
Gara-gara Gina ngajak main jujur-jujuran, sampai sekarang Tiara masih aja marah sama Evan. Salah Evan juga sih nyeritain mantan sampai segitunya, Tiara kan jadi bete, kesal, geram, dan gedek.
"Sayang?" Panggil Evan, sebelah tangannya fokus pada kemudi setir. Sebelahnya lagi sibuk mengusap lengan Tiara.
"Diam deh!" Jawabnya ketus.
"Masih mau marah terus? Itu kan mantan, serpihan kecil dari masalalu, masa depanku kan sama kamu." Ucap Evan.
"Aku bete! Pasti mantan kamu itu cantik." Tiara tetap kukuh mempertahankan sikap juteknya, bahkan dia lebih memilih menatap jalanan malam ketimbang harus menatap Evan.
"Namanya juga wanita, mana ada wanita ganteng. Kalaupun ada itu namanya waria sayang." Celetuk Evan santai sambil terkekeh.
"Cantik mana sama aku?" Tanya Tiara, manik matanya tersorot tajam pada manik mata Evan.
Hayo Evan mau jawab apa? Salah jawab siap-siap lagi aja Tiara bakalan ngamuk, marah besar sampai mencakar langit, atau sampai mencungkil bulan purnama yang sekarang sedang menerangi dunia malam.
Kepala Evan terasa nyut-nyutan, pusing dengan pertanyaan Tiara. Cantikan mana antara Tiara sama Shafa? Sejatinya semua wanita itu cantik, tapi pandangan cantik menurut setiap orang kan berbeda-beda, jadi cantik itu relatif. Tapi Evan juga nggak bisa menampik, Shafa cantik, putih tinggi, badan proporsional karena dia memang seorang model. Tetapi Tiara juga tidak kalah cantik, hanya saja Tiara kurang tinggi jika di bandingkan Shafa.
"Kamu cantik, Shafa juga cantik. Tapi cantik itu relatif, semua orang mempunyai penilaian tersendiri tentang porsi cantik." Setelah beberapa menit berpikir harus menjawab pertanyaan Tiara seperti apa? Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Evan.
Tiara memandang Evan dengan tatapan mata jengah, wajahnya kembali sendu. Tidak ada aura hangat di wajahnya itu. Jawaban macam apa itu? Sama sekali tidak memuaskan.
"Mungkin Shafa memang cantik, dan aku kalah cantik dari dia. Selain cantik tubuhnya juga pasti proporsional, tinggi badannya pasti kaya egrang. Mungkin aku bakalan kebanting jika di bandingkan dengan Shafa. Tapi kamu juga harus ingat, Shafa bukan wanita baik! Mana ada wanita baik yang menduakan pasangannya, selingkuhnya juga sama teman kamu pula. Kamu itu hanya di manfaatkan atau dalam artian kamu hanya jadi bonekanya dia, pembantunya dia, dia cuma mau duit kamu doang." Cibir Tiara dengan ekspresi wajah menyeramkan.
Evan menatap Tiara sekilas, kemudian kembali fokus pada kemudi setir. Kata demi kata yang di ucapkan oleh Tiara barusan sangat menohok, seperti sebuah belati yang ditancapkan ke ulu hati dengan sengaja. Bahkan Evan tidak bisa terima ketika Tiara mengatakan hanya menjadi bonekanya Shafa.
"Awalnya mungkin gitu. Aku juga mikirnya Shafa khilaf aja sih, soalnya dia juga beberapa kali ngajak balikan." Evan mencoba mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Ya sudah balikan saja sana! Nggak jijik apa ya dia bekas teman kamu." Cibir Tiara yang semakin memojokkan Evan.
"Kenapa harus jijik, seseorang yang penuh dosa sekalipun jika dia bertaubat sang pencipta bakalan memaafkannya kok. Lantas kita sebagai manusia tidak memaafkannya? Mereka sudah berusaha menjadi manusia yang lebih baik, berusaha mensucikan dirinya walaupun noda-noda hitam telah melekat di dalam dir...,"
"Aku mau turun di sini!" Teriak Tiara dengan napas yang sangat memburu, Tiara merasa gedek sama Evan yang terkesan membela Tiara atau mungkin sebenarnya Evan memang masih sayang dan masih peduli pada Shafa.
"Nggak! Jangan konyol!" Teriak Evan tak kalah kencangnya.
"Aku tuh nggak mungkin membiarkan kekasihku turun sendirian di tengah jalan di malam yang gelap gulita ini." Lanjutnya lagi, Evan langsung tancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata.
Suasana berubah menjadi horor dan mencekam. Sudah tidak ada lagi perdebatan diantara mereka berdua. Apalagi Tiara, hatinya malah semakin terasa gedek dan sesak, sakitnya dua kali lipat. Pertama, sakit hati gara-gara di apartment Kalista. Kedua, sakit hati gara-gara perdebatan barusan.
Karena mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, akhirnya sekarang mereka telah sampai di halaman depan rumah Tiara.
Tiara langsung turun, dan bahkan menutup pintunya dengan kencang, sehingga menimbulkan sebuah dentingan keras.
Evan juga langsung buru-buru turun. Evan langsung mencela pergelangan tangan Tiara ketika mengetahui Tiara akan segera melesat masuk ke dalam rumahnya.
"Lepasin, ini udah malam! aku ngantuk." Tiara berusaha menghempaskan tangan Evan, namun tidak bisa. Karena tangan itu terlalu kekar.
"Ra, coba jelasin kamu marah kenapa? Aku nggak mau ya kita marahan kaya gini, hubungan kita saja baru seumur jagung." Evan menatap manik Tiara lekat.
"Kamu masih nanya aku marah kenapa? Ya ampun, benar-benar deh! Kamu tuh punya hati dan perasaan nggak sih?" Tiara memandang Evan jengah, tatapan yang sangat malas.
"Punya lah! Kalau nggak punya hati dan perasaan mana mungkin aku bisa jatuh cinta sama kamu. Kamu marah soal Shafa kan?" Evan tersenyum geli, wanita yang baru beberapa hari menjalin kisah asmara dengannya itu sedang cemberut karena cemburu.
"Aku dan Shafa sudah tidak ada hubungan apa-apa, bahkan kontaknya saja sudah aku blacklist. Cintaku sekarang cuma kamu, dari tadi tuh aku sengaja buat kamu cemburu aja. Sekarang aku tahu, ternyata cintamu padaku lumayan dalam juga. Sayang, aku mau kita hidup dalam atap yang sama, tanpa ada gangguan dari siapapun, apalagi orang ketiga." Evan mengusap-usap lembut pipi Tiara.
"Ra, maafin ya." Evan langsung menarik pinggang Tiara, lalu tangan kekarnya melingkar di pinggang itu. Tiara membenamkan wajahnya tepat di dada Evan, dada bidang disertai wangi maskulin khas parfum cowok itu sangat terasa nyaman.
"Masuk gih, udah malam ini. Kamu segera istirahat ya." Tangan kekar itu kembali mengusak puncak kepala Tiara, kemudian mengecupnya.
"Sayang..." Tiara mendongakkan kepalanya, kemudian menatap Evan dengan tatapan penuh cinta.
Entah ada angin datang darimana, tiba-tiba mereka malah berpagutan dengan mesra. Di halaman depan rumah Tiara, di tengah malam yang hanya di terangi cahaya bulan yang remang-remang. Kedua insan yang baru saja menyelesaikan sebuah masalahnya, kini malah asyik saling tarik menarik lidah.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ada wanita yang usianya setengah baya tengah memperhatikan mereka.
"Akhmmm.. sudah membawa kabur anak gadis orang sampai tengah malam kaya gini, sekarang kamu juga mencuri ciumannya? Di mana etika kamu?"
Suara bariton yang teramat tegas tiba-tiba menghentikan aktifitas yang sedang Evan dan Tiara lakukan. Evan langsung mendorong Tiara pelan, dan otaknya segera mencerna dan memproses kalimat yang baru saja di lontarkan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Sejak kapan anak gadis mami berubah menjadi gadis nakal kaya gitu?" Sorotan matanya tajam menatap Tiara.
Tiara memandangnya sinis, punggung tangannya mengusap bibirnya yang basah karena sisa-sisa cumbuan yang Evan berikan. "Sejak mami dan papi sibuk di luar kota dong." Cibirnya dengan senyum mengejek.
"Ra, nggak boleh gitu." Evan menggelengkan kepalanya seraya menatap Tiara.
"Tiara! Masuk!" Perintahnya dengan suara tegas dan terkesan galak.
"Nggak mau!" Tiara malah semakin memeluk Evan.
Evan dengan segera, langsung mengusap puncak kepala Tiara. "Masuk ya Ara sayang, nanti mami kamu semakin galak, dan aku nggak di restuin." Berusaha membujuk Tiara agar segera menuruti perintah maminya.
"Kamu gimana?" Tanya Tiara pelan.
"Percaya deh sama aku, aku bisa menyelesaikan masalah ini. Dan bahkan aku yakin pasti bisa mengambil hati mami kamu. Sudah sayang sana masuk, jangan sampai mami kamu semakin murka sama aku." Evan mendorong Tiara pelan.
"Masuk, cuci muka, cuci kaki, makan terus tidur!" Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar sangat tegas. Tiara menurut dan bahkan kini Tiara sudah tidak ada di halaman depan ini.
Evan masih mematung di tempatnya berdiri sedari tadi. Evan sudah sangat siap di hujati kata-kata kasar oleh wanita paruh baya yang mukanya masih terlihat cantik ini, Evan sadar diri kok. Orang tua mana yang tidak marah ketika melihat seorang laki-laki dewasa sedang mencuri cium anak gadisnya?
"Ke gep kan gue, ah dasar beg*!" Evan merutuki kebodohannya.
"Halo tante." Berusaha menyapa setenang mungkin, daripada cuma berdiam diri saja keadaan malah semakin canggung.
"Jauhi anak gadis saya!" Dari kalimat itu terdapat sebuah perintah yang sulit untuk Evan lakukan.
"Nggak bisa Tante! Selain saya memang mencintai anak Tante, anak Tante juga sangat mencintai saya." Ujar Evan dengan gamblang.
"Percuma Tante, Tiara cintanya hanya pada saya."
"Kamu tuh nggak usah kepedean deh! Jika saya nikahkan anak saya dengan seorang pengusaha kaya kamu bakalan kaya gimana?"
"Saya bakalan membuat usaha saya semakin maju, sampai melebihi pengusaha itu. Saya tahu kok semua orang tua, maunya yang terbaik untuk anaknya. Baik dari segi sikap, etika, attitude, dan bahkan hal yang terpentingnya adalah dalam segi materi. Saya juga mengelola sebuah kantor Tante, dan saya yakin saya akan membahagiakan anak Tante. Jangan khawatir, anak Tante tidak akan kelaparan jika bersama saya." Jawab Evan dengan tegas dan sangat lancar.
"Jika anak Tante menikah dengan laki-laki lain yang sangat kaya? Hmmmmm tentu saja saya bakal merebutnya kembali agar Tiara berada dalam pelukan saya, maaf Tante bukannya tidak sopan dan berniat menjadi orang ketiga di rumah tangganya anak Tante nanti. Pernah dengan sebuah kalimat yang berbunyi 'Cinta itu buta?' ya memang benar, cinta itu buta. Dan bahkan cinta itu bisa membuat seseorang melakukan hal-hal gila, hal-hal yang sungguh di luar pemikiran." Lanjutnya lagi.
"Ikut saya masuk!" Ucap mami Tiara, Evan segera mengekornya dari belakang.
"Silahkan duduk!" Ucapnya lagi.
Evan sudah senyum-senyum sendiri, apakah ini sebuah pertanda bahwa maminya Tiara akan memberikan lampu hijau?
"Beberapa hari yang lalu anak gadis saya tidak pulang ke rumah. Kamu membawanya kemana? Apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak gadis saya?"
Evan mengernyitkan dahinya, beberapa hari yang lalu? Ah itu pasti yang Tiara pergi ke club malam itu.
"Beberapa hari yang lalu Tiara menginap di rumah sahabatnya, Kalista. Saat itu Tiara sepertinya sedang di rundung masalah besar, terlihat dari ekspresi wajahnya sepertinya dia sedang stress." Ucap Evan.
"Jangan bohong!"
"Saya tidak berbohong Tante, tetapi saat itu saya belum menjadi kekasihnya Tiara. Kalau Tante bertanya kenapa saya bisa tahu mengenai malam hari itu? Jawabannya cukup simpel, karena suami Kalista adalah sahabat saya dan pada malam itu kebetulan saya memang sedang berada di rumah sahabat saya. Namun untuk permasalahannya saya tidak tahu, karena Tiara hanya mencurahkan isi hatinya pada Kalista." Evan seidkit berkilah, kalau di jawab jujur pada malam itu Tiara berada di apartment Kalista dan hanya berduaan dengannya. Bisa-bisa nanti lampu hijaunya berganti jadi lampu merah.
"Kalau sampai anak saya hamil di luar nikah, kamu harus tanggung jawab!" Ancamnya.
"Apakah saya terlihat sebagai seorang laki-laki brengsek?" Tanya Evan sambil menatap manik mata maminya Tiara.
"Tante, saya juga sangat ingin menikahi anak gadis Tante. Tetapi saya mau mendapatkannya dengan cara yang halal, memakai cara kotor sama sekali tidak ada di kamus kehidupan saya." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
"Lalu tadi bukan cara kotor? Langsung nyosor bibir anak saya di halaman depan rumah saya pula." Cibirnya.
"Oh itu, kiss-kissan gitu mah biasa dong Tante. Saya sudah dewasa, lagipula gadisnya Tante juga sudah dewasa." Ucap Evan sambil tersenyum kaku memamerkan deretan gigi putihnya.
"Kamu serius nggak sih sama anak saya?"
"Sangat serius!"
"Kamu kenal anak saya di mana?"
"Di kantornya sahabat saya."
"Kenapa bisa pacaran?"
"Karena kita masing-masing mempunyai perasaan yang sama, perasaan yang ingin memiliki, dan perasaan itu sangat kuat."
"Hmmm."
"Akhir-akhir ini saya memang sedang banyak masalah, saya juga baru resmi bercerai dengan papinya Tiara." Tiba-tiba ada bola kristal yang sangat bening jatuh membasahi pipinya.
"Saya terlalu sibuk di luar kota, saya terlalu sibuk dengan kerjaan. Karena saya keliru, saya pikir asalkan banyak uang hidup akan damai, sejahtera dan sentosa. Tapi saya salah, saya yang sangat sibuk bekerja ini malah sampai mentelantarkan suami saya, sehingga suami saya menemukan celah untuk bermain api dengan wanita lain." Sedikit demi sedikit kini maminya Tiara mulai bercerita sama Evan.
Evan hanya menajamkan pendengarannya, berusaha menjadi pendengar yang baik tanpa membuka mulut sedikit pun.
"Siapa nama kamu?"
"Naman saya Evan."
"Nak Evan, mami titip Tiara ya. Dia anak gadis mami satu-satunya, jangan pernah membuat dia menangis. Jika memang nanti kalian berdua berjodoh, tolong jangan biarkan Tiara bekerja setelah menikah. Mami tidak mau apa yang terjadi pada mami, terjadi juga pada Tiara." Pintanya pada Evan.
"Tante merestui hubungan saya dan anak Tante?"
"Tentu saja! Setelah memberikan beberapa pertanyaan, dan jawaban yang kamu berikan juga sangat memuaskan."
"Terimakasih Tante, aku janji bakalan jagain anak Tante." Evan beringsut memeluk maminya Tiara.
"Apaan nih peluk-pelukan?" Tiara menatap maminya dan Evan dengan tatapan penuh keheranan.
"Pacar kamu mau selingkuh nih sama mami." Ujar maminya sambil tersenyum.
"Duduk sini nak." Maminya menepuk sofa di sebelahnya.
Tiara baru saja selesai mandi, handuk masih melilit di rambut basahnya. Bajunya juga sudah berganti dengan piyama.
"Nemu pacar di mana?"
"Di kantor tempat aku kerja."
"Pacar kamu tampan, cocok banget sama anak gadisnya mami yang cantik." Kini tangan mami tengah mengusap punggung Tiara.
"Tapi dia kadang-kadang mesum! Maunya kiss-kissan terus." Tiara mengadu pada maminya.
"Sama-sama sudah dewasa, nggak apa-apa kiss-kissan asal jangan kebablasan aja! Kiss-kissan itu bumbu cinta." Ujar maminya Tiara yang langsung di tanggapi oleh Evan.
Malam itu maminya Tiara merestui hubungan Evan dan Tiara. Evan pamit pulang dengan hati yang berbunga-bunga, Tiara juga merasa malam itu adalah malam yang paling indah selama masa hidupnya.
----------------------------------π»π»
Jangan lupa like dan coment yang banyak!
Berikan ratting βββββ ya!! Klik β€ tambahkan favorit ππ€
Selamat menjalankan ibadah puasa teman-temanππ€
__ADS_1
Find Me On Instagram : @halloimas13β€