka tanpa jet pribadi, walaupun sebenarnya dulu pas mau honeymoon pun Arka sempat naik pesawat umum, namun itu tidak jadi karena di tengah perjalanan tiba-tiba cuaca buruk.
"Hooh seru, gue suka." Evan menimpali perkataan Arka.
"Gimana nggak suka coba? Samping lu ada wanita yang lu suka." Jawab Arka spontan.
"Benar tuh!"
Tiara yang mendengar itu, hanya berdiam diri saja dengan wajah merahnya. Hatinya sih jangan ditanya, udah pasti bahagia lah.
Di dalam pesawat Kalista tidak henti-hentinya ngemil, dari mulai snack sampai makan buah-buahan. Arka menyodorkan botol minum pada Kalista, Kalista meneguknya sampai habis. Itu karena Kalista merasa tenggorokannya kering. Setelah itu Kalista tertidur di dalam pesawat.
Air dalam botol itu telah Arka campur dengan obat hasil pemberian dokter. Kemarin sore Arka berkonsultasi dengan dokter kandungan, perihal perjalanan babymoon. Karena Kalista selalu jetlag ketika naik pesawat, jadi Arka meminta sebuah obat agar Kalista tidak jetlag ataupun merasa mual, atau tidak enak badan. Terlebih lagi Arka tidak mau janin di perut Kalista kenapa-napa.
Bahkan tadi malam Oma dan pak Anggara telah mencecar banyak pertanyaan pada Arka. Oma dan pak Anggara sempat tidak memberi izin. Arka dengan susah payah berusaha meyakinkan Oma dan ayahnya itu, hingga akhirnya mereka mengizinkan.
Setelah dua jam perjalanan diatas awan alias di udara, akhirnya pesawat pun landing. "Sayang bangun, udah sampai nih." Arka menepuk-nepuk pelan pipi Kalista.
Kalista mengerjapkan matanya, kemudian mengucek kedua bola matanya itu. Setalah pupil matanya membesar, Kalista pun menyadari bahwa pesawat sudah tidak bergerak lagi.
Kalista bangun, Arka segera menggandengnya keluar dari pesawat. Begitupun dengan Tiara, selama perjalanan tadi Tiara pun tertidur.
Arka menyerahkan kopernya pada Evan, bukan maksud menjadikan Evan sebagai pembantunya, tetapi Arka merasa harus ekstra menjaga Kalista, karena Arka takut kalau obat pemberian dokter kandungan itu tidak mempan untuk Kalista. Evan pun mengerti dengan keadaan itu.
Dengan langkah pelan, Arka menggandeng terus menerus Kalista. "Kenapa sih megangnya kencang banget? Pergelangan tanganku sakit nih." Kalista mengangkat tangannya dan menunjukan pergelangan tangannya yang sudah memerah karena Arka terlalu kencang mencekalnya.
"Maaf sayang, abisnya aku takut kamu jetlag." Arka mengusap lembut pergelangan tangan Kalista yang memerah itu.
"Eh iya aku nggak jetlag, aku udah nggak norak lagi dong." Kalista sangat antusias, heboh sendiri, dan merasa senang karena dirinya kini tidak mengalami jetlag. Itu berarti dirinya tidak terlalu merepotkan suaminya.
"Kata siapa jetlag itu norak? Semua orang juga pasti pernah mengalaminya." Ucap Evan.
"Iya benar tuh." Sahut Tiara.
Arka bahagia melihat istrinya itu bahagia. Sopir suruhan Arka telah menunggu di depan bandara Ngurah Rai. Pak sopir membantu Evan memasukkan koper-koper yang mereka bawa.
Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil, pak sopir mulai melajukan mobilnya menuju villa milik Arka. Perjalanan dari bandara Ngurah Rai sampai ke villa ternyata memakan waktu 55 menit.
Mobil telah sampai di halaman depan villa. Mereka semua turun. Kalista dan Tiara menatap kagum dan takjub, villa ini sangat nyaman dan asri, pepohonan hijau dan bunga-bunga yang cantik sangat memanjakan sekaligus menyejukkan mata.
"Segar banget udaranya, bakal betah nih kalau tinggal di sini." Kalista membentangkan kedua tangannya, menghirup udara lalu menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
"Iya benar, enak banget udaranya belum tercampur polusi." Tiara pun melakukan hal yang sama dengan Kalista.
Manik mata Kalista menatap kagum bangunan indah yang bernama villa ini. Villa cantik ini milik suaminya. Sebuah bangunan dua lantai yang lumayan luas, bercat putih dan mocca. Ada kolam renang yang airnya sangat jernih, ada taman yang di penuhi pohon-pohon buah. Di taman itu pula terdapat sebuah ayunan kayu yang terlihat sangat unik.
"Senang nggak?" Arka tiba-tiba memeluk Kalista dari belakang.
"Senang banget, gila sih ini keren banget sayang. Udaranya segar dan sejuk, nyaman banget kalau tidur."
"Lebih nyaman lagi karena tidurnya sama aku." Bisik Arka di telinga Kalista, hembusan napas itu sengaja di tiupkan di telinga Kalista, sehingga Kalista merasa merinding lalu mencubit pelan pinggang Arka.
"Selamat datang tuan dan nyonya." Sapa pelayan dengan sangat ramah.
"Semua kamar sudah di bersihkan?" Tanya Arka.
"Sudah tuan!" Jawab pelayan itu.
"Seperti yang telah saya katakan di telepon ya bi, jangan biarkan lantai basah atau licin, pokonya semua ruangan villa ini harus kering."
"Siap tuan." Ujar bibi pelayan sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Kamar kita dimana suamiku?" Tanya Kalista dengan nada bicara yang di buat-buatnya seperti anak kecil.
Arka menunjuk salah satu kamar yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Kalista dan Arka berjalan menuju kamar itu, namun Arka menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan.
"Karena bini gue hamil, jadi gue tidak mengizinkan siapa pun menggunakan kamar di lantai dua, ataupun menginjakkan kakinya ke lantai dua. Jadi kalian bebas pilih kamar mana yang akan kalian gunakan di lantai dasar ini." Ucap Arka.
"Bebas bukan berarti kalian bisa seenaknya ya, kalian pilih kamar masing-masing, kamar harus terpisah! Awas aja kalau satu kamar! Jangan mesum sebelum nikah! itu dosa!" Sambungnya lagi.
"Posesif!" Evan memutarkan bola matanya jengah.
"Ya ampun pak Arka, kita nggak mungkin satu kamar pak. Tenang saja!" Tiara.
"Iya saya percaya sama kamu, tapi saya nggak percaya dengan sahabat saya itu, soalnya dia lumayan mesum, kamu harus hati-hati dan jaga diri, kadang-kadang Evan itu membahayakan." Celetuk Arka.
"Kebiasaan lu mah ngejatuhin harga diri gue mulu!" Sengit Evan tidak terima.
"Permisi tuan dan nyonya, saya akan memasak, apakah ada makanan yang memang sangat ingin nyonya makan? Biar saya masakan." Bibi pelayan tiba-tiba datang menghampiri.
"Mau apa?" Tanya Arka pada Kalista.
Hmmmmm, Kalista berpikir terlebih dahulu. "Masakan Sunda, tahu kan bi?" Kata Kalista.
"Tahu non." Jawab bibi pelayan.
"Ta, please deh ini di Bali yakin lu mau makan makanan Sunda? Astaga sahabat gue." Tiara menggelengkan kepalanya, heran terhadap permintaan sahabatnya.
"Kenapa? Dede bayi di perut gue maunya makanan Sunda, kalian bisa apa?" Tanya Kalista dengan sombongnya.
"Udah bi turutin aja kemauan bumil, repot kalau nggak di turutin, belum lagi nanti ngancam bayinya bakalan ngeces, pokonya ribet deh urusannya." Celetuk Evan.
"Nah kan betul! Jangan lupa sambal terasi, harus pedas ya!" Ujar Kalista sambil berlalu meninggalkan ruang tamu.
Arka sibuk membongkar koper, memasukkan bajunya dan baju Kalista ke dalam lemari. Ketika Arka sibuk menyusun baju-baju itu di lihatnya istri tercinta itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Arka bangkit, lalu menyelimuti tubuh Kalista. Arka kembali melanjutkan menyusun baju-baju ke dalam lemari, setelah itu Arka pun ikutan merebahkan dirinya di samping Kalista. Lima menit kemudian Arka pun terlelap.
*****
Mulutnya terus menerus menggerutu, raut wajahnya terlihat cemas, di tangannya terdapat ponsel.
"Ada apa sih ma?" Seru pak Anggara yang baru saja kembali dari urusan bisnisnya.
"Arka sama Kalista belum juga mengabari, ini sudah jam 4 nak, ibu takut terjadi apa-apa sama mereka." Ucapnya dengan raut wajah sendu.
"Mungkin macet kali, tahu sendiri kan dari bandara Ngurah Rai sampai ke villa butuh waktu sekitaran 1 jam, sedangkan Bali itu selalu banyak turis. Bisa jadi macet atau mungkin mereka lelah selama perjalanan, jadi mereka tertidur, istirahat dulu." Pak Anggara mencoba menenangkan Oma Weny.
"Kenapa sih mereka nggak coba kasih kabar dulu aja pas sampai bandara Ngurah Rai, Oma kan khawatir apalagi Kalista lagi mengandung."
Oma kembali lagi memanggil Arka melalui ponselnya, tersambung namun tidak di angkat, begitu terus dari tadi.
"Tenang aja, Arka akan mati-matian menjaga istri tercintanya. Sekarang kita berdo'a yang terbaik untuk Arka dan Kalista." Pak Anggara menyuruh Oma duduk, lalu memberikan segelas air mineral.
"Semoga Arka dan Kalista selalu dalam lindungan-Nya." Oma Weny mengusap wajahnya gusar.
*Perusahaan Anggara
Selama Arka dan Kalista sedang babymoon, Arka memerintahkan Gina untuk bekerja di ruangannya. Di tempat duduk yang biasa Kalista gunakan sewaktu masih menjadi sekretarisnya.
Andy?
Tentu saja sangat merasa senang, semangat kerjanya menambah sepuluh kali lipat. Bahkan hari ini Andy berangkat lebih awal, tujuannya adalah agar ia melihat Gina ketika Gina masuk ke ruangannya.
Benar saja, ketika Andy sedang menikmati secangkir kopi sambil bermain ponsel, tiba-tiba Gina masuk ke ruangannya. Senyum manis Gina lemparkan kepada Andy.
Andy menepuk sofa di sebelahnya, Gina paham dengan maksud Andy. Gina duduk di sebelah Andy. Dan akhirnya mereka berdua pun sarapan pagi bersama, karena Gina membawa bekal roti di kotak makan.
"Gin, boleh tolong ambilkan kertas hvs nggak?" Andy sedang sibuk dengan komputer di hadapannya.
"Bentar." Gina bangkit, kemudian mengambil satu pack kertas hvs.
"Ini." Gina memberikan kertas hvs itu.
Andy tampak sangat sibuk hari ini, dan memang akan sangat sibuk untuk beberapa hari ke depan. Semua pekerjaan Arka di handle olehnya, belum lagi beberapa hari kedepan itu akan ada rapat, ada pertemuan bisnis, ada janji temu, dan lain sebagainya.
Namun Andy merasa bersyukur, karena pekerjaan ini di lakukan bersama-sama dengan Gina. Gina lumayan cekatan dalam pekerjaannya, Andy merasa sangat terbantu.
"Kalau capek istirahat dulu gin, jangan terlalu di forsir! Nanti sakit loh." Lagi-lagi mata Andy masih tidak bisa teralihkan dari layar komputer di hadapannya itu.
"Nggak capek kok, justru Kaka tuh yang keliatannya tuh capek banget." Bantah Gina.
"Iya sih capek, tapi kan mau gimana lagi? Mau bantuin nggak, biar gue nggak capek." Andy.
"Bantuin apa kak?" Gina mendekat, kini sudah berada di sebelah Andy.
__ADS_1
"Bantuin pijitin bahu!" Ujar Andy sambil terkekeh.
"Nggak ah! Nanti kalua ada karyawan lain masuk ke sini, malah di sangka yang aneh-aneh." Gina menjauh, wajahnya sudah berubah merah.
"Hmmmmm, makan di luar ya nanti, bosan makanan kantin nggak ada yang berubah." Ajak Andy, sebenarnya Andy sangat menikmati makanan di kantin ini, hanya saja dirinya ingin membuat moment yang berbeda bersama Gina.
"Terus kerjaan kantor gimana kak?" Tanya Gina.
"Ya di tinggal dulu, kan pas jam istirahat gin."
"Tapi kantor di percayakan pada Kaka, nanti kalau ada apa-apa dengan kantor gimana coba?" Cerocos Gina.
"Gin tahu nggak sih? Lu tuh mirip sama Kalista! Sama-sama wanita sama-sama bawel! Intinya lu ikut gue aja! Kita makan siang di luar, urusan kantor mah gampang! Nggak ada yang berani macam-macam, tahu sendiri kan Arka orangnya kaya gimana?" Andy mencoba meyakinkan Gina.
"Anggap saja ini kencan kita gin? Udah lama juga kita nggak jalan bareng, kangen gue tuh sama lu gin."
Bluuuuuuuuuuush, raut wajah Gina memerah sempurna.
Gina pun kembali lagi mengerjakan semua tugasnya, berjam-jam matanya sibuk menatap layar komputer, jari-jari lentiknya manari-nari diatas keyboard.
Bel istirahat pun berbunyi, Andy segera mengajak Gina untuk meninggalkan sejumlah dokumen yang menumpuk di mejanya. Sebelum keluar dari kantor, Andy memastikan bahwa cctv merekam dengan sempurna segala aktivitas kantor, lalu mengunci rapat ruangan Arka.
Andy hari ini membawa Alphard kesayangannya, rencananya sore ini Andy akan mengantarkan Gina ketika jam pulang ngantor telah usai.
Gina duduk di sebelah Andy, Andy memasangkan safety bell. Gina merasa sangat gugup, karena jarak mereka sangat dekat.
"Tegang amat mbak, tenang aja kali nggak bakal di cium kok." Andy terkekeh sambil mencolek dagu Gina.
Gina?
Sangat gugup! Lalu gina memalingkan wajahnya, menatap pinggiran jalan melalui ke jendela mobil. Ini suasananya sangat awkrad.
"Udah sampai loh ini, mau turun nggak? Atau kita pesan makan, lalu makannya di dalam mobil? Ide bagus juga kan?" Andy menaik turun kan alisnya.
"Ih! Ngaco!" Gina melepas safety bell, kemudian turun, lalu melangkahkan kakinya memasuki restoran tersebut.
Gina memilih duduk di kursi yang paling pinggir, soalnya spotnya mengahadap ke taman restoran tersebut, di taman terdapat berbagai macam bunga yang sedang bermekaran, terlihat sangat cantik.
"Cantik ya?" Tanya Andy.
"Iya." Jawab Gina, tersenyum sambil memperhatikan bunga-bunga tersebut.
"Masih jauh lebih cantik Gina di bandingkan bunga-bunga itu."
Bluuuuuuuuuuush muka Gina kembali memerah seperti tadi di kantor.
"Ini serius gin, bukan gombal?" Sambungnya lagi.
"Kalau memang serius, di buktikan dengan keseriusan dong! Jangan cuma di baper-baperin doang!" Ujar Gina sambil menyembunyikan wajah merahnya.
"Secepatnya gin, sabar dulu ya!" Andy mengusap punggung tangan Gina.
Makanam telah datang, mereka pun memakan makanan itu dengan lahap. Gina merasa bahagia hari ini, begitupula dengan Andy.
*****
Beberapa kali Arka mengerjapkan matanya, manik matanya menangkap langit-langit kamar berwarna putih susu. Dilihatnya jam dinding yang tergantung, ternyata Arka sudah tertidur selama 2 jam.
Arka melirik Kalista di sebelahnya, istrinya itu masih tertidur pulas. Mungkin Kalista kelelahan karena perjalanan ini, atau mungkin efek obat yang di berikan dokter kandungan masih belum hilang.
Langkah kaki Arka tergerak membawanya ke tepian jendela kamar, Arka melihat cuaca Bali hari ini sangat cerah. Udara segar dan pepohonan hijau di halaman depan villa memang sangat indah.
Arka mengambil handuk, lalu masuk ke kamar mandi untuk ritual bersih-bersih badannya. Setalah itu Arka keluar, mengenakan celana pendek dan kaos polos berwarna hitam. Handuk masih bertengger di kepalanya, karena rambutnya masih basah.
"Woy! Ngapain lu?" Ucap Arka sedikit berteriak.
Begitu Arka keluar dari kamarnya. Arka melihat Evan sedang berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar yang dk tempati Tiara.
"Eh nggak, gue ng...nggak..," Ucapnya gelagapan, bagaimana tidak gelagalan Evan seperti ke gep ketika akan membuka pintu kamar Tiara.
"Nah kan gini nih! Jangan jadi cowok brengsek lu!" Arka menarik paksa tangan Evan agar menjauh dari depan kamar Tiara.
"Sumpah gue nggak ngapa-ngapain! Tujuan gue adalah ingin melihat apakah Tiara tertidur atau nggak? Kalau tidur mau gue bangunin gitu." Evan mencoba menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Kan bisa minta tolong pelayan! Jangan sembarangan, lu pikir deh kalau lu masuk ke kamarnya, ternyata dia sudah bangun atau dia sudah mandi dan akan ganti baju, bisa-bisa dia hilang respect sama lu!"
"Oh iya juga ya! Bodoh amat gue nggak mikir sampai situ?" Evan menepuk jidatnya.
"Ada apa ribut-ribut?" Tiara keluar dari kamarnya, handuk kecil masih melilit rambutnya.
"Nggak ada apa-apa. Ini gue udah laper tapi nyonya Arka nya masih tertidur." Jawab Evan.
"Ketiduran ya?" Sambungnya lagi.
"Iya tadi ketiduran, pas bangun langsung mandi. Setelah mandi ngedengar suara ribut-ribut, mau di lihat tapi ganti baju dulu." Ucapnya sambil nyengir. Kemudian Tiara pun kembali masuk ke kamarnya, karena akan mengeringkan rambutnya.
"Tuh kan gue bilang apa? Coba kalau lu tadi masuk, otomatis Tiara lagi telanjang di kamarnya. Bisa-bisa jomblo seumur hidup lu! Jangan bertindak ceroboh."
"Iya-iya! Berterimakasih banget nih gue sama lu!" Evan merangkul bahu Arka.
Arka dan Evan pergi ke ruang tamu, menonton tv di temani segelas teh hijau yang buatkan oleh pelayan.
Suara ribut-ribut yang di ciptakan oleh Arka dan Evan mampu membangunkan Kalista dari tidur lelapnya. Kalista mengerjapkan matanya, setelah nyawanya sudah terkumpul 100%, Kalista bangkit dan segera membersihkan tubuhnya.
Kalista memakai dress rumahan berwarna putih motif bunga mawar kecil-kecil, memoleskan make up natural dan lipstik pink. Tidak lupa mengeringkan rambutnya.
Kalista mengambil ponsel Arka yang tergeletak diatas nakas. "25 panggilan tidak terjawab dari oma?" Kalista mengerutkan dahinya.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!!
__ADS_1
Janjinya up sore, tapi ternyata diriku keburunya up malam, maaf ya telat🙏
Find Me On Instagram : @halloimas13❤