
Seharian ini benar-benar membuat Andy tidak bisa fokus bekerja. Andy takut Gina sakit, pikiran Andy selalu tertuju pada Gina. Andy ingin pergi ke rumah Gina, hanya untuk mengecek keadaannya, apakah benar sakit atau tidak?
Begitu jam ngantor selesai, Andy langsung pulang dan di sambut oleh Karin. Karin sudah masak banyak, dan semuanya cukup menggugah selera. Andy menceritakan semuanya pada Karin, termasuk Gina cuti bekerja. Karin menasehati Andy banyak hal. Karin memang lebih muda, tetapi nasihatnya sama sekali tidak Andy ragukan sedikitpun.
"Abang mandi dulu deh! Setelah itu anterin Karin ke supermarket, kulkas kosong melompong, nggak ada buah juga." Ujar Karin.
"Iya!" Jawab Andy datar.
Setelah menyelesaikan makannya, Andy langsung pergi ke kamarnya, bergegas membersihkan badannya. Kali ini Andy mandinya agak lama, Andy perlu berendam dalam air hangat, Andy merasakan pegal di seluruh tubuhnya, air hangat dengan aroma sabun aromaterapi cukup bisa menenangkan kegelisahannya.
Setelah selesai mandi, Andy langsung berpakaian. Memilih celana jeans pendek berwarna hitam, kaos hitam polos, di padupadankak dengan topi yang juga berwarna hitam. Andy juga tidak memakai sepatu, Andy memilih untuk memakai sandal jepit. Penampilan Andy terlihat sangat santai.
"Nah udah mendingan gitu deh penampilannya, santai dan nggak ribet." Ujar Karin sambil memperhatikan penampilan Andy.
"Iya lah! Ngapain gue berpenampilan keren? Padahal ke supermarketnya juga bawa bocil. Kalau ke supermarketnya bawa pacar sih oke." Celetuk Andy sembari masuk ke dalam mobil.
"Enak aja! Gini-gini juga Karin udah gede, udah puber, udah punya rasa ketertarikan pada lawan jenis." Ketus Karin sambil mengibaskan rambutnya.
"Iya Karin udah gede kok, soalnya yang kecil mah bayi." Ledek Andy sambil menjulurkan lidahnya.
Karin duduk di sebelah Andy, tangannya selalu sibuk dengan ponselnya. Untuk menghilangkan rasa jenuh, Andy mencoba memutar beberapa lagu kesukaannya. Sudah tidak ada percakapan diantara mereka.
Mobil telah sampai di supermarket. Andy segera memarkirkan mobilnya, dan mengajak Karin untuk turun. Ketika memasuki supermarket itu, Karin dengan lincah langsung mengambil beberapa sayuran dan buah. Andy hanya mengikutinya dari belakang.
Karin ini jalannya lumayan cepat, dan mengambil sayuran dan buah-buahan pun lumayan cekatan. Maka dari itu Andy juga harus menyeimbangkan langkah Karin.
Dari kejauhan Andy melihat seorang perempuan yang kesulitan mengambil Snack yang ada di rak atas, perempuan itu sudah berusaha dengan sangat merasa, tetapi memang tinggi badannya tidak memumpuni, sehingga tangannya juga tidak dapat meraih Snack tersebut.
Tanpa banyak cincong Andy pun langsung mengambilkan Snack tersbeut. Karin pun buru-buru mendekati Andy. Andy begitu mudahnya meraih Snack tersebut, tanpa perlu berjinjit.
"Nih." Tangan Andy mengulurkan Snack tersebut pada wanita itu.
Speechless.
Perempuan yang kesusahan mengambil Snack tersebut ternyata Gina. Dia berdiam diri menatap Andy dan Karin. Manik mata itu sama sekali tidak berkedip satu kali pun, bahkan manik mata itu pun membulat sempurna.
"Loh Gina, katanya sakit?" Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Andy pun langsung menyapa Gina.
"Oh iya tadi nggak enak badan, snacknya simpan lagi aja, ternyata itu bukan Snack yang gue mau." Ketus Gina.
Tetapi manik mata Gina lebih fokus pada Karin, Gina bahkan menatap Karin dengan tatapan penuh kebencian. Dari ujung kaki sampai ujung kepala ter-ekpose sangat jelas di ingatan Gina. Bahkan hari ini pun Gina memakai outfitnya yang sama dengan Andy.
"Jadi ceritanya couple gitu?" Gumam Gina dalam hatinya.
Karin dan Andy memang sama-sama memakai kaos hitam, celana pendek, plus sandal jepit. Mereka berdua juga sebenarnya tidak janjian, hanya saja ini sebuah kebetulan.
"Eh ada Andy, kemana aja nak? Udah lama nggak main ke rumah?" Tegur mamanya Gina yang baru saja menghampiri.
"Ada aja kok Tante, tante sehat?" Tanya Andy yang langsung mencium punggung tangan mama Gina. Tidak hanya Andy saja, tetapi Karin juga mengikuti hal yang sama.
"Sehat nak, ayo main ke rumah Tante." Ujar mama Gina sambil tersenyum.
"Ma, Gina capek. Ayo pulang, Gina ke kasir dulu." Gina langsung mendorong trolly belanjaannya, raut wajahnya juga di tekuk.
Baik Andy, Karin dan mama Gina, mereka menatap punggung Gina yang mulai menjauh. Lagi-lagi Andy kembali tersneyum melihat Gina yang terbakar api cemburu.
"Ma, Gina sakit apa? Kok cuti sampai 4 hari?" Tanya Andy to the point.
"Gina sakit hati, kalau fisiknya sih sehat-sehat aja. Jangan kelamaan ya sayang." Senyum itu kembali terpancar dari wajah mama Gina, tangannya juga mengusap bahu Andy dengan lembut.
"Ma, maaf ya." Andy merasa bersalah mengenai semua ini.
"Mama paham kok, mama juga yakin sebenarnya kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan mengenai gadis yang sekarang ada di sampingmu itu, sekali lihat saja mama sudah paham. Cintanya Gina ke kamu terlalu besar, sehingga dia buta untuk menilai wanita yang ada di sampingmu itu." Ucapannya terjeda sejenak, mama Gina berusaha meraup oksigen terlebih dahulu.
"Jangan lama-lama ya sayang, mama nggak mau anak mama satu-satunya jatuh terpuruk. Seharian kemarin Gina sudah menguras air matanya, emosinya, dan segala keluh kesah tentangmu sudah dia curahkan kepada mama. Di segerakan ya nak." Pinta mama Gina dengan sangat, walau bagaimana pun juga tidak ada mama yang rela melihat anaknya jatuh terpuruk dan sakit hati.
"Iya Tante." Jawab Andy sambil tersenyum.
"Mama pulang duluan nak, nanti Gina bisa marah besar kalau mama terus-terusan berbincang dengan kamu." Mama Gina pun langsung menyusul Gina.
"Gimana tuh?" Karin menyikut lengan Andy.
"Apanya?" Tanya Andy pura-pura tidak paham.
"Halah pura-pura beg*, apa emang begitu* beneran ya? Pantesan aja nyakitin anak orang." Bibir Gina mencebik, dan langsung meninggalkan Andy menuju rak cemilan.
Ya, ini adalah hari pertama Gina cuti kerja dan hari pertama juga dirinya berkomitmen untuk bangkit dari keterpurukannya.
Pagi-pagi sekali Gina sudah bangun, mandi, memoles sedikit wajahnya dengan make up, lalu melipir ke dapur. Gina ingin membantu mamanya menyiapkan sarapan, dan Gina juga ingin belajar masak.
Gina tahu, dirinya masih banyak kekurangan. Maka dari itu Gina ingin belajar banyak hal, ingin menjadi perempuan mandiri yang serba bisa, di tambah sekarang usianya sudah 25 tahun. Sebuah usia yang sudah pas untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, maka dari itu Gina ingin belajar masak. Namun, yang sebenarnya ini adalah sebuah pelarian untuk bangkit dari keterpurukannya, atau untuk memperbaiki hatinya yang telah luluh lantak.
Setelah selesai membuat sarapan, mamanya Gina mengajak Gina untuk keliling taman. Sekedar jalan santai atau bisa juga di sebut jogging. Mamanya Gina seharusnya mengajaknya untuk jogging sebelum sarapan, tapi katanya lupa. Dan jadilah mereka berdua jogging di taman setelah sarapan dan setelah mandi.
Sudah hampir sore, dan Gina pun selalu bersama mama. Mama Gina bilang sayuran dan buah hampir habis, maka dari itu Gina pun memutuskan untuk pergi ke supermarket. Bukan hanya menemani mamanya saja, Gian juga ingin membeli banyak cemilan.
Hingga pada akhirnya, ternyata di supermarket Gina bertemu dengan Andy.
Begitu mama Gina keluar dari supermarket itu, Gina langsung menarik tangannya dan langsung masuk ke taksi online. Gina memang sudah memesan taksi online tersebut.
"Tadi yang sama Andy itu yang namanya Karin?" Mama Gina pun mencoba memulai percakapan, dari semenjak taksi online melaju Gian sama sekali tidak berbicara.
"Iya! Cantik ya ma?" Gina menjawab sambil berbalik tanya.
__ADS_1
"Iya cantik, tapi lebih cantik anak mama." Ujar mama Gina sambil membelai rambut Gina dengan lembut.
Sudah tidak ada jawab lagi yang keluar dari mulut Gina. Sepanjang perjalan sampai rumah hanya diam saja. Bahkan ketika sampai di rumah pun, Gina langsung menuju kamarnya.
Di kamarnya itu Gina langsung merebahkan tubuhnya, pikirannya kembali melayang pada hari kemarin. Susah payah seharian ini mencoba menghilangkan Andy dari pikiran Gina, ternyata malah bertemu di supermarket.
*****
Malam itu ponsel Arka berdering, Arka mengerutkan dahinya, karena yang menelpon itu adalah Andre. Awalnya Arka enggan untuk menjawab panggilan itu, tapi Kalista menyuruhnya untuk mengangkat panggilan tersebut.
Arka dan Kalista kaget, karena yang menempuh itu bukan Andre. Mereka memberitahukan Andre mabuk berat di salah satu club malam. Awalnya Arka bersikap bodoamat dan acuh tak acuh, tapi demi rasa kemanusiaan dan dorongan kuat dari Kalista, akhirnya Arka pun menjemput Andre ke club malam tersebut.
Begitu Arka datang ke sana, banyak sekali wanita yang berpakaian minim dengan parfum yang sangat menyengat menghampiri Arka dan mencoba menggoda Arka, dari mulai menatap genit hingga membelai dada Arka.
Arka sama sekali tidak perduli dengan semua itu, tujuan utamanya pergi ke sini adakah Andre. Arka akan menjemput Andre sesuai dengan perintah Kalista, entah apa yang ada di pikiran Kalista saat ini? Arka saja bahkan merasa gedek pada Kalista, jelas-jelas Andre itu suka pada Kalista, dan Arka tidak suka itu. Mengapa Kalista mau menolong Andre? Apakah kalsita menyukai Andre?
Arka menepis semua godaan dari para wanita nakal tersbeut, tak jarang Arka juga membentaknya dengan kata-kata kasar. Manik mata Arka membulat sempurna ketika melihat Andre terkapar di mejanya, di sampingnya ada wanita yang berperawakan berisi sedang menggoda Andre, bukan hanya menggoda wanita tersbeut juga sedang menggenggam dompet Andre.
"Kembalikan! Itu punya teman gue, bit*h!" Bentak Arka pada wanita tersebut. Arka langsung meminta beberapa security di club malam tersebut untuk memboyong Andre dan memasukannya ke dalam mobilnya. Sedangkan mobil Andre, Arka menitipkannya terlebih dahulu, dan besok akan di ambil.
Namun, Arka cukup kebingungan harus membawa Andre kemana? Alamat rumahnya saja Arka tidak tahu. Akhirnya Arka memutuskan untuk membawa Andre ke rumahnya. Selama dalam perjalanan Arka banyak sekali mengumpat, Arka kesal karena sekarang di mobilnya di penuhi aroma alkohol. Stella jeruk di mobilnya bahkan sama sekali tidak tercium wanginya.
Arka membunyikan klakson dengan tidak sabaran, sehingga beberapa security kaget dan langsung membukakan pintu. Sekarang juga Arka benci karena harus membopong tubuh Andre menuju kamar tamu.
Kalista mengambilkan baju ganti, baju siapa lagi kalau bukan baju Arka? Kalista bahkan meminta Arka untuk menggantikan baju Andre, Arka menolak dengan terang-terangan, tetapi Kalista mengancam, kalau Arka tidak mau biarkan dirinya saja yang menggantikan baju Andre. Bahkan Kalista juga meminta untuk Arka untuk menyelimuti tubuh Andre dengan selimut tebal.
Ketika Arka kembali ke kamarnya, ternyata Kalista sudah terlelap tidur. Arka semakin merasa emosi, Arka pun memutuskan untuk memejamkan matanya.
Tidak ada bunyi apapun lagi selain suara dentingan jam yang semakin terus berputar tanpa merasa lelah sedikitpun. Kedua insan itu sedang terlelap dengan napas yang teratur.
*****
Keesokkan paginya, matahari sudah muncul dari tempat persembunyiannya. Sinarnya masuk melalui celah gorden dan menerpa wajah Kalista.
Kalista mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian melirik jam dinding. Kalista kaget dan terbelalak, jarum jam menunjukan angka 07:00 WIB. Dirinya bangun kesiangan, begitu juga dengan Arka.
Kalista langsung membangunkan Arka, tetapi Arka sama sekali tidak bergeming. Arka malah membalikan badannya memunggungi Kalista.
"Good morning sayang." Kalista mencium pipi Arka dengan paksa. Biasnya kalau di berikan morning kiss, Arka akan membalasnya dan meminta lebih. Kali ini Arka berbeda, dia bahkan sama sekali tidak mau membuka matanya.
Kalista terdiam, ada apa dengan Arka? Apakah Arka marah padanya? Apakah dirinya telah berbuat kesalahan?
"Sayang." Panggil Kalista dengan lembut, bukan lembut tepatnya sih genit.
"Aku ada salah?" Kalista pun tidak tahan dengan sikap Arka yang begitu cuek.
"Apa salah aku? Kalau aku ada salah, aku minta maaf sayang." Kalista masih sabar menghadapi suaminya yang sepertinya sedang marah itu.
Arka bangun, wajahnya terlihat kusut, bibirnya manyun, bahkan tidak ada senyum di wajah tampannya.
"Terus kalau aku kerja kamu mau ngapain? Kamu mau berduaan dengan Andre gitu?" Arka berdecih sebal, manik matanya memutar dengan jengah.
Kalista tiba-tiba tersneyum, jadi itulah alasan mengapa Arka moodnya jelek di pagi ini. Arka cemburu gara-gara Kalista memintanya untuk menolong Andre.
"Kamu cemburu sayang." Kalsita tersneyum menyeringai, bahkan sekarang Kalista ikutan merebahkan tubuhnya di samping Arka. Kalista memeluk Arka dengan erat, dan membenamkan wajahnya di dada Arka.
"Aku menolong Andre karena demi rasa kemanusiaan. Dia sedang mabuk, mungkin dia sedang ada masalah. Aku cuma kasian saja padanya, tidak ada maksud lain." Tangannya malah semakin aktif membuat gurat-gurat tidak jelas di dada Arka.
"Kalau dia di biarkan begitu saja di club malam, nanti akan berimbas pada karirnya dan namanya juga. Bayangkan deh, kalau ternyata Andre itu orang baik-baik, hanya karena masalah kecil dirinya terserah ke club malam. Dalam sekejap karirnya merosot, apakah kamu tidak mempunyai rasa kasihan padanya?" Tanya Kalista.
"Sekarang kamu coba pikir sekali lagi sayang, apakah kamu tidak kasihan? Mungkin saja masalah yang Andre alami ini berkaitan dengan diri kita? Seperti yang telah kamu ketahui, Andre suka padaku, dan kamu beberapa kali menunjukkan kemesraan kita di hadapannya. Mungkin dia marah karena murka sama kamu dan tidak bisa merebut aku darimu. Tetapi, aku sangat yakin dia akan berubah setelah hari ini, dia akan tersadar dan kembali menjalani hidupnya dengan tenang."
"Ngerti nggak? Justeru kejadian ini akan menyadarkannya, percaya atau tidak lihat saja nanti ketika dia sudah bangun." Imbuhnya lagi.
"Mungkin kamu mengira bahwa aku begitu perhatian padanya, iya aku perhatian karena aku merasa iba. Ketika kamu pergi ke club malam dan kamu mabuk, aku masih ingat banget bagaimana kondisi kamu saat itu? Kamu memperhatikan, kaya yang nggak keurus. Makanya waktu itu aku sangat khawtir, dan mencoba mengurus kamu."
"Apapun yang aku lakukan untuk Andre itu hanya bentuk kepedulianku terhadap sesama insan manusia, kalau kamu mau cemburu ya silahkan saja. Itu artinya kamu memang cinta banget sama aku." Kalista mengendus-endus dada bidang milik suaminya itu.
"Sekarang aku paham! Maaf ya suamimu ini terlalu berlebihan dalam mengekspresikan rasa cemburu itu. Tetapi aku nggak mau memaafkan kamu begitu saja, aku mau." Jawabnya sambil tersenyum menyeringai.
"Apaan?" Sewot Kalista, melihat senyum Arka yang menyeringai seperti itu Kalista cukup paham.
"Nggak mau! Ini sudah siang loh." Kalista bergidik ngeri dan segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Arka.
"Ini masih pagi sayang." Arka Kemabli meraih tubuh Kalista dan langsung mendekapnya begitu saja.
"Kamu ngantor dong, ini kan sudah siang." Ujarnya sambil meronta agar di lepaskan.
"Mana mungkin aku ngantor, sementara istriku di rumah berserta dengan orang asing yang mencintainya. Kalaupun aku bekerja, aku tidak akan bisa fokus. Aku takut istriku di tiduri oleh rekan kerjaku." Ucap Arka.
Kalau sudah seperti itu Arka sama sekali tidak bisa di kendalikan, dan Kalista pun sama sekali tidak akan pernah bisa lolos dari Arka. Arka menyerang Kalista, sebuah ciuman hangat dan memabukkan mendarat begitu saja di bibir mungilnya. Arka begitu aktif dan lincah memainkan lidahnya, dan membelit lidah Kalista.
Walaupun terkesan memaksa, tetapi Arka tetap melakukannya dengan lembut. Arka selalu paham, bahwa istrinya itu sama sekali tidak suka berhubungan secara kasar. Kegiatan bertukar ludah itu sangar Arka sukai, Arka kecanduan bibir mungil milik istrinya.
Cumbuan itu telah terhenti, sekarang Kalista bisa memasok oksigen sebanyak-banyaknya. Tetapi Arka belum melepaskan tubuh Kalista dalam Kungkungannya, sekarang Arka sedang melahap habis leher Kalista, meninggalkan noda-noda merah di leher itu.
Perlahan demi perlahan Arka mulai menurunkan jilatan lidahnya pada dada kalsita, gundukan daging sintal itu begitu segar dan ingin segera Arka lahap. Arka melepas kain pembungkus itu dengan paksa dan melemparkannya asal. Arka membenamkan wajahnya di gundukan daging yang sangat menggairahkan itu, Arka menghisapnya dengan kuat sehingga membuat Kalista merasakan ngilu dan erangan yang sama kuatnya.
Arka tidak perduli bahwa itu sudah pagi, bahkan mungkin matahari pun mengintip mereka dengan malu-malu. Arka melepaskan baju Kalista dan melepaskan bajunya. Kalista berada di bawah Kungkungan badan Arka, Kalista menolak dengan keras tetapi tubuhnya merespon dengan sempurna.
Mereka berdua benar-benar bercinta dengan hebat, suara erangan yang bersahutan, bulir-bulir keringat yang berjatuhan, dan napas mereka yang ngos-ngosan pun terdengar. Arka telah selesai melakukanya, ini yang Arka inginkan dari malam kemarin, dan Arka baru bisa menuntaskannya hari ini.
"Terimakasih sayang." Arka mengakhirinya dengan kecupan manis di dahi Kalista.
__ADS_1
Lalu Arka menyelimuti tubuh Kalista dan tubuhnya. Keduanya tertidur dengan pulas, kegiatan barusan cukup menguras energinya. Sehingga mereka berdua sama-sama terlelap dengan jarum jam yang menunjukan angka 07:30 WIB.
"Tok.. tok.. tok.."
"Nyonya, dede Nathan dan Nayla menangis, apakah ibu sudah bangun?" Ujar salah satu pelayan di depan pintu kamar Kalista.
"Istri saya kecapean, kalian berikan susu formula dan MP ASI terlebih dahulu ya." Teriak Arka dengan mata terpejam.
Kalista mencubit pinggang agak dengan sangat keras, sehingga Arka meringis karena sakit. Kalista merasa malu, mengapa Arka harus mengatakan dirinya kecapean? Kalista merasa malu pada pelayan itu, Kalista yakin pelayan itu pasti tahu maksud dari kata kecapean yang Arka ucapkan.
Kalsita bergegas membersihkan badannya dengan tergesa-gesa, Kalista takut Nathan dan Nayla rewel.
Setelah selesai mandi, kalsita langsung berpakaian dan memoleskan lipstik tipis di bibirnya. Sebelum benar-benar keluar dari kamar, Kalista memastikan terlebih dahulu bahwa lehernya sudah tercover sempurna oleh concealer andalannya.
"Nathan dan Nayla nangis bu?" Kalista langsung menghampiri pelayan yang sedang menyuapi Nathan sama Nayla.
"Iya tadi nangis nyonya." Jawab pelayan.
"Bibi mendingan buatkan bubur pereda mabuk saja, Nathan dan Nayla biar saya yang suapi." Pinta Kalista.
Pelayan itu pun langsung menuruti apa yang nyonyanya perintahkan, sedangkan Nathan dan Nayla sekarang malah terlihat ceria, mungkin tadi mereka berdua nangis karena belum melihat bundanya.
"Selamat pagi jagoan ayah." Arka mengecup pipi Nathan.
"Selamat pagi bidadarinya ayah yang cantiknya mirip bunda." Gantian, sekarang Arka mengecup pipi Nayla.
"Selamat pagi bundanya anak-anak, tadi kamu hebat banget. Aku paus tetapi masih pengen nambah." Arka tersneyum menyeringai sambil menggoda Kalista, Arka juga mencium bibir Kalista sekilas.
Arka dan kalsita lanjut sarapan, setalah seakan barulah mereka menghampiri Andre di kamar tamu.
Begitu Kalista dan Arka masuk ke kamar tamu, Andre sudah membuka matanya. Tangannya memijat-mijat kecil dahinya, Andre pasti merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya.
Andre mencoba mengingat semuanya, mengapa kini dirinya ada di kamar ini? Sebuah kamar yang tadi malam di tempatinya? Mengapa bajunya telah berubah? Pertanyaan yang paling Andre tahu jawabannya adalah mengapa dirinya bisa ada di rumah Arka dalam keadaan yang jelek ini?
"Sudah bangun? Sebentar aku ambilkan sarapannya dulu." Kalista pun membalikan badannya, dan bergegas mengambilkan sarapan.
"Gimana bro? Udah enakan belum?" Tanya Arka sambil mendaratkan bokongnya di tepian ranjang.
Kalista kembali ke kamar dengan membawa baki yang tidak lain isinya bubur, sup, dan susu segar. Kalista dan Arka menyuruh Andre untuk sarapan terlebih dahulu.
Andre memakan sarapannya dengan segudang pertanyaan ada yang ada di kepalanya, tetapi Andre tetap menghabiskan sarapannya, karena jujur saja sup dan bubur ini terasa sangat menyegarkan tubuhnya.
"Udah enakan?" Tanya kalsita sambil mengulurkan segelas susu.
Kalau tadi malam Arka merasa cemburu melihat kalsita begitu perhatian pada Andre, kali ini Arka sudah tidak merasakan cemburu lagi. Karena Kalista sudah menjelaskan semuanya.
"Minum berapa banyak bro? Enak banget ya pergi ke bar, bisa membuat otak melayang dan sekalian cuci mata." Arka menepuk bahu Andre.
"Ini gue gimana ceritanya bisa ada di sini dan merepotkan kalian?" Tanya Andre.
"Ceritanya panjang! Intinya salah satu karyawan bar tersebut menghubungi gue, dan memberitahukan tentang keadaan lu. Awalnya gue nggak peduli, karena gue berpikir mungkin lu lagi senang-senang kan, tapi istri gue maksa banget biar gue jemput lu di bar sialan itu." Ujar Arka.
"Istri gue ini orang baik, kata istri gue kasihan kalau ku di biarkan begitu saja di bar. Nanti kalau misalkan ke expose ke media kan bahaya, karir dan nama ku bisa hancur."
"Istri gue juga yang maksa gue buat gantiin baju ku, selimuti ku agar ku merasa hangat, dan pagi ini juga membawakan sarapan untuk menyegarkan tubuh lu. Jangan lupa, berterimakasih lah kepada istri gue." Cerocos Arka.
Andre terdiam sejenak, tangannya kembali lagi memijat-mijat pelan dahinya. Andre malah berusaha mencerna apa yang barusan Arka ucapkan, Andre masih mencoba mengingat kembali tentang maslaahnya kemarin sore.
"Sebelumnya gue mau minta maaf karena sudah merepotkan kalian berdua, dan gue juga mau ber-terimakasih sama lu dan istri lu. Thanks banget sudah nolongin gue sampai mikirin karir dan perusahaan gue, terimakasih sudah perduli sama gue. Gue nggak tahu kalau bukan karena kalian, mungkin sekarang gue berada dalam masalah besar, dan gue pun mungkin sudah menjadi samsaknya bokap gue." Ujar Andre.
"Satu lagi, gue minta maaf yang sebesar-besarnya sama lu bro. Sorry banget gue udah sempat naksir bini lu dan sempat terpikir untuk merebutnya dari lu." Andre memeluk Arka sekilas.
"Gue juga minta maaf ya kepada nyonya Arka, maaf karena telah jatuh cinta kepadamu, dan mencoba merayumu ketika di taman." Andre mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Sekarang gue sadar, mencintai tidak harus memiliki. Mencintai itu memang indah, tetapi mencintai seseorang yang sudah di peristri oleh orang lain adalah merupakan kesalahan fatal. Cinta diantara kalian berdua terlalu melekat, siapapun tidak akan ada yang bisa memisahkan, orang ketiga kek gue malah kelar, semoga hanya maut lah yang memisahkan kalian berdua." Kali ini.ansre berkata dan berdoa dengan tulus.
"Semoga pak Andre cepat bertemu dengan jodohnya." Ucap Kalista sambil tersenyum ramah.
"Amiin."
"Sekarang mendingan lu mandi dulu deh buat segar, kalau sudah mandi kan enak. Mau tidur lagi juga boleh sih. Btw, mobil lu malah ada club malam, nanti gue suruh salah satu petugas di sana buat anterin ke sini deh." Ujar Arka.
"Thanks bro." Sekali lagi Andre mengucapakan terimakasih.
Arka tersenyum menatap Kalista, mengecup dahinya, dan melingkarkan tangannya di pinggang Kalista. Arka benar-benar bahagia, karena Andre telah tersadar aja mengikhlaskan Kalista dengan lapang dada.
Memang benar kata Kalista, dengan kejadian seperti ini justeru Andre akan tersadar. Kalista memang benar-benar pintar, dan Arka malah semakin mencintainya. Tidak ada satu detik pun Arka melewatkan perasaanya pada Kalista.
Kalista merupakan seorang istri sekaligus bunda terbaik yang Allah berikan untuk agak, pelengkap kebahagiaan dalam segala hal. Dan Arka merasa beruntung karena memilikinya seutuhnya. Arka begitu sangat mencintainya dan takut kehilangannya.
Andre juga sebenarnya semakin kagum pada Kalista, Kakista tahu Andre begitu mencintainya. Tetapi Kalista masih tetap mau menolongnya. Ini mungkin akan cukup sulit bagi Andre untuk melupakan Kalista, tetapi Andre berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia harus sesegera mungkin melupakan Kalista.
Andre juga merasa kagum dan salut pada Arka, Andre tahu Arka sebenarnya sudah mengetahuinya bahwa dirinya Andre meintintai Kalista, tetapi Arka sangat berbesar hati mau menolongnya.
Daripada hanya berdiam diri atau kembali lagi tertidur, Andre memilih untuk mandi. Ketika selesai mandi ternyata di atas ranjang sudah di siapkan satu stel pakaian, mungkin itu dari Arka atas saran Kalista.
Setelah itu Andre merasakan badannya sudah kembali fit, dan Arka menghampiei keluarga Cemara itu di ruang tamu. Abdre berusaha mengajak Nathan dan Nayla berbincang.
----------------------------------🌻🌻
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting ⭐⭐⭐⭐⭐ ya!! Klik ❤ tambahkan favorit 🙏🤗
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13❤